Floral Notes [Chapter 3]



Title : Floral Note

Author : EnnyHutami

Genre : Romance, Drama, Friendship

Rating : General

Leght : Series

Cast :

F(x)’s Krystal and Sulli, Miss A’s Suzy, A-Pink’s Naeun, INFINITE’s L, SHINee’s Taemin, EXO’s Sehun, B.A.P’s Himchan, and others.

That flower is in bloom.

Copyright © EnnyHutami’s fanfiction story 2013. Swinspirit.

~›~›~›~

Soojung mengerjapkan matanya berkali-kali setelah ia menyadari bahwa hidupnya akan makin sial saja kalau Sehun tahu ia tinggal di apartemen bobrok seperti ini.

“Bagaimana kalau ia menyebarkannya ke seluruh murid di sekolah?” tanyanya pada dirinya sendiri sembari memiringkan kepalanya dengan wajah mirip orang bodoh yang kehilangan akalnya.

Kemudian, dengan gerakan terburu-buru, ia pun langsung menutup kembali tirai-tirai jendelanya dengan rapat. Ia tidak ingin ketahuan oleh Sehun. Dirinya sedang sangat terancam saat ini.

Aish!” umpatnya sembari meloncat-loncat tidak keruan karena tidak tahu harus berbuat apa.

Deringan dari ponselnya pun membuat kelakuan bodohnya itu berhenti dan membuatnya menatap ponselnya yang berkedip-kedip itu dengan tajam. Begitu ia meraih ponselnya, ia langsung menjawab telefon masuk begitu melihat nama yang tertera di layar ponselnya.

Appa! Kenapa aku harus tinggal di sini? Appa tidak mau tinggal denganku? Kalau begitu kenapa appa menyuruhku kembali kemari?!” semburnya langsung tanpa ada jeda sedikitpun dan juga tanpa salam.

Di seberang sana, suara tawa ayahnya yang berat terdengar, membuat Soojung melongo mendengarnya. Bagaimana bisa ayahnya itu tertawa dengan enteng padahal anaknya sedang kalang kabut seperti ini?

“Appa dan eomma hanya ingin mengajarkanmu saja, sayang.” Kata ayahnya.

Soojung mendengus. Mengajarkan apa?

Nikmati saja, ya? Kalau kau ingin uang jajanmu naik, berarti nilaimu juga harus naik. Appa akan kasih hadiah jika kau masuk tiga besar. Mengerti?”

Dengan pasrah, Soojung menganggukkan kepalanya dan mengumamkan jawabannya. Ia akan selalu menyerah jika dengan ayahnya, tidak seperti dengan ibunya. Ayahnya jauh lebih menyenangkan dan pengertian padanya.

“Tapi, appa,” katanya. “Sampai kapan aku harus tinggal sendirian di sini?”

Dari seberang telefon, ayah Soojung tersenyum kecil mendengar pertanyaan anaknya itu. “Sampai kau mengerti hidupmu sendiri.” Jawab ayahnya dengan suara yang lebut dan penuh dengan kasih sayang. Namun, Soojung sama sekali tidak mengerti.

Baiklah, appa masih sibuk saat ini. Jaga dirimu baik-baik dan jangan lupa kau harus menaikkan nilaimu agar uang jajanmu appa naikkan. Dan kalau sampai appa atau eomma dipanggil ke sekolah karena kau berulah, uang jajanmu akan dikurangi. Sampai nanti, sayang.”

Sebelum Soojung sempat untuk protes, ayahnya sudah menutup telefonnya terlebih dahulu.

“Apa maksudnya itu?” Gumamnya heran. Ia sama sekali tidak mengerti dengan perkataan ayahnya ‘sampai kau mengerti hidupmu sendiri’. Memangnya ia tidak mengerti dirinya sendiri? Ia sangat sangat mengerti. Atau jangan-jangan, ia akan tinggal dengan keluarganya kembali jika ia sudah masuk ke tiga besar di sekolah?

Aish, itu sangat tidak mungkin!”

~›~›~›~

Hari berganti lagi. Dan hari ini pun ia diharuskan untuk bangun pagi, dan ke sekolah naik bus umum yang penuh sesak. Ia hanya berharap kali ini ia dapat tempat duduk. Ingatannya tentang hari kemarin membuatnya sangat malu.

