First Love Pain – Chapter 12



  • Tittle    : First love pain
  • Author    : EnnyHutami
  • Lenght    : Chaptered
  • Rating    : General
  • Genre    : Romance, Sad
  • Cast    :
  1. Bae Sooji
  2. Choi Minho
  3. Jung Soojung a.k.a Krystal Jung
  4. Kim Myungsoo
  5. And others (Find them self)


Copyright © Ennyhutami Fanfiction 2012

~œœœ~

[Chapter 12]

-Hariku-

Sudut pandang Sooji

Jantungku terus saja berdebar walaupun aku sudah berada di rumahku sendiri. Astaga… apa yang terjadi padaku? Kenapa wajahku masih terasa panas padahal aku baru saja berada di bawah payung untuk melindungi diriku dari hujan lebat yang akan membasahi tubuhku? Seharusnya aku kedinginan, bukan seperti ini!

Setelah menaiki anak tangga dan berdiri di depan pintu kamarku, aku segera membuka pintu tersebut dan menutupnya kembali. Kemudian aku menyandarkan punggungku pada pintu dan menyentuh bibirku. Bayangan saat bibirnya menyentuh bibirku kembali melayang-layang di benakku, membuatku tersenyum tak jelas seperti orang gila.

Kemudian aku berlari kecil ke arah ranjangku dan menghempaskan tubuhku begitu saja di sana karena jangtungku yang memompa aliran darahku seakan ingin meledak sangking senangnya. Lalu, aku memutar tubuhku hingga aku bisa menatap langit-langit kamarku yang berwarna putih bersih seraya memegang dadaku yang debaran jantungnya tak kunjung normal, masih berdegup dengan sangat cepat.

“Kenapa rasanya hangat sekali?” gumamku pelan dengan lengkungan senyum yang tak juga bisa hilang.

Kini aku sama sekali tak memikirkan bagaimana ke depannya. Sama sekali tidak memedulikan status Minho yang sudah memiliki kekasih. Selama tak ada undangan perkawinan dari keduanya, bukankah itu berarti Minho masih bisa lepas dari Krystal?

Ranjangku sedikit bergetar—maksudku, ponsel yang berada di saku blazerku bergetar hingga membuat ranjangku terasa bergetar. Jadi, aku merogoh saku blazerku untuk mengambil ponsel dan langsung mengangkat telefon yang masuk tanpa melihat identitas si penelfon terlebih dahulu.

Yoboseyeo?”

“Ke mana kau tadi?” Aku meringis saat mendengar suara bernada tajam dari seberang sana. Siapa lagi kalau bukan Kim Myungsoo? Suara laki-laki sangat khas dengan nada dingin dan tajamnya, namun terkadang terdengar lembut dan rendah. “Saat kembali ke perpustakaan, kau tidak ada. Bukankah sudah kubilang untuk menunggu sebentar?”

Oh, ya. Aku lupa kalau dia menyuruhku untuk menunggunya. “Mian. Aku lupa.” Akuku sembari menyengir lebar walaupun ia tidak akan bisa melihat cengiranku.

“Kau sudah menyelesaikan lima puluh soal yang tadi kuberikan—”

“Kau tunjukan.” Koreksiku, membuatnya mendecakkan lidahnya. Aku tertawa kecil mendengarnya. Yang membuat soal tersebut kan memang orang lain, dia hanya menunjuk soal-soal tersebu. Jadi, aku tidak salah, bukan?

“Terserah,” gerutunya yang lagi-lagi membuatku terkekeh. “Kau sudah menyelesaikannya?” ulangnya.

“Sudah,” jawabku. “Tapi kau belum mengoreksinya.”

“Kalau begitu, aku ke rumahmu. Dan, persiapkan dirimu untuk mengerjakan lima puluh soal lagi. Tanpa lihat buku.” Sial. Kenapa dia harus menekankan kalimat terakhirnya?

Sebelum aku menyelanya, ia sudah lebih dulu memutuskan hubungan telefon. “Kenapa dia seenaknya saja menelfon dan memutuskan hubungan telefon?” Decakku kesal. Siapa yang tidak kesal saat seseorang menganggu lamunanmu yang indah? Lamunan yang mendebarkan hati?

Namun, seketika itu, aku teringat bagaimana kalau dia tahu kalau aku dan Minho baru saja berciuman? Aku tahu Myungsoo menyukainya dan aku sama sekali belum membalas perasaannya saat ia menyatakan pada musim panas yang lalu. Bagaimana kalau ia tahu? Aku… tidak ingin menyakiti perasaannya.

