A Heartbreak [Chapter 6]



  • Tittle    : A Heartbreak
  • Author    : EnnyHutami
  • Lenght    : Series
  • Rating    : PG-13
  • Genre    : Romance
  • Cast    :
  1. Jo Kwangmin
  2. Bae Sooji
  3. Oh Sehun
  4. Oh Hayoung
  5. And others

Copyright © original story by EnnyHutami 2012

~œœœ~

Sooji masih duduk di kursi di restoran setelah Hayoung pulang. Ia mengambil ponselnya kemudian mengaktifkan kembali. Dan, ada dua puluh tiga panggilan yang masuk dari Kwangmin, Jieun dan managernya, serta ada satu pesan suara yang masuk dari Kwangmin.

Ia menyentuh layar ponselnya, lalu menempatkan ponselnya itu tepat di depan telinganya untuk mendengar apa yang Kwangmin katakan.

“Noona—bolehkan aku memanggilmu begini? Oke. Anggap saja boleh. Di mana kau saat ini? Tentu saja kau tidak lupa, bukan? Aku akan tetap menunggumu di sini sampai kau datang. Jadi, cepatlah datang walaupun hanya ada aku di sini. Jieun noona sudah pulang karena hujan. Dan, dia juga bilang kalau kau tidak akan datang. Tapi, aku tidak percaya karena kau tidak mungkin mengingkari janji. Benar, bukan?

Diam sebentar. Sooji tidak mendengar suara Kwangmin untuk beberapa saat dan hanya mendengar suara rintikan hujan dan juga kendaraan yang berlalu lalang. Lalu, “Kalau kau ingat namun tidak ingin datang karena aku… aku minta maaf, noona. Tetapi, jangan begini. Aku takut Jieun noona menganggapmu yang macam-macam karena dia paling tidak suka seseorang yang suka mengingkari janji. Baiklah, kurasa aku terlalu banyak omong saat ini,”—Sooji mendengar suara tawa yang aneh pada tawa Kwangmin. Tawa putus asa dan sakartis, mungkin?—”sampai bertemu nanti… noona.”

Dan, pesan suara habis.

Sooji menghela nafasnya berat. Ia tidak pernah membayangkan akan berada di posisi seperti ini. Hayoung menyukai Kwangmin, dan Kwangmin menyukainya. Benar-benar kisah yang rumit.

Mungkin jika dirinya adalah orang yang tega, ia akan melakukan sesuatu. Tapi, apa? Ia bahkan tidak tahu tentang dirinya sendiri. Jadi, apa yang harus ia lakukan?

Kemudian ia bangkit berdiri, mengambil tasnya, dan pergi dari restoran walaupun di luar masih hujan. Selama ia membawa payung agar pakaiannya tidak basah, tidak masalah jika ia ingin menerobos hujan agar segera sampai di rumah.

¯

Tangan Kwangmin mulai memucat karena kedinginan. Jari-jarinya saling betautan dan sesekali menggosok-gosokan telapak tangannya. Giginya juga sudah bergemelutukan karena duduk di sini kurang lebih selama tiga jam. Terlebih lagi dengan hujan deras yang mengguyur kota Seoul.

Untuk kesekian kalinya, Kwangmin melirik jam tangan hitamnya yang bertengger di pergelangan tangan kiri. Lalu menghela nafas dalam dan terdengar berat.

Mungkin dia sedang sangat sibuk. Begitu pikir Kwangmin. Ia mencoba untuk berpikir secara positif, seperti biasanya.

Kemudian bus berhenti tepat di depannya, menghalangi jalanan di hadapannya. Ia pun berdiri dan mulai mengangkat kakinya untuk melangkah masuk ke dalam bus.

“Kwangmin-ah,”

Kwangmin berhenti ketika seseorang memanggil namanya, kemudian menoleh. Seorang gadis yang sudah sangat familiar di matanya berdiri tidak jauh dengan payung yang melindungi kepalanya dari guyuran hujan.

Kwangmin tersenyum lega dan sepercik rasa senang menggelitiki dirinya. “Aku tahu kau akan datang, noona.” Katanya kemudian.

Gadis itu—Bae Sooji—mengangguk kecil. “Maaf, aku ada keperluan tadi.” Balasnya dengan pandangan bersalah. “Kau ingin pulang?” tanyanya kemudian karena Kwangmin yang hendak masuk ke dalam bus.

