First Love Pain – Chapter 9



  • Tittle    : First love pain
  • Author    : EnnyHutami
  • Lenght    : Chapter
  • Rating    : General
  • Genre    : Romance, Sad, Drama
  • Cast    :
  1. Bae Sooji
  2. Choi Minho
  3. Jung Soojung a.k.a Krystal Jung
  4. Kim Myungsoo
  5. And others (Find them self)

© Copyright by EnnyHutami’s fanfiction story 2012

~œœœ~

[Chapter 9]

-Kebohongan ini terus berlanjut-

Sebuah tamparan mendarat di pipi kanan Minho setelah ia menyalurkan emosi yang melandanya dengan ucapan yang benar-benar menyakiti hati Sooji.

Ia menunduk ketika mendapat tamparan itu, tamparan pertama yang ia terima selama ia hidup. Bahkan ketika ia mendengar nafas Sooji yang tidak beraturan karena marah, ia tak berani untuk melihat wajah gadis itu, tak berani untuk melihat air mata yang mengalir di pipi gadis itu akibat ulahnya lagi.

Kemudian setelah mendengar suara bantingan pintu ditutup, ia mengacak rambutnya kesal dan menendang bangsal yang berada beberapa langkah di depannya. Kali ini ia benar-benar membenci dirinya karena tak bisa menjaga emosinya yang sempat meluap di ubun-ubun dan memuat Sooji menangis lagi.

Ia sangat menyadari betapa jahatnya perkataan yang ia ucapkan tadi. Tapi ia benar-benar kehilangan akal. Semua kendalinya lepas akibat tubuh dan otaknya tak saling berkerja sama akibat ia terlalu banyak pikiran dan juga terlalu banyak membuat tubuhnya lemah dengan latihan fisik yang ia lakukan.

Inilah air mata pertamanya untuk seorang gadis. Air mata itu memang tidak mengalir seperti sungai, tapi hanya setetes air mata yang menyusup keluar dari pelupuk matanya. Kini ia menyadari perasaannya sendiri setelah berdebat dengan dirinya sendiri sejak lama.

Kini ia mengakui perasaannya.

¯

Tanpa merasa risih dengan tatapan yang menatapnya bingung saat ia masuk ke dalam kelas tersebut, Kim Myungsoo tetap berjalan masuk dan menghampiri seorang gadis yang tengah berkutat dengan ponselnya.

“Kau teman Bae Sooji, bukan?” tanyanya langsung ke inti begitu ia berada di sebelah meja yang menjadi tempat menopang siku gadis tersebut.

Gadis itu, Choi Jinri, mendongak karena merasa seseorang tengah bertanya dengannya. Mendapati Myungsoo berdiri di depannya, ia mengangguk dengan gerakan perlahan sembari memutar otaknya, menebak apakah ia mengenal orang di depannya ini atau tidak. “Nuguseyeo?” tanyanya kemudian karena otaknya benar-benar buntu untuk menebak.

Myungsoo terdiam dan tak langsung menjawab pertanyaan Jinri. Apakah tak apa jika ia mengaku sebagai kekasih Sooji di sekolah?

Menyadari dirinya tengah diperhatikan, Jinri menoleh ke kanan dan kiri. Dan benar saja, kini orang-orang yang berada di kelasnya—termasuk Eunji—tengah memperhatikannya (mungkin lebih tepat bahwa mereka tengah memperhatikan Myungsoo?) sembari berbisik-bisik dengan teman di sebelahnya.

“Kau kenal dengan Sooji?” tanya Jinri lagi sembari melirik wajah Myungsoo dengan hati-hati.

Setelah selesai berdebat dengan dirinya sendiri, Myungsoo mengangkat wajahnya kemudian mengangguk. “Aku kekasihnya,” ucapanya memang terdengar sangat mantap, tapi hanya dirinya sendiri yang tahu bahwa ia sedikit ragu. Takut Sooji marah karena mengaku sebagai kekasihnya di depan temannya.

MWO?!” Myungsoo mundur selangkah begitu Jinri berteriak cukup keras hingga memekakkan telinganya dan berdiri dengan gerakan cepat. “Bukankah Sooji menyuka—”

“Itu masa lalu.” Potong Myungsoo cepat karena tak mau mendengar lanjutan kalimat Jinri. Ia tahu—bahkan sangat tahu—apa yang akan dikatakan Jinri. “Bisakah kau memberitahuku di mana Sooji sekarang?” lanjutnya dengan nada sedikit dingin dan wajah masam.

