First Love Pain – Chapter 13



  • Tittle    : First love pain
  • Author    : EnnyHutami
  • Lenght    : Chaptered
  • Rating    : General
  • Genre    : Romance, Sad
  • Cast    :
  1. Bae Sooji
  2. Choi Minho
  3. Jung Soojung a.k.a Krystal Jung
  4. Kim Myungsoo
  5. And others (Find them self)


Copyright © Ennyhutami Fanfiction 2012

~œœœ~

[Chapter 13]

-Banyak hal yang belum aku tahu-

Sudut pandang penulis

Air terus saja menetes dari ujung seragam yang Myungsoo kenakan ketika ia sudah sampai di depan rumahnya yang terbilang besar dan mewah padahal payung masih setia melindungi kepalanya sejak ia melangkah dari rumah Sooji.

Matanya menatap mobil asing yang terparkir di halaman rumahnya yang luas dengan pandangan heran. Biasanya tak ada orang asing yang datang ke rumahnya sesore ini. Biasanya teman-teman kakak perempuan dan ibunya, serta rekan kerja ayahnya akan datang di pagi hari atau siang hari. Entah kenapa, tapi mereka sepertinya kompak untuk datang berkunjung kecuali sore ataupun malam kemari.

Dan begitu ia membuka pintu rumahnya, semua mata tertuju padanya yang berdiri di ambang pintu dengan seragam yang basah kuyup. Entah ada angin apa, seluruh keluarganya berada di ruang tamu dan juga ada keluarga… Park Jiyeon.

Aigoo,
Myungsoo-ya,” cibir seorang wanita dengan rambut disanggul rapih seraya berdiri dari duduknya. Sedangkan wanita satunya lagi, yang terlihat tidak jauh lebih tua dari Myungsoo ikut berdiri, namun tidak menghampiri laki-laki itu melainkan ke ruangan lain di rumah besar tersebut untuk mengambil handuk.

“Ada apa ini?” tanya Myungsoo dengan pandangan heran yang tetap terkesan dingin.

Sebelum ada yang menyahuti, wanita yang tadi mengambil handuk untuk Myungsoo kembali dan langsung menyerahkan handuk tersebut untuk Myungsoo, adik laki-lakinya. “Bersihkan dirimu dulu sebelum kau kena flu.” Ucap wanita berusia dua puluh tiga tahun yang memiliki nama Kim Misoo itu.

Myungsoo pun mengambil handuk tersebut dan menaruh di atas rambutnya. Kemudian sebelum ia mengikuti kata-kata kakaknya untuk bergegas mandi, ia menatap Jiyeon yang memperhatikannya dengan senyum polos seakan ia tak merasa bersalah dengan apa yang telah ia lakukan hari ini.

¯

Sooji yang baru saja keluar dari kamar mandi yang terletak di lantai dua di rumahnya segera masuk ke dalam kamarnya sembari mengeringkan rambutnya dengan handuk. Ia segera menghampiri meja riasnya dan duduk di sana selama beberapa menit tanpa melakukan apapun.

Mungkin ia bisa bernafas lega karena Myungsoo sama sekali tidak marah padanya dan bersikap seperti biasa, tapi itu bukan berarti ia tidak merasa bersalah. Dan untuk saat ini, ia terus saja memikirkan pertanyaan Minho yang belum ia jawab. Pertanyaan yang menyangkut tentang perasaannya. Ia takut untuk menjawabnya. Takut dengan semua kemungkinan yang akan membuat hatinya kembali sakit.

Ia menggigit bibirnya begitu bayang-bayang wajah Minho kembali terngiang di benaknya. Tatapan mata yang menatapnya lekat-lekat selalu membuat jantungnya ingin lepas dari tempatnya.

Kemudian ia menoleh pada pintu ketika terdengar suara ketukan pelan disusul dengan suara ibunya yang lembut memanggil namanya.

Ne, eomma?” sahut Sooji sembari berdiri dan menghampiri pintu untuk membukanya. Ia memang sengaja mengunci pintu agar tidak ada yang bisa masuk sembarangan. Yah… memang di rumahnya hanya ada ia, ibu dan ayahnya, tapi ia tak ingin sesuatu yang tidak diinginkan terjadi, bukan? Seperti ia sedang mengganti pakaiannya dan tiba-tiba ibu atau ayahnya membuka pintu dengan tiba-tiba.

Begitu pintu dibuka, terlihatlah ibu Sooji yang berdiri di depan pintu dengan wajah lembutnya. Seperti Sooji versi tengah baya. Cantik dengan wajahnya yang ramah. “Ada yang menunggumu di depan.” Ucap ibunya, membuat Sooji mengerutkan keningnya.

“Siapa?” tanya Sooji bingung. Siapa yang mencarinya malam-malam yang dingin begini?

“Dia bilang temanmu. Namanya Choi Minho.”

