A Heartbreak – Chapter 4


a heartbreak3

  • Tittle    : A Heartbreak
  • Author    : EnnyHutami
  • Lenght    : Series/chaptered
  • Rating    : General
  • Genre    : Romance, School-life
  • Cast    :
  1. Jo Kwangmin
  2. Bae Sooji
  3. Oh Sehun
  4. Oh Hayoung
  5. And others

Copyright © original story by EnnyHutami 2012

Previous :Chapter 3

~œœœ~

Hayoung berjalan menghampiri Kwangmin yang masih terdiam di tempatnya dengan senyuman yang manis dan ramah. Sudah tiga kali mereka bertemu, tetapi belum bertegur sapa. Hanya dirinya yang memanggil Kwangmin dengan terkejut, namun Kwangmin sama sekali tidak mengatakan apapun.

“Hai,” sapanya dengan nada gembira ketika ia sudah berada di hadapan Kwangmin.

“Kau… kembali?” bukannya menjawab sapaan Hayoung, Kwangmin justru bertanya dengan nada tak percaya dan gugup.

Mendengar nada tak percaya dari suara Kwangmin, Hayoung pun terkekeh pelan. “Kenapa terkejut begitu?” tanyanya, berniat untuk bergurau.

Tak tahu harus menanggapi apa lagi, Kwangmin pun hanya menggaruk belakang kepalanya yang sebenarnya tidak gatal.

Lama tidak bertemu ataupun berkomunikasi, hubungan yang sebelumnya dekat menjadi agak kaku. “Jadi, Sehun itu siapamu?” tanya Kwangmin sembari menunjuk Sehun dengan dagunya.

“Sehun oppa?” ulang Hayoung sembari menoleh ke arah Sehun yang tengah berbicara dengan Sooji. “Dia kakak laki-lakiku. Sunbae mengenalnya?” balik tanya Hayoung.

“Mm,” jawab Kwangmin sembari menganggukan kepalanya. “Sooji sunbae yang mengenalkan kami.”

“Sooji onni seniormu? Kalau begitu, Sehun oppa juga seniormu, sunbae,”

Mwo?” ulang Kwangmin agak terkejut. Sebelumnya, ia tidak pernah melihat Sehun di sekolah.

Hayoung mengangguk dengan senyuman riangnya. “Mm, Sehun oppa lulus tahun kemarin, dan Sooji eonni beberapa bulan lagi. Benar, bukan?” seperti Hayoung yang dikenal Kwangmin dulu. Gadis itu tidak berubah.

“Kau benar.” Jawab Kwangmin singkat sembari memperhatikan senyum cerah Hayoung. Tiba-tiba saja ia merasa merindukan masa lalunya. Saat gadis yang pernah disukainya itu masih sangat muda.

“Oh ya, sunbae,” panggil Hayoung yang tidak merasa bahwa dirinya sedang diperhatikan. Kwangmin pun mengerjapkan matanya supaya kembali ke alam sadarnya. “Youngmin sunbae… bagaimana kabarnya? Baik-baik saja, bukan?” tanya gadis itu penasaran.

Kwangmin terdiam. Ia tidak tahu ada apa dengan hari ini. Kenapa Sooji dan Hayoung menanyakan tentang Youngmin pada selang waktu beberapa jam.

Sunbae?” tanya Hayoung dengan hati-hati melihat perubahan wajah Kwangmin. Barusan ia tidak salah bicara, bukan?

“Kurasa dia baik-baik saja.” Jawab Kwangmin dengan nada acuhnya.

“Kurasa?” gumam Hayoung tidak mengerti. Namun, begitu melihat raut wajah Kwangmin yang terlihat tidak ingin meneruskan topik pembicaraan mengenai Youngmin, Hayoung tidak lagi melanjutkan pertanyaannya. Ia duga saudara kembar itu tengah bertengkar atau apa.

“Kalau begitu, aku pergi dulu ya, sunbae.” Ucap Hayoung masih dengan senyum cerianya. “Sampai ketemu lagi.” Kemudian, ia pun membalikkan badannya dan melangkah menuju tempat Sehun dan Sooji.