Di halte tempat ia menunggu bus, orang yang mengenakan seragam seperti miliknya hanya dua orang. Ia dan Oh Sehun yang menunggu di ujung halte. Sisanya, orang-orang yang berseragam sekolah lainnya, para mahasiswa dan orang-orang yang mengenakan pakaian seragam kerjanya.

Agar tidak terlalu terlihat oleh Sehun, Soojung pun menundukkan kepalanya lebih dalam sehingga rambut panjangnya bisa menutupi wajahnya.

Namun tanpa disadari olehnya, laki-laki yang disenggolnya kemarin, Kim Myungsoo, memperhatikan gerak geriknya yang sedikit aneh.

Tak lama, bus pun datang dan setengah dari orang-orang yang menunggu di halte, termasuk Sehun, Myungsoo, dan Soojung. Dan untungnya, ada beberapa bangku yang kosong.

Senyum Soojung sudah mengembang ketika ia melihat ada bangku yang kosong, tapi karena keleletannya, bangku tersebut di rebut oleh seorang gadis berambut pendek yang lebih tinggi darinya sedikit.

Soojung pun hanya bisa mengumpat dalam hati kemudian mengangkat tangannya untuk memegang pegangan besi bus yang dikhususkan untuk penumpang yang tidak kebagian tempat duduk.

Untung saja bus kali ini tidak sepenuh kemarin.

“Hei, anak baru,” mendengar seseorang berbicara, ia pun menoleh dan mendapati Sehun sudah berdiri di dekat bangku yang kosong.

Anak itu bicara dengannya?

Soojung yang masih tidak mengerti siapa yang Sehun maksud hanya menatap laki-laki itu dengan wajah bodohnya. Entah kenapa belakangan ini ia sering memperlihatkan wajah bodohnya. Sama sekali tidak membuatnya terlihat keren.

Saat Sehun menggerakkan kepalanya, Soojung pun langsung tahu apa dan siapa yang dimaksudkannya. Laki-laki itu menyuruh Soojung untuk duduk di bangku yang sebelumnya di duduki olehnya.

Oke, sekarang Soojung tahu kenapa Sehun dianggap populer di sekolah. Dia gentle. Dan, ia rasa Sehun tidak tahu bahwa dirinya tinggal di seberang rumahnya.

Untuk pagi ini, dia lolos dari kesialan di dalam bus. Lihat saja selanjutnya bagaimana. Ia sih berharap untuk tetap mujur selanjutnya.

Bus pun berhenti tepat di halte di dekat sekolahnya. Beberapa pelajar yang mengenakan seragam mirip seragamnya pun turun, seperti dirinya dan Sehun.

Tentu saja Soojung dan Sehun tidak berjalan berdampingan hanya gara-gara kebaikan hati dan ke-gentle-an Sehun. Mau orang-orang di sekolah membicarakannya? Itu hanya membuat telinganya terasa panas saja. Tidak terlalu berguna untuknya.

Tak lama setelah Soojung duduk di bangkunya, Taemin pun datang. Membuat beberapa orang menoleh ke arahnya bingung. Begitu juga dengan Jinri, Naeun, dan Hayoung. Naeun dan Hayoung menghela nafas tak suka melihat keberadaan Taemin di kelas.

Morning,
Jung Soojung,” sapa Taemin pada Soojung saat ia melewati tempat duduk Soojung, membuat beberapa anak menoleh.

Morning,” sapa Soojung balik dengan santai tanpa tahu bahwa orang-orang tengah memperhatikannya.

“Mereka saling mengenal?”

“Anak baru dengan Taemin? Bagaimana mungkin?”

“Aku bertaruh kalau Taemin hanya akan mempermainkannya saja.”

“Memang mereka berpacaran?”

Mendengar bisikan-bisikan samar yang dibicarakan teman sekelas, barulah Soojung bahwa dirinyalah yang sedang dibicarakan. Ia pun membalikkan badan dan menatap Taemin yang duduk dua bangku di belakangnya dengan bingung.

Namun, Taemin hanya mengangkat bahunya, memberitahu Soojung bahwa dirinya sendiri juga tidak mengerti.