¯

Soal-soal yang diberikan Myungsoo tadi malam benar-benar membuatku frustasi. Soal biologi tapi kenapa lebih sulit dari matematika? Kenapa pula bahasa latin yang muncul sangat banyak? Tapi, yah… soal-soal yang diberikan Myungsoo sembilan puluh delapan persen ampuh. Aku bahkan mengerjakan soal ulangan yang diberikan oleh guru biologi kelasku dengan mudah.

Aku benar-benar harus berterima kasih padanya.

“Seharusnya kemarin aku ikut Sooji ke perpustakaan.” Komentar Jinri dengan suara lesu dan pasrahnya. Wajahnya ditekuk karena kesal dengan soal-soal yang beberapa menit yang lalu ia kerjakan.

“Semalam Myungsoo menyuruhku mengerjakan banyak soal,” ujarku dengan tersenyum bangga. Ya, aku bangga karena bisa mengerjakan soal ulangan begitu mudahnya. Sejujurnya, kelemahanku adalah hafalan. Mata pelajaran yang membutuhkan hafalan benar-benar aku benci.

“Kau sih enak mendapatkan pacar yang jenius.” Sindir Eunji sembari memutar bola matanya. Aku dan Jinri hanya saling menatap kemudian melayangkan pandangan heran pada Eunji.

“Yang benar? Myungsoo jenius?” tanyaku. Aku benar-benar tidak percaya kalau Myungsoo adalah seseorang yang jenius. Dia sama sekali tidak bilang padaku kalau dia jenius. Dia tidak pernah menyombongkan dirinya. Wah, sepertinya banyak yang belum aku tahu tentang pacar bohonganku, ya?

“Kau tidak tahu?” Eunji bertanya balik. Aku menggeleng pelan. “Heish, pacar macam apa kau?” yah… aku pacar bohong-bohongannya, sih. “Aku dengar, anak laki-laki dari pemilik sekolah ini adalah orang yang jenius. Sejak kecil, ia sudah memperlihatkan kejeniusannya.”

Aku rasa Eunji suka sekali bergosip. Kabar dari mana lagi yang ia dengar saat ini?

“Kejeniusan apa contohnya?” pertanyaan polos yang dilontarkan Jinri membuat Eunji bungkam dan membuatku tertawa karena reaksi Eunji yang langsung diam seribu bahasa.

Ya!” cecarnya sembari mencoba memukul lenganku dengan buku yang ada di atas meja di hadapannya.

Kemudian tawaku menghilang begitu melihat tatapan orang lain, Jinri dan Eunji yang menatapku dengan pandangan aneh setelah mereka memainkan ponsel mereka. “Wae?” tanyaku heran pada Eunji dan juga pada Jinri.

Tanpa disuruh, Jinri segera menyodorkan ponselnya yang menampilkan sebuah foto. Mataku langsung membelalak lebar saat menyadari bahwa foto tersebut adalah foto diriku dan Minho. Foto yang mengabadikan kejadian kemarin. Siapa yang memotretnya?!

Aku terdiam dan tak berani menoleh saat kusadari bahwa orang-orang yang berada di kelas ini menatapku dengan pandangan menuduh. Aku sama sekali tak berani menggerakkan ekor mataku ketika Jinri mengambil ponselnya lagi dengan perlahan.

“Bukankah dia pacaran dengan Myungsoo sunbae?”

“Mereka berciuman?”

“Sudah kuduga mereka berdua ada apa-apa.”

Telinga dan mataku seketika terasa panas saat suara bisikan-bisikan itu terdengar. Saat ini aku benar-benar tak bisa berfikir. Semuanya terasa kabur. Bisikan-bisikan itu seakan sedang menamparku hingga pipiku luka.

“Sooji-ya…” aku mengerjapkan mataku sembari mengangkat wajahku hingga aku bisa melihat wajah Jinri yang terlihat khawatir.

Tiba-tiba saja, kurasakan seseorang menarik lenganku hingga membuatku berdiri dan menarikku pergi dari kelas. Walau belum melihat wajahnya, aku sudah tahu kalau orang yang menarikku itu adalah Minho. Aku tahu dia walaupun hanya melihat punggung tegapnya.

Aku terus menundukkan kepalaku selama melewati koridor-koridor panjang sekolah karena aku tahu banyak orang menatap kami berdua dengan pandangan menuduh dan berbisik pada teman di sebelahnya. Aku juga terus melangkah membiarkan Minho menarik tubuhku hingga ke tempat yang ia tuju tanpa memberontak.