Kelihatannya, Sehun dan Hayoung tidak jadi makan malam bersama Sooji. Itu yang dipikirkan Hayoung saat melihat kakak laki-lakinya sudah berdiri di dekat pintu mobil sedangkan Sooji di depan pintu gerbang rumahnya.

Onni, kau sudah makan malam, ya?” tanya Hayoung dengan nada sedikit kecewa ketika ia sudah berada sekitar satu meter dengan Sooji.

Dengan menyesal, Sooji menganggukkan kepalanya. “Lain kali bagaimana?” tawar Sooji.

“Oke!” jawab Hayoung dengan senyum lebarnya sehingga gigi putih dan rapinya terlihat.

Seperti petir, senyum lebar Hayoung membuat Sooji ikut tertawa seperti tersambar dengan senyuman itu. Dan, Sehun sangat senang melihatnya. Adiknya dengan Sooji akrab. Itulah yang ia inginkan.

“Akan ku telepon Sehun jika jadwalku kosong.” Janji Sooji.

Sehun pun langsung menoleh pada Sooji. “Kau akan langsung beraktifitas kembali?” tanyanya dengan wajah heran.

“Mm,” sahut Sooji sembari menganggukkan kepalanya. Melihat wajah Sehun yang terheran-heran, ia pun melanjutkan sembari tersenyum. “Tenang saja, kejadian seperti dulu tidak akan terulang.”

Mendengarnya, Sehun pun menganggukkan kepalanya dan merasa lega. Namun, ia rasa pikirannya bertambah banyak dengan muncul kembali ingatan tentang kecelakaan yang disebabkan olehnya dua tahun yang lalu.

“Kalau begitu, kami pulang. Sampai jumpa onni!” ucap Hayoung sembari melambaikan tangannya pada Sooji.

Sooji balas melambaikan tangan pada Hayoung. “Bye!” katanya saat Sehun dan Hayoung hendak masuk ke dalam mobil. “Hati-hati di jalan.”

~œ~œ~œ~

Sekitar dua bulan berlalu sejak kematian mediang ibu Sooji, Bae Ahyeon. Dua hari setelah itu, Sooji pun sudah bisa menerima kematian ibunya berkat keluarga Jo, terlebih lagi ibu Kwangmin yang kehilangan salah satu anak kembarnya.

Dan, hari ini pun, di sekolah Sooji dan Kwangmin tengah diadakan acara kelulusan untuk angkatan Sooji.

Ya, beberapa minggu yang lalu, Sooji baru saja mengikuti ujian sekolah. Dan bisa dikatakan, mulai hari ini, ia tidak menjadi seorang pelajar lagi. Lagi pula, ia juga sudah mendaftar di perguruan tinggi yang sama dengan Sehun. Memang sengaja karena Sooji ingin ada seseorang yang dikenalnya nanti.

Bedanya, kalau Sehun mengambil jurusan musik, Sooji justru mengambil jurusan theater.

Dan untuk murid tahun pertama dan kedua, proses belajar diliburkan khusus untuk hari itu. Namun, bagi siapa pun yang ingin datang untuk memberi selamat untuk senior yang dikenalnya.

Angin berhembus dengan kencangnya pada bulan ini. Jadi, Sooji yang memang masih harus mengenakan seragam sekolahnya untuk yang terakhir kalinya harus berkali-kali membenarkan rambut serta roknya yang berterbangan. Ia juga harus membenarkan syalnya agar leher dan wajahnya tetap hangat.

Sooji datang sendirian. Youngmi hanya dapat mengantarkannya ke sekolah, namun tidak menunggunya. Kemudian, setelah Sooji sudah duduk manis di dalam gymnasium bersama teman-temannya, Kwangmin datang dengan pakaian hangat dan tebal membawa sebuket bunga warna-warni bersama Jieun seperti biasa.

Lalu, datanglah Sehun dengan pakaian rapi dan tebal bersama Hayoung yang mengenakan rok sepanjang lutut dengan coat hitam panjangnya yang hampir menutupi roknya. Buket bunga ada di pelukan Hayoung yang terlihat sedikit lebih dewasa dari usianya.

