First Love Pain – Chapter 8


  • Tittle    : First love pain

  • Author    : EnnyHutami

  • Lenght    : Chaptered

  • Rating    : General

  • Genre    : Romance, Sad

  • Cast    :

  1. Bae Sooji

  2. Choi Minho

  3. Jung Soojung a.k.a Krystal Jung

  4. Kim Myungsoo

  5. And others (Find them self)

Copyright © Ennyhutami’s fanfiction storyline 2012

~œœœ~

[Chapter 8]

-Kurasa aku mulai membencimu-

 

Sudut pandang Bae Sooji

Atmosfer di antara aku dan Myungsoo menjadi sedikit lebih kaku saat kami masih berada di dalam bianglala. Tapi setelah turun, saat itu hari sudah gelap karena matahari sudah benar-benar menghilang, keadaan kembali normal seperti biasa.

Kini kami hanya berdua saja karena Minho dan Krystal pulang lebih awal karena Krystal kelelahan. Aku sebenarnya heran, kenapa Krystal tak mengisi waktu liburnya untuk beristirahat? Aku tahu pasti ia sangat sibuk dengan urusan entertain dan sekolahnya. Kalau aku jadi dia, sih, aku lebih memilih bersantai di rumah dibandingkan pergi untuk double date seperti ini.

Saat kami tengah melangkah untuk keluar dari lingkungan Lotte World, aku menoleh ke kiri dan mendapati sebuah mesin yang di dalamnya terdapat boneka dengan berbagai macam bentuk dan ukuran. Dan, mataku langsung berkilat saat melihat boneka beruang yang cukup besar berada di dalamnya. Jadi aku pun menahan Myungsoo dengan menarik ujung jaketnya.

Mwo?” tanyanya dengan pandangan heran.

Aku tidak membuka suaraku untuk menjawabnya melainkan menunjuk mesin permainan dengan telunjukku sembari menampakkan cengiranku padanya. “Yang besar itu,” tanpa aku menjelaskan maksud perkataanku barusan pun ia pasti mengerti.

Shireo,” sahutnya sambil lalu dan kembali melanjutkan langkahnya yang sempat terhenti, membuatku mendelik pada punggungnya dan mendecak sebal.

Aish, orang itu benar-benar…” bagaimana aku tidak menggerutu melihat sikapnya yang aneh? Tak ada satu jam berlalu sejak dia menyatakan perasaannya padaku dengan yah… tatapan yang teduh dan suara rendah yang lembut, kini ia kembali bersikap menyebalkan.

“Memangnya aku tak bisa mengambilnya sendiri?” gumamku sembari memanyunkan bibirku untuk mengejeknya kemudian tak mengikutinya dan justru menghampiri mesin—yang sebenarnya aku tak tahu apa namanya—yang di dalamnya terdapat banyak boneka.

Setibanya aku di depan mesin tersebut, aku langsung merogoh beberapa koin dari dalam tas tanganku kemudian memasukkan koin tersebut pada lubang kecil di dekat tabung kaca berisi boneka-boneka tersebut.

Jujur saja, sebenarnya aku tak bisa mengendalikan mesin ini. Bahkan pernah aku mencoba beberapa tahun yang lalu, tapi mesinnya sama sekali tak bergerak. Aku tidak tahu apakah mesinnya yang rusak atau aku yang tidak bisa menggunakannya.

Setelah memasukkan koin, aku pun menekan tombol merah dan mencoba memutar analog, mengarahkan analog tersebut pada boneka paling besar. Namun sayangnya aku gagal. Pengait di dalam tabung itu sama sekali tidak menyentuh satu boneka pun. Tapi, setidaknya pengaitnya bergerak yang itu tandanya ada sedikit kemajuan dariku.

“Kau benar-benar…” aku menoleh dan langsung menyengir lebar begitu mendengar suara Myungsoo yang kedengarannya jengkel. Kemudian dia langsung menghampiriku dan menggantikan tempatku berdiri hingga dengan senang hati aku menggeser pijakanku berdiri.

Tak perlu sampai percobaan kedua dan seterusnya, ternyata ia bisa mendapatkan bonek yang kuinginkan hanya dalam sekali mencoba. Woah. Dia hebat ya!

Senyumku merekah semakin lebar ketika ia membungkuk untuk mengambil bonekanya kemudian menyodorkan boneka tersebut padaku. Dengan sangat senang hati, aku mengambil boneka itu dan memeluknya—yah walaupun bonekanya tidak terlalu besar hingga aku bisa memeluknya dengan dua lengan.