Kemudian, Jinri yang duduk di depannya pun membalikkan badannya. “Kau… mengenal Taemin?” tanyanya dengan suara berbisik dan memajukan badannya agar hanya Soojung yang dapat mendengar.

“Aku baru bertemunya kemarin.” Jawab Soojung santai.

Jinri membulatkan matanya. “Dan, kau…”

“Memangnya ada apa dengannya?” Soojung menyela dan ikut memajukan badannya.

Pada saat itu juga, guru Jang masuk ke dalam kelas. Guru itu datang selang beberapa menit setelah bel terdengar. Sungguh, Soojung sangat tidak menyukai guru yang tepat waktu begini.

~›~›~›~

Keadaan kafetaria kini sudah penuh dengan murid-murid yang perutnya sudah mulai keroncongan. Tak terkecuali Soojung yang kini duduk satu meja bersama Sooji dan Jinri. Sebenarnya Sooji tidak suka makan siang bersama orang baru, tetapi karena Jinri yang memintanya, jadi baiklah. Asal Soojung tidak sok akrab padanya.

“Sepertinya Taemin sangat ditakuti di sekolah ini.” Gumam Soojung menduga-duga. “Tapi, kurasa itu keren.”

Sooji dan Jinri yang mendengarnya langsung saling menatap dengan pandangan heran, lalu mengalihkan tatapannya itu pada Soojung.

“Wajah babak belur itu keren?” decak Sooji seraya melanjutkan makanannya. Ia tidak habis pikir dengan anak baru yang duduk di depannya ini.

“Tapi, walaupun begitu, banyak yang menyukainya—”

“Termasuk kau?” Soojung memotong kalimat Jinri.

Jinri langsung mengibaskan tangannya kuat-kuat. “Tidak! Tentu saja tidak.” Bantahnya. “Dibanding Taemin, aku lebih menyukai laki-laki seperti…” Jinri tidak melanjutkan kalimatnya saat ia melihat bahwa Sooji tengah menunggu jawaban selanjutnya. Tapi, ia tidak bisa mengatakannya di depan orang yang baru ia kenal seperti Soojung.

“Seperti guru Jung.” Lanjutnya sambil menyengir konyol.

Sooji tahu bahwa Jinri baru saja berbohong. Ia pun kembali melanjutkan makannya dan mungkin akan bertanya nanti. Saat mereka hanya berdua saja.

Sedangkan Soojung yang sebenarnya tidak terlalu memedulikan ocehan Jinri hanya mendengus dan menertawai Jinri yang menurutnya bodoh. “Kau menyukai laki-laki tua?” tanyanya dengan nada mengejek.

“Bukan! Kau ini…” balas Jinri. “Bukan karena itu.”

“Lalu?” Sooji memancing.

“Hm…” Jinri berpikir sejenak. “Karena dia tegas, baik, pintar, dan tidak banyak omong seperti guru yang lain.”

“Baik?” tanya Soojung dengan kening berkerut. Ia menduga bahwa gadis yang satu ini harus masuk ke rumah sakit jiwa.

Jinri mengangguk dengan senyum polosnya. “Kalau kau mengenalnya lebih dekat, kau akan tahu seberapa baiknya dia.”

“Setiap orang ada sisi baik dan buruknya.” Komentar Sooji, membuat Jinri langsung menoleh.

“Taemin juga begitu?” tanya Jinri.

Belum sempat Sooji menjawab, tiba-tiba orang yang sedang dibicarakan datang dengan membawa makanannya dan duduk di sebelah Soojung. Beberapa orang yang ada di kafetaria pun menoleh ke arah mereka seraya berbisik-bisik dengan teman di sebelahnya atau di depannya.

“Hai,” sapa Taemin dengan senyumnya.

“H-hai.” Balas Jinri terbata karena tidak percaya.

Soojung menoleh. “You’re here.” Ucapnya dengan tampang tak berdosa dan sama sekali tidak terlihat terganggu oleh beberapa murid yang menatap mereka.

Tidak seperti Sooji yang sekarang bangkit dari duduknya dan pergi dari sana tanpa mengatakan sepatah katapun, meninggalkan makanannya yang baru dimakan setengah.

Ya, eodiga?” tanya Jinri seraya mengangkat kepalanya menatap Sooji heran.

