First Love Pain – Chapter 10



  • Tittle    : First love pain
  • Author    : EnnyHutami
  • Lenght    : Chaptered
  • Rating    : General
  • Genre    : Romance, Sad
  • Cast    :
  1. Bae Sooji
  2. Choi Minho
  3. Jung Soojung a.k.a Krystal Jung
  4. Kim Myungsoo
  5. And others (Find them self)


Copyright © Ennyhutami Fanfiction 2012

~œœœ~

[Chapter 10]

-Aku bohong kalau aku jawab tidak-

Sudut pandang penulis

Oppa, berhenti.” Ketika Soojung menyuruh Park Sunghoon, Managernya, untuk memberhentikan van yang tengah melaju menuju lokasi syuting di Hongdae, sontak Sunghoon langsung membanting stir kemudi dan menginjak pedal rem dengan pandangan heran.

“Ada apa?” tanya Sunghoon sembari membalikan badannya hingga menghadap Soojung yang duduk di kursi belakang.

Soojung hendak membuka pintu van dan bersiap untuk keluar dengan kacamata hitam yang sudah menutupi matanya. “Aku ingin membeli latte sebentar saja.” Sahutnya kemudian membuka pintu van dan mulai menurunkan kedua kakinya hingga menginjak tanah.

“Cepatlah beli.” Bertepatan dengan seruan Sunghoon, Soojung pun membanting pintu van dan mulai melangkahkan kakinya menuju kafe yang kebetulan ada di dekat tempat van-nya berhenti.

Soojung menghela nafas beratnya saat ia menunggu di depan kasir untuk menunggu lattenya. Bayangan wajah serius Minho tadi sianglah yang membuatnya menghela nafas dan menginginkan latte untuk menenangkan dirinya karena ia tidak mau emosinya yang jelek membuat kegiatan syutingnya berantakan.

Setelah latte yang ia pesan sudah berada di genggaman tangannya dan sudah membayar pada wanita berseragam yang berada di balik konter kasir, Soojung membalikan badannya hendak kembali ke van yang menunggunya di tepi jalan di depan sana.

“Akh!” pekik seseorang gadis yang jauh lebih muda darinya ketika bahunya tak sengaja menyentuh lengan Soojung. “Maafkan aku,” kata gadis itu sembari membungkuk dalam-dalam.

Soojung hanya memandang gadis itu dengan wajah datar—yang sebenarnya tidak terlalu terlihat karena matanya ditutupi oleh kacamata hitam yang cukup besar kemudian mengalihkan pandangannya pada laki-laki dengan kulit yang sangat putih bahkan cenderung pucat dengan rambut hitam keemasan yang berdiri tepat di belakang gadis yang tadi menabraknya.

Gwenchana?” begitu Soojung melewati bahu laki-laki pucat itu, ia mendengar suara berat laki-laki itu. Namun ia tidak terlalu memedulikan orang-orang di sekitarnya saat ini, jadi ia pun tetap melangkah dan keluar dari kafe tersebut untuk kembali ke van yang menunggunya.

Oppa, bukankah seharusnya syuting dilakukan malam hari?” tanya Soojung setelah van kembali melaju dan ia kembali menyesap lattenya. Kemudian ia mengambil skrip yang berbentuk seperti buku bacaan di kursi di sampingnya dan mulai membaca kalimat demi kalimat yang sudah ditandai dengan stabilo warna hijau.

“Sutradara Park tadi menelfonku dan memberitahu bahwa ada sedikit perubahan waktu syuting.” Jawab Sunghoon sembari tetap fokus pada jalan di depannya.

Sambil menaruh kembali skrip tersebut ke tempatnya semula dan menyesap lattenya, Soojung menghela nafas yang entah sudah keberapa kalinya untuk tiga jam sebelum ini. Setelah Minho ingin mengatakan sesuatu hal yang sepertinya penting dan ia langsung menyuruh laki-laki itu pulang dengan alasan ia harus bersiap-siap untuk kegiatan syutingnya.

¯

Myungsoo melirik pada Sooji ketika gadis itu lagi-lagi bersin. Bertepatan dengan itu, angin musim gugur berhembus, membuat Sooji menggosok-gosokan telapak tangannya dan merapikan rambut panjangnya agar dapat menutupi lehernya.

Tanpa bertanya apakah Sooji kedinginan—yang bahkan orang tuli sekalipun tahu bahwa gadis itu kedinginan—atau tidak, Myungsoo meraih telapak tangan Sooji dengan perlahan kemudian memasukan kedua tangan yang bertautan itu ke dalam saku blazer Myungsoo.