Mata Sooji membulat mendengar nama Minho. Laki-laki yang membuatnya melamun di depan cermin di meja rias. “Untuk apa dia kesini?” tanpa sadar ia menyuarakan pertanyaan dalam kepalanya, membuat ibunya mengangkat bahu karena tak tahu.

“Cepat ganti pakaianmu dan temui temanmu. Tidak baik membuat tamu menunggu lama.” Ucap ibunya lagi sembari mengedipkan sebelah matanya, berniat menggoda, sebelum ia melangkah pergi untuk kembali turun ke lantai bawah.

Melihat ibunya mengedipkan sebelah mata, Sooji hanya mendengus pelan dan kembali masuk ke dalam kamar untuk mengganti kaus tanpa lengan dengan kaus lengan panjang yang hampir menutupi celananya yang sepanjang dengkul.

“Hai,” sapa Minho begitu ia Sooji yang menghampirinya dengan wajah bingung.

“Hai,” balas Sooji bingung. Ia tidak tahu harus berbuat apa, dan atmosfer di sekeliling mereka terasa sangat canggung. Lalu ia pun duduk di sofa, mengambil tempat yang jaraknya cukup jauh dari Minho.

Hening. Tak ada yang berbicara sama sekali. Keduanya merasakan kecanggungan itu dan serba salah untuk membuka mulutnya walaupun hanya untuk mengucapkan sepatah katapun.

Sooji berdeham sebelum membuka mulutnya untuk berbicara, mencoba untuk menstabilkan tenggorokkannya. “Jadi, ada apa kemari?” tanyanya canggung.

“Aku ingin mengajakmu keluar sebentar. Bisakah?” jawab Minho dengan nada yang sedikit memohon di kalimat akhirnya.

Sooji melirik jam dinding sekilas kemudian memutar otaknya. Haruskah ia mengukuti kemauan Minho kali ini?

“Baiklah,” ucap Sooji setelah menghela nafasnya sebentar, kemudian bangkit berdiri. Ia memang tidak mengerti maksud tujuan Minho datang kemari dan mengajaknya keluar pada malam yang dingin seperti ini, tapi apa salahnya untuk menerima ajakannya? Toh ia sudah tahu bahwa laki-laki itu menyukainya, jadi kemungkinan ia tidak akan tersakiti lagi. “Aku ganti pakaian dulu.” Lanjutnya.

Minho menunggu di tempatnya semula sembari memainkan ponselnya yang baru saja ia pakai untuk mengirimi pesan singkat untuk adiknya, mengabarkan bahwa ia tidak bisa pulang cepat. Yah, ia memang belum pulang dari rumahnya setelah pulang sekolah karena kegiatan kesiswaan—entah siapa yang memilihnya untuk menjadi anggota kesiswaan sekolah—dan kemudian berganti pakaian, lalu langsung pergi ke rumah Sooji.

Tidak lama kemudian, Sooji kembali ke ruang tamu dengan mengenakan rok rampel yang terlihat tebal dan juga coat berwarna putih yang menutupi seluruh tubuhnya.

Eomma, appa, aku keluar sebentar,” seru Sooji sembari melongokkan kepalanya ke bagian dapur rumahnya sebelum ia menghampiri Minho. Begitu ia menghampiri Minho, laki-laki itu sudah berdiri dari duduknya.

Setelah Sooji mengangguk pada Minho untuk memberi isyarat agar keluar dari rumah lebih dulu, laki-laki itu pun keluar dari rumah tersebut disusul Sooji dibelakangnya.

Mereka berdua melangkah bersama dengan Sooji berada di depan Minho walaupun ia tak tahu harus melangkah kemana lagi. Seperti dejavu, ia juga merasa pernah mengalami hal seperti ini. Bedanya, saat itu ia berada di daerah pegunungan yang menanjak dan menurun sedangkan sekarang ia melangkah di daerah Seoul yang jalanannya rata dan mulus.

“Terus saja,” kata Minho sembari menahan kedua pundak Sooji ketika gadis itu hendak memutar tubuhnya hendak bertanya ke mana arah tujuannya.

“Aku tidak tahu mau ke mana.” Sunggut Sooji masih terus melangkah lurus ke depan.

Mendengar itu, akhirnya Minho menarik telapak tangan Sooji dan melangkah mendahului gadis itu. Jantung keduanya berdegup cepat tanpa masing-masing ketahui.

Langkah Sooji terhenti, mengikuti langkah Minho yang lebih dulu berhenti tiba-tiba agar kepalanya tidak terantuk punggung Minho yang lebar. “Kenapa kemari?” tanya Sooji dengan ekpresi bingung yang tertera jelas di wajahnya ketika ia melihat ke sekitarnya. Sebuah tempat terbuka yang berada di atap gedung.

