First Love Pain – Chapter 7


 

  • Tittle    : First love pain 

  • Author    : EnnyHutami 

  • Lenght    : Chaptered 

  • Rating    : General 

  • Genre    : Romance, Sad 

  • Cast    : 

  1. Bae Sujie 

  2. Choi Minho 

  3. Jung Soojung a.k.a Krystal Jung 

  4. Kim Myungsoo 

  5. And others (Find them self) 

Copyright © Ennyhutami Fanfiction 2012

 

~œœœ~

 

[Chapter 7]

 

-Mengubah perasaan tidak semudah membalikkan telapak tangan-

 

Sudut pandang penulis

 

Sujie berdiri di depan lemarinya yang terbuka dengan pandangan tak puas. Ia baru menyadari bahwa hampir semua jenis pakaian miliknya mirip, hanya berbeda warna dan variasinya, namun modelnya hampir-hampir mirip.

 

Ia mendesah kemudian melirik ke arah jam dindingnya. Ia memang tidak menganggap hari ini ia akan berkencan, tapi setidaknya ia ingin terlihat sebanding dengan Soojung nanti—atau mungkin kalau bisa, ia terlihat lebih cantik.

 

Jadi, ia pun akhirnya mengambil rok seatas lutut berwarna biru tua dengan polkadot putih untuk bawahan dan kaus tanpa lengan berwarna putih dengan gambar beberapa balok nada yang simpel untuk atasan. Kemudian memakainya dan berpatut pada cermin rias di kamarnya.

 

Beberapa menit telah berlalu setelah ia memakai pakaiannya dan memoles wajahnya dengan riasan tipis yang terlihat natural di wajahnya, namun ia sama sekali tak beranjak dari tempatnya dan hanya menatap bayangan dirinya yang terpantul di cermin di depannya sembari menghela nafas berat.

 

Alasannya untuk terus menghela nafas setiap beberapa detik sekali bukan karena ia akan pergi berdua dengan Kim Myungsoo melainkan karena sekelebat bayangan Minho dan Soojung bergandengan tangan muncul di benaknya, membuat lukanya yang belum terobati kembali melebar—walaupun begitu, ia tetap mencoba untuk kuat.

 

Ketika terdengar suara khas pintu terbuka, Sujie memutar tubuhnya dan mendapati ibunya tengah memperhatikannya dengan senyum yang terlihat ramah dan damai. “Hei, ada yang menunggumu diluar,” ucap ibunya tanpa beranjak dari daun pintu di kamar Sujie. “Kau akan berkencan?” goda ibunya kemudian setelah melihat Sujie yang duduk di depan meja rias dengan pakaian yang rapih.

 

Eomma,” rajuk Sujie dengan mengurucutkan bibirnya lucu, membuat ibunya terkekeh melihat tingkah anak semata wayangnya ini kemudian melangkah menuju ranjang putrinya dan duduk di tepi ranjang.

 

“Jangan meggodaku dan aku tidak sedang berkencan.” Lanju Sujie sembari melompat kecil untuk berdiri. Kemudian ia tersenyum di hadapan ibunya sembari menepuk kecil roknya lalu memutarkan tubuhnya. “Bagaimana penampilanku?” tanyanya.

 

Aigoo,” decak ibunya melihat tingkah Sujie. Barusan saja Sujie menyangkal bahwa ia tidak sedang berkencan, namun tak ada satu menit setelah penyangkalan tersebut, ia memperlihatkan ke ibunya bahwa ia memang sedang berkencan. “Putri ibu selalu cantik,” jawab ibunya dengan nada bangga yang tersirat dari ucapannya.

 

“Aku tahu,” sahut Sujie dengan nada yang tak kalah bangga dari ucapan ibunya. “Baiklah, aku pergi dulu. Annyeong, eomma,” lanjutnya sembari mengambil tas tangan yang sudah disiapkan di atas kasurnya kemudian keluar dari kamarnya tanpa menutup pintu.

