Floral Notes [Chapter 1]



Title : Floral Note

Author : EnnyHutami

Genre : Romance, School-life

Rating : General

Leght : Series

Cast :

F(x)’s Krystal and Sulli, Miss A’s Suzy, A-Pink’s Naeun, INFINITE’s L, SHINee’s Taemin, EXO’s Sehun, B.A.P’s Himchan, and others.

That flower is in bloom.

Copyright © EnnyHutami’s fanfiction story 2013. Swinspirit.

~›~›~›~

Jung Soojung meniup mulutnya untuk menggembungkan balon dari permen karet yang sedang dikunyahnya dengan gaya angkuh dan arogan seperti biasanya. Dari balik kacamata hitamnya, ia melihat keadaan bandara yang cukup ramai dengan bosan.

Ia sudah menunggu di sini selama dua puluh menit sejak ia menginjakkan kakinya di Korea setelah sekian lamanya, dan orang yang akan menjemputnya belum juga datang. Ia tidak tahu siapa yang akan menjemputnya. Apakah ayahnya, ibunya, kakak perempuannya, atau bahkan supir. Jadi, ia hanya menunggu dengan mengetuk sepatu dengan heels sekitar lima sentimeter pada lantai.

Rambut cokelat panjangnya yang terurai terbang ketika angin musim semi bertiup, membuatnya terlihat semakin cantik dan juga membuat orang-orang yang lewat meliriknya kagum.

Hal seperti ini sudah biasa, jadi ia tidak terlalu memikirkannya.


Kemudian, sebuah mobil sport berwarna hitam yang mengkilat seperti mobil baru berhenti tepat di depan Soojung. Dari balik kacamatanya, alis Soojung terangkat.

Lalu, seorang laki-laki dengan rambut berwarna cokelat kemerahan keluar dari tempat pengemudi dengan senyum khas kasanovanya.


You’re late, Park Chanyeol.” Ucap Soojung sinis seraya membuka kacamata hitamnya.

Chanyeol pun membalas ucapan sinis Soojung dengan cengiran. Lalu, “Hanya beberapa menit.” Jawabnya dengan senyum khasnya yang diyakininya bisa membuat gadis-gadis langsung terpikat olehnya.

Soojung mendecak lalu menggeret kopernya dan menyerahkan koper tersebut pada Chanyeol agar laki-laki itu menaruhnya di bagasi. Dan, tanpa banyak bicara lagi, ia langsung masuk ke mobil sport hitam kesayangan Chanyeol.

Kemudian, Chanyeol pun menyusul Soojung dan masuk ke dalam mobil.

“Seharusnya tadi kau memelukku sangking senangnya karena melihatku setelah sekian lama tidak bertemu,” kata Chanyeol dengan percaya diri sambil menyalakan mesin mobil. “Bukan berkata ‘you’re late, Park Chanyeol. Dan Demi Tuhan, aku tidak tahu apa yang akan ibumu katakan jika dia mendengar anaknya memanggilku tidak sopan begitu.” Lanjutnya saat mobil mulai melaju.

Soojung mendelik pada Chanyeol lewat kaca yang berada di atas mereka seraya melepaskan kacamata hitamnya dan meletakkannya pada dasbor mobil. “Maybe she’ll hit me or anythingdon’t tell her!” kata Soojung.

“Kurasa kau harus menggunakan bahasa manusia di sini.” Komentar Chanyeol mendengar Soojung yang masih menggunakan bahasa asing. Bukan karena ia tidak bisa, tetapi ia hanya ingin adik sepupunya itu berbicara dengan bahasa negaranya sendiri.

Soojung mendengus. “Terserah,” balasnya seraya memutar bola matanya. “Tapi, jika kau mengadu pada ibuku kalau aku memanggilmu seperti tadi, you’re dead.”

“Baiklah-baiklah, aku akan tutup mulut.” Dengan tangan kirinya, Chanyeol berpura-pura seperti menarik zipper pada mulutnya sambil terkekeh kecil pada Soojung yang sama sekali tidak berniat tertawa.

