A Heartbreak – Chapter 3



  • Tittle    : A Heartbreak
  • Author    : EnnyHutami
  • Lenght    : Series/chaptered
  • Rating    : General
  • Genre    : Romance, School-life
  • Cast    :
  1. Jo Kwangmin
  2. Bae Sooji
  3. Oh Sehun
  4. And others

Copyright © original story by EnnyHutami 2012

Previous : Chapter 2

~œœœ~

Tempat itu sudah dipenuhi dengan beberapa orang yang memakai pakaian formal serba hitam dan juga payung berwarna senada dikarenakan hujan yang turun membasahi kota seakan alam ikut menangisi kepergian wanita paruh baya yang telah berhasil membesarkan anaknya sendirian. Ya, ini adalah pemakaman untuk Ibu Sooji, Yang Soyeon. Tim medis tak berhasil menyelamatkan nyawa wanita itu sehingga wanita itu meninggalkan anak semata wayangnya sendirian untuk selamanya.

Yang datang untuk berkabung memanglah tidak banyak, hanya beberapa teman dan kerabat dari mediang serta beberapa teman dekat Sooji. Sehun, Hayoung, Kwangmin, Jieun dan orangtua Kwangmin tentu saja datang.

Sebuah pidato singkat dari seorang pastur yang mengenakan pakaian formal berwarna hitam dengan garis-garis bertikal putih terdengar samar-samar di telinga Kwangmin karena suara hembusan angin, rintik hujan, dan suara isakan pelan Sooji yang menjadi fokusnya.

Setelah pastur tersebut mengakiri pidatonya, beberapa orang yang memegang setangkai bunga secara bergantian meletakkan tangkai bunga tersebut di atas tanah yang menutupi peti mati di bawahnya. Lalu, beberapa orang mulai berhamburan pergi dengan tertib, meninggalkan Sooji yang menangis di bawah payung yang di pegang oleh Youngmi, Sehun dan juga Hayoung yang masih memilih untuk tetap menemani Sooji. Sedangkan Kwangmin, ia ikut bersama orangtuanya dan juga Jieun yang memilih untuk kembali ke mobil untuk pulang.

Suasana di dalam mobil hening, tak ada yang berbicara karena sang ice breaker tengah ikut merasakan kesedihan sama seperti Sooji. Memang tidak sepenuhnya sedih akibat ibu Sooji yang baru saja dikenalnya itu meninggal dunia, tapi karena sedih melihat Sooji yang menangis seperti itu dan juga tentang Hayoung yang kembali terlihat di matanya…

Eomma bahkan baru mengunjunginya sekali,” gumam ibu Kwangmin yang duduk di depan di samping jok pengemudi dengan nada menyesal. “Dia orang baik.”

Dalam hati, Kwangmin menyetujui ucapan ibunya. Ia tahu Sooji dan ibunya sama-sama orang baik walaupun mereka baru saling mengenal.

Setelah dipikir-pikir lagi, seharusnya ia tetap berada di sana. Ia memanh tahu bahwa Sehun, Youngmi managernya, dan Hayoung tengah berada di sana, tapi siapa yang tahu kalau Sooji tidak merasa sendirian?

Tiba-tiba Jieun menahan ujung kemejanya, seperti tahu apa yang tengah ia pikirkan. Begitu ia menoleh, gadis itu menggeleng pelan, membuatnya mendengus pelan.

~œ~œ~œ~

Sudah sekitar tiga hari berlalu tanpa ada perubahan yang berarti. Setelah pulang dari pemakaman ibunya, Sooji mengurung diri di kamarnya dan keluar dari kamar hanya untuk bersekolah.

Untuk urusan jadwalnya di dunia model, Youngmi sudah meng-cancel semua jadwal Sooji untuk beberapa minggu ke depan. Bukannya berlebihan, tapi, Sooji bukanlah gadis yang mudah uring-uringan dan juga mengurung diri di kamar. Jadi, Youngmi tahu bahwa anak asuhannya itu sangat sangat kehilangan ibunya, terlebih lagi mengetahui fakta bahwa Sooji sudah tidak memiliki siapa-siapa lagi. Tak ada saudara ataupun teman dekat yang akan menemaninya.