“Kau tidak apa-apa?” tanyanya setelah ia melepas genggamannya pada tanganku ketika kami sudah berada di suatu ruangan—yang entah ada di mana karena aku tidak begitu memperhatikan jalan tadi. Yang jelas, ruangan ini hanya ada aku dan dia. Tidak ada yang lainnya.

Aku masih tetap menunduk. Tak berani untuk membuka mulutku untuk menjawab pertanyaannya karena aku tahu, sedikit saja aku membuka mulutku, aku pasti akan terisak. Dan aku tak ingin menangis di depannya. Jadi, aku hanya menganggukkan kepalaku kecil namun masih menunduk menatap sepasang sepatuku.

“Menangislah.” Ujarnya dengan suara rendah yang sangat kusuka seraya mencoba untuk memelukku. Namun, sebelum ia sempat memelukku, aku mendorong tubuhnya pelan dan mundur beberapa langkah. Lalu menatapnya dengan pandangan yang aku sendiri tak bisa mengartikannya. Aku tak peduli kalau-kalau air mata yang sejak tadi kutahan menyusup keluar dari pelupuk mataku.

“Sebenanya apa yang kau inginkan?” tanyaku dengan suara tercekat yang terdengar aneh bahkan di telingaku sendiri. Kulihat ia hanya menatapku dengan alis bertautan heran, jadi aku pun melanjutkan, “Kau membuatku seperti gadis bodoh. Membuatku senang dan sedih. Membuatku seperti sedang menaiki wahana rollercoaster, naik begitu tinggi kemudian dihempaskan begitu saja ke bawah. Apa yang kau inginkan, huh?!”

Bisa kurasakan nafasku tersenggal karena berbicara panjang lebar hanya dengan satu tarikan nafas.

Dia diam saja dengan wajah sok tenangnya. Seperti sedang menungguku untuk kembali melanjutkan ocehanku. “Kau tahu seberapa senangnya saat namamu muncul di layar ponselku malam itu?”

“Kau menungguku sampai aku menelfonmu?” potongnya dengan kening berkerut.

Aku menggigit bibir bawahku dan mengepalkan kedua tanganku. Aku kelepasan. “A-aku…,” apa yang harus kukatakan?

Sudut pandang penulis

Brengsek! Sembari berlari, Myungsoo tidak pernah mengumpat dalam hatinya. Ia baru saja melihat foto yang sama seperti foto yang kemarin dikirimkan untuknya. Namun, kali ini bukan hanya dirinya yang dikirimi foto itu melainkan semua orang. Gadis kemarin menyebarkan foto Minho dan Sooji keseluruh murid di sekolah.

Ketika Myungsoo sampai di ruang kelas yang ia tuju, ia langsung membuka pintu dengan kasar hingga pintu tersebut bertubrukan dengan pintu dan menimbulkan suara gaduh yang membuat semua orang yang mendengar suara tersebut terlonjak lalu menoleh padanya.

Dengan nafas tersenggal dan sorotan mata yang dingin dan mematikan, ia menghampiri seorang gadis berkaca mata yang duduk di deretan bangku nomor dua dari depan dan menarik tangan gadis itu dengan kasar.

Tanpa banyak basa-basi lagi, saat ia berhasil membawa gadis berkaca mata tersebut ke tempat yang sepi dan tak mungkin dilewati murid ataupun guru, Myungsoo langsung menhempaskan genggaman tangannya pada pergelangan tangan gadis itu dengan kasar dan menatap gadis itu dengan penuh amarah.

“Bukankah kau sudah berjanji untuk tidak menyebarkan foto itu?” desis Minho di sela-sela giginya yang bergemelutukan menahan emosi yang sudah membakar sampai ke ubun-ubun. “Kenapa kau masih juga nekat untuk menyebarkan foto itu?!”

“Janji dibuat untuk dilanggar, bukan?” balas gadis itu dengan tenang seraya tersenyum miring. Senyum yang sangat dibenci Myungsoo.

Tatapan Myungsoo semakin tajam dan dingin menatap gadis itu. Mungkin bagi orang-orang yang tidak terbiasa dengan tatapan itu akan ketakutan dan merasa dirinya telah dicabik-cabik. Tapi, gadis itu sama sekali tidak takut. Ia hanya mengangkat kepalanya dan balik menatap Myungsoo dengan tatapan menantangnya.

