A Heartbreak – Prolog



  • Tittle    : A Heartbreak
  • Author    : EnnyHutami
  • Lenght    : Series/chaptered
  • Rating    : General
  • Genre    : Romance, School-life
  • Cast    :
  1. Jo Kwangmin
  2. Bae Sooji
  3. Oh Sehun
  4. And others

Copyright © original story by EnnyHutami 2012

~œœœ~

 

“Sooji-ya, gwenchana?” seseorang perempuan yang diperkirakan berusia pertengahan dua puluh dengan rambut pendek sebahu yang diwarnai hitam gelap, sangat kontras dengan kulitnya yang putih pucat, berkata sembari menahan tubuh gadis bernama Sooji yang limbung ke samping karena kehilangan keseimbangannya.

Gadis itu, Bae Sooji, kembali menegakkan tubuhnya dan tersenyum kecil untuk menenangkan managernya yang kini terlihat khawatir. “Aku tidak apa-apa. Jangan khawatir.” Sahutnya dengan suara yang pelan.

Namun tetap saja managernya itu, Jang Youngmi, tidak percaya dan kemudian ia memapah tubuh Sooji untuk duduk di kursi kecil yang memang disediakan untuk gadis itu di tempat pemotretan.

Eonni, aku tidak apa-apa. Sungguh.” Sooji pun kembali berkata sembari tertawa kecil untuk membuat Youngmi tidak lagi menghawatirkannya.

Youngmi yang sama sekali tidak mempercayai ucapan Sooji hanya bergerak dalam diam mengambil beberapa alat rias dan tidak mengomentari ucapan Sooji barusan. Kemudian ia kembali memoleskan bedak tipis berwarna merah—yang entah apa namanya—milik penata rias ke kedua pipi Sooji sembari berkata, “Jangan bilang kau baik-baik saja. Bahkan wajahmu masih terlihat pucat walaupun kau memakai make up.”

Akhirnya Sooji pun memilih untuk menyerah kemudian menghela nafas. “Aku hanya sedikt lelah dan… lapar.” Akunya dengan malu-malu pada Youngmi managernya.

“Oh, dear,” gumam Youngmi sembari berkacak pinggang dan menatap Sooji yang hanya menyengir lebar. “Kali ini kau lupa untuk sarapan karena terburu-buru atau karena kau malas untuk sarapan?”

“Keduanya… mungkin?” jawab Sooji dengan cengirannya.

Sebelum Youngmi sempat memarahi Sooji dan menceramahi tentang bagaimana peran penting sarapan untuk tubuhnya, seorang fotografer yang memakai topi dan kaus putih polos memanggil Sooji untuk kembali melanjutkan pemotretan.

Dengan sedikit rasa senang karena bisa terbebas dari ceramah managernya, Sooji pun langsung bangkit dan melangkah menuju tempat yang ditunjukkan sang fotografer.

~œœœ~

Jo Kwangmin bersiul kecil untuk mengusir rasa bosannya ketika ia tengah berada dalam perjalan menuju rumah barunya di daerah Apgujeong, Distrik Gangnam, Seoul. Ia lupa untuk mengisi baterai ponselnya dan alhasil kini ponselnya sama sekali mati, tak bisa dihidupkan barang sedetik pun. Ia juga lupa untuk menaruh I-pod di dalam tas dan justru menaruhnya di dalam kardus yang berisi barang-barang elektroniknya.

“Ini,” kemudian ia menoleh begitu mendengar suara sepupunya yang sepertinya ditunjukkan untuknya, lalu ia pun mendapati bahwa sepupunya menyodorkan tablet yang sedari tadi dimainkan oleh sepupunya, Lee Jieun.

Sembari mengambil tablet tersebut dari tangan sepupunya, ia pun mengernyitkan alis dan berkata, “Tumben kau baik.” Pada Jieun, berniat untuk menyindir sepupunya itu.

Kali ini mood Jieun tidak terlalu bagus, jadi ia hanya memutar bola matanya sinis dan tidak menanggapi ucapan Kwangmin yang kini memasang earphone pada tablet yang tadi ia berikan dan mulai memainkannya.

