Grow Up – Chapter 1



Grow Up

Copyright © EnnyHutami’s Fanfiction 2014

| Lenght : Series || Rating : General || Genre : Romance, Arrange Marriage, Comedy (lil’bit) |

| Cast : Lee Taemin, Kwon Mina, Park Chanyeol |

| Support cast: Jo Kwangmin, Kim Nara |

| Disclaimer : All—with cast, are Mine! | Note : Larangan keras bagi orang-orang yang tidak suka, siders, dan plagiator. Genre rada mainstream, tetapi berbeda jalur cerita dan karakter. Kenapa? Karena aku suka yang mainstream-mainstream~~~ Yeahhh! |

~œ Swinspirit œ~


KEADAAN taman kota pada sore hari memang selalu ramai dengan orang-orang yang ingin menghirup udara sore hari bersama orang terdekatnya, atau mungkin peliharaan. Dan musim semi selalu menjadi musim favorit orang-orang untuk berjalan-jalan di luar rumah, melupakan perkerjaan yang membebankan pundak.

Seperti yang lainnya, Lee Taemin duduk sendirian di kursi panjang yang disediakan oleh pengurus taman kota, di bawah pohon yang ditutupi oleh bunga plum yang sedang mekar. Ketika angin bertiup, rambut cokelatnya pun ikut bertiup mengikuti arah angin. Ditangannya terdapat sebuah foto yang mengabadikan seorang gadis berambut hitam yang lurus dan panjang dengan latar belakang bunga sakura yang sedang mekar-mekarnya.

Dia bukannya sedang menyendiri untuk menatap foto gadis tersebut, tetapi dia sedang menunggu temannya, Park Chanyeol, yang tengah membeli minum di toko kelontong terdekat.

Dan gadis di foto tersebut bukanlah orang yang dicintainya. Bahkan mengenalnya saja pun tidak.

Semalam ayah dan ibunya memberikan foto tersebut padanya dan mengatakan bahwa dirinya akan dijodohkan dengan gadis tersebut. Dan yang lebih mengejutkannya lagi, karena suatu kondisi yang buruk, pernikahan akan dilangsungkan dua minggu ke depan.

Dirinya, di usia yang baru menginjak delapan belas tahun, ia akan menikah. Apakah itu masuk akal?

Namun karena keyakinan dari kedua orangtuannya yang mengatakan jika pernikahan akan menjadi rahasia dan tidak akan membuat dirinya berada di satu kamar dengan gadis itu, akhirnya dia menyetujui. Toh, walaupun dia menolak sekuat tenaga akan percuma. Pernikahan akan tetap dilangsungkan dengan atau tanpa persetujuannya.

Kenapa menikah namun dirahasiakan? Tentu saja rahasia karena dirinya yang masih berusia delapan belas tahun dan masih harus melanjutkan sekolah, dan menikah karena kondisi buruk pemilik dari Cinnabae Grup yang merupakah nenek dari gadis itu, serta gadis itu yang tidak mungkin bisa menjalankan grup seorang diri. Lagipula, CEO Yang—nenek dari gadis itu—bilang bahwa seseorang yang bisa memimpin di grup tersebut hanyalah orang-orang yang memiliki ikatan persaudaraan.

Kedatangan Chanyeol membuyarkan lamunannya dan langsung membuatnya mengantongi foto tersebut kembali ke saku mantelnya. Walaupun musim semi sudah datang, namun suhu masih berada di bawah dua puluh derajat.

“Apa yang kau lihat?” tanya Chanyeol sembari menyodorkan kaleng minuman padanya.

Taemin mengambil kaleng tersebut dan berdiri untuk melanjutkan jalan mereka. “Tidak ada.” Sahutnya sembari memamerkan senyum kecilnya.

Geez, jelas-jelas kau baru saja melihat sesuatu.” Decak Chanyeol. Dan Taemin pun hanya membalasnya dengan senyuman, tidak berminat untuk memberitahu Chanyeol apa yang dilihatnya tadi.

Kemudian langkah Taemin terhenti begitu melihat sebuah mobil sedan berwarna putih susu yang dilengkapi dengan kaca film super gelap dengan seorang laki-laki tua yang beberapa helai rambutnya memutih. Tak lama, seorang gadis berambut pendek sebahu yang diwarnai dengan warna cokelat kemerahan keluar dengan celana hitam pendek yang tidak sampai setengah pahanya dan jaket—atau mungkin kemeja—kebesaran dibalik kaus bergambarnya.