Onni!” panggil Hayoung sembari melambaikan tangannya pada Sooji begitu ia memasuki ruang gymnasium dan mendapati Sooji yang duduk bersama Jieun dan Kwangmin.

Sooji yang mendengar namanya dipanggil langsung menoleh dan tersenyum lebar.

“Tunggu sebentar, ya,” kata Sooji pada Jieun dan Kwangmin sebelum ia berdiri untuk menghampiri Hayoung yang membawa sebuket bunga.

Dari tempatnya duduk, Kwangmin dan Jieun sama-sama melihat ke arah Hayoung yang beberapa detik kemudian terlihat Sehun di belakang gadis itu.

“Bukankah itu Oh Hayoung?” tanya Jieun memastikan sembari menyipitkan matanya agar bisa melihat lebih jelas. “Gadis yang kausukai?”

Eoh,” jawah Kwangmin singkat. Matanya tetap mengawasi Hayoung, Sooji dan Sehun.

“Dia mengenal Sooji?” tanya Jieun lagi. Rasa penasarannya benar-benar tinggi untuk didiamkan saja.

“Dia adik dari teman Sooji.” Jawab Kwangmin. “Entah teman atau apa.”

Jieun langsung menoleh ke arah Kwangmin dengan pandangan menggoda. Kwangmin yang menyadari tatapan Jieun pun segera menoleh dan mengerutkan keningnya bingung.

“Apa?” tanya Kwangmin.

“Kau menyukai dua orang sekaligus, ya?” Dengan wajah yang berniat menggoda Kwangmin, Jieun juga memiringkan kepalanya.

“Apa?” pekik Kwangmin mengulangi pertanyaan sebelumnya. Ia tidak tahu kenapa sepupunya itu bisa berpikiran seperti itu. Kadang, pikiran orang dewasa memang tidak bisa ia pahami.

“Mengaku saja deh,” kata Jieun sembari membenarkan duduknya. “Kau masih menyukai Hayoung, bukan?” Kwangmin terdiam tidak bisa menjawab. Ia sendiri juga tidak tahu apa jawabannya. Jadi, Jieun melanjutkan. “Dan, kau juga mulai menyukai Sooji?”

Skak mat. Kwangmin sama sekali tidak tahu jawaban dari pertanyaan Jieun. Tetapi, hati kecilnya mengiyakan. Jadi, intinya, Kwangmin menyukai dua orang dalam waktu yang sama?

“Kwangmin sunbae, kau datang.” Kata suara yang sudah tidak familiar lagi di telinga Kwangmin terdengar. Begitu Kwangmin mengangkat kepalanya, ia mendapati Hayoung tersenyum ringan padanya, membuat perasaannya langsung terasa aneh.

Ia mengutuk kenapa ia melihat senyum yang disukanya saat ia sudah mengenal Sooji.

“Dunia sempit sekali, ya?” gurau Sooji ketika ia datang kembali dengan bunga yang sebelumnya dipeluk oleh Hayoung dan duduk di sebelah kanan Jieun.

Pasti bunga dari Sehun.

Argh! Ada apa dengan dirinya?

Dengan gerakan tiba-tiba, Kwangmin pun langsung berdiri ketika Hayoung baru saja duduk di sebelah kanan Sooji dan diikuti oleh Sehun. Jadi, bisa dikatakan posisi duduk mereka dari kiri ke kanan adalah Kwangmin, Jieun, Sooji, Hayoung dan Sehun. Posisi yang bagus.

Eodiga?” tanya Jieun herang sembari menahan lengan Kwangmin. Sooji dan Hayoung pun ikut menatap Kwangmin dengan heran, sedangkan Sehun menoleh acuh tak acuh.

“Toilet.” Jawab Kwangmin tanpa menoleh kepada siapapun dan langsung pergi begitu saja dengan wajah aneh.

Sooji dan Jieun pun saling menatap dengan pandangan bertanya. “Ada apa dengannya?” tanya Sooji.

Jieun hanya mengangkat bahunya. Ia juga tidak mengerti dengan sikap Kwangmin barusan. Itu adalah pertama kalinya melihat sikap aneh Kwangmin yang seperti itu.

