[Prolog] Lost and Found



LOST AND FOUND

EnnyHutami’s Fanfiction Story 2014

Lenght: Series | Genre: Hurt/Comfort, Romance, Friendship, Life | Rating: PG-15

Cast: Yoo Hyejin and the others are secret

Disclaimer: Pure mine. Dislikers are prohibited to read

 

PROLOG

Yoo Hyejin


Langkah kakiku terdengar santai ketika tengah menaiki anak tangga menuju atap sekolah pada gedung A, gedung tertinggi di sekolahku yang terdiri dari tiga gedung. Gedung A yang merupakan gedung utama yang berisikan kelas-kelas, dan ruangan guru, kepala sekolah, serta ruang staff. Dan gedung B yang merupakan gedung khusus untuk ruang ekstrakulikuler dan ruang keorganisasian. Sedangkan gedung yang ketiga adalah gymnasium.

Begitu aku berdiri di anak tangga paling atas, tanganku pun memutar knop pintu yang ada di depannya dan mendorongnya pelan. Dan pada saat itu, hembusan angin menyambutku, menerbangkan helai-helai rambutku ke belakang. Membiasakan diri dengan cahaya dari sinar matahari pada akhir musim semi, aku pun mendapati seseorang tengah berdiri menghadapku di atas pagar pembatas antara atap dan udara bebas yang memang hanya setinggi pinggangku.

“Kau datang.” Ucapnya. Ekpresi wajahnya menandakan bahwa ia senang melihat kehadiranku. Tetapi aku tidak menyukai senyumnya yang justru terlihat jahil dimataku.

Aku melepas earphone dari telingaku dan menatapnya tidak suka. “Apa maumu?” tanyaku tak ramah sembari menatap kakinya yang berdiri di atas pagar pembatas.

“Aku ingin kau jadi pacarku.” Katanya. Kalimat yang terdengar memaksa ditelingaku. Aku mengerutkan kening dan ia melanjutkan, “jika kau tidak mau, aku akan lompat dari sini.”

Aku yakin lelaki ini sakit jiwa, dan mungkin saja dia baru kabur dari rumah sakit jiwa dan menyuruhku kemari. Bahkan aku tak mengenalnya. Aku pun kemari karena teman sekelasku bilang ada yang mencariku dan memintaku kemari. Dan kini dia dengan seenaknya memaksaku untuk menjadi pacarnya? Benar-benar sinting.

Mungkin karena aku hanya menatapnya dengan mengernyitkan kening, dia pun melanjutkan. “Kau tidak bisa menjawabnya sekarang? Apa kau perlu waktu?” tanyanya dengan senyum penuh percaya diri bahwa aku mau menuruti kemauannya.

“Apa yang kaubicarakan?” akhirnya aku bersuara lagi, menatap dia dengan pandangan tidak suka. Kemudian hendak berbalik sebelum dia berbicara lagi.

“Jika kau pergi begitu saja, aku benar-benar akan lompat.” Gertaknya, dan aku tidak takut.

“Lompat saja.” Tantangku. Lalu benar-benar membalikkan badan dan sempat melihat wajah terkejutnya saat mendengarku menyuruhnya melompat. Lagipula, aku yakin jika orang itu tidak berani melompat dari atap pada gedung berlantai enam ini. Jadi, akupun meninggalkannya.


Mungkin semua orang menganggap bahwa keluargaku adalah keluarga paling bahagia yang pernah ada. Aku tidak membantahnya karena ayah dan ibuku selalu bersikap normal dan romantis di luar sana. Tetapi tidak jika keduanya berada di rumah.

Pernah aku mendengar kedua orangtuaku tengah ribut dan mereka menyebut-nyebut tentang perceraian. Saat itu aku berusia lima belas tahun dan wajah jika aku menangis di kamar. Aku dulu, sebagai seorang anak kecil yang tengah memasuki masa remaja, selalu menginginkan keluarga yang harmonis. Tidak hanya di luar, di depan orang-orang, tetapi juga internalnya.

Aku memang tau bahwa orangtuaku sering bertengkar sejak aku berusia tiga belas tahun, tetapi aku tidak pernah menginginkan keduanya untuk bercerai karena—jujur saja—aku merasa malu terhadap teman-temanku. Aku memang terguncang, namun karena keduanya tidak pernah melakukan kekerasan, jadi aku masih bisa melalui masa remajaku dengan normal. Yah, memang tidak senormal gadis-gadis di sekolahku yang selalu bergosip, hang out, dan berpacaran. Aku justru menjauhi orang-orang dan menjadi pribadi yang tertutup, juga tidak percaya pada siapapun tidak terkecuali orangtuaku. Hal itu terjadi ketika aku memergoki ibuku tengah berciuman dengan lelaki selain ayah di rumahku sendiri.

