A Heartbreak – Chapter 5



  • Tittle    : A Heartbreak
  • Author    : EnnyHutami
  • Lenght    : Series
  • Rating    : General
  • Genre    : Romance, sad
  • Cast    :
  1. Jo Kwangmin
  2. Bae Sooji
  3. Oh Sehun
  4. Oh Hayoung
  5. And others

Copyright © original story by EnnyHutami 2012

~œœœ~

Jalanan malam Seoul yang ramai lancar terlihat sangat indah dengan lampu-lampu bangunan dan gedung tinggi yang bersinar. Keadaan malam Seoul akan menjadi sangat indah jika saja Kwangmin tidak menyatakan perasaannya pada Sooji dan membuat gadis itu merasa bersalah—terlebih lagi saat tiba-tiba Youngmi datang untuk menjemputnya.

“Bagaimana kau tahu aku ada di sungai Han, eonni?” tanya Sooji saat dia sedang berada di dalam mobil van milik agensinya.

Youngmi menoleh ke belakang. “GPS dari ponselmu.” Jawabnya dengan nada monoton.

“Oh,” gumam Sooji yang tidak tahu harus menyahuti apa lagi. Dan, di dalam hatinya, ia merasa sangat bersalah pada Kwangmin karena tiba-tiba ia meninggalkannya sendirian di sana tanpa mengatakan sepatah katapun sangkin bingungnya dia. Dan, jaket Kwangmin pun masih terpasang di pundaknya.

Tadi, otak Sooji benar-benar kosong—tidak tahu harus mengatakan apa dan tidak tahu harus melakukan apa. Jadi, saat Youngmi datang, ia hanya mengikuti managernya itu tanpa berpamitan dengan Kwangmin.

Kira-kira, bagaimana perasaan Kwangmin saat ini?

“Sooji,” panggil Youngmi sambil menolehkan kepalanya ke belakang untuk melihat wajah Sooji. “Kau bilang kau pergi bertiga.” Katanya.

Sooji mengangguk. “Aku memang pergi bertiga dengan Jieun eonni,”

“Lalu?” sela Youngmi tidak sabar, membuat Sooji menghela nafas.

“Jieun eonni pulang lebih awal karena ada keperluan lain dengan seseorang.” Jawab Sooji jujur.

“Dan, kenapa kau ada di sungai Han? Bukankah kalian pergi ke theme park?” tanya Youngmi lagi. Seperti biasa, Youngmi yang merasa mempunyai tanggung jawab atas Sooji setelah ibunya meninggal pun mengintropeksinya.

“Karena aku ingin melihat sungai Han di malam hari dengan mataku sendiri.” Jawab Sooji.

Kemudian, ponsel berwarna merah jambu milik Youngmi berdering. Membuatnya kembali melihat ke depan dan membiarkan Sooji sendiri dengan pikirannya tentang Kwangmin yang baru saja menyatakan perasaan padanya.

Omong-omong, apa yang akan Sooji lakukan jika saja Youngmi tidak datang tiba-tiba? Entahlah. Sooji sendiri tidak tahu apa yang akan ia lakukan. Ia terlalu bingung. Sebelumnya, ia tidak pernah menyangka bahwa Kwangmin menyukainya. Ia pun hanya menganggap Kwangmin sebagai adik yang sangat baik padanya.

Hanya sebagai keluarga.

Kemudian, ponsel yang sedari tadi ada di dalam tas tangannya bergetar, membuatnya menoleh lalu melihat layar ponselnya tersebut. Pesan singkat dari Kwangmin.

[Maaf kalau aku membuatmu terganggu. Aku hanya ingin jujur padamu, sunbae. Sekali lagi aku minta maaf]

Begitulah isi pesan singkat Kwangmin yang justru membuat Sooji semakin merasa bersalah karena meninggalkan Kwangmin tanpa mengatakan apapun. Jadi, Sooji pun cepat-cepat membalas pesan tersebut.

[Tidak. Aku sama sekali tidak terganggu. Aku hanya… kaget, sungguh! Dan, otakku seakan kosong mendengarnya. Seharusnya aku yang minta maaf karena meninggalkanmu sendirian di sana. Aku tidak tahu Youngmi eonni akan menjemputku. Jangan merasa bersalah^^]

Lima menit setelah mengirim pesan singkatnya, Sooji pun langsung mendapat balasan dari Kwangmin.