 

Sementara Sujie tengah berjalan untuk keluar dari rumahnya, ibunya masih berada di kamar Sujie dan mengintip Myungsoo yang berdiri di dekat pagar rumah dari jendela. Melihat dari cara berdiri Myungsoo saja ibunya sudah tahu bahwa laki-laki itu bersifat cuek dan dingin. Tapi bukankah laki-laki yang cuek dan dingin hanya akan menatap satu gadis yang disayanginya lebih dari sekedar teman?

 

¯

 

“Aku tidak menyangka Oppa benar-benar setuju dengan double date seperti ini,” ucap Soojung ketika Minho datang dengan membawa dua cup minuman asal itali yang disukai oleh hampir kebanyakan remaja dan dewasa di seluruh dunia.

 

Setelah Minho duduk dan memberikan cup satunya untuknya, ia pun langsung meminum kopinya dengan mata yang tak lepas dari wajah Minho, menunggu laki-laki itu mengeluarkan suara untuk menjawab pertanyaannya.

 

“Kurasa kau perlu liburan,” jawab Minho singkat dengan wajah yang sama sekali tak menunjukkan ekpresi. Seperti patung yang bisa bicara.

 

Tak puas dengan jawaban Minho barusan, Soojung pun kembali bertanya, “Double date? Aku bahkan merasa bahwa itu konyol. Tapi kenapa Oppa tidak menolak usulku kemarin?”

 

“Kenapa kau mengusulkan kalau berpikir bahwa ini konyol?” pertanyaan yang dijawab oleh pertanyaan oleh Minho membuat Soojung menunduk dan mengerucutkan bibirnya. Ia sangat tahu bagaimana sifat Minho, bahkan terkadang ia merutuk dalam hati kenapa Minho memiliki sifat seperti itu. Tapi… ia sendiri tak tahu kenapa ia tetap bertahan untuk terus berada di samping laki-laki itu.

 

“Maaf, tapi kau tahu aku memang begini,” ucap Minho kemudian seakan ia tahu apa yang sedang dipikirkan oleh Soojung.

 

Soojung mengerti. Pembicaraan seperti ini sudah sering terjadi di antara mereka saat mereka bertemu. Jadi Soojung sudah terbiasa—walaupun yah… ada sedikit kecewa di dalam hatinya.

 

“Mereka datang,” ucap Minho tiba-tiba, membuat Soojung memutar kepalanya hingga ia bisa melihat ke arah pintu utama kafe.

 

Melihat Sujie yang tengah mengedarkan pandangannya ke setiap sudut kafe, Soojung pun mengangkat tangannya dan melambai agar Sujie melihatnya dan segera menghampirinya.

 

“Maaf kami terlambat,” ucap Sujie menyesal begitu ia berdiri dengan jarak kurang dari setengah meter dari tempat duduk Soojung dan Minho.

 

Seakan tahu diri, Minho yang tadi duduk di hadapan Soojung pun berdiri dan pindah menjadi duduk di samping Soojung.

 

Merasakan atmoster yang tidak nyaman ketika Minho berpindah tempat duduk, Sujie pun membasahi bibirnya sembari menyelipkan rambutnya ke belakang telinga kemudian menarik kursi di depan Soojung sedangkan Myungsoo hanya memperhatikan tingkah laku Sujie dalam diam kemudian ikut menarik kursi di samping Sujie, di depan Minho.

 

“Sudah menunggu lama?” tanya Sujie kemudian, mencoba untuk mencairkan suasana yang terasa tak nyaman.

 

“Lu—”

 

“Tidak, kami juga baru datang,” Minho menyela ucapan Soojung, membuat tiga pasang mata segera menoleh padanya.

 

Pilihan yang salah? Batin Soojung karena ia merasa aneh dengan atmosfer di sekelilingnya, membuatnya curiga apakah ada sesuatu yang tidak ia ketahui antara Minho dengan Myungsoo atau justru Minho dengan Sujie. Rasa curiga itu bukan tanpa alasan karena ia tahu kalau Minho bukan tipe orang yang akan menyutujui ide konyol untuk double date seperti ini. Bahkan selama ini Minho dan dirinya tidak pernah benar-benar berkencan dikarenakan Minho tak terlalu suka untuk keluar rumah dan jadwal Soojung yang cukup padat.

