[1st] Runaway Death



Runaway Death

Copyright © EnnyHutami’s Fanfiction 2014

| Lenght: Series | Rating: PG-15 | Genre: Fantasy, Suspense, Crime, Romance | Cast: Bae Sooji, Kim Myungsoo | Support Cast: Jung Soojung, Ok Taecyeon, Choi Minho | Disclaimer: Plot’s mine. The cast belong to their parents, agency, and God | Note: If you don’t like it, don’t bash. Opinion and critic are open, but you’d better watch your world. Don’t hurt anyone’s feeling |


Ku harap bukan aku saja.”

-Swinspirit-

HUJAN pada malam akhir musim panas tahun itu adalah hujan terlebat yang terjadi sepanjang tahun. Dengan suara guntur yang menggelegar seakan hendak menyambar siapa saja yang menantangnya dan suara derasnya hujan, gadis kecil itu meringkuk di balik selimut tebalnya.

Gadis kecil berusia sepuluh tahun itu kemudian bangun dari tidurnya dan keluar dari kamarnya yang gelap dengan tirai yang terbuka sedikit untuk menuju ke kamar ibunya.

Eomma…,” ucapnya ketika ia berada tepat di depan pintu kamar ibunya, lalu mengetuknya dengan pelan.

Namun tak ada jawaban.

Kemudian suara guntur terdengar lagi, kali ini terdengar seakan tepat di atas kepalanya. Jadi, ia pun masuk langsung masuk ke dalam kamar ibunya yang penerangannya hanya berasal dari jendela yang tirainya tidak ditutup sehingga terlihat air hujan yang turun dengan derasnya dari dalam.

Eomma, malam ini aku tidur di sini, ya?” pintanya sembari mengoyangkan lengan ibunya yang tertidur di atas ranjangnya.

Tak ada seorang ayah yang menemani ibu dari gadis itu. Ia terlahir tanpa ayah karena ibunya bilang, ayahnya menghilang begitu saja sebelum dirinya genap empat bulan berada di rahim sang ibu.

Dan hingga kini, ia tak pernah melihat ayahnya secara langsung. Ia hanya melihatnya dari foto-foto yang ibunya perlihatkan padanya.

Pada foto pernikahan orangtuanya, ayahnya terlihat gagah dan tampan.

Tanpa membuka matanya, ibu gadis itu menggeser tubuhnya agar gadisnya bisa tidur di sampingnya. “Kemari.” Ujar ibunya dengan suara parau. Setelah itu, ia menarik selimut untuk dirinya dan anak gadisnya.

Eomma, badanmu sangat panas.” Ucap gadis kecil itu sembari menatap wajah ibunya yang masih memejamkan mata. “Eomma tidak apa-apa?” tanya gadis itu kemudian.

“Mm. Eomma baik-baik saja.” Sahut ibunya dengan suara serak seraya mengelus puncak kepalanya.

Kamar tersebut terlalu gelap untuk gadis itu melihat keringat yang muncul di dahi sang ibu, tetapi tidak terlalu gelap untuk dirinya melihat sosok seseorang yang berdiri di depan lemari pakaian ibunya.

Tidak tahu akan sosok yang mengenakan jubah hitam dengan wajah yang ditutupi oleh tudung hitam, gadis itu pun bangun kembali untuk duduk di atas ranjang ibunya dengan tatapan heran ke arah sosok tersebut.

Ahjussi
nuguseyeo?” tanyanya pada sosok tersebut, tak merasa takut meskipun ia takut pada petir.

Kemudian suara guntur terdengar lagi.

Dan ketika matanya mengerjap untuk beberapa detik, sosok tersebut menghilang.

Tentu saja ia merasa takut, bahkan matanya membelalak ketakutan sekarang. Dan ia pun menggoyang-goyangkan lengan ibunya untuk memberitahunya apa yang baru saja ia lihat di dalam kamarnya.

