Regretting


regretting

Regretting

EnnyHutami’s Fanfiction Story 2015

| Lenght: Oneshot | Rating: PG-13 | Genre: Angst, Romance |

| Cast: Oh Seulhee, Kim Myungsoo |

| Disclaimer: Mine | Note: Bashing are not allowed |

Oh Seulhee

Ada saatnya dimana aku merindukan masa lalu bersamanya. Meskipun telah lama berlalu, meskipun telah bertahun-tahun tidak melihat wajahnya, tidak melihat senyumnya, tidak mendengar suaranya, banyangan akan dirinya terlalu nyata dalam kepalaku. Terlebih lagi saat tak ada yang harus kukerjakan. Hanya duduk di sofa di dekat jendela kamar dan memandangi keluar jendela. Kenangan masa lalu muncul kembali.

Sekarang, aku merindukan hadirnya. Merindukan sentuhannya. Merindukan suaranya.

Aku tahu bahwa diriku sendirilah yang salah, tetapi saat itu aku masih terlalu muda untuk mengetahui situasi dan mengetahui apa yang sedang kurasakan.

Untuk kesekian kalinya, aku menyesal.

Meskipun telah mencoba menjeritkan kalimat ‘aku minta maaf’, ‘aku menyesal’, atau ‘aku merindukanmu’, dia tak akan datang dan memelukku. Tak akan datang untuk menghapus air mataku.

Hingga pada suatu kebetulan, aku melihat dirinya di tengah keramaian kota. Menggandeng tangan seorang gadis berkulit pucat. Bukan diriku, tetapi gadis lain.

~oOo~

 

“Sedang apa kau?” tanyaku padanya saat aku mendapatinya tengah berada di dapur, lengkap dengan celemeknya. Baru kali ini aku melihatnya berada di dapur. Meskipun ini adalah apartemennya, tetapi yang menggunakan dapurnya adalah aku, bukan dirinya.

“Memang apa yang orang lakukan di dapur?” dia balik bertanya dengan sebuah senyum yang selalu kusukai.

Keningku berkerut, meragukan apa yang kupikirkan. Lalu melepas sepatuku dengan menggantinya dengan sandal rumah milikku yang memang dibelikan olehnya, dan menghampirinya. “Masak apa?” tanyaku lagi sembari mengintip ke dalam teflonnya.

Senyumku merekah melihat apa yang ada dalam telfon. Pasta.

“Kesukaanmu.” Jawabnya. Sebelah tangannya yang tidak sibuk melingkar di punggungku, membuatku mendekat.

“Tidak akan membuatku sakit perut, bukan?” tanyaku lagi, kali ini sambil terkekeh.

Dia tidak menjawabku, hanya memberenggut. Sangat lucu.

“Cobalah.” Ujarnya kemudian, setelah mematikan api kompor listrik.

Aku pun menurutinya. Menurunkan tangannya dari bahuku untuk mengambil garpu. Lalu aku memutar garpu untuk mengambil helaian pasta langsung dari teflonnya.

“Hati-hati. Masih panas.” Katanya memperingati, lalu meniup pasta yang kuambil.

Tentu saja aku tidak bisa menahan senyumku. Meskipun telah lama bersamanya, aku masih tidak percaya bahwa dibalik wajah cuek dan misteriusnya, dia itu sangat perhatian dan romantis. Juga sangat imut.

“Aku makan, ya?” kataku, mencoba menggodanya agar dia gugup dengan masakan pertamanya—mungkin. Dia pun berjongkok, wajahnya terus mendongak untuk menatap wajahku. Menunggu reaksiku.

Dan rasanya enak untuk ukuran orang yang tidak pernah masak.

“Bagaimana?” tanyanya, bisa kulihat dia sedikit cemas.

Terlintas begitu saja untuk mengerjainya. Jadi, kubuat ekpresi aneh, dan dia tertipu.

“Tidak enak?” tanyanya lagi sembari menggelengkan kepalanya. Benar-benar lucu.

Akhirnya aku tidak bisa menahan tawaku melihat ekpresinya. Dia pun langsung berdiri dan mencobanya.

“Ini enak.” Katanya protes.

“Aku tidak bilang ini tidak enak.” Jawabku sembari menjulurkan lidahku padanya.