“Oh,” gumam Jinri karena masih merasa tidak percaya dengan pengakuan Myungsoo barusan. “Dia… di ruang tari,”

“Karena aku murid baru di sekolah ini, bisa kau antarkan aku ke sana?” tanya Myungsoo lagi. Dari raut wajahnya, ia sama sekali tidak memiliki niat untuk meminta tolong Jinri untuk menunjukan ruangan yang dimaksud melainkan memaksa Jinri untuk menunjukan ruangan tersebut.

Dalam hati Jinri menggerutu habis-habisan. Bagaimana bisa laki-laki ini kekasih Sooji? Batinya kesal. Tapi tetap saja ia mengangguk dan melangkah lebih dulu untuk menunjukan ruang tari.

Jinri menghentikan langkahnya di depan pintu ruangan yang tertutup. Ia tidak memberitahu Myungsoo bahwa ruangan di sampingnya ini adalah ruangan tari dengan mulutnya melainkan hanya menunjuk pintu tersebut dengan telunjuk kanannya.

Myungsoo tidak langsung memutar kenop pada pintu tersebut, hanya tetap berdiri di tempatnya semula dan mengendikkan dagunya dari Jinri ke pintu tersebut.

Mwo?” tanya Jinri kesal karena ia tahu bahwa Myungsoo menyuruhnya untuk memanggil Soojie di dalam sana.

Karena Myungsoo hanya memperlihatkan senyum miringnya agar Jinri mau menuruti perkataannya—lebih tepat jika disebut dengan perintah—namun tidak berkata apa-apa. Sebelum Jinri mengetuk dan memutar kenop pintu, ia menghembuskan nafas kesal meniup poni di keningnya.

Begitu ia membuka pintu dan melongokan sedikit kepalanya agar bisa mengintip ke dalam, ia pun melihat Taemin yang tengah bersenda gurau dengan temannya, namun ia tak melihat keberadaan Sooji di dalam sana. “Taemin…” seruannya untuk memanggil nama Taemin semakin menghilang ketika ia mengingat kejadian beberapa minggu yang lalu, saat liburan musim panas.

Jinri melirik sekilas ke belakang dan mendapati Myungsoo tengah menatapnya heran, kemudian ia berdeham dan berseru, “Lee Taemin!”

Laki-laki berambut cokelat terang yang merasa dipanggil langsung menghentikan aktifitasnya bersama teman sesama klubnya dan menoleh ke arah datangnya suara panggilan itu.

Melihat Jinri yang melongokan kepalanya di daun pintu Lee Taemin langsung bangkit berdiri dan menghampiri gadis itu. “Ada apa?” tanya Taemin dengan suara rendahnya.

“Tidak ada Sooji, ya?” tanya Jinri sembari mengedarkan pandangan ke seluruh ruangan.

“Sooji? Dia ke ruang kesehatan untuk mengambil obat,” jawab Taemin tanpa membuka pintu lebih lebar lagi. “Ada apa?” tanyanya sekali lagi.

Kemudian Jinri menarik pergelangan tangan Taemin untuk menyuruh lelaki itu keluar dari ruangan tersebut. “Ada yang mencari Sooji,” jawab Jinri begitu

Nugu?”

Saat Taemin bertanya siapa orang yang mencari Sooji, Jinri langsung mundur beberapa langkah dan menunjuk Myungsoo yang berdiri menyandar pada tembok dengan dagunya. “Katanya, dia kekasih Sooji,” bisik Jinri kemudian. Walaupun pelan, tapi jarak mereka yang berdekatan tentu saja membuat Myungsoo mendengus saat mendengarnya.

Kemudian Jinri pun berbalik untuk menghadap Myungsoo. “Sooji ada di ruang kesehatan,” ucapnya.

“Ruang kesehatan?” Myungsoo memicingkan matanya begitu ia mendengar kata ‘ruang kesehatan’. Ada apa dengan gadis itu sampai ia berada di ruang kesehatan? Sakit atau cedera?

“Dia tidak apa-apa,” kali ini Taemin angkat bicara. Raut wajahnya masih menyiratkan bahwa ia heran. Myungsoo benar kekasih Sooji atau hanya mengaku-ngaku saja? “Boleh aku bertanya sesuatu?” pertanyaan Taemin yang tiba-tiba membuat Jinri menoleh dengan terkejut, namun tidak pada Myungsoo yang mengerti apa yang tengah dipikirkan Taemin.

“Mungkin lain kali,” sahut Myungsoo sambil lalu dan mulai melangkah menuju ruang kesehatan—kali ini ia tahu dimana ruangan tersebut—dengan cuek.