~œ~œ~œ~

Kwangmin membasuh wajahnya di wastafel di toilet sekolah dengan harapan pikirannya bisa lebih normal kembali. Dirinya sendiri bahkan tidak tahu apa penyebab ia bersikap aneh seperti ini. Rasanya seperti… ada sesuatu yang mengganjal akibat pernyataan Jieun beberapa menit yang lalu.

Sembari melihat bayangan dirinya di depan cermin besar di hadapannya, Kwangmin menghembuskan nafas berat.

Sebenarnya, siapa yang disukainya? Pertanyaan seperti itu terus saja muncul di kepalanya. Membuatnya risih dan tidak enak.

Menyukai dua orang sekaligus.

Ia benci sekali keadaan seperti ini. Ia tidak mau menjadi lelaki yang tidak punya pendirian. Sangat tidak suka.

“Kenapa lama sekali?” tanya Jieun setelah Kwangmin sudah duduk kembali di tempatnya. “Kau tertidur di sana?”

Kwangmin hanya mendelik pada Jieun, namun tidak berniat untuk membalas ejekan Jieun karena acara sudah dimulai.

~œ~œ~œ~

Beberapa minggu setelah kelulusan Sooji, Kwangmin jarang sekali bertemu gadis itu karena memang ia tidak dapat melihatnya lagi di sekolah. Dan, di rumah, juga begitu. Rumah mereka berdua memang bersebelahan, namun itu tidak berarti bahwa mereka sering bertemu.

Terlebih lagi banyak produk komersial menawarkannya untuk menjadi bintang di iklannya dan juga pemotretan beberapa majalah. Makin sedikitlah harapan Kwangmin untuk bertemu Sooji.

Namun, sebelum Sooji mulai memasuki hari barunya di universitas, Kwangmin terlebih dahulu mengajak gadis itu pergi. Memang bukan berdua, tetapi bertiga bersama Jieun. Kwangmin belum terlalu berani untuk pergi berdua dengan Sooji. Takut kalau suasana menjadi canggung.

Dan hari ini, saat Sooji tidak sedang memiliki jadwal apapun untuk dua hari kedepan, ketiganya berkumpul di rumah Sooji yang cukup besar itu.

“Jalan?” tanya Sooji seraya menaikkan sebelah alisnya heran.

Kwangmin dan Jieun mengangguk mantab.

“Aku, Kwangmin, dan Kau kan tidak punya surat izin mengemudi. Lagipula, aku tidak bisa mengemudi apapun kecuali sepeda,”

“Aku ragu kau bisa naik sepeda, noona.” Sela Kwangmin, membuat Jieun mendelik dan mendesis. Kwangmin pun langsung mengatupkan mulutnya sambil menahan tawa, dan juga membuat Sooji terkekeh kecil.

“Tidak apa-apa kan kalau jalan?” tanya Jieun lagi untuk memastikan.

Sooji mengangguk dengan senyum lebar. “Asal kalian tidak terganggu dengan para penggemarku nanti ya.” katanya percaya diri, membuat Kwangmin terkekeh dan Jieun menggumamkan sesuatu yang tidak jelas.

Kemudian, ketiganya berjalan ke halte yang berada tidak terlalu jauh dari rumah, yaitu di depan jalan yang lebih besar. Sesampainya di halte, mereka tidak perlu menunggu lama bus yang akan mereka tumpangi.

Sedangkan Sooji yang tidak terlalu tahu jalan atau nomor bus yang akan mereka naiki ke theme park hanya mengikuti Jieun dan Kwangmin saja.

Ketiganya memilih tempat duduk yang paling belakang. Jieun di pojok di dekat jendela, di samping kirinya Sooji, dan di samping kiri Sooji ada Kwangmin.

“Sudah lama aku tidak naik bus umum.” Gumam Sooji, membuat Kwangmin dan Jinri menoleh.

“Kapan terakhir kali sunbae naik bus?” tanya Kwangmin mendului Jieun.

Jieun pun tersenyum menggoda pada Kwangmin tanpa diketahui Sooji dan memasang headseat pada mp3 playernya sambil memainkan ponselnya untuk memberi kesempatan Kwangmin mengobrol dengan Sooji.