Tanpa membalas tatapan heran Jinri, Sooji menjawab seraya menatap Taemin tajam. “Kembali ke kelas.” Katanya dingin—bermaksud untuk menyindir Taemin dan Soojung, tetapi yang disindir sama sekali tidak merasa.

Jinri yang tahu mengapa Sooji cepat-cepat kembali ke kelas pun membiarkannya saja dan melanjutkan makannya.

“Sebenci itu temanmu makan satu meja denganku, huh?” tanya Taemin pada Jinri setelah Sooji keluar dari kafetaria.

“Bukan karena itu,” jawab Jinri cepat-cepat seraya mengibaskan tangan kanannya. “Dia hanya tidak suka menjadi pusat perhatian.”

Mendengarnya, Soojung mendengus. “Tanpa Taemin di sini pun dia sudah jadi pusat perhatian, bukan?”

Jinri mengerjap. Dia tidak tahu harus menjawab apa karena ia tahu itu benar. Sooji memang selalu menjadi pusat perhatian di setiap ia berada di suatu tempat. Jadi, Jinri hanya menelengkan kepalanya ke kiri sambil berpikir. Namun yang keluar dai mulutnya hanyalah: “Entahlah.”

“Jadi, Jinri,” mulai Taemin dengan suara yang terdengar bersahabat, membuat Jinri berpikir bahwa laki-laki di depannya ini tidak seburuk yang dirinya dan orang-orang pikirkan. “Kau betah berteman dengan putri es itu?” tanya Taemin.

“Putri es?” sela Soojung sebelum Jinri menjawab.

Jinri mengangguk, menyahuti pertanyaan Soojung. “Orang-orang di sekolah memanggilnya putri es.” Jelasnya. Lalu ia mengalihkan pandangannya dari Soojung ke Taemin. “Tentu saja. Sooji tidak sedingin yang kau pikirkan.”

~›~›~›~

Sudah satu jam Soojung berkutat dengan buku matematika di hadapannya tanpa mengerti apa yang sedang ia lihat. Tanpa ia tahu, ternyata ibunya sudah membelikannya buku-buku sekolah dan menaruhnya di laci di meja belajar—ia belum pernah membuka laci itu sebelumnya.

Angka dan simbol-simbol matematika yang sama sekali ia tidak mengerti membuat kepalanya terasa penuh, seakan ingin meledakkan isinya keluar.

Kemudian, bunyi berisik yang datang dari sebelah kamarnya terdengar mengganggu konsentrasinya yang sudah buruk menjadi sangat buruk. Jika bunyi itu berasal dari alat musik seperti piano atau gitar sih mungkin Soojung masih bisa mentolerir, tapi, jika bunyinya tidak keruan seperti suara dari gendang, ia harus menyuruh tetangga sebelahnya ini ‘diam’.

Ia pun segera bangkit berdiri dan keluar dari apartemennya, lalu menekan interkom yang berada di depan pintu besi apartemen sebelah.

Satu kali tidak ada jawaban, dengan kesal, ia pun menekan bel interkom berkali-kali tanpa henti sampai pintu terbuka tiba-tiba dan seorang laki-laki berperawakan tinggi, mata sipit, hidung mancung, dengan anting-antingan berwarna hitam di telinga kanannya dan rambut hitam tanpa poni di keningnya muncul dari balik pintu.


Waeyo?” tanya laki-laki itu heran dengan suara beratnya.

Soojung yang tadi sempat tersentak akibat pintu yang tiba-tiba terbuka berdeham sebentar sebelum ia menjawab. “Bisakah kau menghentikan permainanmu atau mungkin memelankannya? Aku sangat terganggu!” Semburnya.

Laki-laki itu, yang memiliki nama Kim Himchan, melirik ke arah pintu yang terbuka yang berada tepat di sebelah kanan apartemennya. “Oh, kau penghuni apartemen sebelah?” tanyanya dengan santai.

Ne?” ulang Soojung tak percaya dengan balasan laki-laki di hadapannya.

“Kukira apartemen sebelah tidak ada orang, jadi aku memainkan janggo tepat di sebelah tembok apartemenmu. Maaf.”