¯

Sooji tidak tahu harus melangkah kemana. Ia tak tahu banyak tempat yang sepi di sekolahnya kecuali atap gedung barat sekolahnya yang—katanya—gelap dan berhantu. Jadi, ia pun melangkah melewati koridor yang dikiranya sepi dan masuk ke dalam toilet perempuan di lantai lima yang memang biasanya sepi.

Sepanjang langkah kakinya dari ruang kesehatan, Sooji terus menundukkan kepala agar wajahnya tertutup oleh rambut panjangnya. Air mata terus saja mengalir dengan perlahan di pipinya, tapi ia menahan mulutnya dengan telapak tangannya agar ia tidak terisak.

Mungkin kalau seseorang tidak menahan tubuh Sooji yang hampir terjatuh ketika ia menabrak seseorang saat menaiki tangga, kini ia tengah berguling-guling di anak tangga. Bukannya berterima kasih karena tubuhnya sudah ditahan agar tidak jatuh dan juga meminta maaf karena berjalan sembari menunduk sehingga tidak memperhatikan jalan, Sooji justru kembali berjalan setelah seseorang itu sudah melepaskan tangannya dari sisi lengan Sooji.

Sooji menghentikan langkahnya, namun tidak membalikkan badan, ketika pergelangan tangannya ditahan.

“Kau kenapa?” begitu mendengar suara yang sudah tidak asing lagi di telinganya, Sooji pun melepaskan tangannya yang membungkam mulutnya sendiri dan mulai menyuarakan isakannya.

Myungsoo yang memang tengah mencari Sooji dan mendapatkan gadis itu bersikap aneh dengan berjalan menunduk dan menutupi wajahnya dengan rambut langsung menarik pergelangan tangan gadis itu—yang memang tengah ia genggam—hingga gadis itu berada dipelukannya.

Sembari mengelus rambut Sooji, diam-diam Myungsoo menghela nafas dengan matanya yang memutar sinis. Ini sudah tiga kalinya ia melihat Sooji menangis. Ia yakin sekali bahwa kali ini karena Minho. Memang siapa lagi selain laki-laki itu?

Cukup lama Sooji menangis di pelukan Myungsoo—bahkan sampai bel usainya jam istirahat terdengar. Kemudian Myungsoo melepaskan pelukannya dan menyuruh Sooji duduk di salah satu anak tangga dengan ia menyusul duduk di sebelah Sooji.

Hari pertama masuk di sekolah ini Myungsoo sudah membolos pelajaran. Tapi mana dia peduli dengan itu? Ia hanya ingin menenangkan gadis yang duduk di sebelahnya saat ini.

“Berjanji padaku untuk tidak menangis karena dia,” pinta Myungsoo ketika isakan Sooji mulai mereda. Rencananya untuk membuat kejutan akan kepindahannya berantakan karena seorang Choi Minho.

“Tidak, kali ini berbeda,” sanggah Sooji dengan suaranya paraunya bekas menangis.

“Orang lain yang membuatmu menangis?” tanya Myungsoo dengan alis matanya terangkat satu. Kalau memang bukan Minho yang membuat Soojie menangis, ini benar-benar membuatnya kehilangan muka sangking malunya karena menuduh sembarangan.

“Bukan. Memang dia. Tapi…” Sooji menggantungkan kalimatnya. Ia tidak tahu harus menjelaskan bagaimana. Ia kan tidak tahu apa yang akan dilakukan Myungsoo ketika tahu Minho merendahkannya seperti tadi.

Tiba-tiba Myungsoo berdiri sembari menjilat lidahnya sendiri dan menaruh kedua tangannya di saku celananya. “Aku tidak mau dengar alasanmu,” katanya. “Yang jelas, kau harus berjanji padaku untuk tidak menangis karena dia.”

Arasseo,” sahut Sooji sembari menggerutu tak jelas. Myungsoo pun diam-diam tersenyum melihat Sooji—yang memang masih kacau akibat menangis—saat gadis itu memutar bola matanya.

¯

Untuk menghabiskan dua jam pelajaran yang mereka berdua lewatkan, Myungsoo pun mengajak Sooji ke ruang musik—tentu saja Sooji masih harus menunjukan jalan pada Myungsoo.

Sepanjang perjalanan melewati koridor panjang sekolah, Sooji seakan lupa dengan kejadian beberapa menit yang lalu. Kejadian yang membuatnya sakit hati dan akhirnya menangis lagi. Myungsoo benar-benar seperti obat untuknya. Obat di saat ia ingin melupakan masalah ataupun kejadian buruk yang baru saja terjadi. Laki-laki itu memang selalu berkata sinis dengan nada suara yang datar, tapi itulah yang membuat Sooji melupakan hal lain ketika bersama Myungsoo.