[Benarkah? Kalau begitu, bolehkah aku bertanya sesuatu padamu, sunbae?]

Setelah membaca balasannya, Sooji ragu untuk membalas lagi. Pasalnya, ia merasa sesuatu yang akan membuat hubungannya dan Kwangmin menjauh.

Ia mengerjapkan matanya sebentar seraya memutar otaknya untuk berpikir. Bagaimana ini? Lagi-lagi, ia tidak tahu harus melakukan apa.

Lalu, dengan setengah hati, ia pun mulai menyentuh layar ponselnya lagi dan membalas pesan tersebut.

[Iya…]

Kali ini, balasan yang diterimanya tidak lebih dari tiga menit. Namun, ia sangat ragu untuk melihat isi pesan itu. Ia merasa ada yang mengganjal dalam hatinya. Dan entah apa hubungannya, hal itu membuat tenggorokannya kering.

Dengan merapatkan bibirnya, Sooji pun membuka pesan tersebut.

[Apa kau masih mau bermain dan berteman denganku setelah ini?]

Sooji menghela nafasnya lega.

~œœœ~

Sudah satu bulan berlalu sejak Kwangmin menyatakan perasaannnya pada Sooji. Walaupun begitu, keduannya masih saling berhubungan dan bermain bersama saat keduanya memiliki waktu luang.

Namun walaupun begitu, sebenarnya Sooji merasa aneh dan canggung dengan semua perlakuan baik Kwangmin. Ia merasa aneh… dan mulai berpikir sebaiknya ia tidak tahu perasaan Kwangmin yang sebenarnya.

Dan, saat ini, Sooji sedang berada di kampusnya. Ya, dia sedang berada di kelas barunya dengan mengenakan rok biru muda di bawah lutut dan kemeja berwarna putih. Kini, ia tidak lagi memakai seragam. Dan juga, ia tidak lagi mengenakan tas ransel besar.

Langkahnya ringan ketika ia berjalan dari ruang kelasnya menuju ke luar kampusnya yang gerbangnya cukup jauh ke depan. Langkah ringannya tersebut dikarenakan hari ini dirinya bebas dari semua jadwal yang dibuat Youngmi.

Akhirnya… Youngmi memberinya sedikit kelonggaran untuknya barang sehari. Wanita itu selalu saja membicarakan perkerjaan, dan tidak terlalu memedulikan urusan pribadinya. Dia selalu berkata bahwa karir Sooji harus naik dan terus naik tanpa skandal secuilpun.

Dan akhirnya, Youngmi berhasil membuat Sooji menjadi terkenal dengan segala prestasinya di bidang modeling atau pun akting tanpa terlibat skandal terhadap apapun.

Sooji menghela nafasnya ketika ia mengingat itu semua. Terkadang ia berpikir kenapa Youngmi tidak pernah sekalipun mengeluh lelah padahal pekerjaan Youngmi lebih berat daripada Sooji sendiri. Ia benar-benar tidak habis pikir.

“Sooji eonni!”

Sooji menolehkan kepalanya linglung ketika mendengar suara seorang gadis yang memanggil namanya. Ia heran mengapa ada yang memanggilnya ‘eonni‘ di kampusnya padahal ia adalah murid tahun pertama di sini.

Ketika ia menolehkan kepalanya ke arah sumber suara, ia mendapati Hayoung berdiri tepat di depan kursi taman kampus masih dengan seragam sekolahnya sambil melambaikan tangannya semangat.

Bagaimana dia bisa masuk kemari dengan seragam itu? batin Sooji sebelum ia menghampiri Hayoung.

Alis Sooji terangkat heran. “Hei,” sapanya dengan nada bingung, membuat Hayoung terkekeh.

“Heran melihatku di sini, ya?” tebak Hayoung dengan senyum lebar khas remajanya.

Sooji mengangguk ragu.

“Tadi Sehun oppa menjemputku ke sekolah untuk makan malam bersama. Lalu, dia bilang bahwa ada barangnya yang tertinggal di kelas, jadi kami kembali lagi kemari. Dan begitu dia sudah mendapat barangnya yang tertinggal, dia mendapat telfon dan bergegas pergi.”

Hayoung melipat kedua tangannya di depan perutnya. “Karena sudah terlanjur kesal dengan Sehun oppa, jadi aku minta tinggal di sini dan menunggu eonni untuk makan malam bersama.” Ceritanya panjang lebar.