“Yah… waktunya memang tepat karena habis hujan,” Minho berkata sembari terus memperhatikan punggung Sooji yang membelakanginya dan menghampiri tembok pembatas. “Kalau musim semi atau musim panas, dari sini terlihat banyak bintang.” Lanjutnya sembari menghampiri Sooji dan berdiri di sebelah gadis itu.

“Kenapa tidak mengajakku kemari saat musim semi saja kalau begitu?” renggut Sooji sembari menghirup udara dalam-dalam, mencoba merasakan sisa-sisa udara setelah hujan.

Minho menoleh menatap Sooji yang tengah melihat ke langit. Mencoba mencari bintang mungkin? Kemudian ia mengikuti arah pandang Sooji, mengangkat kepalanya dan menatap ke langit yang gelap. Bahkan bulan pun tak terlihat karena tertutup awan yang tebal.

“Aku takut kalau aku mengajakmu saat musim semi, aku keduluan orang lagi.” Katanya menjerumus sambil terus menatap langit.

Sooji yang mengerti maksud perkataan Minho langsung menurunkan pandangannya hingga ia menatap jalanan di bawahnya. Ia tidak berani untuk menanggapi perkataan tersebut ataupun menatap Minho.

“Oh, itu ada!” seru Minho tiba-tiba, membuat Sooji langsung mendongak dan menolehkan kepalanya.

Sayangnya, Minho menipunya. Ia kira bahwa Minho melihat satu bintang di langit, namun begitu ia menoleh, ia mendapati wajahnya sudah tak berjarak lagi dengan Minho.

¯

Myungsoo melangkahkan kakinya dengan perlahan menuruni anak tangga di rumahnya dengan pakaian rumah yang hangat dan juga rambut yang sedikit basah. Ia tidak tahu kenapa ada tamu yang tidak diundang di rumahnya pada malam hari. Terlebih lagi jika tamunya adalah Jiyeon dan keluarganya.

Sebenarnya ia masih heran dengan kedatangan Jiyeon dan keluarganya kemari, namun ia memperlihatkan wajah tenang dan cueknya ketika ia menarik kursi di meja makan. Kursi kosong yang tersisa hanya ada di hadapan Jiyeon. Sepertinya ada yang merencanakan ini karena biasanya ia duduk di tempat yang ditempati kakaknya, Misoo.

Selama acara makan malam, mereka semua berbincang seperti dua keluarga dekat yang baru saja bertemu setelah sekian lama. Mereka seperti mengingat masa lalu saat ayah Myungsoo dan ayah Jiyeon masih berada di kampus. Yang lainnya hanya menanggapi dengan tawa kecil yang terdengar sopan, kecuali Myungsoo yang hanya fokus dengan makanan di depannya.

“Myungsoo, kau masih ingat Jiyeon tidak?” tanya ibu Jiyeon yang tiba-tiba bertanya pada Myungsoo.

Tentu saja aku ingat, batin Myungsoo sembari menganggukkan kepalanya. Namun, ia sama sekali tak berniat untuk mengatakan apapun.

“Awalnya aku heran kenapa Jiyeon tidak mau memberitahu Myungsoo bahwa ia berada di sini,” sambar ayah Jiyeon dengan kening berkerut, tanda ia mengingat saat-saat Jiyeon tidak menginginkan Myungsoo tahu bahwa ia sudah kembali. “Tapi, yah… kurasa ia hanya ingin memberi kejutan.” Lanjutnya.

“Kejutan yang dipersiapkan sejak lama,” sambung ayah Myungsoo dengan nada puas, membuat Myungsoo meliriknya dengan curiga.

“Oh? Myungsoo belum diberitahu?” tanya ibu Jiyeon tiba-tiba dengan wajah bingungnya pada kedua orangtua Myungsoo.

Myungsoo langsung menegapkan badannya dan menatap ibu Jiyeon, ibu dan ayahnya serta kakak perempuannya bergantian dengan heran. Tiba-tiba perasaannya menjadi tidak enak. “Memberitahu apa?” tanyanya dengan kening berkerut, tak lupa dengan tatapan matanya yang dingin dan tajam.

Appa, aku memohon pada ahjussi dan ahjumma untuk tidak memberitahu Myungsoo,” ujar Jiyeon dengan wajah kekanakannya. “Aku ingin memberi kejutan yang besar untuk Myungsoo.” Ketika ia melanjutkan, matanya melirik Myungsoo yang tengah menatapnya dingin. Namun, ia sama sekali tidak takut dan justru membalas tatapan dingin itu dengan senyuman tenangnya.

“Jadi, apa ‘kejutan besar’nya?” tanya Myungsoo pada siapa saja yang akan menjawabnya dengan mengutip dua kata yang diucapkan Jiyeon tadi.