Soojung tidak dapat membalas apa-apa. Ia hanya diam di tempatnya sembari menatap Himchan dengan pandangan kesal bercampur malu. Barusan ia marah-marah di depan laki-laki yang menurutnya… cukup tampan. Ditambah suaran beratnya, seakan menambah nilai tambah dari Soojung.

“Kau masih tetap di sini?” pertanyaan itu justru membuat Soojung syok. Laki-laki ini… mengusirnya dengan terang-terangan.

Kemudian Soojung memutar bola matanya sebelum ia beranjak pergi untuk kembali ke rumahnya. Ia tidak pernah habis pikir akan ada orang yang bakal mengusirnya seperti ini. Sebelumnya tidak pernah ada…

Di belakang Soojung, Kim Myungsoo berdiri sembari memperhatikan Himchan dan Soojung. Dan begitu Himchan menyadari keberadaan Myungsoo, ia mengerutkan keningnya heran kenapa laki-laki itu berdiri diam di sana.

Ketika Soojung sudah menutup pintu rumahnya, barulah Myungsoo menghampiri Himchan.

“Tadi Sooji kemari.” Beritahu Himchan sembari memberi jalan untuk Myungsoo agar bisa masuk.

Mendengar nama Sooji disebut-sebut oleh teman sekamarnya itu, Myungsoo menoleh. “Kenapa?” tanyanya sembari menutup pintu dan menguncinya.

Himchan mengangkat kedua bahunya sambil lalu dan menghampiri alat musik tradisionalnya yang tadi sedang ia mainkan. “Dia bilang bahwa dia khawatir.” Jawab Himchan sembari meletakkan janggonya ke tempat sebelum ia memainkannya. “Sudah tiga hari kau tidak menghubunginya, bukan?”

“Belakangan ini klub sedang ramai.” Ucap Myungsoo begitu Himchan mengingatkannya bahwa ia sama sekali belum menghubungi Sooji sejak ia ikut latihan di kampusnya.

“Jadi, kau belum bilang padanya bahwa kau berkerja di klub?” tanya Himchan dengan nada serius.

Dan, Myungsoo pun hanya menggelengkan kepalanya pelan.

“Secepatnya beritahu dia. Kalau dia tahu dari orang lain, dia pasti sangat kecewa karena kau merahasiakan pekerjaanmu padanya.” Himchan yang lebih tua dua tahun dari Myungsoo pun memberi nasihat untuk laki-laki itu. Dan nasihat tersebut sangat masuk akal.

~›~›~›~

Langkah Soojung berhenti tepat di depan ruang tari yang berada di lantai dua di gedung timur sekolah. Akhirnya ia sudah memutuskan untuk masuk klub tari karena tidak ada klub cheerleader seperti klub yang ia ikuti di sekolah lamanya.

Begitu ia membuka pintu ruangan tersebut, ia bisa merasakan bahwa semua mata langsung tertuju padanya. Ada yang menatapnya tidak suka, ada yang senang, dan ada juga beberapa yang tidak terlalu peduli.

Lalu, seorang wanita berponi yang kira-kira berumur pertengahan dua puluh tahun dan berwajah chinese menghampirinya dengan wajah ramah namun berkesan tegas.


Soojung yakin sekali bahwa wanita itu bukanlah murid di sekolah ini karena wanita itu terlihat terlalu tua untuk dibilang sebagai seorang pelajar. Ia beranggapan bahwa wanita itu adalah pelatih dari klub tari.

“Kau anak baru itu, ya?” tanya wanita itu dengan senyum khasnya. Aksen bicara sangat aneh.

Oh, ternyata dirinya cukup terkenal di sekolah ini sampai-sampai wanita yang diduganya adalah seorang pelatih tahu tentang dirinya. “Yes.”

Kemudian wanita itu mengulurkan tangannya untuk berjabat tangan. Soojung yang merasa bahwa berjabat tangan seperti ini sangatlah formal pun membalas jabatan tangan wanita itu.

“Victoria Song,” katanya memperkenalkan diri. “Kau bisa memanggilku Vict. Dan, aku pelatih klub tari.” Benar kan dugaan Soojung.

“Jung Soojung.” Balas Soojung singkat tanpa memedulikan sopan santun terhadap orang yang lebih tua. Toh, wanita itu tidak juga masih muda. Begitulah yang dipikirkan Soojung.