Kini ini dia benar-benar sendiri.

Fakta tersebutnya yang membuat Sooji semakin sedih dan takut.

Kepalanya yang diletakkan di antara kedua lututnya menoleh sedikit—namun tidak mengangkat wajahnya—ketika suara bel rumah terdengar sampai ke dalam kamarnya. Namun, ia sama sekali tidak berniat untuk bangun untuk melihat siapakah tamu yang datang karena ia mengira itu adalah Youngmi yang memang biasanya datang kemari untuk melihat keadaan Sooji.

Suara bel terdengar lagi untuk yang kedua kalinya. Kali ini Sooji mengangkat kepalanya dengan malas dan perlahan bangkit dari duduknya yang menyandar pada tembok di ranjangnya.

Sejujurnya dia sedikit kesal dengan manajernya itu saat ini. Kenapa dia tidak langsung masuk saja padahal tahu kata sandi yang dipasang untuk interkom di rumahnya, dan justru memencet bel berkali-kali?

Tanpa melihat siapa yang berkunjung ke rumahnya terlebih dulu, ia melangkah ke luar rumahnya yang tertutup pagar tinggi dan membuka gerbang depan. Ia harus mundu selangkah karena terkejut dan juga dahunya berkerut heran.

Nuguseyeo?” tanyanya kemudian setelah mengamati gadis yang mungkin seumuran dengannya namun lebih pendek dengan celana setengah betis yang ketat dan juga kaus longgar yang panjang sampai ke tengah paha yang terlihat hangat.

Gadis di depannya itu terlihat sangat canggung sampai ia menggaruk belakang lehernya yang Sooji rasa bukan karena gatal. “Chogi… aku penghuni rumah di sana”—dengan gerakan canggung, gadis pendek di hadapannya itu menunjuk rumah yang banyak ditanami tumbuhan hijau yang bagian rumahnya terasa berada di bukit kecil—”dan aku hanya ingin bertanya padamu apa kau mau makan malam bersama?”

Mendengar pertanyaan seperti itu dari orang yang baru dilihatnya, Sooji menaikkan sebelah alisnya samar-samar agar tidak terlalu terlihat oleh gadis itu.

“Ah, maaf terlalu lancang. Tapi, Kwangmin yang menyuruhku kemari untuk mengajakmu makan malam di rumahnya.”

“Eh? Kenapa tidak Kwangmin saja yang kemari mengajakku?” tanya Sooji dengan wajah heran yang tertera jelas di wajahnya.

Gadis di depannya itu mengendikkan dagunya acuh. “Tak tahu. Mungkin saja ia malas keluar rumah.” Jawabnya asal.

“Entahlah…” Sooji terlihat ragu. Sebenarnya ia ingin menolak, tapi ia tidak tahu apa alasan yang harus digunakannya agar tidak menyinggung gadis tersebut ataupun Kwangmin yang sudah mengajaknya.

Otthe?” tanya gadis itu lagi, membuyarkan pikirannya. “Semua sudah menunggumu di rumah Kwangmin.”

Ne?” tanyanya heran sembari melirik ragu ke samping, ke arah pagar pendek yang membatasi antara jalan dan halaman rumah Kwangmin yang cukup luas. Apa maksudnya ‘semua’ dan apa maksudnya kalau ia sudah ditunggu? Hei—tidakkah gadis ini tahu jam yang tepat untuk makan malam? Ini baru jam dua sore.

“Apa yang kau maksud… semuanya?” tanyanya lagi dengan ragu. Gadis di depannya ini benar-benar aneh, menurutnya. Dan, apa hubungannya dia dengan Kwangmin? Temannya atau adiknya?

“Kau bisa melihatnya sendiri nanti.”

Sooji tidak menjawabnya, tetapi ia terus menatap gadis itu dengan pandangan ragu. Berbanding terbalik dengan gadis itu yang menatapnya dengan keyakinan penuh.

