A Heartbreak – Chapter 2



  • Tittle    : A Heartbreak
  • Author    : EnnyHutami
  • Lenght    : Series/chaptered
  • Rating    : General
  • Genre    : Romance, School-life
  • Cast    :
  1. Jo Kwangmin
  2. Bae Sooji
  3. Oh Sehun
  4. And others

Copyright © original story by EnnyHutami 2012

Previous : Chapter 1

~œœœ~

 

Selama mereka dalam perjalan menuju rumah sakit dengan mobil milik Sehun, tak ada yang berbicara. Sesekali Sooji ingin mengucapkan sepatah kata untuk mencairkan suasana yang terasa cukup canggung, namun urung karena ia tak tahu apa yang ingin ia bicarakan.

Kwangmin yang duduk di kursi belakang sendirian juga terdiam. Sama sekali tidak terlihat bahwa ia ingin mengucapkan sepatah katapun. Walaupun Sooji baru mengenalnya hari ini, tapi ia bisa menyimpulkan bahwa laki-laki itu adalah tipe laki-laki yang suka berbicara dan mencairkan suasana. Ice breaker. Tapi, kelihatannya laki-laki itu tidak terlihat seperti itu kali ini. Ia juga heran apa alasannya.

“Sehun-ah, memangnya kau sudah mendapat izin mengemudimu?” akhirnya Sooji membuka pembicaraan. Ia berharap atmosfer perlahan mencair.

“Sudah. Baru minggu yang lalu aku mendapatkannya.” Jawab Sehun singkat, membuat Sooji mengangguk mengerti. Namun, ia menggerutu dalam hatinya kenapa Sehun terlalu tak berekpresif seperti Kwangmin.

“Bukankah seharusnya tahun depan kau baru bisa mengikuti tesnya?” tanyanya lagi.

Sebelum Sehun menjawab lagi, Kwangmin pun menyelanya, “Memang berapa umurmu?” tanya Kwangmin. Sooji rasa laki-laki itu mulai tertarik dengan obrolan yang ia mulai. Syukurlah…

“Sembilan belas,”

Mwoya?” sela Kwangmin lagi dengan nada protes yang terdengar jelas, membuat Sehun mendelik kesal sedangkan Sooji terkekeh kecil. “Kau bahkan belum dua puluh tahun, tapi sudah mendapatkan izin mengemudimu?”

“Sehun-ah, kau menyogok petugasnya, ya?” tuduh Sooji, memperjelas pertanyaan Kwangmin yang menjurus seraya terkekeh menutupi mulutnya dengan sebelah tangannya.

Sehun memutar bola matanya pada Kwangmin yang ikut terkekeh karena tahu maksud tuduhan Sooji barusan. “Tentu saja tidak. Izinku murni karena kemampuanku,” katanya sedkit menyombongkan kemampuannya. “Kalau kau tidak percaya, kau bisa mencobanya.” Lanjutnya.

“Benarkah?” tanya Kwangmin tak percaya karena sebelumnya ia pernah ingin menjalani tes, namun petugas melarangnya karena ia masih terlihat sangat muda.

“Untuk kau, kurasa tidak,” sahut Sehun cepat. Jika tadi Sehun yang memutar bola matanya, kini Kwangmin lah yang memutar bola matanya. “Lebih baik kau selesaikan dulu sekolahmu, baru mengurusi yang lainnya.”

Begitu Kwangmin menyandarkan tubuhnya pada punggung jok mobil sembari menggerutu kecil, keadaan perlahan mulai hening kembali, yang terdengar hanya suara derungan mesin mobil. Sooji ingin sekali membuka pembicaraan lagi, tapi sayangnya ia tidak memiliki ide lagi.

~œ~ œ~ œ~

Sudah sekitar satu atau dua jam Kwangmin berada di rumah sakit untuk menjenguk ibu Sooji sekaligus berkenalan padanya dan juga manager Sooji yang memiliki rambut pendek yang diwarnai hitam gelap. Sedangkan Sehun, ia pamit untuk pergi karena ada keperluan mendadak.

“Aku pergi,” kata manager Sooji yang bernama Youngmi setelah ia memakai jaket dan menyampirkan tas tangan pada bahunya.

“Sampai nanti, eonni,” sahut Sooji yang tengah asik mengobrol dengan ibunya dan Kwangmin.

“Jadi?” ucap ibunya setelah Youngmi sudah pergi meninggalkan ruangan tersebut seraya bergantian menatap Sooji dan Kwangmin.

Keduanya yang ditatap justru mengerutkan kening bingung dan saling menatap satu sama lain dengan pandangan yang sama; heran. “Jadi apa?” tanya Sooji angkat suara.