 

Tapi kenapa sulit sekali rasanya untuk mengucapkan kata “Oppa, ayo pulang saja,” dan membatalkan double date hari ini?

 

“Kami langsung ingin ke dalam,” kata Myungsoo kemudian karena tidak ada berbicara lagi karena merasa canggung.

 

Ketika Myungsoo dan Sujie berdiri dan hendak pergi meninggalkan Minho dan Soojung, Minho pun berdiri dengan tiba-tiba sehingga membuat suara derakan kecil antar meja dengan lantai yang bergesekan. “Bukankah cara main double date itu harus bersama?”

 

Pertanyaan Minho barusan menimbulkan reaksi yang berbeda-beda. Myungsoo memutar bola matanya sembari mendengus, Sujie menatap Soojung dengan pandangan aneh ketika Soojung langsung berdiri begitu mendengar pertanyaan Minho. Sedangkan Minho sendiri hanya menatap lurus ke arah Myungsoo dengan tatapan menantang, entah sebenarnya itu untuk apa karena dia sendiri tak begitu mengerti apa yang terjadi pada dirinya.

 

“Kalau begitu ayo naik mulai naik wahana.” Sahut Myungsoo kemudian sembari melirik ke arah Sujie dengan smirknya yang membuat Sujie langsung menoleh padanya dan menelan ludahnya susah payah.

 

¯

 

“Ah, andwae! Aku tidak mau naik yang ini!” seru Sujie ketika dirinya dibawa sampai ke tempat pengantrian untuk naik wahana Gyro Swing sembari menatap Myungsoo dengan tatapan memohon.

 

 

Namun Myungsoo dengan teganya hanya mengeluarkan senyumannya yang sama sekali membuat jantung Sujie berpacu lebih cepat karena ia tahu bahwa laki-laki itu tetap akan menyuruhnya naik wahana tersebut.

 

“Kim Myungsoo, jebal,” pinta Sujie lagi namun tetap saja Myungsoo tak mendengarkannya dan hanya menatap Sujie dengan senyuman liciknya yang membuat perut Sujie mulas.

 

Ketika Soojung meneriaki mereka berdua dan menyuruhnya untuk lebih cepat, barulah Myungsoo bereaksi dan langsung menggenggam tangan Sujie sembari membawa gadis itu ke tempat antrian, membuat Minho yang sempat melirik ke arah tangan Myungsoo dan Sujie yang bertautan menghela nafas dan membuang semua pikiran konyol yang sempat terbesit di otaknya.

 

Soojung yang merasakan sikap Minho saat tangan Myungsoo dan Sujie bertautan, segera memeluk lengan Minho dengan manja dan mulai mengantri. “Oppa, kau sama sekali tidak terlihat takut,” katanya untuk mengalihkan pikiran Minho yang menurut Soojung tengah memikirkan hal lain.

 

“Untuk apa aku takut?” tanya balik Minho datar seperti biasa.

 

“Aku hanya… membayangkan bagaimana kalau pengamannya kurang kuat dan aku terlempar entah kemana,” sahut Soojung sembari bergidik ngeri membayangkan hal tersebut.

 

Kemudian Minho pun melepaskan rangkulan tangan kecil Soojung pada lengannya dan merangkul gadis itu sembari mengacak sedikit rambutnya untuk menenangkan. “Kalau sampai itu terjadi, aku akan membunuh semua petugas di sini,” ucapan Minho membuat senyum di bibir Soojung merekah lebar. Setidaknya ia telah menempatkan dirinya lagi dalam pikiran Minho, tapi itu hanya asumsinya.

 

Sementara Minho dan Soojung yang mengantri di depan tengah mengobrol layaknya pasangan kekasih dengan tenang, di belakang mereka, Sujie dan Myungsoo justru ribut. Sujie meminta untuk mundur dari barisan dan Myungsoo hanya menjawab “Tidak,” yang membuat Sujie menyesal kenapa ia ingin pergi dengan laki-laki ini.

 

Melihat wajah Sujie yang lesu karena kalah dalam perdebatan dengannya, Myungsoo pun meraih salah satu telapak tangan Sujie yang dimainkan akibat gugup bercampur takut kemudian menautkan jari-jarinya pada ruas-ruas kosong di telapak tangan kecil Sujie.

