First Love Pain – Chapter 11



  • Tittle    : First love pain
  • Author    : EnnyHutami
  • Lenght    : Chaptered
  • Rating    : General
  • Genre    : Romance, Sad
  • Cast    :
  1. Bae Sooji
  2. Choi Minho
  3. Jung Soojung a.k.a Krystal Jung
  4. Kim Myungsoo
  5. And others (Find them self)


Copyright © Ennyhutami Fanfiction 2012

~œœœ~

[Chapter 11]

-Membuat harapan baru-

 

Sudut pandang penulis

Keadaan kamar rawat itu terasa sepi dengan seorang gadis yang tengah tertidur di atas bangsal dengan pakaian rumah sakitnya. Sebenarnya gadis itu tidak benar-benar tidur—tidak bisa tidur lebih tepatnya. Berkali-kali ia mencoba untuk terlelap, tetap berkali-kali juga matanya ingin terbuka lebar.

Ia mengingat kejadian semalam. Kejadian saat dirinya dibawa ke rumah sakit ketika ia kehilangan kesadarannya saat masih berada di lokasi syuting. Samar-samar ia ingat bahwa rookie artis yang menjadi patner aktingnya, Oh Sehun, yang menahan tubuhnya ketika mereka berdua tengah beradu akting. Dan ia juga tahu kalau laki-laki itu ikut ke rumah sakit karena saat ia membuka matanya, ia mendapati lelaki itu tengah duduk di sofa panjang di ruang rawatnya tersebut.

Namun ia kecewa karena saat Minho datang, lelaki itu sama sekali tak terlihat cemburu dengan keberadaan Sehun malam itu.

Menyerah, ia pun membuka matanya dengan perlahan sembari menghela nafasnya.

Kemudian ia menolehkan kepalanya ketika mendengar suara pintu yang dibuka. Senyumnya mengembang ketika melihat seseorang yang membuka pintu itu. Choi Minho. Laki-laki itu datang untuk menjenguknya.

Oppa datang,” gumamnya dengan suara lelah dan senyuman kecil ketika Minho tengah menutup kembali pintu ruangan tersebut.

Minho melirik sekilas pada Soojung yang masih berbaring di bangsalnya sembari melirik ke arah jendela. Minho bertanya-tanya apa yang tengah dipikirkan gadis itu saat ini karena sangat tidak biasanya gadis itu menunjukan wajah murungnya saat dirinya ada bersama gadis itu.

“Bagaimana perasaanmu? Lebih baik?” Tanya Minho lagi.

Mendengar pertanyaan tersebut, Soojung menoleh dan mengangguk kecil. Ia tahu maksud pertanyaan Minho adalah menanyakan keadaan fisiknya, bukan keadaan perasaannya yang sebenarnya. “Jauh lebih baik dari semalam.” Jawabnya singkat. “Oppa mengantar Bohee kemari, ya?” tanya Soojung kemudian karena penasaran. Mungkin saja Minho sengaja datang kemari karena merasa bersalah tentang kejadian beberapa hari yang lalu.

“Ya,” sahut Minho, membuat Soojung diam-diam mendesah kecewa. Yah, harusnya ia tidak merasa kecewa karena mustahil tiba-tiba Minho datang menemuinya kalau tidak disuruh atau tidak memiliki alasan. “Dari tadi kau sendirian?”

“Tidak. Dua jam yang lalu Sooyeon eonni kembali ke rumah.” Ralat Soojung. Entah kenapa nada suaranya terdengar datar dan dingin. Tidak seperti biasanya.

Dan Minho pun tahu kalau Soojung bersikap tidak biasa. “Kau mau apel?”

Soojung segera menoleh kembali pada Minho yang menawarkan apel untuknya dan mendapati lelaki itu menaikkan sebelah alisnya karena ditatap dengan tatapan heran olehnya. Jadi, ia berdeham pelan sebelum ia membuka suaranya untuk mengiyakan.

Saat Minho berdiri dan hendak menghampiri nakas di sebelah bangsal tempat Soojung berbaring untuk mengambil apel, ponselnya tiba-tiba berdering. Dan membuatnya harus melangkah menghampiri jendela sembari merogoh saku jaketnya.

Yoboseyeo,” ucap Minho setelah ia mengangkat telefon. “Kurasa masih lama. Kalian pulang saja duluan.”