 

Dia menyuruhku datang ke rumahnya, tetapi aku terus saja diabaikan olehnya. Dia sama sekali tidak mengajakku mengobrol ataupun bermain dan terus saja berkutat dengan bukunya. Kalau begitu, untuk apa memanggilku kemari?

Meskipun begitu, aku juga tidak mau pulang. Hampir setiap harinya aku berada di apartemennya, siang dan malam. ‘Rumahku adalah rumahmu juga’ begitu katanya saat pertama kali aku diajak kemari. Jadi, seharian aku hanya menonton televisi di sampingnya. Meskipun aku tertawa terbahak melihat acara komedi, dia tak terusik sama sekali dan terus membaca bukunya.

Hingga pada akhirnya aku mulai mengantuk saat menonton drama. Dan barulah dia bicara padaku.

“Letakkan kepalamu di sini.” Ucapnya sembari menepuk pahanya, menyuruhku untuk menggunakan pahanya sebagai bantal.

Aku pun menurutinya dan meletakkan kepalaku ke atas pahanya. Sebelumnya aku tidak pernah melakukan hal semacam ini. Jantungku berdegup tak keruan, tetapi aku merasa nyaman dan menyukainya. Aku selalu menyukai rasa gugupku ketika bersamanya.

Setelah beberapa menit, akhirnya aku mulai merasa nyaman dan degup jantungku tak secepat tadi. Aku mencoba untuk terlelap, tetapi tiba-tiba saja aku merasakan tangannya membelai puncak kepalaku dan merapikan helaian rambut di keningku. Mustahil untuk tidak tersenyum bagiku.

“Tidurlah.” Ucapnya dengan suara pelan sembari mengelus rambutku.

Aku menurutinya. Lagipula aku terlalu mengantuk untuk tetap terjaga karena aku tidak tidur semalaman. Dan aku benar-benar tidur di pangkuannya.

 

Malam ini aku dan dia memutuskan untuk berjalan-jalan di pinggiran sungai Han untuk menghirup udara segar. Katanya dia bosan jika hanya di apartemennya atau apartemenku. Dan dia juga bosan terus-terusan berada di kampus. Jadi aku pun mengusulkan untuk pergi ke sungai Han.

Aku tahu sebuah kafe yang balkonnya menghadap ke arah sungai Han. Aku pernah pergi ke sana sekali dengan teman-temanku, dan pemandangan malam dari sana sangatlah indah. Sebelumnya aku pernah mengajaknya kesana, tetapi dia menolak. Yah, aku tahu dia bukan tipe orang yang suka berkeliaran di luar. Dia lebih suka di dalam ruangan.

“Jika di apartemenmu atau apartemenku, hanya akan ada kita berdua. Tidak akan ada yang mengganggu.” Katanya waktu itu dengan seringaian jahilnya.

Jangan salah paham. Meskipun kami berdua sering menghabiskan waktu di salah satu apartemen kami, tetapi kami belum pernah melakukan apapun seperti yang kalian pikirkan. Kami berdua masih berusia dua puluh satu tahun. Dan kami masih terlalu muda untuk hal seperti itu. Lagipula, dia tidak pernah meminta. Dia tahu jarak batas hubungan kami.

Itu salah satu yang kusuka darinya.

Tapi, tidak menuntut kemungkinan bahwa kami tak pernah berciuman. Dia suka sekali menciumku. Aku pun tak mengerti kenapa.

Kami berjalan di pinggiran sungai Han dengan tangan kirinya yang merangkulku, dan aku yang memegang tangannya yang berada di bahuku dengan sebelah tangan yang kuselipkan ke belakang pinggangnya. Kami sudah sering melakukan yang seperti ini meskipun ini tempat umum. Yang terpenting adalah bahwa aku tetap merasa hangat, begitu katanya.

Aku merasa aneh ketika memegang tangannya, terutama pada jemarinya. Jadi kutengok untuk melihat ada apa dengan jarinya dan menemukan sebuah cincin terpasang manis di sana.

“Kau memakai cincin?” tanyaku dengan kening berkerut.