 

Merasakan tangannya sedikit lebih hangat, Sujie pun menoleh cepat ke arah Myungsoo dan mendapati laki-laki itu tengah tersenyum padanya dengan hangat juga seperti genggaman tangannya.

 

“Kalau begini kau tidak merasa takut lagi, bukan?”

 

Mendengar pertanyaan Myungsoo, Sujie segera mengerjapkan mata dan mengibaskan semua pikirannya tentang laki-laki itu beberapa detik yang lalu kemudian membuang muka ke arah lain.

 

“Ya, sedikiiit berkurang.” Jawab Sujie dengan memperjelas kata ‘sedikit’ walaupun ia merasa jantungnya justru berdetak semakin cepat namun terasa nyaman.

 

¯

 

“AAAAAAAAAAA‼‼‼” Teriak Sujie lepas ketika ia merasa dirinya seakan jatuh ketika kereta yang tengah dinaikinya menuruni rel dengan kecepatan tinggi dan langsung membelok dengan tiba-tiba, membuat tubuhnya terantuk oleh pengaman.

 

Rollercoaster jauh lebih mengerikan dibanding Gyro Swing, pikirnya dengan nafas dan rambut yang tak beraturan ketika merasa kecepatan kereta mulai berkurang dan jalur rel hanya lurus.

 

Ketika kereta benar-benar berhenti dan pengaman sudah terangkat, Sujie masih tetap berada di tempatnya sembari menyender sambil mengatur nafasnya dan tak lupa jarinya dan jari Myungsoo yang masih bertauatan selama mereka menaiki wahanya yang membutuhkan adrenalin.

 

Ya, Kim Myungsoo, aku benar-benar membencimu,” gerutuan Sujie yang diucapkan dengan suara tak bertenaga membuat Myungsoo tertawa sembari berdiri dan mencoba membangunkan Sujie yang terlihat pucat.

 

“Kau tidak pernah mencoba ini sebelumnya?” tanya Myungsoo ketika Sujie melepaskan genggaman tangannya dan memilih untuk duduk di salah satu kursi.

 

Sujie memejamkan matanya kemudian menggeleng sembari memengang kepalanya yang terasa pusing akibat tubuhnya diputar-putar oleh dua wahana tadi, ia sama sekali tidak memedulikan rambutnya yang berantakan.

 

“Tidak, dan aku tidak akan mau mencobanya lagi. Tidak akan pernah.” Sunggut Sujie sembari mengerang ketika merasa kepalanya berputar lagi saat ia ingin membuka matanya.

 

Gwenchana?” Myungsoo memutar bola matanya ketika ia harus menutup mulutnya lagi saat ia hendak menanyakan hal yang sama dengan apa yang ditanyakan Minho sebelum laki-laki itu menyelanya.

 

“Jangan khawatir, aku hanya sedikit pusing,” jawab Sujie tanpa tahu siapa yang bertanya. Ia tidak bisa berpikir dengan jelas saat ini sehingga ia tak menyadari bahwa Minho lah yang bertanya, bukan Myungsoo.

 

“Aku carikan minum,” ucap Minho sambil lalu dengan nada suara yang terdengar panik.

 

Mendengar dan melihat tingkah Minho barusan, Soojung hanya menatap punggung Minho yang menjauh dengan pandangan nanar seakan semua kecurigaannya selama ini benar. Ada sesuatu yang terjadi diantara mereka.

 

Apakah Minho menyukai Sujie?

 

Pertanyaan singkat itu membuat hatinya terasa sakit dan ketakutannya kembali menguak. Ini yang ia takutkan selama ia menyukai Minho. Walaupun mereka berdua terikat oleh hubungan, tapi ia tahu kalau hati Minho tak benar-benar untuknya. Yang ia takutkan kini muncul, hati Minho sudah mulai terisi oleh gadis lain?

 

Soojung segera mengalihkan pandangannya dan melirik sekilas pada Myungsoo ketika dirasakannya laki-laki itu tengah menatapnya tajam. Dugaannya benar. Tak ada setengah detik mata mereka beradu, Soojung langsung mengalihkan pandangannya lagi dan duduk di sebelah Sujie.