Mendengar kalimat itu keluar dari mulut Minho, mata Soojung pun berbinar. Ia yakin sekali dengan dugaan si penelfon itu adalah ayah Minho, salah satu dokter di rumah sakit ini. Dan, barusan ia dengar bahwa Minho akan lama berada di sini. Salah satu ujung bibirnya pun tertarik membentuk senyum miring karena ia tahu Minho akan menemaninya di sini.

Setelah menutup telefonnya, Minho pun membalikkan badannya dan kembali menghampiri nakas yang di atasnya terletak bingkisan berisi buah-buahan masih dengan menggenggam ponselnya.

Sedangkan Soojung bangkit dari tidurnya hingga kini ia duduk di atas bangsal.

“Tak ada pisau?” tanya Minho setelah ia mengambil sebuah apel berwarna merah dan menaruh ponselnya di atas nakas tersebut.

Soojung menoleh dan matanya ikut mengedar untuk mencari pisau. Tapi, seingatnya tak ada pisau yang ditaruh di ruangan ini.

“Biar kupinjam dari ruangan ayahku.” Kata Minho tiba-tiba. Tanpa menunggu tanggapan Soojung, ia langsung melangkah pergi setelah menaruh kembali apel tersebut ke tempatnya semula.

Soojung menunggu di tempatnya tanpa melakukan apapun. Sudah lebih dari lima menit, namun Minho tak kunjung kembali. Dan saat ia menoleh, ia mendapati ponsel milik laki-laki itu tergeletak di atas nakas dengan led yang berkedip berkali-kali. Karena bosan, akhirnya ia mengambil ponsel tersebut.

Satu pesan singkat dari Lee Jinki. Karena tak berani untuk membuka pesan tersebut—yah, paling-paling hanya memberitahu Minho tentang kegiatan klub basket—akhirnya Soojung melewati pesan tersebut tanpa membukanya dan kemudian membuka media untuk melihat foto-foto yang tersimpan di ponsel Choi Minho.

Ia sangat tahu bahwa Minho tidak narsis untuk berfoto, jadi saat ia melihat-lihat foto tersebut, ia hanya melihat foto Bohee dan beberapa foto dirinya dengan si pemilik ponsel yang membuatnya tersenyum.

“Ah, dia masih menyimpannya.” Gumamnya sembari tersenyum dan terus melihat-lihat galeri tersebut sampai ia melihat foto yang menampilkan foto seorang gadis yang memakai seragam sekolah yang sama dengan milik Minho.

Matanya terasa panas ketika ia menggeser layarnya lagi hingga menampilkan foto seorang gadis yang tengah tertawa lebar yang di ambil dari jarak yang cukup jauh. Diam-diam Minho mengambil foto Sooji.

Kemudian cepat-cepat ia keluar dari menu galeri dan mencari kontak Sooji pada ponsel Minho. Begitu ketemu, ia segera mengambil ponselnya dan memindahkan nomor ponsel Sooji pada ponselnya.

Untuk berjaga-jaga. Begitu batinnya saat ia kembali menaruh ponsel Minho ke atas nakas. Dadanya terasa sesak karena menyadari ia tak mendapatkan foto dirinya yang diambil diam-diam oleh Minho. Hanya Sooji, bukan dirinya.

Tapi lagi-lagi ia harus menahan rasa sesak di dadanya karena pintu terbuka. Ketika ia menoleh, keningnya berkerut karena tidak mendapati Minho lah yang membuka pintu melainkan Oh Sehun.

“Kau datang lagi?” tanya Soojung heran begitu melihat Sehun yang berdiri di ambang pintu dengan wajah datarnya.

¯

Minho membuka pintu ruangan yang di dalamnya adalah ruangan untuk para dokter di rumah sakit ini. Ia membungkuk dalam-dalam saat ia melihat seorang laki-laki dengan kacamata yang membingkai matanya dan masih mengenakan jas putihnya duduk di balik meja kerjanya.

“Oh, Choi Minho,” ucap laki-laki itu dengan kening yang berkerut. “Ayahmu sudah pulang dengan adikmu.” Lanjutnya memberitahu.

“Saya tahu,” jawab Minho sopan. “Saya hanya ingin meminjam pisau.”

Mendengar kata ‘pisau’, laki-laki itu memperbanyak kerutan dikeningnya, membuat Minho cepat-cepat menjelaskan tujuannya meminjam pisau. “Untuk mengupas apel.” Kilahnya cepat.