“Tidak, hanya saja eomma melihat kalian sudah sangat dekat walaupun baru tadi pagi berkenalan.” Jelas ibu Sooji dengan senyum kecil yang terlihat damai oleh Sooji.

“Oh,” gumam keduanya bersamaan. “Kwangmin ramah dan banyak bicara, jadi kurasa tak ada masalah beradaptasi dengannya.” Lagi-lagi Sooji yang berbicara, sedangkan Kwangmin hanya menggaruk belakang kepalanya sembari tersenyum malu-malu.

Kemudian mereka kembali tenggelam ke pembicaraan mereka. Seperti jalanan lurus tak berujung, mereka tak pernah kehabisan topik yang akan dibicarakan. Ternyata benar apa kata Sooji bahwa Kwangmin banyak bicara, bahkan dirinya sendiri baru menyadari hal tersebut.

Obrolan mereka terhenti karena terdengar suara deringan ponsel milik Kwangmin. Ia berdiri dan meminta izin untuk menjawab telefonnya keluar ruangan. Sepupunya menelefon.

“Ya, noona?” tanyanya langsung tanpa basa-basi terlebih dahulu. “Aku di rumah sakit. Wae?” ucapnya lagi setelah mendengar pertanyaan tentang keberadaannya oleh sepupunya, Lee Jieun.

“Kau serius? Di mana kau sekarang?” raut wajah ceria Kwangmin mendadak hilang, digantikan dengan rahangnya yang mengeras dan matanya yang besar itu membulat terkejut. “Baiklah, aku ke sana.”

Dengan gerakan dan kaki yang melangkah cepat, Kwangmin kembali masuk ke dalam ruang rawat ibu Sooji dan mengambil tasnya dan pamit pergi dengan wajah yang sangat terlihat bahwa ia terburu-buru, membuat Sooji dan Ibunya menatapnya bingung.

~œ~ œ~ œ~

Oh Sehun berdiri sendirian seraya bersandar pada mobilnya yang terparkir di bandara di Incheon. Sesekali ia melihat ke arah jam yang menempel di tangan kanannya dan menghembuskan nafasnya karena bosan. Sudah hampir setengah jam ia berdiri di sini, tapi seseorang yang ditunggunya tak juga muncul.

Tiba-tiba saja ia teringat laki-laki yang diperkenalkan Sooji tadi. Entah matanya sudah bermasalah atau apa, tapi… laki-laki itu mengingatkannya dengan masa lalunya. Masa lalu yang hanya ia sendiri dan temannya—tak ada yang tahu keberadaannya sekarang—yang tahu.

Oppa!” ketika terdengar seruan dari suara perempuan, Sehun tersentak sedikit lalu menoleh ke arah sumber suara karena suara itu terdengar tidaklah asing.

Begitu ia melihat seorang gadis yang berseru tadi, ia segera berdiri dengan tegap dan menunggu gadis tersebut mendekatinya.

Gadis yang memakai long-coat berwarna soft pink dengan rambut lurusnya yang dibiarkan terurai sampai ke punggung dan tanpa ada poni yang menutupi keningnya melangkah menuju Sehun seraya menggeret koper besarnya.

Sehun merentangkan tangannya, tanda bahwa ia mengizinkan gadis itu untuk memeluknya. Dan tanpa aba-aba, gadis itu melepaskan genggamannya pada koper dan memeluk Sehun dengan erat, menyalurkan rasa rindu yang sudah lama dipendamnya.

I miss you,” bisik gadis itu saat ia merasakan tangan Sehun bergerak untuk membalas pelukannya.

I know,” balas Sehun. Kemudian ia melepaskan pelukan gadis itu. “Welcome back, Hayoung-ah.”

~œ~ œ~ œ~

Lee Jieun menghentakkan sebelah kakinya saat ia tengah berdiri di sebuah kafe. Setelah seseorang yang ia lihat di dalam kafe di belakangnya itu pergi, ia juga memutuskan untuk tidak lagi menunggu Kwangmin di dalam kafe dan lebih memilih menunggu di luar.

“Selalu saja terlambat,” cibirnya seraya menyilangkan kedua tangannya di depan perut ketika ia melihat Kwangmin yang masih mengenakan seragam sekolah tengah berjalan santai mendekatinya.

“Kenapa kau di luar?” tanya Kwangmin langsung dengan wajah polosnya ketika ia sudah berada di hadapan Jieun.

Jieun mendecakkan lidahnya sebelum ia bicara. “Ayo pulang.” Ajaknya dengan suara ketus.