“Tunggu sebentar di sini. Aku ganti pakaian.” Putusnya pada akhirnya. Kemudian menutup gerbang dan kembali ke dalam rumah untuk mengganti pakaiannya dengan pakaian yang lebih sopan dan rapi.

~œ~œ~œ~

Mobil hitam itu melaju dengan kecepatan sedang menembus jalanan kota Seoul. Seorang gadis yang duduk tepat di sebelah jok pengemudi itu terus saja melihat ke luar kaca mobil yang cukup gelap itu.

    “Seoul sama sekali tidak berubah, ya,” gumamnya tanpa menolehkan kepalanya.

Sehun yang dengan mengemudi melirik gadis itu sekilas. “Memang apa yang kau harapkan? Bahkan kau hanya tinggal di Amerika selama dua tahun.” Sahutannya membuat bibir gadis itu manyun.

Kemudian, gadis itu, Oh Hayoung, mengalihkan pandangannya dari kaca mobil dan menyandarkan punggungnya pada jok mobil. “Oppa, nada bicaramu datar, tapi benar, deh, langsung bisa membuat moodku turun mendadak.” Sunggutnya.

Sehun terkekeh pelan mendengar sunggutan adiknya dengan bibir manyunnya itu. Namun, ia sama sekali tidak berniat untuk membalas sunggutan itu dan justru mengganti topik pembicaraan.

“Kau benar-benar ingin bersekolah di Hanyoung?” tanyanya, kali ini dengan wajah serius. “Kenapa tidak masuk sekolah seni?”

Hayoung menoleh ke arah Sehun, kemudian memperlihatkan wajah pura-pura berpikirnya. “Hm… aku tidak begitu tertarik pada seni. Oppa tahu kan kalau aku ingin selalu berpergian mengelilingi dunia. Jadi, tentu saja aku harus pandai dalam semua bahasa.” Jawabnya dengan nada bangga.

Aigoo,” komentar Sehun singkat. “Kau sama sekali tidak berubah.”

“Memang apa yang oppa harapkan?” sahut Hayoung mengopi ucapan Sehun beberapa menit yang lalu.

Mendengarnya, Sehun hanya memutar bola matanya, sedangkan Hayoung menertawai kakaknya itu. Setelah itu, suasana menjadi hening, hanya terdengar suara derungan mesin mobil.

Namun, di balik wajahnya yang tenang, sebenarnya Sehun tengah memikirkan satu hal yang membuat hatinya resah. Tentang masa lalunya.

“Hayoung-ah…” panggilannya membuat Hayoung menoleh dengan wajah bertanya. “Kau mengenal anak laki-laki itu?” tanyanya tanpa menjelaskan siapa yang dimaksud.

“Siapa?” ulang Hayoung tidak mengerti.

“Kwangmin… kau mengenalnya?” ulangnya lagi sembari sesekali melirik ke arah Hayoung lewat kaca spion yang berada di atas kepalanya.

“Ah, Kwangmin sunbae,” ucap Hayoung. “Ya, dia senior ku saat di sekolah menengah. Oh, ya, aku belum cerita pada oppa tentang dia, ya?”

Sehun langsung menoleh dengan antusias. Tetapi, keantusiasannya bukan disebabkan oleh apa yang akan diceritakan Hayoung melainkan karena ia akan mendengarkan tentang Kwangmin.

“Aku dan Kwangmin sunbae sangat dekat dulu. Dan, kabar yang kudengar sebelum aku berangkat ke Amerika bahwa Kwangmin sunbae menyukaiku,” mulai Hayoung. “Tapi, aku tidak benar-benar yakin dengan itu karena bukan Kwangmin sunbae sendiri yang mengatakannya.”

Baiklah, cerita seperti ini sama sekali tidak menarik perhatian Sehun. Sungguh.

“Tetapi, kalaupun itu benar, aku benar-benar merasa bersalah padanya.”

“Kenapa menyesal?” tanya Sehun tanpa mengalihkan pandangannya dari jalanan di depannya, mencoba untuk menanggapi cerita Hayoung walaupun ia tidak tertarik.