“Aku mau tidur.” Kata Soojung seraya menurunkan punggung jok mobil, membuat tawa Chanyeol menghilang.

Kemudian Chanyeol mengatur pendingin mobil agar Soojung tidak kedinginan dan melirik Soojung. “Sama sekali tidak berubah.” Gumamnya pelan sambil memperhatikan wajah Soojung yang terlihat lelah saat tertidur.

~›~›~›~

Soojung mengedipkan matanya tak percaya begitu ia melihat sebuah bangunan di hadapannya setelah ia turun dari mobil milik Chanyeol. Bahkan mulutnya yang masih memakan permen karet itu sedikit terbuka sangking tak percayanya ia pada pengelihatannya saat ini.

Youre kidding me, right?” tanya Soojung setelah sadar dari keterkejutannya dan membalikkan badannya untuk menatap Chanyeol yang tengah mengambil koper besar milik Soojung dari bagasi mobilnya.

Dengan polosnya, Chanyeol hanya melirik Soojung bingung, menutup bagasinya, dan masuk ke dalam mobil untuk mengambil sesuatu.

Beberapa detik kemudian, Chanyeol keluar dari mobilnya dengan membawa sebuah amplop besar berwarna cokelat. Lalu mengulurkan tangannya untuk memberikan amplop besar tersebut pada Soojung yang masih menatap ngeri bangunan di depannya.

“Coba kau tanyakan pada seseorang di pos jaga di sana apa benar ini tempatnya.” Suruh Chanyeol.

Cukup lama Soojung hanya memperhatikan amplop di tangan Chanyeol yang terulur sebelum ia mengambilnya dengan sedikit kasar dan hembusan nafas kesal.

Dengan sangat berat hati, Soojung melangkahkan kakinya ke tempat yang tadi ditunjuk oleh Chanyeol tanpa membawa kopernya. Biar saja kopernya di sana, toh Chanyeol masih tetap di sana.

Excusme,” ucapnya setelah ia mendekati pos penjaga tersebut, tanpa memedulikan orangtua yang mengenakan seragam security hanya menatapnya heran karena tidak mengerti ucapan Soojung barusan. “Is that Ocean Village?” tanya Soojung sembari menunjuk bangunan yang tadi dilihatnya dengan pandangan ngeri.

“Kau bilang apa?” suara serak laki-laki tua itu membuat Soojung sadar bahwa dirinya tengah di Seoul, bukan di New York.

Soojung menghela nafas dengan sinis, merutuki kebodohannya sendiri.

“Bangunan mengerikan itu…” Ia memulai sembari kembali menunjuk bangunan yang dimaksudnya dengan jari telunjuknya. “Apakah itu Ocean Village?”

“Ah,” ucap laki-laki tua itu mengerti. “Ya, Ocean Village! Tapi… bangunannya tidak mengerikan seperti yang nona bilang.” Laki-laki tua mengernyitkan keningnya, merasa keberatan.

Seketika itu, Soojung hanya berdiam diri sangking tak percayanya ia pada fakta yang ada. Bagaimana mungkin ibu dan ayahnya membelikan apartemen di bangunan seperti ini?! Dari awal, saat ibunya memintanya agar kembali ke Korea dan tinggal di sini, ia sudah merasa ada yang tidak beres. Terlebih lagi ibunya menelfon setelah ia membuat masalah di sekolahnya yang diketahui oleh kepala sekolah.

Dengan kaki dihentakkan, Soojung membalikkan badannya dan meninggalkan laki-laki tua itu tanpa mengatakan terimakasih atau sepatah kata pun.

Yang lebih membuatnya kesal saat ini adalah… saat ia kembali dan hanya mendapati koper besar miliknya tergeletak di pinggir jalan di atas trotoar. Sedangkan mobil Park Chanyeol sudah tidak ada lagi. Pergi melarikan diri.

YA‼!” Teriaknya geram tanpa memedulikan orang-orang yang memandangnya aneh.