“Oh? Sebelumnya iya. Tapi, kau sudah ada di sini,”

“Lebih baik kita pulang.” Sela Sooji. “Lihat, pakaianmu basah. Nanti kau bisa kena flu.”

Kwangmin melirik pakiannya sendiri. Ia tidak sadar jika sepatu dan celananya basah.

“Maaf.” Ucap Sooji menyesal, membuat Kwangmin mendongakkan kepalanya lagi dengan pandangan heran. “Kajja. Kurasa supirnya menunggu.” Dan ia pun berjalan mendahului Kwangmin, lalu naik ke dalam bus.

Di dalam bus, Kwangmin dan Sooji sudah duduk bersebelahan. Keduanya tidak mengatakan sepatah katapun, hanya diam tanpa suara dan hanyut dalam pikiran masing-masing.

Sesekali Sooji melirik ke arah Kwangmin yang bersikap berbeda. Ia kelihatan banyak diam akhir-akhir ini, dan sesungguhnya ia tidak menyukai sikap diam Kwangmin entah mengapa.

Namun, sekelebat bayangan wajah malu-malu Hayoung saat mengatakan bahwa ia menyukai Kwangmin terlintas dan membuatnya berpikir lagi. Apa boleh Sooji melakukan hal ini? Apa ia akan menyakiti perasaan orang lain nantinya?

Selama berada di dalam bus, keduanya masih tidak berbicara. Mulut Sooji terlalu sulit untuk dibuka dan berbicara, sedangkan Kwangmin masih tetap bungkam dan tidak memiliki keinginan untuk berbicara.

Kemudian bus pun berhenti tepat di depan halte yang berada di dekat rumah mereka.

Dengan inisiatifnya sendiri, Kwangmin mengambil payung milik Sooji agar ialah yang memegangi payung tersebut sementara mereka berdua berjalan berdampingan. Walaupun ia merasa sedikit kedinginan karena menunggu Sooji di halte saat turun hujan, ketika ia melangkah beriringan dan satu payung dengan Sooji, ia tidak lagi merasa kedinginan. Jantungnya berdegup cepat karena lengannya bersentuhan dengan lengan Sooji.

Masih sama seperti yang mereka lakukan di bus, keduanya saling diam. Hanya saja, Kwangmin sendiri yang merasa nyaman dengan hening kali ini, tidak dengan Sooji yang tengah mencari kata-kata yang tepat untuk berbicara pada Kwangmin.

Sesampainya di depan pagar tinggi rumah Sooji, mereka berdua berhenti. Sooji keluar dari lindungan payung dan berdiri di ambang pagar yang terbuka.

“Masuklah.” Kata Kwangmin dengan senyum polosnya seperti biasa. “Akan kukembalikan payungnya setelah hujan reda.”

“Tunggu!” Dan saat Kwangmin berbalik hendak menuju pagar rumah yang berada tepat di sebelah rumahnya, Sooji memekik.

Jadi, Kwangmin kembali membalikkan badannya sehingga ia menghadap Sooji dengan pandangan bertanya. “Ada apa?” tanyanya. Sama sekali tidak tahu apa yang diinginkan Sooji kali ini.

Sooji diam sambil menatap Kwangmin lama. Lalu, “Jangan muncul dihadapanku lagi.”

Bagaikan tersambar petir, Kwangmin terdiam. Hatinya terasa bagikan diiris. “A-apa maksudnya?” tanyanya untuk memastikan dengan tawa aneh yang biasanya orang-orang perlihatkan ketika mereka tidak ingin menerima kenyataan.

“Kau tahu jelas apa maksudku.” Tandas Sooji. Kilatan di matanya membuat hati Kwangmin makin terasa perih. Begitu terlihat nyata. “Jangan menghubungiku lagi. Anggap saja kita tidak saling mengenal. Kau bisa simpan payungku. Tidak perlu dikembalikan.”

Kemudian Sooji membalikkan badannya untuk masuk ke dalam rumahnya, namun tangan Kwangmin langsung menahan lengannya dengan cepat. “Apa karena aku menyukaimu… noona?” tanya Kwangmin dengan suara paraunya.