Setelah melihat itu, aku pun mulai tidak mempercayai ibu dan juga ayah. Aku berpikir ayah juga melakukan hal yang sama sehingga hampir setiap harinya mereka bertengkar. Hingga aku pun tidak mau percaya pada siapapun. Toh orang terdekatku, orangtuaku sendiri, saling menghianati. Bagaimana orang lain?

Dan di sinilah aku. Berdiri di pojok ruangan sendirian dengan gaun berwarna biru laut berbahan katun dengan motif kotak-kotak yang tidak terlalu kentara dengan warna biru yang sedikit gelap. Panjang gaunnya hanya sekitar 70 cm dari atas dan tanpa lengan. Ini adalah gaun pilihan ibuku yang baru dibelinya kemarin lusa. Bahkan ibuku mengoles wajahku dengan peralatan make-up-nya selama dua jam. Beliau juga ingin menata rambutku, namun aku menolaknya.

Aku tidak terlalu suka wajahku terlihat jelas oleh orang-orang. Dan rambut adalah pilihanku untuk menutupi wajahku.

“Hei,” sapa seseorang. Begitu aku mengangkat wajah untuk melihat siapa yang menatapku, aku pun mendapati lelaki yang waktu itu tengah tersenyum padaku. “Kau sendirian.” Lanjutnya, dan itu bukan pertanyaan.

“Kau masih hidup.” Dengusku lalu mengalihkan pandanganku ke arah lain. Setelah berbulan-bulan dia tidak menampakkan wajahnya, kini ia muncul lagi dihadapanku.

Dan aku dapat mendengar suara tawanya yang terdengar renyah. “Kau berpikir aku akan benar-benar melompat?” tanyanya, mencoba terdengar terkejut.

“Tidak juga.” Jawabku ketus. Masih tidak mau melihat wajahnya. Bisa-bisa aku meninjunya dan menjadi pusat perhatian pesta kelulusan.

Dia tertawa lagi. “Tentu saja. Kan aku tidak mau menyerah sebelum kau menjadi pacarku.” Kalimatnya membuatku langsung menoleh padanya dengan pandangan terkejut dan tidak suka.

“Apa, sih, sebenarnya maumu?” tanyaku mulai merasa terganggu. Laki-laki ini benar-benar menyebalkan.

Dia tersenyum miring. Dan aku benar-benar ingin meninjunya tidak peduli bagaimana reaksi orang-orang nantinya. “Kau sudah tahu apa yang kuinginkan.” Balasnya.

Aku memutar bola mata, lalu beranjak dari tempatku untuk pergi ke tempat lain. Dia tidak punya orang lain untuk diganggu atau—kalimat dalam pikiranku terputus begitu saja ketika tiba-tiba ia menarik lenganku dan menyadari bahwa bibirku disentuh oleh bibirnya. Kurasakan hidung mancungnya di pipiku dan aku bisa melihat wajahnya sangat dekat. Begitu tersadar dengan suara-suara sorai-sorai di sekitarku, aku pun langsung mendorong bahunya kasar, lalu menamparnya. Di depan semua orang.

Tanpa menyuarakan kemarahanku, aku pun langsung pergi dan mencari pintu keluar, tanpa memedulikan semua mata yang menatap ke arahku. Sinting. Laki-laki itu benar-benar sinting. Berani sekali dia menciumku di depan umum. Bahkan aku tidak tahu siapa dia! Keparat!

Begitu berada diluar gedung, ponselku bergetar panjang yang menandakan bahwa adanya panggilan masuk. Aku mengambil ponsel dari dalam tas tangan kecil berwarna hitam dan ibu menelepon.

Aku mencoba mengatur napas sebelum mengangkat teleponnya. Lalu, “Ya, bu?” ucapku dengan suara tenang seperti biasanya.

Apa kau bersenang-senang, sayang?” sebelah alis kunaikkan. Apa ibu mengira aku bersenang-senang? Balasku dalam hati. Namun aku tidak menjawab pertanyaan ibuku sehingga dia melanjutkan. “Ada yang ingin ibu bicarakan. Penting. Maukah kau pulang lebih dulu? Ibu sebentar lagi sampai.

Aku sempat diam sesaat. Perasaanku mulai tidak enak. Lalu, “Ya, aku akan menunggu di luar.” Jawabku. Setelah mengatakan bahwa dia mengiyakan, dia pun mematikan telepon. Benar-benar khas ibuku.

Aku pun berjalan dengan sepatu hak tinggi yang cukup membuatku kewalahan berjalan dan menunggu ibuku di lobby. Angin malam gugur berhembus menggelitik tubuhku. Berkat pakaianku yang terbilang minim ini, tubuhku menggigil sehingga aku harus memeluk diriku sendiri. Untungnya tak lama mobil ibuku muncul di hadapanku, dan aku pun langsung membuka pintu mobil di bagian depan di samping bangku kemudi.

“Bagaimana pestanya, sayang?” ibu berbasa-basi.

“Menyenangkan.” Jawabku bohong tanpa berniat untuk melanjutkan obrolan. Dan ibu langsung melajukan mobil, masuk ke dalam jalan raya.