“Karena aku sering bercerita pada Kwangmin sunbae kalau aku menyukai Youngmin sunbae, kembarannya sendiri. Bahkan aku meminta bantuannya untu mendekat—”

“Kwangmin punya kembaran?” dengan sedikit panik, Sehun menoleh dan menyela ucapan Hayoung.

Hayoung balas menoleh dan mengangguk dengan menggigit bibir bawahnya mengingat tentang masa-masa ia masih menyukai Youngmin. “Tapi, aku tidak tahu dimana dia sekarang. Aku hanya melihat Kwangmin sunbae saja kemarin. Dan, oppa,” Hayoung langsung menoleh dan memiringkan tubuhnya hingga menghadap ke arah Sehun.

“Apa oppa pikir Kwangmin sunbae benar-benar menyukaiku?” tanyanya.

Tetapi, beberapa detik berlalu, Sehun tidak menampakkan tanda-tanda bahwa ia akan menjawab pertanyaan Hayoung. Jadi, gadis itu bertanya lagi. “Oppa mendengarkanku?”

“Hm?” sahut Sehun agak gelagapan.

Oppa tidak mendengarkanku, ya?” tanya Hayoung lagi dengan kecewa. “Apa yang oppa pikirkan saat ini? Sooji onni?”

“Oh?” sahut Sehun lagi dengan linglung. Seperti orang bodoh yang sedang mencari alasan. Tapi, yah, setidaknya ia memang sedang mencari alasan yang cukup logis. “Ya, aku khawatir Sooji sedang uring-uringan.”

Hayoung menolehkan kepalanya ke depan sembari menggeleng-gelengkan kepalanya mengerti. “Kalau begitu, setelah mengambil data-data sekolahku, kita ke rumah Sooji onni saja. Bagaimana?” ia mengusulkan.

Sehun menganggukkan kepalanya tanda bahwa ia menyetujui usulan adiknya itu. Tapi sesungguhnya, bukan hanya Sooji yang ada di pikirannya dan membuatnya gelisah seperti ini. Melainkan orang lain.

~œ~œ~œ~

Sooji berdiri di ruang tamu rumah keluarga Jo dengan canggung dan tidak nyaman. Matanya mengedar ke sekeliling mencoba untuk merilekskan bahunya yang tegang.

Ini baru pertama kalinya ia berada di rumah orang asing, jadi tidak heran jika ia merasa aneh dan canggung seperti ini. Ibunya tidak pernah mengunjungi orang-orang terdekatnya karena beliau lah yang selalu dikunjungi. Jadi, Sooji juga belum pernah masuk ke rumah orang lain kecuali apartemen managernya.

“Oh, sunbae,”

Ketika mendengar suara yang belakangan ini sering di dengarnya, ia pun langsung menoleh ke arah sumber suara dan mendapati Kwangmin tengah menuruni anak tangga. Anak laki-laki itu mengenakan celana jeans hitam panjang dengan kaus rajut lengan panjang berwarna putih kecokelatan.

“Ada apa kemari?” pertanyaan Kwangmin saat ia sudah berada di dekat Sooji, membuat Sooji mengerjapkan matanya bingung.

“Bukankah kau yang mengundangku kemari?” tanya Sooji balik, sama bingungnya dengan wajah Kwangmin. “Tadi, ada anak perempuan yang menyuruhku kemari.”

“Anak perempuan?” alis Kwangmin terangkat sebelah. Sepengetahuannya, tidak ada anak perempuan di rumah ini. Kecuali… “Maksudmu Jieun noona?” tanyanya dengan menahan tawa.

Ya, ia tertawa karena Sooji menganggap Jieun adalah seorang anak-anak. Yah, memang tidak jarang yang mengira seperti ini.

“Jieun noona bahkan lebih tua darimu, sunbae. Dan dia sudah dewasa sekarang.” Jelas Kwangmin dengan senyum bermaksud yang membuat Sooji malu berat.

“Kupikir dia adikmu atau apa.” Jawab Sooji malu sambil menggaruk belakang lehernya.

