Floral Notes [Chapter 2]




Title : Floral Note

Author : EnnyHutami

Genre : Romance, Drama, Comedy

Rating : General

Leght : Series

Cast :

F(x)’s Krystal and Sulli, Miss A’s Suzy, A-Pink’s Naeun, INFINITE’s L, SHINee’s Taemin, EXO’s Sehun, B.A.P’s Himchan, and others.

Previous : Chapter 1

That flower is in bloom.

Copyright © EnnyHutami’s fanfiction story 2013. Swinspirit.

~›~›~›~

Otak Soojung benar-benar buntu saat ini. Sebanyak apapun guru yang sedang mengajar di depan kelas sekarang, tak ada satupun yang masuk ke otaknya. Terlebih lagi, saat ini adalah jam untuk pelajaran matematika. Dan parahnya, guru yang mengajar adalah guru berwajah galak yang ia temui di ruang guru.

“Jung Soojung,” mendengar namanya dipanggil, Soojung langsung merutuk dalam hati. “Kerjakan soal di depan.” Kata guru yang ternyata bermarga sama dengan Soojung.

Soojung melihat ke papan tulis di depan dengan seksama dengan menggigit bibir bawahnya, kemudian berdiri. “Saya tidak mengerti.” katanya terang-terangan, membuat seluruh murid yang ada di kelas menoleh dan menatapnya takjub.

Mungkin karena guru Jung dikenal sebagai guru ‘killer‘ dan tak ada satupun murid yang berani padanya.

Guru Jung menaikkan sebelah alisnya dan menghampiri Soojung yang masih berdiri tanpa rasa takut. Bagi Soojung, kejadian seperti ini sudah biasa di sekolah lamanya. Setelah ini, guru Jung pasti akan menyuruhnya mengulangi kalimatnya. Itulah dugaan pertamanya.

“Apa yang kau lakukan di rumah?” namun, dugaan Soojung meleset.

Soojung mengerjapkan matanya sekali lalu berusaha setenang mungkin. “Hm, karena saya baru saja datang kemari dan kelelahan karena harus berada di pesawat lebih dari dua belas jam, jadi saya hanya tidur.” Jawabnya sesantai mungkin.

“Sebelum itu.” Sahut guru Jang dengan nada penekanan. “Apa yang kau lakukan selama bersekolah di Amerika?”

It’s not your business, sir.” Balasan Soojung yang sangat berani itu membuat semua murid di kelas melongo sangking tak percaya pada Soojung yang merupakan murid baru.

Suasana di kelas sangat mengerikan bagi murid-murid yang lain karena mereka tidak tahu apa yang akan guru Jung lakukan pada murid yang seberani Soojung. Mungkin kalau Soojung adalah murid laki-laki, guru Jung akan segera menghajarnya. Tetapi, itu hanya kemungkinan.

Kemudian, bel tanda pergantian pelajaran pun terdengar di seluruh sudut sekolah, membuat beberapa murid menghembuskan nafas yang sedari tadi ditahan.

“Temui saya di ruang guru setelah ini.” Perintah guru Jung pada Soojung dengan wajah galaknya.

Soojung hanya bergumam untuk menjawab perintah guru Jung. Lalu, saat guru itu keluar kelas, Soojung duduk kembali sambil menyisir rambutnya kebelakang dengan jari. Sedangkan murid yang lainnya hanya bergumam seperti, “Itu mengerikan”, “anak baru itu keren” , dan lainnya.

“Wow! Kau hebat!” kata seorang gadis berwajah cantik dengan poni yang menutupi keningnya yang duduk di depannya seraya mengacungkan dua jempol tangannya.


Sebelum Soojung membalas, beberapa murid pun menoleh padanya dan menyetujui pujian gadis yang di nametagnya tertulis nama Choi Jinri dengan marga Choi.

“Serius, you’re the best!” sambar seorang murid lainnya yang di nametagnya bertuliskan Choi Junhong dengan marga Choi. “Tidak ada yang berani bilang begitu pada guru Jung.” Lanjutnya.