Untuk melihat gadis itu dengan jelas, Taemin menyipitkan matanya. Dia seperti pernah melihat wajah itu, namun dia juga tidak yakin. Dan saat gadis itu beranjak pergi meninggalkan mobil dengan sepatu kets merah sepanjang mata kaki, pandangan Taemin pun terarah pada lelaki tua yang tadi menunggu di luar.

Dia pernah melihat lelaki tua itu, bahkan beberapa kali. Jadi, saat matanya dan mata lelaki tua itu bertemu, sontak dia merundukan kepalanya sedikit, menyapanya sopan. Begitu juga sebaliknya.

“Kau mengenalnya?” tanya Chanyeol yang menatapnya bingung sedari tadi.

Taemin menganggukkan kepala. “Mm,” jawabnya singkat, lalu melanjutkan langkah. Sembari melangkah, dia berpikir dimana dia bertemu gadis itu. Gadis itu tidak begitu asing di mata.

Lalu dia teringat sesuatu. Kwon Mina? Batinnya. Tetapi, kenapa Kwon Mina di foto yang diberikan oleh orangtuanya semalam jauh berbeda dengan Kwon Mina yang dia lihat barusan?

Apa dia hanya salah menduga?


“STOP!” teriak Mina ketika mobil hendak melewati taman kota yang berwarna merah jambu karena bunga plum yang sedang mekar di sana. Dan sontak sang supir langsung meminggirkan mobil ke tepi jalan dan berhenti.

“Di sini?” tanya sang supir yang lebih sering dipanggil Pak Kim oleh Mina sembari menoleh ke belakang dengan kening berkerut.

Mina mengangguk dengan senyumannya untuk menjawab pertanyaan Pak Kim. Lalu, “Kwangmin dan Nara menunggu di taman itu. Jadi, Bapak keluar dulu.” Titahnya, masih dengan senyum kemenangan karena hari ini dirinya bisa bebas keluar rumah.

Tanpa babibu lagi, Pak Kim pun keluar dari mobil dan menunggu Mina yang akan mengganti pakaiannya di dalam mobil. Begitu Mina keluar dari mobil, rambut hitam panjang yang lurus telah berganti dengan rambut pendek sebahu berwarna cokelat kemerahan dan juga pakaian manisnya berganti pakaian kasual yang sering digunakan remaja seusianya.

“Nenek pulang besok, bukan?” tanya Mina memastikan.

Pak Kim menganggukkan kepala. Lalu, “Jangan pulang larut malam, ya.”

Mendengarnya, Mina pun mendecak. “Karena tidak ada nenek, aku akan pulang malam.” Sahutnya sembari menjulurkan lidah, lalu beranjak pergi.

Baginya, bisa keluar rumah adalah hal yang paling indah sepanjang hidupnya. Dan hal seperti ini tidak bisa sering dialaminya, paling-paling dua atau tiga bulan sekali. Itu pun jika neneknya keluar kota untuk urusan bisnis.

Hidup di tengah kekangan neneknya tentu saja membuat jiwa pemberontaknya muncul. Namun tetap saja dia memberontak diam-diam, tanpa diketahui neneknya. Jika neneknya tahu, bisa-bisa neneknya itu kena serangan jantung.

Ugh. Dia tidak mau itu terjadi karena satu-satunya yang dia punya adalah neneknya sekarang ini. Dan dia tidak mau kehilangan neneknya setelah kehilangan kedua orangtuanya saat usianya belum genap satu tahun karena kecelakan pesawat.

Mengingat kecelakaan pesawat tujuh belas tahun yang lalu mengingatkannya tentang dirinya yang mendapat keajaiban kala itu. Di saat kecelakaan itu merenggut ratusan orang, tak terkecuali kedua orangtuanya, dirinya sendiri selamat entah bagaimana caranya.

Sungguh. Keajaiban Tuhan memang benar-benar ada.

“Hei!” Sapanya ketika ia melihat sosok jangkung Jo Kwangmin, sepupunya yang siap menemaninya dan mencari alasan agar bisa keluar rumah, dan Kim Nara, seorang teman yang dikenalkan oleh Kwangmin dan sekarang menjadi teman terdekatnya.

Keduanya membalas sapaannya dan juga melambaikan tangan ke arahnya.


“Menikah?” Tanya Mina tak percaya sembari menatap bingung ke arah neneknya yang masih menyantap makanannya di meja makan yang panjang, namun hanya dua kursi saja yang digunakkan.

“Nenek bercanda, ya?” lanjutnya, mencoba menyakinkan dirinya jika neneknya tengah bergurau padahal dia sendiri tahu jika neneknya tidak suka bergurau.