 

¯

 

Setelah mengisi kembali tenaga mereka dengan makanan, kemudian mereka memilih untuk naik bianglala untuk mengahiri double date hari ini. Tapi tentu saja mereka naik di kabin yang berbeda. Walaupun ini double date, tapi mereka tetap harus memiliki waktu untuk berdua dan inilah saatnya.

 

Oppa, aku ingin kita lebih sering berdua seperti ini,” ucap Soojung sembari menatap ke luar kaca untuk melihat pemandangan Seoul ketika bianglala bergerak lagi sehingga kini giliran mereka yang berada di puncak tertinggi bianglala.

 

“Kau tahu kita tak bisa sering seperti ini,” ucap Minho sembari menatap ke belakang punggung Soojung dengan pandangan kosong.

 

Soojung yang tak menyadari arah tatapan Minho hanya menyandarkan pelipisnya pada kaca pelapis kabin-kabin bianglala kemudian kembali membuka mulutnya untuk berbicara. “Aku tahu, tapi tetap saja aku ingin…” ia menggantungkan kalimatnya begitu menyadari bahwa Minho sama sekali tak mendengarkannya dan justru menatap ke balik punggungnya, bukan menatapnya.

 

Kemudian ia pun memutar kepalanya dan mendapati di kabin di belakangnya, Myungsoo tengah berjongkok di depan Sujie dan hendak untuk mencium Sujie. Wajah Sujie tidak terlalu terlihat karena kepala Myungsoo yang terus bergerak mendekati wajah Sujie. Namun mereka tak tahu lagi apa yang terjadi ketika bianglala mulai bergerak lagi dan kali ini saatnya mereka berdua berada di bawah kabin yang ditempati Myungsoo dan Sujie.

 

Oppa…” panggil Soojung takut-takut. Namun karena Minho tak kunjung membalas tatapannya ataupun panggilannya, ia pun melanjutkan. “Oppa, kau sudah berjanji padaku. Kau tak punya niat untuk mengingkarinya, bukan?”

 

“Kenapa berpikiran begitu?” saat Minho membalas tatapannya dan pertanyaannya, tubuh Soojung justru merosot hingga ia berjongkok di depan Minho dengan lemas dan air matanya yang mulai mengalir perlahan di pipinya.

 

Oppa, aku percaya padamu bahwa kau akan terus menepati janjiku untuk terus berada di sampingku,” ucapnya sembari terisak kecil di depan kaki Minho. “Oppa, aku percaya,”

 

Minho yang tidak tega melihat Soojung seperti itu langsung mengangkat tubuh Soojung sehingga gadis itu bangkit dan berdiri dengan lututnya kemudian memeluk gadisnya sembari mencoba untuk menenangkannya. “Oppa tak akan meninggalkanmu sendirian,” ucapnya dengan suara rendah yang lembut.

 

Kejadian seperti ini tak pernah terjadi setelah kecelakaan itu dan kini ia kembali teringat tentang kecelakaan yang melibatkan dirinya beberapa tahun silam, saat ia berjanji pada Soojung kecil yang juga tengah menangis di dekat mobil yang sudah terbalik untuk selalu berada di sampingnya. Berjanji untuk selalu ada untuknya.

 

Sudut pandang Bae Sujie

 

Myungsoo benar-benar menepati perkataannya agar aku tidak terlalu memperhatikan Minho saat acara konyol seperti double date ini berlangsung—yah, dia memang tidak persis begitu, tapi intinya sih seperti itu.

 

Aku mendecak kagum ketika menolehkan kepalaku ke kiri, melihat pemandangan yang cukup menakjubkan dari atas kabin bianglala saat hari mulai petang. Walaupun aku belum berada di puncaknya, tapi pemandangan dari ketinggian ini cukup mengesankan. Orang-orang di bawah saja tampak seperti semut sangking kecilnya.

 

“Bagaimana? Aku menepati janjiku, bukan?”

