Death Game – Chapter 1



DEATH GAME

EnnyHtm’s Fanfiction

| Genre : Fantasy | Rating : PG-13 | Lenght : Series |

| Cast : Suzy, Sehun, Krystal, L |

Perkembangan jaman pada tahun 2028 sudah berkembang sangat pesat. Seorang genius muda yang berusia awal tiga puluh tahunan membuat suatu permainan yang tidak hanya dimainkan dengan cara 2D atau 3D melainkan permainan langsung—di mana para pemain bisa terjun langsung ke dalam game menggunakan sinyal dari alat bernama NerveGear yang memiliki bentuk seperti helm dan bukan hanya melihat game tersebut dari layar datar monitor. Namun saat game yang berisikan tentang permainan pedang tanpa sihir itu menjebak seluruh pemain di dalam dunia virtual tersebut. Game tersebut juga menjadi permainan kematian yang jika kita mati di dunia virtual tersebut, itu berarti kita mati di dunia nyata.

~œœœ~


Sepasang kaki itu berjalan dengan langkah pelan dan berirama. Wajah dari sang pemilik sepasang kaki itu tersenyum lebar sepanjang langkahnya sembari sesekali melirik ke arah tangannya yang menenteng tas belanja.

Sesampainya di depan sebuah rumah besar yang terlihat modern, ia segera menekan bel pada interkom yang berada di tembok di dekat pagar tinggi yang terbuat dari besi.

Tak lama, pagar tinggi tersebut terbuka dan ia pun masuk ke dalam rumah tersebut setelah melewati halaman persegi yang cukup luas.

“Kau datang!” seru seorang gadis kecil yang umurnya berkisar delapan tahun dan memiliki rambut hitam gelap pendek sebahu. “Aku dan ibu sudah menunggumu sejak tadi.” Tutur si gadis itu lagi sambil mencoba menarik tangan seseorang yang baru saja datang tersebut.

“Dia di rumah, bukan?” tanya orang tersebut sambil menahan gadis kecil yang tengah ingin menarik tangannya itu. “Kakakmu di rumah?” ulangnya untuk memperjelas.

Kemudian seorang wanita yang umurnya sekitar berusia empat puluh tahunan muncul dari balik tembok yang membatasi ruang tamu dengan dapur. “Seperti biasa, dia di kamarnya. Coba saja bangunkan dia.” Kata wanita itu dengan suara yang ramah dan merdu.

Orang tersebut, seorang gadis dengan paras cantik khas remaja belasan tahun dengan rambut hitam panjang sampai ke pinggang yang bagian bawahnya sedikit bergelombang, yang memiliki nama Bae Sooji, memamerkan senyum lebarnya lagi kemudian menyerahkan tas belanja yang tadi digenggamnya pada gadis kecil di hadapannya tersebut.

“Aku membeli beberapa biskuit kesukaan ahjumma, dan beberapa makanan ringan untuk Seyeon.” Tutur Sooji sembari mengelus lembut puncak kepala gadis kecil bernama Seyeon tersebut. “Aku akan ke atas untuk memanggilnya. Kau dan ahjumma duluan saja, ya.” Lanjutnya berbicara pada Seyeon.

“Seperti biasa, dia sedang bermain dan tak akan bisa diganggu.” Sunggut Seyeon dengan bibir manyunnya yang lucu, membuat Sooji langsung mencubit pipi tembam Seyeon gemas.

“Kalau begitu aku hanya ingin menengoknya.” Balas Sooji sembari mulai melangkahkan kakinya menuju tangga kayu yang berada di sebelah kiri perbatasan ruang tamu dengan ruang keluarga yang berada di hadapan dapur.

Tanpa menunggu lagi, Sooji pun menaiki anak tangga satu persatu dengan perlahan. Begitu sampai di depan pintu yang berada di ujung lantai dua, ia mengetuk dua kali dengan tangannya yang dikepal lemah.

Karena tak kunjung ada jawaban, tangan kanannya mulai turun pada kenop pintu dan memutarnya agar pintu di hadapannya itu terbuka.

Sesuai dengan dugaannya ketika Seyeon memberitahunya bahwa si pemilik kamar ini tengah bermain. Keadaan kamar itu sepi dengan seseorang laki-laki yang sangat familiar di matanya tengah berbaring di ranjangnya dengan sebuah NerveGear yang berbentuk seperti helm terpasang di kepala seseorang yang tengah berbaring tersebut.