“Apa nenek kelihatan sedang bercanda?” balik tanya sang nenek. Mengangkat kepalanya untuk menatap Mina lekat-lekat.

Mina menggelengkan kepalanya. Lalu, “Tapi, nek, tahun ini bahkan aku masih delapan belas tahun!” Protesnya.

“Resepsinya minggu depan.” Ucap sang nenek, tak memedulikan protesan Mina. Dan tentu saja membuat emosi Mina muncul ke permukaan.

“Apa nenek mau aku berhenti sekolah?” tanyanya setengah berteriak. “Demi perusahaan?”

“Menurut nenek lebih penting menjaga perusahan dibanding aku, bukan? Aku bukan boneka nenek yang akan melakukan apapun yang nenek mau!”

“Jaga ucapanmu!” balas sang nenek membentak. “Ini semua untuk masa depan—”

“Masa depanku aku yang menentukan, bukan nenek. Kenapa sih nenek selalu mengaturku dan mengatur masa depanku? Memangnya nenek pikir nenek siapa? Ayah atau ibu pasti tidak akan melakukan ini jika mereka masih hidup. Aku muak diatur oleh nenek!”

Tanpa sadar, Mina memukul meja makan lalu berdiri untuk meninggalkan meja makan, dan kembali ke kamarnya.

“Mina!”

Ia mendengar neneknya memanggil namanya, namun ia tak menghiraukannya dan meneruskan langkahnya dengan napas yang tidak beraturan akibat emosi yang melingkupi dadanya. Menurutnya neneknya keterlaluan. Menikahkannya yang baru menginjak usia delapan belas tahun? Tidak masuk akal.

“Kwon Mina—akh,” ia kembali mendengar teriakan neneknya yang diujung suaranya terdengar kesakitan, membuatnya terhenti dan langsung berlari ke ruang makan.

“Nenek!” teriaknya panik begitu mendapati neneknya sudah tidak sadarkan diri di lantai.


Kaki jenjang yang dibalut sebuah sepatu putih hak tinggi melangkah dengan anggun di sepanjang karpet merah, dan semua mata tertuju padanya. Menatap kagum akan ciptaan Tuhan yang sempurna itu mengenakan wedding dress sepanjang kakinya dan bahkan hingga menyapu lantai.

Alunan nada indah dari perpaduan kunci piano memenuhi ruangan, menambah kesan bagi pendengarnya yang kini duduk di kursi yang sudah tersedia di ruangan besar yang tertutup itu.

Gadis yang tengah menjadi pusat perhatian itu memamerkan senyum terbaiknya, menutupi rasa gugup yang menghinggapi dirinya. Ruangan besar yang sudah didekorasi sedemikian rupa indahnya itu hanya menampung sedikit orang, kurang dari setengah dari kapasitas maksimal.

Pernikahan yang berlangsung saat ini sangatlah rahasia sehingga hanya orang-orang yang bersangkutan dan dapat dipercaya untuk tidak membocorkan berita bahagia ini yang diundang.

Berita bahagia… orang-orang mungkin berpikir bahwa setiap pernikahan adalah momen bahagia, namun kali ini tidak bagi seorang Kwon Mina dan Lee Taemin yang baru menginjak usia delapan belas tahun, dan masih bersekolah di tingkat akhir.

Jika bukan karena perjodohan tak masuk akal yang akan merenggut masa remaja keduanya, mungkin pernikahan ini tidak pernah akan terjadi. Bahkan keduanya belum pernah bertemu—kecuali Taemin yang sudah melihat Mina sekali—dan sekarang mereka bersama menjadi calon suami-istri.

Sesampainya Mina di depan anak tangga, ia berhenti sejenak untuk berpikir apakah ia harus menyambut tangan Taemin atau tidak, namun sepertinya ia harus. Jadi, ia meraih tangan Taemin, menaiki anak tangga, dan berjalan di altar berkarpet putih.

Walaupun keduanya merasa canggung dengan tangan Mina yang memegang tangan Taemin dan berjalan bersama, namun keduanya tetap memasang senyum terbaik mereka dan menunjukan akting jika mereka adalah pasangan bahagia.

Jika bukan karena neneknya yang sekarang menyaksikan keduanya di atas kursi rodanya, mungkin saat sang penghulu bertanya padanya tentang kesediaanya untuk terus mencintai Taemin seumur hidup dan akan menjaga janji mereka, dia akan berteriak “Tidak” keras-keras lalu kabur dari tempat ini.

Namun, dia tidak bisa.