“Oh, ya,” seakan tak menyadari amarah Myungsoo, gadis itu berbicara dengan santai dan tenang. “Ahjussi bilang kalau kau pindah ke sekolahnya karena kau menyukai seorang gadis bernama Sooji. Aku berani bersumpah kau benar-benar sudah berpindah hati ke gadis murahan—”

“Cukup.” Titah Myungsoo yang justru membuat gadis itu menyeringai karena merasa menang. Myungsoo sudah terpancing oleh amarahnya sendiri.

“Sebenarnya aku tidak rela kau berpaling ke gadis lain,”

“AKU BILANG CUKUP!” teriakan Myungsoo membuat gadis itu terlonjak sedikit. Cukup sudah ia menahan emosinya. Gadis itu benar-benar membuatnya tidak bisa mengendalikan dirinya sendiri. “Berhenti mengurusiku!” Myungsoo maju perlahan, kemudian kedua tangannya mencengkram kedua sisi bahu gadis itu dengan kuat-kuat. Lalu ia memajukan kepalanya hingga bibirnya tepat berada di samping telinga gadis itu. “Aku bukan Myungsoo yang kau kenal. Dan perlu kau tahu, aku tidak akan pernah kembali padamu, Park Jiyeon.”

¯

“Kenapa kau tidak terkejut?” tanya Sooji dengan kening berkerut setelah ia menceritakan semuanya kepada Minho. Ya, gadis itu sudah menceritakan semua yang menyangkut tentang kebohongannya. Bahkan ia juga menceritakan tentang hubungannya dengan Minho. Ia tidak ingin meneruskan kebohongan itu lebih lama lagi. Semuanya berakhir di sini.

“Aku sudah tahu semuanya.” Sahut Minho dengan suara rendahnya setelah ia menghela nafas karena tangannya yang hendak terangkat untuk menghapus sisa-sisa air mata Sooji kembali jatuh ke kedua sisi tubuhnya.

“Apa?” ucap Sooji terkejut. Ia sama sekali tidak mengerti bagaimana bisa Minho mengetahui kebohongan yang telah dilakukannya dengan Myungsoo.

“Aku sudah tahu semuanya,” ulang Minho. “Hubunganmu dengan Myungsoo, aku sudah tahu itu.”

“Dari mana kau tahu?” tanya Sooji dengan mata disipitkan curiga. Ia tidak yakin kalau dia mengikutinya dengan Myungsoo saat mereka berdua tengah bersama. Hei, memangnya Minho memiliki tampang seperti penguntit?

Minho terdiam cukup lama, membuat Sooji semakin menyipitkan matanya karena curiga. Jangan katakan kalau Minho benar-benar membuntutinya dan Myungsoo.

Hingga akhirnya Sooji membulatkan matanya ketika Minho mulai membuka mulutnya untuk menjawab pertanyaan Sooji. “Myungsoo memberitahuku.”

Pipinya seakan ditampar saat ini.

“Myungsoo?” tanya Sooji tak percaya. Ia benar-benar tak bisa mempercayai ucapan Minho. Sooji tahu Myungsoo tahu bahwa dirinya menyukai Minho. Laki-laki itu tak mungkin membocorkan rahasia, terlebih lagi kepada Minho. “Bagaimana mungkin…?”

Minho hanya mengendikkan bahunya tanda ia juga tak mengerti. “Kemarin, setelah kau pergi, aku bertemu dengannya tengah bersama seorang gadis.”

“Gadis?” Sooji tidak tahu kalau Myungsoo memiliki seorang teman perempuan jika melihat dari sikap dinginnya. Ia bahkan sangsi kalau Myungsoo memiliki teman. Bahkan sudah beberapa minggu Myungsoo berada di sekolah ini, ia tidak pernah melihat laki-laki itu tengah bersama orang lain kecuali dirinya. “Siapa?”

“Kau cemburu?” sebenarnya, Minho menanyakan hal itu karena ia penasaran. Penasaran dengan perasaan Sooji terhadap Myungsoo. Ia hanya ingin memastikan apakah hati gadis itu perlahan berpindah atau tidak.

Karena Sooji tak menunjukkan tanda-tanda bahwa ia ingin menjawab pertanyaannya, jadi Minho kembali berbicara. “Kurasa alasannya memberitahuku tentang hubunganmu dengannya karena ia melihatku menciummu.”