Sooji mendecak kecil melihat keadaan laki-laki tersebut. “Dasar gamer,” gerutunya sembari memperhatikan meja belajar yang di atasnya dipenuhi dengan beberapa kotak permainan, bukan buku pelajaran.

Matanya pun kemudian teralih pada beberapa bingkai foto yang terpajang di meja tersebut. Ada satu foto yang memuat dirinya. Memang foto tersebut tidak hanya ada dirinya sendiri, namun itu cukup membuat senyumannya terukir karena di dalam foto tersebut, si pemilik kamar ini tengah memegang puncak kepala dirinya sembari tersenyum.

“Aku penasaran apa yang kau lakukan di sana.” Gumamnya lagi sembari duduk di tepi ranjang itu sembari memperhatikan lampu yang berkedip di NerveGear tersebut.

“Sooji eonni!” ketika suara Seyeon terdengar menyerukan namanya dari lantai bawah, ia segera berdiri dan keluar dari kamar tersebut. “Ajarkan aku bermain piano!”

Ne!” balas Sooji sembari berlari menuruni tangga kayu tersebut sembari tersenyum pada Seyeon yang menunggunya di bawah.

~œœœ~

“Sehun-ah!” seru seorang gadis yang tengah berlari dengan rambut hitam panjangnya berkibar karena gerakan tubuhnya.

Laki-laki berbadan tinggi tegap yang memiliki rambut hitam kecokelatan yang melangkah pelan jauh di depan gadis itu menghentikan langkahnya dan berbalik ketika mendengar namanya dipanggil. Begitu melihat gadis yang tengah berlari menghampirinya, laki-laki bernama Sehun itu diam sembari menatap heran gadis tersebut.

“Antarkan aku ke toko buku sebentar.” Pinta gadis itu setelah ia sudah berdiri di hadapan Sehun yang menatapnya bingung.

“Baiklah,” jawab Sehun singkat dengan wajah tanpa ekpresinya itu sebelum ia kembali berbalik dan melanjutkan jalannya menuju parkiran sekolah untuk mengambil sepeda motornya.

Gadis itu yang tidak lain adalah gadis yang berkunjung ke rumah Sehun kemarin, Bae Sooji, menunggu Sehun yang sedang mengambil motornya di gerbang depan sekolah. Hal ini sudah biasa mereka lakukan sehingga banyak murid yang iri dengan Sooji karena bisa sedekat itu dengan Sehun yang cukup populer di sekolahnya walaupun laki-laki itu jarang sekali bergaul ataupun bicara.

Ia tersenyum mengingat beberapa temannya berterus terang di depannya tentang kecemburuannya padanya yang bisa dekat dengan Sehun. Mungkin jika bukan karena ibunya yang menjadi sahabat dekat ibu Sehun, dirinya tak mungkin bisa sedekat ini dengan laki-laki itu.

Tak perlu menunggu bermenit-menit lagi, motor besar Sehun yang berwarna hitam berhenti tepat di hadapannya. Dan tanpa menunggu si pengendara motor itu menaikkan kaca helmnya untuk menyuruhnya naik di jok belakang, ia sudah lebih dulu menaiki motor besar tersebut lalu Sehun yang mengendarai memberikannya helm untuknya sebelum melajukan motor.

Membelah jalanan kota Seoul dengan motornya yang melaju dengan kecepatan tinggi, Sooji hanya menutup matanya sembari memegangi seragam Sehun dengan erat sangking takutnya.

Dan tidak lama setelah itu, mereka sudah sampai di sebuah toko buku yang memiliki tiga lantai.

“Perlu kutunggu atau tidak?” tanya Sehun yang sudah mematikan mesin motor dan membuka helmnya saat Sooji sudah turun dari motor dan tengah mencoba melepas helmnya.

Helm tersebut sudah terlepas dari kepala Sooji, dan gadis itu langsung menyerahkan pada sang pemilik sembari menggeleng dan tersenyum kecil menanggapi pertanyaan Sehun. “Tidak perlu. Aku tahu kau ingin cepat-cepat bermain game, bukan?” sahutnya pengertian.

“Baiklah, aku pergi dulu.” Ucap Sehun sembari kembali memakai helmnya.