“Mm,” Sooji berpikir sejenak. “Kurasa, sekitar tujuh bulan yang lalu bersama eomma.”

Kwangmin diam sebentar, memberi waktu pada Sooji. Lalu ia melanjutkan. “Sisanya, sunbae naik apa kalau ke sekolah?”

“Biasanya dari pihak agensi atau Youngmi eonni yang mengantar dan menjemputku ke sekolah. Kadang juga bersama Sehun,”

Kwangmin diam. Ia semakin merasa bahwa hubungan Sooji dengan Sehun tidak hanya sekedar teman. Bahkan, saat ada Sehun, Kwangmin merasa cemburu tanpa ada alasan yang jelas.

“Tapi kadang, aku naik taksi karena tidak tahu jalan.”

“Taksi?” Kwangmin langsung menoleh. “Tidak terlalu mahal ke sekolah naik taksi?”

Sooji menggeleng. “Sebenarnya sih memang mahal. Tapi karena tidak ada yang mengantar, jadi terpaksa naik taksi.”

Setelah Sooji berkata seperti itu, keduannya diam. Kemudian, Kwangmin kembali bertanya. “Sunbae sudah pernah ke theme park?” tanyanya untuk mencari bahan obrolan.

Sooji mengangguk. “Pernah,” jawabnya. “Tapi hanya untuk syuting. Aku belum pernah benar-benar ke sana untuk bermain.” Lanjutnya dengan wajah sedih.

“Benarkah?”

“Mm,” Sooji mengangguk. “Kalau kau bagaimana?”

Kwangmin berpikir sebentar. “Beberapa kali pernah. Bersama keluarga dan juga teman-teman sekolah.”

“Ah, aku iri.” Gumam Sooji.

Wae?” tanya Kwangmin bingung.

“Kau punya banyak teman, bukan?” tanya Sooji.

Kwangmin tetap diam menunggu Sooji melanjutkan karena ia tidak tahu kemana arah pembicaraan yang ia mulai duluan.

“Aku tidak punya banyak di Seoul karena kesulitanku untuk beradaptasi. Itu sebabnya aku tidak tahu jalan di Seoul, karena aku tidak punya teman dan selalu berada di rumah saat tidak punya jadwal apapun.” Cerita Sooji, membuat Kwangmin diam-diam tersenyum.

“Yang aku punya selain eomma hanya Youngmi eonni dan Sehun. Tetapi, mereka berdua sama sibuknya.”

“Sekarang kau punya aku dan Jieun noona.” Sahut Kwangmin dengan senyum manisnya.

Gomawo, Kwangmin-ah.” Sooji membalas senyum Kwangmin tak kalah manis, membuat jantung Kwangmin tiba-tiba merasa berdetak lebih cepat dari biasanya.

~œ~œ~œ~

Seharian ini, Kwangmin, Jieun, dan Sooji benar-benar bersenang-senang di theme park, Everland yang ada di Seoul. Menaiki banyak permainan ekstrim yang membuat jantung berolah raga berkali-kali, namun mereka tetap ingin menaikinya lagi walaupun terkadang Kwangmin tidak ingin ikut lagi.

Hari ini, Sooji benar-benar merasa senang dan bebas. Ia bisa berteriak sepuasnya untuk menghilangkan stres dan juga tertawa terbahak-bahak karena Kwangmin yang paling tampan diantara ketiganya merasa tidak kuat untuk melanjutkan permainan yang lebih ekstrim.

“Aku mau itu!” Kata Sooji sambil menunjuk sebuah konter yang menjual permen kapas.

“Kwangmin-ah, belikan.” Pinta Jieun dengan mata memohonnya, membuat Kwangmin menghela nafas dan melangkahkan kakinya ke konter tersebut. Sedangkan Jieun dan Sooji ber-high five lalu mencari kursi panjang yang kosong untuk beristirahat.

Dalam hati, Kwangmin menggerutu. Sebenarnya, ia kemari untuk bersenang-senang atau hanya untuk menjadi ‘pembantu’ kedua gadis itu? astaga…

Setelah itu, Kwangmin pun kembali menuju Sooji dan Jieun dengan dua permen kapas berwarna merah muda.