Kwangmin yang heran hanya mengangkat sebelah alisnya saat ia melihat wajah Jieun yang ditekuk seperti itu. “Kau sedang datang bulan atau apa?” tanyanya dengan tampang polosnya, seakan ia tak tahu kenapa sepupunya itu bersikap seperti itu. Yah… kenyataannya, ia memang tak terlalu mengerti dengan apa yang telah terjadi pada sepupunya itu.

Jieun tak menjawabnya, hanya melangkahkan kaki dengan dihentak-hentakkan seakan ia ingin mengoyangkan tanah yang diinjaknya itu. Semua lelaki sama saja, termasuk adik sepupunya ini, batinya. Tak tahu dia memang tidak mengerti alasannya bersikap seperti ini atau justru berpura-pura tidak mengerti agar tidak terkena amukannya.

Hya! Noona, aku minta maaf,” ucap Kwangmin seraya mengikuti langkah Jieun yang tidak terlalu cepat baginya—namun menurut Jieun, langkahnya sudah cukup cepat mengingat kedua kakinya yang pendek. “Ayolah, jangan menambah kerutan di wajahmu lagi, noona.”

Mendengarnya, Jieun langsung menghentikan langkahnya dan membalikkan badannya menatap Kwangmin dengan wajah marahnya. “Kau bilang apa?” tanyanya dengan suara tingginya akibat tersinggung dengan kalimat yang barusan diucapkan Kwangmin.

Sembari terkekeh kecil, Kwangmin mengangkat bahunya acuh tak acuh lalu melangkah mendahului Jieun. Ia tahu caranya untuk membuat perasaannya jauh lebih baik—ia sudah mengenal sepupunya itu sejak kecil, ingat?—dan tidak menunjukkan tampang bertekuk-tekuknya.

Sementara Kwangmin melangkah lebih dulu, Jieun pun lebih memilih untuk mengikuti Kwangmin itu dari pada berteriak-teriak marah hanya karena sepupunya itu mengatainya ‘tua’ secara tidak langsung. Ia tahu di mana keberadaannya sekarang. Dan, ia tidak mau terlihat kekanakan apalagi saat ini ia tengah bersama Kwangmin yang lebih muda darinya. Bisa-bisa ia yang dianggap sebagai adik dari Kwangmin yang selalu bersikap sok tenang di luar rumah.

Noona, benarkah kau melihatnya?” tanya Kwangmin tiba-tiba seraya menatap Jieun dengan wajah seriusnya ketika mereka berdua sudah berada di halte bus.

Jieun mendongakkan wajahnya, melihat wajah Kwangmin yang menatapnya serius, kemudian mengangguk kecil. “Kau masih menyukainya? Kukira itu hanya cinta monyetmu saja.” Ucap Jieun, mencoba untuk merubah atmosfir yang tiba-tiba terasa tidak nyaman.

Gadis itu tidak tahu apa yang dirasakan Kwangmin, atau mungkin ia memang tidak peduli untuk tahu. Ya, ia mengakui dirinya sendiri egois untuk urusan seperti ini. Selalu meminta agar Kwangmin mendengar cerita dan memahaminya, tapi tidak sebaliknya. Dari Kwangmin, ia hanya tahu bahwa sepupunya itu menyukai gadis yang menjadi adik kelas di bangku sekolah menengah (baca: SMP).

Saat itu Kwangmin masih berada di kelas dua sedangkan gadis yang ditaksirnya adalah murid baru yang baru lulus dari sekolah dasar. Dan entah karena Kwangmin adalah tipe laki-laki yang kuno atau apa, laki-laki itu masih belum bisa melupakan ‘cinta pertama’nya walaupun kabarnya gadis itu pindah ke Amerika setelah Kwangmin lulus dari sekolah menengahnya.

“Aku kira juga begitu.” Kwangmin menanggapi dengan polosnya. Ia tak menangkap maksud Jieun yang sebenarnya ingin mengejeknya.

Setelah menghela nafasnya karena tak tahu akan berbicara lagi, tiba-tiba Jieun teringat sesuatu, membuat Kwangmin menoleh heran karena ucapan tak jelas yang tak sadar telah diucapkannya.

Wae?” tanya Kwangmin.

“Anu… tadi, aku melihatnya bersama laki-laki.”

“Apa?” ulang Kwangmin sembari memutar tubuhnya sedikit tanpa sadar. “Siapa? Orang yang kukenal?”

“Kurasa kau tidak mengenalnya. Tapi, mereka terlihat sangat dekat.” Jawab Jieun. Tepat beberapa detik sebelum bus yang ditunggu-tunggu datang. Tanpa menunggu reaksi Kwangmin, Jieun segera naik ke dalam bus ketika pintunya terbuka dan disusul Kwangmin beberapa detik setelahnya.

~œ~œ~œ~

“Boleh eomma bertanya sesuatu padamu?” tanya seorang wanita berwajah pucat dan lelah yang tengah duduk bersandar di ranjangnya di dalam ruang rawat.