Kemudian, Jieun muncul dari balik dinding yang membatasi antara ruang tamu dengan bagian dalam rumah. “Kwangmin, bantu ibumu memasak.” Ucap Jieun.

Mwoya?” protes Kwangmin. “Kau tahu aku tidak bisa memasak.”

Sooji menoleh dan mengangkat tangan kanannya. “Biar aku saja yang bantu.” Katanya dengan sedikit ragu.

“Oh,” gumam Jieun sembari menatap Sooji canggung. “Kalau begitu, ayo.”

Setelah semua makanan matang, masih ada beberapa jam lagi sampai waktu makan malam. Sebenarnya, Sooji juga merasa ia datang terlalu cepat untuk undangan makan malam seperti ini. Tapi apa boleh buat. Toh dirinya sudah berada di sini sekarang.

“Sembari menunggu makan malam, kalian bertiga main saja di atas.” Kata ibu Kwangmin tiba-tiba saat Sooji tengah mencuci tangannya.

Ne?” ulangnya sedikit terkejut sembari memutar setengah tubuhnya. Ia tidak pernah mengira akan ‘masuk’ lebih dalam rumah orang lain. Terlebih lagi ini adalah rumah adik kelasnya, laki-laki pula.

“Jieun-ah,” saat Sooji melihat ibu Kwangmin menggerakkan kepalanya seolah ‘mengusir’ Jieun dan Sooji dari dapur, saat itu juga lah Jieun bergegas meninggalkan dapur sembari menyuruh Sooji mengikutinya.

Chigiyo…” panggil Sooji sembari mereka berdua menaiki anak tangga.

Jieun yang mendengarnya pun berhenti dan menoleh ke belakang dengan memutar sedikit badannya.

“Kau… bohong kan saat kau bilang bahwa Kwangmin mengundangku untuk makan malam?” tanyanya hati-hati.

“Mm,” sahut Jieun enteng sembari menganggukkan kepalanya. “Bibi menyuruhku bilang begitu karena ia takut kau tidak mau datang jika alasannya ‘undangan makan malam dari tetangga sebelah’. Jadi, maafkan aku, ya?” lanjutnya memberi penjelasan dengan ringisan lucu.

Sooji pun tersenyum kecil mendengarnya agar terlihat lebih sopan. Dalam hatinya, ia merasa dadanya sesak karena merindukan ibunya. Ia tahu bahwa ia tidak akan pernah bisa melihat ibunya lagi dan mendapatkan kasih sayangnya. Ia merasa merindukan kasih sayang ibunya itu.

Begitu sampai di lantai atas rumah keluarga Jo, mata Sooji mengedar ke sekeliling, mengamati tiap sudut rumah ini dengan seksama dan sedikit kagum.

Rumah ini bisa dibilang cukup besar dengan halamannya yang luas. Dan di lantai dua ini, tidak ada koridor yang di samping kanan dan kirinya terdapat pintu. Bahkan ruangan berpintu yang ada di lantai ini hanya ada empat dengan satu pintu yang mengarah ke beranda.

Jadi, bisa dibilang bahwa lantai dua itu seperti menyatu dan tidak dipisahkan oleh tembok-tembok. Yang ada hanya sofa panjang yang beralaskan karpet berbulu berwarna krem yang nyaman untuk duduk atau tidur-tiduran di sana.

Di depan sofa dan karpet tersebut terdapat sebuah televisi layar datar yang cukup besar yang diletakkan di dinding. Dan, di samping televisi terdapat sebuah piano. Memang bukan, grand piano, tapi piano itu cukup besar. Ia bertanya-tanya bagaimana caranya untuk membawa piano tersebut ke atas.

“Kwangmin… di mana?” tanya Sooji setelah merasa cukup melihat-lihat.

“Kurasa ia masih di bawah,” jawab Jieun. “Tunggu, ya. Aku panggilkan dulu.” Lanjutnya dengan senyum ramahnya.

Sooji merasa bahwa keluarga Kwangmin adalah orang-orang yang baik dan menyenangkan. Lihat saja Kwangmin sendiri yang ceria seperti itu.