Sooji mundur satu langkah untuk memberi jarak pada motor Sehun yang akan kembali melaju. Sebelum Sehun benar-benar melajukan motornya, ia melambaikan tangan kanannya pada Sehun dan tersenyum manis. Ketika motor yang Sehun kendarai sudah tak terlihat lagi karena tertutup mobil, Sooji pun masuk ke dalam toko buku tersebut.

Membuka pintu kaca yang menjadi pintu utama toko buku tersebut, Sooji melihat NerveGear yang sama dengan milik Sehun yang kemarin dilihatnya. Dengan ragu-ragu, ia menghampiri NerveGear yang dipajang tersebut dan menyentuhnya dengan telunjuk kanannya.

“Sudah mencoba Monster Sword?” tanya seorang pegawai wanita yang berpakaian rapih yang berada di balik konter dengan ramahnya, membuat Sooji langsung menarik tangannya karena terkejut. “Dengan ini”—orang yang berada di balik konter itu menyentuh salah satu NerveGear dengan seluruh jarinya—”agasshi dapat memainkan permainannya langsung dengan tubuh sendiri.” Jelasnya.

Sooji berpikir. Ia ingin sekali melihat apa yang selalu dilakukan Sehun di dalam permainan tersebut. Tapi, ia tidak begitu mengerti dengan cara bermainnya.

Seperti bisa membaca pikiran Sooji, pegawai tersebut melanjutkan. “Permainan yang memakai NerveGear hanya ada satu, yaitu Monster Sword. Jika agasshi belum mengerti cara permainannya, bisa dilihat di buku panduan.”

Sekali lagi, Sooji memutar otaknya untuk berpikir. Apakah ia harus membelinya atau tidak? Apa yang akan ia lakukan di dalam game itu nanti? Pertanyaan-pertanyaan itu melayang-layang di benaknya, membuatnya menggigit bibirnya karena ragu.

“Baiklah,” katanya akhirnya, menyerah pada perdebatan kecil yang dilakukannya. “Berapa harganya?”

~œœœ~

Tangannya sibuk memegang buku panduan, dan matanya bergerak-gerak membaca dengan teliti buku panduan yang tebalnya seperti buku-buku novel remaja. Banyak sekali alfabet dan kata asing di dalamnya, membuatnya harus memutar otaknya dua kali agar ia mengerti apa yang seharusnya dilakukan.

Merasa cukup mengerti, kemudian ia memakai NerveGear yang baru dibelinya pada kepalanya seperti sedang memakai helm dan berbaring pada ranjangnya yang empuk.

Game start!” kata itulah yang ia serukan sebelum ia memejamkan matanya dan masuk ke dalam ruang serba putih yang terasa aneh.

Di hadapannya kini sudah terlihat berbagai macam data yang harus ia isi. Termasuk username yang diharuskan menggunakan alfabet. Karena tidak mengerti, ia hanya menuliskan nama ‘Suji’ pada kotak tersebut dan mulai memilih avatar yang akan dipakainya.

Setelah memilih berbagai macam wajah, rambut dan lainnya, tubuh Sooji terasa seperti tersedot dan tiba-tiba saja ia sudah berada di tengah-tengah sebuah tempat yang dikelilingi pilar-pilar yang berjajar melingkar dengan rapi.

Seorang gadis dengan rambut berwarna blonde sepunggung yang dikepang di bagian atas keningnya, hidung yang tidak terlalu mancung, bibir tipis, dan mata berwarna cokelat yang sangat terang, yang mengenakan pakaian aneh berwarna kuning dengan jubah berwarna putih berdiri dengan linglung di tengah lingkaran besar tersebut.

Kedua tangannya terangkat sampai ke depan dadanya, kemudian memegang rambutnya yang berwarna blonde tersebut. “Ini… nyata?” bisiknya pada diri sendiri. Merasa takjub ketika matanya mengedar ke sekelilingnya.

Kemudian kakinya mulai terangkat untuk melangkah keluar dari ruangan besar yang bagian atapnya menyatu dengan langit-langit.

Keadaan di luar lebih menakjubkan lagi. Seperti sebuah kota di Eropa yang tersusun rapi dengan beberapa toko. Ia pun mendecak kagum dan menyadari mengapa Sehun senang sekali pergi ke dunia Virtual ini.

Matanya lagi-lagi mengedar, mencoba mencari Sehun di tempat seluas ini.