“Tentu saja,” jawab Sooji yang tengah mengupas kulit apel merah segar itu tanpa menghentikan aktifitasnya yang tengah memegang pisau dapur.

“Kenapa kau memutuskan Sehun? Eomma lihat dia anak baik.” Tanya ibunya. Ya, semua orang mengira Sooji lah yang memutuskan Sehun padahal Sooji terlihat ‘kacau’ saat-saat itu. Ia sendiri bahkan tidak mengerti kenapa orang-orang berpikir seperti itu.

Sooji terdiam sebentar sebelum ia tersenyum kecil pada ibunya yang menatapnya penasaran. “Aniyo, eomma. Sehun yang memutusku, bukan aku yang memutusnya.” Ucapnya lalu kembali mengupas kulit apel.

Ia memang dibilang sangat dekat dengan ibunya karena sejak kecil ia hanya memiliki ibunya. Tapi entah kenapa, ia tak pernah ingin kehidupan ‘cintanya’ tak pernah ia ceritakan ke ibunya, dan ibunya pun juga tidak pernah memaksanya untuk bercerita. Mandiri, begitu pikirnya.

“Oh?” gumam ibunya heran. “Tapi, kenapa Sehun bersikap seperti ia masih menyukaimu?” tanya ibunya. Ini adalah pertama kalinya untuk ibunya menanyakan hal seperti ini. Biasanya ibunya hanya bertanya tentang kesehatan, sekolah, karir, dan semuanya kecuali percintaan.

Sooji memutar otaknya sebentar. Mungkin ini saatnya untuk menceritakan masalah percintaannya dengan sang ibu.

“Aku juga tak mengerti—eomma, ini.” sahutnya sembari menyodorkan potongan apel pada ibunya.

Ibu Soojie mengambil potongan apel tersebut, kemudian kembali bertanya. “Boleh eomma tahu alasannya memutusmu?”

“Agar aku fokus dengan karirku, begitu katanya.” Pandangan Sooji menerawang pada hari dimana Sehun memutusnya. Ia ingat bagaimana reaksinya saat itu, terlalu syok dan sedih untuk melakukan sesuatu atau berbicara.

“Ah, eomma mengerti,” kemudian ibunya menghela nafas dan menggigit apelnya yang sudah dipotong kecil. “Lalu dengan Kwangmin? Baru kali ini kau cepat sekali beradaptasi dengan seseorang.” Lanjutnya.

Sooji menanggapinya dengan mengangkat bahunya cuek seraya menggigit apel yang baru saja dipotongnya. Dan begitu ia hendak membuka mulutnya untuk berbicara setelah danging apel yang dimakannya itu masuk ke kerongkongan, deringan ponsel terdengar menyela ucapannya.

Dengan segera ia menjulurkan tangannya dan menyambar ponsel yang ditaruh di atas nakas di sampingnya, lalu melihat layar ponselnya sebelum mengangkat telefon tersebut. “Yeoboseyeo, eonni,” sapanya setelah menempelkan ponsel ke telinga kanannya.

Sooji mendengarkan lama sekali, sesekali ia menyahut dengan gumaman kecil. Sedangkan ibunya yang tahu siapa yang menelefon setelah Sooji menyebut kata ‘eonni‘ hanya mengunyah pelan apelnya lagi.

“Benarkah?” ibunya langsung mengangkat kepalanya hingga ia menoleh pada Sooji dengan pandangan heran ketika gadis itu memekik dengan nada senang dan tak percaya.

Merasa ibunya tengah menatapnya heran, Sooji langsung menoleh pada ibunya dengan senyum lebar, masih dengan ponsel yang menempel di telinga kanannya. “Ne, aku mengerti. Aku tutup, ya?” ucapnya lagi pada teman bicaranya di seberang telefon.

Tak lama setelah itu, Sooji langsung memeluk ibunya dengan erat dan mata yang berkaca-kaca sangking senangnya.

Hya, wae?” tanya ibunya yang masih kebingungan melihat tingkah anaknya.

“Ha Saengbaek memanggilku menjadi model untuk peragaan busananya!” pekiknya senang. Jelas sana kalau ia merasa senang dan bangga. Ha Saengbaek adalah fashion designer ternama se-Korea Selatan, dan fakta bahwa Sooji baru berkecimplung dalam dunia model kurang lebih setahun yang lalu. Tidak banyak model baru yang mendapat kesempatan seperti ini. Dan, bisa dibilang ia adalah model termuda yang menjadi model Ha Saengbaek untuk memperagakan busana terbarunya.