Sooji bertanya-tanya dalam hati apakah gadis-gadis lain yang menyukai Myungsoo juga merasakan seperti ini? Apakah ia gadis yang beruntung karena Myungsoo menyukainya? Ia tidak tahu jawabannya. Bahkan Myungsoo sendiri juga tak akan pernah tahu jawaban dari pertanyaan tersebut jika Sooji dengan terang-terangan bertanya padanya.

“Untuk apa kemari?” tanya Sooji setelah ia masuk ke dalam ruang musik yang kedap suara dan Myungsoo tengah menutup pintu.

Myungsoo tidak langsung menjawab. Ia melangkah melewati Sooji dan menghampiri sudut yang memajang berbagai jenis gitar. Setelah melihat-lihat jenis gitar yang ada di ruangan tersebut, Myungsoo langsung mengambil satu gitar, kemudian menarik kursi dan duduk di sana dengan gitar berada dalam pelukannya.

“Kau bisa main gitar?” tanya Soojie dengan raut wajah yang meremehkan.

Myungsoo tidak menanggapi pertanyaan Soojie yang menurutnya hanya seperti gurauan, dia hanya menarik kursi lainnya hingga berada di depannya dan menepuk bagian alas kursi tersebut, mengisyaratkan Sooji agar duduk di sana.

“Oh ya, aku belum bertanya kenapa kau pindah sekolah kemari,” ucap Sooji sembari mengambil ancang-ancang untuk duduk di kursi yang tadi ditepuk oleh Myungsoo namun matanya tak lepas dari wajah Myungsoo.

“Karenamu,”

“Apa?” tanya Sooji untuk memastikan sekali lagi bahwa pendengarannya tidak salah karena Myungsoo menjawabnya pertanyaannya dengan cepat.

Myungsoo tidak menjawab—tidak ingin mengulangi ucapannya tadi. Ia menundukan kepalanya melihat gitarnya dan mulai memetik senar gitar tersebut untuk membenarkan nada-nadanya, lalu kembali mendongak menatap Sooji dengan senyumnya—bukan senyum sinis atau apapun. Senyum itu terlihat… nyata? Ini pertama kalinya bagi Sooji melihat senyum itu dari Myungsoo.

“Ingin ku nyanyikan lagu apa?” tanya Myungsoo dengan senyum yang masih bertahan seperti beberapa detik yang lalu.

Sooji mengalihkan pandangannya dengan gaya cuek yang aneh karena menahan degup jantungnya yang mendadak berdetak cepat. Ia berdeham agar suara tak terdengar gemetar karena gugup, kemudian berkata, “Terserah kau saja.”

¯

Selama pelajaran berlangsung, Minho terus saja melirik ke arah bangku kosong di sebelah Jung Eunji. Entah kenapa ia merasa gelisah dan menyesal. Perasaan ini tentu saja jarang dialami oleh Minho karena memang ia tidak terlalu peduli dengan orang-orang di sekitarnya.

Tentu saja Jinki yang duduk di sebelah Minho merasakan keanehan dari sikap Minho yang terus saja mengela nafas dan menggerakan jari-jarinya beberapa menit sekali. Jinki pun kemudian mengikuti arah pandang Minho yang melihat ke samping, bukan ke depan dan melihat papan tulis.

Lagi-lagi Minho menghela nafas.

Ada apa lagi dengan Minho dan Sooji? Batin Jinki tak berani mengeluarkan suaranya karena guru yang tengah mengajar adalah salah satu dari beberapa guru yang mendapat julukan ‘mematikan’.

Setelah bel berdering dan guru tersebut keluar dari kelas wajah yang ditekuk karena belum menyelesaikan materi untuk hari ini, barulah Jinki menoleh pada Minho dan berkata, “Hari ini kau aneh.”

Tahu ucapan tersebut ditunjukan untuknya, Minho langsung menoleh pada Jinki dengan pandangan heran.

“Aku curiga kalau alasan Sooji tak memasuki kelas selama dua jam adalah ulahmu.” lanjut Jinki lagi dengan kata-kata yang menuding Minho.

Minho tidak menjawab, namun tangannya mengepal untuk menahan emosinya—yang lagi-lagi—sudah berada di ujung ubun-ubun. Ia tak mau kehilangan kendali lagi makanya ia tak menyahuti perkataan Jinki. Hari ini emosinya sedang tidak stabil.

“Hei, dengarkanlah sebentar,” protes Jinki karena Minho tak menunjukan reaksi yang ia harapkan, justru lebih parah. Untuk mengabaikan perkataan Jinki yang menudingnya, Minho memasang earphonenya dan membesarkan volumenya dari mp3 playernya agar tak bisa mendengar suara Jinki.