“Ya, saya bersedia.” Ucapnya pada akhirnya, membuat dirinya dan Taemin resmi menjadi pasangan suami istri. Rasanya ia ingin menangis.

Kemudian Taemin memakaikan cicin pada jari manisnya yang terbungkus sarung tangan putih, dan gantian dirinya yang memakaikan cicin pada jari manis Taemin yang telanjang.

Setelah itu semua orang bersorai senang dan bertepuk tangan.

Lalu, “Kau boleh mencium pasanganmu,” ujar sang penghulu dengan senyum penuh pengertian, entah pengertian dari mananya. Dan tentu saja itu membuatnya langsung menoleh ke arah penghulu dengan mata melebar.

“Cium, cium!” mendengar sorakan pada undangan membuat Mina menoleh gugup pada Taemin yang kelihatan tidak segugup dirinya. Kemudian matanya semakin melebar ketika kini tidak ada jarak antara wajahnya dan wajah Taemin.

Taemin menciumnya, meski di sudut bibirnya, dengan tangan kanannya yang memegang lengan atasnya. Tidak sampai tiga puluh detik, Taemin pun menjauhkan wajahnya dari wajah Mina.

Mina masih diam di tempatnya, tidak bisa membayangkan jika ciuman pertamanya adalah dengan orang yang baru pertama kalinya dilihat dan kini menjadi suaminya.


“Bagaimana ciuman pertamamu?” tanya Kwangmin sambil tertawa menggodanya ketika hanya ada dirinya dan sepupunya itu di ruangan gantinya.

Mina yang sudah mengganti gaun pengantinnya dengan pakaian yang lebi ‘layak’ berdiri dan menjitak kepala Kwangmin dengan kepalan tangannya. “Kau pikir lucu, huh? Kau cari mati?” katanya galak dengan mata melotot.

Bukannya merasa takut dengan kegalakan Mina, Kwangmin justru semakin menjadi. “Aku bertanya-tanya bagaimana jika suamimu itu tahu kalau kau ini galak sekali.” Godanya.

“Diam, diam, diam!” bentaknya geram sembari menatap Kwangmin tajam dan mengigit bibir bawahnya. “Aish! Rasanya aku mau gila.”

“Kau memang sudah gila.” Sahut Kwangmin dengan tawanya. Lalu, “Ayo, orang-orang sudah menunggu di depan.”

Sebelum Kwangmin beranjak, Mina menahannya dengan menarik ujung kemeja sepupunya itu. “Untuk apa mereka menungguku?” tanyanya panik dan juga takut.

Heish, tentu saja membawamu ke rumah barumu.” Jawab Kwangmin sembari merangkul Mina yang memang lebih pendek darinya dan membawanya ke depan.


Di dalam mobil suasana hening dan hanya terdengar suara mesin mobil saja. Tiga orang yang berada di dalam sama sekali tidak ada yang berbicara. Sejujurnya Mina cukup lega karena perjalan ke ‘rumah baru’nya menggunakan mobil sedan putih miliknya lengkap dengan Pak Kim yang sudah sangat mengenal dirinya. Namun yang membuatnya tidak nyaman adalah keberadaan Taemin yang duduk di sebelahnya.

“Pak Kim, tetap bersamaku, kan?” Mina membuka suara, membuat kedua laki-laki di dalam mobil tersebut menoleh.

Pak Kim dari balik kemudinya tersenyum dan mengangguk. “Iya, nona.”

Setelah itu tak ada lagi yang bersuara sampai mereka sampai di depan sebuah rumah besar yang modelnya berbanding seratus delapan puluh derajat dengan gaya rumahnya yang bergaya klasik eropa. Rumah Taemin yang berada di perumahan elit tidak berpagar bergaya modern dengan bentuk kotak dan warna putih mendominasi.

Mobil masuk ke dalam garasi yang berada di basement rumah, dan berhenti di sana.

Begitu mesin mobil dimatikan, Taemin pun keluar dari mobil lebih dulu lalu menunggu Pak Kim untuk membuka bagasi mobil dan membantu Pak Kim membawakan dua koper besar milik Mina. Di tempatnya, Mina hanya melihat Taemin dan Pak Kim masuk ke dalam rumah dengan membawa kopernya. Taemin berjalan lebih dulu untuk menunjukkan kamarnya.

“Pak Kim,” tahan Mina. Begitu Pak Kim menoleh, barulah ia melanjutkan dengan suara pelan nyaris berbisik. “Rambut palsuku… sudah dimasukan?” tanyanya.