Lagi-lagi Sooji memeluk ibunya dengan erat. Bedanya kali ini, ibunya tersenyum dan tidak mencoba melepaskan pelukan anaknya karena heran. “Chukkae, Sooji-ya,” ucap ibunya dengan lembut dan tulus tepat di telinganya.

Gomawo, eomma.” Balas Sooji tanpa melepaskan pelukannya. Namun, tanpa gadis itu ketahui, ibunya tengah menahan rasa sakit di bagian vital organ tubuhnya.

~œ~œ~œ~

Hya! Jo Kwangmin, tunggu!” seorang gadis berambut pendek seleher berteriak seraya berlari mengejar Kwangmin. Laki-laki yang diteriaki langsung berhenti dan membalikkan badannya dengan pandangan bingung.

“Ada apa?” tanya Kwangmin malas ketika tahu siapa yang memanggilnya. Kim Namjoo, gadis yang terus saja mengganggu hidupnya selama ia masuk sekolah ini.

Ketika gadis itu sudah berada di hadapan Kwangmin, barulah ia mulai membuka mulutnya untuk berbicara. “Mau kemana?” tanyanya, membuat Kwangmin mendecak kecil karena ia kira ada sesuatu yang penting sebab gadis itu berlari dan meneriaki namanya.

Tanpa berniat untuk menjawab pertanyaan Namjoo, Kwangmin langsung menggerakkan kakinya, berbalik dan meneruskan langkahnya yang sempat terhenti. Dan dengan sedikit kesal, gadis itu berlari kecil lagi agar bisa berjalan berdampingan dengan Kwangmin.

“Hei, aku kan bertanya. Kenapa pergi begitu saja?” tanya Namjoo cerewet.

“Namjoo-ya, kau tahu kan kalau besok akan diadakan ujian vokal? Kenapa kau tak berlatih atau memilih lagu saja?” sahut Kwangmin, berusaha mengendalikan dirinya agar tak bersikap ketus atau dingin pada gadis di sebelahnya. Walaupun ia tak menyukai gadis itu yang terus mengikutinya, tapi ia juga tidak tega untuk menyakiti perasaannya. Dia bukan tipe laki-laki seperti itu.

“Untuk ujian vokal besok, aku sudah menyiapkan semuanya. Kau sendiri?”

Kwangmin menghela nafas panjang. Ia menyerah. Ia tahu bahwa ia tidak bisa lolos dari Namjoo yang mengikutinya kali ini.

“Kwangmin-ah,” gumam Namjoo kemudian ketika mereka berdua melangkah beriringan tanpa ada sepatah katapun yang keluar dari keduanya. Kelihatannya gadis itu tak menyukai keheningan di antara mereka berdua.

“Mm?” Kwangmin menoleh, namun tidak mengurangi atau menghentikan langkahnya.

Namjoo menggaruk tengkuknya yang tidak gatal sebentar, sebelum ia menanggapi sahutan Kwangmin. “Kulihat belakangan ini kau sering sekali bersama Sooji sunbae,” Kwangmin diam, menunggu lanjutan dari ucapan gadis itu. “Dia terlihat sombong sekali dan sedikit aneh. Kusarankan kau untuk tidak—”

“Jangan menilai orang hanya dari luarnya saja. Dia tidak seperti yang kau pikirkan.” Potong Kwangmin ketika ia baru saja menangkap maksud dari perkataan gadis itu. Dan ia tahu bahwa Namjoo akan menyuruhnya untuk menjauhi Sooji. Sifat Namjoo sangat mudah untuk ditebak dan ia tidak suka seseorang mengaturnya, terlebih lagi jika tidak memiliki hak untuk mengatur dirinya.

Kemudian Kwangmin menghentikan langkahnya dengan tiba-tiba. “Maaf, Namjoo-ya, tapi aku menyukainya.” Ucapnya dengan perasaan bersalah pada Namjoo. Ia tahu ini akan membuat gadis itu kecewa, tapi lebih baik untuknya jika mengetahui lebih dulu dibandingkan mengetahui nanti-nanti.

~œ~œ~œ~

Pintu kamar mandi terbuka, menimbulkan suara berderak khas yang pelan. Seorang gadis berperawakan tinggi yang ideal anak seusianya yang baru saja keluar dari kamar mandi tersebut terlihat tengah mengeringkan rambut basahnya dengan handuk.

Gadis itu memang merasa lelah karena perjalanannya dari Amerika ke Seoul hanya dilewati dengan duduk di dalam pesawat selama belasan jam, tapi entah mengapa rasa lelah langsung menguap entah kemana saat melihat wajah kakak laki-lakinya yang menjemputnya di bandara dan juga merasakan udara musim gugur di Seoul.