Namun, tak ada reaksi dari ibunya. Dan ketika ia menoleh, ibunya pun tak lagi membuka matanya. Untuk selamanya.

-Runaway Death-

“Semua korban memiliki beberapa persamaan. Wanita berusia awal dua puluh tahun dan tinggal seorang diri. Dan semua korban meninggal karena kehabisan darah dengan nadi di lengannya kirinya dipotong.” Ucap Kim Myungsoo kepada ketua tim divisinya yang masih menelaah catatan pada buku kecilnya, lalu menatap seorang gadis berambut panjang yang terbujur kaku dengan kulit yang mulai pucat membiru.

“Kau yakin bukan kasus pemerkosaan? Semua korbannya adalah perempuan.” Tanya sang ketua tim, detektif Ok.

Myungsoo menggelengkan kepalanya. “Tidak ada luka selain di pergelangan tangannya. Jika pelaku melakukan hal yang sensual, kemungkinan besar tidak ada paksaan dari pihak korban.” Ujarnya.

Detektif Ok, atau yang bernama lengkap Ok Taecyeon, mengusap pelipisnya frustasi. Kasus yang tengah ditanganinya terasa amat berat. Bajingan sinting yang melakukan kejahatan ini benar-benar jenius untuk tidak meninggalkan bukti yang dapat meringankan pekerjaan para detektif dan polisi. Sialan.

“Berapa banyak korban dari kasus ini?” akhirnya Taecyeon bertanya sembari menatap wajah Myungsoo yang merupakan anak baru di timnya.

“Sudah ada tiga korban, sir, sejak tahun lalu.” Jawab Myungsoo. Meskipun merupakan anak baru di tim, sebenarnya Myungsoo bukanlah detektif baru yang masih perlu dibimbing. Justru ia merupakan yang terbaik di umurnya yang masih sangat muda. Ia hanya dipindah tugaskan ke Seoul dari Busan. Jadi, jangan heran jika dialeknya kadang terdengar saat ia bicara.

Taecyeon menghela napasnya, lalu menutup wajah mayat gadis yang menjadi korban dari kasus ‘vampir’—kasus tersebut dinamai vampir karena para korbannya yang meninggal karena kehabisan darah—lalu keluar dari ruangan untuk menghirup udara segar.

Sebegitu Taecyeon keluar dari ruang mayat, Myungsoo pun mencatat beberapa hal yang harus ia tulis di notenya. Dan ia merasa buntu. Selama kurang lebih tiga tahun ia berkerja sebagai detektif, baru kali ini ia tidak bisa menduga-duga motif dan pelaku kejahatan. Yang bisa ia duga hanyalah pelaku hanyalah seorang psiko yang senang melihat korbannya meninggal kehabisan darah. Seperti vampir.

“Ada ide dengan kasus ini?” suara khas milik Choi Minho, patner-nya, terdengar. Membuatnya langsung menoleh lalu menggeleng lemah. Sama seperti ketua timnya, Myungsoo juga merasa frustasi. Otaknya seperti benang kusut sekarang.

“Tidak saat ini. Aku butuh banyak bukti lagi.” Jawab Myungsoo sembari memijit keningnya. “Kau ada perkembangan?” ia bertanya balik.

Minho menggeleng. “Dia terlalu pintar. Semua CCTV di lokasi ataupun lokasi sekitar selalu rusak saat kejadian. Aku rasa dia merencanakannya.”

Myungsoo terdiam sejenak, mencoba berpikir. “Jika memang direncanakan… tidak kah kau berpikir jika orang ini sedang mencari seseorang?” ia menatap Minho sejenak, dan Minho hanya balas menatapnya dengan tidak yakin. Lalu, “Korban memiliki ciri yang sama, seperti umur. Pelaku melakukan aksinya selalu lebih dari empat bulan setelah kejadian sebelumnya. Dan yang bukti yang paling kuat adalah semua korban lahir di tahun yang sama.”