Alih-alih mengangguk mengerti, laki-laki itu justru tertawa melihat wajah Minho yang sedikit panik tadi. “Kau persis seperti ayahmu. Terlalu serius.” Ucapnya sembari mengambil sesuatu dari lacinya. “Ini milikku. Pakai saja.” Katanya sembari menyodorkan pisau dapur yang kelihatannya tidak terlalu tajam namun juga tidak terlalu tumpul.

“Terima kasih.” Ucap Minho sembari menunduk sopan sebelum ia keluar dan kembali menuju ruang rawat Soojung di lantai tiga.

Begitu sampai di ruang rawat Soojung, Minho mendapati seorang laki-laki yang sama dengan laki-laki semalam tengah duduk di tempatnya tadi sembari berbicara pada Soojung dengan buku tebal yang mereka pegang masing-masing.

Oppa, aku belum mengenalkan Sehun padamu, ya?” tanya Soojung dengan wajah yang terlihat kembali ceria. Sepertinya karena laki-laki itu.

Laki-laki bernama Sehun itu segera bangkit dari duduknya dan menatap Minho, kemudian membungkuk kecil dengan sopan. “Oh Sehun imnida.” Ucapnya mengenalkan diri.

Minho hanya membalas perkenalan Sehun dengan membungkuk kecil juga namun tak berniat untuk memperkenalkan dirinya sendiri pada Sehun, membuat laki-laki itu agak tersinggung dengan sikap diam Minho.

“Aku mengganggu kalian?” tanya Minho sembari menaruh pisau yang tadi dipinjamnya dari teman ayahnya di atas nakas sebelah kiri.

“Tidak,” sergah Sehun cepat karena salah mengartikan nada suara Minho yang terdengar sedikit ketus. “Kami hanya berlatih untuk beberapa adegan yang menurutku sulit.”

“Begitu?” balas Minho sembari mengangguk mengerti. “Kalau begitu, lebih baik aku pulang saja.” Katanya sembari melangkah memutar untuk mengambil ponselnya yang ternyata ia letakkan di nakas sebelah kanan bangsal.

Oppa, tunggu,” Soojung yang tahu dan mengerti bahwa Minho bermaksud untuk memberi ruang untuknya dan Sehun untuk latihan, segera menahan pergelangan tangan Minho dengan cepat sebelum laki-laki itu pergi. “Aku ingin bicara denganmu.” Lanjutnya, kemudian ia menoleh pada Sehun. “Sehun-ssi, maaf.” Katanya pada Sehun, kode untuk laki-laki itu untuk membiarkan dirinya hanya berdua dengan Minho.

Tanpa aba-aba, Sehun pun berdiri dan meninggalkan ruangan tersebut untuk memberi ruang privasi bagi Soojung dan Minho setelah mengucapkan salam dengan sopan.

Setelah langkah kaki di luar ruangan mereka benar-benar sudah tak terdengar, Soojung pun melepas genggaman tangannya pada pergelangan tangan Minho yang sedari tadi menatapnya bingung.

Oppa… apa kau benar-benar menyukai Sooji?” tanya Soojung dengan tenggorokan tercekat, membuat Minho langsung mengerjapkan matanya.

“Bagaimana kau tahu?” tanya Minho skeptis.

“Ah, ternyata benar,” gumam Soojung pelan seraya tersenyum kecut.

Minho yang mendengar gumaman pelan Soojung hanya diam dan tak berani kembali membuka suaranya. Ia terlalu pengecut untuk memberitahu orang lain bahwa ia memang menyukai Sooji.

Sebelum kembali berbicara, Soojung menghirup nafas dalam-dalam untuk meredakan rasa sesak di dadanya, agar air matanya tak mengalir keluar dari matanya. Lalu, “Mungkin, ini akhirnya, oppa.” Kata Soojung sembari mendongak menatap Minho sembari tersenyum manis walaupun masih kelihatan bahwa senyum itu dipaksakan. “Aku… tidak bisa memaksamu untuk terus berada di sampingku.”

¯

Langkah kaki Myungsoo yang pelan dengan gayanya yang sedikit ‘tengil’ itu melangkah menuju perpustakaan setelah ia menutup telefonnya dan mengetahui bahwa Sooji tengah berada di perpustakaan.

Ia berhenti sebentar dan membalikkan badannya ketika merasakan seseorang tengah menatap punggungnya. Walaupun koridor ini tidak begitu sepi dan ia juga tahu bahwa ada beberapa murid lainnya yang juga tengah memandanginya, tapi ia merasa tatapan yang menusuk punggungnya tadi berbeda.