Langkah kakinya perlahan semakin ke luar dari kota dan menginjak padang rumput yang sangat luas. Matanya membelalak terkejut bercampur senang karena ia belum pernah menemukan padang rumput seluas ini di dunia nyata.

Ketika ia mulai berlari menuju tengah padang, kakinya berhenti seketika begitu melihat sebuah hewan aneh mirip babi hutan yang memiliki tubuh besar berwarna biru. Saat hewan mirip babi itu membalikkan badannya dan menoleh pada Sooji, mata hewan itu bersinar merah dan mengendus seperti banteng.

“KYA‼!” teriaknya dan berbalik untuk berlari secepat yang kaki virtualnya bisa.

Sembari berlari, ia melihat seorang laki-laki berambut cepak tanpa poni yang menghiasi keningnya tengah mengayunkan pedang cekungnya dan berlari ke arahnya karena hewan aneh itu mengejarnya.

“Hewan aneh itu mengejarku!” adunya setelah ia bersembunyi di belakang tubuh laki-laki tersebut.

Laki-laki itu hanya mendengus sembari tertawa melihat tingkah Sooji. Kemudian maju selangkah dan mengangkat pedangnya hingga seatas bahu kemudian berlari menghampiri hewan aneh tersebut dengan cahaya biru tua yang menyinari pedannya.

Melihat itu, Sooji menegakkan bahunya dan menatap kejadian di depannya dengan pandangan terkejut. Kemudian, tepat di atas hewan tersebut ada garis panjang yang warna di dalamnya berubah dari hijau ke merah dan menjadi kosong. Lalu, seperti pecahan kaca, hewan itu terpecah menjadi kepingan-kepingan berwarna biru muda yang melayang di udara dengan efek suara yang sama seperti kaca yang pecah.

“Apa itu?” tanya Sooji akhirnya setelah ia pulih dari keterkejutannya.

Player baru?” laki-laki itu justru balik bertanya. Setelah Sooji menganggukkan kepalanya, laki-laki itu menyarungkan pedang cekungnya pada tempat berwarna putih yang terpasang di punggungnya. “Boleh lihat items dan skill-mu?” tanyanya lagi dengan sopan.

Sooji diam beberapa detik sebelum ia mengangguk dengan ragu. “Bagaimana… caranya?” tanya Sooji malu-malu karena sama sekali tidak mengerti dengan permainan ini.

Laki-laki itu hanya tersenyum simpul kemudian mengangkat tangan kirinya di udara dan menariknya dengan gerakan vertikal ke bawah. Dan sebuah menu window terlihat seperti melayang.

Sooji penasaran lalu mengikuti gerakan tersebut. Ia takjub bukan main saat sebuah jendela berapa kotak terisi dengan kata items, skill, pengaturan. “Lalu?” tanya Sooji.

“Tekan pengaturan dan cari kata ‘terlihat’,” jelas laki-laki itu dengan sabar.

Ketika Sooji menuruti anjuran laki-laki itu, tiba-tiba saja sebuah HP bar yang seluruhnya berwarna hijau penuh terlihat tepat di atas kepala laki-laki itu—di atas HP bar terdapat kursor berwarna hijau, yang sebenarnya terlihat oleh mata virtual Sooji sedari tadi. Dan di pojok kiri kursor tersebut, ada tulisan alfabet yang bertuliskan huruf L.

“Namamu… L?” tanya Sooji hati-hati pada laki-laki di hadapannya.

Laki-laki yang tengah sibuk dengan window di depan dadanya itu kemudian mengangkat pandangannya dari window pada Sooji. “Dan kau Sooji? Baru kali ini aku menemukan player yang menggunakan nama aslinya.” Tutur laki-laki bernama L tersebut.

Agak aneh menurut Sooji. Kenapa laki-laki itu memilih username yang hanya menggunakan satu huruf alfabetik tersebut? Dia kekurangan nama atau apa?

“Eh? Memangnya tidak boleh, ya?” tanya Sooji lagi dengan polosnya.

“Tidak juga.” Balas L sembari menutup windownya. “Nah, coba kau ambil pedang yang kau punya di items list.” Lanjutnya untuk mengajari Sooji yang terlihat masih sangat baru.

Sooji mengikuti tuntunan L dan seperkian detik kemudian, sebuah cahaya berwarna kuning gelap menyelimuti pergelangan tangannya dan sebuah pedang terlihat berada di genggaman Sooji setelah cahaya kuning gelap itu pudar dan hilang.