 

“Hm?” gumamku heran sembari menoleh pada Myungsoo yang berada di depanku dengan perasaan sungkan karena tak mau melewati pemandangan di luar. Begitu aku menoleh padanya dan berharap ia akan mengulangi pertanyaannya lagi, ia justru hanya menatapku sembari menyeringai kecil tanpa berkeinginan untuk mengulangi pertanyaannya.

 

Tertera sangat jelas di wajahnya bahwa ia tidak akan mengulangi pertanyaannya. Jadi, aku hanya mendesah kecil sembari mengangguk. “Ya, kau menepati janjimu,” sahutku kemudian kembali menoleh ke luar untuk mengabadikan pemandangan dengan memori otakku.

 

“Kau senang?”

 

“Senang sekali,” sahutku sembari melirik padanya sambil tersenyum. “Gomawo,” kemudian aku kembali menoleh ke luar.

 

Serius. Sebelumnya aku tak pernah menaiki wahana-wahana seperti bianglala atau mungkin yang lebih ekstrem karena ayahku sama sekali tidak mengizinkan. “Bahaya,” begitu katanya. Tapi setelah aku mencobanya sendiri—kecuali rollercoaster—itu benar-benar mengasikkan. Dan sejujurnya aku suka saat Myungsoo menggenggam tanganku saat menaiki beberapa wahana yang membutuhkan adrenalin, seperti jari-jari kami memang diciptakan untuk bersama.

 

Ya! kenapa pikiranku melantur sejauh itu? tahu apa aku tentang penciptaan tubuh yang seperti diciptakan untuk bersama? Bukankah semua orang memang seperti itu?

 

Jadi untuk mengatur detak jantungku yang entah kapan sudah berdetak sangat cepat ini, aku menghela nafas diam-diam dan tetap melihat ke luar.

 

“Kalau begitu, bisakah kau lupakan Choi Minho?” mendengar pertanyaannya, aku segera menoleh padanya dengan tatapan tak percaya. Bagaimana dia…? “Aku tahu kau menyukainya,” lanjutnya seakan ia paranormal yang bisa membaca pikiranku.

 

Oh—oh, oh. Jadi dia sudah tahu selama ini? Berarti memang benar dugaanku selama ini kalau aku mudah terbaca karena dengan mudahnya Myungsoo tahu bahwa aku menyukai Minho. Argh, padahal aku sudah berusaha keras untuk melupakannya.

 

Baiklah. Ini benar-benar… aku tak mengerti apa yang dipikirkan olehnya, tapi kenyataannya ini membuat lukaku kembali menguak ke permukaan padahal susah sekali untuk menenggelamkannya ke dasar—walaupun luka ini belum tenggelam sepenuhnya. Dan, kenapa ia menyebut-nyebut nama Minho sehingga membuatku yang lupa akan kehadirannya dipikiranku kembali muncul padahal ia sudah berjanji?

 

“Cukup, jangan bicara lagi.” Ucapku dengan nada tegas sembari menatap tajam ke bola matanya.

 

“Kau tidak tahu apa yang mereka lakukan saat ini, bukan? Sedang bermesraan atau apa?” Tapi sayangnya dia sama sekali tak mendengarkanku. Dia meneruskan kalimat-kalimatnya dengan nada dingin dan tidak berperasaan sehingga membuat bulir-bulir air mataku memaksa untuk keluar dari pelupuk mataku. “Bukankah dia tahu kau menyukainya? Kenapa dia tidak menolak saat Soojung mengusulkan double date seperti ini? Ingin menunjukkan padamu bagaimana hubungannya dengan Soojung?”

 

“Kubilang cukup,” dia terlalu banyak tahu. Sebenarnya dari mana ia tahu? Stalker, paranormal atau apa? Kenapa dia terus membuat air mataku mengalir lebih deras dan tidak menghentikan tangisku?

 

“Kenapa menyukai orang yang menyukai orang lain?”

 

“Berhenti bicara! Ini sama sekali bukan urusanmu!” selaku cepat sembari membentaknya.

 

“Ini juga urusanku!”

 

Aku mendelik, menatapnya dengan tatapan tak percaya. Bagaimana mungkin ini urusannya padahal kami baru mengenal beberapa minggu yang lalu? Aneh. Dia benar-benar aneh.