Walaupun status Kwangmin dan Jieun hanya saudara sepupu, bukan saudara kandung, tapi baik Jieun ataupun Kwangmin menganggap satu sama lain sebagai saudara kandung karena keduanya adalah anak tunggal di keluarganya. Kwangmin menganggap Jieun sebagai kakak perempuannya dan begitu juga sebaliknya.

Jieun yang sudah ditinggal oleh ibunya untuk selamanya sejak kecil sering dititipkan pada ibu Kwangmin, itulah sebabnya mereka sangat dekat sampai sekarang walaupun Jieun tidak tinggal di rumah keluarga Jo.

Noona, kenapa denganmu hari ini?” tanya Kwangmin pada Jieun tanpa mengalihkan tatapan matanya dari tablet begitu ia mendengar lagi-lagi Jieun menghela nafas. “Tidak suka karena aku pindah ke daerah rumahmu?”

Dengan gerakan cepat, Jieun langsung menjitak kepala Kwangmin dengan sebal sembari menggerutu.

Ya,” protes Kwangmin setelah ia mem-pause aplikasi di dalam tablet yang sedang ia mainkan.

“Bagaimana mungkin karenamu?” seru Jieun dengan dengusan yang yang terdengar oleh telinga Kwangmin sembari menyandarkan kepalanya jok mobil.

“Ah,” gumam Kwangmin seakan mengerti situasi Jieun dan langsung mematikan tabletnya. Diusia mereka yang hanya terpaut dua tahun dengan Jieun yang lebih tua, mereka berdua sangat dekat dan saling berbagi satu sama lain. Walaupun kadang Kwangmin tak mengerti apa yang diceritakan oleh Jieun, tapi ia mencoba untuk menjadi pendengar yang baik agar sepupunya itu kembali seperti biasa dan tidak bersikap sensitif layaknya gadis yang sedang datang bulan. “Jadi, ada apa denganmu?” tanyanya dengan memasang wajah serius.

Bukannya menjawab, Jieun hanya menghela nafas dan menggelengkan kepalanya dengan pandangan menerawang ke luar kaca mobil lalu menyentuhkan keningnya pada kaca mobil yang dingin.

Moodmu sedang tidak bagus untuk cerita, ya?” kata Kwangmin setelah beberapa detik ia memperhatikan ekpresi wajah Jieun yang sepertinya memang sedang ada masalah. “Baiklah, kau bisa ceritakan padaku kapan saja kau mau.”

Ya, Kwangmin tahu apa yang bisa membuat Jieun merasa baikan. Biarkan dia sendiri dengan pikirannya, tak menganggunya, dan mendengarkan ceritanya walaupun Kwangmin tak bisa memberi nasihat padanya. Tapi membuat suasana hati Jieun membaik adalah pilihan yang tepat karena jika gadis itu tengah berada pada suasana hati yang sangat buru, gadis itu akan bersikap sinis dan membentak siapapun yang membuatnya terganggu. Lebih mengerikan daripada nenek sihir, batin Kwangmin sembari bergidik ngeri begitu memikirkan hal tersebut.

~œœœ~

“Bahkan sampai sekarang aku heran kenapa kau lebih memilih menghabiskan waktumu di rumahku dibandingkan rumahmu sendiri,” ucap Kwangmin pada Jieun sembari mengambil beberapa kardus dari dalam mobil van yang mengangkut barang-barang keluarganya. “Rumahmu bahkan jauh lebih besar dari rumahku.”

Bukannya Kwangmin tidak pernah berkunjung ke rumah Jieun, ia pernah beberapa kali. Tapi mungkin rumah itu sudah mendapatkan perbaikkan sehingga kini rumah yang berada tepat di seberang jalan rumah barunya terlihat lebih besar, asri, dan nyaman.