Merasakan tangan besar menggenggam tangannya, Sooji hanya menoleh dengan pandangan terkejut namun tidak memberontak atau menolak genggaman tangan Myungsoo. “Gomawo,” ucapnya begitu merasakan tangannya mulai terasa hangat di dalam saku blazer tersebut.

“Mm,” sahut Myungsoo dengan senyum miringnya sembari melihat Sooji yang menunduk.

Belum bisa dipastikan apa sebenarnya hubungan mereka berdua. Sooji dan Myungsoo memang selalu terlihat bersama dan tertawa bersama layaknya sepasang kekasih seperti saat ini, namun Sooji selalu mengalihkan pembicaraan jika Myungsoo mulai mengungkit tentang perasaannya. Gadis itu masih melarikan diri.

Bunyi klakson mobil yang terdengar tepat di sebelah mereka membuat keduanya langsung menoleh. Sooji hanya menatap mobil sedan berwarna hitam mengkilat itu dengan alis terangkat bingung sedangkan Myungsoo mendengus pelan dan memutar bola matanya sakartis.

Mobil ayahnya. Myungsoo sangat mengenali mobil tersebut.

Ketika kaca di bagian belakang turun dengan perlahan, seorang laki-laki tua yang berpakaian rapih terlihat dengan senyum ramahnya. Senyum yang terasa familiar bagi Sooji. Ia pun memutar otaknya untuk mengingat apakah ia pernah melihat laki-laki itu atau tidak.

“Butuh tumpangan?” tanya laki-laki itu ramah, membuat Sooji mendapatkan jawabannya dari pertanyaannya.

“Ah, annyeong haseyeo,” sapa Sooji ramah sembari melepaskan genggaman tangan Myungsoo pada tangannya dan membungkuk dalam. Pemilik sekolah, akhirnya ia menebak. Ia memang pernah dua kali melihat laki-laki itu. Saat penerimaan murid baru dan saat kemping beberapa bulan yang lalu.

“Oh, kau tahu aku?” tanya laki-laki itu lagi dengan sedikit terkejut dan juga senang.

Ne, Pak,” jawab Sooji sopan sedangkan Myungsoo masih tetap berdiri dengan pandangan tak tertarik. “Anda pemilik dari sekolah Kyunggi, bukan?” lanjut Sooji memastikan.

“Benar.” Sahut laki-laki itu dengan senyumnya yang terulas di bibirnya, membuatnya terlihat lebih muda dari umurnya. Begitu ia melirik Myungsoo, ia mendapati bahwa anaknya tengah menggaruk bagian belakang lehernya sambil menggerakkan bola matanya, menyuruhnya untuk segera pergi dengan raut wajah yang terlihat salah tingkah. Oh… ia mengerti.

Karena tak ada lagi pembicaraan, laki-laki itu—ayah Myungsoo—kembali berbicara. “Siapa namamu, nak?” tanyanya.

“Saya?” ulang Sooji untuk memastikan. Begitu melihat anggukan kepala dari ayah Myungsoo, Sooji pun mengenalkan dirinya, “Sooji, Pak. Bae Sooji.”

“Emm, baiklah Sooji-ya. Silahkan melanjutkan jalan,” kata ayah Myungsoo, masih dengan senyum ramah yang terulas di bibirnya. “Dan untukmu, Kim Myungsoo, sampai bertemu di rumah.”

Selesai mengucapkan kata-kata yang membuat Myungsoo mendecakan lidah dan Sooji mengerjap berkali-kali, mobil yang dinaiki ayah Myungsoo kembali melaju.

“Apa maksudnya?” tanya Sooji setelah pulih dari keterkejutannya.

Myungsoo tidak ingin menjawab pertanyaan Sooji. Ia pun hanya mengangkat bahunya cuek sembari kembali melangkah.

Ya! Dia ayahmu?” tanya Sooji lagi tak ingin menyerah setelah ia dapat mengatur langkahnya agar bisa berjalan beriringan di sebelah Myungsoo. “Kau benar-benar anak pemilik sekolah?”

Myungsoo tidak menjawab lagi—yah, dia benar-benar tidak berniat untuk menjawab—dan hanya merangkul pundak Sooji hingga bahu mereka bersentuhan.

Sooji merasakan adanya perubahan atmosfer di sekelilingnya. Ia pun diam dan tidak lagi menuntut jawaban karena ia sendiri tahu bahwa Myungsoo tidak ingin menjawabnya. Sebenarnya ia penasaran. Amat penasaran tentang kenapa tiba-tiba Myungsoo pindah ke sekolahnya setelah menyatakan perasaannya, namun ia belum sempat menanyakannya.