Tak mau terlalu peduli, ia pun kembali melanjutkan langkahnya hingga tidak lebih dari tiga menit, ia sudah sampai ke perpustakaan.

Kemudian ia pun mengedarkan pandangannya ke semua sudut ruang perpustakaan tersebut untuk mencari keberadaan Sooji. Dan begitu ia melempar pandangannya ke arah bangku dan meja yang berjejer di dekat rak-rak buku sebelah kiri, ia mendapati Sooji tengah menarikan jari-jarinya yang memegang pensil di atas buku dengan tangan kanan sedangkan tangan kirinya memegangi sebuah buku tebal.

“Tumben kau kemari.” Kata Myungsoo ketika ia menarik bangku di hadapan Sooji yang kelihatannya sangat serius dengan buku-buku di depannya.

“Aku tidak sepertimu yang suka berjalan-jalan keliling sekolah.” Balas Sooji tanpa mengalihkan pandangannya dari buku tebal tersebut.

“Hei,” decak Myungsoo sebal karena balasan perkataan Sooji.

“Besok ada ujian biologi. Matilah aku kalau tidak kemari.” Ucap Sooji tiba-tiba seraya membalikkan halaman buku tebal tersebut.

Tanpa mengatakan apa-apa, Myungsoo langsung merebut buku tebal tersebut dari hadapan Sooji dan membuat gadis itu berteriak kesal. Namun, begitu menyadari ‘tempat’ mereka sekarang, Sooji langsung menoleh ke kanan dan kiri dengan wajah malu sedangkan Myungsoo tidak menghiraukan orang-orang yang melayangkan pandangan terganggu ke arahnya dan Sooji. Myungsoo hanya membuka lembaran buku itu dan mencari sesuatu di dalamnya, membuat Sooji yang tadi hendak memarahi Myungsoo, kini terdiam sembari menatapnya dengan heran.

“Tidak cukup hanya meringkas, coba kau kerjakan soal-soal ini.” Kata Myungsoo kemudian sebari mengembalikan buku tersebut. “Kerjakan semuanya dalam satu jam. Kalau ada yang salah, akan kuberi hukuman.”

“Lima puluh soal?” tanya Sooji keberatan. Mengerjakan lima puluh soal dalam waktu satu jam. Bahkan ujian sesungguhnya tidak sekejam ini! batinnya sembari menatap Myungsoo dengan mulut terbuka.

Myungsoo hanya mengangguk sembari tersenyum—senyum yang membuat Sooji ingin mencakar wajah mulus Myungsoo.

“Siapa yang akan memeriksanya?” tanya Sooji lagi dengan wajah meremehkan. “Kau?”

“Tentu saja.” Sahut Myungsoo dengan percaya diri. Kemudian ia mengambil ponselnya untuk menghitung waktu. “Cepat kerjakan—”

“Tunggu-tunggu!” potong Sooji sebelum Myungsoo menyentuh layar ponselnya lagi. “Boleh lihat buku kan?”

“Ya,” sahut Myungsoo kemudian menyentuh layar ponselnya untuk mengaktifkan timer.

¯

Minho melangkahkan kakinya meyusuri koridor panjang sekolahnya menuju lapangan basket indoor tempat klubnya berlatih beberapa kali seminggu setelah akhirnya ia bisa meneroboh hujan lebat yang mengguyur kota. Hari ini ia menyempatkan pulang ke rumah untuk mengambil sepatu dan pakaiannya untuk berlatih karena ia lupa untuk membawa pakaian dan sepatu basketnya.

Dan di sanalah ia, seorang gadis dengan rambut hitam yang dikuncir kuda hingga hanya menyisakan poni depan yang menutupi keningnya tengah berjalan sendirian dengan arah yang berlawanan arah dengan Minho.

Ketika mata gadis itu bertemu dengan mata Minho, gadis itu tersenyum kecil pada Minho dan langsung mempercepat langkahnya seakan-akan memperkuat dugaan bahwa gadis itu memang sedang menghindarinya.

Sejak kemarin Minho sudah menyadari sikap Sooji yang selalu menghindarinya saat mereka berpas-pasan.

Apa dia membuat salah lagi? atau jangan-jangan… malam itu Sooji benar-benar menunggunya?