Sooji membalikkan badannya lagi seraya menghempaskan tangan Kwangmin dengan sedikit kasar. “Kau tidak menyadari betapa terganggunya aku karenamu? Terlebih lagi setelah kau menyatakan perasaanmu, aku semakin terganggu.” Tajam. Kata per kata yang Sooji ucapkan benar-benar menusuk Kwangmin. “Noona?” Sooji mendengus sinis. “Kau pikir aku denganmu sedekat itu?”

Kwangmin hendak mengangkat mulutnya untuk mengatakan sesuatu, namun ia menutupnya kembali.

“Sekarang pergilah. Aku lelah.” Dan, Sooji menutup pagarnya dengan nafas tercekat. Meninggalkan Kwangmin yang mematung di depan pagar rumah Sooji seperti orang bodoh.

Kwangmin bukanlah orang yang mudah mengamuk. Jadi, ia menerima perlakuan dan ucapan Sooji walaupun itu menyakiti hatinya. Sangat.

Selagi ia berjalan menuju rumahnya dengan langkah diseret, ia berpikir. Apakah ini sifat asli dari Bae Sooji yang membuat jantungnya berdebar? Apakah tadi itu semua yang dipikirkan Bae Sooji tentang dirinya selama ini? Jika benar, ia sama sekali tidak habis pikir. Dan, ia akui bahwa akting Sooji memang sangat luar biasa.

Sesampainya di depan pintu utama di rumahnya, ia merogoh saku celananya untuk mengambil kunci. Hari ini, kedua orangtuanya pergi ke rumah nenek yang sedang sakit di pulau Jeju dan menginap selama dua hari.

Payung milik Sooji ia lipat dan ia letakkan di guci yang memang dipergunakan untuk menaruh payung. Lalu ia langsung menjatuhkan dirinya di atas sofa empuk di ruang keluarga, dan menyalakan televisi walaupun ia tidak akan menontonnya. Ia hanya membutuhkan suara-suara agar rasa sakit yang sedang ia rasakan sekarang tidak terlalu menusuknya.

Tak lama kemudian, suara ketukan pintu yang kasar terdengar di telinganya, membuatnya reflek bangkit.

Ketukan (mungkin lebih tepat dibilang gedoran) pintu tersebut terus saja terdengar tanpa henti. Kwangmin mendecak. Siapa yang menggedor pintu rumahnya seperti itu? Memangnya bel di depan rumahnya tidak berfungsi?

Begitu Kwangmin membuka pintunya, matanya langsung membelalak lebar karena mendapati Hayoung yang masih mengenakan seragamnya. Sekujur tubuhnya basah kuyup dan gadis itu menggigil serta menangis sesenggukan.

Sunbaenim,” ucapnya dengan suara serak.

Wae? Apa yang terjadi?” tanya Kwangmin panik melihat keadaan Hayoung yang benar-benar kacau.

Isakan Hayoung semakin deras. Ia pun terduduk di lantai yang dingin, semakin membuat Kwangmin panik karena ia tidak tahu apa yang terjadi. “Mianhaemianhae…” ucapnya masih terisak.

Kwangmin berjongkok di depan Hayoung dan kedua tangannya memegang pundak Hayoung. “Maaf untuk apa? Kau kenapa?” Ia sama sekali tidak tahu apa yang sedang terjadi dan tidak tahu harus melakukan apa.

“Youngmin sunbaeo-o-ppa yang membunuhnya. Mianhae, aku minta maaf.” Akuan Hayoung membuat Kwangmin terdiam untuk beberapa detik.

Oppa? M-maksudmu Oh Sehun?”

Hayoung menggukkan kepalanya dalam-dalam. “Aku bahkan tidak tahu jika Youngmin sunbae meninggal. Ini semua karena oppa-ku. Apa yang harus kulakukan sunbae? Aku… aku…”

“Masuk dulu. Kau menggigil.” Sela Kwangmin seraya membantu Hayoung untuk berdiri dengan memegang kedua bahunya.

Sunbae, mianhae,” ucap Hayoung lagi sesenggukan.

Kwangmin tidak menanggapinya. Ia hanya membawa Hayoung ke kamar mandi yang berada di lantai satu. “Tunggu di sini.” Katanya begitu Hayoung sudah berada di dalam kamar mandi.

Dengan berlari, Kwangmin pun menaiki anak tangga menuju kamarnya untuk mengambil pakaian yang bisa dipakai Hayoung karena tidak mungkin gadis itu terus memakai seragamnya yang basah kuyup seperti itu. Kemudian ia mengambil kaus lengan panjang garis-garis hitam horizontal dan celana longgarnya yang mungkin kebesaran untuk Hayoung.