Jadi, beberapa jam setelah ia menapakan kaki di tanah kelahirannya, barulah ia sampai ke apartemen milik kakaknya yang akan menjadi tempatnya tinggal. Sebelumnya ia mengajak kakaknya itu berjalan-jalan mengelilingi ibu kota Korea Selatan tersebut.

Tanpa sengaja, matanya menatap lurus ke arah ruangan yang pintunya terbuka setengah. Dari tempatnya berdiri, ia bisa melihat seorang laki-laki yang tengah sibuk dengan laptop, piano ukuran kecil dan beberapa alat yang tidak ia mengerti. Jadi karena penasaran, ia menghampiri ruangan tersebut yang ternyata adalah kamar tidur kakak laki-lakinya, Oh Sehun.

Oppa, kau sedang apa?” tanyanya begitu ia duduk di tepi kasur yang berada di ruangan tersebut seraya menyisir rambutnya yang mulai kering dengan jari-jari tangan.

Sehun tidak membalikkan tubuhnya untuk menyahuti pertanyaan adik perempuannya, ia masih fokus dengan not-not balok di buku nada yang ada di hadapannya. “Menulis lagu.” Jawab singkat Sehun saat ia dapat menyelesaikan nada yang sedari tadi dipikirkannya.

Gadis yang memiliki nama Oh Hayoung itu berdiri dan menghampiri kursi putar yang empuk yang tengah diduduki Sehun di balik mejanya, kemudian ia melihat ke buku yang menjadi pusat perhatian kakaknya tersebut.

Oppa, kenapa kau tidak menjadi penyanyi saja?” tanya Hayoung tiba-tiba seraya menatap kepala Sehun dengan heran. Ia tidak mengerti kenapa kakaknya itu menolak mentah-mentah untuk menjadi penyanyi padahal sejak kecil kakaknya itu sudah belajar musik, bahkan masuk ke sekolah seni dan mengambil jurusan musik.

Mendengar itu, Sehun mendongakkan kepalanya, membalas tatapan heran Hayoung dengan wajah lelahnya. Lelah karena ini adalah pertanyaan kesekian kalinya yang sudah ia dengar. “Kau mau oppamu ini menjadi terkenal dan memiliki banyak penggemar?” tanya Sehun dengan gurauannya.

“Tidak menjadi penyanyi saja oppa memiliki banyak penggemar di kampus barumu, bukan?” balas Hayoung sembari memanyunkan bibirnya dan kembali duduk di tepi kasur di kamar Sehun. “Kali ini jawab yang serius, oppa,” rengeknya seperti anak kecil yang minta dibelikan es krim.

Sehun menghela nafas berlebihan sebelum ia memutar kursinya dan menatap adiknya itu dengan pandangan menyerah. Ia memang sangat menyayangi Hayoung, namun ia akan merasa kesal jika adiknya itu mulai merengek seperti bocah ingusan. Adiknya itu akan menjadi sangat berisik.

“Menjadi penyanyi ataupun entertain itu tak semudah yang kau pikirkan, Hayoung-ah. Seluruh waktu mainmu akan berkurang dan kau tidak akan bisa berjalan seenaknya di luar sana,” jelas Sehun. Ia bicara seperti ini bukan hanya karena pengamatannya yang secara tidak langsung, tapi karena kebanyakan temannya—yang sekarang sudah menjadi penyanyi ataupun musisi—mengalami hal tersebut. “Memang banyak yang akan menyukaimu atau mengidolakanmu, tapi itu tidak berarti jika kau tak memiliki musuh. Tak jarang ada yang akan membencimu. Kau tahu istilah anti-fans, bukan?”

Setelah Hayoung mengangguk, Sehun kembali melanjutkan, “Anti-fans di Korea benar-benar mengerikan. Kau tidak mau melihat oppamu ini diracuni oleh anti-fans kalau aku menjadi penyanyi, bukan?”

Hayoung bergidik ngeri, menatap Sehun sembari mengerjapkan matanya tak percaya. Ia terlalu polos. Padahal Sehun hanya melebih-lebihkan tentang anti-fans tersebut, tapi kelihatannya Hayoung benar-benar percaya pada ucapan Sehun, membuat laki-laki itu mengacak pelan puncak kepala adiknya itu dan membalikkan tubuhnya untuk menyelesaikan lagu yang sediki lagi selesai.

~œ~œ~œ~

Tak terasa satu minggu telah berlalu. Sooji yang mendapatkan kesempatan untuk menjadi model peragaan busana Ha Sangbaek menjadi sangat sibuk karena pertunjukan yang harusnya diadakan dua minggu setelah managernya memberitahu kabar baik ini dimajukan menjadi satu minggu. Dan beberapa jam lagi ia akan menjadi salah satu model peragaan busana Ha Saengbaek.