 

Sekarang aku tidak terlalu memikirkan apa yang terjadi pada Minho dan Krystal di sana. Tatapanku yang sebenarnya sedikit buram karena air mata yang tak juga berhenti terus menatap Myungsoo yang perlahan berjongkok di depanku, membuat kepalanya berada lurus dengan pandanganku.

 

“Bagaimana bisa ini urusanmu?” tanyaku kemudian dengan suara pelan karena tenggorokanku yang sedikit tercekat. Toh aku tak perlu berbicara dengan keras karena jarak wajah kami hanya sekitar setengah meter.

 

“Karena aku menyukaimu,”

 

Lagi, air mata kembali keluar dari pelupuk mataku saat mendengar alasannya. Sebelumnya aku tak pernah berpikir ia akan mengatakan ini, bahkan tak pernah membayangkan ia menyukaiku karena—yah… kuakui—pikiranku penuh dengan Minho.

 

Aku ingin mengeluarkan suaraku lagi untuk bertanya kenapa ia bisa menyukaiku, tapi kenapa tenggorokkanku terasa berat untuk mengeluarkan suara sekecil apapun?

 

Mataku menutup ketika dengan perlahan Myungsoo mendekatkan wajahnya ke wajahku, memperkecil jarak di antara kami. Apakah ini benar? Apakah ini akan menutup lukaku karena Minho? Haruskah aku melakukan ini sekarang, di saat hatiku belum benar-benar siap?

 

Aku tak tahu sudah seberapa dekat jarak kami, tapi aku bisa merasakan nafas teratur yang berhembus dari hidungnya yang sudah menyentuh hidungku.

 

“Maaf,” kataku dengan menyesal membari menundukkan kepalaku padahal aku sudah bisa merasakan bibirnya menyentuh bibirku. Tapi, kurasa aku belum siap untuk merubah hatiku. Ini tidak bisa secepat yang otakku inginkan. “Aku… gugup.” Kataku dengan beralasan bohong.

 

~TBC~

 

~Wait another story~

 

Haloooooooo *tiup terompet* author ribet, tak bertanggung jawab dan rada sarap ini kembali dengan FLP chapter 7! Apa ada yang nungguin lanjutan FLP?._. hem… sedikit cuap-cuap, aku minta maaf sekali lagi karena ngepublish ini lamaaaa banget. Aku bener-bener gak ada maksud buat nunda, tapi apa daya otak kecilku ini suka ngadet(?) tiba-tiba sehingga aku gak bisa nemu bahasa yang bagus buat lanjutin dan juga cerita ini udah melenceng jauuuuh dari konsep awal FLP. Jadi yang bertanya-tanya apakah ending ini Myungzy atau Minzy, author sendiri masih galau mau pilih yang manaT-T *dipelototin Suzy Eonni*

 

Nah, kalo chapter sebelumnya gak aku edit, di chapter ini aku edit dong (trus kenapa thor?). Hem… buat kelanjutan cerita, ada yang bisa nebak? Yang bisa nebak ntar aku paketin Minho oppa ke rumah masih-masing deh~~~

 

Oke, segini aja cuap-cuapnya ya. Banyak pertanyaan tentang kelanjutan cerita? Tanya aja di kolom komentar dan pasti aku gak bakal ngejawab pertanyaannya kekeke gaenak dong kalo ngebocorin cerita *ketawa jahat*

 

 

Bonus picnya sekali-kali cewe yaa:3

 

RCL like oxygen for me^^v

 

82 thoughts on “First Love Pain – Chapter 7

  1. wahhh
    makin seru
    buat moment myungzy lbh banyak dong chingu
    biar minho cemburu.
    salah sndri udah nolak suzy..
    jgn lama2 yahhh
    hmpir tiap hari buka wp ini.
    cuma pgn nge cek udah publish belum :((

  2. Suzy galau!! Dan aku jg ikut galau -__-
    Author gimana ini mau minzy apa myungzy??
    Kalau suzy sama minho, kasian myungsoo nya. Tp kalau suzy sama myungsoo, ngenes amat itu nasibnya minho nggak bs ngejar org yg disuka..
    Ah yaudah deh ditunggu next chapter yah.. Keep fighting~~