Pak Kim mengangkat bahunya tanda dia tidak tahu. “Minryeong yang mengepak semuanya. Saya tidak tahu menahu.”

Mina mendesah. Jika memang Minryeong tidak membawakan kedua rambut palsu lainnya, tidak mungkin jika ia terus menerus mengenakan satu rambut palsu ini, bukan? Bagaimana jika kotor?

Lalu ia mengambil ponsel dari saku coatnya untuk menelepon Minryeong, menanyakan jika dia sudah mengepak rambut palsunya atau belum.

Yeoboseyeo?—Minryeong eonni… rambut palsuku?” ia mengecilkan suaranya begitu menyebutkan rambut palsu dan menoleh ke kanan dan kiri. “Ya? Bagaimana bisa kau lupa? Kalau begitu tolong antarkan kemari, ya? Kuberi alamatnya lewat pesan.”

Lalu ia menutup teleponnya ketika dua mobil datang, mobil neneknya dan mobil kedua orangtua Taemin.


Taemin tidak tahu apa yang harus dia lakukan malam ini. Jelas dia bingung dengan statusnya sekarang yang bukan lagi ‘single‘ di usia delapan belas tahun. Dia bertanya-tanya bagaimana jika teman-temannya tahu? Pasalnya tak ada satupun temannya yang ia beritahu, tak terkecuali Jongin dan Soojung yang telah menjadi temannya sejak lima tahun yang lalu.

Mungkin jika sudah waktunya, ia akan memberitahu kedua temannya itu.

Saat ia tengah berkonsentrasi pada buku di depannya, suara dering bel pun terdengar. Karena malam ini hanya ada dirinya dan Mina di rumah, ayah dan ibunya baru saja pergi ke Busan untuk urusan bisnis, jadilah ia bangkit untuk melihat siapa yang datang.

Sesampainya ia di depan dan membuka pintu, ia mendapati seorang gadis yang perkiraannya berusia dua puluh tahunan berdiri di depan pintu rumahnya dengan tas kardus di tangannya.

“Mencari siapa?” tanya Taemin sesopan mungkin.

“Kwon—”

“Minryeong eonni!” sebelum gadis itu menjawab pertanyaannya, Mina lebih dulu berlari dan membuatnya mundur satu langkah untuk menyilakan jalan untuknya. Lalu, “Dia mencariku. Kau bisa kembali ke kamar.” Lanjutnya setengah memerintah.

Taemin mengerutkan kening heran bercampur curiga dengan sikap Mina yang terlihat panik. Jelas gadis itu menyembunyikan sesuatu darinya. Tetapi siapa peduli? Ia tidak ingin ikut campur. Jadi ia kembali lagi ke kamarnya.


“Ini kamarmu?” tanya Minryeong seperkian detik setelah Mina menutup pintu kamarnya, sembari menjelajahkan matanya ke seluruh sudut kamar yang didominasi dengan warna putih. Jauh sekali dengan kamar Mina yang feminim.


“Setidaknya lebih baik dibanding dengan kamar lamaku.” Sahut Mina sembari menempatkan dirinya di atas kursi berwarna hitam yang menghadap ke arah tempat tidurnya, sembari melepas rambut palsunya yang terlalu panjang.

Mendengarnya, Minryeong hanya terkekeh.

Kemudian terdengar ketukan pintu yang berasal dari depan kamarnya, otomatis mata Mina langsung melebar panik dan mencoba memakai rambut palsunya kembali namun tak kunjung terpasang dengan benar. Jadi Minryeong mendorong Mina agar bersembunyi di dalam kamar mandi.

“Iya?” alih-alih sang pemilik kamar yang menyahut dan membukakan pintu, Minryeong lah yang melakukan itu sedangkan Mina mencoba memasang kembali rambut palsunya.

Ternyata Taemin. ‘Suami’ Mina.

“Kau ingin minum sesuatu?” Taemin menawarkan dengan sopan dan menunjukkan senyum ramahnya.

Minryeong balas tersenyum sembari menggelengkan kepalanya. “Tidak perlu. Sebentar lagi aku akan pulang.” Tolaknya halus.

Lalu dilihatnya Taemin yang melirik ke dalam kamar dengan bola mata yang bergerak ke sana kemari, mencari Mina tentu saja.

“Mina sedang di kamar mandi.” Katanya begitu tahu apa yang dicarinya.

“Ah, begitu.” Ucapan Taemin membuat Minryeong mengulum senyum. Lalu Taemin pamit pergi dan Minryeong pun menutup pintu kembali.

Ia berpikir jika kehidupan Mina akan menarik dan tidak membosankan lagi. Persis seperti yang gadis itu inginkan sejak lama.