Setelah itu, Sooji pun hanya mengangguk-anggukan kepalanya mengerti. “Sehun sedang sibuk?” tanyanya sebelum Hayoung mengajaknya berjalan.

Hayoung mengangguk. “Dia bilang tuan CEO ingin menemuinya.”

“Tuan CEO?” ulang Sooji.

“Pemilik perusahaan musik—eonni tidak tahu ya kalau Sehun oppa sekarang berkerja sebagai komposer?”

Sooji mengerjapkan matanya perlahan kemudian menggeleng. Ia tidak pernah tahu tentang itu. Yang ia tahu hanya Sehun kuliah dan masuk di kelas musik.

“Aku dengar ada beberapa perusahaan yang menginginkan oppa berkerja di tempatnya. Kurasa oppa benar-benar cerdas. Benar, bukan eonni?” celoteh Hayoung lagi.

Eoh,” Sooji mengangguk lagi menyutujui. Yang ia tahu, Sehun memang jenius.

~œœœ~

Kumpulan awan di langit mulai menggelap dan udara dingin mulai berhembus, membuat rambut hitam yang lurus dan panjang milik Jieun terbang tertiup angin serta menggelitik leher dan lengannya yang hanya mengenakan pakaian lengan pendek.

“Mau hujan.” Kata Jieun pada Kwangmin yang berdiri di sampingnya di sebuah halte di dekat kampus baru Sooji. “Aku rasa ia tidak akan datang—”

“Kau tahu dia tidak seperti itu.” potong Kwangmin cepat sambil menatap Jieun tajam.

Jieun terdiam melihat tatapan Kwangmin. Jujur saja, ini pertama kalinya Jieun melihat Kwangmin menatap tajam orang lain. Jelas ia tahu ada yang aneh dengan sepupunya itu.

Jadi, Jieun memicingkan matanya menatap Kwangmin yang sekarang menatap lurus ke depan. “Ada apa?” tanya Jieun lembut.

Kwangmin tidak menjawab, ia hanya menoleh heran pada Jieun.

“Aku tahu ada yang terjadi padamu. Katakan saja.” Kata Jieun lagi.

Kwangmin menatap Jieun ragu sebelum akhirnya ia menjawab, “Aku… menyatakan perasaanku—tapi, tidak mengajaknya berkencan.”

Jieun menatap Kwangmin dengan pandangan menuduh. Ia tahu Kwangmin berbohong. Ia tahu alasan yang baru saja dikatakan Kwangmin bukanlah yang sebenarnya. “Aku tahu bukan karena itu.” Katanya. “Apalagi yang mengganjal pikiranmu… atau mungkin hatimu?”

Kwangmin terdiam. Ia tidak tahu maksud Jieun—mungkin lebih ke pura-pura tidak tahu. Dan, dia juga tidak mau tahu. Lalu, ia pun menggelengkan kepalannya.

Mata Jieun menyipit. “Aku mengenalmu tidak hanya hari ini, bulan ini atau tahun ini. Aku mengenalmu bahkan sejak kau lahir. Kau ingat?”

Kwangmin menghela nafasnya. Apa yang Jieun katakan benar. Gadis itu mengenalnya. Sangat sangat mengenalnya.

“Jadi?” tanya Jieun lagi sambil memiringkan kepalanya. Namun, Kwangmin tak kunjung menjawab, membuat Jieun menghela nafas sakartis dan memutar bola matanya. “Aku menceritakan semua masalahku padamu. Kenapa kau—”

“Aku menyukai dua gadis.” Kwangmin memotong kalimat Jieun tanpa menoleh ke arah Jieun dan menundukan kepala melihat sepatunya.

Jieun terdiam sambil menatap Kwangmin antara terkejut dan tak percaya. Dirinya memang pernah mendengar kata ‘menyukai dua orang’ tetapi ia tidak pernah menduga bahwa sepupunya akan mengalami hal semacam ini. Jadi, saat ini ia tidak tahu harus berkata apa selain, “Apa?”

Lagi-lagi Kwangmin menghela nafasnya panjang. Kemudian ia mengangkat kepalanya dan menoleh pada Jieun. “Noona tahu apa dan siapa yang kumaksud.” Jawabnya. Tidak mau menjelaskan lebih detail.