“Astaga!” pekik Sooji seraya menepuk dahinya frustasi setelah ia menyadari sesuatu. Myungsoo! Bagaiamana ia lupa terhadap lelaki itu? Myungsoo pasti sudah melihat foto itu. Namun, seperkian detik kemudian, ia kembali mendongak dan menatap Minho dengan pandangan yang sulit diartikan. Banyak emosi yang diperlihatkan oleh mata tersebut. “Myungsoo melihatnya? Kemarin?” ia baru benar-benar menyadarinya.

“Ya, ia melihatnya.” Sahut Minho dengan pandangan heran yang di arahkan pada Sooji yang terlihat panik.

Sooji tidak lagi mendengar ucapan Minho. Ia hanya memutar otaknya, mencari alasan yang masuk akal kenapa semalam Myungsoo bersikap biasa saja. Kemudian, ia membalikkan badan dan mulai berlari untuk mencari Myungsoo, meinggalkan Minho yang hanya terbelenggu di tempatnya karena masih terheran-heran dengan sikap Sooji.

Jangan katakan padaku ia benar-benar mulai memindahkan hatinya, batin Minho sembari menatap punggung Sooji yang menghilang ketika ia kelua dari pintu.

¯

“Aku tahu kau bohong.” Ujar Park Jiyeon pada Myungsoo yang menatapnya tajam bagaikan pedang yang baru saja diasah. “Kau masih Myungsoo yang dulu. Dingin dan tak bersahabat hanya bagian luar dirimu, tapi aku tahu hatimu. Akan luluh saat melihat seseorang menangis.”

“Kau berbicara seperti itu seakan kau sangat mengenalku.” Decak Myungsoo dengan tatapan tak sukanya.

“Bukankah kita sudah saling mengenal sejak kecil?”

Myungsoo terdiam. Ia tidak bisa mendebatnya lagi karena itu memang benar. Mereka sudah saling kenal sejak mereka kecil karena kedua orangtua mereka bersahabat. Dan akhirnya, Myungsoo lebih memilih untuk mengalihkan pembicaraan. Kali ini nada suaranya melunak, tapi tatapannya tak kunjung melunak juga. “Kapan kau kembali kemari?” tanyanya.

Jiyeon tersenyum, bukan senyuman picik seperti yang sebelum-sebelumnya, tapi senyuman yang terlihat polos seperti gadis manis seusianya ketika ia mendengar suara Myungsoo yang melembut. Ia tahu Myungsoo tidak akan bertahan lama untuk berbicara sinis padanya. “Sekitar satu tahun yang lalu. Appa ingin aku bersekolah di sekolah ahjussi, tapi aku kecewa kau tidak bersekolah di sini juga.” Jawabnya sembari membenarkan letak kacamatanya yang melorot.

Myungsoo hanya menghela nafasnya sembari menoleh ke arah jendela ketika ia melihat Sooji tengah berlari di bawah sana. Ia tidak tahu apa yang terjadi pada Sooji, tapi gadis itu terlihat panik.

Wae?” tanya Jiyeon seraya mengikuti arah pandangan Myungsoo yang kini berdiri tepat di depan jendela sebuah ruangan yang jendelanya menghadap ke pekarangan sekolah. Ia heran karena ia tak mendapati seseorang di luar sana. Ia hanya melihat beberapa murid yang berseragam olahraga dan beberapa murid yang mengenakan seragam sekolah biasa bermain bola di lapangan yang ada di sana.

Tanpa banyak bicara Myungsoo membalikkan badannya dan mulai meninggalkan Jiyeon yang terbengong heran memandang punggung Myungsoo yang mulai menjauh kemudian menghilang.

“Tadi kau marah bukan main saat tahu aku sudah menyebarkan foto tersebut,” gumamnya sembari tersenyum, masih dengan posisinya yang menatap tempat di mana punggung Myungsoo menghilang.

Kemudian ia membalikkan badannya hingga kini ia bisa melihat aktifitas murid-murid di luar sana. Lalu ia mengeluarkan ponsel dari saku blazernya dan menekan beberapa angka yang sudah dihafalnya.

Begitu mendengar suara dari seberang telefon, Jiyeon pun mulai membuka mulutnya untuk bicara. “Ahjussi, ini aku, Park Jiyeon,” ucapnya dengan sopan. Setelah mereka berbasa-basi sebentar, Jiyeon pun memberitahu alasan kenapa ia menelfon seseorang yang dipanggilnya ahjussi tersebut.

Sudut pandang Bae Sooji

Kenapa susah sekali mencarinya? Aku sudah berlari ke sana kemari, tapi batang hidungnya sama sekali tak terlihat. Atau jangan-jangan ia sedang bermain petak umpat sekarang.