Setelah itu, ia kembali berlari ke bawah, ke kamar mandi untuk memberikan pakaian itu pada Hayoung.

“Mandi dan kenakan ini,” Kwangmin mengulurkan tangannya yang memegang pakainnya tersebut. “Agar kau tidak terkena flu.” Lanjutnya.

Hayoung mengambil pakaian tersebut, tapi tak kunjung menggerakkan badannya. Hanya diam mematung dengan sekujur tubuh yang basah kuyup dan mata sembabnya. Jadi, Kwangmin menarik kenop pintu dan menutup pintunya. “Cepatlah mandi.” Katanya sebelum pintu benar-benar tertutup. Lalu ia berjalan ke dapur untuk membuat minuman hangat.

Sebelumnya Kwangmin belum pernah meminjamkan pakaiannya untuk seorang gadis, dan ia juga belum pernah membuat minuman hangat untuk orang lain. Jadi, ini pertama kalinya. Untuk seorang Oh Hayoung.

Dan, karena ia tidak tahu apa yang disukai Hayoung, jadi ia lebih memilih untuk membuat cokelat panas. Walaupun ia tidak tahu apakah cokelat panas buatannya enak atau tidak.

Tiba-tiba tangannya berhenti mengaduk saat ia mengingat kejadian hari ini.

Benar-benar di luar dugaan, batinnya. Ia tidak penah tahu akan ada hari seperti ini. Pertama tentang Sooji yang tidak lagi ingin melihat wajahnya, dan yang kedua tentang Sehun. Ia tidak pernah mengira bahwa Sehun lah yang membuat saudara kembarnya meninggal.

Namun, ia tidak tahu harus marah atau tidak. Pikirannya benar-benar penuh sampai ia tidak bisa mengekpresikan apa yang ia rasakan. Terlebih lagi setelah melihat Hayoung di depan rumah dengan keadaan basah kuyup seperti tadi.

Tepat saat Kwangmin menghela nafas beratnya, Hayoung keluar dari kamar mandi dengan pakaian Kwangmin yang terlihat kebesaran di badannya. Namun walaupun begitu, Hayoung tetap terlihat cantik di matanya.

Kemudian Kwangmin menaruh cokelat panasnya di atas meja makan dan menarik kursinya. “Duduk di sini.” Kata Kwangmin dengan mata yang menunjuk ke bangku di depannya, dan Hayoung pun menurut.

Selagi Hayoung melangkah mendekat, bisa Kwangmin lihat bahwa gadis itu masih menggigil karena sekujur tubuhnya masih gemetaran. Dan setelah Hayoung meminum cokelat panas buatannya, gemetar tubuhnya sedikit berkurang.

Sunbaenim,” panggil Hayoung dengan suara parau. “Apa benar Youngmin sunbae meninggal karena tertabrak mobil?” tanyanya. Suaranya terdengar tercekat saat menyebutkan nama Youngmin.

“Mm, kau benar.” Jawab Kwangmin tenang, tanpa emosi apapun dalam suaranya.

Hayoung menolehkan kepalanya sehingga ia bisa melihat wajah Kwangmin yang berdiri di belakangnya. “Kenapa kau tidak bilang padaku jika Youngmin sunbae telah tiada?”

Mendengar pertanyaan Hayoung, Kwangmin terdiam. Ia hanya tidak tahu harus menjawab apa karena memang ia tak ingin Hayoung tahu bahwa Youngmin sudah tidak ada. Ia tidak ingin melihat Hayoung sedih.

Namun, dugaannya salah. Hayoung lebih parah dari sekedar sedih.

“Kau tahu bahwa aku pernah menyukai Youngmin sunbae, tapi kau tidak mengatakan apapun padaku tentang kepergiannya.” Hayoung memulai.

Kwangmin diam dalam pikirannya. Ia menebak-nebak apa yang ada dipikiran Hayoung saat ini.

Lalu Hayoung melanjutkan. “Aku… tadi menguping pembicaraan Sehun oppa dengan temannya. Dan,” Hayoung kembali terisak, membuat Kwangmin membeku. Kwangmin benci mendengar seseorang menangis di depannya. “Mobil oppa menabrak Youngmin sunbae.”