Ah, kalau dipikir-pikir, kenapa Sooji bisa berada di dekat dua orang yang membuatnya penasaran dengan pikiran mereka?

¯

“Soojung-ah, kau terluka?” tanya seorang anak laki-laki pada seorang gadis kecil dengan rambut pendek sebahu yang menangis di dekat sebuah mobil sedan yang sudah terbalik tersebut.

    Gadis kecil yang bernama Soojung itu justru menangis semakin keras ketika ia melihat anak laki-laki yang menanyai keadaannya itu berdiri di belakangnya dengan darah yang mengalir dari keningnya dan juga beberapa luka di tangan dan kakinya.

    “Soojung-ah, Minho-ya,”

    Begitu mendengar suara serak yang sangat familiar di telinga Soojung, gadis kecil itu berjongkok tepat di depan pintu mobil bagian depan yang posisinya sudah terbalik. “Eomma…” ucap Soojung dengan suara parau sembari menyeka air mata di pipinya yang basah.

    “Minho-ya,” pandangan seseorang di dalam mobil yang terbalik itu beralih pada anak laki-laki yang hanya memandang mobil terbalik itu dengan tatapan nanar dan takut.

    Anak laki-laki bernama Minho itu melangkah maju dengan perlahan dan sedikit pincang. Kemudian ia ikut berjongkok di sebelah Soojung yang sedari tadi menggenggam—atau mungkin digenggam oleh—tangan ibunya yang berada di dalam mobil terbalik tersebut.

    Ibu Soojung tetap tersenyum sembari menatap Minho walaupun ia sudah terlihat pucat dengan darah di sekitar wajah dan sekujur tubuhnya. Tangan satunya lagi yang tidak menggenggam tangan Soojung terulur ke depan dan membelai rambut Minho dengan rasa sayang seperti Minho adalah anaknya sendiri.

    “Tolong jaga Soojung,” Minho sama sekali tak mengalihkan pandangan matanya pada ibu Soojung. Ia menunggu agar ibu Soojung kembali melanjutkan.

    “Eomma,” sela Soojung sembari menggenggam erat-erat tangan ibunya tersebut. “Eomma, andwae!”

    Melihat tangis anaknya semakin keras, ibu Soojung pun mengusap air mata di pipi Soojung dengan tangan yang tadi ia gunakan untuk membelai lembut puncak kepala Minho. “Maafkan Eomma, Soojung-ah,” ucapnya sembari menahan rasa sakit yang luar biasa karena beberapa tulangnya patah. “Minho-ya, kau anak baik. Bibi mohon padamu untuk selalu menjaga Soojung.”

    Perlahan, pertahanan Minho kecil pun runtuh karena bagaimanapun, ia memang sedang merasa takut saat itu. Air mata pun mulai turun dengan cukup deras di pipinya dengan tubuh yang sedikit bergetar. “Aku… janji, bi.”

    Keringat dingin membasahi pelipis Soojung ketika ia membuka matanya dengan lebar karena—lagi-lagi—ia memimpikan peristiwa beberapa tahun yang lalu. Peristiwa yang membuat orangtuanya meninggal kerena kecelakaan mau yang menimpanya.

    “Kau mimpi buruk.” Ucap Sunghoon ketika ia membuka pintu van bagian belakang, tempat Soojung tertidur beberapa detik yang lalu. Kemudian ia menyodorkan segelas americano coffee pada Soojung setelah ia duduk di kursi di sebelah Soojung dan menutup pintu van.

    Soojung tidak membalas ucapan Sunghoon dan hanya menerima gelas americano coffee tersebut sembari menghela nafas.

    “Kau harus keluar,” Soojung langsung menoleh dengan bingung kemudian melirik jam tangan yang menempel di pergelangan tangan kirinya. Ini bahkan belum waktunya ia harus kembali syuting. Ia diberi waktu istirahat selama dua jam oleh sutradara.

    Seakan tahu apa arti tatapan Soojung, Sunghoon pun kembali melanjutkan. “Sepertinya pemeran Kim Taewon yang menjadi cinta pertama dari peran yang kau mainkan akan diganti.”

    “Wae?” balas Soojung dengan pandangan memangnya-itu-urusanku dan bosan. Namun pandangan matanya masih menyiratkan kegelisahannya akibat mimpinya tadi.

Sunghoon hanya mendecakkan lidahnya gemas karena sikap dingin Soojung kembali seperti awal gadis itu menandatangani kontrak dibawah managemennya. “Kau seperti itu lagi.” Ucap Sunghoon sembari turun dari van.