Kemudian dia melepas rangkulannya sehingga kami terpisah. Dengan senyumnya, dia mengambil sesuatu dari dalam saku mantel hitamnya. Dia pun menyambar tanganku dan memasangkan cincin yang sama dengan yang dia kenakan pada jari manisku.

“Myungsoo…,” aku kehilangan kata-kata. Terlalu bahagia.

Meskipun bukan berarti dia memintaku untuk menikah—karena usia kami tentu saja—namun itu berarti dia akan mempertahankanku hingga kami berdua naik ke altar.

Dia tersenyum, menunjukkan lesung pipinya yang membuat siapa saja akan meleleh melihatnya. Lalu aku mendekat ke arahnya, berjinjit dan mengecup bibirnya dengan bibirku. Aku sangat-sangat-sangat senang malam ini. “Terima kasih,” ucapku dengan senyum yang tak bisa kuhentikan.

Dan aku tak akan bisa berhenti tersenyum selama beberapa hari.

~oOo~

Aku masuk ke dalam mobilku setelah makan malam bersama rekan kantorku. Rekan-rekanku bertanya mengapa aku jadi lebih pendiam dari sebelumnya. Aku menjawab bahwa aku hanya lelah, dan satu temanku yang telah mengenalku lama hanya menatapku simpati. Aku yakin dia juga melihat Myungsoo bersama seorang gadis tadi karena dialah yang menuntunku untuk segera bergabung dengan rekan-rekanku yang lainnya.

Seharusnya dia ikut ke mobilku karena rumahnya dengan apartemenku berdekatan, tetapi kali ini dia ikut dengan yang lainnya. Jujur, aku sangat berterima kasih dengannya karena mengerti. Aku memang butuh sendirian saat ini.

Melihat wajahnya lagi membuatku mengingat masa lalu. Mengingat bagaimana dia mencuri-curi untuk menciumku, mengingat bagaimana dia menciumku untuk membuatku bungkam saat kami tengah bertengkar lalu setelahnya seakan tak ada pertengkaran. Aku tidak munafik. Aku merindukan masa-masa itu.

Namun memang aku yang salah. Aku yang membuat kami berpisah. Aku yang memutusnya. Aku yang membuatnya sakit hati karena orang ketiga.

Seharusnya saat itu dia yang memutusku, namun dia hanya marah dan mendiamiku selama lebih dari satu minggu. Itu membuatku gusar hingga akhirnya aku memutusnya. Dan setelah itu, dia pergi. Aku tidak tahu dia pergi kemana, tetapi bertahun-tahun aku tak melihatnya. Dan kami tidak lagi saling menghubungi.

Sesampainya di apartemen, aku berjalan mondar-mandir di depan jendela besar dengan tirai yang tertutup setengah dengan menggenggam ponsel. Haruskah aku mencoba untuk menghubungi nomor lamanya?

Sedikit—tidak—mungkin banyak, aku berharap bahwa dia tidak mengganti nomornya, sama seperti yang kulakukan. Aku hanya tinggal menekan tombol hijau yang tertera pada layar ponsel, tetapi keraguan menyergapku. Bagaimana jika dia bertanya mengapa aku menghubunginya lagi? Bagaimana jika dia menolak teleponku?

Aku menggigit bibir bawahku, kemudian mencoba untuk menghapuskan semua keraguan dan perlahan menekan layar ponselku. Lalu, aku menempatkan ponsel ke telingaku.

Nomornya masih aktif! Tanpa sadar aku berteriak dalam hati dengan senyum lebar.

Tidak ada nada dering. Persis seperti dia yang dulu. Lalu,

Halo?” terdengar suaranya yang sangat kurindukan dari seberang sana. Aku hampir saja menangis mendengar suaranya, tetapi aku mencoba menahannya. “Halo? Dengan siapa saya bicara?”

Senyumku luntur begitu saja mendengarnya. Dia tidak menyimpan nomorku, mungkin dia langsung menghapus nomorku dari kontaknya setelah aku memutusnya dengan mengembalikan cincin yang dia berikan tempo lalu. Mungkin dia membenciku dan tidak lagi ingin bicara denganku.

Halo?”

“Oppa, nuguya?”

Aku tidak tahu. Mungkin orang iseng.” Dan sambungan telepon diputus.

Aku menutup mulutku, mencoba menahan isakanku meskipun aku tahu itu percuma.