Tiba-tiba, dari belakang, kurasakan seseorang menahan pergelangan tanganku, membuatku berhenti dan menoleh karena kukira itu adalah Myungsoo. Tapi sayangnya, orang yang menahan pergelangan tanganku adalah Minho, bukan seseorang yang sedang ingin kutemui.

“Sebenarnya kau mencari siapa?” tanyanya dengan wajah heran dan kening berkerut.

Aku diam, tidak berusaha melepaskan tanganku dari genggamannya, namun mataku bergerak-gerak ke sana kemari untuk mencari Myungsoo. Aku bahkan baru menyadari kalau Minho mengikuti sejak tadi.

“Mencari Myungsoo?” tanyanya lagi setelah membuatku hanya memokuskan pandanganku padanya. Aku mengangguk, lalu ia kembali melanjutkan. “Kau mencemaskannya?”

Lagi-lagi aku diam, tak bisa menjawabnya. Aku bahkan tak mengerti kenapa aku berlari-lari dengan panik seperti ini. “Ya,” jawabku setelah cukup lama terdiam. “Myungsoo pernah menyatakan perasaannya padaku, dan aku takut ia kecewa karena melihat foto yang tersebar itu.” Benar, aku mencemaskan itu.

“Dia melihatnya kemarin.” Ucapnya.

“Apa?”

“Dia melihat saat aku menciummu. Jadi, jangan khawatir.” Mataku menyipit mendengarnya berkata dengan santai dan tenang.

“Kau merencanakan ini?” tuduhku. Kalau benar ia merencanakan ini, aku tak akan memaafkannya untuk hal yang satu ini.

Kulihat ia menegapkan badannya dan menatapku dengan pandangan tidak percaya. “Tentu saja tidak,” elaknya membela diri. “Untuk apa aku melakukan hal sepicik itu?”

Kurasa ucapannya benar juga. ‘Untuk apa ia melakukan itu’. Kenapa kalimat itu membuatku sedikit tertusuk jarum kecil?

“Dengar,” katanya dengan suara pelan seraya memegang kedua bahuku dan menatap mataku dalam, membuatku mau tak mau balik menatap bola matanya yang berwarna cokelat terang itu. “Kalau aku bilang aku menyukaimu, apa kau percaya?”

Aku tahu kini pupil mataku membesar karena terkejut. Aku… tidak tahu jawaban atas pertanyaannya. Tentu saja aku ingin mempercayai perkataannya, tapi aku juga tak mau berharap mengingat malam itu. Dia sudah memiliki Krystal yang jauh lebih baik dariku.

Kudengar ia mendesah kecewa. “Aku diputuskan oleh Soojung dua hari yang lalu.”

Apa dia bilang?

“Soojung memutusku karena tahu aku menyukaimu,” lanjutannya sukses membuatku ingin melompat-lompat sangking senangnya. Dia menyukai? Serius? “Kau percaya sekarang?”

Aku tahu aku tak bisa menahan diriku ketika aku merasa ujung-ujung bibirku tertarik ke belakang dan membentuk senyum lebar, jadi aku langsung menyuruh otakku untuk kembali memikirkan Myungsoo. Toh, dia belum menjelaskan apapun tentang Myungsoo yang melihat—kalian tahu sendiri.

“Kau belum menjawab pertanyaanku sebelumnya.” Ujarku dengan wajah yang kupaksakan seinnocent mungkin.

“Oh,” sahutnya. Kemudian ia melepaskan tangannya dari kedua bahuku dan kembali berdiri tegap. “Setelah kau pergi, aku melihat Myungsoo dan seorang gadis yang tidak kukenal di luar gedung sekolah dari jendela balkon yang saat itu tepat di sebelah kiri. Jangan merasa bersalah setelah mendengarnya, oke?”

Karena kau bilang begitu, aku justru merasa bersalah sekarang. Tapi, aku tetap menganggukkan kepala setuju.

“Saat aku menghampirinya, gadis itu sudah melangkah pergi, jadi aku tak bisa melihat wajahnya. Dan di sana, Myungsoo terlihat… kacau. Entah karena ia melihatku menciummu atau apa, yang jelas ia terlihat kacau dengan nafas yang terdengar tidak stabil,” ia terdiam sebentar untuk memberi jeda.

“Lalu, setelah gadis itu benar-benar pergi, dia berbicara padaku dengan suara tenangnya—sangat kontras dengan ekpresinya. Dan, ia pun menceritakan semuanya. Tentang hubungan kalian serta gadis tadi yang ternyata berhasil memotret ‘kita’. Ia bilang bahwa ia akan mengurusi gadis itu dan aku harus melindungimu jika foto itu benar-benar tersebar,”

Aku tidak tahu harus menanggapi apa.

