A Heartbreak – Chapter 1



  • Tittle    : A Heartbreak
  • Author    : EnnyHutami
  • Lenght    : Series/chaptered
  • Rating    : General
  • Genre    : Romance, School-life
  • Cast    :
  1. Jo Kwangmin
  2. Bae Sooji
  3. Oh Sehun
  4. And others

Copyright © original story by EnnyHutami 2012

Previous : Prolog

~œœœ~

Mobil berwarna hitam itu berhenti tepat di depan gerbang sebuah rumah yang terlihat hijau karena halamannya dipenuhi rumput dan ditanami beberapa pohon kecil yang menjadi tanaman hias.

    Beberapa detik setelah mobil tersebut berhenti, seseorang di balik kemudi pun mencabut kunci mobil hingga suara derungan mobil berhenti.

Seseorang itu, Jo Kwangmin, keluar dari mobil dengan ekpresi datar yang menghiasi wajahnya. “Aku pulang.” Katanya begitu ia membuka pintu rumahnya. Dan ia langsung menyengir lucu menunjukkan deretan giginya yang putih dan rapi ketika ia melihat ayahnya duduk menunggunya di ruang tamu.

“Kau pulang.” Ulang ayahnya dengan nada menyindir.

Kwangmin mendesah kecil mendengarnya. “Ayolah, yah. Aku hanya ingin membantu ahjumma itu.” Sahut Kwangmin dengan nada malas. Ya, ia malas untuk mempermasalahkan dirinya yang—lagi-lagi—membawa mobil sampai ke keramaian kota di Seoul.

“Bukan itu masalahnya,” sergah ayah Kwangmin dengan wajah seriusnya, membuat Kwangmin menelan ludahnya bulat-bulat karena tenggorokannya terasa kering. “Kau tahu sudah seberapa laparnya ayahmu ini?”

Kwangmin mendelik kesal lalu melanjutkan langkahnya menuju dapur karena cacing di perutnya mulai memberontak sejak ia di rumah sakit menemani gadis yang ia belum ketahui namanya.

Dibalik wajah tegasnya, ayah Kwangmin suka sekali bercanda. Dan kenyataan itu membuat Kwangmin sendiri merasa dipermainkan oleh ayahnya karena di saat ia sudah ketakutan setengah mati melihat ayahnya duduk di ruang tamu menunggunya, ayahnya justru tengah bercanda. Sedangkan saat ia mengira ayahnya hanya bercanda, ternyata ayahnya memang benar-benar serius. Oh Tuhan.

“Hei, hei, jangan marah,” ucap ayah Kwangmin kemudian sembari mengikuti Kwangmin yang melangkah menuju dapur. “Ayah kan hanya ingin menyambut anak ayah yang sudah hampir menjadi ‘laki-laki’ sebenarnya.” Lanjutnya dan ditanggapi gerutuan kecil dari Kwangmin yang hendak mengambil sumpit untuk memakan ramyun yang sudah tersedia di meja makan.

“Kau menggerutu seperti perempuan.” Ejek ibunya yang memang tengah berada di dapur sembari menjitak kepala Kwangmin dengan sumpit yang basah karena baru saja di cuci, membuat Kwangmin mendongak menatap ibunya dengan pandangan bertanya apa-salahnya-menggerutu-seperti-perempuan.

Saat Kwangmin sudah menggenggam sumpitnya dan hendak menyumpit mie langsung dari panci, lagi-lagi ibunya menjitak kepalan dengan sumpit. “Apa lagi?” tanya Kwangmin kesal pada akhirnya. Namun ibu dan ayahnya tidak memedulikan kekesalannya saat ini.

“Minta maaf pada Jieun.” Ucap ayahnya dengan wajah menipu—entah kali ini benar atau tidak—nya lagi.

“Kenapa harus aku?” tanya Kwangmin dengan nada suara yang mendadak datar dan sedikit dingin sembari menyuap mie-nya. Kenapa ia harus meminta maaf pada Jieun? Memangnya apa yang sudah ia lakukan sampai gadis itu marah?

“Belum ada lima menit ayah membanggakan dirimu, sekarang kau sudah bertingkah kekanakan lagi.” Ucap ayahnya lagi sembari melangkah menuju kursi yang berada di hadapan Kwangmin, kemudian menarik panci yang berada di depan Kwangmin.