Sudut pandang Bae Sooji

Aku benar-benar tak mengerti kenapa aku harus terus bertemu orang yang sedang tidak ingin kutemui. Ya, ini sudah keberapa kalinya untuk hari ini. Bahkan untuk saat ini, saat sekolah sudah benar-benar sepi dan hanya tinggal beberapa murid yang masih harus berada di lingkungan sekolah karena keperluan—kegiatan klub misalnya—lagi-lagi aku harus berpas-pasan dengan Minho di sini. Dan aku pun harus merutuk dalam hati kenapa tadi ayah Myungsoo menyuruhnya datang ke ruangannya dan pergi meninggalkannya sendirian sebelum soal-soal yang dikerjakannya belum selesai.

Karena ia mengetahui keberadaanku yang berjalan di depannya, aku tersenyum ketika mata kami bertemu agar ia tak mengira aku tengah menghindarinya.

Yah, mungkin ada yang mengira alasanku menghindarinya karena aku marah padanya. Jujur saja aku memang marah, tapi setelah dipiki-pikir lagi, untuk apa aku marah? Aku memang berhak untuk marah karena disuruh menunggunya di tengah cuaca yang cukup dingin walaupun tidak sedingin cuaca saat musim dingin, tapi tetap saja akan bodoh rasanya kalau aku marah. Toh aku mengaku padanya bahwa aku tidak menunggunya dan langsung pulang.

Dan, sebenarnya aku menghindarinya karena aku menyukainya. Alasan yang bodoh, bukan? Tapi itulah satu-satunya sikap yang bisa menyelamatkanku dari rasa sakit yang akan kuterima nantinya. Menghindarinya. Aku tidak ingin berharap lagi padanya. Aku… sudah cukup aku mengeluarkan air mataku karena rasa sesak karenanya.

“Tungggu,”

Aku segera membeku di tempat saat pergelangan tangaku di genggam oleh seseorang dari belakang. Aku tahu betul suara ini. Suara Choi Minho.

Setelah menyiapkan diriku, aku pun membalikkan badan sembari melepas genggaman tangannya dengan perlahan agar tak menyinggungnya. “Wae?” tanyaku pura-pura tenang dengan wajah pura-pura bingung. Aku harap aktingku bangus kali ini.

Yah, tapi kalau dilihat dari ekpresi wajah Minho yang menyipitkan matanya, bisa dibilang kalau aktingku benar-benar payah.

“Apa malam itu kau benar-benar menungguku?” tanyanya.

Aku menggaruk tengkukku karena bingung untuk menjawab apa. Sudah berkali-kali aku menjawab ‘tidak’ tapi kenapa berkali-kali juga ia menanyakan hal ini? dan sialnya, kenapa ia menekankan kata benar-benar.

“Serius. Aku tidak—”

“Sooji yang kukenal tidak pernah berbohong.” Berarti dia tidak mengenalku. Tambahku ketika ia memotong jawaban bohongku. Dan, aku serius soal dia memang tidak mengenalku. Aku memang jarang berbohong, dan menghindari untuk berbohong, tapi sesekali aku pernah berbohong. “Aku ingin jawaban yang jujur.” Lanjutnya.

“Ya, aku menunggumu,” Mau tidak mau aku harus mengalah. Aku bahkan tidak tahu Minho menjadi sangat menyebalkan kalau ia sudaah bertingkah keras kepala. “Tapi karena kau tak juga datang, jadi aku pulang. Dan soal syalmu, maaf aku meninggalkannya di sana karena kukira kau akan kembali.” Lagi-lagi aku berbohong.

“Kau masih menyukaiku?”

Seketika mataku membulat mendengar—entah—pernyataan atau pertanyaan. Bagaimana bisa ia menayakan hal yang sudah jelas begini? Dan, bagaimana aku harus menjawabnya? Tidak mungkin bukan kalau aku menjawab “tentu saja aku masih menyukaimu”. Aku masih punya harga diriku untuk mengakuinya pada orang yang jelas-jelas sudah memiliki kekasih.

Jadi, aku hanya diam sembari menatapnya dengan tatapan tak percaya. Aku tidak ingin menjawab pertanyaannya.

“Kau masih menyukaiku tapi kau berpacaran dengan Myungsoo?” mendengar pertanyaannya, kurasa ia mengartikan sikap diamku sebagai jawaban “iya”. Yah, dia memang tidak salah, tapi, bagaimana aku harus menjawab pertanyaan ini? Menjawab sejujurnya? Kau gila?

Ah, seharusnya memang sejak awal aku tidak mengikuti kebohongan ini. Kebohongan hubunganku dengan Myungsoo.

“Bagaimana dengan Bohee? Dia tidak kena flu, bukan?” Niatnya untuk mengalihkan pembicaraan, tapi kenapa aku justru merasa bodoh saat melihat reaksi Minho yang menaikkan sebelah alisnya sambil menatapku aneh.