Kali ini Minho yang diam untuk sementara waktu, mencoba menelaah kalimat demi kalimat yang diucapkan Myungsoo. Kemudian ia mengangkat wajahnya untuk menatap Myungsoo yang berharap jika ia berpikir sama. Namun, meskipun begitu, reaksi Minho tidak memuaskan Myungsoo.

“Meskipun begitu, kita harus mendapatkan bukti yang kuat untuk menyatakan opinimu itu. Lagi pula, tak ada yang tahu bagaimana rupa pelaku tersebut.”

Minho benar, dan Myungsoo mengakui itu. Omongannya belum mendapat bukti yang cukup kuat. Dan meskipun ia benar, ia toh tidak bisa menangkap psiko keparat itu hanya karena gagasannya.

Jadi, Myungsoo pun keluar dari ruangan dengan Minho yang mengikuti di belakang untuk kembali lagi ke kantor dan memeriksa semua CCTV yang mungkin dapat menangkap sosok si psiko keparat itu.

-Runaway Death-

Bus berwarna biru berhenti tepat di halte dimana ia berdiri. Dengan wajah pucat dan lelahnya, ia pun naik ke dalam bus dan duduk di kursi yang kosong di kursi paling belakang. Di dalam bus hanya ada beberapa orang saja, tidak penuh hingga ada orang yang berdiri karena hari sudah terlalu larut dari waktu pulang kerja.

Ia melirik arlojinya dan jarum jam menunjuk ke angka sembilan. Ia mendesah. Oh bagus. Bekerja di dunia yang mulai ia tekuni beberapa minggu belakangan ini benar-benar tidak kenal waktu.

Ketika ia hendak memejamkan matanya untuk tertidur, ia merasa ada yang janggal dari keadaan di dalam bus. Jadi, ia pun kembali untuk memastikan lalu matanya membulat melihat keadaan di dalam bus. Ada lima sosok bertudung hitam yang berdiri di sebelah kursi yang ditempati penumpang. Salah satunya ada tepat di depannya.

Dari semua peristiwa yang pernah terjadi selama hidupnya, ia tahu bahwa bus akan mengalami kecelakaan dan akan memakan lima korban jiwa.

Ahjussi, tolong berhenti!” Ia berteriak sembari berdiri dan menekan bel berkali-kali dengan panik agar bus cepat berhenti. “Ahjussi, maaf, tolong hentikan busnya!” Lagi, ia berteriak panik sehingga semua mata menoleh ke arahnya.

Meskipun tak di depan halte, bus pun dihentikan dan pintu terbuka. Ia segera turun dengan perasaan ngeri. Terlalu banyak sosok itu di dalam bus. Dirinya terlalu takut.

Dalam diam ia terus menatap ke arah bus hingga bus tersebut terlihat kecil dan menghilang. Perasaan tak enak terus saja menyelimuti dirinya, dan kepalanya terasa berputar.

“Nona, kau tidak apa-apa?” bisa ia dapati seseorang menangkap tubuhnya yang hampir limbung.

Merasa keseimbangannya kembali lagi, ia pun segera menjauhkan diri dari lelaki tersebut. “Maaf,” ucapnya sembari membungkuk kecil pada laki-laki itu.

Gadis itu, Bae Sooji, pun membalikkan badannya dan hendak melangkah menuju. Kemudian ia menaiki anak tangga untuk melewati jembatan penyebrangan karena halte berikutnya ada di seberang jalan setelah belokan pertama, belokan dimana bus tersebut tak lagi terlihat oleh matanya.

Di tengah-tengah jembatan penyebrangan, langkahnya terhenti dan ia menoleh ke arah kiri, menatap jalanan yang penuh dengan mobil berkecepatan tinggi melaju.

Dirinya dapat melihat sosok itu. Sosok hitam yang mungkin biasa disebut malaikat pencabut nyawa. Bahkan ia melihatnya saat ia berusia enam tahun, di kamar ibunya. Dan itulah pertama kalinya ia melihat sosok itu.