Namun begitu Sooji masuk ke dalam kelas sebelum ada guru yang masuk dengan wajah sumringah tidak seperti tadi, Minho langsung mengecilkan volume suara mp3 playernya.

Jinki yang melihat perubahan raut wajah Minho ketika Sooji datang langsung memberhentikan mulutnya yang sedaritadi berbicara dan ikut memperhatikan Sooji yang datang dengan senyum kecil manisnya.

Mereka berdua pun memasang telinganya lebar-lebar untuk mencuri dengar apa yang akan diobrolkan oleh Sooji, Eunji dan juga Jinri yang memutar tubuhnya hingga menghadap ke belakang.

“Darimana saja kau?” tanya Eunji begitu Sooji duduk di kursi di sebelahnya.

Sebelum Sooji sempat menjawab, Jinri sudah lebih dulu meluncurkan pernyataan dari bibirnya. “Hei, tadi ada seseorang yang mencarimu. Katanya dia pacarmu.”

Jinki yang mendengar perkataan Jinri tersebut langsung melirik Minho yang menundukan kepalanya dengan buku di hadapannya. Seakan membaca buku tersebut, tapi Jinki yakin matanya tidak benar-benar membaca buku tersebut dan telinganya terbuka lebar untuk mendengarkan pembicaraan dari tiga orang gadis yang duduk tidak jauh di depannya.

“Pacarku? Maksudmu Kim Myungsoo?” tanya Sooji untuk memastikan dengan wajah polosnya, membuat Eunji dan Jinri gemas. Mungkin kalau Myungsoo tidak memberitahu bahwa dia bilang pada

“Jadi benar kau punya pacar?!”

“Dia benar pacarmu?” tanya Eunji dan Jinri berbarengan dengan suara yang cukup keras hingga seluruh orang yang berada di kelas menoleh pada mereka bertiga tidak terkecuali Minho dan Jinki. Bahkan teman yang duduk di sebelah Jinri pun ikut memutar tubuhnya menghadap ke arah Eunji dan Sooji.

Setelah melihat Taemin yang berdiri dan kemudian menghampiri para gadis tersebut karena penasaran, Jinki menoleh pada Minho yang—masih—beroura-pura cuek dengan membaca buku.

“Kau tahu kalau Sooji mempunyai kekasih?” tanya Jinki.

Minho tak langsung menjawab, ia menoleh dengan wajah datarnya kemudian berkata, “Kalau kau menyukainya, sainganmu bukan aku melainkan kekasihnya itu.” Setelah mengucapkan kalimat yang terkesan dingin itu, Minho kembali membesarkan volume mp3 playernya sampai guru lainnya masuk ke dalam kelas.

¯

Menepati janjinya dengan Myungsoo, setelah bel tanda istirahat kedua terdengar Minho langsung beranjak berdiri dan melangkah menuju tempat yang dijadikan tempat Myungsoo ingin berbicara.

Myungsoo sedang berdiri dengan kedua tangannya dimasukan pada saku celana ketika Minho datang dengan langkah pelan dan teraturnya. Namun, sepelan langkah Minho itu, tetap saja Myungsoo dapat mendengarkan suara langkah kaki di belakangnya—entah karena telinga Myungsoo yang dapat mendengar suara sekecil apapun atau memang langkah Minho yang menimbulkan suara walaupun langkahnya pelan dan teratur.

“Ada apa?” tanya Minho langsung ke inti. Ia tidak ingin lama-lama berada di hadapan Myungsoo mengingat emosinya sedang tidak stabil hari ini.

“Aku tahu kau menyukai Sooji.” Itu bukan pertanyaan. Jadi, Minho diam dan menunggu agar Myungsoo melanjutkan ucapannya. “Kau milik Soojung dan Sooji milikku. Bisakah kau menjauh darinya?”

Minho memutar bola matanya mendengar suruhan Myungsoo. Tidakkah ia terdengar egois? Batin Minho.

Hampir saja Myungsoo melangkahkan kakinya untuk pergi, ia melupakan sesuatu hal yang ingin ia katakan. “Tentang Soojung… aku tidak tahu apa masalah kalian. Tapi apapun masalah yang sedang kalian hadapi, kuharap kau menghargai perasaannya kali ini.” Kemudian ia pun pergi meninggalkan Minho yang tertohok akibat ucapan Myungsoo barusan.

Minho tahu apa maksud dari perkataan Myungsoo. Laki-laki itu sama sekali tidak mengharapkan Minho untuk menghargai perasaan Soojung melainkan perasaan Sooji. Pernyataan yang benar-benar menjurus.