Soojung hanya menghela nafasnya berlebihan namun ia tetap menuruti ucapan managernya itu untuk keluar dari van dan ‘menyambut’ artis yang tadi dibilang oleh managernya.

“Oh, Krystal-ssi, kau sudah selesai istirahat?” Sutradara yang berada di depan televisi kecil berbasa-basi ketika melihat Soojung yang melangkah menghampiri managernya yang tengah mengobrol dengan salah satu staff dengan gelas americano coffee di genggamannya.

Ne,” sahut Soojung dengan tersenyum ramah dan membungkuk kecil pada sang sutradara.

“Park Sunghoon-ssi sudah memberitahumu tentang pergantian pemain, bukan? Key-ssi akan sibuk dengan konser grupnya, jadi, saya mengganti dengan rookie actor,” Krystal menoleh mengikuti arah pandang sutradara yang melihat ke arah laki-laki yang berkulit pucat yang tengah mendapat intruksi dari staff.

“Dia masih sangat baru di dunia akting, jadi, Krystal-ssi, bekerja sama lah dengannya.” Lanjut sutradara itu tanpa memastika apakah Soojung benar-benar mendengarkan atau tidak.

Wajah laki-laki itu… terasa familiar. Tapi, dimana ia pernah melihat laki-laki itu?

¯

Minho menghela nafasnya dengan berat dan berlebihan sebelum ia beranjak bangkit dari ranjangnya. Bayangan akan Soojung yang menangis di pelukannya kembali terngiang di benaknya entah itu saat mereka mengalami kecelakaan, di dalam bianglala dan kejadian beberapa hari yang lalu saat ia ingin mengatakan perasaannya kembali memenuhi benaknya.

Entah mengapa ia selalu menjadi lemah saat melihat gadis itu menangis. Ia tidak tega untuk meninggalkan Soojung saat ia menangis. Kemudian Minho pun mengacak rambutnya frustasi sembari mendesah. Sebenarnya apa yang terjadi padanya? Guna-guna, huh?

Oppa!”

Ia langsung menoleh ke arah pintu kamarnya begitu mendengar suara adiknya dari luar kamarnya. Dengan tergesa-gesa, ia langsung berdiri dan berlari kecil menghampiri adiknya.

Wae? Kau sakit lagi?” tanyanya panik setelah ia berlutut di depan seorang gadis kecil yang terlihat pucat untuk menyamai tinggi mereka berdua—sebenarnya dengan posisi seperti ini gadis kecil yang kira-kira berumur sebelas tahun itu lebih tinggi darinya.

Ani,” Choi Bohee, adik Minho, hanya menggelengkan kepalanya dengan polos seakan ia tidak tahu apa-apa kemudian menyengir lucu, membuat matanya membentuk bulan sabit dan tertutup poninya depannya yang mulai memanjang. “Aku ingin makan ttotoboki.”

Mendengar kepolosan adiknya, Minho hanya tersenyum dan mengelus puncak kepala Bohee dengan kasih sayang. “Tapi, di luar dingin sekali. Bagaimana kalau kau kena flu?” tanyanya.

“Ayolah, oppa,” rajuk Bohee. “Sekali ini saja,” janjinya sembari menarik-narik lengan Minho.

Arasseo,” ucap Minho akhirnya sambil mencubit pipi tembam Bohee. “Pakai jaket dan syalmu dulu. Oppa tunggu di sini.”

Begitu Bohee berlari kecil menuju kamarnya untuk mengambil jaket dan syal, Minho segera berdiri dan menyambar coat tebal berwarna hitam yang panjangnya sampai menutupi pahanya dan syal berwarna senada yang diletakkan di sofa di ruang tamu dan memakainya.

Tak sampai lima menit, Bohee keluar dari kamarnya dan menghampiri Minho yang menunggunya di dekat pintu. Sebelum kembali menutup pintu, Minho merapikan lagi syal berwarna putih yang melilit di leher Bohee supaya tak ada celah untuk udara malah musim gugur masuk dan menggelitik leher adiknya.

“Akhirnya keluar rumah,” Ucap Bohee dengan senyum lebar di wajahnya.

“Kemarin kan kau baru pergi bersama appa.” Sahut Minho yang membuat Bohee mengerucutkan bibirnya lucu.

Appa mengajakku ke rumah sakit. Mana bisa bermain di sana.” Sunggut Bohee sembari bersedekap.

“Bohee-ya, kau harus banyak istirahat. Pesan dokter begitu, ingat?” sahut Minho sembari menggandeng tangan mungil adiknya.

Bohee mendecakan lidahnya karena mendapat ceramah singkat dari Minho. Ia pun melepaskan gandengan tangan Minho dan melangkah lebih dulu ke depan, meninggalkan Minho yang setengah mendengus dan setengah tertawa melihat tingkah adiknya.