Sembari melirik ke arah rumahnya, Jieun pun mengamil kardus kecil yang tidak terlalu berat dari pinggiran mobil van dan mulai melangkah ketika Kwangmin sudah meloncat turun dari dalam mobil van dengan membawa dua kardus cukup besar yang ditumpuk menjadi satu. “Rumahku sangat sepi, kadang hanya ada aku sendiri. Sedangkan rumahmu selalu ramai dengan ocehan ibumu.” Sahutnya sembari mengerucutkan bibirnya.

Begitu mereka sampai di dalam rumah baru Kwangmin, ibu Kwangmin langsung menghampiri mereka berdua untuk menyuruh Jieun menaruh kardus itu di meja makan dan menyuruh Kwangmin menaruh kardus-kardus tersebut ke dalam kamarnya di lantai dua.

Setelah selesai menurunkan barang-barang di dalam mobil van dan menaruhnya di tempat yang sudah direncanakan, Jieun, Kwangmin, ibu dan ayah Kwangmin berkumpul di meja makan untuk sekedar beristirahat karena lelah memindahkan barang.

Well, setidaknya para perempuan, ibu Kwangmin dan Jieun, tidak terlalu mengeluarkan keringat karena mereka berdua hanya menyuruh Kwangmin dan ayahnya untuk mengambil barang-barang yang berat dan menaruhnya di suatu tempat.

Ahjumma, aku lelah sekali.” eluh Jieun sembari menegak habis minumannya dalam gelas kaca transparan.

Mendengar itu, Kwangmin mendecakkan lidah sembari memutar bola matanya sakartis. “Kau bahkan hanya menyuruhku ini dan itu,” gerutunya dan mendapat kekehan kecil dari Jieun.

Minum dan beristirahatnya sudah cukup. Kini saatnya mereka membuka kardus dan menata isi kardus tersebut di tempatnya. Kwangmin yang sepertinya ingat bahwa ponselnya masih diletakkan di dalam mobil karena sudah mati tak berdaya pun meminjam kunci mobil pada ayahnya lalu melangkah keluar rumah dan menghampiri mobilnya.

Ponselnya pun kini sudah berada di genggamannya, lalu ia keluar dari mobil dan membanting pintu mobil dengan sehingga menimbulkan suara yang khas bantingan mobil yang tidak terlalu keras.

Begitu ia hendak membalikkan tubuhnya untuk kembali masuk ke dalam rumah barunya, matanya tidak sengaja melihat van berhenti tepat di depan rumah yang berada di sebelah rumah barunya.

Tatapannya terkunci, tak bisa mengalihkan pandangannya saat seorang gadis dengan rambut panjangnya yang terurai sampai ke punggung dan mengenakan jas berwarna cokelat yang terlihat sedikit kebesaran turun dari van sembari tersenyum. Saat mata mereka bertemu dalam satu titik, bibir gadis itu tertarik ke belakang membentuk senyuman ramah sehingga membuat wajah lelahnya tampak sedikit bercahaya.

Hampir saja Kwangmin hendak menghampiri gadis itu, entah untuk apa, kalau saja Jieun tak memanggil namanya sambil berteriak dari depan pintu rumah barunya. Setelah gadis tadi masuk ke dalam rumahnya, yang tepat berada di sebelah rumah baru Kwangmin, dan mobil van yang tadi menurunkan gadis tersebut pergi, barulah Kwangmin berlari kecil menghampiri ibunya yang terus saja meneriaki namanya.

~œœœ~

Sembari mengetuk pelan kaca van yang terlihat gelap jika dilihat dari luar dengan kukunya yang sedikit panjang, Bae Sooji kembali menguap yang entah sudah keberapa kali ia lakukan selama perjalanan pulang. Walaupun bergitu, dirinya tak juga terlelap tidur.

Suara dentingan ponselnya membuatnya langsung menegapkan badan kemudian menjulurkan tangan untuk menggapai ponsel di kursi jok di sebelahnya. Satu pesan singkat dari Oh Sehun.

-Kau sedang sibuk?-

Setelah membaca pesan tersebut, Sooji langsung menekan angka empat pada layar ponselnya kemudian menempatkan ponselnya tepat di samping telinganya.