“Jadi, kau benar-benar ingin masuk klub tari?” tanya Victoria masih dengan senyumnya.

Soojung mengangguk.

“Sebelumnya kau ikut klub apa?” tanya seseorang laki-laki yang berdiri di samping-belakang Victoria.

Soojung menoleh. “Cheerleader.” Jawab Soojung dengan sedikit arogan.

Mendengar itu, beberapa orang lainnya langsung menatapnya sedikit takjub dan kembali berbisik-bisik dengan teman di sebelahnya.

“Kalau begitu, kami ingin melihat kemampuanmu. Boleh kan?” Victoria bertanya lagi. “Bukan karena kami tidak mempercayai perkataanmu tadi”—mendengarnya, Soojung justru merasa tersindir—”tetapi karena kami ingin tahu apakah kau bisa ikut dalam pertunjukan untuk memeriahkan acara ulang tahun sekolah bulan depan.”

Ah, Soojung mengerti. Jadi, ia menganggukkan kepalanya dengan mantap. “Tentu saja.”

Setelah mendapat persetujuan dari Soojung, Victoria pun berkata lagi—namun bukan pada Soojung melainkan laki-laki yang tadi bertanya padanya. “Moon, musiknya sudah siap?”

Laki-laki yang dipanggil Moon itu pun sedikit berlari ke arah tape dan mengankat tangannya. “Yes, ma’am.” Serunya bersemangat.

Lalu, musik berirasa beat pun terdengar di seantero ruang tari, membuat Soojung langsung menhadap cermin besar yang ada di hadapannya dan mulai menggerakkan tubuhnya sesuai alunan lagu.

~›~›~›~

Kemampuan menari Soojung memang bisa diancungi jempol. Tingkahnya memang seperti ia bisa dan mampu melakukan apa saja, tapi itu memang terbukti. Jadi, hampir seluruh murid di sekolah mengenal dan membicarakan dirinya.

Lagi-lagi ia menjadi populer dalam kurun waktu beberapa hari sejak ia kembali ke Korea.

Walaupun ia tahu ada beberapa murid perempuan yang tidak menyukainya, atau malah membencinya, ia sama sekali peduli. Memang apa pedulinya? Toh, kalaupun orang-orang itu membencinya, tidak akan membuat kedua orangtuanya jatuh miskin.

Tapi, kenyataannya, ialah yang tengah jatuh miskin.

“Aku iri dengan anak baru itu,” secara tidak sengaja, Soojung mendengar dua orang siswi dengan rambut hitam pendek berkacamata berbicara. Tidak salah lagi, pasti kedua orang itu membicarakannya. “Dia kaya raya, cantik, pandai menari, dan populer.”

“Tapi, aku tidak suka sikapnya. Terlalu banyak tingkah.” Mendengar alasan dari yang satunya, Soojung mencibir tanpa suara. “Kurasa Sooji lebih baik dibanding anak baru itu. Setidaknya ia tidak banyak tingkah.”

“Dan, dia juga pintar.” Tambahnya lagi, membuat Soojung mendengus tak percaya.

Karena tak tahan lagi mendengarnya, Soojung pun keluar dari persembunyiannya dengan memasang tampang seolah ia tidak mendengar apa-apa. Sedangkan kedua gadis yang tadi membicarakannya itu langsung menutup mulut mereka rapat-rapat begitu melihat Soojung lewat tepat di hadapan keduanya.

“Oh, apa dia mendengarnya?” samar-samar Soojung mendengarnya.

“Kurasa tidak,” sahut yang satunya. Dan selanjutnya, ia tidak bisa mendengar lagi karena ia sudah melangkah menjauh dan keluar dari gedung sekolah.

Untuk hari ini, ia tidak langsung pulang ke rumah melainkan ke supermarket untuk membeli kebutuhan makanannya. Ia memang bisa memasak, tapi ia tidak bisa memasak makanan Korea dan hanya bisa memasak masakan Amerika. Dan, ia lidahnya belum terbiasa untuk makan makanan lokal.

Begitu bus berhenti di halte di daerah apartemennya, ia pun melangkahkan kakinya menuju supermarket yang sering dilewatinya ketika ia hendak berangkat ataupun pulang dari sekolah.