Kwangmin mengerang dan menyerah. Ia pun menaruh sumpitnya dan bangkit dari duduknya sehingga menimbulkan decitan kecil ketika ia memundurkan kursi yang ia duduki. Tanpa mengucapkan sepatah katapun, Kwangmin keluar dari rumah dan melangkah menuju rumah Jieun yang hanya memelukan waktu sekitar lima menit jika berjalan kaki.

Baru saja Kwangmin hendak menekan bel pada interkom rumah Jieun, ia mendapati bahwa pintu kayu yang menghubungkan antara pekarangan dengan lingkungan sekitar sedikit terbuka.

“Ceroboh,” decaknya dan langsung masuk ke dalam tanpa menekan bel, kemudian menutup pintu rapat-rapat.

Ketika ia berdiri di depan pintu utama yang menghubungkan antara pekarangan dengan rumah bagian dalam, dirinya tak perlu mengetuk pintu terlebih dahulu karena pintu itu tak dikunci dan hanya dibiarkan tertutup begitu saja. Jadi, ia pun langsung masuk dan menghampiri mengedarkan pandangannya untuk mencari Jieun.

Untung saja rumah ini tidak berlantai dua, jadi ia bisa langsung menemukan kamar Jieun tanpa perlu menghabiskan banyak waktu.

Dan saat ia sudah membuka pintu kamar Jieun, dia mendapati Jieun tengah tertidur dengan musik lullaby memenuhi seluruh kamarnya.

Jadi, Kwangmin mengambil mp3 player milik Jieun yang diletakkan di nakas sebelah kanan ranjang, kemudian duduk di tepi ranjang dengan perlahan agar tak membangunkan gadis itu dan mencari lagu tanpa mengganti lagu tersebut.

Begitu ia menemukan lagu yang dicarinya, ia segera membesarkan volumenya lalu melempar mp3 player tersebut ke atas ranjang—tepat di samping kepala Jieun.

Sembari menunggu Jieun bangun, Kwangmin mengambil ponselnya dari saku celana dan menghidupkan ponselnya yang sedari pagi ia matikan karena batrainya hampir habis. Dan ternyata ada dua pesan singkat dari Kim Namjoo.

-Begitu sibuknya sampai tak membalas pesanku?-

Memang aku sibuk, batin Kwangmin begitu membaca pesan yang berada di deretan paling atas. Dan ketika ia hendak membuka pesan satunya lagi, ia mendapati bantal melayang ke kepalanya.

Kwangmin tidak mengomeli—siapa lagi yang akan melemparkan bantal ke kepalanya saat ini?—Jieun yang baru saja melemparkan bantal. Ia hanya memutar badannya dan menatap Jieun dengan wajah polosnya seakan ia tidak sedang melakukan apa-apa ketika musik bernada cepat dan energik tidak lagi terdengar.

“Keluar! Laki-laki dilarang masuk ke kamar gadis!” seru Jieun di bawah selimutnya sembari menendang Kwangmin yang tengah terduduk di tepi ranjang.

Kwangmin segera berdiri sebelum pantatnya mendarat di lantai karena Jieun yang terus menendangnya dan kembali mengantongi ponselnya. Ketika ia mendapati Jieun yang menyembunyikan dirinya di bawah selimut, ia pun mendecakkan lidahnya kemudian menarik ujung selimut.

Ya!” protes Jieun sembari melempar bantal pada Kwangmin lagi. “Bagaimana bisa kau masuk kemari?” tanyanya ketika ia langsung bangkit dan duduk bersila di atas ranjangnya dengan rambut berantakan dan wajah baru tidurnya.

“Pintu depan terbuka sedikit.” Sahut Kwangmin.

Aish,” gerutu Jieun sembari menyibakkan selimut yang sebagian masih menutupi kakinya dan bangkit berdiri untuk masuk ke kamar mandi dan membasuh wajahnya.

“Oh ya, noona,” panggilan Kwangmin membuat Jieun yang hampir keluar dari kamar menghentikan langkahnya dan berbalik.

Wae?” tanya Jieun dengan nada suara sedikit galak.