Kini Kwangmin sibuk sendiri dengan pikirannya. Apa yang harus dilakukannya sekarang? Haruskah ia memberitahu orangtuanya tentang ini atau tidak?

“Apa sunbae akan melaporkan Sehun oppa pada polisi?” tanya Hayoung hati-hati, masih dengan isakannya.

Kwangmin masih terdiam. Sama sekali tidak ada pikiran untuk melaporkan Sehun pada polisi. Toh, Youngmin meninggal satu minggu dirawat di rumah sakit.

Sunbae, maafkan aku. Aku sama sekali tidak tahu jika Sehun oppa melakukan ini. Setelah tahu apa yang telah ia perbuat, aku… m-membencinya. A-aku sama sekali tidak tahu.” Isakan Hayoung semakin keras dan ucapannya semakin melantur. Kwangmin mendengarkannya dengan bingung karena Hayoung mulai berbicara tidak jelas karena isakan dan senggukannya. “Aku tidak tahu… sungguh. Aku mohon jangan membenciku.”

Tidak tahan lagi mendengar isakan Hayoung, Kwangmin membungkukan badannya dan memeluk Hayoung dari belakang agar Hayoung berhenti terisak. Dagu Kwangmin menyentuh telinga Hayoung.

“Cukup. Jangan menangis lagi. Aku tidak akan membencimu karena ini.” Ucap Kwangmin dengan suara rendahnya.

Dengan jarak sedekat ini, hanya Kwangmin lah yang bisa mendengar degup jantung Hayoung, tidak sebaliknya karena dada Kwangmin tidak menempel punggung Hayoung melainkan menempel pada punggung kursi.

Dan, Kwangmin bertanya-tanya apa arti dari degup jantung Hayoung ini.

¯

Sooji masih berdiri di depan pagar tinggi rumahnya setelah ia menutupnya keras-keras di depan wajah Kwangmin dengan ekpresi terkejut. Matanya terbuka lebar dan nafasnya tersenggal.

Apa yang barusan ia katakan? Tidakkah itu terlalu kejam untuk orang sebaik Kwangmin? Apa ia harus meminta maaf pada Kwangmin sekarang juga dan mengatakan alasan mengapa ia mengatakan itu semua?

Tidak. Ia tidak bisa. Ia melakukan ini agar Hayoung tidak mengetahui bahwa orang yang disukainya ternyata menyukai Sooji. Lebih baik Kwangmin yang merasakan sakit karena kata-katanya tadi, dibanding Hayoung.

“Ah, bagaimana ini?” gumamnya frustas seraya mengacak rambutnya. Ia tidak tahu mengapa dirinya sendiri yang merasa sakit saat melihat ekpresi terkejut Kwangmin tadi. Apa itu artinya ia menjadi gadis yang buruk? Bad girl?

Kemudian ponselnya berdering. Begitu ia melihat layarnya, nama Sehun tertera di sana. Ia pun menjawab telefon Sehun segera. “Yeoboseyeo?” ucapnya.

Sooji-ya, apa Hayoung ada di sana?” suara Sehun terdengar panik dan putus asa.

“Tidak ada. Bukankah Hayoung sudah pulang sejak tadi?” Sooji balas bertanya dengan wajah bingungnya.

Ya, dia sudah pulang. Tetapi, dia mendengar… sesuatu. Jadi, dia kabur begitu saja. Tanpa mengenakan alas kaki, membawa ponsel, dan payung.

“Apa?” Sooji memekik. “Bagaimana bisa?”

Dari seberang telefon, Sooji mendengar Sehun menghela nafasnya frustasi. Bisa ia rasakan bahwa saat ini Sehun sangat panik. Jadi, Sooji bertanya kembali. “Tempat apa yang biasa ia datangi?”

Tidak ada. Dia selalu bersamaku jika keluar rumah dan dia selalu pulang tepat waktu kecuali hari ini.” Dan, Sooji mulai ikut panik.

“Kalau begitu cari di daerah sekitar apartemenmu! Aku akan bantu mencarinya.” Dan, Sooji menutup telefon Sehun. Lalu langsung mengambil mantel hangatnya asal serta payung.

Untunglah Sooji memiliki foto Hayoung saat ia berada di peragaan busana. Foto yang memuat dirinya dan Hayoung. Jadi, ia bisa lebih mudah menanyakan orang-orang yang mungkin saja melihat Hayoung.