Sebelum itu, ia hanya bisa merasakan kehadiran mereka. Tidak benar-benar melihatnya. Namun karena ia selalu mengatakan apa yang ia rasakan kepada orang lain, ia selalu mendapat julukan ‘hantu’ dan semua orang yang tahu pasti menjauhinya. Bahkan ibunya sendiri tidak tahu mengapa ia dijuluki ‘hantu’ oleh orang-orang. Banyak rumor beredar bahwa ia membawa nasib sial, orang-orang yang selalu dekat dengannya pasti akan mati. Hingga suatu hari ibunya tahu mengapa orang-orang memberi julukan aneh dan seram padanya.

Eomma, Mijin akan pergi ke langit.” Ibunya hanya tertawa dan meneruskan kegiatannya yang tengah mengepang rambut panjang Sooji.

“Mijin bilang begitu?” tanya ibunya, meladeni ucapan anak berusia lima tahun itu.

Sooji kecil menggelengkan kepalanya. “Tidak. Aku hanya berpikir dia akan pergi.” Ucapnya.

Dan setelah itu, Son Mijin, gadis berusia enam tahun yang tinggal di sebelah apartemennya meninggal karena terjatuh dari balkon apartemennya yang berada di lantai delapan.

“Akh!” ia mengerang frustasi sembari memijit keningnya.

Bukan hanya orang-orang yang takut kepada dirinya, namun ia sendiri juga takut pada dirinya sendiri. Bagaimana jika ia melihat sosok bertudung hitam itu muncul di sebelahnya? Apa itu berarti ia akan mati?

Dan tiba-tiba saja sebuah ide terlintas di benaknya. Ide untuk menguji jika sosok itu akan muncul atau tidak beberapa detik sebelum kematiannya. Lagipula ia tidak benar-benar menyukai hidupnya. Ia tidak memiliki siapa-siapa, dan hanya memiliki dirinya sendiri yang berkuliah berkat beasiswa yang ia dapatkan.

Jadi, ia melangkahkan kakinya mendekati pagar pembatas yang terbuat dari besi dan menatap ke bawah. Jika ia meloncat, sudah bisa dipastikan dirinya akan langsung menghembuskan napas untuk yang terakhir kalinya karena mobil yang melaju dengan kecepatan tinggi.

Kemudian ia melepaskan sepatu ber-hak tingginya itu dan menaiki besi yang paling bawah. Hembusan angin malam di akhir musim panas menampar pipinya dan membuat rambut panjangnya yang dibiarkan terurai berterbangan. Lalu, ia mulai menutup matanya.

-Runaway Death-

“Ada beberapa CCTV di sekitar lokasi, letaknya memang tidak dekat, tetapi masih bisa kita lihat untuk mencari tahu rupa si vampir ini. Aku sudah mengopinya dan akan kulihat di rumah. Kantor membuatku cepat lelah.” Ucap Myungsoo pada seseorang di seberang teleponnya yang tak lain adalah Choi Minho, patnernya.

“Semua berkas yang kau butuhkan ada di mejaku. Kau bisa melihatnya.” Lanjutnya sembari berjalan santai menaiki anak tangga jembatan penyebrangan. Lalu, “Pastikan kau tidak bermalam di kantor lagi. Besok akan menjadi hari yang berat lagi.”

Dan telepon ditutup setelah Minho menyahuti perhatian Myungsoo.

Ketika sampai di atas jembatan, ia masih melangkah santai sembari menyedot americanonya hingga matanya menangkap seorang gadis yang hendak melompat.

Menjatuhkan kopinya, ia pun segera berlari menghampiri gadis itu dan menariknya sehingga ia dan gadis itu jatuh bersamaan ke aspal dengan tubuhnya yang ditindih oleh gadis itu. Ia mengerang kesakitan, begitu juga gadis itu yang belum kunjung bangun. Beberapa detik setelah itu barulah gadis itu bangun dengan ekpresi seolah-olah ia hanya jatuh dari sepeda sembari memegangi pergelangan tangannya.