Tak harus menunggu beberapa lama untuk telfonnya diangkat, Sooji langsung mendengar suara yang sudah tidak asing lagi ditelinganya.

“Sehun-ah, ada apa?” tanya Sooji tanpa basa basi setelah lawan bicaranya melalui telfon itu mengucapkan salam.

Saat Sooji mengucapkan nama Sehun, Jang Youngmi yang duduk di kursi jok di sebelah kemudi langsung memutar tubuhnya dan menatap Sooji dengan pandangan sinis dan juga heran. Sedangkan Sooji yang tahu bahwa Youngmi tengah menatapnya dengan pandangan seperti itu hanya menyengir menunjukan deretan giginya yang putih dan rapih namun langsung mengalihkan pandangan ke luar kaca mobil dan memelankan suaranya.

“Ya, aku sedang dalam perjalan pulang,” jawab Sooji pelan pada lawan bicaranya di seberang telfon. “Baiklah, aku tunggu di rumah. Sampai nanti.” Setelah memutuskan hubungan telfonnya, Sooji kembali menaruh ponselnya ke dalam tas tangannya dan menatap Youngmi yang masih saja memandanginya. Hanya saja pandangan itu menuntut penjelasan, bukan pandangan yang sinis bercampur heran.

“Dia mengajakku makan malam bersama.” Katanya tanpa menunggu Youngmi bertanya lebih dulu.

Youngmi tak langsung menanggapi perkataan Sooji dan justru kembali memutar tubuhnya hingga menghadap pada supir pribadi dari management Sooji, Min Jaehyun. “Berhenti, aku ingin pindah ke belakang.” Ucap Youngmin.

Jaehyun hanya menuruti perintah Youngmi dan langsung memutar kemudi hingga kini van berhenti di pinggir jalan.

Sooji hanya menghela nafas setelah Youngmi turun dari van. “Ahjussi, seharusnya kau tidak menghentikan van.” Gerutu Sooji sembari menyandarkan tubuhnya pada punggung jok.

Heish, kau sendiri tahu bagaimana keras kepalanya managermu itu.” Balas Jaehyun tanpa memutar kepalanya untuk berhadapan dengan Sooji.

Ara,” Sahut Sooji beberapa detik sebelum Youngmi membuka pintu van tepat dibelakang jok kemudi.

Setelah Youngmi duduk dan menutup pintu, van pun kembali melaju dengan kecepatan sedang. Tidak terlalu cepat dan juga tidak terlalu pelan.

“Jadi, kau masih ingin bersamanya, bukan?” tanya Youngmi setelah keheningan menyelimuti mereka bertiga—mungkin berdua karena Jaehyun tidak termasuk ke dalamnya.

Eonni, kau tahu aku—”

“Ingatlah saat-saat kau diputusnya. Kau tidak ingat seberapa kacaunya dirimu sampai jadwalmu berantakan?” potong Youngmi dengan ucapan yang tajam namun nada bicaranya melembut. Namun tetap saja di telinga Sooji ucapan tersebut menyindirnya.

Sooji mendesah sembari menutup matanya. Ia ingin menghentikan pembicaraan ini sebelum air matanya merembes keluar. Sudah cukup air mata yang ia keluarkan karena perpisahan antara dirinya dan Sehun. Ia tidak ingin lagi menangisi perpisahan itu, toh hubungannya dengan Sehun masih berjalan dengan cukup baik.

Beruntungnya, doanya tercapai karena setelah itu van berhenti tepat di depan rumahnya. Itu berarti ia bisa menghindar dari ceramah Youngmi tentang hubungannya dan karirnya. Ya, memang ia sudah sering mendengarnya, tapi tetap saja telinganya terasa panas saat mendengar ceramah dari managernya tersebut.

“Jangan lupa untuk makan dan istirahat. Besok kau bebas, jadi jangan sia-siakan waktumu.” Ucap Youngmi sebelum Sooji turun dari van.

