First Love Pain [Final Chapter]



  • Tittle    : First love pain
  • Author    : EnnyHutami
  • Lenght    : Chaptered
  • Rating    : General
  • Genre    : Romance, Sad
  • Cast    :
  1. Bae Sooji
  2. Choi Minho
  3. Jung Soojung a.k.a Krystal Jung
  4. Kim Myungsoo
  5. And others (Find them self)

     


Copyright © Ennyhutami Fanfiction 2012

~œœœ~

[CHAPTER 14]

-Seperti inilah akhirnya-


 

Sudut pandang penulis

Nice shoot!” teriak seorang laki-laki berwajah tegas yang memiliki tubuh atletis ketika Minho men-shoot bola dari lingkaran luar ring basket dengan pas, yaitu bola mengenai titik di tengah papan yang garisi garis putih berbentuk kotak dan terpantul ke dalam lingkaran ring tanpa mengenai pinggiran besinya.

Minho tersenyum kecil ketika mendapat pujian tersebut. Bukan karena ia haus akan pujian dari sang pelatih, tapi karena kini Sooji tengah memperhatikan permaiannya dari atas sana.

Begitu ia menolehkan kepalanya, ia harus menelan kekecewaan dan juga kebingungan karena Sooji tidak lagi berada di tempatnya.

Kemana dia? Pertanyaan itu terlontar di benaknya ketika Jinki menepuk pundaknya pelan untuk mengingatkannya agar kembali ke posisi semula untuk melakukan pertahanan dari permainan basket yang tengah ia mainkan.

¯

 

“Kemana Sooji?” tanya Jinki pada Minho ketika mereka berdua baru saja keluar dari gedung sekolah yang sudah sepi.

Minho membenarkan tali tasnya yang melorot di pundaknya sebelum ia menoleh pada Jinki dan mulai membuka suaranya. “Kau duluan saja, aku akan melihat ke ruang tari sebentar.” Katanya sembari bergegas pergi.

“Tapi, hari ini tidak ada latihan,” mendengar ucapan Jinki, Minho menghentikan langkahnya dan memutar tubuhnya. “Taemin bilang itu saat Sooji bertanya padanya tadi, jam istirahat pertama.”

“Oh?” gumam Minho, kemudian mencoba berpikir kemana tempat Sooji biasa pergi. Selain kelas, ruang tari, dan kantin, ia tidak tahu. Ia selalu tahu bahwa gadisnya itu hanya pergi ke tempat-tempat itu di sekolah. Perpustakaan? Kemungkinannya sangat sangat sangat kecil.

Kemudian ia mengambil ponsel di saku jas jaketnya untuk mencoba menghubungi Sooji dan menanyakan keberadaannya. Mungkin bagi yang baru mengenal atau melihat seorang Choi Minho akan menganggapnya berlebihan, tapi bagi orang-orang yang sudah sangat mengenalnya akan maklum karena Minho adalah tipe laki-laki yang mudah panik untuk urusan seseorang yang disayanginya tiba-tiba pergi atau menghilang dari hadapannya walaupun hanya beberapa jam tanpa memberikan kabar.

Berkali-kali nada dering dari ponsel milik Sooji terdengar sampai lama, namun tak kunjung ada jawaban yang membuat Minho mendesah antara geram dan panik. Sedangkan Jinki yang melihatnya hanya bisa menaikkan sebelah alisnya karena reaksi Minho yang kelewat khawatir.

Dalam hati ia menggelengkan kepalanya mengingat betapa keras kepalanya Minho menyangkal perasaannya pada Sooji yang sekarang menjadi kekasihnya.

“Kau punya nomor Eunji atau Jinri?” Tanya Minho setelah akhirnya ia menyerah. Inginnya menelefon rumah Sooji, tapi ia tahu itu akan percuma saja karena gadis itu tidak mungkin sudah berada di rumahnya saat ini.

Dengan gerakan cepat yang di mata Minho masih terlihat lambat, Jinki mengambil ponselnya dan mencari kontak nomor Jung Eunji dan juga Choi Jinri. Dan dengan baik hati, Jinki menawarkan Minho agar menelefon keduanya dari ponselnya saja. Agar tidak terlalu memakan waktu, begitu katanya.

Lagi-lagi Minho hanya bisa menelan kekesalannya bulat-bulat karena kedua teman baik Sooji sudah berada di rumahnya masing-masing sejak beberapa jam yang lalu, setelah pulang sekolah mereka langsung pulang ke rumahnya.

Kemudian, sebuah laki-laki berperawakan kurus dan tinggi—lebih kurus dari Minho sendiri namun tidak lebih tinggi—dengan rambut yang diwarnai cokelat terang keemasan yang terlihat cocok untuk dirinya datang dengan wajah datarnya.