Tapi pertanyaan yang muncul di benaknya kini adalah apakah Myungsoo tahu bahwa Sooji sebenarnya juga menyukainya? Itukah sebabnya Myungsoo bersikap seperti ia adalah laki-laki overprotective pada Sooji yang notabenenya adalah kekasihnya?

¯

Bunyi decitan keras khas air yang sedang dipanaskan sudah mendidih membuat Jung Soojung berlonjak kaget karena suara yang tiba-tiba tersebut. Ia yang sedang duduk santai di sofa di ruang tamu apartemennya sembari menonton televisi bergegas berdiri dan melangkah menuju dapurnya sambil menguncir rambutnya tanpa menyisakan sehelai pun, bahkan di keningnya sekalipun.

Kemudian Soojung mematikan api di kompor tersebut dan menyambar sarung tangan anti panas untuk melindungi tangannya dari panas sebelum ia mengangkat gagang ceret dan menuangkan setengah dari air panas tersebut ke dalam mangkuk besar yang terbuat dari kaca transparan. Kemudian ia membawa mangkuk tersebut ke ruang tamu dan tak lupa sapu tangan berbahan seperti handuk atau mungkin bisa dibilang sebegai handuk kecil.

Ini adalah kebiasaan uniknya setelah ia pulang dari aktivitasnya. Mengusap wajahnya dengan air hangat untuk merilekskan otot-otot pada wajahnya yang kotor akibat debu di luar rumah.

Ia menghela nafas legas begitu handuk kecil yang baru dicelupkan air panas tersebut menempel pada wajahnya. Hari ini begitu lelah. Inginnya ia ingin tidur dari sekarang dan bangun besok pagi, tapi sayangnya, jadwalnya tidak sedang mengizinkannya untuk bersantai sampai besok pagi. Malam ini ia ada syuting untuk sitcom yang ditayangkan setiap akhir minggu.

Bunyi dentingan dari arah pintu apartemennya yang menandakan bahwa baru saja ada yang membuka pintu membuatnya menoleh namun handuk kecil masih ditempelkan pada pipi kanannya. “Kau sudah pulang?” tanyanya sembari melanjutkan aktivitasnya dan mengalihkan pandangannya kembali ke televisi.

Heran karena kakaknya tidak menyahut, ia kembali menoleh ke arah pintu. Matanya membulat sempurna begitu dilihatnya sosok Choi Minho yang berdiri di sana, bukan kakaknya, Jung Sooyeon. “Oh, oppa?” pekiknya terkejut sampai ia langsung berdiri. Baru kali pertamanya Minho mengunjungi apartemennya walaupun ia sudah memberitahu password untuk bisa masuk ke rumahnya.

“Tidak masalah, bukan, aku kemari?” tanya Minho dengan canggung karena ini pertama kalinya ia datang kemari selama kurang lebih empat tahun mereka bersama.

“Tentu saja tidak!” sergah Soojung dengan senyum lebar yang mengembang di bibir mungilnya. “Aku bahkan sangat menunggu-nunggu saat oppa datang kemari.”

Minho terdiam, tidak tahu apa yang harus ia katakan lagi. Sudah empat tahun mereka bersama, tapi tetap saja hubungan mereka tidak pernah menunjukan kemesraan layaknya pasangan kekasih yang lainnya dan justru semakin terasa canggung saja karena keduanya memikirkan hal yang membuat mereka khawatir.

Walaupun Soojung senang karena akhirnya Minho datang ke apartemennya, tapi perasaan khawatir justru menghantuinya. Tapi ia membuang rasa khawatir itu ia buang jauh-jauh aga tak mengganggunya lagi.

Kemudian ia melangkah menuju lemari pendingin di dapur untuk mengambil minuman apa saja yang ada di dalam sana. “Kenapa oppa tak memberitahuku lebih dulu jika ingin datang?” Tanya Soojung setelah ia mengambil minuman kaleng milik kakaknya dan membanting pelan pintu lemari pendingin.

“Hanya ingin datang,” jawab Minho singkat tanpa mengalihkan pandangannya dari Soojung yang tengah melangkah kembali setelah mengambil minuman di dapur. “Dan ingin bicara sebentar denganmu.” Lanjutnya setelah Jieun menaruh gelas berisi—mungkin—sirup di atas meja dan menyuruhnya duduk di sofa empuk di ruang tamu apartemen Soojung.

Minho tidak menuruti suruhan Soojung untuk duduk, masih tetap menatap ekpresi Soojung yang tiba-tiba berubah ketika ia mengatakan ingin bicara.