¯

Oppa, aku mau yang pedas!” rengek Bohee ketika ia baru ingin memesan dan langsung ditolak oleh Minho.

“Kau tidak boleh makan pedas, anak nakal,” kata Minho tanpa menoleh pada Bohee dan mengganti pesanan Bohee denga ttotoboki yang tidak pedas.

Aish, oppa tidak seru.” Gerutu Bohee semari membalikkan badannya dan mengedarkan matanya. Dan saat itulah ia menangkap seorang gadis yang mengenakan coat panjang berwarna biru gelap tengah melangkah—seakan—menghampirinya dengan kedua tangannya di masukan ke saku coatnya.

Tanpa memedulikan Minho yang tengah menunggu di depan kios, Bohee berlari kecil menghampiri gadis yang tadi dilihatnya dan menahan ujung coat yang dipakainya ketika Bohee sudah berada di samping gadis itu.

Eonni,” panggilnya dengan senyum imut yang terlukis di wajahnya.

Gadis itu menghentikan langkahnya dan menoleh begitu merasakan bahwa ada yang memegang coatnya dan memanggilnya. “Oh, Bohee-ya?” ucapnya heran campu terkejut. “Kau… tersesat lagi?” tanyanya kemudian.

Ani,” jawab Bohee dengan wajah polosnya sembari menggelengkan kepalanya. “Aku pergi keluar bersama oppaku yang menyebalkan.” Katanya.

Gadis itu hanya tertawa sembari mengacak pelan puncak kepala Bohee yang terlihat benar-benar polos.

Eonni, ayo kukenalkan pada oppaku,” Tanpa meminta persetujuan dari gadis itu, Bohee langsung menarik pergelangan tangannya dan sedikit berlari menghampiri Minho yang berdiri di depan kios dan masih belum menyadari kalau Bohee tidak ada di sampingnya. “Oppa,” panggil Bohee setelah ia berhenti tidak jauh di belakang Minho.

Ketika Minho membalikkan badannya, baik Minho sendiri ataupun gadis itu membulatkan matanya hingga bulat sempurna. “Bae Sooji?” gumam Minho, membuka mulutnya setelah beberapa detik hanya membulatkan matanya dan menatap Sooji tidak percaya.

Kembali dari keterkejutannya, Sooji mengepalkan telapak tangannya di dalam saku coatnya namun tetap berdiri di tempatnya dan menatap Minho. Ia benar-benar tidak percaya dengan apa yang dilihatnya saat ini.

Oppa mengenal Sooji eonni?” tanya Bohee bingung sembari menatap Minho dan Sooji bergantian.

“Apa yang kau lakukan di sini?” tanya Minho pada Sooji tanpa memedulikan pertanyaan Bohee sebelumnya. Sebenarnya ia sedikit terkejut melihat Sooji.

Kemudian Sooji mencoba melepaskan genggaman tangan mungil Bohee di pergelangan tangannya tanpa berniat untuk menjawab pertanyaan Minho. “Bohee-ya, eonni harus segera pulang. Sampai nanti,” katanya lembut pada Bohee yang menatapnya heran. Lalu ia segera melanjutkan jalannya menuju rumahnya dengan langkah besar-besar.

Bohee dan dua wanita yang berdiri di belakang kios sama-sama menatap heran Minho yang tiba-tiba berlari mengejar Sooji. “Oppa dengan pacarnya yang itu sudah putus?” tanya Bohee pada dirinya sendiri, membuat satu wanita dengan menggenggam dua tusuk ttotoboki yang berdiri di belakang kios menatapnya bingung.

Jogiyo,” ucap wanita itu kemudian sembari menyerahkan dua tusuk ttotoboki tersebut.

Bohee pun langsung mengambil dua tusuk ttotoboki tersebut dan menggigit bagian yang paling atas. “Tunggu oppaku kembali baru aku bayar.” Ucapnya dengan mulut penuh dan tetap berdiri di sana menunggu Minho kembali.

Sudut pandang Bae Sooji

“Apa lagi?” tanyaku sembari menghempaskan tangannya yang mencoba menahan pergelangan tanganku. Aku tidak bisa seperti ini. Tidak mau melihatnya lagi setelah apa yang telah ia katakan padaku.

“Sooji-ya, aku mohon. Dengarkan aku sebentar.” Kenapa dia keras kepala sekali, sih?

Aku pun menghela nafas panjang untuk mencoba menenangkan emosiku yang mulai naik. Entah kenapa sekarang aku sensitif sekali. Atau karena cuaca yang mulai mendingin? “Kembalilah. Bohee pasti kedinginan di sana.” Kataku dengan volume suara yang mulai memelan.