Wajah sok galak Jieun menghilang dengan perlahan dan kini kembali normal ketika ia melihat wajah serius Kwangmin yang tengah menatapnya.

“Kau tahu siapa gadis tadi?” pertanyaan Kwangmin membuat Jieun menyipitkan matanya curiga karena Jieun tahu Kwangmin bukan orang yang mudah penasaran pada seseorang, terlebih penasaran dengan seorang gadis. Ia tidak pernah menanyakan seorang gadis sebelumnya.

~œ~œ~œ~

Sayup-sayup Sooji mendengar suara seseorang dari balik pintu ruang rawat ibunya ketika ia tengah tertidur di pinggiran ranjang tempat ibunya tertidur. Sudah empat jam setelah seseorang membantu membawa ibunya ke rumah sakit, namun ibunya belum juga tersadarkan diri dan kini ibunya menggunakan alat bantu untuk bernafas serta jarum infus yang terpasang di tangan kirinya.

Ketika ia mengangkat kepalanya dan melempar pandangan ke pintu yang ada sedikit celah untuk melihat ke luar, ia mendapati wajah managernya kemudian wajah Oh Sehun. Jadi, ia segera bangkit dan menghampiri mereka berdua di luar.

Eonni,” panggil Sooji ketika ia sudah berada di luar ruang rawat ibunya dan kembali menutup pintu. Ia ingin menanyakan apa yang dikatakan dokter pada managernya tentang ibunya. Kenapa sampai sekarang ibunya belum juga sadarkan diri.

Jang Youngmi dan Oh Sehun yang tengah berbicara—kelihatannya serius—sambil berdiri menoleh. Kini Sooji bisa melihat kalau Sehun membawa sebuket bunga di tangannya.

Dari jarak yang tidak terlalu dekat dan juga tidak terlalu jauh, Sooji bisa melihat kalau Youngmi mengendikkan dagunya pada Sehun seakan memberi isyarat. Dan setelah itu, Sehun mulai mengangkat kakinya dan melangkah menghampiri Sooji.

“Hei,” sapa Sehun pada Sooji ketika mereka hanya berjarak kurang lebih satu meter.

Sooji tidak membalas sapaan Sehun, hanya menatap sebentar kemudian kembali menoleh pada Youngmin yang mulai melangkah menjauh.

“Bagaimana keadaan ibumu?” tanya Sehun untuk mendapat perhatian Sooji yang terus menatap punggung Youngmi yang mulai menjauh.

Ketika ditanya, barulah Sooji menoleh dan memberikan perhatiannya pada Sehun seperti yang laki-laki itu inginkan. “Masih belum sadarkan diri.” Jawabnya sembari menghela nafas berat seakan semua bebannya kini berada di pundaknya. “Ayo masuk,” ajaknya kemudian setelah ia membalikkan badannya dan membuka pintu ruang rawat ibunya.

“Sehun-ah, maaf. Makan malamnya batal.” Ucap Sooji ketika mereka berdua sudah berada di dalam ruang rawat tersebut dan dirinya baru saja menghepaskan tubuhnya pada sofa yang berada di sudut ruangan tersebut.

Sehun yang tengah menaruh sebuket bunga di atas nakas di sebelah kanan ranjang menoleh dan tersenyum kecil pada Sooji ketika ia menoleh. “Ibumu lebih penting dari makan malam,” sahutnya kemudian melangkah menuju sofa yang menjadi tempat Sooji duduk dan duduk tepat di samping Sooji. “Ngomong-ngomong, kau sudah makan?”

Sooji hanya menggeleng pelan sebagai jawaban.

“Kalau begitu tunggu di sini, aku belikan makanan.” Kata Sehun sembari mengacak pelan puncak kepala Sooji dan bangkit berdiri padahal ia baru saja duduk. Sebelum Sehun benar-benar melewati garis batas pintu, laki-laki itu menghentikan langkahnya dan berbalik ketika Sooji memanggil namanya.

Gomawo,” ucap Sooji dengan suara pelan. Walaupun pelan, tentu saja Sehun masih bisa mendengarnya karena jarak mereka tidak begitu jauh hingga mengharuskan mereka berteriak agar suara mereka didengar.

“Tidak masalah.” Sahut Sehun singkat. Lalu ia kembali melangkahkan kakinya dan kembali menutup pintu.