Tentu saja Soojung membeku di tempatnya. Senyumnya langsung menghilang karena kecurigaannya terbukti. Tidak mungkin Minho datang kemari hanya dengan alasan ‘hanya ingin datang’.

Setelah beberapa detik Soojung menunduk, akhirnya gadis itu mengangkat wajahnya yang ternyata memasang ekpresi datar namun kontras akan kesedihannya. Ia pun melangkah menghampiri Minho dan berjinjit untuk menggapai dan mencium bibir Minho kemudian memeluknya.

Minho diam. Tidak menolak pelukan Soojung ataupun membalasnya. Hanya dia dengan pandangan kosong lurus ke depan. Namun, ketika terdengar isakan kecil dari Soojung, Minho mengangkat tangan kanannya untuk menenangkan Soojung yang menangis.

Oppa,” gumam Soojung di tengah tangisnya. “Mianhae.”

~TBC~

~Wait another story~

Annyeong‼! Aku bawakan FLP chapter 9~~~~ masih kurang panjang? Wetseh, ini sudah kubuat panjaaang (well, Cuma nambah dua halaman sihxD) tp kalo kepanjangan kan malah ngebosenin, mending pendek—gak deh, mendeing standar aja(?). Oke, aku mulai ngelantur. Nah, puas sama cerita di chapter ini atau enggak?._. hem… mulai dari chapter ini, aku bakal ngebuka sifatnya Minho (gak banyak sih, cuma sedikit-sedikit jadi bukit~) dan di sini Krystal mulai aku munculin lagi~~ ohya, ada yang ngeh gak kalo kayaknya hubungan Suzy-Myungsoo makinmakinmakin(?) mau aku buat mereka jadis beneran apa gak aja nih??? Heheh gak deng, untuk urusan itu biar aku yg nanganin aja yaaa(?)~~

Hem… segini aja yaa:D untuk chapter selanjutnya aku usahain secepatnya karena aku blm lanjut lagi. jadi, RCL benar-benar aku harapin dari kalian:3 see ya next chapter and story.

73 thoughts on “First Love Pain – Chapter 9

  1. Akhirny d.post jg…

    Ah ak suka minzy sma myungzy jd bngung deh..kystal prgi ajadeh hihi.

    Bruan lnjut lagi chingu jgn lama2🙂

  2. ya tuhan, aku galau…
    myungsoo minho bikin galau. dua2nya cocok buad suzy tapi ah tau ah galau ah
    di panjangin lg donk saeng, oh ya betewe bus way jgan lpa mampir di FF eon ya
    #promosi
    di tunggu kunjunganya.kekekeke

  3. akh
    stelah dtggu lamanya..krg pnjang chingu..
    panjangin lg dong next part
    lama bgt updatenya..
    kelamaan :((
    go myungzy..go minzy jg
    ah galau
    dtggu next nya
    #jgn lama2 yaa

    • Eh? Serius?._. Untuk series biasanya aku pake 10-12 halaman loh. Kelamaan ya?._. Aku sih maunya publish 2 minggu sekali, tp karna kegiatanku selain nulis lumayan banyak, jadi susah jug:(
      Neee:D aku usahain cepet kok^^

  4. oh ya
    next part banyakin part suzy myungso dan minho chingu..
    part ini kbanyakan sudut pndang penulisnya..hehee
    krg byk adegan suzy nya..

    • Aku emang sering buat pake sudut pandang penulisnya, kalo buat pake sudut pandang minho/myungsoo malah takutnya mereka terkesan kecewean-_-v kan castnya gak cuma suzy:)
      Btw, makasih udah baca+komen yaaa:D

  5. wah akhirnya di next ..
    lumayan saeng dr pada part sbelumnya yg ini cukup lah panjangnya ..
    tp kalo boleh saran jangan terlalu banyak narasinya , bikin agak lama masuk ke inti ceritanya . jd terkesan lamaa dan gak masuk2 ke intinya ..
    aq cuma saran aja ko jangan marah yaa saeng cuma kasih pendapat aja ^^

    • Hehe:D next chapter kayaknya bakal lebih panjang deh eon^^
      Kebanyakan ya?.-. Yah… Kalo langsung ke dialognya malah jadi aneh kalo menurutku, soalnya banyak ff/novel yg aku baca emang yg penting semacem narasi gitu.-.
      Ne eon:D namanya msh belajar, jadi pasti aku msh butuh saran/pendapat gitu kok^^