  3. wadu jai myungsoo suka ma zy? and minho cuma mersa bersalah/janji ma kristal so bukan cinta?
    maunya minzy kekekekk kan awalnya minzy!! #plak maksa heheheh

  4. Yaudah Suzy sama Myungsoo aja tor, lebih ngeh ke Myungsoo daripada Minho soalnya kk~
    Tapi sih kayaknya ini akhirnya Suzy sama Minho ya #soktau

    Aku sih berharapnya Suzy sama Myungsoo, biarin aja Minhonya. Siapa suruh nolak Suzy duluan haha

    Oke ditunggu ya chapter 8nya, jangan lama-lama tor😀 kalo bisa gesit ya publishnya😉

  5. uwaaa…kok ciumannya gak jadi? #plakk
    aku tetep pilih Myungzy aja deh, kasian Minho sih tapi kasian Krystal juga. Tiap liat tokoh karakter cewek kayak Krystal gini aku pasti keinget Jang Mari di BIG T___T

  6. eonnii…

    ntar bakalan jadi MyungZy apa MinZy ????
    kayak nya bakal jadi pilihan yang berat bnget..

    MyungZy aja eonnii… jeball 🙂
    tapi terserah eonni aja deh..
    fighting eonni.

    ditunggu next part 😀

  7. wah.. myungsoo akhirnya suka sama suzy.. dan minho cemburu! i love it!!^^
    penasaran sama lanjutannya..
    ditunggu next chapternya cingu.. ^^

  8. HuaHuaHua ..
    Minho nya kok Engga tega ninggalin Krystall sih , terus gmana bersatu nya sama Suzy nanti😥
    Myung Soo nya so swet bgt Onn~
    ditunggu terus FF lanjutannya, Yg penting Jgn lama* yak Onn ?🙂

  9. Bagus loh thor aku udh baca diblog lain tp baru sampe chapter4 deh klo gak salah eh ternyata disini udh jauh hehe, maaf ya sebelumnya aku gak komen karna aku terbilang reader baru jd maklumilah😀 klo gt aku tunggu ya lanjutannya! Anyeong~😉

  10. wwwh tambh seru aj critanya,,
    myungsoo ud suka sma suzy n tiggl suzy na gmn,, smga suzy trima cnta myungsoo,, ^i hope^
    kisah slnjutnya q tguu dg setiaa tp jg lma ya unnie,,,

  11. borong jadi atu aja ya chingu…
    critanya seru, suka cinta segitiga antara suzy minho n myungsoo. kalo bisa minho ma suzy tapi kalo ma myungsoo jga ga papa denk.kekekeke

  12. omeona~.. myungsoo suka suzy?
    hmm.. kya’y minho juga…
    trz trz trz.. suzy’y ama sapa? krystl’y ama sapa?
    *galau to the max* -__-
    lanjut ea thor…🙂

  13. ahhhh!!! udahlah myungsoo nya sama aku aja kalo sujie nya ga mau hehehe
    pasti minho sebenernya suka sujie tapi dia bingung soalnya terikat sama janjinya ke krystal dan dia ga tega sama krystal. jadi intinya : com-pli-ca-ted

  14. author aja bingung aplg qt hahaha….myungzy or minzy? lanjuut aja dah thoorrr….haduh tp syg bgt ya hampiir hampiiirr dikiit lg kissing gk jd hehehee :p

  15. wah…myungsoo cemburu..tp sayang su ji blm bisa ngebuka hatiny buat myungsoo..pdhl mereka cocok menurutku..hehehe..
    Krystal knp g bisa ngelepasin minho y..pdhl dia tw minho g punya rasa sama dia n cuma menuhin janji aja,.

  16. Udh L sama suzy aja.
    Eh pas L nanya “bisakah kau melupakan choi minho?”
    Harusnya suzy jawab, “entahlah, bisakah kau membantuku melupakannya??”
    Aduuh maaf author-nim atas kekurangajaran reader yg 1 ini.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s