Chogi… apa kau melihat gadis ini?” Sooji menunjukkan foto Hayoung. “Dia mengenakan seragam sekolah tanpa alas kaki.” Lanjutnya.

Seseorang yang ditanyai pun menggelengkan kepalanya.

Sekitar satu satu jam Sooji mencari Hayoung dengan bertanya pada orang-orang. Namun takada satupun yang melihatnya. Tubuhnya pun mulai memucat karena kedinginan.

Kemudian ponselnya bergetar. Cepat-cepat ia melihatnya. Namun, begitu ia melihat nama yang tertera di layar, ia hanya diam. Kwangmin menelefonnya lagi. Perasaan bersalah pun menjalari dirinya lagi melihat nama Kwangmin di layar ponselnya.

Belum sempat Sooji mengangkat telefon dari Kwangmin, ponselnya berhenti bergetar sehingga telefon Kwangmin menjadi panggilan tak terjawab. Namun, satu menit kemudian sebuah pesan singkat masuk. Juga dari Kwangmin.

[Tolong bilang pada Sehun bahwa Hayoung ada di rumahku. Aku minta maaf karena mencoba menghubungimu lagi.]

Terlalu dingin. Begitulah yang Sooji pikir begitu membaca pesan singkat dari Kwangmin. Dan, kelihatannya Kwangmin sudah membencinya.

Entah apa yang terjadi, tapi ia merasa sakit mendengar dirinya sendiri mengatakan bahwa Kwangmin membencinya. Ice-breaker-nya telah membenci dirinya.

Matanya memanas ingin menangis, namun cepat-cepat ia menahannya karena ia harus memberitahu Sehun tentang keberadaan Hayoung secepatnya.

“Sehun-ah, Hayoung ada di rumah Kwangmin.” Katanya langsung tanpa basa-basi saat Sehun menjawab panggilannya.

Sooji tahu ada yang tidak beres saat mendengar reaksi Sehun. Dan, ia berpikir lagi mengapa Hayoung pergi ke rumah Kwangmin. Karena ia menyukai Kwangmin? Ayolah, ia tahu bahwa Hayoung bukan tipe gadis seperti itu. Hayoung tidak semurah itu.

Jadi, daripada terlalu banyak berpikir, Sooji langsung melesat ke rumah Kwangmin. Ia berlari. Tidak peduli jika payungnya berterbangan dan kepalanya terkena guyuran hujan. Yang penting, ia cepat sampai ke rumah Kwangmin dan mengetahui apa yang sebenarnya terjadi.

Sesampainya di depan gerbang rumah Kwangmin dengan rambut dan pundak yang sudah basah, Sooji menekan bel pada interkom. Namun sebelum menekannya, ia sempat ragu sejenak. Baru beberapa jam yang lalu dirinya mengatakan pada Kwangmin agar tidak muncul di hadapannya lagi, namun dirinya sendirilah yang muncul di hadapan Kwangmin.

Tak lama menunggu, pintu gerbang terbuka. Dan, ternyata Kwangmin sudah menunggunya.

“Hayoung…”

“Dia di kamarku.” Sela Kwangmin karena tahu apa yang dicari Sooji.

Kemudian Sooji sedikit berlari menaiki belasan anak tangga menuju ke lantai dua rumah Kwangmin tanpa menunggu arah dari sang pemilik rumah karena toh ia pernah kemari sebelumnya.

Tidak tahu mengapa, ia tidak ingin bertatap muka dengan Kwangmin lebih lama. Apa mungkin efek dari perkataan kejam yang ia ucapkan pada Kwangmin beberapa jam yang lalu dan justru dirinya sendiri yang melanggar ucapan itu dengan pergi kemari? Dan, sebenarnya, Hayoung bukan tujuan utamanya kemari, melainkan Kwangmin sendiri. Hanya saja, Sooji menyangkalnya.

Ia ingin tahu bagaimana keadaan Kwangmin saat ini. Jika bukan karena ia tidak ingin menyakiti adik dari Oh Sehun, ia tidak akan bersikap seperti gadis paling buruk karena menyakiti perasaan Kwangmin. Padahal, Kwangmin dan keluarganya sudah sangat baik padanya saat ia merasa jatuh akibat kepergian ibunya.

Ketika ia membuka pintu yang diyakininya adalah kamar Kwangmin, matanya mendapati Hayoung tengah tertidur di atas ranjang Kwangmin dengan seluruh tubuh yang ditutupi oleh selimut tebal.