“Gugup, ya?” tanya seseorang yang terlihat sangat cantik dengan salah satu pakaian buatan Ha Saengbaek dan make up yang memoles wajah mulusnya. Kim Shinyeong. Senior yang ramah dan selalu membantu Sooji itu berperawakan kecil dan tinggi itu kini duduk di sebelah Sooji.

“Ya, sunbaenim,” sahut Sooji sembari menautkan jemari-jemarinya. Kebiasaan jika ia merasa gugup.

Ketika suara mikrofon sudah terdengar, Shinyeong dan Sooji cepat-cepat berdiri. Bersiap-siap karena Shinyeong akan menjadi pembuka, disusul dengan Sooji.

~œ~œ~œ~

Sukses. Kata itulah yang menggambarkan acara hari ini. Mungkin jika ibunya dapat melihatnya berdiri di atas panggung yang tidak terlalu tinggi itu, hari ini akan menjadi hari terbaik selama hidupnya.

Tepat saat ia menoleh dari managernya, ia mendapati Sehun berdiri tidak jauh dari tempatnya berdiri dengan membawa sebuket bunga beraneka warna. Ketika mata mereka bertemu, bibir Sehun terangkat membentuk senyum kecil yang terlihat hangat.

Sebelum Sehun menghampirinya, ia berbicara pada seorang gadis yang terlihat sangat muda yang duduk di sebuah kursi sembari memaikan ponselnya. Gadis itu terlihat bosan. Lalu, gadis itu menolehkan kepalanya pada Sooji dan berdiri, mengikuti Sehun yang mulai melangkah menghampirinya.

“Selamat,” ucap Sehun dengan suara rendahnya yang disukai Sooji seraya menyodorkan sebuket bunga yang berada di genggamannya.

“Wah, eonni kau cantik sekali. Pantas saja op—” sebelum gadis yang memakai gaun berwarna biru tua sampai lututnya itu meneruskan ucapannya, Sehun lebih dulu membungkam mulut gadis itu dengan tangannya. Sooji yang melihatnya hanya tersenyum lucu karena tak mengerti.

“Oh, Sooji-ya, perkenalkan ini adikku, Oh Hayoung.” Sehun pun mulai memperkenalkan adiknya pada Sooji setelah ia melepaskan tangannya dari mulut adiknya itu.

Annyeonghaseyeo,” sapa Sooji ramah dengan senyum manisnya seraya menundukkan kepalanya.

Hayoung balas tersenyum manis melihat keramahan Sooji. Pantas saja Sehun menyukai Sooji. Selain cantik, gadis itu juga ramah dan memiliki senyum yang terlihat hidup. Yah, tak heran jika Hayoung tahu mengenai Sehun yang menyukai Sooji, laki-laki itu sendiri yang bercerita lewat telefon saat ia masih berada di Amerika.

Mereka bertiga pun berbicang, sesekali Sooji harus pergi menghampiri para model dan Ha Saengbaek untuk mendapat pujian dan terima kasih karena mau menjadi modelnya. Laki-laki yang sangat ramah.

Setelah acara selesai, Sooji, Sehun dan Hayoung berpisah. Sooji yang mendapatkan beberapa buket bunga dari Sehun dan penggemarnya naik ke mobil pribadi milik Youngmi, sedangkan Hayoung dan Sehun naik mobil milik Sehun. Namun, tujuan keduanya sama—rumah sakit.

Di perjalanan, Sooji mengirimi pesan singkat pada Kwangmin agar laki-laki itu ke rumah sakit. Sebenarnya Kwangmin ingin datang melihat Sooji, tapi berhubung itu adalah acara formal yang tak sembarangan orang boleh masuk, jadi Kwangmin tak bisa datang. Untuk Sehun, ia sendiri tidak tahu bagaimana bisa laki-laki itu diperbolehkan masuk.

Tidak lama, mereka sudah sampai di rumah sakit. Sooji yang masih mengenakan gaun berwarna hijau muda yang lembut dengan beberapa manik kecil memakai coatnya yang berwarna cokelat. Buket-buket bunga yang didapatnya tidak dibawa, hanya ditaruh di mobil karena ia kesulitan untuk membawanya.

Eomma!” seru Sooji senang seraya membuka pintu ruang rawat. Namun, senyum lebarnya pudar perlahan ketika melihat ibunya yang kelihatan sulit bernafas.

Eomma!” pekiknya sembari berlari menghampiri bangsal tempat ibunya berbaring. Lalu menekan tombol merah yang berada tak jauh dari bangsal tersebut untuk memanggil perawat.

Youngmi yang datang langsung menghampiri Sooji, kemudian disusul oleh Sehun dan Hayoung yang terpaku menatap kejadian di depannya.