Setelah memilih bahan makanan, akhirnya pun Soojung membeli roti tawar, selai, ramyun dan beberapa bahan makanan lainnya yang bisa ia masak. Dan, uang yang sebelumnya sudah berkurang cukup banyak, kini terpakai seperempatnya. Dan, bahan makanan ini hanya bisa digunakkan kurang lebih tiga hari…

Tamatlah riwatnya sekarang.

Saat ia keluar dari supermarket tersebut, ia hanya bisa menghela nafasnya berat bercampur jengkel sembari melihat dompetnya. Masih ada lebih dari tiga minggu lagi sebelum ia mendapatkan uang lagi dari ayahnya. Bagaimana ini?

Tanpa mau memikirkan kembali, ia pun kembali melangkah dengan langkah berat menuju apartemennya. Doanya kali ini, ia hanya ingin kembali ke kehidupan lamanya.

Ini saja baru empat hari ia tinggal seperti ini, bagaimana kalau ia harus tinggal sampai berbulan-bulan? Ah, berpikir positif sajalah.

Sesampainya di apartemennya, di dekat lift sudah dipenuhi orang—termasuk laki-laki tua yang berjaga di pos di depan. Soojung yang tidak mengerti hanya berdiri di sana untuk menunggu.

“Nona, lift-nya rusak.” Kata laki-laki tua yang sering di panggil Ahn ahjussi itu tiba-tiba pada Soojung.

Ne?” ulangnya untuk memastikan. Jangan bilang…

“Maafkan saya nona. Saya juga tidak mengerti kenapa tiba-tiba liftnya macet. Untung saja tidak ada orang di dalam lift.” Lanjut Ahn ahjussi.

Soojung mengerjapkan matanya sesekali. Lalu? Batinnya bertanya dengan cukup sinis.

“Jadi, lebih baik nona naik melewati tangga saja. Hitung-hitung olahraga.” Tanpa merasa ada dosa, Ahn ahjussi berkata dengan cengiran bodoh yang menunjukkan gigi ompongnya di sebelah kiri.

“Olahraga pantatmu,” cibir Soojung sembari memutar bola matanya. Dan tanpa melihat reaksi Ahn ahjussi, ia pun langsung beranjak menaiki anak tangga.

Dengan nafas tersenggal, akhirnya ia sampai juga pada anak tangga paling atas yang menghubungkan dengan lantai dimana apartemennya berada.

Dan sepertinya para tetangganya pun lebih memilih untuk berada di dalam apartemennya dibandingkan harus naik-turun dari lantai lima ke lantai satu menggunakan tangga karena koridor dari sepanjang anak tangga sampai ke ujung sepi—padahal ini jam biasanya banyak orang yang keluar-masuk apartemen.

“Argh,” keluhnya saat ia sudah berada tepat di depan pintu apartemennya sembari memegang kakinya yang terasa pegal. “Tidak heran kalau apartemen ini sangat murah.” Gerutunya sembari merogoh saku blazernya untuk mengambil kunci.

Setelah ia memutar kunci, pintu tersebut pun langsung terbuka. Namun, sebelum ia membuka pintu lebih lebar untuk dirinya sendiri, suara yang terdengar cukup asing bagi telinganya terdengar memanggil namanya.

Saat ia menoleh, matanya membelalak terkejut mendapati sosok Oh Sehun yang masih mengenakan seragam sekolahnya berdiri tidak jauh darinya.

Sehun pun memiringkan kepalanya sedikit sembari tetap melihat ke arah Soojung. Kemudian tangannya pun terangkat ke atas.

“Kau menjatuhkan ini.” Ucapnya sembari mengangkat tangannya yang menggenggam dompet berwarna biru muda bercampur putih milik Soojung.

~›To be continue›~

7 thoughts on “Floral Notes [Chapter 3]

  1. Hai author aku reader baru disini🙂 Ff floral note ini ff pertama yg aku baca disini dan aku suka banget sama ff ini. Tapi kenapa ff floral note ga di lanjut thor? sayang loh padahal ceritanya bagus aku penasaran sama cerita selanjutnya. Author please di lanjut lagi yah ff floral note nya ya ya ya😉

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s