Bisa ia duga, Hayoung benar-benar kedinginan akibat berlari dari apartemennya sampai kemari di bawah derasnya hujan tanpa alas kaki dan juga payung. Terlebih lagi, gedung apartemennya tidaklah bisa dibilang dekat.

Kemudian ia duduk di tepi ranjang sambil menatap Hayoung yang berbaring di sana dengan rambut yang belum sepenuhnya kering. Ia menghela nafasnya berat. Seperti semua beban berada di pundaknya saat ini.

“Kau beruntung. Apa kau tahu itu?” Gumamnya pada Hayoung yang sedang terlelap. “Baru saja aku membuat orang yang menyukaiku, beralih menjadi membenciku karena perkataanku sendiri.” Bisa dibilang, ini pertama kalinya Sooji mengungkapkan isi hatinya pada orang lain—walaupun Hayoung mungkin tidak mendengarkan.

“Demi dirimu, Oh Hayoung.” Ia masih bergumam. “Agar kau tidak merasakan sakit yang pernah kurasakan karena kakakmu. Cukup aku yang merasakannya. Kau tidak perlu—yah, walaupun aku baru mengenalmu beberapa bulan yang lalu. Namun, aku tidak mau senyum cerahmu hilang. Tetaplah seperti itu agar Sehun tidak perlu mencemaskanmu.”

Sudah cukup untuk mengungkapkan isi hatinya. Setelah itu, ia tidak mengucapkan apa-apa lagi dan hanya mengedarkan matanya ke sekeliling kamar Kwangmin. Kamar yang bisa dibilang bersih untuk anak laki-laki seusianya dengan dinding berwarna putih bersih dan barang-barang yang tidak terlalu banyak, namun tertata rapih di setiap sudut.

Keadaan kamar ini mirip sekali dengan kepribadian Kwangmin. Sebelumnya ia memang pernah ke lantai dua rumah ini dan tahu yang mana letak kamar Kwangmin, namun ia tidak berani masuk ke dalam kamarnya karena ia merasa itu tidak sopan.

Dan kini ia penasaran dengan kamar di sebelah. Apakah itu kamar Youngmin, saudara kembar Kwangmin? Ia bertanya-tanya, jika Youngmin masih ada, apakah dirinya bisa membedakan yang mana Kwangmin yang mana Youngmin. Namun, pertanyaannya itu tidak mungkin bisa dijawab. Selamanya pun tidak akan pernah bisa.

Kemudian ia mendengar suara gaduh seperti benturan di bawah sana. Apa yang sedang dilakukan Kwangmin?

Baru saja ia hendak pergi untuk melihat apa yang sedang terjadi, tiba-tiba tangannya ditahan. Begitu ia menoleh, tenyata Hayoung lah yang menahan tangannya. Matanya sudah terbuka lebar, membuat Sooji membelalak terkejut.

“Oh Hayoung… kau?” Sooji tidak bisa berkata-kata, memikirkan apakah Hayoung tadi mendengarkan semua ungkapannya atau tidak. “Bagaimana—”

“Jangan pergi.” Kata Hayoung. Suaranya parau dan matanya sembab habis menangis. “Biarkan saja. Kwangmin sunbae pasti sedang marah sekali.”

Sooji mengerjapkan matanya berkali-kali heran. Marah? Apa karena dirinya? Lalu, apa begini cara marahnya, membuat kegaduhan?

Melihat kebingungan di wajah Sooji, Hayoung pun menjelaskan—walaupun jauh dari kata menjelaskan, sebenarnya. “Sehun oppa… pantas mendapatkannya.”

~To be continue~

~Wait another story~

A/n    : Floral Notes, nggak akan aku lanjut lagi karena sama sekali nggak ada peminat. Lagi pula, datanya udah diapus, jadi udah fix nggak bakal dilanjut. Dan, AHB mungkin adalah ff terakhir yang aku publish di sini. Jika ada yang mau membaca ff-ku lagi, bisa baca di ffindo. Berhubung sekarang aku udah kelas 12, nggak ada setahun lagi UN huuuuaa. Jadi, aku mau fokus ke jalur undangan biar nggak ikut test-testan lagi muahaha.