~œ~œ~œ~

Sooji akan selalu kalah jika berdebat dengan Youngmi, managernya sendiri, walaupun hal yang diperdebatkan sama sekali tidak ada hubungannya dengan Youngmi. Seperti kemarin malam, setelah ia selesai memakan makanan yang dibelikan Sehun, tiba-tiba managernya datang dan menyuruhnya pulang ke rumah untuk beristirahat.

Dan hari ini jadwalnya kosong, jadi ia bisa berada di rumah sakit seharian tanpa harus pergi ke sana dan kemari untuk memenuhi jadwal pemotretan. Jadi di pagi-pagi sekali ia sudah bangun dan bersiap-siap untuk ke sekolahnya.

Setelah ia selesai dengan makanannya dan hendak berangkat ke sekolah, ia kembali teringat dengan kejadian kemarin, saat seseorang menolongnya dengan membawa ibunya ke rumah sakit. Tapi permasalahannya adalah, apakah laki-laki kemarin itu benar-benar tinggal tepat di sebelah rumahnya?

Jadi, untuk memastikan, Sooji menyambar tas punggungnya yang sudah disiapkan olehnya sebelum sarapan dan melangkahkan kakinya menuju rumah yang berada tepat di sebelah rumahnya.

Sebelum ia menyentuh bel pada interkom yang di pasang di pagar yang tidak terlalu tinggi, ia mendapati laki-laki yang kemarin menolongnya keluar dari rumah tersebut dengan mengenakan seragam yang sama seperti miliknya.

“Oh?” gumam Sooji dengan matanya yang membulat terkejut.

~œ~œ~œ~

Lagi-lagi Kwangmin menertawakan dirinya karena kebodohannya karena mengira wajah gadis bernama Sooji yang kemarin ditolongnya terasa familiar. Tentu saja ia merasa pernah melihat gadis tersebut karena wajah gadis itu pernah terpampang di halaman depan sebuah majalah milik Jieun yang pernah ia rebut saat sepupunya itu tengah asik membaca dan juga karena gadis itu seniornya di sekolah. Kenapa tidak pernah terfikirkan olehnya?

“Senior, ya?” gumamnya pada dirinya sendiri saat ia hendak keluar dari rumah untuk berangkat ke sekolah. Ia sama sekali tidak menyangka bahwa gadis itu lebih tua satu tahun darinya. Yah, setidaknya tidak lebih tua dua tahun darinya seperti Jieun.

Dia berharap nanti akan bertemu dengan gadis itu nantinya.

“Oh!” mendengar suara seseorang dari arah pagar rumahnya, Kwangmin segera menoleh dan mendapati gadis yang tengah ia pikirkan muncul di depannya dengan mengenakan seragam sekolah yang sama seperti miliknya. Hanya saja bawahan yang dipakainya celana panjang berwarna hitam, sedangkan yang dipakai gadis itu rok selutut yang juga berwarna hitam.

Gadis itu tampak cantik natural tanpa mengenakan make up. Yah, paling-paling gadis itu memakai lipgloss dan bedak agar wajahnya terlihat lebih cerah dan berwarna.

“Kau murid Seoul Performing Art High School juga?” tanya Sooji dengan wajah heran bercampur terkejut yang lucu, membuat Kwangmin ingin sekali mencubit pipi gadis itu.

“Mm,” sahut Kwangmin. “Kau juga?” pertanyaan bodoh, rutuknya kemudian saat ia balik bertanya dengan pertanyaan yang sudah jelas jawabannya.

“Ya,” walaupun Kwangmin menanyakan pertanyaan yang—menurutnya—bodoh, tapi tetap saja pertanyaan tersebut dijawab oleh Sooji dengan mata berbinarnya. Mata cokelat terang itu seakan hidup dan nyata.

Karena tak ada pembicaraan lagi, Kwangmin pun melirik ke kiri dan kanan untuk melihat apakah ada mobil atau mungkin van yang menunggu Sooji. Tapi karena ia tak menemukan satu pun mobil yang terparkir di sekitarnya, akhirnya ia membuka mulutnya lagi. “Mau berangkat bersama?” tawarnya. Jantungnya berdegup lebih cepat dari normalnya saat ia menunggu jawaban Sooji.