Sepeninggalan Jieun, Sooji pun merasa tertarik untuk melihat foto-foto yang terpajang di atas piano dan meja panjang yang berada di bawah televisi. Sepertinya keluarga ini senang sekali berfoto, ya.

Foto pertama yang Sooji lihat adalah foto dua anak laki-laki dan satu anak perempuan berambut pendek yang kira-kira masih berusia dua atau tiga tahun. Foto yang kedua adalah foto laki-laki dan wanita dewasa yang ia yakini adalah ibu dan ayah Kwangmin.

Semakin bergeser, Sooji semakin heran karena foto-foto berikutnya memperlihatkan dua anak laki-laki berambut hitam yang mirip sekali. Ia yakin itu adalah Kwangmin, tapi… ia tidak yakin Kwangmin memiliki kembaran.

Dan ia melirik ke foto yang lainnya, ia benar-benar yakin bahwa foto itu bukan editan atau apapun yang bisa menggandakan orang. Tapi dua laki-laki yang terpajang di foto ini dnegan senyum lebarnya benar-benar mirip. Kwangmin masih dengan rambutnya yang agak pendek dan hitam, sedangkan laki-laki satunya lagi berambut agak lebih panjang, namun berambut hitam juga.

Kwangmin benar-benar memiliki kembaran? Tapi kenapa ia tidak pernah melihatnya?

“Oh, sunbae, kau sudah selesai?”

Sooji langsung membalikkan badannya karena terkejut dengan suara berat Kwangmin yang tiba-tiba terdengar. Begitu ia membalikkan badannya, ia melihat Kwangmin dengan celana jeans panjang berwarna hitam dengan kaus rajut lengan panjangnya seperti tadi. Dan, di belakangnya terdapat Jieun yang kini sudah menggerai rambutnya.

“Kwangmin-ah, ini… kau punya kembaran?” tanya Sooji langsung tanpa basa-basi sembari menunjuk foto-foto yang terletak di atas piano.

Kwangmin terdiam sebentar sembari melirik ke arah bingkai-bingkai foto yang terdapat di atas pianonya sebelum ia mengangguk mengiyakan pertanyaan Sooji. “Ya, aku punya,” jawabnya dengan suara yang tidak seperti biasanya, membuat Sooji mengerutkan keningnya.

“Kau bilang kau…” Sooji menggantungkan kalimatnya begitu menyadari air muka Kwangmin yang berubah drastis. Ia tidak tahu apa yang terjadi, tetapi itu membuat Kwangmin tidak nyaman. Jadi, ia berhenti bicara dan tidak mau meneruskan perkataannya.

“Kwangmin yang kukenal tidak seperti ini.” Sambar Jieun yang sedari tadi berdiri di belakang Kwangmin sembari menepuk bahu Kwangmin pelan, seolah ingin memberinya kekuatan.

Kemudian Jieun melewati Kwangmin dan menghampiri Sooji yang masih membeku di tempatnya. “Sooji, kau bisa bermain piano?” tanyanya untuk mencairkan suasana.

Sooji pun menoleh pada Jieun dan menggelengkan kepalanya. “Tidak bisa, tapi aku bisa menyanyi.”

“Bagus sekali?” tanya Jieun lagi untuk bergurau.

Kali ini Sooji menganggukkan kepalanya dengan senyum miringnya. “Kurasa. Banyak orang yang bilang begitu. ” Dan, ia pun membalas gurauan Jieun.

Aigoo, kau benar-benar percaya diri.” Decak Jieun sembari tertawa. Kemudian, “Aku bisa main gitar, mau bermain?” tawarnya, dan tentu saja mendapat anggukkan semangat dari Sooji.

“Kwangmin, kau mainkan pianonya.” Perintah Jieun sembari berdiri untuk melangkah menuju kamar Kwangmin untuk mengambil gitar.

“Aku tidak bisa.” Sahutnya pendek sembari bergegas untuk pergi.

Melihat itu, Soojung semakin merasa bersalah. Seharusnya ia tidak usah menanyakan hal tersebut. Lagipula itu bukan urusannya.