Senyum bahagia tidak bisa Mina sembunyikan sejak ia berangkat sekolah dengan seragam barunya hingga ia turun dari mobil di depan gerbang sekolah yang tentu saja baru juga. Keuntungan kedua selain ia bebas dari neneknya adalah ia pindah ke sekolah di mana Taemin berada. Itu tandanya, sepanjang koridor matanya tidak hanya akan melihat siswi saja, tetapi juga siswa yang mengenakan seragam rapi dengan dasi merah bergaris-garis, seperti mengenakan tuxedo versi warna biru gelap.

Inilah yang ia inginkan. Ini yang telah ia impikan sejak dulu. Selama sebelas tahun ia bersekolah di sekolah khusus putri. Akhirnya… ia pindah dan merasakan bersekolah di sekolah normal untuk selama satu tahun ke depan, selama masa seniornya di tahun ketiga. Terima kasih untuk pernikahan palsunya itu.

“Kau pasti Kwon Mina.” ia mendengar suara berat dari seseorang yang kini sudah berada di hadapannya, menjulang tinggi di depannya sehingga ia harus mendongak. Laki-laki tinggi dengan senyum paling mengagumkan yang pernah dilihatnya seumur hidup.

“Y-ya, aku Kwon Mina.” Sejenak, suara Mina bergetar karena gugup, namun secepat mungkin ia mencoba bersikap senormal mungkin. Untung saja lelaki di depannya itu tidak menyadari kegugupannya.

Kemudian lelaki itu mengulurkan tangannya dengan jari-jari panjang dan kurus itu pada Mina, membuat mata Mina turun ke arah uluran tangan tersebut. Dan begitu menyadari apa maksud dari lelaki itu, barulah Mina menyambut uluran tangan tersebut dan menjabatnya. Ia merasa jika tangannya begitu kecil di dalam jabatan tangan itu.

“Park Chanyeol,” katanya memperkenalkan diri. “Class president dari kelas 3-1.”

Kelas 3-1? Oh, itu kelasnya! Dan jika dia tidak belajar bagaimana caranya bersikap normal dan tenang, mungkin dia akan berteriak kegirangan saat ini. Jadi, dia hanya meresponnya dengan, “Oh, hai.” Ucapnya dengan memamerkan senyuman yang biasanya membuat orang-orang tidak bisa berpaling dari itu.

Tetapi nyatanya, si Park Chanyeol ini justru melepas jabatan tangannya. Dan bukannya tersinggung atau merasa yang lainnya, Mina justru merasa tertarik pada Chanyeol.

“Ayo kuantar ke ruang kesiswaan untuk menemui guru Jung, dan ke kelas.” Tawar Chanyeol dengan senyuman yang membuatnya terlihat orang yang selalu tersenyum, seakan ia bisa tersenyum selama puluhan tahun tanpa henti.

“Kau baik sekali.” Ucap Mina seraya membalas senyum Chanyeol ketika lelaki itu memberinya jalan untuk dirinya.

Dan tepat pada saat ini, rasanya Mina mulai mengerti mengapa orang-orang yang jatuh cinta itu senang sekali tersenyum sendiri seperti orang gila. Rasanya ia sudah jatuh cinta pada Park Chanyeol, jatuh cinta pada kebaikannya dan juga jatuh cinta pada suaranya yang berbanding terbalik dengan wajahnya yang terbilang imut.

Ah… andai saja ia bersekolah di sekolah ini sebelum ia menikah…

Setelah menyerahkan beberapa berkas-berkas dari sekolah lamanya, akhirnya Mina bisa pergi ke kelasnya dengan Chanyeol yang setia menemaninya.

Reaksi para teman barunya? Seperti yang sudah diduganya. Begitu masuk ke dalam kelas, hampir semua orang menatapnya dengan pandangan kagum dan ingin tahu. Dan begitu tahu Mina adalah cucu dari pemilik Cinnabae grup (tentang itu, Mina heran mengapa begitu menyebutkan namanya saja mereka langsung tahu tentang dirinya). Namun yang membuatnya cukup terkejut, ternyata dirinya satu kelas dengan Lee Taemin.

Yah… ia hanya berharap jika mulut Taemin tidak seperti ember bocor dan tidak memedulikan siapa yang sedang dekat dengannya. Pasalnya, ia rasa dirinya memang benar-benar jatuh cinta pada Chanyeol.