“Boleh,” sahut Sooji sembari tersenyum pada Kwangmin, membuat jantung laki-laki itu yang sebelumnya berpacu kencang, kini berhenti. Senyum manisnya membuat orang yang melihatnya tak tahan untuk ikut tersenyum.

Selama perjalanan, mereka berdua saling diam. Tak ada yang memulai untuk membuka pembicaraan. Sebenarnya, Kwangmin tidak menyukai keadaan seperti ini, keadaan di mana ia merasa canggung dan serba salah. Banyak pertanyaan yang ada di benaknya, memang bukan pertanyaan yang penting, tapi setidaknya bisa membuat atmosfer di antara mereka berdua saat ini lebih terasa nyaman.

“Oh, ya,”

Kwangmin langsung menoleh begitu mendengar suara Sooji yang berjalan di sampingnya. “Mm?” tanyanya dengan masih menatap Sooji seraya berjalan.

“Aku mau berterima kasih tentang yang kemarin,” kata Sooji setelah ia berhenti sebentar untuk membungkuk dalam-dalam. Lalu, setelah kembali menegapkan badannya, ia mengaruk belakang lehernya yang tertutup rambut panjangnya. “Maaf karena kemarin aku mengabaikanmu di rumah sakit dan tidak langsung berterima kasih.” Lanjutnya merasa bersalah.

Kwangmin mengangkat kedua bahunya acuh tak acuh kemudian melanjutkan langkahnya yang sempat berhenti. “Tidak apa-apa. Aku tahu kemarin kau panik.” Balasnya setelah Sooji mengikutinya untuk melanjutkan langkahnya kembali. “Bagaimana keadaan ibumu?” tanyanya kemudian, ia tidak mau pembicaraan mereka berhenti hanya sampai di situ.

“Tadi malam managerku memberitahu bahwa ibuku sudah sadarkan diri,” jawab Sooji dengan wajah berbinar, membuat Kwangmin yang melihat tidak bisa mengalihkan pandangannya dari wajah Sooji yang sedang tersenyum seperti itu. Ia tidak ingin melewati senyum itu barang sedikitpun. “Aku tidak sabar untuk menjenguk ibuku.” Lanjutnya seraya menoleh pada Kwangmin dengan senyum lebarnya.

Kwangmin menelan ludahnya dengan susah payah. Kenapa ia tidak bisa mengalihkan pandangannya dari Sooji?

Senyum Sooji hilang ketika melihat wajah aneh Kwangmin yang menatapnya dengan mata besarnya. “Wae?” tanyanya bingung.

Sadar dari lamunannya, Kwangmin menggelengkan kepalanya pelan kemudian mengerjap setelah ia berhasil mengalihkan pandangannya dari wajah Sooji ke jalanan di depannya. Debaran jantungnya kini berpacu cepat.

Setelah meyakini bahwa debaran jantungnya kembali normal, Kwangmin pun membuka pembicaraan lagi. Mulai dari menanyakan nama Sooji walaupun dia sudah mengetahui dari Jieun, jurusan yang diambilnya di sekolah, dan yang lainnya hingga mereka sampai di sekolah.

~œ~ œ~ œ~

Kebiasaan yang Kwangmin lakukan di sekolah setelah pulang sekolah adalah bermain bola dengan teman-temannya. Walaupun ia masuk di sekolah seni, tapi tetap saja bermain bola seakan kewajiban penting bagi semua anak laki-laki seperti dirinya walaupun ia tidak berlari cukup cepat.

Karena kemampuan berlarinya yang termasuk lambat jika dibandingkan dengan anak-anak lelaki seusianya, Kwangmin pun lebih memilih untuk berdiri tepat di depan gawang yang kira-kira tingginya mencapai dua meter. Toh karena tubuhnya yang lumayan tinggi, ia memiliki keuntungan tersendiri untu menjadi kiper.

Saat bola tengah berada di seberang lapangan—berada di dekat gawang lawan—Kwangmin menoleh ke kanan karena bosan. Dan, seketika, matanya mendapati Sooji tengah melangkah sendirian melewati koridor sekolah yang tidak tertutup tembok sehingga Kwangmin dapat melihatnya walaupun koridor itu cukup jauh dan kedudukannya lebih tinggi dari lapangan.