“Hm, nak,” mulai ayahnya dengan senyuman sok misterius yang menjengkelkan Myungsoo. “Ini memang klasik. Tapi, ayah dengan Jiyeonie appa merencanakan perjodohanmu sudah lama sekali,”

What the…” sela Myungsoo dengan mata membelalak sangking tak percayanya dia dengan ucapan ayahnya sendiri. Kemudian ia langsung berdiri dengan kedua tangan mengepal di sisi tubuhnya. “Tak ada yang meminta persetujuanku sebelumnya!” serunya.

“Kau sudah menyetujuinya, Myungsoo-ya,” sambar Misoo yang duduk di sebelah Myungsoo sembari menahan emosi adiknya itu. “Dulu sekali, saat kau masih di sekolah dasar.”

Sudut Pandang Bae Sooji

Serius. Aku tidak tahu apa yang aku pikirkan saat ini. Kenapa aku sama sekali tak melawan sama sekali saat ini, saat Minho menciumku tiba-tiba? Dan kenapa aku justru menutup mata?

Bisa kurasakan ciuman kali ini tidak hanya saling menempelkan bibir melainkan pijatan-pijatan kecil yang dilakukan bibirnya. Bibirnya terasa hangat di bibirku dan terasa sangat lembut. Ia menciumku dengan pelan dan tidak terburu-buru, seperti ingin menyakinkan perasaanku bahwa ia memang menyukaiku.

Akulah yang pertama kali melepaskan bibirku darinya karena jantungku seperti mau lepas dari rongganya. “Jadi… kau mengajakku kemari hanya untuk menciumku?” Bodoh, bodoh, bodoh! Kenapa aku justru bertanya seperti itu? Pertanyaan bodoh, rutukku kesal dalam hati. “Maksudku—” niatnya untuk mengoreksi pertanyaan bodohku, aku justru kehabisan kata-kata dan hanya menggaruk leher belakangku yang sama sekali tidak terasa gatal.

Dia tertawa, tawa yang membuatku langsung menyengir kuda yang terasa bodoh.

“Tidak, aku hanya menginginkan jawaban dari pertanyaanku siang tadi,”

“Tapi kenapa kau justru menciumku?” selaku bingung. Kenapa ia tak menanyakannya di rumah dan justru membawaku kemari?

Mataku menyipit karena ia hanya menanggapi pertanyaanku dengan senyuman yang menurutku aneh. Kenapa di saat seperti ini ia tersenyum? Lagipula, dia bukan tipe orang yang mudah untuk tersenyum. Seperti senyumnya itu langka dan hanya orang-orang beruntung dan dapat melihatnya.

Tapi, tunggu—tunggu. Berarti aku termasuk orang yang beruntung karena melihat senyumnya? Heish, memangnya dia itu apa?

“Aku sudah mendapat jawabannya.” Katanya, masih dengan senyum yang membuatku makin salah tingkah.

Mwo?”

Dia memegang bibirnya dengan jari telunjuknya. “Aku tidak yakin kau akan jawab dengan jujur, jadi aku menciummu.”

Mwo?” ulangku lagi. Kali ini dengan nada yang lebih tinggi dan mata yang membelalak. “Apa maksudnya? Aku tidak mengerti.”

“Kau, tetap menyukaiku seperti dulu.”

¯

Pagi ini terasa lain dari pagi-pagi sebelumnya. Kali ini, aku tidak lagi berangkat sendirian ke sekolah melainkan berangkat bersama Minho naik bus. Semalam ia tidak memberitahuku apa-apa tentang menjemputku, tapi tahu-tahu saja ia sudah beada di depan rumahku saat aku keluar dari rumah.

Ada yang bertanya-tanya tentang lanjutan semalam? Yah, tidak ada yang terjadi lagi memang, tapi wajahku terus saja memanas karena malu dan jantungku tak berhenti berdegup lebih cepat dari normalnya. Tapi, aku suka keadaan saat itu. Dan kami pun resmi menjadi sepasang kekasih.

Resmi. Tidak lagi bohongan.

“Sooji-ya, kau dipanggil kepala sekolah,” ucap salah satu teman sekelasku ketika aku baru saja masuk ke kelas.

Mwoya?” tanyaku bingung. Jelas saja aku bingung. Ini masih sangat pagi, tapi untuk apa kepala sekolah memanggilku? Sebelumnya, aku tidak pernah dipanggil kepala sekolah. Sama sekali belum.

Dia hanya mengangkat bahunya cuek. “Mungkin karena foto kemarin.” Ucapnya cuek dan berlalu menuju tempatnya duduk.

Mataku mengerjap cepat. “Eoddeohke?” gumamku sembari menggigit jariku dengan tampang takut dan menatap ke arah Eunji yang sudah menungguku dengan wajah yang juga terkejut.

Wae?” tanyanya langsung dengan sedikit panik ketika aku menghampirinya—well, sebenarnya aku menghampiri tempat dudukku.