Dan, kalau AHB peminatnya makin dikit, nggak mustahil kalau bakalan aku stop juga. Ppyong~~

31 thoughts on “A Heartbreak [Chapter 6]

  1. Yang ini jangan di stop dong thor..hohoho soalnya makin seru..
    Part ini pendek thor,next part panjangin ya..hehehehe

  2. hm gitu yh, gmna yh akhirnya*pnasaran aku, tp suzy dewasa bgt deh. Dy brani brkorban, keren bgt. Tapi kasian jg klo akhirnya gk dpt pasangan. Ffmu bagus2 bgt thor, selamat dh naik klas 12 and semangat yh belajarnya

  3. Semoga Suzy cepet baikan sama Kwangmin / Kwangmin mengetahui alasan Suzy berlaku kasar secepatnya. Kasihan Kwangmin & Suzy harus sama2 menderita…

  4. Semoga Suzy cepet baikan sama Kwangmin / Kwangmin mengetahui alasan Suzy berlaku kasar dan secepatnya. Hehe, Kasihan Kwangmin & Suzy harus sama2 menderita…

  5. annyeong~
    aku terdampar disini lagi /? kkekek~ xD
    begitu liat ada ff ini langsung buru buru baca dari part 1.
    baguss !! suka ama jalan ceritanya *-*/\ tapi kenapa mau distop ? jangan stop ff yang ini dong, aku suka pake bangett ma ff ini.
    Disini dilemanya dapet antara Suzy-Kwangmin-Hayoung ma Sehun.
    semnagat ya yang udah kelas 3 !! hwaiting !!

  6. hayoung beruntung, punya suzy a sehun yg peduli ma dia yah meski sehun penyebab kematian youngmin toh sehun sayang ma hayoung
    knpa jdi belibet gini TT suzy kau taksadar kalo U jga cinta ma kwangmin?
    next chngu

  7. unni~ ingat aku?? kkk~
    setelah sekian lama gak blogwalking, akhirnya aku mampir lagi ke wp unni~ dan trnyata banyak FF kwangmin baru~ keren nih FFnya un, bkin penasaran, sorry bru comment di chap ini, abisnya ngebut dlu baca penasara huehehe mian ><

    lanjut ne?

    • ingeeeeeet!!! mana mungkin aku lupa?:/ kamu kemana aja saeng? gak pernah keliatan lagi heung. yah… aku gak tau bisa lanjut apa engga:( waktuku udah sedikit banget nih, gaada waktu luang kecuali hari-hari tertentu:(

  8. Waahhh…cinta segi brp ini ya thor? Hehehe…apa kwangmin msh suka dua2nya atau gmn? Trz kegaduhan itu apa krn kwangmin memukul sehun ya? Penasaaraaaaannnn…..gmn endingnya ya? *keposuper

  9. Demi Apa?!

    AHB di stop?! (Baca yang diibrary ff) Aaaah , mana kelanjutannya eonnie …. :((
    Sumpah ff AHB ini bagus banget cerita dan alurnya …..!!!
    Tokohnya disampaikan secara baik semuaaa …

    tulisan Oennie bagus banget untuk taraf fanfiction, … udah kayak penulis novel hebat!
    kayaknya dijadiin novel bisa deh Oennie, apalagi ff ini !

    JUJUR, ini awal2nya aku baca ff. duluu, sya benci banget sm yang namanya ff, tiba2 kesambet pnasaran walau dulu udh sempat ngelirik2. krn kebetulan punya bias. dan pertama kali bca ff international, dan itu bagus banget, jadi buat ketagihan.

    eh, punya orang indonesia bagus2 juga, tapi FF OENNIE itu FF terbagus yang pernah aku baca!!! NGGA BOSAN! ASLI BAGUS! aku jadi hanya tertarik membaca FF Eonnie, tidak yang lainn …

    Ah, LANJUTANNYAAAAA … JANGAN BUAT PENASARAN OENNIE!!

    Maaaf ya Oennie, pendatang baru tapi langsung histeris teriak2 gini :’)
    Habis, ngga terima kalau AHB ngga dilanjutinnnn … >….< kalau ide buntu, bisa kok para readers kasih saran ide gituh, heheheh)

    Salam Damai ya Oennie ^^

  10. Sayang banget ff ini ga dilanjut, padahal keren banget loh.. Serius, susah banget nyari ff dengan cerita kayak gini..

    Masih berharap Eonni-aku panggil gitu, gwaenchana?- ngelanjutin ff ini

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s