Wajah laki-laki itu tidaklah asing di mata Minho, namun sangat asing di mata Jinki yang baru pertama kali melihatnya.

“Kelihatannya Soojung sama sekali belum melupakanmu.” Ucapnya langsung tanpa basa-basi setelah ia beridiri tepat di hadapan Minho.

Mendengar nama Soojung disebut-sebut, mata Jinki yang sipit membesar karena terkejut. Apa hubungan antara laki-laki itu, Soojung dengan Minho? Setahunya hubungan Minho dan Soojung sudah lama berakhir, walaupun ia tidak tahu bagaimana caranya mereka bisa berpisah begitu saja mengingat Soojung yang… sangat menyukai Minho sejak dulu.

Minho terdiam, tidak berniat untuk membuka suaranya sekedar untuk menanyakan maksud laki-laki tersebut atau apapun. Ia tahu laki-laki di depannya itu akan melanjutkan ucapnnya.

“Aku tidak tahu apa yang akan dilakukannya, tapi sekarang ia ada di taman dekat sini,”

“Siapa kau?” tanya Jinki dengan mata menyipit.

Laki-laki itu hanya menoleh sekilas pada Jinki—sama sekali tidak berniat untuk menjelaskan siapa dirinya—kemudian kembali menoleh pada Minho. “Sebaiknya kau ke sana.” Sarannya sambil lalu.

Dia, laki-laki bernama Oh Sehun itu, pergi dari hadapan Minho dan Jinki dengan dingin. Tanpa mengatakan salam perpisahan atau yang lainnya. Ia tidak terlalu memedulikan reaksi Minho dengan ucapan menjurusnya. Tapi… ia harap itu akan berhasil.

Ya, Sehun lah yang mengantar Soojung ke taman di sekitar sekolah Minho. Soojung memintanya untuk tidak memberitahu managernya atau siapapun tentang ini, tapi, ia merasa ada yang mencurigakan dengan gadis itu saat ia menelefon seseorang saat dalam perjalanan.

Maaf, Soojung-ah, batinnnya menyesal sembari berjalan karena ia melanggar janjinya. Ia yakin kalau ia memberitahu Minho tentang Soojung, semua akan baik-baik saja.

 

Sudut pandang Bae Sooji

Yoboseyeo,” Sapaku dengan nada bertanya setelah menempelkan ponsel pada telinga kananku.

“Apa aku bicara dengan Bae Sooji?” tanyanya dari seberang telefon. Suaranya… aku sedikit kenal dengan suara ini.

“Ya, ini aku. Siapa ini?” tanyaku balik untuk memastikan.

“Aku Krystal,” seketika mulutku membeku mendengar suaranya yang sedikit dingin ketika menyebutkan sebuah nama. Untuk apa dia menelefonku? “Kau ada waktu? Jika ada, aku ingin bertemu denganmu sebentar di taman dekat sekolahmu.” Krystal terdiam, mungkin tengah mengambil nafas. Sedangkan aku berniat untuk mendengarkannya lebih lama lagi dan mencari tahu apa yang dia inginkan. “Dan, aku harap kau tidak memberitahu siapapun, bahkan Minho oppa sekalipun.

“Aku dalam perjalanan. Jadi, bisakah kau datang menemuiku?”

Aku tidak tahu apakah ini pilihan yang tepat atau bukan. Tetapi, kurasa aku tidak akan pernah tahu apa yang diinginkan Krystal dariku jika aku tidak datang menemuinya.

“Baiklah,” putusku pada akhirnya. “Aku akan datang.”

“Aku tunggu.” Dari nada suaranya, aku mendengar kalimatnya itu seperti sebuah tantangan. Membuatku merasa agak risih dan juga sedikit tertantang. Sedikit…

Jarak antara taman yang dimaksud Krystal dan sekolahku tidak terlalu jauh, jadi aku berjalan kaki dengan pertanyaan-pertanyaan yang melayang-layang di kepalaku. Pertanyaan seperti kenapa ia ingin memintaku, apa yang dia inginkan, dan apakah dia masih menginginkan Minho atau tidak.

Sekitar sepuluh menit kakiku melangkah, aku sampai di taman tersebut. Taman yang bisa dibilang cukup sepi. Yah, wajah saja kalau taman ini sepi, hari ini bukan hari libur atau akhir minggu.

Setelah masuk lebih jauh ke dalam taman, aku melihatnya. Krystal, dengan celana jeans hitam, sepatu dengan hak, dan juga baju hangatnya yang terlihat tebal, tengah duduk di ayunan yang bagian bawahnya penuh dengan pasir.

“Krystal…” Panggilku untuk mengalihkan perhatiannya. Bukannya aku ingin mendapatkan perhatiannya yang terus saja memperhatikan kakinya yang memainkan pasir. Tetapi, untuk apa aku datang kemari kalau ia terus saja melamun seperti itu?