“Kepala sekolah memanggilku.” Jawabku dengan tatapan ngeri.

“Minho dimana?” tanyanya lagi. Tidak usah heran jika Eunji dan Jinri tahu soal ini. Sepulangnya dari atap tersebut, aku langsung mengirimi pesan pada mereka berdua.

Aku menggelengkan kepala tanda tidak tahu. Tadi dia bilang ingin ke kelas seniornya di klub, tapi belum juga kembali sampai sekarang.

“Tunggu sampai Minho datang saja baru ke ruang kepala sekolah.” Usul Eunji dan aku mengangguk setuju. Pilihan yang tepat.

Tapi bermenit-menit kemudian, Minho tak kunjung datang dan panggilan kedua sudah di dengar oleh telingaku lewat anak kelas sebelah yang menjadi peringkat satu di seluruh kelas satu di sekolah ini. Anak yang jenius.

“Baiklah,” ucapku dengan nada ragu. Kalau boleh jujur, sebenarnya aku takut. Takut dengan alasan mengapa kepala sekolah memanggilku ke ruangannya. Itu adalah hal yang sangat jarang bagiku, bahkan aku belum pernah masuk ke ruangan tersebut selama hampir satu tahun aku bersekolah di sini. “Beritahu Minho aku ke ruang kepala sekolah nanti.”

“Aduh, yang baru saja menjadi sepasang kekasih,” goda Eunji sembari menatapku berpura-pura tersanjung atau apalah. Aku tidak begitu mengerti dengan ekpresi itu.

“Eunji-ya,” keluhku dan segera saja ia tertawa pelan.

“Siap, bos. Akan kuberitahu Minho nanti.” Jawabnya dengan suara yang dibuat-buat monoton namun gagal karena kikikannya.

Aku tidak menanggapi jawabannya yang menurutku tidak penting, hanya berdiri dari tempat dudukku dan melangkah perlahan keluar kelas menuju ruang kepala sekolah di lantai satu.

Suasana di lorong terasa amat sunyi hingga detak jantung dan tarikan nafasku terdengar (sedikit mengerikan sebenarnya) karena ini masih terlalu pagi untuk berada di sekolah, tapi sepagi ini kepala sekolah sudah memanggilku untuk ke ruangannya. Aku tidak begitu mengerti sebenarnya.

Sebelum mengetuk pintu yang ada di hadapanku, aku kembali menarik nafas dalam-dalam dan menghembuskannya dengan perlahan. Lalu, jari-jariku mengetuk pintu kayu tersebut tiga kali sebelum menggapai kenop pintu untuk membukannya.

“Permisi… pak,” ucapku dengan sesopan mungkin. Namun begitu melihat Minho yang berdiri di dalam sana, semua perkataan sopan yang ingin kuucapkan buyar dan membuatku diam seribu bahasa.

“Nah, kemari nak.” Perintah laki-laki bertubuh gemuk dengan rambut yang setengahnya berwarna putih yang duduk di kursi putar di balik mejanya.

Dan aku hanya menuruti perintahnya.

“Kau tahu kenapa aku memanggilmu kemari?” tanyanya. Pertanyaan yang sangat jelas hanya ditunjukkan padaku.

Aku melirik sekilas Minho yang berdiri di sebelahku dengan tegap yang ternyata juga tengah memandangku, dan kembali menoleh pada kepala sekolah. “Ya, pak,” sahutku dengan suara rendah dan pelan. Kalau bukan karena foto yang tersebar kemarin, untuk apa kepala sekolah sampai memanggil kami berdua? Karena kami baru saja menjadi sepasang kekasih? Tidak mungkin.

Dia—kepala sekolah—bangkit dari duduknya dan berdiri, kemudian berjalan memutari mejanya hingga ia berada di samping Minho yang masih berdiri dengan tegap.

“Lihat apa yang akan menjadi hukuman untuk kalian berdua,”

“Tapi, kami tidak menyebar—”

“Sudah saya katakan bahwa dia sama sekali tidak tahu apa-apa, pak.” Potong Minho cepat, membuatku melirik setengah kesal, setengah panik. Dia tidak bermaksud untuk menanggung hukuman sendiri, bukan?

Dengan segera aku menarik ujung blazernya agar mendapat perhatiannya. Dan aku kecewa karena reaksinya; hanya menoleh kemudian menyingkirkan tanganku dari ujung blazernya dengan pelan.

Tiba-tiba, suara decitan pintu terbuka terdengar dan membuat kami semua yang berada di ruangan tersebut menoleh.

“Oh, Jiyeon-ah,” panggilan akrab kepala sekolah pada seorang gadis yang berdiri di ambang pintu membuatku mengerutkan dahi. “Ada perlu apa, nak?” tanya kepala sekolah ketika gadis itu masuk dan menutup pintu ruangan.