Jieun mengerjapkan matanya, lalu menegapkan badannya. “Lalu… karena itu kau menyatakan perasaanmu pada Sooji?” tanyanya setelah cukup lama terdiam. Dan, Kwangminmengangguk.

Setelah itu, keduanya saling diam dan tenggelam dalam pikirannya masing-masing sampai bus datang.

Kemudian Jieun melirik Kwangmin dan langit yang mulai gelap. “Akan turun hujan.” Ujarnya. “Kau tetap ingin di sini?” tanyanya kemudian.

Kwangmin menoleh lalu mengangguk tanpa bersuara. Dan, Jieun pun berdiri dan membenarkan tali tas tangannya yang melorot dari pundak. Lalu, “Kalau begitu aku duluan.” Katanya lalu masuk ke dalam bus yang menunggu.

Dari dalam bus, Jieun tetap melihat ke arah Kwangmin yang terlihat murung. Ini kedua kalinya ia melihat adik sepupunya tidak banyak bicara dan terlihat seperti itu. Pertama, saat kakak kembarnya, Jo Youngmin, meninggal karena kecelakaan yang membuatnya koma beberapa hari. Dan yang kedua, sekarang ini. Karena dua orang gadis. Yang satu satu tahun lebih tua, yang satunya lebih muda satu tahun.

Saat bus mulai melaju, Jieun menghela nafasnya dan menatap ke depan. Ia tidak menyangka bahwa adik sepupunya sudah menjadi lelaki.

¯

Angin dingin yang menandakan bahwa sebentar lagi akan turun hujan berhembus membuat dua orang gadis yang tengah berjalan beriringan memeluk dirinya sendiri dengan menyilangkan kedua tangannya di depan perut.

Hayoung yang hanya mengenakan seragam dengan rok di atas lutut terus saja mengoceh tak keruan untuk menutupi kakinya yang mulai kedinginan.

“Sehun oppa selalu menyuruhku masuk ke sekolahnya jika aku kembali kemari. Padahal ia tahu bahwa aku tidak berbakat tentang musik. Tidak seperti dirinya dan eonni.” Ocehnya. “Eonni, apa kau bisa bernyanyi? Oh, atau memainkan alat musik dan menari?”

Sooji merapatkan kardigan hijau yang dikenakannya. “Mm, kurasa aku bisa menyanyi dan menari. Aku selalu mendapatkan A saat ujian dari kedua mata pelajaran itu. Namun, kurasa aku tidak terlalu ahli bermain alat musik.”

Jinjja? Kalau begitu eonni bisa menjadi idol!” pekik Hayoung semangat, membuat Sooji tertawa.

“Aku tidak mau.” Balas Sooji sambil menahan tawa.

Hayoung menautkan alisnya heran. “Wae? Banyak orang yang ingin menjadi idol, tetapi eonni tidak.”

“Bagaimana denganmu sendiri? Kau juga ingin?” alih-alih menjawab pertanyaan Hayoung, Sooji justru balik bertanya.

Aniyo.” Jawab Hayoung sambil menggelengkan kepala. “Aku juga tidak ingin.”

Sooji memiringkan kepalanya heran. “Wae? Apa karena kakakmu seorang komposer?”

Lagi-lagi Hayoung menggelengkan kepalanya. “Aku… tidak mau dikenal orang banyak.” Ia diam sebentar sebelum melanjutkan. “Melihat oppa yang populer dan dikenal banyak orang, aku jadi berpikir bagaimana kalau banyak lelaki yang menyukaiku? Duh, itu pasti akan merepotkan.”

Hayoung tertawa, membuat Sooji mendecak sekaligus tertawa. Pada akhirnya, Hayoung hanya bergurau.

Bila dipikir-pikir, sikap Hayoung dan Sehun sangatlah jauh. Hayoung yang ceria, mudah tertawa, mudah bergaul, dan juga humoris. Sedangkan Sehun sebaliknya. Apa mungkin karena Hayoung masih anak-anak? Pikir Sooji.

Lalu, percikan air menetes dari atas kepala mereka berdua. Saat keduanya mendongakan kepala ke atas, rintikan air turun semakin banyak.

“Hujan!” pekik Hayoung sambil menutupi kepalanya dengan telapak tangannya dan berlari masuk ke dalam restoran dengan Sooji di belakang. Setelah itu, mereka memilih tempat duduk yang dirasanya nyaman.