“Wow,” gumam Sooji takjub karena ini adalah kali pertamanya memegang pedang yang berat dan terlihat sangat tajam.

Seekor hewan yang sama persis dengan hewan berbentuk babi hutan itu muncul kembali dalam jarak delapan meter di depan Sooji, membuat kaki gadis itu bergetar karena takut.

“Angkat pedangmu di depan dada,” ujar L masih dengan tenang di tempatnya, seperti hewan aneh ini bukanlah sesuatu yang mengerikan. “Dan sistemnya akan membuatmu bergerak untuk menyerang.”

Sooji mengikuti ucapan L, dan benar saja! Begitu ia mengangkat pedangnya dengan tangan kanan hingga membentuk garis horizontal di depan dadanya, tubuhnya seakan bergerak sendiri dan pedang tersebut dikelilingi oleh cahaya berwarna kuning gelap yang mengangumkan.

HP bar pada hewan aneh itu berkurang banyak hingga habis, kemudian efek bunyi pecahan kaca terdengar bersamaan dengan hewan itu yang melebur dalam kepingan seperti kaca berwarna biru tanpa meninggalkan jejak.

“Hebat, bukan?” tanya L dengan nada bangga yang terdengar dari suaranya. “Banyak skill yang harus kau pelajari. Kudengar angka skill tak ada batasnya.”

“Mm,” sahut Sooji dengan senang. “Oh ya… L, apa kau bisa mencari orang di sini?” tanya Sooji lagi dengan ragu. Ia juga merasa aneh jika harus memanggil laki-laki ini dengan satu huruf saja.

Inginnya ia ingin memanggil nama asli laki-laki ini, tapi seperti peraturan yang sudah ia baca tadi, para player tidak diperbolehkan untuk menanyakan tentang kehidupan di dunia nyata player lainnya demi kenyamanan.

L terlihat berpikir sebentar. “Kurasa tidak,” jawabnya, membuat Sooji menghela nafas kecewa. “Avatar di dalam game bukanlah wujud asli kita di dunia nyata.”

“Oh,” gumam Sooji mengerti. Wujudnya sekarang juga bukan dirinya di dunia nyata. Hanya sebuah avatar untuk permainan. “Kalau begitu… bisakah kau ajarkan—tidak. Mungkin lebih tepatnya memberitahuku tentang permainan ini?”

~œœœ~

Sekitar tiga sampai empat jam terlewat untuk Sooji yang belajar untuk mengendalikan beberapa skill yang ia punya. L sudah memberitahu semuanya tentang permaian ini dan bagaimana permainan ini berlangsung.

Jadi, tempat ini dinamakan aircastil. Sebuah kastil besar yang melayang di udara dengan seratus lantai di mana tiap lantainya berisikan bos dari para monster agar pintu yang menyembunyikan tangga ke lantai berikutnya terbuka. Dan hewan aneh berbentuk babi hutan itu adalah monster. Monster yang paling mudah dikalahkan.

“Aku dengar hari ini ada acara pembukaan,” ujar L saat ia tengah merebahkan dirinya di atas rumput hijau. “Tepat jam tujuh malam di kastil utama.”

Sooji yang baru saja menghancurkan monster yang entah sudah keberapa kalinya menoleh. “Acara pembukaan?” tanyanya bingung.

“Ya, acara di mana para player dikumpulkan menjadi satu di kota awal di lantai satu.” Jawab L sembari mengubah posisinya yang tadi tiduran hingga duduk bersila. “Kau ingin datang?”

“Err, entahlah. Banyak tugas sekolah yang harus kukerjakan.” Jawab Sooji ragu. Sepertinya ia mulai tertarik dengan permainan virtual ini.

“Oh, kau masih sekolah?” tanya L cuek.

Sooji terdiam, tidak mencoba untuk menjawab pertanyaan itu karena merasa aneh. Kalau laki-laki bernama L ini memang tidak bersekolah atau mungkin sudah lulus, berarti perkiraannya tentang para pecandu games kebanyakan pelajar adalah salah besar.

“Kalau begitu, aku akan pergi,” ucap Sooji sembari menarik vertikal ke bawah jemarinya di udara. “Sampai nanti.” Lanjutnya sembari menekan menu pengaturan untuk mencari tombol log out.

Namun, kedua alisnya bertautan saat tak mendapati tombol log out di sana.