Gomawo,” ucap Sooji dengan senyum lebar bak anak kecil ketika Kwangmin memberinya permen kapas tersebut.

“Mm,” balas Kwangmin tersenyum.

“Kwangmin-ah, fotokan kami.”
Baru saja Kwangmin mendudukkan dirinya di sebelah Sooji, Jieun kembali menyuruhnya seraya mengambil polaroid berwarna putih dengan garis-garis merah muda dari dalam tas tangannya.

Dengan rahang yang mengatup menahan geram, Kwangmin kembali berdiri dan mengambil polaroid tersebut. Sedangkan Sooji dan Jieun menggeser tubuh mereka menjadi lebih dekat.

“Sekali lagi.” kata Jieun setelah Kwangmin selesai memotret.

Masih mencoba sabar, Kwangmin pun mengambil kertas foto yang keluar dari polaroid dan kembali memotret Sooji dan Jieun yang sudah mengganti pose mereka. Lalu, ia member kedua foto tersebut pada kedua gadis itu.

“Aku ini.” kata Sooji seraya mengambil salah satu foto yang Kwangmin berikan.

“Kalau begitu, aku yang ini.” Jieun pun mengantongi foto satunya lagi. Kemudian, ia berdiri dan menarik Kwangmin agar duduk di sebelah Sooji. “Akan kufotokan kalian.” Jelasnya sebelum Kwangmin bertanya atau memprotes.

Tanpa banyak bicara lagi, Sooji pun menggeserkan duduknya mendekati Kwangmin dengan senang hati.

Dengan jarak sedekat ini, Kwangmin berharap Sooji tidak akan mendengar detak jantungnya.

~œ~œ~œ~

Hari sudah berganti malam saat Kwangmin dan Sooji berada di puncak bianglala. Mereka hanya berdua saja karena tiba-tiba Jieun pamit pergi untuk suatu alasan.

Mungkin bagi Sooji biasa saja jika hanya berdua seperti ini karena ia menganggap Kwangmin seperti adiknya sendiri. Tetapi tidak pada Kwangmin yang merasa gugup dan sedikit canggung. Namun walaupun begitu, Sooji sama sekali tidak menyadari karena ia sangat menikmati pemandangan kota Seoul pada malam hari di ketinggian.

Woah, aku belum pernah melihat pemandangan malam sebagus ini.” Gumam Sooji takjub.

“Sama sekali belum pernah?” tanya Kwangmin dengan kening berkerut.

Sooji menggelengkan kepala tanpa mengalihkan pandangannya. “Eomma tidak membolehkanku keluar malam hari kecuali untuk urusan kerja.” Kenangnya.

Ibunya itu sangat menyanyanginya, batin Kwangmin.

Kemudian hening. Memang bukan hening yang benar-benar canggung. Hanya saja, sama sekali tak ada percakapan di antara keduannya. Paling-paling hanya Sooji yang bergumam takjub.

Sunbae,” panggil Kwangmin.

Sooji menoleh. “Hm?” sahutnya seraya memiringkan kepala.

“Sehabis ini kau ingin kemana?” tanyanya.

“Pulang.”

“Tidak ingin ke suatu tempat dulu?”

Sooji memutar otaknya, memikirkan tempat yang mungkin akan terlihat indah di malam hari. Seoul Tower? Pikirnya. Tetapi, ia cepat-cepat menghampusnya karena ia rasa Seoul Tower cukup jauh.

“Sungai Han!” pekiknya, membuat Kwangmin sedikit terhentak. “Kau tahu jembatan yang memancurkan air warna-warni itu?” Tanyanya kemudian.

Kwangmin mengangguk. Ia pernah datang ke sana sekali bersama Youngmin dan teman-temannya.

“Aku ingin sekali ke sana.” Katanya pada Kwangmin dengan senyum berseri-seri. “Aku dengar udara di sana sangat sejuk saat malam hari.”

“Kau benar,” sahut Kwangmin seraya menganggukan kepalanya. “Udaranya sangat menyegarkan.”