Kemudian, mereka pun langsung memesan makanan dengan minuman yang bisa menghangatkan tubuh mereka setelah terkena air hujan, tetapi bukan soju ataupun minuman beralkohol. Dan, Hayoung memesan sup.

“Semalam aku menonton drama eonni.” Kata Hayoung memulai sambil menyendok supnya.

Sooji mendongak. “Benarkah?”

“Mm.” Hayoung mengangguk. “Eonni terlihat cantik sekali di sana. Cocok sekali mengenakan seragam sekolah.”

Sooji terkekeh kecil. “Terkadang aku juga merindukan seragam sekolahku.”

“Aku dengar juga orang-orang dewasa selalu merindukan seragam mereka. Tapi, pengecualian untuk Sehun oppa.” Lagi-lagi Hayoung membuat Sooji tertawa. “Kelihatan sekali bahwa Sehun oppa membenci sekolahannya.”

“Semua orang juga begitu, bukan? Tidak hanya kakakmu saja. Aku pun sebenarnya membenci sekolah.”

Hayoung mengangguk-anggukan kepalanya. “Aku juga, sih. Tapi, Sehun oppa lulus lebih cepat sebelum waktunya.”

“Itu hanya karena dia jenius.” Koreksi Sooji. “Lagipula, kalau dia membenci sekolahnya tidak ada salahnya, bukan? Kau sendiri pun membenci sekolah.”

“Yah… aku sih tidak membenci sekolah sepenuhnya. Aku hanya membenci guru dan pelajarannya. Terlebih lagi jika guru yang mengajar tidak memiliki humor sama sekali dan selalu marah-marah jika masuk kelas. Ugh! Rasa aku ingin meninju wajahnya.”

Tawa Sooji makin keras namun masih menjaga suaranya agar tidak menganggu pengunjung lainnya.

Masih melahap sup hangatnya, Hayoung pun mencoba mengganti topik pembicaraan. “Eonni, apa kau punya nomor telfon Kwangmin sunbae?” tanyanya. “Kulihat eonni dengan Kwangmin sunbae cukup dekat.”

“Mm, aku punya.” Jawab Sooji. “Kau mau memilikinya?”

Hayoung tersenyum lebar pada Sooji sambil mengangguk dengan semangat. Membuat Sooji diam dan merasa aneh. Entah apa itu.

“Tunggu sebentar.” Kata Sooji sambil mencoba mencari ponsel di dalam tasnya. Pada saat Sooji baru menutup kembali resleting tasnya, tiba-tiba ponselnya bergetar tanda telfon masuk.

Ah! Ia lupa pada janjinya dengan Kwangmin dan Jieun. Mereka berdua pasti telah lama menunggunya. Pikirnya saat Sooji melihat nama Kwangmin di layar ponsel.

Baru saja ia hendak menjawab telfon Kwangmin, namun Hayoung berbicara lagi. “Aku menyukai Kwangmin.” Kata Hayoung tiba-tiba tanpa mengalihkan pandangannya dari mangkuk sup di depannya, membuat mata Sooji terbelalak tidak percaya dan membiarkan ponsel di tangannya terus bergetar.

“Kurasa… aku menyukainya.” Ulang Hayoung. Kemudian mendongakan kepalanya menatap Sooji. “Bagaimana menurut eonni? Apa Kwangmin sunbae juga menyukaiku?”

Eoh?” Sooji menggelengkan kepalanya kecil untuk kembali ke akalnya. “K-kurasa… iya.” Kemudian menganggukan kepalanya linglung.

Apa yang harus kulakukan? Batin Sooji bingung karena Kwangmin baru saja menyatakan perasaan padanya. Bagaimana kalau Hayoung tahu? Mungkin, gadis itu akan kecewa—atau yang lebih parahnya lagi—Hayoung bisa saja marah padanya.

Lalu, Sooji mematikan ponselnya dan membiarkan telfon Kwangmin begitu saja. “Hayoung-ah… ponselku mati.” Katanya beralasan seraya menunjukan pada Hayoung ponselnya yang baru saja dinon-aktifkan.

Entah kenapa, ia sedikit tidak rela mendengar Hayoung menyukai Kwangmin. Ia tidak tahu apa alasannya.

¯

Kedua kaki itu sedikit melompat-lompat saat ia tengah berjalan di lorong panjang di sebuah bangunan apartemennya sangkin senangnya dia. Hari ini, kali pertamanya ia mengungkapkan perasaannya sendiri tentang Kwangmin pada orang lain.