Aish! Park Chanyeol, you’re dead!” ia menyumpahi dan mengentakkan kakinya pada tanah kemudian membalikkan badannya untuk kembali ke pos penjaga Ocean Village dengan membawa koper di tangan kanan dan amplop di tangan kiri.

Ahjussi!” panggilnya pada laki-laki tua yang sama dengan yang tadi dengan kasar.

Laki-laki tua itu dengan terburu keluar dari posnya dan berdiri di hadapan Soojung dengan wajah bingung. “Ada apa nona?” tanyanya.

Soojung tidak menjawab pertanyaan laki-laki tua itu dan hanya menyerahkan amplop di tangan kirinya agar ia bisa cepat ke apartemennya.

“Oh, nona pemilik apartemen nomor 410 itu?” tanya laki-laki tua itu dengan cengiran aneh yang membuat Soojung menahan makiannya agar laki-laki tua itu tak menyengir seperti itu di hadapannya.

Dengan terpaksa, Soojung mengangguk sembari mengigit bibir bawahnya.

“Kalau begitu, mari saya antar, nona.” Tawar laki-laki tua itu sembari mengembalikan amplop tersebut pada Soojung. Kemudian berlalu melewati Soojung.

Soojung melotot memandangi punggung laki-laki tua itu karena hanya melewatinya tanpa punya niatan untuk membawakan kopernya.

Karena tak tahu harus berbuat apa lagi, dan ia juga tidak tahu jalan untuk ke rumah orangtuanya yang juga ia tidak ketahui dimana, akhirnya ia memilih untuk mengikuti laki-laki tua itu dengan wajah kesalnya.

Ketika sudah berada di dalam bangunan tersebut dengan melewati pintu kecil yang berada di ujung bangunan tersebut, Soojung melihat ke sekelilingnya dengan tatapan “wah“. Bangunan ini benar-benar bobrok luar dan dalam.

Bahkan tidak ada resepsionis atau pintu utama! Teriaknya dalam hati. Yang ada hanya pintu kecil yang menghubungkan bagian dalam bangunan dan bagian luar.

Ia benar-benar merasa ini adalah hari tersialnya saat ia sudah berada di depan lift yang terlihat seperti… lift barang. Benar-benar tidak layak dipakai penghuni. Tetapi, kalau ia tidak menggunakan lift, ia lebih tidak ingin naik lewat tangga. Bisa-bisa ia mati kelelahan karena harus bolak-balik naik tangga.

Seperti yang tercantum di depan amplop yang dipegangnya itu, apartemen yang akan dihuninya ada di lantai 5, yang berarti ada di lantai paling atas. Oh, ia tidak tahu penderitaannya ini akan berakhir kapan.

Pintu lift terbuka, dan membuat Soojung menolehkan kepalanya lalu masuk ke dalam lift tersebut bersama laki-laki tua itu dan seorang ibu-ibu yang dandanannya benar-benar payah.

Dengan menunggu cukup lama, dan juga harus berjalan hingga ke ujung koridor yang sebelah kanan dan kirinya hanya ada pintu berwarna abu-abu, akhirnya Soojung sampai di depan pintu apartemennya.

Thanks, sir.” Ucap Soojung sembari mencari sebuah kunci di dalam amplop tersebut.

Laki-laki tua itu, yang tidak benar-benar mengerti dengan apa yang Soojung ucapkan, hanya tersenyum bodoh.

Setelah mendapatkan kunci yang dicarinya, Soojung menoleh pada laki-laki tua itu dengan kepala dimiringkan heran. “Tidak kembali ke pos jaga?” tanyanya.

“Oh?” ucap laki-laki tua itu linglung. “Kalau nona perlu bantuan, nona bisa hubungi saya.” Lanjutnya sambil menyengir seperti orang bodoh.

Soojung tidak menjawabnya, hanya menganggukan kepalanya kemudian memasukan kunci yang ada di genggamannya pada lubang di kenop pintu. Dan tanpa sepatah katapun, setelah masuk ke dalam apartemennya, ia langsung menutup pintu rapat-rapat.