“Apanya yang hebat?” celetuk seorang gadis yang duduk di barisan paling depan.

Orang itu lagi, batin Soojung.

Gadis yang sama dengan yang Soojung temui pertama kali saat menginjakkan kakinya di sekolah ini. Dan, dari saat itu pula Soojung sudah merasa tidak menyukainya. Gadis yang di nametagnya tertera nama jelas Son Naeun itu terlalu sinis dan sangat tidak ramah.

“Sudah jelas dia itu bodoh.” Lanjut Naeun dengan sinis, membuat beberapa orang menoleh padanya tidak terkecuali Soojung, Jieun dan Junhong.

“Kau anak baru,” kalau seorang laki-laki yang duduk di pojok baris kedua tidak memanggilnya, mungkin Soojung akan langsung melabrak Naeun saat ini juga. “Ingat kau harus menemui guru Jung?” tanyanya mengingatkan.

Dan, baru Soojung sadari bahwa laki-laki yang barusan berbicara adalah laki-laki yang menolongnya di bus tadi pagi. Nama Oh Sehun tertera dari nametag yang terpasang di seragamnya.

“Siapa dia?” tanya Soojung pada Jinri yang duduk di depannya.

Jinri menoleh ke belakang lagi. “Siapa? Son Naeun?” tanyanya balik tak mengerti.

“Yang laki-laki.” Jawab Soojung seraya melirik Sehun.

“Ah,” ucap Jinri. “Oh Sehun?” Soojung mengangguk. Lalu, Jinri melanjutkan. “Dia ketua kelas. Murid terpintar dan terkeren di sekolah.”

~›~›~›~

Bel tanda jam pelajaran telah habis sudah berdering sekitar lima menit yang lalu. Namun, beberapa murid masih berada di kelas untuk menyelesaikan tugas mereka atau hanya sekedar menunggu teman dari kelas lain.

Begitu juga pada Sooji yang tengah bergegas keluar dari sekolah.


“Sooji-ya!” panggil Jinri setengah berlari menghampiri Sooji yang berjalan jauh di depan.

Mendengar suara yang sudah tidak asing lagi memanggil namanya, Sooji berhenti dan membalikkan badannya.

Ya, kau mau kemana?” tanya Jinri setelah menarik nafas kembali.

Sooji memutar otaknya sesaat. “Tentu saja mau pulang. Wae? Kau ada perlu?” tanyanya kemudian.

Jinri menganggukkan kepala dengan wajah polos. “Mm, aku mau mentraktirmu makan.”

Alis Sooji terangkat sebelah. “Tumben sekali…” gumam Sooji tanpa mengalihkan pandangannya dari Jinri. “Mentraktirku dalam rangka apa?”

Mulut Jinri dimayunkan seperti anak kecil. “Memangnya kalau ingin mentraktirmu harus ada alasannya?” tanyanya dengan suara memelas.

“Tidak—hanya saja…”

“Ayolah,” potong Jinri seraya menggoyangkan tangan kanan Sooji seperti anak yang ingin dibelikan mainan baru pada ayah atau ibunya.

Sooji berpikir sebentar, lalu mengangguk kecil. “Oke.”

Setelah Sooji mengiyakan ajakannya, Jinri pun langsung menyelipkan tangannya pada lengan Sooji dan menariknya dengan semangat dan senyum lebarnya. Sooji yang sudah biasa diperlakukan seperti ini oleh Jinri pun hanya bisa mengikuti dan menyamakan langkahnya dengan langkah panjang Jinri yang sedikit berlari.

Dan, saat keduanya berbelok untuk keluar dari gerbang depan sekolah, pundak Sooji menabrak pundak seorang laki-laki yang—mengenakan seragam yang sama dengan yang dipakai Sooji dan Jinri—hendak masuk ke sekolah.


Ya, Lee Taemin!” tegur Jinri dengan tangan bertolak pinggang.

Sedangkan Taemin sendiri hanya melihat Sooji dan Jinri dengan pandangan datar yang sama sekali tidak merasa bersalah. Kemudian ia melanjutkan jalannya dan masuk ke sekolah tanpa mengatakan apapun.