“Atau jangan-jangan hubunganmu dengan Myungsoo…” aku langsung menatapnya panik begitu mendengar ucapannya digantungkan, membuat jantungku berdetak cepat dan tubuhku mendadak dingin—bukan karena angin yang berhembus saat hujan lebat begini, tapi karena aku takut ketahuan olehnya bahwa hubunganku dengan Myungsoo hanyalah bohongan.

“Aku takut hujan makin deras. Lebih baik aku pulang.” Kataku akhirnya seraya membalikkan badan dan hendak pergi tanpa berani untuk menatap matanya yang tengah menatapku lekat-lekat.

Aku yakin sekali ia pasti curiga.

Entah apa yang terjadi kemudian, kejadiannya terlalu cepat untuk otakku berkerja seperti biasanya. Dan tiba-tiba saja jantungku kembali berdetak sangat cepat—bukan yang seperti tadi—ketika kini wajahku dan wajahnya sudah dan berjarak.

Dia menciumku!—bukan. Lebih tepatnya ia menempelkan bibirnya pada bibirku hingga aku bisa kurasakan hidungnya menempel pada pipiku.

Di saat otakku menyuruh untuk mendorongnya, tubuhku justru tetap terdiam tanpa bergerak. Hanya beberapa bagian yang bergerak sedikit karena bernafas dan mataku yang mengerjap berkali-kali melihat wajahnya yang sempurna dari jarak sedekat ini—yah, sebenarnya aku hanya bisa melihat matanya yang terpejam.

Ketika aku sudah benar-benar kehabisan nafas, barulah tubuhku kembali mengikuti perintah otakku untuk mendorong bahunya. Karena salah tingkah, aku langsung membalikkan badanku yang tahu-tahu saja tadi menghadapnya dan bergegas untuk pergi. Tapi, lagi-lagi ia menahan pergelangan tanganku.

“Tetaplah menungguku.” Katanya setelah aku menghentikan langkahku tanpa membalikkan badan. Aku tidak mau ia melihat wajahku memerah seperti ini.

Tanpa memikirkan maksud perkataannya, aku menghempaskan tangannya yang menahan pergelangan tanganku dan kembali melanjutkan langkahku dengan wajah yang merah sekali.

Sudut pandang penulis

Myungsoo mendecak kecil setelah ia kembali lagi ke perpustakaan namun tak mendapati Sooji di tempat tadi. Ayahnya yang tadi memanggil untuk datang keruangannya benar-benar tidak bisa dipercaya. Memanggilnya hanya untuk menanyakan prestasinya di sekolah ini. Pertanyaan yang tidak terlalu penting untuk dipanggil ke ruangan pemilik sekolah. Toh ia bisa menanyakannya di rumah, bukan?

Kemudian langkahnya berhenti ketika ia tengah menyurusi koridor panjang sekolahnya untuk mengejar Sooji (mungkin saja gadis itu belum pergi terlalu jauh, bukan?). Tangannya mengepal sampai buku-buku jarinya memutih begitu melihat pemandangan yang tidak terlalu jauh darinya. Sekitar lima meter dari tempatnya berdiri, ia melihat Sooji dan Minho tengah berciuman.

Inilah yang Myungsoo takuti. Akhirnya Minho menyadari perasaannya sendiri.

Tiba-tiba saja ponselnya bergetar di balik saku blazernya. Ia pun merogoh sakunya dan mendapati satu pesan dari nomor tidak dikenalnya. Begitu membuka pesan tersebut, matanya membulat karena melihat isi pesan tersebut adalah sebuah foto. Foto Minho dan Sooji yang tengah berciuman, namun diambil dari samping sehingga terlihat jelas bahwa bibir keduanya saling bersentuhan.

Ia pun membalikkan badannya dan berlari menuju pintu keluar bagian samping. Di tengah hujan begini, ia mendapati seorang gadis yang rambut lurusnya dibiarkan tergerai berdiri sembari memaikan ponselnya dan menyandar pada tembok tepat pada tempat yang cocok untuk memotret Minho dan Sooji, tengah berteduh.

Myungsoo pun menghampiri gadis tersebut untuk memperingatinya. Tapi, pertanyaan apakah gadis itu sudah menyebarkan foto tersebut ke seluruh sekolah muncul begitu saja. Membuatnya tidak hanya ingin memperingati gadis itu.