“Kenapa kau yang datang?” sembur gadis itu setelah Myungsoo berdiri lagi.

Keningnya berkerut dan kedua alisnya bertautan lucu mendengar omelan gadis itu. “Apa kau bilang? ‘kenapa aku yang datang’?” balasnya tak percaya dengan apa yang barusan ia dengar.

“Pantas saja mereka tidak muncul.” Gumam gadis itu dengan kepala merunduk agar Myungsoo tak bisa mendengarnya. Namun, Myungsoo tetap mendengarnya dengan jelas.

Ia pun berdecak. Mimpi apa ia kemarin malam sehingga bertemu gadis ini?

Kemudian, tanpa mengatakan sepatah katapun gadis itu berlalu pergi.

Lagi. Myungsoo mendecak, tetapi ia tidak mengumpat atau mengatai gadis itu. Ia hanya memandangi punggung gadis itu yang melangkah dengan kaki diseret menuju arah yang sama dengannya.

Ketika ia sudah menuruni anak tangga pada jembatan penyebrangan, ponselnya pun berbunyi. Setelah melihat nama yang tertera pada layar ponselnya, ia segera mendesah. Harinya buruk.

“Kenapa?” tanyanya langsung pada si penelepon, Jung Soojung.

“Oppa, ada kecelakaan di dekat apartemenmu!”

Lantas mata Myungsoo membelalak mendengarnya. “Kau dimana sekarang?” tanyanya kemudian.

Di tempat kejadian. Taman di belakang gedung—

Myungsoo segera memutuskan hubungan telepon Soojung dan berlari secepat yang kakinya bisa.

-Runaway Death-

Mereka tahu bahwa akan ada yang menolongnya, itulah alasan yang dibuat Sooji saat ini. Dan menurutnya, hari ini bukanlah waktunya untuk dirinya pergi menyusul ibunya. Tetapi, sayangnya bukan hari ini. Dan itu berarti ia harus menjalani hari demi hari lagi sendirian.

Kemudian, tepat di sebelahnya, ia mendapati seorang laki-laki—bisa ia duga laki-laki itu adalah lelaki yang menggagalkan aksinya—berlari melewati dirinya.

Ia bukanlah tipe orang yang suka mengurusi urusan orang lain, tetapi untuk kali ini entah mengapa ia merasa ingin tahu. Terlebih lagi suara sirene ambulan dan petugas pemadam kebakaran terdengar menyusul. Dan satu-satunya yang masuk akal adalah bus yang sempat ia tumpangi tadi.

Ia pun melangkah lagi, tidak berlari ataupun terburu-buru—ia tidak ingin melihat banyaknya korban yang berjatuhan. Ia tidak ingin melihat mayat yang terbujur kaku. Lagi.

Ketika ia berbelok, cukup jauh di depan sana, ia bisa melihat kerumunan dengan sebuah bus berwarna biru yang terguling dan menimbulkan api di beberapa titik. Tetapi ia tidak melihat ada kendaraan lain yang ikut terlibat dalam kecelakaan.

“Aneh,” gumamnya pada diri sendiri sembari terus melangkah menuju kerumunan. “Tidak mungkin bus meledak sendiri, bukan?” tanyanya. Lagi. Ia mengatakan kepada dirinya sendiri.

Di dalam kerumunan itu, terlihat para petugas pemadam kebakaran. Ia pun mencoba untuk masuk ke dalam kerumunan dan melihat apa yang sebenarnya terjadi.

Bus tersebut terguling dan terbakar, itu yang bisa ia duga. Kemungkinan mesinnya terlalu panas atau apapun itu yang dapat menyebabkan munculnya percikan api hingga meledakkan bus. Ia bisa melihat paramedis dan petugas pemadam kebakaran yang tengah sibuk menyelamatkan para korbannya.