“Hei!” ujar Kwangmin seraya melambai ke arah anak laki-laki yang duduk di pinggiran bersama beberapa orang lainnya. “Gantikan aku!” setelah melihat anak laki-laki yang tadi dipanggilnya berdiri dan berlari ke arahnya, ia pun segera keluar dari lapangan, mengambil tasnya yang diletakkan di kursi penonton, kemudian berlari menghampiri Sooji.

Setelah melewati beberapa anak tangga dengan berlari kecil, akhirnya ia berada di koridor yang sama dengan yang dilewati Sooji tadi, kemudian ia kembali berlari kecil.

“Sooji sunbae!” serunya setelah merasa bahwa dirinya sudah cukup dekat dengan Sooji. Saat berkenalan tadi, Kwangmin lebih memilih untuk memanggil Sooji dengan embel-embel ‘sunbae‘ dibandingkan ‘noona‘ karena mereka baru saja berkenalan. Sebenarnya ia lebih suka memanggil namanya tanpa embel-embel. Ia merasa bahwa Sooji tidak lebih tua darinya.

Tepat saat Sooji menghentikan langkah dan membalikkan badannya, Kwangmin sudah berada di belakang gadis tersebut.

Wae?” tanya Sooji dengan wajah bingungnya yang mendongak menatap Kwangmin.

Ani,” sahut Kwangmin seraya tersenyum kecil pada Sooji dan menggerakkan kakinya hingga ia sudah berada di sebelah gadis itu. “Hanya ingin menawarkan pulang bersama.” Kilahnya.

“Oh,” gumam Sooji sembari meneruskan langkahnya. Bedanya dengan beberapa menit yang lalu, tadi ia melangkah sendirian dan kini ia melangkah dengan Kwangmin si tetangga barunya yang sekaligus adik kelasnya. “Tapi, hari ini aku ingin ke rumah sakit. Menjenguk ibuku.”

Diam-diam Kwangmin mendesah kecewa, tapi ia tidak menunjukan ekpresi kecewa. Ia meyakinkan dirinya bahwa ini adalah hari pertamanya berbicara dengan gadis itu dan ada hari lainnya untuk pulang bersama, serta hari untuk mereka lebih dekat.

“Kalau begitu jalan bersama sampai depan.” Ujarnya tanpa menghilangkan senyum dari wajahnya. Ia tidak ingin terlihat agresif di depan Sooji. Ia terlihat biasa saja, seperti teman biasa walaupun sebenarnya ia menginginkan lebih. “Kapan-kapan boleh aku menjenguk ibumu?” tanyanya, mencoba membuka pembicaraan.

“Tentu saja!” seru Sooji bersemangat. “Ibuku pasti sangat senang tetangga baru kami datang menjenguk.”

“Benarkah?” sahut Kwangmin memancing agar Sooji berbicara lebih banyak. Ia sangat suka mendengar suara gadis itu.

Dan benar saja, Sooji pun membalas sahutan Kwangmin tidak hanya dengan menganggukkan kepala dan sekedar menggumamkan kata “mm”, tapi lebih dari itu. “Sejak dulu ibuku ingin sekali tinggal di luar kota, tempat yang sejuk dan mempunyai tetangga,”

“Tapi, sebelumnya kau memang memiliki tetangga, bukan?” sela Kwangmin. Walaupun ia tak ingin menyela cerita Sooji, tapi ia tidak cukup tahan untuk membungkam mulutnya sebentar saja.

“Ya, benar. Tapi, orang-orang yang tinggal di Seoul jarang ada yang peduli dengan orang yang tinggal di sekitar rumahnya. Aku bahkan ragu jika bukan karena kemarin kau tidak menolongku dan ibuku, kita tak akan saling berbicara seperti ini,” ucap Sooji muram. Melihat faktanya, mau tak mau Kwangmin pun mengiyakan ucapan gadis itu dalam hati.

Kemudian Sooji berhenti dan memutar tubuhnya hingga ia menghadap pada Kwangmin seraya menepuk kedua tangannya untuk menarik perhatian Kwangmin. “Bagaimana kalau kau ikut denganku ke rumah sakit?” tawarnya dengan senyum sumringah yang tertera jelas di wajahnya.