“Hei, kau!” serunya ketika ia sudah melangkah beberapa meter dari pintu keluar yang menuju pekarangan sekolah.

Gadis itu yang ternyata memakai kacamata baca menoleh dan segera mengantongi ponselnya kembali ke dalam saku blazernya. Begitu mengetahui bahwa seseorang yang memergokinya adalah Kim Myungsoo, ia pun tersenyum kecil. Senyum yang terlihat picik.

“Kau sudah lihat fotonya?” pertanyaan gadis itu yang dilontarkan dengan nada bangga membuat Myungsoo menautkan alisnya bingung. “Gadismu terlihat sangat murahan. Aku benar, bukan?”

Mendengarnya, Myungsoo mendelik seraya mengepalkan tangannya. Gadis ini benar-benar…

“Kau menyebarkannya?” tuduh Myungsoo sembari masih melangkah dengan perlahan menghampiri gadis tersebut.

“Tidak,” kilah gadis itu dengan wajah tenangnya. “Aku memang berniat untuk menyebarkannya, tapi aku baru mengirim foto itu untukmu.”

Myungsoo menatap sinis gadis itu ketika ia menghentikan langkahnya hingga jarak antara mereka berdua sudah cukup dekat. Ia tidak berbicara apapun, hanya menatap gadis yang kini tersenyum picik dengan tatapan dinginnya.

Ketika ia merasa wajah gadis itu tidak asing baginya, ia pun mengerjap sekali kemudian matanya membulat sempurna. Gadis itu… gadis yang sangat tidak ia sukai sejak lama. Kenapa gadis itu bisa berada di sekolah ini dengan mengenakan seragam sekolah yang sama dengan seragam sekolah ini?

“Kau…” ucap Myungsoo tanpa melanjutkan kalimatnya. Bibirnya terlalu kelu untuk menyebut nama gadis itu.

Akhirnya Myungsoo dapat menebak siapa dirinya, gadis itu melepas kacamata bacanya dan melayangkan senyum miring pada Myungsoo yang membeku di tepat. Lalu gadis itu mengangkat sebelah tangannya seperti ingin melambai seraya memiringkan kepalanya. “Kita bertemu lagi, Kim Myungsoo.”

~TBC~

~Wait another story~

Aku tebak nih ya, pasti kalian mikir “cast baru lagi”? bener gak? Yah, tenang aja, cast barunya gak bakal aku terus-terusan liatin kayak krystal kok~ nah, ada yg merasa lega akhirnya krystal bilang gitu ke Minho? Eits, jangan lega dulu. Chapter masih belum habis dan buat yang nanya ini endingnya dimana, aku belum kepikiran buat endingnya. Aku baru mikir lanjutan buat ff ini bagaimana. Nah, nah, nah, geregetan sama sikap Minho? Sama! Aku juga rrrrrrr. Ada yang kasihan sama Myungsoo? Sama juga‼! Duh, aku gabisa bayangin kalo aku ada di posisi Minho. Sakit hati? Pasti! Nangis? Pasti‼!

Dah, aku gamau banyak omong lagi. Doain terus biar chapter selanjutnya bisa publish yaaa. Dan makasih juga buat yang udah baca A Heartbreak:33 aku kira itu bakal sepi senyap. Oke, sekian^^ selamat menebak siapa si cewek berkacamata yang motoin Minho-Suzy ciumcium~~~

55 thoughts on “First Love Pain – Chapter 11

  1. ceritanya seruuu…, kisah cinta yg rumit…, nggak tau hrus berpihak sma spa, bingung…!!! di tunggu next partnya chingu.., jngan lama lma…!!!!😉

  2. cwe misterius itu siapa?? cast baru?
    aigoo~ minho ituu nyebeliin, bilang suka ama suzy pas suzy udh sama myungsoo, aiishh~
    suzy ama myungsoo ajjaa~ dia udh baik bangett looh..

    lanjuut, ceritanya makin seru + bikin penasaran..
    fighting!!