Jinri menghentakan giginya dan maju selangkah melihat tingkah Taemin. “Aish,” gerutunya.

“Sudah.” Kata Sooji menengahi. Lalu, ia menyuruh Jinri membalikkan badan dengan tangannya dan melanjutkan jalan.

“Aku tidak mengerti.” Ucap Jinri tiba-tiba.

Sooji menoleh heran. “Apa?”

“Lee Taemin… dia bolos sekolah tetapi setelah kelas selesai dia datang.” Katanya dengan wajah heran yang lucu.

Sooji membenarkan tali tas di pundaknya. “Tidak perlu dimengerti.” Sahut Sooji. “Biarkan saja dia berbuat semaunya.”

“Hanya saja… aku heran kenapa pihak sekolah tidak melakukan apapun padanya—atau mungkin sekedar memberinya hukuman.”

Dalam diam, Sooji juga memikirkan perkataan Jinri barusan. Sebenarnya ia juga heran kenapa Taemin yang suka membuat onar dan sering bolos itu sama sekali belum mendapat hukuman. Paling-paling dia hanya mendapat teguran dari beberapa guru.

Kemudian Sooji mengangkat bahunya cuek. “Itu urusannya. Tidak perlu dipikirkan.” Kata Sooji, membuat Jinri mengakhiri perkataannya mengenai Lee Taemin.

~›~›~›~

Di dalam kelas hanya ada Soojung yang saat ini tengah menelfon ibunya. Tetapi, sudah berapa kali ia menelfon, sama sekali tidak ada jawaban. Membuatnya berpikir bahwa saat ini ia sedang diacuhkan oleh kedua orangtuannya.

Sekali lagi Soojung menghembuskan nafas saat suara operator terdengar kembali. Dengan geram, ia pun berhenti menelfon ibunya dan kini gantian sepupunya Park Chanyeol yang ia telfon karena ia tahu ayahnya sedang sibuk pada jam sesore ini.

Hello, oppa,” ucapnya ketika panggilannya dijawab oleh Chanyeol.

Tepat pada saat itu, Soojung mendengar pintu bagian belakang dibuka, membuatnya langsung menoleh dan mendapati Taemin di ambang pintu melihatnya bingung.

“Ah? Tidak. Bukan apa-apa.” Jawab Soojung bohong saat Chanyeol bertanya padanya mengapa menelfon karena ada orang lain di dalam kelas. Lalu menutup telfonnya dan memasukkan ponsel ke dalam saku seragamnya.

Padahal, Soojung ingin meminta Chanyeol untuk membelikan buku-buku pelajaran karena guru Jung menyuruhnya tadi.

“Kau anak baru?” tanya Taemin seraya menghampiri lokernya yang ada di bagian belakang kelas.

Yes.” Jawab Soojung seraya mengambil tasnya yang disangkutkan di pinggir meja. “Memangnya kau kemana saat aku memperkenalkan diri di depan?” gumam Soojung dengan suara pelan pada diriya sendiri, namun dapat terdengar oleh telinga tajam Taemin.

“Aku tidak masuk hari ini.” Jawab Taemin dengan santai seraya mengambil sesuatu dari dalam lokernya. Kemudian menutup dan mengunci lokernya kembali.

“Bolos?” tanya Soojung dengan kening berkerut. Ia heran. Kata ibunya sekolah ini memiliki peraturan yang cukup ketat.

Taemin tertawa mendengarnya. “Sampai segitunya mendengar kata bolos.” Komentarnya.

Mendengar itu, Soojung merubah ekpresinya menjadi sebiasa mungkin. “Bukan begitu. Hanya saja, aku dengar peraturan sekolah ini sangat ketat.”

Lagi-lagi Taemin tertawa, membuat Soojung merenggut karena merasa Taemin sedang menertawakannya. “Ya, peraturan di sekolah ini memang sangat ketat. Tapi, tidak berlaku padaku.”

“Benarkah?” ucap Soojung takjub. Ia duga hanya Taemin lah murid yang paling keren di sini. “Kau tidak berbohong?”