Ia pun mengangkat kepalanya dan menoleh ke arahku dengan wajah dinginnya. Entah memang wajahnya seperti itu, tapi aku penasaran apakah ia bisa tersenyum manis.

“Ada apa memanggilku?” tanyaku, masih tetap di tempatku berdiri saat melihatnya.

Karena ia tak kunjung berdiri, jadi terpaksa aku yang menghampirinya dan duduk di ayunan di sebelah ayunan yang ia duduki. “Tentang Minho?” tanyaku cukup mantap.

Apalagi yang akan dibicarakan oleh kami jika bukan tentang Minho? Tentang ketenarannya? Oh, jangan bercanda.

“Ya, tentang Minho oppa,” sahutnya tak kalah mantap dariku, dan justru membuat tubuhku lemas seketika.

Kenapa ia masih saja memanggil Minho dengan embel-embel ‘oppa‘, padahal mereka berdua seumuran?

“Aku sudah membuat keputusan.” Katanya dengan suara yang lebih pelan.

Sebelumnya kau sudah memutuskan! Teriakku dalam hati. Namun, aku tidak berani untuk meneriakinya saat ini. Kali ini ia terlihat seperti gadis yang rapuh.

“Bisakah… kau menjauhi Minho oppa?”

Sontak aku mendelik ke arahnya. Untung saja aku tidak langsung berdiri dan mendorongnya agar jatuh ke belakang. Kalau aku melakukan itu, aku yakin aku bakal terkenal karena berita-berita buruk yang akan muncul di internet.

“Aku tahu bahwa kau baru saja berpacaran dengannya, tapi… aku mohon. Aku baru menyadari kalau aku tidak bisa melepaskannya. Aku… merasa sendirian.” Lanjutnya dengan wajah sedih.

“Maaf, tapi aku tidak bisa.” Kataku tegas.

“Kenapa? Tidak bisakah kau merelekan satu orang dalam hidupmu untukku? Aku benar-benar membutuhkannya.” Baiklah. Aku benar-benar muak pada diriku sendiri yang mulai merasa iba padanya.

Aku menggigit bibir bawahku sebelum kembali menyahutinya. “Tidak bisa. Aku benar-benar tidak bisa. Lagipula, apa yang membuatmu sendirian? Karena orangtuamu meninggal karena kecelakaan?”

Matanya membelalak mendengarku. Mungkin tidak percaya kalau aku mengetahui tentang orangtuannya. Jadi, aku pun melanjutkan.

“Apa yang membuatmu membutuhkan Minho? Karena hanya ada dia saat kecelakaan? Itu sangat tidak adil untuknya, kau tahu? Minho juga butuh ruangnya sendiri untuk hidupnya. Dan, begitu juga denganmu. Kau terkenal dan punya banyak penggemar. Kenapa tidak mulai membuka hatimu agar orang-orang bisa dekat denganmu?”

Aku mengambil udara sebanyak-banyaknya untuk paru-paruku. Wow, aku baru sadar kalau aku bicara hanya dengan satu tarikan nafas.

“Kau tahu itu tidak mudah.” Kalimatnya membuatku skak mat. “Tolong…”

Seketika itu, aku bangkit berdiri. “Jangan memohon padaku.” Selaku sebelum ia meneruskan kalimatnya. Aku tidak suka ada seseorang yang memohon padaku untuk hal seperti ini.

Aku harus pergi dari sini secepatnya.

 

Sudut Pandang Penulis

“Myungsoo-ya, yang ini bagaimana?”

Myungsoo hanya menatap bosan sebuah gantungan ponsel berbentuk boneka kecil berwarna cokelat. Kali ini Jiyeon sukses membuatnya mati kebosanan karena paksan orangtuanya yang menyuruhnya untuk pergi berdua dengan gadis itu setelah pulang sekolah.

Dan saat ini, ia tengah berada di sebuah jalan yang dipenuhi oleh toko-toko dan pedagang asongan.

“Lucu tidak? Aku ingin punya barang yang sama denganmu.” Ocehnya lagi. Sama sekali tidak memedulikan Myungsoo yang terlihat sangat tidak tertarik.

“Ayo pulang saja.” Ajak Myungsoo sambil lalu dan berjalan lebih dulu.

Namun, sebelum ia melangkah lebih jauh, Jiyeon menarik lengannya. Mau tak mau pun, Myungsoo membalikkan badannya dengan wajar tanpa ekpresi seperti sebelumnya.

“Kenapa? Kau tidak menyukai ini?” tanya Jiyeon dengan wajah bingung.

“Ya,” sahut Myungsoo singkat.