“Bagaimana bisa bus meledak sendiri seperti itu?” sebuah suara yang terlalu mencolok dalam keramaian itu mencuri perhatiannya. Dan ia pun mendapati seorang gadis berambut cokelat terang yang lurus panjang hingga ke pinggang bersama seorang lelaki… lelaki yang menggagalkan rencananya.

“Tunggu sebentar di sini.” Ujar lelaki itu pada gadis yang bisa ia tebak cerewet itu, lalu masuk ke dalam garis batas dan memperlihatkan sesuatu seperti dompet pada seorang petugas.

“Oh, dia seorang polisi?” gumamnya. Melihat laki-laki itu yang melewati garis batas dengan mudah.

Tiba-tiba sosok itu muncul lagi. Berada di samping dorongan yang dibawa oleh dua orang petugas yang membawa korban dengan banyak darah disekujur tubuhnya. Ketika sosok tersebut lewat tidak jauh di depannya, ia pun segera merundukkan kepalanya. Kedua tangannya meremas ujung kemejanya erat-erat.

Kemudian ia bisa merasakan sesuatu menyentuh lengannya, membuat matanya memejam sangat erat, begitu juga jemarinya. Tubuhnya seakan membeku dan jantungnya berpacu terlalu keras.

“Kau tidak apa?” begitu mendengar suara perempuan yang terdengar khawatir, ia pun langsung membuka matanya dan mendapati gadis yang bersama polisi tadi berdiri dihadapannya dengan ekpresi khawatir juga heran. Masih dengan degup jantungnya yang terasa berdenyut cepat, ia pun menghela napasnya. Lalu menyadari bahwa kini ia menjadi perhatian kerumunan.

Menyadari bahwa tak ada yang perlu ia khawatirkan saat ini tentang dirinya sendiri, ia pun segera menarik diri dan berlalu pergi tanpa mengatakan sepatah kata pun atau menjawab pertanyaan gadis itu.

-Runaway Death-

Dari tempatnya berdiri, ia bisa melihat seorang pria yang selalu ia kagumi dengan pakaian kasualnya berada di dalam garis polisi dan tengah berbicara dengan beberapa petugas. Ingin sekali dirinya berdiri di sebelah lelaki tersebut, membantunya, tetapi ia tahu bahwa dirinya tidak diperbolehkan untuk masuk ke dalam garis tersebut. Beberapa polisi menjaganya.

Lalu, tiba-tiba saja ia mendengar suara seorang gadis berteriak. Teriakan tertahan yang terdengar di belakangnya. Dan berkat teriakannya tersebut, gadis itu sukses menjadi pusat perhatian oleh para orang-orang yang berkerumun—meskipun para petugas tidak menaruh perhatian dan tetap berkerja di dalam garis polisis di sana.

Gadis itu terlihat ketakutan, ia merunduk sehingga wajahnya tak terlihat karena rambut panjangnya yang jatuh menutupi wajahnya dan pundaknya terlihat tegang. Dan sepertinya ia tahu mengapa gadis itu ketakutan. Karena pada saat petugas medis lewat untuk memindahkan korban yang sekujur tubuhnya penuh darah ke mobil ambulan, gadis itu berteriak.

Takut darah, eh?

“Kau tidak apa?” tanyanya, mencoba menenangkan gadis itu sembari memegang lengan gadis tesebut.

Kemudian gadis itu membuka matanya. Ketika melihat dirinya, gadis itu menghela napas. Melihat wajah gadis itu, ia merasa tidak asing. Tetapi ia tidak bisa ingat siapa.

Alih-alih menjawab pertanyaannya, gadis itu pun melihat ke sekeliling, lalu menatapnya dengan mata memerah (mungkin karena dipejamkan terlalu keras?). Dan tanpa mengatakan apa-apa, gadis itu membalikkan badannya, membelah kerumunan dan pergi begitu saja. Membuat dirinya mendengus tak percaya diacuhkan begitu saja ketika dirinya tengah peduli.