“Untuk apa aku berbohong pada anak baru?” balik tanya Taemin dengan senyum miringnya. “Ngomong-ngomong, kau pindahan dari mana?”

“New York, Amerika.” Jawab Soojung santai seraya menggemblok tasnya di pundak.

Taemin melirik nametag yang tertera di seragam Soojung sekilas. “Aku pernah ke sana sekali.”

Soojung menoleh antusias. “Oh ya? Berlibur?”

“Ya dan tidak.” Jawab Taemin acuh tak acuh lalu membalikkan badan untuk keluar dari kelas meninggalkan Soojung sendirian melewati pintu belakang.

Soojung pun juga ikut keluar dari kelas melewati pintu depan.

Oy, Jung Soojung.” Panggil Taemin saat Soojung hendak melewati jalan yang berbeda.

Soojung yang sebenarnya heran pun membalikkan badannya. Dalam hati ia bertanya-tanya bagaimana Taemin tahu namanya?

“Aku bawa motor. Mau kuantar pulang?” Tawar Taemin dengan memperlihatkan senyum manisnya yang biasanya bisa membuat para gadis meleleh melihatnya.

Baru saja Soojung hendak menjawab dan mengiyakan ajakan Taemin, ia teringat bagaimana keadaan rumahnya yang berada dalam kawasan… tidak bagus.

“Tidak, aku bisa pulang sendiri.” Tolak Soojung lalu kembali melanjutkan langkahnya.

~›~›~›~

Di luar sana, di dalam gerbang sekolah, banyak pasang mata yang terus memperhatikan Soojung yang masuk ke dalam mobil mewah dan elegan dengan seorang supir yang membukakan pintu untuknya.

Salah satunya adalah Oh Sehun dari kelas 2-1 saat ia hendak keluar dari gerbang sekolah.

“Sehun-ah!” ketika seseorang memanggil namanya, ia pun menghentikan langkahnya dan berbalik ke arah sumber suara. Ternyata yang memanggilnya adalah Oh Hayoung, teman sekelasnya.

Gadis itu setengah berlari kepayahan saat ia mengejar Sehun. “Dimana biasanya kau meletakan tugas dari Jang sonsaeng?” tanyanya langsung sebelum ditanya.

“Kenapa memangnya?” tanya Sehun balik.

Kemudian, Hayoung segera menyerahkan setumpuk kertas yang ada di tangannya. “Ini,” katanya. “Aku mau mengumpulkan ini.”

Sehun mengambil tumpukan kertas itu yang sudah disusun rapi oleh Hayoung dan melihat judul pada halaman awalnya. “Bukankah ini tugas untuk minggu depan?” tanya Sehun heran.

“Memangnya kenapa? Aku hanya ingin mengumpulkannya sekarang.” Balas Hayoung.

Tanpa ekspresi, Sehun pun mengembalikkan tugas milik Hayoung. “Letakkan saja di meja guru Jang. Aku harus pergi.” Tanpa mengatakan apa-apa lagi, Sehun pun langsung meninggalkan Hayoung yang masih berdiri di tempatnya dengan tampang tak percaya.

“Memangnya hanya dia yang sibuk? Aish!” umpatnya sembari menatap tajam punggung Sehun yang semakin menjauh. Kemudian, tatapannya terarah pada Soojung yang duduk di dalam mobil sport dengan laki-laki yang kelihatannya bukanlah seorang pelajar.

“Wah, anak baru itu benar-benar hebat.” Gumamnya dengan nada menyindir pada dirinya sendiri sebelum ia berbalik untuk menyerahkan tugasnya kepada guru Jang.

~›~›~›~

Di depan gerbang sekolah, hanya Soojung sendiri yang berdiri di depan seperti orang bodoh menunggu seseorang menjemputnya. Tadi, ia mengirimi ayahnya pesan singkat untuk menjemputnya karena ia ingin berbicara dengan ayahnya. Dan untungnya ayahnya itu membalas dan mengiyakan.