“Anda sedang memberi hukuman pada dua junior ini, ya, pak?” tanya gadis yang dipanggil Jiyeon oleh kepala sekolah dengan wajah sopannya. Gadis itu cantik sekali, hanya saja… aku heran dia itu siapa. Aku belum pernah melihat dia sebelumnya. “Saya hanya ingin mengaku kalau saya lah yang mengambil dan menyebarkan foto tersebut.” Lanjutnya dengan sangat tenang, bahkan senyum tersungging di bibirnya.

Aku tercengang mendengar pengakuannya yang sangaaat jujur itu. Gadis ini gila, batinku.

Sudut pandang penulis

Sooji dan Minho keluar dari ruang kepala sekolah dengan wajah heran. Setelah melangkah cukup jauh di koridor sekolah menuju kelasnya, barulah Sooji membuka suaranya.

“Kau tahu siapa dia?” tanya Sooji sembari mendongak untuk menatap Minho yang lebih tinggi darinya saat mereka melangkah beriringan.

Minho mengangguk, namun sebelum ia mengucapkan sepatak katapun, sosok Myungsoo terlihat setelah ia berbelok di ujung koridor. “Myungsoo,” gumamnya untuk memberitahu Sooji bahwa di depan mereka ada laki-laki bernama Myungsoo.

Dengan wajah yang masih heran, Sooji menolehkan kepalanya dari Minho. Senyum lebar tersungging di wajahnya begitu melihat laki-laki itu tengah melangkah sembari tersenyum kecil pada Sooji. Entah kenapa gadis itu merasa sangat senang bila bertemu Myungsoo. Perasaan nyaman seperti tengah bersama kakak laki-laki menyelimuti dirinya, walaupun ia adalah anak tunggal.

“Myungsoo-ya!” sapa Sooji masih dengan senyum lebarnya ketika Myungsoo sudah berjarak lebih dekat.

“Sudah kubilang panggil oppa, bukan?” balas Myungsoo sembari menjitak pelan kepala Sooji, membuat Minho menggerakkan tangannya reflek namun urung begitu mendengar suara Sooji yang menyahuti.

“Aku kan sudah terbiasa memanggilmu seperti itu.” Gerutunya sembari mengelus kepalanya yang baru saja dijitak oleh Myungsoo. “Oh ya, ngomong-ngomong, kau mau kemana?” tanya Sooji akhirnya.

“Ke ruang kepala sekolah.” Jawab Myungsoo datar. Kembali seperti biasa.

“Jiyeon ada di sana.” Ujar Minho memberitahu, menjadi pertama kali ia membuka suaranya sejak Myungsoo mendekat, membuat Sooji menoleh heran kerena sepertinya Minho dan Myungsoo sama-sama tahu tentang gadis bernama Jiyeon tersebut.

Myungsoo menoleh pada Minho. “Ya, aku tahu,” ucapnya kemudian kembali melangkah menuju ruang kepala sekolah. Namun, sebelum melewati Sooji, ia mengacak pelan rambut gadis itu pelan, membuat Minho hanya menghela nafasnya.

Sedangkan itu, Myungsoo tersenyum kecil karena tahu reaksi Minho saat ia mengacak rambut Sooji sembari melangkah. Ia memang masih mempunyai rasa pada Sooji, tapi ia juga tahu kalau ia mempertahankannya, itu akan sia-sia saja.

Sebelum Myungsoo sempat meraih kenop pintu ruang kepala sekolah, pintu di hadapannya itu terlebih dahulu terbuka dan menampakkan sosok Jiyeon yang langsing dengan rambut panjang yang sedikit kemerahan.

“Kau menghawatirkanku?” tanya Jiyeon senang dengan mata berbinarnya melihat Myungsoo yang berdiri di hadapannya. “Tenang saja, aku tidak akan kenapa-kenapa. Kepemilikan sekolah ini ada di tangan ayahku juga, ing—”

Belum sempat Jiyeon menyelesaikan ocehannya, Myungsoo segera menarik tangannya dan membawa pergi entah kenapa. “Kau gadis gila,” gumam Myungsoo sembari melangkah, membuat Jiyeon yang berada di belakangnya tersenyum kecil entah kenapa padahal Myungsoo mengatainya gadis gila. “Berhenti melakukan sesuatu yang bodoh lagi terlebih lagi yang membuat Sooji terlibat.”

“Ah, padahal aku pikir kau akan melanjutkan ‘berhenti membuatku khawatir’ atau yang lainnya,” sahut Jiyeon dengan wajah cemberut. “Padahal setelah lulus kita akan bertunangan, tapi kelihatannya kau sama sekali tidak menyukaiku lagi.”

Myungsoo menelan ludahnya susah payah ketika mendengar ucapan Jiyeon yang barusan dilontarkan, namun dengan langkah yang sama seperti tadi, tidak melambat dan tidak juga semakin cepat.