Arasseo.” Sahut Sooji sembari tersenyum kecil kemudian membuka pintu van lalu keluar dan membanting pelan pintu van hingga yakin ia telah menutupnya dengan rapat.

Tanpa menunggu van melaju lebih dulu, Sooji membalikan tubuhnya dan menghadap pada rumahnya. Ia tersenyum ramah pada seorang laki-laki bertubuh tinggi dan kurus dengan rambut hitam kecokelatan yang tengah menatapnya kemudian masuk ke dalam rumahnya untuk beristirahat.

“Aku pulang,” ucapnya setelah kembali menutup pintu rumahnya.

Sampai ia melepas sepatu hak tinggi dan menggantinya dengan sendal rumah, tak ada yang menyahutinya. Biasanya ibunya akan melongokan kepalanya dari arah dapur dan menyapanya dengan suara lembut penuh kasih sayang.

“Apa sedang pergi?” tanyanya pada diri sendiri sembari memiringkan kepalanya dan mengedarkan matanya ke seluruh sudut-sudut rumahnya yang masih berada dalam jangkauan matanya.

Pertama ia masuk ke dalam kamarnya untuk menaruh tas dan jasnya di atas ranjang berukuran besar yang empuk dan masuk ke kamar mandi untuk mencuci wajah lelahnya agr terlihat lebih segar. Kemudian ia keluar dari kamarnya—yang kebetulan rumahnya hanya berlantai satu—dan melangkah menuju dapur. Karena ia tidak menemukan ibunya di sana, ia pun melangkah menuju kamar ibunya.

Eomma—” baru saja ia membuka pintu kamar ibunya untuk mencari tahu apakah ibunya di dalam atau tidak, ia sudah dikejutkan oleh ibunya yang tergeletak tak sadarkan diri di lantai kayu di dalam kamarnya.

Panik, ia pun langsung menghambur ke arah ibunya dan langsung berjongkok di samping ibunya. “Eomma!” seru Sooji sembari mengguncang tubuh ibunya pelan.

Sadar bahwa ibunya tak akan membuka matanya hanya dengan mengguncangkan badan, Sooji langsung merogoh saku jasnya dan menekan beberapa angka untuk menghubungi Youngmi, managernya, karena memang tak ada yang bisa ia hubungi lagi selain Youngmi.

Aish!” umpatnya karena sudah dering keberapa Youngmi tak kunjung menjawab telefonnya. Ia pun langsung keluar dari rumah sembari berlari, tak mempedulikan kakinya yang kedinginan karena tak memakai alas kaki keluar rumah.

Dengan panik dan kalut, ia pun menoleh ke kanan dan kiri dengan gerakan cepat dan terburu-buru. Begitu ia melihat ke rumah dengan pagar pendek yang berada tepat di samping rumahnya, dan mendapati dua orang tengah melangkah dengan perlahan menuju pintu pagar, ia pun berlari menghampiri kedua orang itu.

Begitu ia berhenti tepat di depan pagar yang sudah terbuka oleh salah satu dari dua orang tersebut, Sooji menatap mata si laki-laki yang tubuhnya lebih tinggi beberapa senti darinya dengan tatapan memohon. “Tolonglah ibuku.”

~œœœ~

“Kau jelek merengut terus seperti itu.” celetuk Kwangmin yang baru saja masuk ke dalam kamarnya sembari membawa kardus yang cukup besar sampai menutupi dadanya dan mendapati Jieun yang duduk menyandar di ranjang Kwangmin sembari memutar ponselnya bosan.

Mendengar ejekan dari adik sepupunya itu, Jieun langsung menoleh dengan mengerucutkan bibir lalu menyambar bantal yang ada di sebelahnya dan melemparnya pada Kwangmin sembari berkata, “Matamu harus diperiksa.”

Memang karena bantal itu dilempar dengan asal oleh Jieun, jadi bantal tersebut mendarat beberapa meter di belakang Kwangmin yang sedang membungkukan badannya menaruh kardus yang sedari tadi ia bawa di depan laci meja yang masih kosong.