“Apakah kau… masih menungguku?”

¯

Sore ini hujan menguyur kota. Walaupun hujannya tidak sederas sebelum-sebelumnya, tapi kurasa hujan kali ini akan bertahan hingga malam hari. Dan sekarang, di sinilah aku. Duduk di halte menunggu hujan mereda sembari sesekali merapatkan blazer sekolah. Tapi, sesuai dengan prediksiku tadi, hujan tak kunjung mereda dan aku terjebak di sini karena tak membawa payung.

Saat aku tengah menjulurkan dan menegadahkan tanganku untuk memeriksa hujan, tiba-tiba saja sebuah payung berwarna merah menutupi pandanganku. Ketika aku menoleh saat payung itu mengangkat ke atas dan berada di atas kepalaku, kudapati sososk seorang Kim Myungsoo berdiri di sampingku dengan senyum miringnya yang terlihat tenang. Entah kenapa melihat senyumnya untuk saat ini membuatku merasa bersalah.

“Kim Myungsoo…” Gumamku dengan suara sepelan mungkin. Jadi, ia tak bisa mendengar gumamanku karena memang teredam suara hujan.

“Kau belum pulang?” tanyanya dengan nada ramah yang justru menurutku kelewat ramah untuk saat ini. “Ayo kuantar pulang.” Lanjutnya.

“Mm,” sahutku sembari mengikuti langkahnya agar aku tetap berada di bawah naungan payungnya. Entahlah, tapi baru kali aku merasa canggung berada di dekatnya.

Selama kami berdua melangkah bersama dalam satu naungan payung, sama sekali tak ada yang berbicara. Aku tidak suka keadaan seperti ini jika sedang bersamanya. Atmosfer canggung yang sama sekali tidak nyaman.

“Anu… Myungsoo-ya,”

“Kau tahu? Aku lebih tua darimu,” selanya sebelum aku melanjutkan ucapanku yang terdengar ragu-ragu. Oh, benar. Aku sama sekali tidak ingat kalau ia adalah seniorku. “Kau harus memanggilku sunbae.”

Aku memutar kedua bola mataku sinis mendengar lanjutan kalimatnya, namun di dalam hatiku, aku bernafas lega karena atmosfer canggung yang tak nyaman itu perlahan menyingkir. “Shireo!” tolakku. “Kau bahkan tidak berkomentar sebe—ya!” segera aku berteriak ketika kurasakan guyuran air di pundakku yang ternyata adalah perbuatannya. Sebelum aku menyelesaikan kalimatnya, ia memiringkan payungnya sehingga pundakku terkena air hujan. “Kau seperti anak kecil!” semburku seraya memeluk diriku sendiri saat ia menertawaiku.

Belum sempat ia membalasku, aku langsung merebut gagang payung yang digenggamnya dan berlari secepat yang kakiku bisa menerobos guyuran hujan.

YA! Bae Sooji!” aku tertawa seraya terus berlari ketika mendengar suara teriakannya yang melengking seram.

Aku menambah kecepatan kakiku ketika kurasakan ia mengejarku, masih dengan tertawa, membuatku sedikit sulit berlari ditambah payung yang terasa berat karena tertiup angin.

Hubungan antara aku dengan Myungsoo tidak secanggung tadi. Dan aku rasa hubungan kami akan terus berjalan baik walaupun bukan hubungan antara laki-laki dan perempuan yang sebenarnya. Justru hubungan pertemanan seperti ini yang akan bertahan lebih lama, bukan?

~TBC~

~Wait another story~

Annyeong semuaaa~~~~ waaah, FLP makin runyam ya ceritanya? Well, aku gak bakal nyeritain semua tentang hubungan Myungsoo-Jiyeon, cukup nyeritain penjelasan kenapa dia ikutan muncul disini. Terlalu banyak konflik? Yah… jangan khawatir, konflik yang satu ini bakalan jadi ‘penyelelesain’ dari semua konflik, tapi masih ada satu konflik lagi yang bakal muncul. Ending? Aku rasa ada dichapter 15/16, tapi gatau juga deng ehehe^^v

Ohya, buat lanjutan A Heartbreak dan FLP sendiri, bakal telat seminggu dari biasanya karena beso—hari senin—aku mulai ujian tengah semester T_T (curhat dikit) dan, aku minta pengertian readers semua ya:D jangan capek nunggu ffku hihihihi Kamsa~~~

74 thoughts on “First Love Pain – Chapter 12

  1. Ah daebak chingu critany…knp kok ak lbih suka suzy sma myungsoo ya skrg..aduh pusing😀

    Konflikny jgn berat2 ya chingu..bikin myung sma minho ttep mertahanin cintany sma suzy…dan lenyapkan jiyoen hehe..