“Tidak asik,” gerutu Jiyeon sembari memayunkan bibirnya, membuat Myungsoo memutar bola matanya malas. “Kenapa tidak berpura-pura menyukainya?”

Jiyeon pun dengan berat hati mengembalikan sepasang gantungan ponsel berbentuk boneka itu pada si penjual. “Maaf kami tidak jadi membelinya, ahjumma,” ucap Jiyeon menyesal.

Setelah itu, Myungsoo pun melanjutkan langkahnya menuju halte bus dan pergi meninggalkan Jiyeon.

Myungsoo merapatkan blazer seragamnya sembari berjalan dengan cara berjalan yang sangat khas dimilikinya. Kepulan uap putih keluar dari hidungnya ketika ia menghembuskan nafasnya. Musim dingin telah tiba sejak beberapa minggu yang lalu, namun, salju belum juga turun sampai saat ini. Dua minggu sebelum natal. Tapi, suhu sudah hampir nol derajat.

Ya! Kim Myungsoo!” mendengar panggilan itu, Myungsoo tidak menoleh dan berpura-pura bahwa ia tidak mendengarnya.

Ketika ia menoleh ke arah taman kota, langkahnya terhenti begitu saja saat melihat seorang gadis yang sangat ia kenal tengah duduk di ayunan dengan gadis lain yang ia rasa familiar.

Ya, Kim Myungsoo! Kenapa kau tega sekali…”

Myungsoo tidak lagi mendengarkan ocehan panjang Jiyeon yang kini sudah berada di sebelahnya. Ia hanya memfokuskan dirinya pada kedua gadis yang terlihat jauh di depannya.

Sooji dan Soojung. Mereka tidak sedekat itu untuk sekedar berbincang bersama di tempat umum. Pasti ada sesuatu, pikirnya.

Kemudian ia teringat seseorang. Choi Minho. Kedua gadis itu pasti tengah ‘memperebutkan’ Minho. Untuk kali ini, Myungsoo merasa iri pada Minho karena disukai oleh Sooji walaupun gadis itu berkali-kali disakiti.

Hendak Myungsoo menghampiri kedua gadis itu, tiba-tiba seorang Choi Minho dengan seseorang laki-laki yang entah siapa namanya datang sembari berlari-lari. Jadi, ia mengurungkan niatnya dan menghentikan langkahnya.

“Myungsoo, kau mendengarkanku atau tidak?” pertanyaan Jiyeon yang bernada jengkel membuat Myungsoo sadar bahwa dia tidak sendirian di sini. “Apa yang kau lihat?” tanya Jiyeon lagi penasaran sembari berusaha untuk melihat apa yang menarik perhatian Myungsoo karena tubuh laki-laki itu terus saja menutupinya.

Dan tiba-tiba, pergelangan tangan Jiyeon ditarik oleh Myungsoo yang kini berjalan dengan langkah cukup cepat.

YA!” teriak Jiyeon sembari menghentakkan tangannya yang di pegang kuat-kuat oleh Myungsoo. “Kau ini kenapa? Aish.” Tanya Jiyeon sambil memutar bola matanya dan memegang pergelangan tangannya yang terasa sakit.

“Jangan pernah mencampuri urusanku lagi.” Ucap Myungsoo tegas, membuat Jiyeon langsung menoleh heran.

“Apa maksudmu? Sebentar lagi kita bertunangan, jadi, urusanmu adalah urusanku.” Sahut Jiyeon.

“Kita tidak akan bertunangan.”

“Apa?”

Tanpa memedulikan Jiyeon yang terbengong di tempatnya sangking terkejutnya ia, Myungsoo hanya melanjutkan langkahnya untuk kembali ke rumah.

” Kau sudah menyetujui perjodohannya!” ucap Jiyeon keras kepala.

Myungsoo berhenti, kemudian membalikkan badannya dengan senyum sinisnya. “Aku sama sekali belum mengatakan apa-apa tentang perjodohan itu.”

Setelah mengatakan itu, Myungsoo kembali membalikkan badannya dan melanjutkan langkahnya. Kini ia sadar bahwa ia tidak bisa melupakan Sooji secepat itu. Ia akan merasa menjadi orang paling buruk kalau ia langsung beralih ke Jiyeon. Dan sebenarnya, ia tak begitu nyaman dengan Jiyeon, tidak seperti saat bersama Sooji. Jiyeon terlalu egois dan hanya melakukan sesuatu untuk dirinya sendiri.

Daripada memaksakan diri agar bisa melupakan Sooji, lebih baik dirinya tetap sendiri dan menyimpan kenangannya dengan gadis itu di dalam hatinya.

 

Sudut pandang Choi Minho

Aku tidak tahu alasan mengapa Soojung ingin menemui Sooji di tempat terbuka seperti taman ini. Karena itulah aku menjadi panik.