Kemudian kakinya pun berhenti di depan sebuah pintu berlapis besi dan menekan tombol-tombol angka yang tertera di sebuah mesin kecil di samping pintu tersebut. Dan, setelah itu pintu di depannya pun terbuka.

“Aku pulang.” Ujarnya sambil melepaskan sepatunya sebelum ia masuk ke dalam rumah.

“Hai,” sapa seorang lelaki yang baru pertama kalinya ia lihat sambil tersenyum ke arah Hayoung. Laki-laki itu berambut kecokelatan dengan wajah manis.

Hayoung diam seraya memperhatikan laki-laki yang berada di ruang tamu. “Kau teman Sehun oppa?” tanyanya saat otaknya mulai mencerna apa yang terjadi sambil memegangi tali tasnya.

“Mm,” jawab laki-laki itu masih dengan senyumnya. “Kau pasti Hayoung, bukan?” kemudian ia berdiri dan menghampiri Hayoung, lalu mengulurkan tangan kanan ke depan. “Aku Lee Taemin. Teman lama kakakmu.”

Hayoung mengangguk-anggukan kepalanya dan menjabat tangan Taemin sebentar. “Sehun oppa di rumah, bukan?” tanyanya lagi.

“Dia di kamar mandi.” Sahut Taemin.

“Oh, baiklah.” Gumam Hayoung sebelum ia berbalik ke kamarnya. “Aku tinggal ya.”

Setelah menutup pintu kamarnya, Hayoung langsung melempar tasnya ke sofa kecil di bawah jendela, mengambil ponselnya, dan juga melempar tubuhnya sendiri ke atas kasur empuk miliknya.

Tadi, Sooji sudah berjanji padanya bahwa ia akan mengirimkan nomor ponsel Kwangmin. Dan, tanpa alasan tertentu, pipinya terasa panas karena senang bercampur malu.

Kemudian ia bangun ketika teringat sesuatu. “Apa yang harus kulakukan setelah ini?” gumamnya pada diri sendiri. “Menelfonnya? Mengiriminya pesan singkat?”

Lalu tatapannya beralih ke luar jendela. Di luar hujan deras. Sangat tidak sama dengan suasana hatinya saat ini yang cerah.

Angin dingin khas hujan berhembus masuk ke dalam kamarnya. Ia mengerutkan keningnya heran. Bagaimana bisa ada angin yang berhembus masuk ke kamarnya? Namun, setelah diperhatikan lebih seksama, tenyata jendela kamarnya sedikit terbuka.

“Pantas saja,” decaknya sambil beranjak lalu menuntup dan mengunci jendela kamarnya. “Ngomong-ngomong… kapan aku membuka jendela?” tanyanya lebih kepada dirinya sendiri dengan memiringkan kepalanya mencoba mengingat-ingat.

“Sebenarnya apa yang kau ingin katakan?”

Samar-samar, Hayoung mendengar suara—yang pasti bukan kakaknya—Taemin yang ada di luar kamar dengan nada serius. Keningnya berkerut heran. Beberapa menit yang lalu cara bicara laki-laki itu ramah dan santai. Kenapa tiba-tiba berubah serius?

Kemudian Hayoung mencoba mencuri dengar. Walaupun ia tahu ini adalah hal yang tidak baik, namun dalam hatinya ia penasaran. Kakaknya itu hampir tidak pernah membawa seorang teman kemari—sepengetahuannya sih begitu.

“Masih ingat anak yang kau tabrak dua tahun yang lalu?” ini baru suara kakaknya, Oh Sehun. Tetapi—tunggu. Sehun menabrak seorang anak saat ia tidak berada di sini?

“Hei—hei,” Hayoung mendengar bahwa Taemin seperti memprotes. “Kejadian itu sudah lama terjadi.”

“Kau pikir keluarga anak itu melupakannya begitu saja? Anak itu meninggal!” balas Sehun sakartis. Baru pertama kalinya Hayoung mendengar kakaknya berbicara dengan dingin seperti itu.

“Apa maksudmu?” Taemin bertanya dengan alis terangkat sebelah karena heran. “Jangan bilang…”

“Aku bertemu keluarganya.” Kata Sehun tanpa menunggu Taemin melanjutkan kalimatnya. “Anak yang kau—”

“Kita.” Koreksi Taemin keras kepala, membuat Sehun menatapnya tajam. “Kau dan aku ada di dalam mobil.”