Kemudian, Soojung tidak langsung beranjak dari depan pintu. Ia hanya menatap seisi ruangan di depannya yang hanya sebesar ruang tamu di rumahnya di New York sana. Bahkan semua ruangan saling terhubung kecuali kamar mandi yang dibatasi oleh sebuah pintu. Kamar dan juga dapur terhubung langsung tanpa pembatas.

Ruangan ini sama sekali tidak bisa dibilang apartemen. Lihat saja ruangan kecil ini. Tempat tidur, dua konter yang tidak terlalu panjang yang berisi kompor dan alat-alat masak serta tempat cuci piring, meja belajar yang terdapat sebuah komputer layar datar, rak buku kecil di dinding di samping meja belajar, kulkas, laci yang di atasnya diletakkan televisi layar datar yang tidak terlalu besar dan kamar mandi. Semua itu di gabungkan dalam satu ruangan.

Ya Tuhan… sampai beginikah orangtuanya?

Aish!” gerutunya sembari mengacak rambutnya sendiri dengan kesal. Ia tidak pernah menyangka akan seperti ini.

Kemudian, ia mengangkat kopernya sedikit dan menggeretnya menuju kamar yang menyatu dengan ruangan, menghampiri jendela dan membuka tirainya yang berwarna putih.


Lalu, duduk di pinggir ranjang dan mengambil ponselnya dari tas tangan untuk menelfon ibunya.

Cukup lama Soojung menunggu, akhirnya ibunya menjawab panggilannya juga.

Eomma!” protes Soojung langsung. Meskipun sebelumnya Soojung berbicara dengan bahasa inggris dengan Chanyeol, namun karena kebiasaan dan memang peraturan dari ibunya, mau tak mau ia harus berbicara dengan bahasa korea. Ini ia lakukan sejak kecil, sejak dia pindah untuk bersekolah ke New York.

“Tidakkah ini berlebihan? Kenapa aku harus tinggal di sini? Bagaimana dengan sekolah, makan, dan yang lainnya? Aku tidak punya apa-apa!”

Dari seberang telfon, ibu Soojung menghela nafas mendengar protes Soojung. “Kau tahu kenapa eomma menyuruhmu kembali?” tanya ibunya.

Soojung menggigit bibirnya. “Aku tahu. Aku minta ma—”

Ingat berapa ka—

“Tidak. Jangan dipotong dulu.” Balik potong Soojung.

Tidak. Tidak,” kata ibunya tegas. “Kau harus dengar.”

Akhirnya Soojung menyerah dan memilih untuk mendengarkan. “Baiklah. Lanjutkan.” Katanya pasrah.

Ingat berapa kali bibi Lee dipanggil kepala sekolah?” ulang ibunya.

“Ya, aku ingat—tapi, eomma, aku sungguh menyesal.”

Namun, sepertinya ibu Soojung sama sekali tidak mendengarkan Soojung karena ia hanya melanjutkan, “Lebih baik kau kembali kemari daripada di drop out—”

“Tapi, eomma, kau berlebihan.” Tandas Soojung yang masih terus memprotes. “Memangnya aku harus tinggal sendiri di sini sendirian? Aku hanya memegang sedikit uang! Bagaimana aku bisa hidup sendirian di sini, di tempat ini?”

Kau harus merubah sikapmu dan gaya hidupmu. Kartu kredit akan diblokir, dan kau hanya bisa memakai uang yang kau punya sekarang dan yang ada di atas meja belajar. Appa akan mengirimnya sebulan sekali. Pergunakan baik-baik.

Kemudian, ibu Soojung menjelaskan tentang semuanya yang Soojung perlukan dan memberitahu semua yang sudah disiapkan. Dokumen-dokumen sekolah, tas, buku-buku, seragam sekolah, dan lain-lain. Ibunya juga mengatakan bahwa sekolah yang akan menjadi sekolahnya adalah sekolah bagus yang peraturannya cukup ketat. Jadi, ia tidak bisa berbuat macam-macam seenaknya.