“Ya, itu… juga.” Ucapnya tidak jelas untuk menyahuti ocehan Jiyeon. Perlahan, sepertinya ia mulai kembali membuka hatinya untuk Jiyeon dan mencoba untuk melupakan Sooji.

¯

“Kau mengenalnya?” tanya Sooji pada Minho ketika mereka tengah duduk di bangku penonton di lapangan basket indoor yang dimiliki oleh sekolah ini. “Gadis yang tadi kau mengenalnya?” ulangnya demi memperjelas pertanyaannya.

Minho menggelengkan kepalanya setelah ia menenggak minuman botol yang tadi diberikan oleh Sooji. “Aku tidak mengenalnya, tapi aku tahu dia. Myungsoo memberitahuku saat gadis itu memotret.” Tidak perlu dijelaskan lagi apa yang Jiyeon potret pun Sooji sudah mengerti. Dan keduanya memilih untuk tidak mengungkitnya lagi.

“Punya pikiran sepertiku juga tidak?” tanya Sooji lagi dengan kepala dimiringkan menatap Minho.

Minho balas menatap Sooji sembari mengerutkan keningnya heran. “Apa?”

“Hm…” Sooji menegakkan badannya dan mencoba memutar otaknya untuk memilih kata yang tepat untuk bisa menjelaskan apa yang tengah ia pikirkan. “Myungsoo… dan gadis itu… kira-kira ada hubungan apa, ya? Aku rasa Myungsoo bukan tipe orang yang mudah dekat dengan orang lain terlebih lagi seorang gadis.”

“Saat denganmu bagaimana?” tanya Minho, membuat Sooji memutar bola matanya.

Heish, aku mengenalnya juga karenamu—” ucapan Sooji yang terhenti tiba-tiba membuat sebelah alis Minho terangkat.

“Karenaku?” kurasa Minho mulai tertarik dengan obrolan ini. Obrolan tentang gadisnya. Kalau dipikir-pikir, ia belum banyak tahu tentang gadisnya sendiri.

Setelah menyerah, Sooji pun menceritakan semuanya pada laki-laki di depannya itu. Semua kejadian yang ia dan Myungsoo lakukan dan bagaimana ia dekat dengan laki-laki itu. Diam-diam, Minho merasa cemburu mendengarnya, tapi ia bersikap seolah tak ada yang ia rasakan.

“Jadi, kalau dipikir-pikir, aku mengenal Myungsoo juga karenamu.” Sooji menyimpulkan.

Minho tidak menyahuti, hanya mengacak rambut Sooji lalu menegak minumannya lagi.

Mereka berdua pasangan yang cocok. Yang satu banyak bicara, yang satunya hemat sekali dalam berbicara seakan suaranya akan habis jika ia tidak membatasi mulutnya dalam bersuara.

Seperkian detik kemudian, Jinki yang tahu-tahu diangkat sebagai kapten klub basket meneriaki Minho dari lapangan agar segera kembali berlatih.

“Tunggu sebentar.” Ujar Minho dengan senyum kecil yang jarang sekali dilihat Sooji.

“Mm,” sahut Sooji balas tersenyum.

Dari tempatnya duduk, Sooji terus saja memandang ke arah Minho yang tengah berlari di dalam lapangan dengan sesekali mendrible bola basket jika bola sudah berada di tangannya. Oh, Sooji tidak akan pernah bosan melihatnya.

Namun, ia harus mengalihkan pandangannya ketika merasakan saku blazernya bergetar dan dengan reflek dia menyentuh permukaan blazernya untuk mengambil ponselnya yang bergetar.

Nomor tidak dikenal. Sesaat ia ragu untuk mengangkat panggilan tersebut, tapi ia takut kalau ada sesuatu yang penting. Jadi, ia memutuskan untuk mengangkatnya.

Yeoboseyeo?” ucapnya begitu menempelkan ponsel di telinga kanannya. “Ya, ini aku. Nuguseyeo?” matanya mengerjap cepat begitu seseorang yang menelefonnya itu menyebutkan namanya, namun tidak mengatakan apa-apa.

Setelah mendengar cukup lama, ia pun membuka mulutnya untuk berbicara. “Baiklah, aku akan datang.”

~TBC~

~Wait another story~

*Note: Maaaaaaaaaaaf. maaf karena aku sangaaaaaat telat mempublish ini. Di semester dua sekolah, aku nggak bisa sebebas dulu lagi buat nulis huhu T_T mulai kejar target nilai buat kelas 3…

Dan aku punya pengumuman penting. FLP, AHB, dan ff yang ada di laptopku, bakal aku publish lompat chapter di blog ini. Aku lakuin ini agar ffku gak terkesan ‘banyak’ dan buat mempermudah kalau ada yang memplagiat.