Jadi, itulah yang membuat berdiri di sini seperti orang bodoh sedangkan murid-murid yang lainnya melangkah pulang bersama temannya.

Saat beberapa murid perempuan melihatnya, ia pun membalas tatapan itu dengan memutar bola matanya sinis.

Tak lama, sebuah sedan hitam yang terlihat mewah berhenti tepat di depan Soojung. Seorang supir yang mengenakan kemeja rapi seperti layaknya supir keluar lalu membukakan pintu untuk Soojung.

Soojung pun masuk ke dalam mobil, membuat murid-murid yang melihatnya langsung berbisik-bisik pada teman disebelahnya.

“Ayahku menyuruhmu menjemputku, bukan?” tanya Soojung saat sang supir menyalakan mesin mobil.

“Iya, nona.” Jawab supir itu dengan nada monoton namun sopan, membuat Soojung tersenyum puas karena ayahnya masih memikirkannya dan ia rasa ayahnya juga merindukannya.

Namun, setelah sekitar dua puluh menit perjalan, mobil justru berhenti di depan apartemen bobroknya, Ocean Village. Soojung pun memutar bola matanya dan menatap sinis sang supir yang duduk di balik kemudi lewat kaca spion sebelum dia keluar dari mobil agar ia membukakan pintu untuk Soojung.

“Kau menipuku.” Cerca Soojung dingin saat pintu yang tepat berada di sebelah kirinya terbuka.

“Maaf, nona. Ayah nona yang menyuruh saya.” Lagi-lagi sang supir berkata dengan nada monotonnya.

Soojung pun menghela nafas geram dan menggigit bibir bawahnya menahan kesal, sebelum ia turun dari mobil dengan gerakan yang dipaksakan.

“Suruh ayah menelefonku.” Perintah Soojung sambil lalu dan berjalan meninggalkan mobil dan bawahan ayahnya itu dengan langkah dihentakkan.

Sepanjang jalan, ia terus saja mengoceh dan menggerutu tak jelas menggunakan bahasa yang digunakan oleh negara kelahirannya.

Dan, karena tidak terlalu fokus dengan jalanan di depannya, ia pun menyenggol seorang laki-laki—berambut agak kecokelatan dengan hidung mancung dan juga dagu yang lancip yang mengenakan kaus hitam dengan sweater putih keabu-abuan—yang membawa kardus berukuran sedang di tangannya.


Alhasil, kardus yang dibawa laki-laki itu jatuh dan barang-barang yang ada di dalamnya jatuh berantakan. Isinya hanya buku-buku dan juga kertas-kertas nada.

Sorry.” Ucap Soojung saat ia melihat laki-laki itu tengah memungut buku-bukunya yang jatuh tanpa berniat untuk membantu. Ia justru langsung berbalik kembali dan masuk ke dalam gedung apartemennya.

Sedangkan itu, laki-laki bernama Kim Myungsoo yang tengah berjongkok untuk mengambil barang-barangnya yang berserakan di tanah hanya mendengus kesal sembari menatap punggung Soojung dengan mata tajamnya itu.

~›~›~›~

Soojung duduk di balik bangku meja belajar yang berada tepat di depan meja komputernya sembari memegang dagunya.

Setelah mengisi perutnya, ia tidak tahu harus melakukan apa. Jadi, ia hanya duduk sembari melamun menatap ponselnya yang belum juga berdering. Ia menunggu ayah atau ibunya menelefon.

Ia pun menguap sangking bosannya. Yang ia lakukan dari tadi hanya menatap ponselnya sembari memegang dagu dan mengetuk meja dengan jarinya bergantian. Walaupun televisinya menyala, namun tidak ada acara yang menarik perhatian, jadi ia lebih memilih untuk mematikannya.

Begitu ia menolehkan kepalanya ke arah jendela kamarnya yang masih tertutup rapat sejak pagi, ia pun langsung berdiri dan menghampiri tirai tersebut.

Berharap saja ada keajaiban sehingga ketika ia menyibakkan tirai tersebut, pemandangan bagus seperti taman atau danau terlihat oleh matanya karena kemarin, ia tidak sempat melihat pemandangan diluar dan hanya ingin cahaya matahari masuk ke dalam kamar. Setidaknya itu bisa membuatnya merasa lebih baik mengingat betapa bobroknya bagunan apartemennya ini.