Oppa,” gumam Hayoung sembari memegang ujung jas yang dikenakan Sehun.

Kemudian Sehun dan Hayoung menyingkir sedikit ketika beberapa perawat dan dokter datang, sedangkan Youngmi harus memegangi Sooji, membuat gadis itu tenang. Sementara dokter dan para perawatnya menangani ibu Sooji yang kritis, Youngmi yang memegangi kedua bahu Sooji yang tengah menangis—untuk menguatkan—dan juga Sehun serta Hayoung keluar dari ruangan, tidak ingin menganggu konsentrasi tim medis.

Hayoung keluar lebih dulu, disusul dengan Sehun. Gadis itu menoleh ketika merasakan kedatangan seseorang. Begitu melihat seorang laki-laki dengan buket bunga yang—sepertinya terjatuh—berada di atas lantai rumah sakit yang dingin tepat di hadapan laki-laki itu.

Ekpresi laki-laki itu membuat Sehun menatapnya bingung, seperti tengah melihat hantu. Wajah terkejut dengan mulut yang sedikit terbuka dan mata yang membelalak.

“Kwangmin… sunbae,” kini giliran Hayoung yang mendapati tatapan heran dari Sehun saat gadis itu menggumamkan nama laki-laki yang berdiri beberapa meter darinya dengan nada ragu.

Kwangmin yang tidak mengerti kenapa Hayoung bisa berada di sini hanya membeku di tempatnya, menatap gadis itu dengan mata terbelalak. Namun begitu Sooji terlihat keluar dari ruang rawat sambil menangis, Kwangmin tersadar dari lamunannya dan menghampiri Sooji. Seakan ia melupakan Hayoung yang tadi menggumamkan namanya.

~To Be Continue~

~Wait Another Story~

Maaaaf, maaf banget kalo yang ini lama. Aku gak sempet buat lanjut karna abi uas bukannya bisa nyantai malah dikasih tugas bejibun buat nambah nilai T_T dan buat FLP chapter 13, aku gak bisa janjiin buat minggu depan publish. tapi aku berusaha buat cepet nyelesaiin chapter 13nya kook. sekali lagi aku mohon maaf >//<

37 thoughts on “A Heartbreak – Chapter 2

  1. huaa seru” thor.. 4 orng ini masuk ke cinta segiempat kali ya thor wkwkwk.. Sehun kyanya msih suka suzy… Kwangmin sma hayoung lgi.. Ditunggu next chapnya.. Fighting thor!! =)

  2. Wah chingu smkin seru..daebak critany…jgn lama2 ya chingu lnjutanny..huhuhu
    Dtunggu FLP 13 jg..:)

    Fighting buat nugasny smoga cpet kelar dan lanjut ff hihi

  3. Huwah….kwangmin oppa dilema!!!cnt pertama atw suzynie? Aish….andweyo!!! Pkokx kwangmin oppa tetap bwt suzynie,dan sehun oppa bwt aku aja…. Hahaha…eonnie c’mangat yh nyelsein tgasx,trus bwt FLP jgn terlalu lma jg, udah lmutan nh….

  4. wah kak enny hebat kak ceritanya! itu si suzy sam sehun ajalah kak. cocokan sama sehun kok. kan sama sama 94-liners. aku selalu suka lho sm ff karya kak ennyhutami. bahasanya bagus, ceritanya juga ada alurnya jadi enggaklangsung bablas. ditunggu next chapterya ya kak. next chapter harus lebih ke ya kak?😀

      • kak enny kapan nih a heartbreak part 3 rilis? aku udah nunggu2 lho? aku beberapa kali on di pc dan kecewa banget karena kakak eni enggak nge post ff selanjutnya. FLP part 13 nyaa juga ditunggu loh kak🙂 aku readers setia kak eni loh

      • wah maaf banget deeek, aku belum bisa nyelesaiin AHBnya:( tp FLP13nya udah aku publish kok^^ duhhh, makasih bangeeet loooh:$ aku nggak pernah bayangin punya reader setia ehehe intinya, sangat-sangat makasiiiih:D

  5. wah, kyaknya kwangmin dah mulai suka mah suzy.
    masih penasaran mah hub. sehun N suzy….
    lanjut… buat readersmu semakin penasaran dinext part *plakk.. #abaikan.
    dan 1 lg ffnya DAEBAK….
    oya, next partnya secepatnya ye…..
    hehe….

  6. Gwaenchana.. Gwaenchana, first lovenya Kwangmin itu Hayoung, tapi last lovenya Suzy ya, hehe

    #tapi kalo Suzy sama Sehun juga ikhlas kok, haha

    #masih berharap dilanjut #plakk

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s