Kalau kalian mau mencari karya-karyaku, aku bakal kirim ke http://FFIndo.wordpress.com dan http://schooloffanfict.wordpress.com. tiap ff yang aku kirim ke kedua blog tersebut beda, jadi… kalian bisa nunggu ff apa yang bakal keluar di sana.

Sekian dari author yg makin lama makin gagal ini. aku mohon maaf kalau ada yg kecewa ya:( aku udah rada susah nyari waktu buat publish sana-sini, jadi aku buat keputusan itu.

dan yang mau komunikasi sama aku, kalian bisa memfollow @ennyyyhtm, jangan yang @ennyhtm ya, karna acc yg @ennyhtm udah mati._.

salam swinspirit^^

46 thoughts on “First Love Pain – Chapter 13

  1. first
    aku suka lanjutan ff mu thor.cm entah knp aku lbh ska myungzy couple d banding minzy couple dsini.cm skedar pendapatku aj…d tunggu lanjutannya ya.author fighting^^

  2. akhirnyaaaaa….
    di chapter ini minzy jadian! woaaah senangnya heheheee
    tapitapi gatau kenapa lebih rela kalo myungsoo single drpd sama jiyeon ._.
    dannn….kepo banget sama endingnya.. ditunggu lanjutannya yah.. dan ff lainnya juga😀

  3. makin seru thor.. akhirnya di post jga chap ini.. Seneng ngeliat suzy sma minho bsa jadian.. Tpi ga seneng liat myungsoo deketan sama jiyeon ga tau knapa.. Myungsoo ga skit hati thor ngeliat minzy? Wkwkw ditunggu next chap sma FF lainnya tho

  4. makin seru thor.. akhirnya di post jga chap ini.. Seneng ngeliat suzy sma minho bsa jadian.. Tpi ga seneng liat myungsoo deketan sama jiyeon ga tau knapa.. Myungsoo ga skit hati thor ngeliat minzy? Wkwkw ditunggu next chap sma FF lainnya thor

  5. akhirnya minho-suzy pacaran juga…
    setelah sekian byk air mata suzy akhirnya dia bs dptin minho juga…

    ah jiyeon agak aneh, dia melakukan apa aja yg di sukanya tanpa mikir akibatnya utk org lain, untung dia mau tanggung jawab..
    di tunggu deh cingu next partnya

  6. Aduh akhirnya keluar juga. Aku nunggu loh. Tapi jujur kak kurang puas sama FLP yang chapter 13 ini. Soalnya suji enggak sama myungsoo. Tapi jempol deh buat kak enni. Makasih ya kak udah mau ngeluangin waktu buat bikin ff dan ngepublish ff ini. Dilanjut ya kak, semangaaat!!!

  7. Wah sapa itu yg nelpon jiyeon ya..mau apa lg itu org-_-

    Jgn bikin myung suka jiyeon thor..ttep suka suzy aja..jd biar seru minho cembokur ntar😀

    Lnjutanny jgn lama2 ya thor..fighting🙂

  8. ciyee Suzy udah taken nih:D
    poor Myungsoo, malang sekali nasibmu nak.. tapi tetep salut banget sama Myungsoo
    kayaknya yang nelfon Suzy itu si Soojung deh *sotoy.. padahal berharap MyungZy tapi MinZy juga gpp deh:’)
    good job thor! keren! ditunggu part selanjutnya! dan jangan lama-lama😀

  9. Akhirx…stelah berblan – blan menunggu part ini dipublish ampe’ jamuran,skarang dipublish jg.Tapi kok pendek amat sih eon??aish….pdahalkan sya penasaran thu yg nelpon siapa??next partx jgn ampe’ berblan-blan lg yah..?

  10. publish’a lama bget thor, tp puas jga sih.. Seru thor
    but, masalah myungsoo sdikit gk rela sma jiyeon#wlwpun cuma fiksi.. Ak kan myungzy shipper..
    Wahh nie ff pnjang jga yh, msih brlanjut,d’kira akhir sma minho bkal end.. Ywd thor SEMANGAT untk next’a

  11. kyaaa,,,,
    akhrny stlah skian lma nunggu,, ni ff di publish jga,, pas bca d awal2 part ni aga bingung jga,, coz lupa sma crta sblumny,,,
    yeyy,,,, akhrny MINZY brsatu,, MINZY JJANG❤
    nah itu yg nelp suzy siapa y,???? huaa pnasaran,,, author emang DAEBAKK,,,
    next part q tnggu ne,, ttp smangt bwt bkin ff ny,,,
    blajar ny jga ttp smngat yh,, smg target ny trcpai,, aamiin,,, author FIGHTING,,^^

  12. Aaaahh ! Itu siapa yg tlp Sujie? Krystal kah? Huaaahhh penasaran bangett >< jangan lama"a ya thor updatenyaaahh T^T Mian baru komen di chapter ini ^^ reader baru sayah ~~

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s