Sebelum ia sempat membuka mulutnya untuk berbicara, aku lebih dulu menyelanya dengan suara bersin yang memalukan. Ah, kenapa aku justru bersin di saat seperti ini. Aku tidak tahu bagaimana wajahku, apakah memerah bak kepiting rebus atau tidak. Benar-benar memalukan.

“Kau yang kedinginan.” Aku tidak tahu pasti bagaimana reaksinya karena aku menunduk. Oh, silahkan tertawa sepuasmu. Aku benar-benar tidak peduli.

Namun dugaanku salah. Salah besar—bagaimana mungkin Choi Minho yang dikenal pendiam akan tertawa terbahak-bahak hanya karena melihatku bersin?—karena aku tidak menemukan suara terbahak Minho dan justru merasakan bahwa ada yang melilitkan syal ke leherku sampai hampir menutupi mulutku.

Ketika aku mendongak, aku melihat ia berada dekat sekali denganku—tepat di depanku—sembari membuat syal berwarna hitam ini melindungi leherku dari udara malam di musim gugur. Astaga… kenapa tiba-tiba jantungku berpacu cepat sekali?

“Kau marah padaku?” pertanyaannya membuatku mendengus, membuat kepulan asap dari mulut dan hidungku. Ia benar-benar tahu kapan waktunya untuk bicara atau tidak.

“Aku bohong kalau aku jawab tidak.” Jawabku mencoba jujur. Bukannya aku selalu berbohong, tapi untuk yang pertanyaan yang satu ini kurasa aku tidak perlu menjawab dengan jujur karena toh ia pasti kalau aku marah.

Mianhae,” ucapannya terdengar sangat tulus dengan suara rendah yang membuatku merasa… aneh? Ya aneh. Padahal aku sudah mati-matian ingin melupakan perasaanku padanya, tapi kenapa saat ini dengan mudahnya ia menghancurkan semua usahaku?

“Ya,” aku menahan bibirku agar tak tersenyum. Aku ingin terlihat lebih tegas. Tapi sayangnya, tidak bisa. Aku terlalu terbawa suasana untuk tidak tersenyum. Aku memang mengakui kalau aku ingin mendengar permintaan maaf seperti ini keluar dari bibirnya.

“Boleh aku bertanya sesuatu?” aku menyipitkan mata mendengar pertanyaannya yang tiba-tiba. Setelah aku mengiyakan, ia pun melanjutkan. “Apa kau… benar-benar berpacaran dengan laki-laki—maksudku, Kim Myungsoo?”

Aku terdiam tidak tahu harus menjawab apa. Kenapa tiba-tiba ia menanyakan ini, sih? Memangnya apa pedulinya jika aku dan Myungsoo tidak benar-benar berpacaran? Toh dia memilik Krystal. “Bohee itu adikmu?” tanyaku untuk mengalihkan pembicaraan sekaligus ingin mengalihkan pandangannya yang terus menatapku dalam.

“Oh?” gumamnya sembari memutar badannya untuk melihat adiknya di kios tadi. “Ya, dia adikku.” Setelah aku menanggapinya dengan anggukan kepala dan gumaman kecil, tak ada yang berbicara lagi selama beberapa detik. Jujur saja aku masih penasaran dengan pikirannya. Apa yang dia pikirkan saat ini?

“Tunggu di sini sebentar. Aku akan kembali.” Perkataannya menginterupsi pikiranku yang tengah bertanya-tanya dengan apa yang ia pikirkan saat ini. Setelah aku menganggukan kepala, ia pun langsung membalikkan badan dan mulai melangkah pergi.

Aku tidak tahu apa yang harus kulakukan saat ini. Aku tahu ia pergi sebentar untuk menjemput adiknya dan akan kembali lagi ke sini, jadi aku melangkahkan kakiku menuju pohon yang dikelilingi oleh kursi yang melingkar dan menunggu Minho dan adiknya di sini.

Aku menaikan syal hitam yang melilit di leherku. Bukan karena kedinginan, tapi karena aku merasa nyaman dengan syal ini. Terasa hangat.

Bodoh, ledekku pada diriku sendiri sembari tersenyum seperti orang gila. Aku bahkan sudah mati-matian untuk melupakannya, tapi kenapa dengan mudahnya perasaan itu kembali muncul ke permukaan tanpa meminta izinku?

Perlahan-lahan senyumku memudar karena sudah hampir setengah jam aku menunggu di sini dan Minho ataupun Bohee tak kunjung menampakan batang hidungnya. Memangnya tempat aku duduk dan kios tadi begitu jauh ya?