  2. yeyeye , akhirnya di next , smoga konfliknya bisa di uraikan satu per satu biar gak ada yg gantung .
    kereen saeng , tp aq kasian sama myungsoo nyaa.. patah hati lg ..

    • neee, aku usahain biar endingnya gak gantung koook^^ iya eon, mungkin kalo myungsoo oppa sama aku, dia gaakan patah hati *dibakar* kkkk btw, makasih udah baca+komen ya eon:D

  3. daebak~
    aku lebih suka sama myungzy couple thor
    jd myungsoo nya jgn dibuat patah hati ya, kan kasian
    lanjut aja deh next chap nya
    jgn lama” ya thor !

  4. huwaaa~ daebak!
    aku lebih suka myungsoo ama suzy lebih dari temenan.. myungsoo itu beneran tulus banget ama suzy..
    jangan bikin myungsoo patah hati y ? gak tegaaa,, dia udh baik banget ama suzy..
    next partnya di tungguu

  5. Haduh gimana ini thor? sebenernya ngeship suzy-minho tapi kok jadinya lebih cocokan sama myungsoo disini.
    Hmmm kalo gitu udahlah suzy sama myung aja.. Minho…… biar sama aku :3 #PLAK!!!
    Chapter 13 nya ditunggu yah, dan good luck buat UTS nya ^^

    • aku juga bingung._. tapi, harus tetep sama cerita awal ini biar gak keder akunyaT_T weeeh, Minho oppa sama kamu, Taemin oppa sama aku yaa:3 kkkkk nee, gomawooooo:D

  6. kenapa sama jiyeon?? apa hubungan y sama myungsoo? …
    knapa lebih cocok myungzy dari pd minzy? kalo ntar suzy y sma minho, biar ntar myungsoo y sama aku aja #plakk
    daebak!! ditunggu next chapnya

  7. wah sama minho jadinya , , tapi keren myungsoo bsa menghadapi dgn senyuman walau hati kyanya patah hati dan yg lbih keren nya author nya bkin crita yg DAEBAK bgt ^^

  8. Huwah……galau!!!!
    Minzy tw Soozy??? Aduh…..aku seneng minhoppa udah jujur tentang perasaanx, tpy disisi lain myungsooppa udah baek bgt ama suzynie dan selalu pengen suzynie bahagia,di tmbh lg jiyeon….aish
    jeongmal….trus hrus sma siapa ??
    *tw myungsooppa bwt aku aja??mw gak oppa??

  9. lanjut thor lanjuttttt myungzy lbh cocok. minho buat aku aja kkk😄 ditunggu next part ya thor :3 ngilangin penat pas lg uas nih hehe

  10. kapan tamatnya tor ~
    jadi galau kan milih minho apa L
    HUAAA
    ehiyaa itu aku nemuin banyak yang tipo nama tor .
    sekian komennya
    ceritanya makin daebak ><

  11. Seru banget eonni!!
    Akhirnya sooji bisa bahagia juga🙂
    aku suka sooji sama myungsoo deh😀
    aku suka sama kepribadian myungsoo juga, cos ngingetin aku sama seseorang *kok jadi curcol?*
    tapi daebak banget ff-nya!!😀

  12. thor.., kayaknya lebih dukung suzy sama myungsoo dech…, kalo pas sama myungsoo romantisnya dapet, gokilnya dapet, dramanya juga dapet..,
    endingnya myungzy couple ajah yahhh thor, (maksa, plakk).
    i always waiting for the next stories…,

  13. ahhh myungso, kasian bgt ya…
    g tega deh yungso g jd ma suzy, ah jd ikutan galau thor…
    tp keren…
    aku akan setia menunggu thor..

  14. uwahhhh…

    beneran nyesek banget ni eonni..
    kasian Myungsoo oppa… ,,

    tapi eonni,, gak tau knapa aku lebih dapet feelnya kalo Suzy ama Myungsoo ketimbang ama Minho.
    pokoknya penasaran deh ama endingnya nanti bakalan gimana.

    ditunggu next chap eonni🙂
    keep writing

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s