Gomawo,” ucapku sembari tersenyum semanis mungkin dengan menampakan sedikit gigiku. Setelah melihat ia hanya membalasku dengan senyum miringnya, aku langsung melangkahkan kakiku melewatinya untuk berjalan lebih dulu sembari memeluk boneka ini dengan sebelah tanganku.

Tiba-tiba aku merasa bahwa kerah bajuku ditarik dari belakang sehingga aku pun mundur beberapa langkah sembari mengerang. Aku tidak tahu apa yang ia pikirkan saat ini, dia tidak berbicara apapun ketika aku berbalik dan memprotes perlakuannya. Namun protesanku terpotong ketika ia melempar jaket berwarna biru dongker yang ia pakai tadi dan langsung melangkah melewati bahuku.

Melihatnya bersikap seperti itu, aku hanya bisa memberikan reaksi seperti mendengus dan menggerutu kecil. Dia itu terlalu malu untuk sekedar bilang “sudah malam, pakai jaketku” atau bagaimana, sih? Dan dia kan bisa langsung memakaikan jaketnya pada pundakku. Tidak melemparnya seperti ini. Aish!

Karena ia sudah melangkah cukup jauh tapi masih dalam jarak pengelihatanku, segera aku memakai jaketnya dan berlari kecil menghampirinya sembari berseru, “Ya, Kim Myungsoo! Tunggu aku!”

¯

Selama liburan musim panas aku benar-benar mengurung diriku di rumah. Sesekali aku pergi keluar bersama eomma untuk berbelanja, entah itu belanja pakaian baru untukku atau menemaninya belanja untuk keperluan rumah dalam satu bulan.

Bosan? Tentu saja aku bosan. Siapa yang bilang tidak jika selama liburan aku tidak pergi kemana-mana. Hanya di rumah. Tak ada liburan yang berarti.

Maka saat sepatu ketsku menginjak rumput basah pada pagi hari di sekolah, senyumku tak henti-hentinya merekah. Ah, aku sangat merindukan Eunji dan Jinri. Apa liburan mereka menyenangkan atau justru sama denganku?

Begitu kakiku menapak pada lantai di dalam kelasku, aku disambut dengan bisik-bisik heboh dari teman-temanku—tentu saja bukan membicarakanku. Aku menatap heran pada teman sekelasku yang sedang bergerombol di kursi baris kedua dari depan sembari menaruh tasku di atas meja.

Setelah aku duduk di tempatku, tiba-tiba saja Eunji keluar dari gerombolan tersebut dan langsung duduk di tempatnya, di sebelahku.

“Ada apa dengan mereka?” tanyaku. Yah… walaupun aku tidak bertanya begitu, aku yakin sekali dia akan menceritakan apa yang sedang mereka lakukan. Tapi kurasa aku harus bertanya kali ini.

“Aku dengar ada murid pindahan di kelas dua,” kata Eunji dengan menggebu-gebu. Asumsiku, murid pindahan ini laki-laki tampan seperti model-model murid-pindahan-yang-langsung-populer-karena-tampan. “Dan kabarnya, dia anak dari pemilik sekolah,”

“Benarkah?” gumamku dengan nada acuh tak acuh. Aku memang tidak terlalu tertarik dengan berita seperti itu. Memangnya kenapa kalau dia murid pindahan dan juga anak dari pemilik sekolah? Sama sekali tidak berpengaruh pada nilai-nilaiku, bukan?

“Dan dia juga tampan!” benar bukan asumsiku? Baiklah. Ayo dengarkan ocehannya tentang anak baru itu. “Well, aku memang belum melihat tampangnya. Tapi tadi Eunkyung melihat anak baru itu. Katanya dia tampan sekali. Lebih tampan dari Minho,” aku mendelik ketika ia mengucapkan kalimat terakhirnya dengan suara pelan sembari menyenggolku.

Aish,” gerutu sembari mengerucutkan bibir. Kenapa pula ia kembali mengungkit nama Minho? Walaupun aku sudah berusaha untuk melupakannya—dan perlahan berhasil—tapi tetap saja rasa sakit karena aku tahu aku tak bisa bersamanya muncul, barang rasa sakit itu hanya secuil.