Kemudian aku berdiri. Mungkin saja mereka tak melihatku di sini dan berniat pulang karena Bohee kedinginan? Tentu saja aku harus berpikir positif. Tapi tentu saja pikiran negatif kadang muncul bergantian. “Minho hanya ingin mempermainkan perasaanku dan pergi begitu saja,” aku tertawa mendengar pikiran itu dalam benakku. Itu tidak benar. Aku yakin Minho adalah orang baik.

Lagi. Aku menghela nafas dan menggosok tanganku, mencoba menghangatkan kedua tanganku yang terasa mulai membeku. Beberapa detik setelah itu, ponselku berdering. Aku langsung menoleh ke kanan dan kiri begitu melihat layar ponselku menunjukan nama Choi Minho di sana.

Yeoboseyeo?” sapaku setelah menjawab telfonnya.

“Sooji-ya, mian,” jangan katakan padaku kalau kau tak bisa datang. “Soojung masuk rumah sakit dan dia terus memintaku datang,” benar-benar tidak datang? “Maafkan aku karena langsung pergi. Pulanglah sebelum kau kena flu.”

Aku tersenyum kecil. Bukan senyum tulus yang mencapai mata. Senyum sedih karena perasaan yang mati-matian aku kubur kini mengapung lagi ke permukaan dan ia benar-benar tidak kembali kemari.

“Aku sudah di rumah,” jawabku bohong dengan suara yang seakan-akan aku tengah berada di kamarku dan mendengar bahwa ia tengah menghawatirkanku. “Aku yang harus meminta maaf.”

“Oh?” aku menangkap nada kecewa dari suaranya. Kenapa ia kecewa? Harusnya aku yang kecewa, bukan kau! Ingin sekali aku meneriakan kalimat itu, tapi tidak mungkin kulakukan.

“Ibuku memanggil. Aku tutup, ya.” Selesai mengucapkan kebohongan itu, aku langsung menutup telfonku dan menggigit bibir bawahku menahan air matanya yang hampir terjatuh dari mataku.

Aku sudah berjanji pada Myungsoo bahwa aku tidak akan menangis karena Minho. Jadi, tolonglah jangan menangis.

Namun ini diluar kendaliku. Air mata itu justru menyusup keluar. Tidak banyak memang, hanya satu tetes air mata di sebelah kanan. Tapi tetap saja kalau Myungsoo melihat ini, ia akan marah padaku. Jadi, aku menengadahkan kepalaku agar air mata tak lagi turun dari pelupuk mataku dan melepas syal yang melilit di leherku, kemudian menaruh syal tersebut di kursi publik yang tadi menjadi tempatku duduk beberapa menit yang lalu. Kemudian aku pun melanjutkan langkah menuju rumah.

Kali ini aku benar-benar tidak habis pikir dengan apa yang telah aku lakukan. Kenapa dengan mudahnya aku menuruti kata-katanya?

“Tunggu di sini sebentar. Aku akan kembali.” Dua kalimat itu kembali tengiang di telingaku. Dan aku menertawai diriku sendiri karena aku percaya ia akan kembali.

“Aku akan kembali.” Ulangku dengan satu hembusan nafas yang membuatku ingin tertawa dan menagis di waktu yang sama.

~TBC~

~Wait another story~

Annyeong^^ hai-haaaai, aku kembali dengan FLP chapter 10~ gimana sama chapter 10nya? Puas yaaa, ini udah panjaaang loh keke. Sebenernya aku mau publish ini setelah aku selesai ujian, bulan depan, tapi aku mikirin gimana dulu aku nungguin ff yang lama banget publish rasanya pengen ngebanting authornya. Jadi, karena udah selesai, buat apa aku tahan di laptop? Mending kan aku publish, yegak?B-)

Nah, aku gak bisa banyak cuap-cuap. Yang jelas buat chapter 11nya, aku gatau kapan lanjut buat karena mau serius ke ujianku karena ujian kemarin nilaiku turun drastis. Jadi, aku mau serius dulu~

Jangan lupa buat kritik dan sarannya yaa^^v

70 thoughts on “First Love Pain – Chapter 10

  1. kenapa banyak krystal yg dibahas..part suzy nya krg byk
    sm myungso sgt sdkit..
    soojung trs..
    next..suzy,myungso dan minho chingu.
    sering bgt soojung yg byk part nya..
    hwaiting