Soojung mempunyai sifat keras kepala dan sedikit pemaksa, tidak seperti Sooji yang mudah sekali mengalah. Kalau Soojung sampai menyuruh Sooji agar putus denganku, itu akan sedikit… bahaya, mungkin. Aku tidak tahu apa ini berlebihan atau tidak.

Di sanalah aku melihat mereka berdua tengah duduk berdampingan di ayunan bertali besi. Namun, seperkian detik kemudian, Sooji berdiri dan hendak meninggalkan Soojung. Begitu ia membalikkan badannya, mata kami bertemu.

Ia pun terpaku di tempatnya. Jadi, aku menghampirinya dengan berlari ke arahnya.

“Kau tidak apa-apa?” pertanyaan itulah yang aku tanyakan terlebih dulu saat sudah berada di depannya.

Dia menganggukkan kepalanya namun tidak mengatakan sepatah katapun. Jadi, aku berniat untuk menghampiri Soojung dan bicara dengannya baik-baik.

“Minho-ya,” sebelum aku benar-benar melewati bahu Sooji, kurasakan ia menahan tanganku.

Aku menoleh heran padanya, juga menunggunya untuk mengatakan sesuatu atau menjelaskan sesuatu kenapa ia menahanku. Cemburu jika aku menghampiri Soojung?

“Jangan ke sana,” katanya dengan suara pelan, membuatku mengerutkan kening karena heran. “Jangan pergi menemuinya.”

Aku terdiam sembari menatapnya khawatir. Aku mengerti apa yang tengah ia pikirkan saat ini. Entah kenapa aku mengerti perasanya dari raut wajahnya.

Dugaanku sebelumnya benar. Dugaan bahwa Soojung ingin memisahkanku dengan Sooji.

“Tidak apa-apa. Aku hanya ingin bicara dengannya sebentar.” Ucapku mencoba menenangkannya. Dan itu benar. Aku memang ingin bicara dengannya sebentar. Menyadarkan kekeraskepalaannya itu.

Kemudian aku menoleh ke arah belakangku dan mendapatkan Jinki berdiri tidak jauh dari tempatku dan Sooji berdiri. Aku sama sekali tidak menyadari kalau Jinki mengikutiku sampai kemari.

“Pulanglah bersama Jinki. Aku akan menelfonmu kalau sudah sampai rumah.”

Cukup lama ia berpikir sebelum akhirnya ia mengangguk dan mengikuti ucapanku. “Buatlah dia sadar utuk membuka hatinya untuk orang lain.”

Mendengarnya, aku tersenyum sembari mengelus puncak kepalanya lembut. Aku merasa beruntung memiliki seorang gadis yang mengerti orang-orang di sekitarnya, termasuk orang yang sudah menyakitinya.

“Kau yakin tidak akan meninggalkanku dan kembali padanya, bukan?” tanya Sooji lagi dengan suaran yang lebih pelan dari sebelumnya. “Kau benar-benar akan menelfonku nanti, iya kan?”

“Jangan khawatir. Aku tidak akan meninggalkanmu.”

Mendengar jawabannku, ia tersenyum manis dan melepaskan tangannya dari lenganku. Lalu, ia melangkah menghampiri Jinki yang sudah menunggu tidak jauh di sana.

Merasa bahwa Jinki dan Sooji sudah berada cukup jauh, aku menghampiri Soojung yang masih menundukkan kepalanya. Aku menghampirinya, namun tidak mengatakan sepatah katapun.

“Ck,” gerutunya sinis masih tetap menunduk. “Berbeda sekali saat bersamaku, oppa.” Perlahan, ia mengangkat kepalanya sehingga aku dapat melihat matanya yang sudah berkaca-kaca.

“Maaf,” ucapku menyesal.

Ya, aku menyesal. Menyesal karena dulu, aku sama sekali tidak meolak segala kemauannya hingga ia merasa aku adalah miliknya. Jadi menurutku, di sini akulah yang salah. Bukan Soojung.

Oppa tidak perlu minta maaf. Oppa haya perlu kembali padaku.” Katanya sembari berdiri dan memegang pergelangan tanganku.

Dengan perlahan dan hati-hati, aku melepaskan tanganku dari genggamannya. Takut kalau aku menyakiti perasaannya lebih lagi. “Ini sudah waktunya kau melepaskan diri dariku. Kau bisa mulai membuka hatimu untuk temanmu itu.”

Oke, aku tahu ia bingung siapa yang kumaksud. Tapi, aku benar-benar tak tahu siapa nama laki-laki yang datang menghampiriku tadi.

“Maaf kalau ini akan menyakitimu, tapi, aku benar-benar menyayanginya. Seperti adikku, dia juga penting bagiku. Tolonglah mengerti.” Jelasku baik-baik dengan suara rendah.