Senyum Sooji semakin melebar. “Ayo kesana!” ajaknya dengan antusias.

Kwangmin mengangguk seraya tersenyum. Saat ini, ia merasa bahwa ialah yang lebih tua dibanding Sooji walaupun faktanya tidak seperti itu.

Cukup lama setelah mereka turun dari bianglala, keduannya pun sampai di pinggir sungai Han yang malam ini cukup sepi.

Sooji sedikit berlari menuju pinggiran sungai dan kemudian berteriak, membuat beberapa orang yang berada di sana meliriknya heran. Namun, tidak begitu dengan Kwangmin yang berada di belakangnya. Ia hanya tersenyum melihat tingkah Sooji. Ia tahu bahwa gadis itu sedang banyak pikiran saat ini.

Kemudian angin malam yang dingin berhembus, membuat rambut panjang Sooji berterbangan dan menggelitik tubuhnya. Cepat-cepat Kwangmin melepas jaketnya dan memakaikannya di pundak Sooji.

“Oh… gomawo.” Ucap Sooji yang sedikit terkejut.

Kwangmin hanya bergumam menanggapi ucapan terimakasih Sooji, lalu berdiri di sebelahnya. “Bagaimana perasaanmu?” tanya Kwangmin tanpa mengalihkan pandangannya dari wajah Sooji.

Sooji terus menatap ke depan dengan pandangan lega dan bebas. “Sangat bagus.” Jawabnya dengan tersenyum.

Lalu keheningan menyelimuti keduanya lagi. Kali ini, keheningan yang nyaman karena yang terdengar hanya suara sungai di depan mereka dan juga suara kendaraan yang lalu lalang.

“Sooji sunbae,” panggil Kwangmin lagi dengan tiba-tiba.

Sooji pun menoleh. Kali ini ia tidak menunjukan raut wajah yang heran karena saat ini ia merasa sangat lega. “Wae?” tanyanya.

Kwangmin memutar tubuhnya hingga ia menghadap pada Sooji. Raut wajah serius dan gugup Kwangmin justru membuat kerutan pada kening Sooji terlihat.

“Aku menyukaimu, sunbae.” Dengan keberaniannya yang sudah terkumpul, Kwangmin akhirnya membuka mulutnya setelah cukup lama bungkam. Ia tahu perbuatannya kali ini hanya akan membuat hubungannya dengan Sooji menjadi canggung, tapi ia hanya ingin jujur atas perasaannya sendiri.

~To Be Continue~

~Wait Another Story~


39 thoughts on “A Heartbreak – Chapter 4

  1. Aaaaaaaaa…. Kwangmin ah… Berani banget…
    Akhirnya… Stelah nunggu akhirnya ff ini muncul jga… Dan ngga mengecewakan… Daebak thor…

  2. Ah gomawo kak enni. Akhirnya di publish juga setelah sekian lama. Aku suka alurnya yang udah enggak lama lagi! Daaaaan, disini romance-nya ngena deh kak. Tapi ada harapan aku disini, Suji jangan sama Kwangmin ya? Sama Sehun ajalah. Cucok banget kok, hehe. Next chapter ditunggu jangan lama-lama ya kak eni.

    • maaf ya aku lama publish:'( ihihi kan berkat kamu aku jadi mikir-mikir lagi:3 daaaaaan, next chapter romancenya bakal lebih menonjol! tunggu yaaa~~~

  3. Masih penasaran sehun itu masih suka ke suzy atau engga.. Wah kwangmin udh berani nyatain perasaan nya.. Hebat” kira” reaksi suzy gimana ya.. Ditunggu Next part nya thor..

  4. aigooo
    setelah sekian lama akhirnya lanjutannya ada juga.
    aduh penasaran ni eonni Suzy ntar bakalan jadi ama siapa ya ?
    Kwangminkah ? atau Sehun kah ?
    ah. molla
    ditunggu next chap ya eonni😀
    fighting

  5. waaah bravo kwangmin..akhirnya keluar jg tu pernyataan suka..tinggal nunggu respon suzy..tp kayaknya suzy cuma nganggap kwangmin adik..
    next chap ditunggu..hwaiting

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s