Soojung hanya mendengarkan dengan malas dan bosan. Sebenarnya, ia tidak terlalu peduli dengan sekolah. Bahkan, di sekolah lamanya, ia sering sekali bolos dan pergi ke mall bersama teman-temannya untuk belanja dan bersenang-senang.

Kau mengerti?” tanya ibunya setelah menjelaskan panjang lebar.

“Mm, aku sangat mengerti.” jawab Soojung dengan nada menyindir. “Baiklah. Aku lelah. Aku tutup, ya.” Kemudian, ia langsung memutus hubungan telfonnya dan merebahkan dirinya di atas ranjang yang tidak terlalu empuk itu.

Ia menghela nafas panjang sambil menatap langit-langit kamarnya yang berwarna putih.

“Terlalu polos.” Gumamnya melihat langit-langit kamarnya yang hanya di cat putih dengan bola lampu di tengah-tengah.

Ia harus melakukan sesuatu untuk memberi warna yang lebih hidup untuk langit-langit kamarnya. Tapi, nanti. Mungkin saja akan ada yang menjemputnya untuk tinggal bersama kedua orangtuannya. Besok ataupun lusa.

Karena tubuhnya yang mulai terasa lengket, ia pun kembali bangun dan bergegas untuk mandi lalu tidur. Ia butuh istirahat saat ini.

~›~›~›~

Pagi ini Soojung bangun cukup pagi untuk bersantai-santai terlebih dahulu sebelum berangkat sekolah. Setelah membersihkan wajah, gigi, dan tubuhnya, Soojung mengambil seragam sekolah yang sudah disiapkan di lemari oleh ibunya.

Setelah itu, ia menghampiri meja belajar, menarik tas dan menaruhnya di atas meja, lalu memasukkan sembarang buku ke dalam tasnya.

Kemudian ia mengambil amplop panjang yang kata ibunya berisi uang yang harus ia pakai selama satu bulan. Begitu melihat angka nominal pada uang-uang tersebut, mata Soojung membelalak lebar.

Uang sejumlah ini, biasanya bisa habis hanya dalam seminggu!

Baiklah. Kini mentalnya merosot drastis.

Ia kira akan mudah tinggal sendirian dengan uang yang dikirim perbulannya. Tetapi, kalau uang yang dikirim hanya sebesar ini, ia akan benar-benar frustasi. Bagaimana caranya ia menghemat?

“Ah, aku rasa aku akan gila.” Gumamnya seraya mengigit bibir bawahnya.

Dan selain uang, di dalam amplom tersebut ada yang lain. Sebuah kartu. Soojung tidak tahu kartu itu untuk apa, tapi bisa ia lihat kartu itu seperti sebuah ID. Untuk bus?

Tanpa terlalu memedulikannya, Soojung memasukkan semua uang dan juga ID tersebut ke dalam dompetnya. Lalu ia mengambil ponselnya dan mencari sebuah kontak di sana.

Hi, oppa,” sapa Soojung dengan manis.

Dari seberang sana, Chanyeol yang di telfon oleh Soojung mengerutkan keningnya heran. Soojung tidak pernah bersikap manis begini kecuali…

Kau butuh apa?” tanya Chanyeol berusaha agar terdengar galak.

“Jangan galak begitu,” rayu Soojung. “Oppa sibuk saat ini? Bisakah antar aku ke sekolah?”

Tidak bisa. Aku sibuk.” Tolak Chanyeol mentah-mentah, membuat Soojung langsung mendelik dan bersumpah serapah tanpa suara. “Kau kan bisa naik bus ke sekolahmu.” Katanya kemudian.

“Aku tidak tahu.” Jawab Soojung dengan suara manjanya. “Ayolah, oppa. Antar aku sekali ini saja, ya, ya?”

Ikuti saja orang-orang yang seragamnya sama denganmu. Mudah, bukan?”

Easy your butt, batin Soojung sinis.

Aku sedang sibuk. Sampai nanti.” Hubungan telfon pun terputus.

Soojung menggembungkan pipinya menahan kesal. Dan dengan langkah dihentakkan, ia melangkah menuju halte bus yang letaknya cukup jauh dari bangunan rumah barunya ini.