“Kau bertengkar lagi dengannya?” tanya Kwangmin yang sudah berdiri lagi dan melihat Jieun tengah mengutik-ngutik ponselnya dengan wajah ditekuk.

“Dia bahkan tidak menghubungiku dari kemarin!” teriak Jieun kesal pada akhirnya karena terbawa emosi yang ia tahan sejak tadi.

Kwangmin mendecak sembari memutar bola matanya sinis. “Sudah kubilang dia terlalu baik untukmu.” Sindirnya dengan menekankan kata baik.

Sebelum Jieun sempat membalas sindiran Kwangmin, ibu Kwangmin sudah meneriakan nama Jieun dari lantai bawah entah untuk apa. Jieun pun langsung bangkit dari posisinya yang duduk sembari menyandar di ranjang di kamar Kwangmin dan segera melangkah dengan langkah yang cukup cepat menuruni satu persatu anak tangga.

“Ada apa, bi?” tanyanya dengan wajah bertanya. Beberapa detik setelah Jieun bertanya, Kwangmin memperlihatkan batang hidungnya di anak tangga paling atas.

“Oh, Kwangmin!” ibu Kwangmin tidak langsung menjawab pertanyaan Jieun dan justru mengambil sebuah kunci dari saku celananya.

Mendengar ibunya menyerukan namanya, Kwangmin yang tadinya berjalan menuruni anak tangga kini berlari kecil menghampiri ibunya dan Jieun. “Ada apa, bu?” tanyanya dengan wajah bingung.

Ibu Kwangmin berbicara panjang lebar—menyuruh mereka berdua pergi ke toko untuk membeli beberapa pewangi ruangan, ramyun, dan beberapa bahan makanan untuk dibuat sup—sembari menyerahkan kunci yang ternyata kunci mobil itu ke tangan Kwangmin dan beberapa lembar uang ke tangan Jieun.

“Cepatlah beli kalau tak ingin terlambat makan siang.” Ucap ibu Kwangmin sambil lalu dan kembali melangkah menuju ruang tengah yang masih berantakan dengan kardus-kardus.

Mereka berdua pun menurut dan langsung melangkah keluar rumah.

“Kau bisa bawa mobil?” tanya Jieun dengan alis terangkat satu tanda ia meremehkan kemampuan mengemudi Kwangmin ketika mereka berdua tengah berjalan beriringan menuju mobil yang di parkirkan di pinggir jalan di depan rumah baru Kwangmin. “Aku takut kalau kau yang mengemudi justru sampai ke rumah sakit.”

Kwangmin memutar bola matanya tak terima atas Jieun yang meremehkannya. “Aish, aku sudah delapan belas tahun, ingat?” sahutnya dengan nada bangga.

Aigoo,” gerutu Jieun sembari meninju lengan Kwangmin pelan. “Kau bahkan belum mendapatkan izin mengemudimu.”

“Memangnya kau sudah?”

Jieun menggerutu ketika Kwangmin membalikkan kata-katanya. Usia Jieun memang sudah cukup untuk mendapatkan izin mengemudinya, tapi ia benar-benar tak bisa mengendarai mobil. Ia hanya bisa mengendarai sepeda yang hanya mengayuh pedal dan mengarahkan stangnya.

Kwangmin menoleh karena merasa ada seseorang yang tengah berlari. Dan benar saja. Gadis yang membuatnya terpana karena senyum manisnya terlihat berlari dengan wajah panik, membuat Kwangmin mengernyit bingung.

Begitu Jieun membuka gerbang, Kwangmin semakin heran karena gadis itu menghampirinya—well, lebih tepatnya menghampiri Kwangmin dan Jieun—dan yang membuat Kwangmin lebih heran adalah gadis itu terlihat seperti baru saja melihat hantu dan tidak memakai alas kaki di tengah cuaca yang cukup dingin di musim gugur seperti ini.

“Tolonglah ibuku,” nada dari ucapannya yang sedikit panik dan cemas membuat Jieun dan Kwangmin saling bertatapan dengan pandangan heran.