Di dalam kamarnya, Hayoung menutup mulutnya karena tidak percaya dengan apa yang saat ini ia dengarkan.

Suasana di apartemen tersebut sangat tegang. Baik di dalam kamar Hayoung ataupun di ruang tamu. Walaupun Hayoung hanya mendengar percakapannya saja, namun pundaknya terasa tegang.

Setelah itu hening yang sangat tidak nyaman menyelimuti sekeliling mereka cukup lama. Sehun mencoba menahan nafas untuk menahan emosinya. Begitu juga dengan Taemin yang sesekali melirik ruang kamar yang baru saja dimasuki oleh Hayoung. Tidak mustahil jika gadis itu sedang mendengarkan saat ini.

“Lalu, apa yang kau inginkan?” tanya Taemin. Kali ini dengan nada yang lebih rendah.

Sehun diam sejenak mencoba menyusun kalimat. “Anak yang kau—baiklah, kita,” ia mengoreksi ucapannya sendiri karena reaksi Taemin yang hendak memprotes lagi dengan menekankan kata ‘kita’ seperti yang diinginkan Taemin. “Anak itu… Hayoung menyukainya.” Lanjutnya.

“Apa?” pekik Taemin pura-pura tidak mengerti. “B-bagaimana… bisa?”

Di dalam kamar, mata Hayoung mulai berkaca-kaca. Yang ia sukai? Tidak mungkin Kwangmin karena Sehun belum tahu jika ia menyukai Kwangmin. Lalu… Youngmin?

“Hayoung adik kelasnya. Dan, Sooji mengenal kembarannya.” Jelas Sehun, membuat air mata Hayoung mengalir begitu saja dari pelupuknya. Yang dimaksud oleh Sehun benar-benar Youngmin.

Jadi… itu sebabnya Kwangmin tidak menjawab saat Hayoung bertanya tentang keberadaan Youngmin?

“Lupakan saja. Jangan beritahu siapapun.” Tandas Taemin seraya mengambil jaketnya untuk pergi.

Lalu, tanpa dipikirkan terlebih dahulu, Hayoung keluar dari kamarnya masih dengan seragam dan wajahnya yang basah oleh air mata. Sehun dan Taemin yang terkejut langsung menoleh dan terperanjat, terlebih lagi Sehun.

Oppa…” isak Hayoung sambil menatap Sehun kecewa dan tidak percaya. “Aku benci oppa!” teriaknya lalu berlari keluar apartemen tanpa mengenakan alas kakinya dan terus berlari menuruni anak tangga di pintu darurat karena ia tidak mau menaiki lift.

Kakinya terus berlari menerobos hujan deras sambil menangis. Tanpa peduli orang-orang yang melihatnya dan menganggapnya gila.

~To be continue~

~Wait another story~

Maaf karna lama. Maaaaaaaaaaf‼! Sebenarnya, dikit lagi selesai udah dari seminggu yang lalu sebelum ujian. Tapi aku bingung buat ngasih kata-kata sebelum tbc-_- hampir seminggu aku ngerjain buat beberapa paragraf di akhir chapter ini! Astagfirullah. Keselnya jadi banget deh pas cuma buka word tapi gatau mau nulis apa (kenapa jadi curhat?) okelah, berhubung ini baru selesai, jadi aku mau langsung publish. Dan buat chapter selanjutnya, aku nggak ngejanjiin buat minggu depan publish karena sekarang aja baru ada 2 page doang._.v dan juga aku harus pergi ke jogja jadi gabisa lanjut nulis seminggu……..

Okelah. Segini aja, selamat nunggu chapter 6nya~ ppyong!

24 thoughts on “A Heartbreak – Chapter 5

  1. yah, kayanya prasaan suzy mulai trbuka nie ma youngmin. Gimana yh kasian juga suzy kalo gk brsatu, tp hayoung’a gmna. Sad ending yh thor, knp suzy gk sama sehun aja. D’tunggu next’a

  2. Ooooooo sehun😦
    suzy ihir ihir udh mulai move on, suzy ma youngmin aja chingu kekkeke tpi ma sehun jg boleh but no sad end #maksa dikit
    hayoung mo kmn hujan2 tnpa alki??

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s