~›~›~›~

Ia kira keadaan di dalam bus tidak akan ramai, tetapi dugaannya salah besar. Begitu ia masuk ke dalam bus, keadaan di dalam bukan hanya ramai, tapi penuh. Penuh dengan orang-orang berseragam sekolah, namun ada beberapa juga yang kelihatannya seorang yang sudah bekerja dan para mahasiswa.

Jadi, mau tak mau, ia pun harus berdiri hingga bus sampai ke sekolahannya. Dan ia juga harus terus memperhatikan orang-orang yang mengenakan seragam sekolah yang sama dengan yang dikenakannya.

Pintu bus tertutup dan sang supir kembali mengemudi bus dengan kecepatan seperti biasa. Tetapi, karena Soojung tidak biasa berdiri di dalam bus, tubuhnya terhuyung ke belakang karena tidak seimbang.

Kyak!” teriaknya kencang dan nyaring, membuat semua pasang mata—tidak terkecuali sang supir yang melirik dari kaca spion—menatapnya.

Untung saja seorang laki-laki bertubuh tinggi kurus yang mengenakan seragam yang sama dengan miliknya reflek menangkap tubuh Soojung agar tidak benar-benar terjatuh.


Soojung yang wajahnya sudah memerah sangking malunya segera menegapkan badannya dan berdeham sedikit untuk meredakan wajahnya yang merah karena malu. Kemudian berpegangan pada tiang besi.

Sepanjang perjalanan, Soojung tak henti-hentinya merutuk dirinya sendiri dan juga orangtuannya yang membiarkannya naik bus umum. Ia juga terus saja menundukkan kepalanya agar wajahnya tertutup oleh rambut panjangnya karena masih ada beberapa pasang mata yang memperhatikannya.

Pagi ini, ia merasa benar-benar bodoh.

Kemudian, bus berhenti dan orang-orang yang mengenakan seragam yang sama dengan miliknya—termasuk laki-laki yang menangkap tubuhnya—turun dari dalam bus. Jadi, ia pun bergegas untuk turun juga dan mengikuti langkah orang-orang itu.

Sesampainya di depan gerbang sebuah sekolah yang bagian atasnya terdapat tulisan besar-besar yang bertuliskan nama sekolah dalam alfabet dan juga hangul, Soojung langsung saja masuk dan matanya mulai mengedar untuk mencari ruang guru agar ia bisa menyerahkan dokumen-dokumen miliknya dan juga diberitahu dimana kelasnya.

Chogiyo,” ucapnya pada seorang gadis berambut panjang berwarna hitam tanpa poni di keningnya yang kelihatannya tengah berdiri di pinggir koridor entah sedang apa.


Gadis itu menoleh dengan wajah tidak menyenangkan. “Wae?” tanyanya dengan nada tidak bersahabat. Soojung sangat tidak menyukai gadis di depannya ini.

“Dimana ruang guru?” tanyan Soojung. Keinginan untuk bertanya dengan sopan hilang sudah akibat sahutan gadis di depannya ini.

“Lantai satu di dekat tangga di gedung utama.” Jawab gadis itu. Lagi-lagi tidak ramah.

Sekiranya tahu dimana letak ruang guru, Soojung pun langsung membalikkan badannya tanpa mengatakan terimakasih atau sebagainya. Gadis seperti itu tidak pantas dibaiki, batinnya sembari melangkah santai dengan mata yang mengedar.

Begitu ia sampai di ruang guru yang memiliki dua pintu geser, ia segera di sambut sebuah ruangan yang penuh dengan meja bertutup tinggi yang saling berdampingan. Karena bingung tak tahu harus kemana, ia pun menghampiri sebuah meja yang hanya berdiri sendiri di pojok ruangan.

“Murid pindahan?” tanya seorang laki-laki tengah baya yang rambutnya masih hitam sepenuhnya. Wajah guru itu terlihat galak dan tegas. Ia menduga bahwa guru inilah yang akan mengurus semua murid-murid bermasalah.