Aku merasa ini benar. Apa yang kulakukan saat ini benar. Berkata pada Soojung bahwa Sooji sangat penting utuk diriku sendiri. Baru kali ini aku menyuarakan apa yang ada di dalam pikiran dan hatiku. Ini benar-benar terasa melegakan.

“Aku sudah tersakiti sejak lama. Sejak aku mulai menyukaimu, oppa. Aku bahkan tidak tahu berapa kali aku menangis karena sifat dinginmu padaku. Tapi, yang membuatku lebih sakit adalah saat kau mulai menyukai gadis lain, dan bahkan bicara terang-terangan di depanku bahwa kau menyukainya. Bukan aku.”

“Maafkan aku.” Lagi-lagi aku hanya bisa mengatakan itu ketika air matanya sudah merembes dari pelupuk matanya.

“Berhenti meminta maaf!” bentaknya dengan isakan kecil, membuatku menjadi serba salah.

Namun, aku bisa merasakan ada seseorang yang tengah mengamati kami berdua. Dan, aku tahu siapa orangnya.

“Sampai kapan kau akan menunggu di sana?” tanyaku pada seorang laki-laki yang berdiri di balik pohon tanpa menolehkan kepala.

Beberapa detik kemudian, bisa kulihat Soojung melirik ke belakang pundakku dan menghela nafas sinis. “Kau yang memberitahu oppa?” tanyanya dengan mata menyipit pada laki-laki yang berada di belakangku. Aku jadi kasihan dengan laki-laki itu karena kena sinisan Soojung.

“Maaf.”

Kata maaf itu benar-benar tidak terdengar meyakinkan ditelingaku. Entah karena suaranya yang terdengar dingin dan datar atau memang ia tidak bersungguh-sungguh meminta maaf.

“Jika tahu akan seperti ini, aku tidak akan meminta bantuanmu, Oh Sehun.”

Oh, jadi namanya Sehun?

“Aku hanya ingin menyadarkanmu.” Perkataannya membuatku membalikkan badan dan menoleh. Seperti niat Sooji, ternyata Sehun juga ingin menyadarkan Soojung. Tapi, yah, mungkin saja menyadarkan dengan arti lain.

Soojung tertawa dengan sinis, membuatku menoleh padanya lagi dan mengerutkan kening heran. Apa ada yang lucu menurutnya?

“Kenapa orang-orang hari ini? Aku mendengar kalimat itu dari banyak orang! Woah!” katanya, masih dengan tertawa sinis. Namun, matanya sedikit berkaca-kaca.

“Artinya, banyak orang yang menyayangimu, Soojung-ah,” ucapku selembut mungkin.

Dia terdiam sembari menatapku dengan padangan yang tidak bisa kujelaskan.

“Kalau begitu, oppa sayang padaku?” tanyanya dengan air matanya yang kembali menggenang di pipinya.

“Ya, sebagai teman dan adik. Maaf.” Jawabku jujur. Aku tidak mau lagi berbohong dan berusaha agar Soojung merasa senang. Dia harus bisa menerima kenyataan. Kenyataan bahwa aku menyukai Sooji. Dan, kenyataan bahwa kedua orangtuanya sudah tiada.

Terkadang, Soojung memang sering bersikap bahwa kecelakaan yang merenggut nyawa kedua orang tuanya itu tidak pernah terjadi. Terkadang pula, Soojung menceritakan bahwa semalam, ibunya menyanyikan lagu nina bobo untuknya. Hal itulah yang tak bisa membuatku lepas dari dirinya. Aku terlalu khawatir.

Dan, kakak perempuannya jarang sekali di rumah. Itu juga yang membuatku harus terus memperhatikan Soojung.

“Aku tahu oppa akan menjawab begitu,” sahutnya tanpa menatap wajahku. “Dan, aku mengerti.” Lanjutnya.

Kemudian, ia membalikkan badan dan melangkah dengan lesu. Entah ia akan kemana, aku hanya mengirim sinyal ke Sehun agar ia mengikuti Soojung dan menyelesaikan masalahnya.

Aku tidak berhak lagi mengejar Soojung. Kini, aku menyerahkan kekhawatiranku mengenai gadis itu sepenuhnya pada Sehun karena aku tahu laki-laki itu tidak mungkin menyakiti Soojung. Kalau dipikir-pikir, Sehun mirip denganku. Perbedaannya hanya ia lebih mengerti tentang perasaannya sendiri, tidak sepertiku.

¯

 

Setelah merasa bahwa urusanku dengan Soojung selesai, aku berniat untuk segera kembali ke rumah dan menelefon Sooji. Dia pasti khawatir saat ini. Takut kalau aku kembali pada Soojung, mungkin.