Mwol?” sahut Jieun heran.

Gadis itu tidak menjawab. Hanya menarik pergelangan tangan Kwangmin dan membawa Kwangmin ke rumahnya sambil berlari.

Kwangmin yang kebingungan hanya mengikuti gadis itu sembari memberi sinyal pada Jieun untuk mengikutinya dengan gerakan kepala dan matanya.

Begitu sampai di rumah gadis itu, Kwangmin sedikit terkejut ketika gadis itu membanting pintu rumahnya sendiri. Gadis itu benar-benar terlihat panik ketika ia melepaskan genggaman tangannya pada pergelangan tangan Kwangmin dan berlari entar kemana. Jadi, Kwangmin pun terus mengikuti gadis itu.

Mata Kwangmin membulat begitu melihat seorang wanita yang diperkirakan adalah ibu dari gadis itu tergeletak tak sadarkan diri di lantai. Ikut panik, Kwangmin langsung melepar kunci mobil pada Jieun yang berdiri tidak jauh di belakangnya sembari menyuruhnya untuk membuka pintu mobil di depan sana.

Tanpa banyak bicara, Kwangmin langsung menghampiri ibu gadis itu dan mencoba untuk menggendong di punggungnya dengan bantuan gadis tersebut. Walaupun tubuh Kwangmin kurus, tapi tentu saja ia kuat untuk menggendong ibu gadis tersebut.

Dengan menggendong wanita yang notabenenya ibu gadis tersebut di punggungnya, Kwangmin pun berlari keluar menuju mobil yang terparkir di depan rumah barunya. Sedangkan gadis tadi langsung menghampiri Jieun yang sudah membuka pintu mobil bagian belakang dengan wajah ragu melihat Kwangmin yang menggendong wanita yang tak sadarkan tersebut.

Setelah Kwangmin menaruh wanita yang tadi digendongnya ke dalam mobil dan gadis tadi sudah duduk di kursi belakang, Jieun menahan lengan Kwangmin yang hendak membuka pintu yang berada di balik kemudi. “Kau belum boleh mengemudi! Akan kupanggilkan paman.”

“Tidak, noona,” sebelum Jieun berlari untuk masuk ke dalam rumah dan memberitahu ayah Kwangmin bahwa ada seseorang yang meminta bantuan, kini Kwangmin yang berbalik menahan lengan Jieun. “Ahjumma ini harus cepat dibawa ke rumah sakit.” Lanjutnya.

“Tapi kau belum dapat izin mengemudimu!” bentak Jieun karena Kwangmin yang keras kepala.

Jogiyo,” ucapan gadis yang sudah berada di dalam mobil membuat Kwangmin yang hendak membuka mulut untuk membalas bentakan Jieun mengurungkan niatnya. Lalu ia tak memedulikan Jieun yang berdiri sembari menatap Kwangmin tak percaya, kemudian masuk ke dalam mobil dan mulai menyalakan mesin mobil.

Walaupun Kwangmin memang tak memiliki izin mengemudi, tapi ia sudah bisa mengemudi layaknya orang-orang dewasa. Jadi, untuk apa ia peduli pada izin mengemudinya yang—karena umur—belum dimilikinya?

Eomma…” Kwangmin melirik ke belakang pada spion mobil ketika suara gumaman parau gadis di belakangnya terdengar. Gadis itu… semakin dilihat, wajahnya terasa familiar. Apakah mereka pernah bertemu sebelumnya?

Ketika ia melihat air mata yang jatuh bebas di wajah gadis itu, Kwangmin mengalihkan pandangannya ke jalanan di depannya dan mulai menambahkan kecepatan mobil yang dikendarainya.