“He’eh,” jawab Soojung singkat, membuat guru berwajah galak itu menatapnya aneh. Kemudian ia mengambil sesuatu dari dalam tasnya, lalu menyerahkan lembaran-lembaran kertas yang diambilnya itu pada guru tersebut.

Kemudian, setelah guru itu melihat sekilas lembaran-lembaran kertas yang diberikan oleh Soojung, ia pun mengalihkan pandangannya ke deretan meja-meja yang Soojung asumsikan meja para guru yang hanya punya jabatan mengajar saja.

“Jang Nara sonsaeng,” Soojung pun ikut menoleh saat guru berwajah galak itu memanggil seseorang bernama Jang Nara. Dan seorang wanita bertubuh kecil dan pendek itu segera bangkit dari kursinya.

Ye?” sahut wanita bernama Jang Nara dengan linglung, kemudian menghampiri Soojung dan guru berwajah galak yang duduk di balik mejanya.

“Ini dia murid pindahan dari Amerika itu, Jung Soojung.” Beritahu guru berwajah galak itu. Soojung pun memaksakan senyumnya lalu membungkuk kecil pada guru Jang.

“Ah?” ucap guru Jang dengan wajah bingungnya, kemudian senyumnya mengembang ketika sudah mengerti keadaan yang ada. “Kau murid pindahan itu.”

Dalam hati, Soojung mengejek guru di depannya ini karena terlalu linglung, mungkin. Sama sekali tidak ada tegas-tegasnya. Tipe guru yang sangat mudah dikerjai.

Dan, dering bel pun terdengar di seantero sekolah.

“Soojung-ah, tunggu sebentar di luar, saya akan mengambil persiapan mengajar.” Ucap guru Jang lagi dengan ramah dan lembut sembari tersenyum.

Ne,” sahut Soojung.

Sebelum membalikkan badannya untuk melenggang pergi, ia tak lupa membungkuk sopan pada guru berwajah galak yang masih duduk di balik mejanya itu.

Tidak lama Soojung harus menunggu, guru Jang pun akhirnya keluar dari ruang guru dengan memeluk satu map dan beberapa buku yang ukurannya besar.

“Ayo,” ajaknya pada Soojung. Dan Soojung pun hanya mengikuti guru Jang dari belakang.

Dengan menaiki anak tangga hingga ke lantai dua dan sekali melewati koridor panjang yang bentuknya seperti jembatan, akhirnya Soojung dan guru Jang sudah berada di depan kelas yang papan kecil di atas pintu bertuliskan kelas 2-1.

“Selamat pagi,” sapa guru Jang ramah ketika ia masuk ke dalam kelas.

Kelas yang tadinya mulai hening karena kedatangan guru Jang, kini kembali berisik yang diakibatkan oleh bisikan-bisikan ingin tahu dan juga ucapan-ucapan tidak penting ketika Soojung ikut masuk ke dalam kelas seperti, “wow” “dia cantik” dan juga lainnya.

“Hari ini kita kedatangan murid baru,” kata guru Jang pada semua murid yang berada di hadapannya. Kemudian guru Jang menoleh kembali pada Soojung yang berdiri cukup jauh darinya. “Soojung-ah, perkenalkan dirimu.”

Soojung pun menolehkan kepalanya dari guru Jang ke seluruh murid yang duduk di hadapannya. Dalam hati ia merutuk kenapa matanya menemukan laki-laki yang menolongnya agar tidak terjatuh di dalam bus, dan juga gadis jutek yang ia temui di gerbang depan, di dalam kelas barunya.

Akhirnya, ia pun mulai membuka mulutnya dan bicara. “Jung Soojung imnida. Pindahan dari New York. Salam kenal… semua.”

~›To be continue›~

16 thoughts on “Floral Notes [Chapter 1]

  1. kya bagus eonni walaupun cast.a masih ada yang belum muncul. sehun sama kristal ?? kyya di tunggu next part.a eonni fighting😀
    semoga udah inget sama saeng ya eonni🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s