“Ada apa?” tanya L heran melihat reaksi wajah Sooji.

“Tidak ada tombol log out.” Jawab Sooji dengan tangan kirinya yang masih menggantung di udara.

Mata L langsung menatap Sooji meremehkan sembari membuka menu window dengan tangan kirinya. “Tidak mungkin. Coba kau lihat dengan teliti.”

Sooji kembali membuka pengaturan dan mendapati hal yang sama di sana. Bersamaan dengan itu, tubuh L mendadak menjadi tegang. “Tidak ada cara log out… darurat?” tanya Sooji lagi dengan hati-hati.

“Tidak ada.”

Mendadak, tubuh Sooji mengigil dan rasa takut mulai menyergapnya.

“Mungkin servernya sedang sangat sibuk karena banyaknya player. Sepuluh ribu player benar-benar banyak, bukan?” L pun akhirnya mencoba mencari alasan yang masuk akal untuk menenangkan dirinya dan juga gadis di depannya.

Namun yang membuat mereka berdua merasa terheran ketika sebuah cahaya putih menyelubungi masing-masing mereka berdua dan mereka merasa seperti melayang sampai akhirnya kaki mereka menginjak tanah di tempat di mana Sooji datang pertama kali.

Suara-suara berisik seperti lebah pun memenuhi telinga Sooji dan L ketika mereka berada di sana, tersembunyi dari sekian puluh ribu player yang berkumpul di tempat yang sama.

Sooji melihat ke sekitarnya, merasa aneh dengan keramaian dari berpuluh ribu manusia yang berkumpul di sini. Kepalanya terasa pening karena tidak terbiasa dengan keramaian seperti ini. Ia heran kenapa di dalam dunia virtual seperti ini ia bisa merasakan pening di kepalanya.

“Acaranya dipercepat, ya?” tanya L yang berdiri di sebelah Sooji pada dirinya sendiri.

Kemudian di depan mata Sooji terdapat sebuah kotak dialog yang mirip dengan pesan yang menandakan ia mendapatkan sebuah items baru. Namun, bukan hanya ia sendiri yang mendapatkannya, tapi seluruh player yang ada di sini.

Ketika ia membukanya, sebuah cermin berbentuk kotak yang berukuran lebih kecil dari ponselnya berada di genggamannya. Ia pun mengangkat cermin tersebut dan melihat wajah virtualnya di dalamnya dengan rambut yang berwarna blonde. Namun, persekian detik berikutnya, cahaya putih mengelilingi dirinya.

“Sooji, kau baik-baik—siapa kau?” tanya seorang laki-laki yang memiliki pakaian yang sama dengan yang di pakai L tadi, namun memiliki wajah yang cukup dingin dengan hidung mancung dan dagu yang panjang serta lancip. Sedangkan rambutnya, di bagian keningnya terdapat poni yang cukup panjang dengan rambut cepaknya.


“Kau laki-laki?!”

“Dan kau mengaku kalau kau tinggi!”

Mendengar dua orang yang tengah berteriak karena kebohongan yang diberikan dunia virtual, keduanya—Sooji dan L—saling melirik satu sama lain.

“Kau Sooji?”

“Kau L?”

Tanya mereka dalam waktu bersamaan, kemudian tertawa kecil. L tidak percaya kalau gadis secantik Sooji mencoba masuk ke dalam dunia virtual. Lihat saja di sekelilingnya—kebanyakan anak perempuan yang ada di sini sangat berbeda dengan dengan beberapa detik sebelumnya. Dan Sooji, gadis itu tidak kalah cantik dengan rambut hitam dan matanya yang cukup besar namun akan membentuk bulan sabit jika tertawa.


“Jadi… bagaimana bisa wujud kita menjadi asli?—NerveGear hanya dapat menerima sinyal ke otak, bukan ke seluruh tubuh, bukan?” tanya L bingung sembari menatap Sooji yang lebih bingung darinya.

“Aku… baru saja membeli NerveGear,” ucap Sooji ragu-ragu. “Dan, tadi itu ada beberapa pengisian tentang tinggi dan berat badan, dan juga sensor seluruh tubuh… kurasa.”

“Ah,” gumam L mengingat sesuatu. “Kurasa aku pernah melakukannya.”