  6. Yah min lama banget nunggunya-_- hampir setengah bulan *bener gaksih*
    Chapter yg ini sih aku suka banget pas Myungsoo ngaku jadi pacarnya Suji, apalagi pas Myungsoo nyuruh Minho jauhin Suji wkwk
    Doh kasian Minho, siapa suruh gak mau nerima Suji duluan

    Okedeh, ditunggu next chapternya😀 jangan lama-lama thor

    • Bukannya cuma 2minggu ya? Aku rasa ini termasuk cepet._.v
      Aku juga suka yg ituuuu kkk apalagi pas dia minta suzy janji biar gak nangis grgr minho lagi:$
      Neee:D aku usahain cepet kok^^

  7. Duh susah deh kalo dlm satu ff ada suzy – minho – myungsoo. Bingung milihnya ><
    Author aku suka chapter ini, makin seru! Tapi nyesek banget baca partnya Minho. Kasian bgt dia. Pengen deh sekali2 baca POV nya Minho. Kekekee
    Semangat lanjutinnya yah ^^

  8. yah thor, aku juga gatau suzy harus sama siapa. keduanya cocok untuk suzy. tapi kalau dilihat dari cerita sih lebih baik kisah bohong-bohongan antara myungzy di kadikan beneran aja, secara myung selalu ada di saat suzy senang maupun sedih *cieelah kkkkk.

  9. chapter nie bikin tambah galau.
    Tp kesini-sini aku lebih suka Myungzy.
    Cara myungsoo nunjukin perhatiannya ke suzy tu hlo keren + cool😀

    sejak awal aku uda penasaran ma pikirannya minho, jd tlg diungkap ya chingu🙂

    • Kekeke jangan galau yaaa^^ ah, cowok idaman bgt kaaan (ˆ▿ˆʃƪ) hem… Disini minho misterius, bahkan aku gak ngerti sama jalan pikirannya dia(?) Neee, aku usahain bakal ngungkapin kook:D

  10. Kyaaa……ini keren bgt!chapter 10 jgn lma2 yh dipublishx ….
    Mian bru RCL dipart ini,sebenerx mw RCL dri part 1.tpy karna udah ampe’ part 9, jdx RCL part 9x aja sekalian….

  11. eonni.. i’m come back heheh 😀

    yeah.. akhirnya dipost jgag..
    aku suka part ini eonni..
    kayaknya FF ini makin rumit jln critanya

    antara Minho dan Myungsoo..
    galau deh Suzy nya ..
    minho bikin suzy nangis, trus myungsoo jadi obat buat suzy biar suzy gk nangis ..
    penasaran banget eonni siapa yg bakal dipilih suzy.
    ditunggu next part eonni 😀

  12. aduh minho baru deh nyeselnya kmaren2 kmn😦
    sekrang ada myungsoo yg ngehubur zy, ap zy bkl nglupain minho TT Knpa yg galau Q ya TT
    MINHO OR MYUNGSOO???? bINgung TT
    mINHo mo ngomong ap chingu ke kristal, lanjuttt

  13. ahh Onnie !
    Sekali-kali biar Minzy yang MENANG napa ? Hehehe *maksa-amat*
    Minho nya bener2 nyebelin, plin plan gtu dah😛
    tapi tetep, 4 Jempol saya untuk Onnie ^^
    semangat terus ngelanjutin nya yak, Onn ?

    • Iya saeng iya ampun._.vvvv iya bener, geregetan aku sama karakternya minho disini errr
      4? Uehehehe makasih ya saeng:333 siaaaaap!!! Eonni selalu semangat kok^^

  14. Akhirnya di post jugaaa . .

    Final myungzy aja deh thoorrr . . .
    Suka bgt nih sm kta”nya myungsoo yg blg jgn nangis lg krn minho,aduh sweet bgt.
    Suzy jg nurut”lucu gt blg arraseo.
    Aaaaa ciat ciat ciat bisa gila sm couple ini.

    Percepat next chap yah.

  15. Akhirnya di post jugaaa . .

    Final myungzy aja deh thoorrr . . .
    Suka bgt nih sm kta”nya myungsoo yg blg jgn nangis lg krn minho,aduh sweet bgt.
    Suzy jg nurut”lucu gt blg arraseo.

    Percepat next chap yah.

  16. Emang sengja bikin galau nih authornya hiihihi….myungsoo sweet bgt disini,minho telaaat siih nyadarnya klo sbnrnya dia suka sama suzy…makin penasaran, lanjut baca next chapter yah thor, gomawo ((;

  17. aku udh komen tp mlah g k publish..greget sama internetny..huhu..
    Kata2 minho nyakitin..untung myungsoo dtg dwaktu yg tepat jd su jie jd ceria lg..aku berharap mereka jd bisa saling suka..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s