“Memangnya Eunkyung yakin murid yang ia lihat itu murid pindahan? Bisa saja kan dia senior yang belum pernah dilihat Eunkyung sebelumnya,” aku tidak salah, bukan? Benar. Aku memang tidak salah berkata karena Eunji kini memasang wajah berpikirnya. “Memangnya Eunkyung hafal semua wajah senior?”

Kemudian aku hanya menahan tawaku karena melihat Eunji menggelengkan kepalanya dengan ekpresi wajah yang lucu setelah ia mengakhiri pikirannya.

“Lalu bagaimana dengan murid pindahan itu? kurasa itu bukan gosip saja,”

Aku hanya mengendikan bahuku tak acuh. “Sejak kapan aku mengurusi murid yang pindah ke sekolah ini?”

Aish,” aku mendengarnya bergumam. Dan aku juga tahu ia pasti memutar bola matanya padaku walaupun aku tidak memandang ke arahnya melainkan memandang ke arah daun pintu ketika merasa seseorang masuk ke dalam kelas.

Minho.

Saat aku menoleh padanya, tatapan kami bertemu. Walaupun ia tidak langsung memalingkan wajahnya dan justru balas menatap mataku, tapi tatapannya sangat datar. Karena tak kuat bertatapan dengan matanya, akulah yang pertama kali berpaling. Membuang pandanganku pada Jinri yang baru datang dan langsung duduk di kursinya yang berada di depan Eunji.

“Sooji-ya, tadi aku melihat laki-laki yang kau temui saat di bus menggunakan seragam sekolah,” ucap Jinri.

Aku menaikkan sebelah alisku sembari menatap Jinri dengan pandangan heran. Kutemui di bus? Kapan? Siapa?

“Oh, mungkin aku salah lihat,” ucapnya lagi sebelum aku berkata apa-apa. Kurasanya ia membaca dengan jelas raut wajahku yang kebingungan.

Sudut pandang penulis

Minho menghentikan langkah kakinya ketika seseorang menghalangi jalannya—walaupun tidak benar-benar menghalangi. Seorang laki-laki yang wajahnya sudah tak asing lagi bagi Minho itu kini memakai seragam yang sama seperti miliknya. Walaupun Minho memiliki perasaan tak suka ketika ia berhadapan dengan laki-laki di depannya ini, tapi ia masih bersikap sopan dan membungkuk sedikit kemudian kembali melangkahkan kakinya menuju kelasnya.

Sebelum ia benar-benar melewati bahu laki-laki tersebut, Minho menghentikan langkahnya lagi ketika ia mendengar laki-laki itu berbicara dengan suara pelan.

“Aku butuh bicara denganmu,” ucap laki-laki itu pelan dengan suara beratnya sehingga mungkin saja hanya Minho yang bisa mendengar ucapan laki-laki itu. “Istirahat kedua di belakang sekolah,”

Setelah mendengarkan, Minho kembali melanjutkan langkahnya. Dalam hati ia bertanya-tanya apa yang ingin laki-laki itu bicarakan dengannya dan bagaimana ia tahu tempat yang biasanya sepi di sekolah ini padahal Minho yakin sekali bahwa laki-laki itu adalah murid pindahan.

Entah karena hari ini adalah hari pertama masuk sekolah setelah liburan musim panas atau bagaimana, tapi ketika Minho masuk ke dalam kelasnya, ia disambut dengan suara gaduh yang ditimbulkan teman-teman sekelasnya yang sudah datang. Padahal biasanya, sebelum liburan, Minho selalu disambut keadaan kelas yang sepi ketika ia datang.

Tidak sengaja, matanya dan mata Sooji saling berpandangan ketika ia tengah mengedarkan pandangannya ke seluruh sudut kelas. Ia sama sekali tidak bisa melepaskan tatapan matanya dari mata Sooji. Terlalu disayangkan jika ia berpaling dari mata seindah itu.

Namun ketika Sooji membuang tatapan matanya ke arah lain, dalam hatinya merasa kecewa namun wajahnya tetap menunjukkan ekpresi datar yang sedikit pudar. Kemudian ia menghela nafas dalam-dalam setelah ia duduk di kursinya, memikirkan apa yang terjadi pada dirinya.

Kenapa ia merasa kecewa ketika Sooji mangalihkan tatapannya? Kenapa ia merasa cemburu ketika Sooji berada di dekat laki-laki lain? Kenapa ia tak menyukai lelaki yang berstatus sebagai kekasih Sooji? Dan kenapa mudah sekali untuknya mengatakan bahwa Sooji adalah gadis yang istimewa, tanpa memikirkannya terlebih dahulu?