Jadi, aku melangkah ke arah halte bus yang berada di depan jalan masuk sekolah. Namun siapa sangka kalau aku melihat Sooji duduk di bangku halte sembari melamun? Anak ini, ck. Bukankah ia kusuruh untuk pulang?

Aku pun menghampirinya dan langsung duduk di sebelahnya dengan gerakan pelan. Entah apa yang sedang dilamunkan olehnya sampai-sampai ia tidak menyadari bahwa ada orang duduk di sebelahnya.

“Apa yang kau lamunkan?” tanyaku berniat untuk mengagetkannya.

Dia menoleh dan sontak langsung menggeser tubuhnya menjauh. “Kau mengagetkanku!” pekiknya sembari memegang dadanya dan kembali menggeser tubuhnya mendekat.

Aku hanya tersenyum kecil melihat tingkahnya. Lucu.

“Bagaimana dengan Krystal?” alisku terangkat mendengar nama Krystal. Nama itu terdengar cukup asing di telingaku. Tapi, yah, aku tahu nama siapa itu.

“Cukup buruk kurasa. Tapi, aku yakin dia akan cepat membaik asal banyak orang yang menyemangatinya.”

“Minho-ya… sepertinya kau banyak tahu tentangnya.” Ucapnya dengan ragu-ragu. Dan, entah apa yang terjadi padaku, aku jadi ingin menggodanya.

“Aku sudah mengenalnya sejak kecil, bagaimana aku tidak mengenalnya?” balasku dengan suara yang kubuat cuek.

Pada saat itulah bus datang. Dengan segera, Sooji berdiri dan masuk ke dalam bus denganku yang mengekor di belakangnya.

Kukira ia cemburu atau sebagainya, tapi ternyata, saat kami sudah mendapat tempat duduk, ia justru menanyakan apa saja yang terjadi tadi. Sama sekali tidak terlihat bahwa ia cemburu dengan ucapannya tadi.

Gagal. Aku sama sekali tidak memiliki bakat untuk menggoda atau bercanda.

Jadi, aku menceritakan semua yang terjadi selama kami berada di dalam bus sampai kami turun dari bus. Perbedaannya adalah saat kami berjalan menuju rumah Sooji (tentu saja aku hanya mengantarnya pulang), gantian aku yang memintanya menceritakan apa yang terjadi saat ia dan Soojung hanya berdua.

Dan, aku sama sekali tidak terkejut dengan semua permintaan Soojung pada Sooji. Yang membuatku terkejut justru bahwa Sooji yang tegas menolak permintaan Soojung.

“Itu baru gadisku,” komentarku sembari mengacak rambutnya pelan.

Ya!” protesnya pada perlakuanku, membuatku lagi-lagi tersenyum.

“Oh, ya,” gumamannya membuatku menoleh padanya dan mengerutkan kening bingung. Dan seketika itu, ia mengecup pipiku singkat dan langsung berlari menuju rumahnya yang hanya berjarak beberapa langkah dari sini.

Aku yang masih terkejut hanya berdiam diri dan menatapnya dengan wajah yang kuyakin sangat bodoh.

Begitu ia masuk ke dalam gerbang rumahnya, ia berbalik menghadapku dan melambaikan tangannya tinggi-tinggi. “Sampai bertemu besok!” teriaknya dengan wajah merona merah.

Setelah sadar, aku tersenyum dan membalas lambaiannya. Setelah ia masuk ke dalam rumahnya, barulah aku melanjutkan langkah pulang.

Yah, kurasa semua konflik rumit selama kurang lebih satu tahun ini berakhir di sini dengan akhir yang baik. Aku pun berharap agar hari cepat berganti agar aku bisa melihat dan mendengar suara gadisku itu, Bae Sooji.

~END~

 

This is the ending! How? Otthe? Gimana? Aaaaa ancur parah. Aku gak bisa mikir lagi buat nentuin ending yang bagus buat ini. Yang ini, terlalu simpel dan kayak gaada kesannya huaaaa *nangis dipinggiran* mau aku tahan sampe ada yang bisa bikin ending ini bagus, malah gak ada yang nyelip idenya, malah yg nyelip buat ff-ff baru hueeeeee T_T jadi, maafkan aku kalau ending FLP gak sesuai harapan. Maaaaaf._.v

Nah, untuk AHB. Aku lagi proses lagi gimana kelanjutannya. Aku lagi kena writer apaan gitu namanya, aku gatau namanya apa:/ jadi rada sulit buat nerusin AHB padahal dikepalaku lagi banyak ide muncul yang gatau mau dimulai kayak apa heungggg.