Memang seharusnya aku tidak menghubunginya lagi. Seharusnya aku tahu bahwa dia tidak mungkin masih mencintaiku. Seharusnya aku juga seperti dirinya, melupakannya dan masa lalu, serta mencari yang baru.

Namun aku tidak ingin munafik. Aku masih menyukainya, dan berharap dia kembali padaku. Aku menyesal memutusnya. Sangat sangat menyesal.

Kim Myungsoo

 

Aku melihatnya berjalan dengan seorang pria. Aku tidak tahu siapa pria itu, tetapi kelihatannya mereka akrab. Lalu, tiba-tiba saja pria itu menyentuh Seulhee, menelusupkan rambut Seulhee ke belakang telinga.

Maaf saja, aku bukan tipe orang yang membiarkan gadisku disentuh pria lain. Terlebih lagi saat ini aku tengah sensitif karena tugas akhir untuk lulus. Jadi, aku menghampiri mereka dan langsung meninju wajah pria tersebut. Inginnya mengenai sebelah matanya agar matanya memar, tetapi tinjuku meleset sehingga tinjuku mengenai hidungnya.

“Myungsoo!” Seulhee berteriak, menahanku untuk tidak meninju pria itu lagi. “Cukup! Kau ini kenapa?!”

Aku hanya menatapnya dengan mata menyipit, lalu menoleh pada pria itu yang tengah mengusap hidungnya. Dan tanpa memedulikan apakah pria itu mimisan karena tinjuku atau tidak, aku menarik tangan Seulhee menjauh dari pria itu. Seulhee tidak protes, namun begitu jarak kami cukup jauh dari keramaian, dia menghentakkan tanganku.

“Apa-apaan kau?” tanyanya dengan nada meninggi.

“Bukankah harusnya aku yang bertanya begitu?” balasku.

“Dia hanya teman!” bantahnya. Haruskah aku percaya? “Kau tidak seperti yang aku kenal. Kau bisa bicara baik-baik, tidak dengan meninjunya!” Matanya menyipit, meragukan diriku.

Mendengarnya membela pria itu hanya dapat membuatku tertawa. Tawa sinis. “Berarti kau memang tidak benar-benar mengenalku.” Ucapku, lalu pergi meninggalkannya.

Dan sejak saat itu, aku tidak menghubunginya ataupun menemuinya. Sama dengannya yang juga tidak menghubungiku ataupun menemuiku.

 

Suara pintu terbuka dan tertutup terdengar ketika aku sedang menyelesaikan tugasku. Menaruh buku-buku yang sedang kubaca sebagai literatur tugas, aku melihat Seulhee masuk dengan sandal rumahnya. Raut wajahnya tidak seperti biasa. Tidak ada senyuman.

“Apa kau berniat terus diam?” aku tahu apa maksud pertanyaanya. Aku bahkan terlalu sibuk untuk memikirkan masalah kami satu minggu yang lalu.

Aku tidak menjawabnya, dan dia hanya mendengus. Lalu dia menghampiriku sembari melepas cincin pemberianku, dan menyerahkan cincin itu padaku.

“Aku kemari untuk mengembalikan ini.” Katanya. Lalu membalikkan badannya, dan pergi lagi.

Aku tidak mengerti dengan diriku sendiri. Aku tidak ingin putus, tetapi mengapa bibir dan tubuhku menolak untuk melakukan sesuatu untuk menahannya? Begitu suara pintu tertutup, aku benar-benar merasa seperti orang bodoh.

“Argh!” teriakku sembari mengacak-acak rambut frustasi.

Aku tidak pernah tahu jika hubungan kami akan berakhir seperti ini.

~oOo~

Sebuah kenyataan yang tidak pernah dibayangkan oleh Seulhee agar bisa melihat Myungsoo lagi secara dekat seperti sedia kala. Ia mencoba tersenyum seakan tak pernah ada yang terjadi di antara mereka, sekaligus menyembunyikan matanya yang memerah akibat menangis.