~To Be Continue~

~Wait another story~

Taraa~~~ akhirnya aku mutusin buat ngepublish ff yang ini setelah pusing mau publish yang mana dulu. Kenapa aku publish ff lagi padahal FLPnya blm selesai? Jawabannya ada tiga. Pertama, karena kemarin tanggal 8 adalah comebacknya Boyfriend daaaaan aku bener-bener syok liat Kwangmin di MV Janus itu. Emang sih si kembar Jo itu ngerubah rambut jadi warnanya sama gitu, tapi tetep dong seorang Kwangmin biased aku bisa bedain dari cara gerak merekaB) Alasan kedua, karena FLP chapter 11 bener-bener blm aku lanjutin. Miaaaaan. Sebenernya bukan ‘bener-bener blm dilanjutin’ tapi aku udah berkali-kali ngetik-hapus-ngetik-hapus gitu, ngerti nggak?._. dan jadilah FLPnya blm kelanjut lagi._.v Dan alasan ketiga, karena… dari semua ff yang lagi aku buat (tp blm publish) baru A heartbreaker-lah yang udah sampe kata ‘TBC’.

Jadi buat gantiin, aku mau publish ini dulu. Sebenernya ff yang ini gaada prolog dan langsung chapter 1, tapi karena kayaknya chapter yang ini gak ngena ke konflik dan masih kayak perkenalan, jadi aku buat yang ini adalah prolog (walaupun terlalu panjang buat jadi prolog. Dan aku mau kasih tau kalo semua cast—mungkin gak semua—di sini umurnya sama kayak aslinya. Suzy 94line, Kwangmin 95line, IU 93line, sehun 94line dll. Dan Suzy-kwangmin-sehun sama-sama sekolah di Seoul Performing Art High School.

Sekian aja dari author yang tak bertanggung jawab ini. Maafkan aku kalo bakal telat banget lanjutin FLPnya. Tapi, jangan lupa kasih saran dan kritik yang membangun semangatku yaaa^^v

60 thoughts on “A Heartbreak – Prolog

  1. yeah..
    ada ff baru😀
    jangan2 ada hubungan antara Suzy+Kwangmin dimasa lalu.

    penasaran eonni..
    ditunggu next part ya,..
    eonni.. kalau bisa FLP dilanjutin dong..
    trus bisa kasi bocoran gk eonni,, FLP bakalan ending di part brapa ???

    keep writing eonni🙂
    fighting😀

  2. Wahh ada ff baru nih😀
    Castnya Suzy-Kwangmin lagi, sama-sama biasku😀
    Prolognya bikin penasaran tapi kayanya Sehun-IU ada hubungan ya? Pasti IU nanti jadi tengahannya Sehun-Suzy kan wkwk *sok tau

    Tapi lah yang jelas FFnya dipublish cepet ya😀 terutama First Love Pain chapter 11😉

    • hem…. bocoran, disini IUnya cuma support cast aja kok:D buat kedepannya, tunggu aja cast-cast yang bakal muncul lagi^^v flpnya hari ini aku publish lagi koook:D

  3. wah ff baru, bgus chingu
    suzy-sehun -kwangmin. tdi kwangmin bilang kyak pernh liat suzy dimn?
    oh sehun knp pula masih nemuin suzy and knp manajer suzy gag setuju??
    iu bertengkar ma siapa ya???
    lanjut chingu?? oh ya chingu disini suzy artis or model aja?

  4. bagus saeng , disini kwangmin gak pake kembarannya yaa ?
    prolognya bikin org penasaran sama critanya ..
    yg penting jngn lupa FLP dilanjut yaa , aq setia menunggu .

  5. Padahal udh lama liat nih ff tapi baru aja aku baca….😥
    Dan ternyata…… SERU!
    Biarpun baru aja prolog…. Lanjutttj

  6. Setelah death game, different sama first love pain…ini ff ke-4 dr author yg kereeeen ini aq baca😀 I love all of ur ff…karena ad suzyyyyyyyyy hehehe….lanjut baca ke chapt 1 ya thor, gumawo ((:

  7. Aku tahu ini udah di stop, tapi ga ada salahnya kalo ff sekeren ini dibaca berulang-ulang ya, hehe

    Perasaan aku udah komen, tapi kenapa ga muncul ya? #sambilmikir

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s