Selama beberapa menit kami saling diam. Ibu fokus pada jalan di depannya, sedangkan aku masih melihat keluar jendela sembari memikirkan hal yang terjadi beberapa menit yang lalu. Jika lelaki itu tidak bersikap kurang ajar, mungkin aku tidak akan menampar pipinya. Aku yakin saat ini aku tengah menjadi bahan gosip satu angkatan dalam pesta.

“Hyejin-a,” panggil ibu, dan aku menyahuti tanpa benar-benar menoleh pada ibu. Lalu, “Ibu akan bercerai dengan ayah.”

Mendengarnya, aku kini menoleh pada ibuku. Meski tahu cepat lambat keduanya akan bercerai, tetapi aku tidak pernah membayangkannya. “Jadi itu yang ingin ibu bicarakan?” tanyaku, mencoba tegar tetapi suaraku justru terdengar aneh dan bergetar bahkan di telingaku sendiri.

“Ibu juga ingin kau tinggal bersama ibu.” Lanjutnya sembari melihat ke arahku sejenak lalu menatap jalanan di depannya lagi.

Sebelum menjawabnya, aku pun tersadar bahwa ibu membawa mobil menuju luar kota. “Ibu akan membawaku kemana?” tanyaku, kali ini mulai panik.

“Villa milik ibu yang ayahmu tidak ketahui. Kau akan tetap di sana hingga ibu dan ayah resmi bercerai. Dekorasinya sangat bagus. Kau pasti akan menyukainya, sayang.” Ucap ibuku. Dan tiba-tiba aku merasa marah ketika menyadari apa yang tengah terjadi.

“Ibu ingin menyembunyikanku?!” teriakku, tidak lagi dapat menahan emosiku setelah apa yang terjadi dalam pesta. “Ibu masih ingin aku tinggal bersama ibu setelah apa yang aku lihat?!” celaku. Ya, ibuku tahu bahwa aku melihatnya. Namun dia tidak merespon banyak ataupun mencoba menjelaskannya padaku.

“Ibu tahu kau akan menolak.” Ujar ibuku. Suaranya terdengar dingin, dan aku merasa tidak mengenali ibuku, seakan-akan wanita yang menyetir di sebelahku adalah orang lain. Lalu ibu mempercepat laju mobil yang membuatku langsung berpegangan pada sabuk pengaman.

Setelahnya aku tidak dapat banyak berbicara dan hanya memandang ngeri ke depan dan melirik jarum pada spedometer. Aku tahu ibuku sengaja mempercepat laju mobil sehingga aku tidak lagi bisa membantahnya karena aku takut berkendara dengan kecepatan seperti ini. Ibuku tahu persis apa kelemahanku.

“Ibu…,” aku mencoba memohon. Tetapi ibuku seperti orang kesetanan sehingga mengendarai mobil seperti ini disaat suasana jalan tidak sepi. “Aku mohon berhenti.” Pintaku lagi saat mobil hampir menabrak sebuah mobil barang di depan.

“Kita tidak punya banyak waktu, sayang. Jadi, percaya pada ibu dan duduk manis saja.” Ucap ibu tanpa menoleh kearahku.

“Tapi, ibu tahu aku takut—” sanggahanku terputus dengan teriakan ketika kurasakan mobil berbelok untuk menghindari mobil di depan yang mengerem mendadak. Kini jantungku benar-benar berpacu sangat cepat dan mungkin sebentar lagi akan meledak. “Ibu pelankan!”

“Percaya pada ibu—” sebelum ibu menyelesaikan kalimatnya, derungan suara klakson dari sebuah truk terdengar sangat keras dan lampu menyorot sangat terang tepat di sebelah kiri, dari sisi kiri bahu mobil. Dan aku tidak ingat apa-apa lagi apa yang terjadi.

—To Be Continue—

Note: helawwwww. Aku kembali dengan new story yang idenya lagi menggebu-gebu di otakku dan ngebuat aku mengenyampingkan laporan fisika yang harus ditulis tangan hft. Di LaF ini, kenapa aku rahasiain sang cowoknya, karena mau liat seberapa banyak orang yang hanya memandang ff dari ceritanya, bukan castnya aja. Yah, aku bukannya mengatakan kalo cerita ini menarik, terlebih lagi ini baru prolognya. Tetapi untuk ukuran prolog, aku rasa ini cukup bikin penasaran, bener gak? Dan sedikit bocoran, cast cowoknya adalah member exo. Tapi mungkin ada yang berniat buat saran cast cowok? Mungkin nanti aku pikir ulang yang menurutku cocok buat karakter cowok di atas itu. Dan bocoran, dibagian akhir prolog, Hyejin gak mati kok, cuma ngalamin kecelakaan karena ibunya. Dan cast lainnya bakal menyusul yaaaa. Ppyong!!!~~~

2 thoughts on “[Prolog] Lost and Found

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s