Beberapa jam setelah ia menelepon Myungsoo, lelaki itu pun mengirimnya pesan singkat dan memintanya untuk menemuinya di atap gedung apartemennya. Mengetahui bahwa Myungsoo berpura-pura tidak mengenalnya saat menelepon, ia tahu bahwa lelaki itu tidak mau gadis yang sedang bersamanya tahu. Meskipun begitu, ia senang membayangkan akan melihat lelaki itu lagi.

“Sudah lama sekali, ya?” ucapnya untuk pertama kali melihat punggung seorang Kim Myungsoo.

Kemudian Myungsoo berbalik, namun tak membalas senyumnya. Dan ia berpikir, ia tak akan pernah melihat senyum kesukaannya itu lagi.

“Kau kelihatan buruk.” Kata Myungsoo dengan memicingkan matanya, menatapnya dalam kegelapan.

Ia hanya bisa tersenyum. Setidaknya Myungsoo masih memperhatikannya. Lalu ia melangkahkan kakinya mendekati Myungsoo, melewati bahu lelaki itu dan memilih untuk berdiri di balik pagar pembatas untuk melihat suasana malam kota. “Yah, banyak yang terjadi.” Jawabnya kemudian sembari mengangkat bahunya.

Myungsoo membalikkan badannya lagi untuk berdiri di samping Seulhee.

Hening sejenak sehingga yang terdengar hanyalah suara hembusan angin malam yang berusaha menembus pakaian hangat Seulhee. Keduanya terlalu canggung untuk berbicara setelah beberapa tahun tidak saling melihat atau berkomunikasi.

“Jadi?” Seulhee memulai. Bertanya apa yang ingin dibicarakan Myungsoo karena ia tahu lelaki itu tak akan kemari jika tak ada yang dibicarakan.

“Aku…,”

“Kau memiliki pacar, bukan? Yah, kau mendahuluiku, kau tahu?” selanya, mencoba menghangatkan suasana namun justru membuat Myungsoo semakin ragu untuk mengatakan apa yang ingin dikatakannya.

Diam sejenak. Myungsoo melihat wajah Seulhee beberapa detik untuk memastikan reaksi gadis itu sebelum ia mengatakan apa yang ingin dikatakan. Lalu, “Kau melihatnya, bukan?” ia bertanya.

Seulhee menoleh dan mendapati Myungsoo tengah melihatnya. “Siapa? Pacarmu?” ia balik bertanya dan Myungsoo mengangguk. “Ya, aku melihatnya.” Jawabnya kemudian sembari mengalihkan pandangannya lagi. “Dia cantik dan terlihat muda. Apa kau memacari anak sekolah—“

“Seulhee dengar,” potong Myungsoo, membuat Seulhee langsung menoleh. “Aku dan dia sudah bertunangan.”

Lagi-lagi hening yang terasa tak nyaman. Mata Seulhee terasa panas untuk yang kesekian kalinya di hari ini, lalu ia melirik tangan kanan Myungsoo dan mendapati sebuah cincin melingkar di jari manisnya. Dan merasa ditatap simpati oleh Myungsoo, ia pun segera tertawa. Suara tawa yang terdengar menyakitkan.

“Ah? Oh? Selamat Kim Myungsoo!” ucapnya sembari menepuk lengan Myungsoo. Lalu, “Dingin sekali malam ini. Aku akan kembali. Sampai jumpa.” Ucapnya, lalu beranjak untuk kembali ke apartemennya.

Namun, sebelum ia benar-benar masuk ke gedung apartemen, Myungsoo menahan lengannya dan langsung menariknya agar berbalik. Dan ketika ia sadar, bibir hangat Myungsoo menempel pada bibirnya dengan mengulumnya perlahan.

Ia tidak menolak karena ia tahu ia merindukan bibir hangat Myungsoo yang menyentuh bibirnya. Namun ciuman kali ini terasa menyakitkan. Ia pun memejamkan matanya dan air mata lolos begitu saja dari pelupuk matanya.

Kemudian Myungsoo melepaskan ciumannya dan melihat wajah penuh air mata Seulhee. Lalu, “Ini yang terakhir. Sampai jumpa.” Ucapnya, lalu beranjak meninggalkan Seulhee menangis seorang diri tanpa menghapus air matanya.

Karena Myungsoo tahu, jika ia menghapus air mata Seulhee, ia tidak akan pernah bisa berhenti.

~oO End Oo~

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s