Pertanyaan-pertanyaan itu berputar dibenaknya, seakan tengah menertawakan dirinya yang bodoh karena tak bisa menerka apa yang sedang terjadi pada dirinya, membuatnya sakit kepala karena harus memutar otaknya kuat-kuat.

¯

Sekali lagi ia mengerjapkan matanya begitu merasakan bahwa matanya terasa panas dan perih. Kali ini cukup lama sehingga Jinki yang berada di sebelahnya menatapnya dengan pandangan khawatir. Begitu ia membuka matanya, ia kembali mencoba melihat lensa pada mikroskop dan menyiapkan tangannya yang memegang pensil untuk menggambarkan apa yang ia lihat melalui lensa tersebut.

“Minho, kau baik-baik saja?” tanya Jinki yang melihat perubahan wajah Minho yang kini terlihat pucat.

Minho hanya menganggukan kepalanya tanda ia menjawab bahwa ia tidak apa-apa. “Hanya sedikit lelah,” katanya sembari duduk di kursinya di ruang laboratorium biologi.

“Taemin! Ayolah, jangan main-main,” seru Jinki ketika Taemin tengah melihat mikroskop milik kelompok Sooji, Eunji dan Jinri. “Kemari!”

Taemin hanya berdecak kecil sembari menggerutu tak jelas dan mengerucutkan bibirnya lucu, yang mungkin membuat wanita-wanita yang lebih tua dari Taemin di luar sana gemas. “Ya, tanpa bantuanku pun kalian bisa menyelesaikan tugas, bukan?” sindirnya pada Jinki dan Minho yang memang sedari tadi tak membiarkannya untuk melihat lensa mikroskop tersebut barang sedetikpun.

“Pengelihatanku buram saat melihatnya, dan Jinki tak bisa menggambar. Kau saja yang teruskan,” kata Minho tanpa memperdulikan sindiran Taemin sebelumnya. “Hanya perlu meneruskan menggambar beberapa organel selnya,”

“Kurasa kau harus periksa mata,” sahut Taemin sembari mendekatkan wajahnya pada tabung kecil mikroskop. Setelah itu tak ada yang bicara lagi di antara mereka, Taemin sibuk melihat sembari menggambar, Jinki sibuk memperhatikan gambar Taemin, dan Minho sibuk menyatat fungsi-fungsi organel yang tengah digambar Taemin dari bukunya.

“Hei, wajahmu benar-benar pucat,” ketika Jinki berkata seperti itu dengan pelan, Taemin langsung mengangkat wajahnya dari mikroskop dan menoleh pada Minho yang terus saja mencatat dan tidak memedulikan ucapan Jinki. “Aku yakin selama liburan kau tak berhenti latihan untuk turnamen, bukan?” lanjut Jinki, mencoba untuk menarik perhatian Minho.

“Ah, itu benar-benar kau, Choi Minho,” ucap Taemin acuh tak acuh sembari menarikan tangannya dengan lincah di atas bukunya. “Sebaiknya kau ke ruang kesehatan untuk beristirahat.”

¯

Suara bisik-bisik bagai sarang lebah dan tatapan heran bercampur kagum memenuhi telinga dan pandangan Kim Myungsoo ketika ia tengah berjalan menyusuri lorong panjang sekolah menuju kantin.

Tujuan utamanya ke kantin sebenarnya karena ia ingin menemui Sooji, bukan untuk membeli makanan atau minuman. Kemungkinannya memang tidak besar untuk ia bisa menemukan Sooji di kantin karena ia tidak tahu bagaimana kebiasaan gadis itu jika berada di sekolah—yah, sebenarnya ia juga tidak tahu kebiasaan yang Sooji lakukan.

Begitu masuk ke dalam kantin dan mengedarkan pandangannya ke setiap sudut, ia mendesah kecewa karena ia tak mendapati seseorang yang ia cari. Hanya mendapati wajah-wajah asing yang tidak pernah ia lihat sebelumnya.

Ia pun memutar tubuhnya lagi untuk keluar dari kantin dan melangkah ke segala arah untuk mencari Sooji. Ia bertanya-tanya dalam hati, jika apakah Sooji populer di sekolah sehingga banyak yang mengenal dirinya atau tidak—oh! Kenapa baru terpikir olehnya dari tadi? Minho dan Sooji berada di kelas yang sama, bukan? Dan… menurutnya, Minho cukup populer di sekolah karena ya… walaupun cukup berat untuk mengakuinya, minho cukup tampan.