Beberapa menit yang lalu Mina mengitari gedung sekolah bersama Nara yang menunjukkan tempat-tempat tertentu termasuk ruang klub, tetapi kini dirinya sudah sendirian menunggu Pak Kim menjemput karena Nara harus pergi ke tempat kerja paruh waktunya, sedangkan Kwangmin… entahlah. Anak itu tidak terlihat setelah jam makan.

Kemudian sebuah mobil berwarna putih berhenti tepat di depannya, membuatnya sedikit merundukkan kepala untuk melihat ke dalam mobil ketika kaca bagian penumpang terbuka.

“Pak Kim belum menjemputmu?” lelaki yang bertanya dari dalam mobil tak lain adalah Lee Taemin. Untuk yang kesekian kalinya, lelaki itu mengajaknya berbicara dan mencoba akrab dengannya.

Namun sayangnya, Mina tidak ingin orang-orang tahu tentang hubungannya dengan Taemin sehingga ia hanya menjawab seperlunya saja. Dan untuk kali ini, ia hanya menggelengkan kepalanya menjawab pertanyaan Taemin.

“Kalau begitu ayo naik.” Taemin menawarkan seraya membuka kunci pada mobil, tetapi Mina cepat-cepat menghentikannya sebelum Taemin membuka pintu mobil.

“Tidak perlu. Kau duluan saja.” Tolak Mina seraya memperlihatkan senyum simpulnya.

Mendengar tolakan Mina, Taemin pun hanya menatap Mina bingung tetapi tetap tidak memaksa Mina untuk masuk ke dalam mobil. “Baiklah,” ucapnya lalu menyuruh sang supir kembali menjalankan mobil.

Sepergian Taemin, Mina pun mengumpat tak jelas. Batinnya bertanya-tanya apakah Taemin tidak mengerti bahwa dirinya tidak ingin terlihat dekat dengan dia atau Taemin pura-pura tidak mengerti? Tapi untuk apa Taemin berpura-pura tidak mengerti? Toh, dia pintar, bukan?

“Kwon Mina,” kemudian suara berat yang beberapa jam belakangan membuat jantungnya berdegup terdengar, dan sosok jangkung Park Chanyeol muncul di hadapan Mina dengan sepedanya.

“Hai,” sapa balik Mina seraya memamerkan senyum terbaiknya dan berusaha tidak segugup pagi tadi.

“Yang tadi itu Taemin, bukan?” tanya Chanyeol seraya menoleh ke arah mobil putih Taemin yang belum menghilang dari pandangan.

“Oh? Ya… bukan…,”

Mendengar jawaban plin plan Mina, Chanyeol langsung menoleh dan terkekeh melihat wajah Mina yang kebingungan.

Sadar dirinya ditertawakan, Mina pun langsung menggelengkan kepalanya, kembali ke kewarasan akalnya. Lalu, “Maksudku, ya, itu Taemin.” Aish, kenapa kau jadi bodoh begini, sih? Ia membatin.

Lalu, “Mau kuantar pulang?” tawaran Chanyeol sangat amat menggoda Mina, namun ia berpikir kemana Chanyeol akan mengantarkannya pulang? Ke rumah Taemin? Tidak. Tentu saja itu bahaya. Bagaimana jika Chanyeol tahu rumah Taemin dan bertanya ini dan itu? Dia bisa menjawab apa?

Kemudian ponselnya bergetar sejenak tanda adanya pesan masuk. “Sebentar,” ucapnya pada Chanyeol untuk melihat pesan yang baru saja masuk, yang ternyata dari Pak Kim.

[Nyonya Yang tidak sedang di rumah sore ini]

Membaca pesan tersebut, tentu saja senyum Mina mengembang lebar sekali seraya matanya mencari-cari mobil miliknya yang dikemudikan oleh Pak Kim. Dan di sanalah dia, sebuah mobil terparkir dengan kacanya yang terbuka. Seseorang yang berada di dalam mobil pun melempar senyum tuanya pada Mina yang tengah berseri-seri.

Pak Kim memang juaranya. Selalu tahu apa yang Mina inginkan meskipun Mina tidak mengatakannya.

Kemudian pandangan Mina kembali ke arah Chanyeol yang menunggu di atas sepedanya, dan mengangguk dengan senyuman yang tidak bisa ditahan oleh bibirnya. “Rumahku sedikit jauh, tidak apa-apa?” ia mencoba bertanya.

Chanyeol membalas dengan senyuman kesukaan Mina sejak pertama kali melihatnya. “Harusnya aku yang bertanya, naik sepeda tidak apa-apa?” tanyanya balik.