  2. eiy banyakan nyeritain soojung ckck..
    senyum2 sendiri baca pas appanya myungsoo nyapa suzy terus di usir secara halus ama myungsoo.. kkkee~
    aahh penasaraaann jdinya kayak gimana? suzy bakalan ama siapa? minho kah? myungsoo kah?
    lanjutt.. lanjutt..
    smoga sukse buat ujiannya ^^

  3. Annyeong haseo, aku readers baru disini. salam kenal. author aku udah ngikutin ff ini dari part 4 tpi bru bsa komen d part ini. mianhe… soal’x aku juga pke HP si jdi aga susah bwt komen. tpi ff x bgus kok.. bkin gemesss…

  4. Waduh serius deh chapter yang ini pendek :p
    Pertama aku udah seneng kalo chapter 10-nya publish yahh tapi ternyata pendek haha
    Tapi aku suka kok sama chapter yang ini ya walaupun agak jengkel sih sama sifatnya krystal yang egois
    Typo-nya hampir berkurang dan ceritanya makin bagus. Tapi kayanya kamu kebanyakan bikin narasi ya? Inti ceritanya belum dapat karna konfliknya belum terlalu keliatan kan? Menurutku sih hehe😀
    Yaudahlah, aku tunggu chapter 11-nya😀 jangan lama-lama yaa. Semangat ujiannya!!!

    • Pendek ya?._. Chapter 11 aku panjangin deh:D iya, aku juga ngerasa chapter yg ini gak sampe ke inti.-. Sebenernya ragu buat publish, tp ya… Gitu deh(?)
      Hehe neeee, tungguin yaaaa. Gomawooooo:D

  5. waaah , tmbah keren saeng .
    feel nya dpt bgt pas baca cerita ini ..
    ntar ama minho apa myungsoo yaa ? kalo aq sih lbih suka myungzy ..

  6. bagus cingu… dan lumayan makin rumit! itu yang aku suka klo di tengah2… tapi please… jangan sad ending ya…🙂

  7. ahhh sedih, kasian banget suzynya, huhuhu, mino jahat yaT.T, udah suzy ama myungsoo aja, ayo next chapter aku tunggu. oiya aku sih kayanya lbh respect ke myungzy wkwk

  8. yaach part nya Myungsoo dikit😦

    ehmm
    Perasaannya Suzy masi labil (?) ya? Jadi dia masi mengharapkn Minho tp dia jg ingin melupakan Minho?
    Perasaan Suzy ke Myungsoo gmn yaa??

    si Minho jg ga tegas ma Perasaannya ke Suzy *dibayang2in janji buat selalu jaga Krystal sih*jd sebel ma Krystal*

    next part jgn lama2 ya chingu😀

    • hehe gantian kok part-partnya^^ yah…. tanyakan saja pada suzy eon~~
      duh, jangan jadi sebel sama krystal aslinya yaa T_T
      aku selalu usahain buat cepet kokkk, gomawo^^v

  9. ihhh sebel ni soojung, minho disuruh jagainkan bukan hars jadi pacar, sebgai adik jga bisa huh
    myungsoo ketauan ma appanya kekekekek dsar
    lagi2 minho inkar, klau gini trus pesimis kala minzy nih TT
    Lanju chinguuu

  10. sukses ujian nya ya thor . . . ^^
    minho nya bkin nyesek lg , , , makin seru konflik nya . . D tnggu slalu yah next nya hehe

  11. Sumpaah kerren bnget ni FF nya thor….
    Aku maunya Minzy couple!
    Minzy! Minzy! Minzy! *demo gaje.
    Hehe… *reader baru sok kenal.
    Kkkkk~

  12. aku pengunjung baru nih thor disini hehehehhe. ff yang author buat bagus bagus kok ehehehehe lanjutin ya thor . oh iya buat couple aku lebih suka myungzy nih abis minho toh udah punya krystal. tapi apapun ke[utusan author aku dukung kok eheheehehe

  13. Nyesek bgt bacanya thor….sedih spt yg dirasain suzy, baca ffmu seakan2 aq yg baca ini suzy T_T baguuus bgt….baca next chapter yah thor (:

  14. lagi2 minho nyakitin su jie..jd berpikir su jie emang lebih baik sama myungsoo, walaupun dingin n cuek tp g pernah buat su jie sedih..

  15. Aaaahhh sediihhh, apalagi pas adegan yang terakhir..😀 ngena banget ke hatiii . Ah sebenarnya soojung juga kasihan, yah mereka memiliki problem masing-masing.
    Kereen nih ff thor.

  16. Aaaahhh sediihhh, apalagi pas adegan yang terakhir..😀 ngena banget ke hatiii . Ah sebenarnya soojung juga kasihan, yah mereka memiliki problem masing-masing.
    Daebak nih ff thor.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s