Jadilah ia kini menghampiri dua murid perempuan yang keduanya memakai kacamata baca tengah mengobrol di luar kelas.

“Permisi,” ucap Myungsoo mencoba sopan pada dua murid yang kini menatapnya dengan heran. “Apa kau tahu dimana kelas Minho?”

“Minho?” ulang murid yang memiliki dagu panjang dan tidak berponi. “Minho siapa? Kau kenal?” tanyanya pada teman di sebelahnya.

Ah, ya, Myungsoo lupa nama belakang Minho. Jo, Choi atau Cho?

“Aku tidak pernah dengar,” jawab murid satunya lagi sembari menggeleng dengan wajah polos seakan ia baru dilahirkan dan tidak tahu apa-apa.

“Oh,” desah Myungsoo dengan suara dan raut wajah yang tertera jelas bahwa ia kecewa dengan jawaban yang ia dengar. “Baiklah, terima kasih,” lanjutnya sembari menundukkan kepala dengan sopan dan meneruskan langkahnya.

Lehernya selalu memanjang ketika ia melewati ruang kelas dan matanya mengedar dengan cepat namun teliti. Namun ketika ia melewati ruang-ruang khusus seperti ruang musik, ruang guru, ruang klub-klub, gymnasium, dan ruang kesehatan, ia sama sekali tak tertarik untuk memanjangkan lehernya untuk sekedar mengintip.

Begitu ia hendak melangkah melewati ruang kelas satu, ia kembali mundur dan melihat ke dalam kelas sekali lagi untuk memperjelas siapa gadis yang ia lihat barusan. Begitu yakin, ia pun masuk ke dalam kelas tersebut dan menghampiri gadis tersebut.

¯

“Kenapa aku?” protes Sooji sembari menunjuk dirinya sendiri ketika Taemin dan beberapa seniornya menyuruhnya untuk mengambil obat luka di ruang kesehatan untuk Taemin yang sekarang tengah duduk berselonjor di lantai klub tari.

Hari ini, pada jam istirahat pertama, klub tari memang mengadakan rapat kecil untuk memilih ketua klub tari yang baru karena ketua klub tari yang lama sudah harus melepas jabatannya dikarenakan sudah semakin sibuk dengan ujian akhir yang akan dilaksanakan beberapa bulan lagi.

Sooji menatap seniornya dan Taemin secara bergantian dengan wajah keheranan. Mungkin bagi orang-orang yang tidak tahu akan mengira seniornya yang akan menggantikan posisi ketua klub, tapi sayangnya kenyataannya tidak seperti itu.

Seperti biasa, Taemin yang memang tak bisa diam, begitu masuk ke dalam ruang klub ia menggerakkan tubuhnya dengan lincah walaupun ia masih mengenakan seragam. Namun begitu Sooji datang dan mencoba mengagetkan Taemin, laki-laki itu terkejut hingga membuat kakinya terkilir dan sedikit tergores.

“Aku bahkan tak menyentuhnya,” lanjut Sooji untuk membela dirinya.

Beberapa seniornya memutar matanya sakartis mendengarkan belaan Sooji untuk dirinya sendiri, sedangkan Taemin hanya menahan kekehannya dengan menunduk sehingga tak ada yang menyadari ia terkekeh. “Kau kan tidak harus mencari hantu. Hanya mengambil antiseptik di ruang kesehatan,” celetuk seniornya yang membuat Sooji menghela nafas dan menurut.

Arasseo,” sunggut Sooji mengalah dan mulai melangkahkan kakinya menuju ruang kesehatan di lantai dasar. “Aku baru naik ke lantai tiga dan sekarang harus turun ke lantai satu,” gumamnya kemudian mendengus sebal saat ia menuruni tangga. “Aku bahkan yakin sekali kalau Taemin hanya berpura-pura. Aish, anak itu memang benar-benar!”

Derakan khas pintu terbuka terdengar memenuhi ruang kesehatan ketika Sooji membuka pintu dan mengintip sedikit ke dalam. Sepi, tak ada dokter sekolah yang biasanya selalu berada di ruangan ini.