  3. aduh suzy boleh ga ama myungsoo tp juga ama minho(?) *apaini dua2nya bias aku, aku jd bingung harus dukung siapa. gamau liat minho skt hati tp juga gmw liat myung skt-_,- suzy belah jd dua aja kali ya(?) ngehehe lanjut thorrrrr :33

  4. makin seru thor.. Minho malah ngegantungin hubungannya sma suzy kasian suzy sma myungsoonya… Siapa yg nyebarin tuh foto? Penasaran bnget.. Ditunngu kelanjutan’a thoe.. Fighting author = ]

  5. Aaaah makin galau antara dukung minho apa dukung myungsoo..
    Udah susah dah kalo dlm satu ff si minho, myungsoo, sama suzy dijadiin satu -_-
    Anyway ceritanya makin seru. penasaran sama cast barunya..
    Part 12 update soon yah.. Jgn lama plisss

  6. wah wah kereeen daebak , aq bingung mesti komen gmn lg .
    yg pasti part ini bikin tambah penasaran gmn klanjutan nya .
    kasian myungsoo nya ntar , jujur sih aq lebih suka myungzy ..

  7. yes, akhirnya kluar jga ffnya. bgus bgt min,, mkin seru jga. tpi ksian myungsoo.. aigoooo ksian bgt klo smpe d’tinggal suzy..

  8. weshh… minho mulai nyadar ama prasaan nya😀
    tapi myungsoo kasian banget.. 😦

    galau eonni
    ntar Suzy jadi ama siapa dong ?? trus siapa cast yang baru ??
    makin rumit ceritanya eonni + makin buat penasaran.
    ditunggu next chap eonni😀

  9. Huwaaah…..minho oppa!!!thour…..konflik nya udah ckup dong, gak usah bnyk2….
    Kasian,mna ada cwe’ misterius thu lg….
    Penasaran!!!next chap jgn lma2 yh thour….
    #endingx minho oppa aja deh….tpy myungso oppa jg kan bias aku… Thour suzynie suruh bkin kembaran aja biar ckup sma 1….
    Byar semua happy ending,tanpa sad end…

  10. aduh akhirnya di publish juga, ini bener” galau tau, kalo diposisi minho psti galau, tp kasian jg myungsoo, udahlah myungzy aja deh-_-“

  11. ahhhh author kenapa di potong dibagian ituuuuu bikin penasaran tauuuuuuu. aduuuuuh udah myungzy aja aku jadi kesel sama minho yang telat banget nyadar tentang perasaan dia huuuuuh

  12. wahhh akhr x publish jga..! crta x kren thor, v bkin gregetannn…. sbnr x aQ th Minzy shipper, v klo jln crta x udh gini.. aQ jdi galau se galau galau x..*pa’ansih* kira” minzy to myungzy y?? truzz kra” cwe mstrius t spa y?? hmm bnr” bkin pnsran…!!

  13. keren thor!! tapi konflik-nya kebanyakan, jadi agak bingung gitu wkt baca hhehehe
    wah jadi makin penasaran sama kelanjutannya.. ditunggu next chap-nya thor!!

    • Makasiiiih:D iya, tdnya ini mau dibuat cuma 4/6 chapter, tp takut jadi terlalu nanggung. Jadi, aku buat kebanyakan konflik-_-v btw, makasih udah baca+komen yaaaa^^v

  14. Ah penasaran bgt chingu..please lanjutny jgn lama2 ya..dan jgn bnyak konflik😀

    Ak ga bisa milih antara minho dan myungsoo mreka sma2 cocok buat suzy😦

  15. Huaa!! Makin seru aja ceritanya.
    Aku petama baca di school fanfiction, tapi karna aku kesel banget udah lama banget nunggu lanjutannya jadi aku cari di google,
    dan terus dapet link ini😀
    abis penasaran sih😀
    seru banget ceritanya!! ^^

  16. ia senang akhirnya kristal ngomomg gt…
    trus minho benar2 ikin geregetan..

    myungso yg malang, kl suzy g mau sama aku ja wes…
    kekekekeke

  17. Minho seenakx za nyium suzy setelah apa yg dia lakukan ke suzy. Ya walaupun aku jga seneng bnget sama minho tapi tetep za aku kesel ma dia cz dia udah sering bikin suzy nangis.😦

  18. Thor castnya ditambah lagi x_x aduh pusing aku ._. Tapi gk apalah yang pentimg seru !!
    Udah thorr krystal sama sehun aja. Kasian tuh minhonya merasa terikat sama krystal walau tadi krystal udh mulai ngelepasin minho ._.

  19. Banyak konfllik lbh seru kok thor…lbh memainkan perasaan hahaha😀 sama galaunya nih sama author, gk mgkn yah suzy sama dua2nya minho n myungsoo? *disiram air seember hihihi….

  20. pasti itu tmn krystal yg suka sama myungsoo n mw ngancam myungsoo biar pacaran sama dia..tidaaak..huhuhu..
    Minho aku jd makin gemes..haduuuh..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s