“Bolehkah?” tanya Kwangmin ragu-ragu. Ia takut jika di sana ada orang-orang yang belum di kenalnya. Misalkan saja, Ayah Sooji, saudaranya, atau siapapun. Mungkin kalau hanya ada Sooji sendiri dengan ibunya, ia tidak perlu menghawatirkan masalah tersebut.

“Memangnya ada larangan untuk menjenguk ibuku?” tanya Sooji sembari terkekeh, membuat Kwangmin menggaruk belakang lehernya karena malu dengan pertanyaan bodohnya itu. “Tentu saja kau boleh. Mau, ya? Sekalian kukenalkan dengan manager eonni—kalau dia ada di sana.”

Kwangmin pun akhirnya menganggukkan kepalanya antusias. Mungkin saja ia bisa lebih dekat dengan Sooji setelah ini.

Seraya melanjutkan langkah mereka, Sooji menghela nafasnya lega sembari menggoyangkan kedua tangannya dengan senyum lebarnya, membuat Kwangmin menoleh dan menatap gadis itu terheran-heran. “Wae?” tanyanya.

Sooji menggeleng, masih dengan senyum lebarnya namun sama sekali tidak mengalihkan pandangannya yang melihat lurus kedepat—entah tengah melihat apa. “Sebelumnya aku tidak pernah merasa senyaman ini dengan orang yang baru kukenal,” ucapnya. Lalu ia menolehkan kepalanya hingga melihat Kwangmin yang masih menatapnya dengan heran. “Itulah sebabnya aku tidak mempunyai teman dekat. Aku susah sekali untuk beradaptasi walaupun sudah hampir dua tahun aku bersekolah di sini.”

Kwangmin kembali tersenyum kecil, kemudian mengalihkan pandangannya dari wajah Sooji ke jalanan di depannya. Ia tahu ia berarti sesuatu.

“Ibuku pasti senang aku mendapat teman bicara, walaupun kau adik kelasku.” Lanjut Sooji sembari menggosok kedua telapak tangannya yang terasa mulai membeku, kemudian memasukkan kedua telapak yang telanjang tanpa sarung tangan itu ke blazer musim dingin sekolahnya.

Kwangmin ingin sekali menyentuh tangan Sooji dan menghangatinya, tapi ia mengurungkan niatnya karena bisa di bilang ini masih terlalu awal untuknya. Jadi, ia pun memilih untuk membiarkannya saja karena ia tak membawa atau memakai sarung tangan.

“Kau sangat menyayangi ibumu, ya?” akhirnya Kwangmin menanyakan pertanyaan yang sedari tadi disimpan di benaknya. Ia hanya penasaran kenapa sedari tadi gadis itu terus membicarakan ibunya, seakan-akan ia ingin selalu menginginkan ibunya bahagia—well, itu memang keinginan semua anak, tapi untuk yang satu ini terlihat lebih… dalam? Entahlah apa itu namanya.

Sooji mengangguk sembari memandang lurus ke depan dengan pandangan menerawang, namun senyum lebar yang sedari tadi ditunjukkan wajahnya mulai berubah menjadi senyum yang dibuat-buat untuk mengelabui orang lain bahwa dia tidak apa-apa. “Aku tidak memiliki siapa-siapa lagi kecuali ibuku, jadi, aku sangat menyayanginya.”

Baiklah. Atmosfer yang dirasakan Kwangmin mulai berubah menjadi tidak nyaman. Dan ia tidak berani menanyakan ‘bagaimana dengan ayahmu?’ karena pertanyaan itu pasti akan membuat Sooji semakin sedih.

“Ada apa dengan ekpresimu?” tanya Sooji seraya terkekeh ketika ia menoleh dan mendapati ekpresi di wajah Kwangmin yang terlihat khawatir, membuat laki-laki itu mengalihkan pandangannya seraya tersenyum kikuk seperti orang bodoh.

“Sehun?” Belum sempat Kwangmin membuka mulutnya untuk berbicara, Sooji lebih dulu menyerukan nama seseorang dengan suara yang terdengar terkejut. Kemudian gadis itu berlari kecil untuk menghampiri lelaki dengan rambut di cat kuning keemasan yang berdiri di depan mobil hitam yang kelihatannya mobil buatan lokal.