Tiba-tiba, di atas, di langit, ada sebuah kotak kecil berwarna merah yang berbentuk seperti sebuah batu bata yang bertuliskan ‘WARNING!’ . Tak lama, batu bata lainnya terlihat muncul dan membentuk atap cembung yang terlihat dari bawah.

Lalu, cairan kental berwarna merah seperti darah mengalir kebawah namun sama sekali tidak sampai menyentuh tanah dan justru membentuk sebuah baju raksasa bertudung berwarna merah dan hitam yang melayang di udara.

“Seorang game master?” pekik L yang membuat Sooji hanya menatapnya heran ketika melihat orang bertudung tersebut.

Selamat datang ke duniaku.” Ucap game master itu—atau yang biasa disebut GM—dengan nada monoton.

“Apa itu game master? Dan apa maksud dari dunianya?” tanya Sooji yang benar-benar merasa pusing dengan dunia virtual ini.

L menoleh sekilas pada Sooji dan menyuruhnya menunggu sebentar untuk mendengarkan perkataan game master tersebut.

Kalian pasti bertanya-tanya kenapa tak ada tombol log out di menu pengaturan kalian, kenapa aku mengumpulkan kalian di sini, dan kenapa aku membuat wajah dan tubuh asli kalian,” lanjut GM tersebut dengan nada monotonnya yang sama sekali tidak menunjukkan ekpresi. “Dan aku hanya akan menjawab satu pertanyaan, lalu menjelaskan sesuatu hal yang baru di dunia ini.

Tombol log out akan dihilangkan sampai ada seseorang yang dapat menyelesaikan permainan ini,”

Dan suara gumaman, protes, dan lainnya terdengar bagaikan lebah.

“Apa… maksud ucapannya?” Suara Sooji terdengar serak ketika mengeluarkan suaranya, membuat L langsung menoleh dengan rahang mengerasnya.

“Seseorang harus mengalahkan bos di lantai sembilan puluh sembilan. Sedangkan aku yang sudah satu minggu memainkan permainan ini belum pernah menemukan jalan ke ruang bos.” Jelas L, membuat mata Sooji bergerak-gerak takut.

Dan jika HP bar kalian mencapai angka nol, maka NerveGear akan menghancurkan otak kalian melalui sinyal elektromagnetik yang sangat kuat. Jika seseorang dari luar mencabut paksa NerveGear yang sedang kalian pasang, otak kalian tidak akan berfungsi lagi. Dan jika HP bar kalian mencapai angka nol, maka NerveGear yang dipakai di kepala kalian di dunia luar sana akan membakar otak kalian.”

Itu berarti, mati di dunia virtual ini sama saja dengan mati di dunia nyata. Sekelebat pikiran itu membuat Sooji gemetar. “Hya… katakan padaku itu hanya lelucon,” gumam Sooji takut-takut sembari melirik L di sampingnya.

Namun L hanya menoleh sebentar dengan wajah seriusnya dan kembali memfokuskan telinganya pada GM tersebut.

“Biarkan aku keluar!” seseorang dengan suara khas anak perempuan berteriak, membuat seluruh orang menoleh padanya.

Kini, sudah ada lima puluh dua orang yang meninggal akibat NerveGear-nya dilepas paska dari luar. Dan untuk sekarang, seluruh channel televisi, radio dan internet sudah menyiarkan peringatan ini berkali-kali.

Dan untuk kalian yang masih berada di sini, yang masih hidup, silahkan menyelesaikan permainan ini. Semoga beruntung.”

Begitu semua keadaan kembali normal seperti tadi, keheningan aneh menyelimuti ruangan besar dengan atap terbuka tersebut. Lalu, beberapa orang mulai berteriak histeris, seperti yang Sooji lakukan sebelum L menariknya keluar dari tempat tersebut.

~œTo Be Continueœ~

Haiii~~ udah lama ya?:3 maafkan aku… aku terlalu sibuk ngurus ff di FFIndo. Dan ini adalah salah satu ff yang baru kelar di FFIndo. Buat yang tertarik baca lebih lanjut, silahkan buka page library, dan pilih link Death Game perchapternya. Karena aku udah kelas 12 dan gak terlalu banyak waktu buat publish sana sini. jadi, kalo (mungkin) ada yang mau baca ff-ffku, bisa buka FFIndo.wordpress.com🙂

Oh! satu lagi. Aku gak publish chapter keduanya. jadi, langsung ke FFIndo aja yaaaa~~

2 thoughts on “Death Game – Chapter 1

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s