Namun, tiba-tiba ia teringat sesuatu. “Ghost?” tanyanya pada dirinya sendiri, tetapi ingin ada seseorang yang menjawab pertanyaannya.

“Ada apa?” suara khas laki-laki yang selalu dikaguminya, Kim Myungsoo terdengar. Dan saat ia berbalik, ia mendapati Myungsoo berdiri di hadapannya dengan kening berkerut heran. Lalu, “Ayo, kuantar kau pulang.” Kata Myungsoo sembari berlalu pergi, keluar dari kerumunan.

Oppa, tunggu!” serunya sembari mengejar Myungsoo. “Aku akan pulang setelah melihatmu menghabiskan makananku.” Lanjutnya.

Myungsoo menghentikan langkahnya, lalu berbalik. “Jung Soojung.” Panggilnya saat melihat Soojung melangkah ke arah yang berlawanan dengannya, menuju pintu utama gedung apartemen. Karena gadis itu yang berpura-pura tidak mendengarkan, ia pun hanya bisa menghela napasnya dan mengejar gadis itu.

Ketika Myungsoo telah berada di samping Soojung, ia segera merebut tas makan dari tangan Soojung yang juga menghentikan langkah gadis itu. “Besok kujemput di kampus.” Ujarnya sebelum gadis itu menyemburkan protesnya.

Senyum gadis itu muncul dengan lebar di wajahnya. “Deal.” Sahutnya.

Setelah itu Myungsoo menghentikan sebuah taksi yang lewat, lalu membukakan pintu belakang untuk Soojung. “Sekarang pulanglah. Sudah larut.” Ucapnya.

Masih dengan senyum puas di wajahnya, Soojung pun melangkahkan kakinya menghampiri taksi dan berdiri di belakang pintu, berhadapan dengan Myungsoo dan hanya dihalangi oleh pintu taksi yang hanya sebatas dadanya. Lalu Soojung pun berjinjit dan mendekatkan wajahnya pada wajah Myungsoo.

Soojung mengecup kilas bibir Myungsoo tiba-tiba, lalu ia pun masuk ke dalam mobil dan menutup pintunya. Kemudian taksi melaju, meninggalkan Myungsoo yang hanya menghela napasnya sembari menggelengkan kepalanya.

-To be continue-

7 thoughts on “[1st] Runaway Death

  1. waaa soojung sm myungsoo ada hubungan apaa thorr ?? kasian suzy dia bisa ngeliat malaikat maut ckck tp dia jadi selamat karna bisa ngeliat hehee next thorrr seruu🙂

  2. waaaaa kayanya udh lama banget ga mampit ke WP ini ~
    gatau gimna bahasa nya itu selalu memikat dan ga bikin bosen suka banget deh sama karyanyaaa ~
    ditunggu lanjutan cerita ini dan semoga ga mengalami kebuntuan untuk melanjutkannya hehe
    aku tunggu yaaa nexy capnya

  3. Wahhhhh kerennnn banget thorrrrr (Y)
    Berharap perasaan Myungsoo ngga sama kaya Soojung, hehe
    Suzy bisa meminimalisisr kecelakaan yangf terjadi kepadanya dong #bahasanya ribet juga ya

    Ditunggu kelanjutannya😉

  4. Hai kak Enny Hutami. It’s been a long time ya enggak kunjung kemari. Username ku yang lama amalia759 kak hehe. I was always noticing your blog. I am a Suzy lover. But nowadays udah jarang banget ya nge-publish fanfiction yang main heroin-nya Suzy disini. Actually been missed so much with your fanfics kak. But sekarang ternyata banyakan pake OC ya:(((
    But for this one, this is such an awesome start. Mood booster waktu aku hunting fanfic yang main heroin-nya Suzy. AKu berharap banget nget nget fanfic ini dilanjut secepatnya yaaa. ENGGAK SABAR. KANGEN KARYA-KARYA KAK ENNY!!!:***

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s