Jadi, sekian. Aku akhirnya milih buat Myungsoo sendirian aja tanpa pairnya. Jujur aja aku juga gak terlalu suka sama karakter Jiyeon kalo dia di pairin sama Myungsoo:/ jadi… aku buat dia sendiri ajaK

Hem… untuk project lain, kayaknya aku bakal buat sembari nerusin AHB, tapi kayaknya aku bakal publish kalo AHBnya bener-bener madet di tengah jalan.-.v oke, selamat menikmati AHB ya para teman-temankuh muehehe:3

35 thoughts on “First Love Pain [Final Chapter]

  1. Akhirny happyend..ak stuju thor mnding myung sndri drpd sma jiyeon hahaha…dtunggu klnjutan AHB yaa..jgn lama2 atuh thor😀

  2. setuju eonni.🙂 gk suka jiyeon yg karakternya gitu di pairingin ama myungpa.
    ternyata happy ending ya.
    semoga Krystal betul2 sadar banyak org yg mrnyayanginya.

    lanjut eonni^^
    ditunggu ff lain🙂

  3. Yeah Happy ending.. Krystal masih aja keras kepala knapa ga nyari yg lain kekeke.. Myunsoo jga sendirian.. Tapi suzy sma minho akhirnya bahagia ditunggu FF lainnya.. Gomawo udh bkin FF ini..

  4. Ye myungsoo gak jadian ama jiyeon. Memang lbih baik myungsoo sendiri.
    bikin ff yg main castnya suzy lagi ya chingu.
    ditunggu AHB nya fighting!

  5. sama thor . aq juga ngak suka klaw myungsoo harus d pairing ama jiyeon atw spa selain suzy . kalw ffnya main castnya myungsoo di pairing ama org lain . ngak akan aq bca . aq cuma bca ff yg main cast nya myungsoo – suzy
    aq cuma ska kalw myungsoo d pairing ama suzy .
    kekek😄
    MyungZy Shipper !

  6. Happy ending!! yeaaaah~~
    akhirnya thor..selamat yah (?)
    akhirnya sweet banget. dan bagusdeh myungsoo gak sama jiyeon.. mending sama aku aja #loh
    yg AHB ditunggu~~~ fighting!!!

  7. Hmmm… daebak min.
    Aku juga setuju kalo myungsoo lebih baik sendiri aja daripada sama jiyeon.
    Dan untungnya minho juga tetep sama suzy. seneng bnget sama karakternya suzy. Dia dengan tegas menolak keinginan kristal yg nyuruh dia putus dri minho. Untung suzy dan minho sendiri tetep gak mau putus. Cinta mereka kuat bnget. ckckck
    Good Job min.🙂

  8. Iyasih emang terkesan cepet endingnya-_- tapi ini tetep keren loh thor(y) ahh soojungie labil sekali dirimu._. Hmm tetep kasihan sama Myung, sabar Myung ada aku disini *loh:D semoga langgeng yaa Minho-Suzy dan semoga juga menjadi real*mimpi
    Happyending! Daebak thor~

  9. masih belum puas sih chingu ma endingnya, moment minzy nya jga kurang banyak kekekekek
    kasian jga si jiyeon ma kristal kekekke tpi emng harus gitu good buat minho ma myungsoo
    ditunggu ff minzy yg laen chingu #ngarep dibuatin
    chingu ff yg suzy-sehun-youngmiin dilanut dong

  10. Huah
    akhirnya HAPPY ENDANG…Kya kya kya
    ditunggu next FF.nya thor..FIGHTING..

    Myungpa sama aq ajah,hakshaks

  11. ye akhirnya ada lagi lanjutanya, untung happy ending, dan untung jg myungsoo gajadi ama siapa siapa, sukur deh, ayo bikin lg dong, tp yg myungzy wkwk

  12. wah akhirnya happy ending ya
    dl sebenernya berharap myungzy soalnya kasian tapi minzy juj suka ditunngu ff suzy yang baru ya cingu

  13. huaaaa minzy akhirnya brsatu.gpplsh myung sendiri drpd sama jiyeon…oya aq reader baru.anneyong.d tunggu ff yg lainnya.kamsamisa

  14. Keren chingu.ceritanya…maaf aq coment di part final doang..coz..aq reader baru..
    Happy ending to minzy
    Untung..myung..myung.gak jadi ama jiyeonn..hehe..maklum myungzy shipper disini..keke
    Di tunggu karya lainnya chingu..

  15. gomawo thor….u done very good hehehe…happy ending….finally suzy n minho happy ending, pny no hpnya myungsoo thor? ilfil sama jiyeon mgkn sama aq nggk hahaha *ditabokin readers….ditunggu ff lainnya ne thor….exo suzy plz

  16. gomawo thor….u done very good hehehe…happy ending….finally suzy n minho happy ending, pny no hpnya myungsoo thor? ilfil sama jiyeon mgkn sama aq nggk hahaha *ditabokin readers….ditunggu ff lainnya ne thor….exo suzy plz
    Balas

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s