Kwangmin tidak tahu apa yang dibicarakan oleh mereka berdua setelah Sooji berlari menghampiri laki-laki itu, tapi Kwangmin hanya mengangkat bahunya cuek, lalu menghampiri mereka berdua.

Ketika Kwangmin sudah berada di dekat mereka, ia bisa melihat ekpresi terkejut laki-laki itu saat melihat dirinya. Ia tidak tahu apa ada yang salah dengan laki-laki itu atau apa, tapi laki-laki itu terlihat aneh.

“Oh, Sehun-ah, ini Kwangmin, adik kelas dan juga tetanggaku,” Sooji memperkelankan dirinya. Laki-laki itu pun hanya membungkuk kecil dengan wajah datarnya yang terkesan dingin dan menyebalkan. “Kwangmin-ah, ini Sehun,” Kwangmin bisa menangkap bahwa Sooji sempat memutar otaknya sebentar sebelum melanjutkan. “Temanku.”

Kwangmin melakukan hal yang sama dengan yang dilakukan laki-laki bernama Sehun tadi, membungkuk kecil. Tapi, ia tidak membungkuk dengan wajah datar seperti itu melainkan tersenyum kecil yang terkesan kaku. “Salam kenal.” Ucap Kwangmin mencoba meramahkan diri.

Sehun hanya mengangguk kecil dengan wajah datarnya itu tanpa berkata apa-apa, membuat diam-diam Kwangmin menggertakkan giginya dan membatinkan sumpah serapah.

“Sehun-ah, Kwangmin menumpang sampai ke rumah sakit tidak apa, bukan? Aku ingin dia bertemu eomma.” Ucap Sooji, membuat Kwangmin bertanya-tanya apakah Sooji akan berbicara dengan nada seperti ini kepada siapa saja? Suaranya benar-benar membuat jantung Kwangmin berdegub tak normal.

“Tentu saja kau boleh.” Sahut Sehun dengan suara beratnya—walaupun suaranya tidak seberat suara Kwangmin yang lebih muda darinya.

Entah hanya perasaan Kwangmin atau bukan, tetapi laki-laki ini terasa aneh. Pandangan laki-laki itu saat melihat Kwangmin terlihat bahwa ia tidak mempercayai keberadaannya. Dan, ia juga merasa aneh saat Sooji memperkenalkan laki-laki itu. Kenapa Sooji sempat berhenti sebentar sebelum akhirnya ia mengatakan ‘teman’? jadi, ia berasumsi bahwa laki-laki bernama Sehun ini pernah memiliki hubungan lebih dari sekedar teman dengan Sooji. Tapi, lihat saja apakah asumsinya benar atau tidak.

~To Be Continue~

~Wait Another Story~

57 thoughts on “A Heartbreak – Chapter 1

  1. ” DAEBAK”

    jlan crita yg bgus dan ………… sya nggak tau hrus blang pa lgi…, pokoknya ni krennn abizzz.., aku tunggu part slanjutnya..,

    kpan first love pain nya du publish chingu, pnasarannnn…!!!!!

  2. waaah daebak saeng ..
    suka bgt ama critanya , dan aq rasa alurnya pas gak terlalu lama dan cepat …
    kalo yg FLP kan alurnya sdikit lbih lambat dr ini tp ttp sama” kereeen …

  3. Oh my god,di FLP suzynie direbutin minho ama myungsoo,trus skarang disini kwangmin ama sehun???oh no!!sma kya’ minho-myungsoo,kwangmin ama sehun thu bias ku…..ah…..galau lg deh nh kya’x….trus jgn2 cwo’ jieun thu sehunoppa lg ??au’ ah, gelap….bingung!? Next chap jgn lma2 yh…..

  4. Sukaakkk klo suzy diperebutin cowok” cakep, klo baca ffmu slalu membayangkan suzy itu aq thor hahahaa😀 *ditabokin org sekampung :p

  5. Wihh Sehun aura ice nya kerasa banget ya #maksud

    Ini aku yang ga komen atau ga kekirim ya?? Yaudah deh sekalian diulang bacanya, sekalian komen lagi, hehe

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s