Annyeonghaseyeo,” ucapnya dengan suara pelan namun tak juga beranjak dari daun pintu. Begitu tahu tak akan ada yang menyahut salamnya, ia pun menutup pintunya dengan pelan dan langkah masuk ke dalam untuk mencari antiseptik yang disuruh oleh seniornya.

Ia pun menghampiri rak penuh berbagai macam botol obat-obatan dan mengamati tiap tingkatan rak dari yang paling atas sampai paling bawah. Tidak menemukan di rak tersebut, matanya mengedar dan mendapati rak yang lebih besar penuh botol-botol yang berlabel putih berada di ujung di dekat bangsal ketiga—satu-satunya bangsal yang tirainya tidak ditutup.

Begitu berada di depan rak tersebut, ia langsung mencari botol antiseptik dan juga plester. “Ini dia,” gumamnya sembari mengulurkan tangannya ke depan. Ia memang tak begitu tahu nama obat yang sedang ia cari, namun ia tahu bagaimana bentuk dan warna botol tersebut. Dan berhubung seniornya bilang ia antiseptik, jadi ia juga menyebutnya antiseptik.

Kebetulan sekali di sebelah botol-botol antiseptik tersebut ada plester, jadi ia mengambil dua dan memasukkannya dalam saku blezernya. Kemudian ia berbalik untuk kembali ke ruang klub tari di lantai tiga.

YA!” teriaknya begitu merasa ada tangan yang menarik lengannya hingga botol antiseptik itu terjatuh dan dirinya kini berada di belakang tirai putih.

Jantungnya berhenti berdetak ketika melihat orang yang menarik tangannya. Wajah laki-laki yang kini berdiri di hadapannya itu terlihat sedikit pucat dan lelah, tapi juga terlihat jelas bahwa laki-laki di hadapannya itu baru bangun dari tidurnya.

“M-minho-ya, k-kau kenapa?” tanyanya dengan gagap karena begitu terkejut dengan perlakuan yang diterimanya tiba-tiba dan pergelangan tangannya yang masih digenggam oleh Minho.

“Kau benar-benar menyukainya?” bukannya menjawab pertanyaan Sooji, Minho justru balik bertanya. Pertanyaan yang langsung ditunjukkan ke intinya tanpa basa-basi terlebih dahulu.

“Apa maksudmu?” tanya Sooji tak mengerti sembari mencoba melepaskan genggaman tangan Minho yang membuatnya risih. Awalnya memang Minho tidak menggenggam tangannya dengan kencang, tapi setelah Sooji menggerakkan tangannya dan mencoba untuk melepaskan diri, Minho justru memperkuat genggamannya hingga membuat tangan Sooji terasa perih.

“Kau menyukai kekasihmu itu?” Minho mengulang pertanyaannya tanpa memedulikan Sooji yang sudah memekik kesakitan.

“Dia—” Sooji langsung menutup mulutnya lagi sebelum ia memberitahu bahwa dirinya menyukai Myungsoo. Ya, Sooji sangat tahu apa maksud dari pertanyaan Minho. Dan entah mengapa, kini ia tidak ingin Minho tahu bahwa ia dan Myungsoo telah berbohong tentang hubungan mereka.

Kemudian Sooji yang sempat menghentikan gerakan memberontaknya, kini kembali memberontak mencoba melepaskan pergelangan tangannya dari genggaman (mungkin kini bisa dibilang cengkraman) Minho sembari melanjutkan kalimatnya—namun tidak sama dengan apa yang ingin ia katakan sebelumnya. “Bagaimana mungkin aku tidak menyukai kekasihku sendiri?”

Sooji langsung mendongak menatap Minho yang cengkraman tangannya mengendur dan terjatuh bebas di kedua sisi tubuhnya dengan pandangan bingung bercampur takut karena perubahan sikap Minho. Ia tidak tahu apa yang terjadi dengan laki-laki itu setelah mendengar sahutan pertanyaan yang dijawabnya. Yang jelas laki-laki itu terus menatapnya dengan pandangan yang tak bisa ia tebak.

Marah, kecewa, atau mungkin… tersinggung? Tapi untuk apa semua itu? Ia bertanya-tanya dalam hati. Apakah ada yang tidak beres dengannya?

Sooji sama sekali tidak mengira dengan apa yang akan dikatakan Minho selanjutnya. Ia kira Minho akan pergi meninggalkannya di sini begitu saja tanpa mengucapkan sepatah katapun. Tapi diluar dugaannya, Minho justru berbicara panjang lebar lagi. Tatapan mata yang tadi sempat menunjukkan kebingungan akan perasaannya sendiri kini berkilat, membuat Sooji mundur selangkah karena melihat tatapan mata itu.