“Pembohong.” Cerca Jieun sinis. “Ppali!” perintahnya lagi dengan menggerakkan kepalanya.

Kwangmin pun hanya menghela nafasnya pasrah kemudian menyeret langkahnya menuju piano.

Mian,” ucap Sooji kemudian saat Kwangmin sudah duduk dengan sangat menyesal.

Kwangmin menoleh dan tersenyum kecil untuk menenangkan Sooji. Ia tidak mau gadis itu merasa bersalah. Lagipula ini bukan salahnya. Mood Kwangmin akan berubah drastis jika seseorang mengingatkannya tentang saudara kembarnya.

“Dia memang kembaranku. Namanya Jo Youngmin.” Katanya memulai untuk menceritakan tentang saudara kembarnya. “Seperti yang sunbae lihat sekarang, ia tidak ada di sini. Meninggal dunia karena kecelakaan.”

~œ~œ~œ~

“Besok kau mau kuantarkan?” tawar Sehun pada Hayoung ketika mereka masih berada di dalam mobil setelah mengunjungi sekolah baru Hayoung.

Hayoung pun mengangguk kemudian menoleh ke arah Sehun. “Tentu saja,” jawabnya. “Untuk hari pertama oppa harus mengantarkanku. Kalau aku sudah hafal jalan, aku akan naik bus.”

“Tidak mau kuantar seterusnya?” tawar Sehun lagi.

Hayoung pun mengangkat kedua tangannya ke depan dada dan membentuk tanda silang sembari menggeleng. “Kalau jalur sekolahku dengan kampus oppa sama, boleh saja.” Ucapnya. “Aku tidak ingin merepotkan oppa. Aku tahu oppa sibuk meladeni para penggemar unofficial di kampus, bukan? Hm… seharusnya aku buat fansite untuk oppa. Bagaimana?”

Ya!” Ucap Sehun sembari memutar bola matanya, membuat Hayoung terkekeh sendiri.

Beberapa menit kemudian, mobil yang dikendarai Sehun pun berhenti tepat di depan rumah Sooji. Jadi, mereka berdua pun turun dari mobil untuk mengajak Sooji makan malam di luar.

Tak lupa, Hayoung mengenakan coat panjangnya yang sama dengan yang dipakainya saat perjalanan ke Korea karena angin yang berhembus cukup dingin.

Dentingan bel pertama sudah ditekan oleh Sehun, namun, beberapa menit menunggu tak kunjung ada balasannya. Jadi, ia kembali menekan bel lagi.

“Tidak ada orang?” tanya Hayoung.

Sehun menoleh ke arah Hayoung kemudian mengangkat bahunya tanda tak tahu. “Di saat seperti ini, tidak mungkin ia sudah kembali beraktivitas.” Katanya lebih kepada dirinya sendiri.

Begitu terdengar suara tawa yang familiar, Sehun menoleh ke arah sumber suara begitu pun juga Hayoung. Dan, pemandangan tak ia duga terlihat di depan wajahnya. Sooji sudah kembali tertawa dengan Kwangmin dan gadis lain yang lebih pendek dari Sooji ataupun Hayoung.

Sehun mengenal Sooji. Dan, gadis itu akan menghindar dari publik dan orang-orang jika ada peristiwa yang membuatnya sangat sedih.

“Terima kasih makan malamnya,” samar-samar Sehun dan Hayoung mendengar suara Sooji. “Masakan ibumu enak sekali.”

Oh, rupanya dia sudah makan malam, batin Sehun kecewa.

“Tentu saja,” balas Kwangmin. “Lain kali sunbae harus main kemari.”

Sooji mengangguk sembari tersenyum manis. Kemudian gadis lainnya yang pendek menepuk pundak Sooji seperti mereka sudah akrab sekali. Untuk kali ini, Sehun dan Hayoung tidak dapat mendengar suara yang diucapkan gadis itu karena suaranya terlalu kecil. Namun, Sooji mengangguk dan tersenyum dengan ekspresi sedih untuk menanggapi perkataan gadis itu.