Mina menganggukkan kepalanya cepat. “Tentu saja. Aku suka naik sepeda.” Katanya beralasan, lalu mengambil tempat di belakang Chanyeol ketika lelaki itu mengisyaratkan agar dirinya duduk di kursi di belakang punggungnya.

Tidak tahu harus berpegangan pada apa, Mina pun pada akhirnya berpegangan pada blazer Chanyeol di sisi pinggangnya. Dan kenyataan bahwa Chanyeol tidak protes pun membuat senyum Mina semakin mengembang disusul degup jantung yang mulai berpacu.

Let’s go!” seru Chanyeol seraya mulai mengayuh pedal sepedanya. Dan tanpa sengaja, Mina menguatkan pegangan tangannya sehingga kini ia memeluk pinggang Chanyeol dari belakang.

Sama seperti sebelumnya, Chanyeol tidak memprotes maupun berkomentar.

Untuk hari ini, tidak bisa dihitung berapa kali Mina tersenyum, bukan tipe senyum seperti sebelumnya yang selalu ia perlihatkan karena keterpaksaan melainkan tipe senyum tulus dan polos yang datangnya dari hati.


Sama seperti hari-hari biasanya, setelah tutornya pulang, Taemin kembali melanjutkan belajar di ruangannya dengan buku tebal tentang bisnis. Di usianya yang baru menginjak delapan belas tahun, sebenarnya tidak seharusnya Taemin belajar tentang bisnis, namun karena ayahnya, ia menjadi tertarik dengan dunia bisnis seperti yang diselami oleh kedua orangtuanya.

Toh, cepat atau lambat dirinya akan terjun juga ke dunia bisnis sama seperti kedua orangtuanya, mewarisi perusahaan keluarga yang sudah berdiri sejak lama. Bahkan umurnya dikali dua masih lebih muda dari umur perusahaan yang dibangun kakek dari ayahnya.

Ketika terdengar suara khas pintu terbuka, ia segera menoleh dan mendapati Mina berdiri di ambang pintu kamar Taemin yang berada di seberang kamarnya. Tanpa mengetuknya terlebih dahulu, Mina langsung membuka dan masuk dengan seenaknya.

“Aku punya peraturan.” Kata Mina tiba-tiba sembari mengibaskan sebuah kertas dengan tulisan yang dicetak dengan tulisan komputer. Lalu ia menyerahkannya pada Taemin yang masih terheran-heran di kursinya.

“Pertama, berpura-pura jika kita tidak saling mengenal, kecuali dihadapan orang tuamu dan nenekku.” Tuturnya.

Kening Taemin berkerut bingung

Lalu Mina melanjutkan. “Kedua, jangan masuk ke dalam kamar yang bukan kamar miliknya—kecuali saat ini.” Ia segera memotong protesan Taemin mengenai dirinya saat ini yang tengah berada di kamar Taemin.

“Dan yang ketiga, jangan pernah menyentuhku. Dari hal-hal kecil seperti memegang tanganku atau apapun itu.” Tegasnya. Lalu, “Aku tahu jika kita sudah resmi sebagai pasangan ‘suami-istri’, tapi jangan pernah menyentuhku.”

“Maksudmu, kita punya perjanjian?” tanya Taemin dengan sebelah alis terangkat, menatap kertas yang baru diberikan oleh Mina dan Mina bergantian.

“Mm,” sahut Mina tegas dan penuh percaya diri. “Aku tidak ingin kejadian seperti sore tadi terulang.” Ujarnya.

Sekali lagi Taemin melirik ke arah kertas yang dipegangnya, lalu terkekeh kecil, membuat alis Mina bertautan.

“Kwon Mina, dewasalah sedikit.” Ujar Taemin mengejek sikap kekanakan Mina. “Jika kau memang tidak ingin aku menyapamu di sekolah, kau tinggal bilang saja. Tidak perlu membuat perjanjian seperti ini.”

Mendengarnya, Mina menggigit bibir bawahnya geram. Lalu, “Aku tidak butuh persetujuanmu. Intinya, sekarang kita punya perjanjian!” tegasnya dengan sedikit berteriak di akhir kalimat, kemudian keluar dari kamar Taemin dengan membanting pintu kamar tersebut ketika menutupnya.

Taemin yang masih belum mengerti situasi saat ini hanya menatap pintu kamarnya yang sudah tertutup, membiarkan kertas penjanjian buatan Mina tergeletak begitu saja di atas meja. Kemudian ia menggelengkan kepalanya dan kembali melanjutkan belajarnya.

~∞ To be continue ∞~

2 thoughts on “Grow Up – Chapter 1

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s