“Kapan kalian mulai bersama? Aku bertanya-tanya bagaimana mungkin kau bisa menyukai dua orang sekaligus dalam waktu yang bersamaan. Bukankah kau terlihat terlalu murahan?”

~TBC~

~Wait another story~

Maaaaaaaaaf, sekali lagi aku minta maaf karena nahan chapter 8nya lamaaaaa banget. Yah, aku sama sekali gak ada maksud nahan, sih. Chapter 8 sebenernya udah selesai dari beberapa minggu yang lalu, tapi aku sama sekali gak sempet buat buka laptop buat ngepublish. Ada kesempatan waktu itu buat ngepublish, tapi malah internetnya lagi eror. Bisa mindahin cerita di dashbor blog tapi gabisa buka dashbor buat ngepublish T_T jadi, aku minta maaf sebesar-besarnya.

Halangan lagi buat chapter 9nya, aku baru buat setengah cerita untuk kelanjutannya. Ide ceritanya ngalir terus tapi mau nyusun ke bahasa yang bagus tuh rasanya susah bangeeeet ditambah aku mulai lirik-lirik buat bikin cerita lain. Ada dua cerita lain yang lagi aku buat, jadi FLP selesai, masalah buatku adalah galau mau publish yang mana duluan. Apa yg castnya Kwangmin-OC-Sehun atau Taemin-IU-Baekhyun. Hayolo… aku binguuuung >.<

Oke, selesai dengan curhatan panjang lebar dariku. Semoga kalian mengerti dan… jangan lupa pilih ff yg bakal ngegantiin FLP kalo udah selesai ya biar akunya gak bingung mau lanjut yang mana. Terima kasih~ *sebar Minho (L punyaku:p)*

59 thoughts on “First Love Pain – Chapter 8

  1. ah..akhirnya dipost jg part 8 nya..
    tiap hari ngecek ini wp brharap udah dipost..akhirnyaaa….
    bagus chingu
    arkhh..ini dulu deh diselesaian ya..
    knpa cerita lainya gak suzy jg..
    ah gak bgtu smngat kalo gak suzy..
    buat suzy lgi ya chingu
    yg ttg beneran anggota girlband..
    plisss
    *hope

    • maaf ya kalo lamaaa banget publishnya._.v iya, kan setelah ini selesai baru aku lanjut yg lain, yg penting kerangka ceritanya ada:D
      wah… kalo itu aku gak bisa janjiin, tapi aku usahain deh buat yg ada suzynya:D makasih udah baca+komen^^

  2. yeahh..
    akhirnya setelah sekian lama nunggu, ff nya dipublish jgag😀
    penasaran eonni.. sebenarnya minho knapa ??
    trus myungsoo ny gimana ??

    suzy suka ama siapa sih eonni ??
    *ngarep MyungZy🙂
    ditunggu next chap eonni 😀

    eonni ..
    mian agak nyimpang dikit,,, tapi buatin ff lagi eonni yang main cast nya suzy ama siapa aja yg penting member EXO
    Jeball.. 😀

    mian request bnyak eonni.
    tapi klo bisa dibuatin y eonni😀
    plissss 😀

  3. akhirnya di post jga.. Myungsoo kya’a dingin tpi perhatian jga.. Ska sma karakter myungsoo.. Suzy suka ga ya sma myung,aish.. minho ko mikirnya suzy cewe murahan..ditunggu part selanjutnya

  4. Duh tor, lama banget ngepublishnya. Sampe gak sabar nunggunya, malahan chapter 8nya dikit eh wks *plak
    Tapitapi kasian Suji ya dibilangin murahan sama Minho, tega banget si katak. Yaudah Suji kasih ke Myungsoo aja
    Ditunggu ya chapter 9nya😀

  5. Huaa
    akhrnya keluar jg stelah skian taun..hahahahay
    og jd gnie thor..minho kasar amat kata”nya..deg”an bacanya..
    Di tUnggu next part.nya thor

    huaa
    aq gak pernah baca FF kalo cast.nya bukan suzy thor..hehehey
    jd aq gak miliH..
    Bkin FF suzy lg dong thor..jebaaalll