Kemudian Sooji pun membungkuk kecil pada dua orang di depannya dan memutar tubuhnya untuk melangkah menuju rumah.

“Oh, Sehun-ah, Hayoung-ah, sejak kapan menunggu di sini?” ucap Soojung ramah dan bersahabat.

Annyeonghaseyeo, onni,” sapa Hayoung sembari membungkuk cukup dalam. Ketika ia kembali menegapkan badannya, ia mendapati Kwangmin masih berdiri di tempatnya semula sembari memperhatikannya.

Oppa, onni, aku ke Kwangmin sunbae sebentar.” Setelah Hayoung pamit, ia pun langsung melangkah dengan langkah yang cukup lebar menghampiri Kwangmin.

Sooji yang tidak tahu bahwa Hayoung mengenal Kwangmin hanya menoleh dengan terkejut pada Hayoung, kemudian Sehun. “Hayoung mengenal Kwangmin?” tanyanya pada Sehun.

Sehun pun mengangguk. “Ya, mereka satu sekolah saat sekolah menengah.” Jawab Sehun.

“Kalau begitu Hayoung tahu jika Kwangmin punya kembaran?” tanya Sooji lagi.

Seketika itu, mata Sehun pun membelalak terkejut. Bagaimana… tanya Sehun dalam hati. Sooji yang melihat ekspresi Sehun justru mengartikan lain. Ia kira bahwa Sehun terkejut dengan berita itu.

“Lalu… kembarannya ada di mana?” kali ini gantian Sehun yang bertanya, namun dengan hati-hati.

“Meninggal karena kecelakaan.”

Jawaban Sooji membuat tubuh Sehun lemas mendadak. Entah kali ini Tuhan tengah menghukumnya atau apa, tapi ini benar-benar terjadi. Anak laki-laki yang ditabraknya saat ia mengendarai mobil dengan ugal-ugalan bersama temannya adalah kembaran Kwangmin. Anak laki-laki yang disukai oleh adiknya sendiri.

~To Be Continue~

~Wait Another Story~

36 thoughts on “A Heartbreak – Chapter 3

  1. akhirnya di post jg min, makin seru ceritanya. omo, sehun yg nabrak kembaran kwangmin. cpt di lanjut min makin penasaran.^^

  2. Jadi sehun dr td sbuk sma pikiranny sndri itu karna brsalah nabrak kmbaran kwangmin tah..thor sbnerny sehun itu syang ga sih sma suzy kok krang gmn gt..ak harap sehun sma kwangmin mreka suka sma suzy🙂 oya thor hati2 ya sma typo.ny suji jd soojung :D…lanjutanny jgn lama2 ya thor seru bgt nih..dan banyakin romance antara sehun suji dan kwangmin🙂

  3. Maaf kak bru bisa coment ..
    Kayak nya menejernya sooji tuh namanya youngmin deh .. Apa mungkin itu kmbrnnya ya?
    Keren banget ..🙂
    Ditunggu lanjutannya kak ..

  4. Kak eni. Ada sedikit hal yang menggnjal. Alurnya itu terlalu agak lama. Jadi enggak bisa menangkap keseluruhan cerita di part ini dengan antusias. Tapi bagus banget jalan ceritanya. Romance nya kurang kak eni, jd kurang greget. Tolong ya kak, selanjutnya di publish buruan. Aku udah enggak sabar soalnyaaa😀

  5. Ah daebak. Akhirnya muncul juga kke.
    Kasian suzy ditinggal ibunya:-(.
    Oh jadi youngmin udah mati? Sehun yang nabrak? Pantes pas pertama sehun liat kwangmin agak aneh.
    Ditunggu next partnya ya thor^^

  6. huaaa…… keren…
    lanjut donk….
    wah wah…. Sehun ternyata oh ternyata…
    mmm…. Suzy udah mulai ceria…. hohoho…
    Daebak thor… pnggambarannya bener2 detail (y)
    ditunggu next chapnya^^

  7. Andweeeee….knp sehun yg ‘membunuh’ saudara kembar kwangmin? T_T sptnya endingnya gk bakalan sehun suzy ya? Hikssss

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s