Namun, ia hanya bisa mendecak kesal begitu melihat sebuah bangunan lain yang memang tidak terlalu bagus, namun lebih baik dengan bagunan bobrok yang sekarang diinjaknya dengan jendela kaca yang besar.

“Benar-benar sempurna!” umpatnya.

Kemudian, matanya berhenti menjelajah dan membelalak lebar ketika melihat tepat di depan matanya, ia melihat seorang laki-laki yang tidak terasa asing oleh matanya. Laki-laki yang tadi pagi menahannya agar tidak terjatuh saat di bus, yang ia tahu adalah teman sekelasnya.

Apartemen laki-laki itu—Oh Sehun—benar-benar berada tepat di depan apartemen bobroknya!

Ia pun langsung menutup kembali tirai pada salah satu jendela yang sedang berada di hadapannya dengan gerakan cepat dan mata yang membelalak lebar. Selama beberapa menit, ia membeku dalam posisi seperti itu.

Begitu ia menyadari apa yang akan terjadi jika Sehun melihatnya tinggal di apartemen bobrok seperti itu, ia pun tahu hidupnya di sekolah akan jauh lebih buruk.

Kenapa hidupnya berubah drastis seperti ini dalam dua hari saja?

~›To be continue›~

Hai~~~ maaf ya aku bukannya ngepublish AHB malah ini. AHB masih dalam proses (lama banget ya?) dan ini sudah siap publish sampe chapter 4 jadi, untuk sekalian ngasih pengumuman kalau aku bakal hiatus, aku publish deh yang ini.

Nah, readersnim (aku ide panggilan ini dari satu reader di sini), jadi, aku dengan berat hari mengumumkan kalau aku bakal hiatus dari perFFan kira-kira sebulan lebih. Pertama, persiapan ujian, ujian, study tour, dan persiapan untuk jalur undangan. Dan bulan juli nanti, aku udah jadi anak murid kelas 12 yang umurnya tinggal beberapa bulan lagi jadi seorang pelajar. Dan, karena aku ingin masuk ke PTN yg bagus kayak ITB, aku harus kerja keras. Jadi (mungkin ini udah aku lakuin) aku bakalan ngepublish FF kira-kira 1-2bulan sekali (kalau aku udah di kelas 12. Maaf kan aku readersnim *bow* lalu, AHB mungkin bakal aku publish sesudah tanggal 12 dan sebelum tanggal 17 juni. Kenapa? Karena aku baru selesai ujian dan akan berangkat study tour. Jadi, aku nggak punya waktu buat lanjut ditambah aku lagi buat naskah drama untuk tugas bhs Indonesia. Tapi doain aja ya semoga aku bisa ngelanjut~~

Dan, jengjeng~ untuk FN, siapa yg nunggu suzy? Siapa yg nunggu myungzy? Siapa yg nunggu konflik yg sesungguhnya? Hem, aku rasa, makin kesini, aku bakalan buat readersnim sekalian pusing sama pairnya karena memang di sini, aku buat seunik mungkin walaupun kisah lope2nya terinspirasi sama cerita pribadi (bukan cerita pribadiku sih) dan bukan terinspirasi dari drama2 muahaha. Jadi, stay tune! Annyeong~~

17 thoughts on “Floral Notes [Chapter 2]

  1. kyaaa eonni ffnya bagus penasaran sama soojung diliat ngak sama sehun dkk
    eonni next part.a di tunggu fighting🙂
    eonni IU ikut ngak?? atau cuman jadi cameo
    eonni semangat buat belajar y semoga semua yang di harapkan dpt tercapai fighting!!!🙂

    • mudah-mudahan sih gak ketauan._.
      IU? IU nggak ikutan:( aku takut kebanyakan cast kalo dia ikutan… tapi, aku usahain biar bisa jadi cameo. tunggu aja yaa^^ makasih ya saeng:333

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s