  6. author kau jahat sekali sehingga baru di publish T.T, semoga chap 9 gak lama. maaf ya thor ini penjelasannya terlalu bertele tele, misalnya dipov suzy udah ada kata itu dan dipov minho ada lg, kalo menurut aku mending dikasih penjelasan nya atau dia, dan kalo mau pergantian pov kata”nya juga gak usah diulang. maap bgt ya thor, bkn maksud aku gak ngargain ya🙂

  7. author jahat banget baru di publish sekarang T.T semoga chap 9 cepet ya, maap ya thor, pas pergantian pov agak terlalu bertele tele, misalnya kata” ini udah ada di pov suzy trus diulang lg di pov minho, kalo mau pake nya atau dia aja soalnya buat ke konfliknya jd lama, map bgt ya thor, bkn maksud aku gak ngargain🙂

    • MaaafT.T gapapa:D aku kan bisa buat next chapnya biar gak bertele2~ jadi… Karna aku msh amatiran, aku blm begitu ngerti sama urusan pergantian pov._.v jadi mungkin aku bakal ganti povnya jadi author pov semua aja ya:D
      Makasih udah dikasih tau^^

  8. kyaaa knapa minho tega bnget bilang gtu ma zy ><
    huh gara2 taemin nih, coba gag ke UKS
    Lanjut chingu, ayo myungsoo …..
    masih ngarep en happ minzy ^^v

  9. huaa thor , lamanyaaa part 8 ini .
    pendek banget😦 panjangin min , wahh padahal lagi seruu trakhirnya ehh kaget tiba” TBC ….
    next ya thorr , critanya keren smakin kompleks …

  10. akhirnya d post ff nya dtnggu bgt , , , kata kata minho yg trakhir bkin nyesek , , jad pngen cpet cpet bca next nya penasaran bgt . .

  11. Uwooaaah akhirnya dipublish juga…
    ini makin seru suwer.. Minho mulai ngaku kah?? Kyaaa penasaran. Tapi kok endingnya begitu yah? Apa chapter depan si minho bakal digampar? Diinjek kakinya atau malah dicekek sama Suzy :O yaudah update soon yah, semangaaaat^^
    Ps: btw main cast di next ff kalau bs suzy aja lagi yah author, biar rame & feelnya dpt.. heheee #request

  12. Onnie !
    Saya kembali , dung dung dung~ kung kung kung~ *abaikan*
    Mian, telat komen🙂
    I like story nya banget dah, semakin ga bisa ditebak !!
    WEW~ Emosi Minho yg seperti itu makin bikin GREGET deh..
    Lanjutannya sangat ditunggu, Komen.nya adalah : Jgn LAMA-LAMA publish nya dong, Onnie ! ^^
    Mian kalao protes, Gomawo ^^

    • Annyeong saeng~~~ jengjengjeng(?)
      Hehe makasih yaaaa, lanjutannya sangaaaaat diusahain buat cepet selesai kooook:)
      Gapapaa, aku juga sering protes ke author lain yg publish ffnya lama sampe berbulan2._.v

  13. aduh galau melanda saeng.kekekeke
    minho kasian amat yak, tapi myungsoo juga ahhh bingung. mending mereka berdua buad saiiia aja yah #plakkkkk
    jangan lama lama yaaa saeng…
    uh ya untuk pengantina tergantung sinopsisna gmna saeng. tp kyakna sih taemin -IU – ma baekkie

  14. aigo~ jinjja… knp inho’y bilang gitu ke suji.. hemmm jd makin penasaran….
    makin seru.. Daebak thor.. (Y)
    ff selanjut’y suzy lg dong thor… pairing’y siapa z deh terserah author.. ea ea ea jebal.. *maksa bgt* .-.v

  15. mianhe baru comment
    awalnya agak bingung hehehe tapi bagus kok chinguu🙂
    mau buat FF lagi ya ???
    udah lama neh chingu ga buat ff yang cast kwangmin jadi kwangin aja ya chingu kalo ada ff lagi udah kangeeeenn hehehe ^^
    fighting

  16. Kadang mulut sama hati gk sejalan….minho itu lg cemburu khn thor? Hehehe….aq hanya baca ff yg ada suzy-nya klo gk ada gk baca coz I love suzy so much :p dipair-ing ama siapa aja aq suka esp sama minho n exo ((:

  17. yaaah..lg seru2ny minho marah malah tbc..hufh..
    Myungsoo ngeliat siapa y druang kelas 1, suzy kah? Mdh2n iya..hehe..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s