First Love Pain – Chapter 6



  • Tittle    : First love pain
  • Author    : EnnyHutami
  • Lenght    : Chaptered
  • Rating    : General
  • Genre    : Romance, Sad
  • Cast    :
  1. Bae Sujie
  2. Choi Minho
  3. Jung Soojung a.k.a Krystal Jung
  4. Kim Myungsoo
  5. And others (Find them self)

     


Copyright © Ennyhutami Fanfiction 2012

~œœœ~

 

[Chapter 6]

-Membulatkan keputusan-


 

Sudut pandang Bae Sujie

Aku tidak tahu apa ini memang suatu kebetulan semata atau memang Tuhan sudah mengatur semua ini dari awal? Aku benar-benar tidak menyangka kalau Krystal mengenal Myungsoo dan begitu juga sebaliknya—walau kurasa Myungsoo tahu Krystal karena ia artis. Tapi yang benar-benar membuatku ingin meninju mulut Myungsoo yang sangat tajam bagai pedang adalah ketika ia mengatakan bahwa aku adalah kekasihnya dan ia menyetujui usul Krystal tentang double date.

Dia gila. Benar-benar gila. Dan kurasa aku juga ikut gila karena aku tak cepat membantah semua omong kosong yang dikatakan oleh Myungsoo dan aku tidak menolak ketika ia membawaku pergi dari taman itu dengan alasan kalau ia harus mengantarku pulang ke rumah.

Ya!” seruku sembari menghempaskan tangannya yang terus menggenggam pergelangan tanganku setelah merasa kalau Krystal dan Minho tidak bisa melihat kami lagi.

Aku tak langsung mengatakan semua pertanyaan yang sedari tadi ingin kuteriaki tepat di depan wajahnya. Menunggunya untuk ikut menghentikan langkahnya dan berbalik. Setelah itu, barulah aku bertanya padanya dengan menggebu-gebu.

“Kenapa kau bilang pada mereka kalau aku kekasihmu?”

Jawaban dari dirinya simpel, sangat simpel bahkan tidak memerlukan suaranya. Ia hanya mengangkat bahunya dengan ekpresi wajah yang menandakan ia tidak tahu menahu. Aish, orang ini benar-benar membuatku gemas ingin melempar wajahnya dengan panci besar milik eomma di dapur.

“Dan kenapa kau menyetujui usulnya untuk double date? Bahkan aku baru bertemu denganmu dua kali!”

“Lalu kenapa? Kau tidak mau?” tanyanya balik, membuatku menghela nafas untuk menahan emosiku yang sudah di ubun-ubun.

“Tentu saja aku tidak mau!” kalau dia tahu kenapa harus bertanya lagi?

Menurutku, aku bukan tipe orang yang suka berteriak pada orang lain karena tidak sopan. Tapi entah kenapa ketika aku bersama dengannya aku merasa konyol. Berteriak, mendecak, mendegus. Selalu itu yang kulakukan di depannya padahal barusan aku tahu kalau dia senior dari Krystal yang itu berarti laki-laki ini lebih tua dariku karena setahuku, aku dan Krystal lahir di tahun yang sama.

Balasan yang ia ucapkan membuatku terdiam dan menatap punggungnya heran karena setelah mengatakan, “kalau begitu tidak usah datang,” ia langsung membalikkan badannya dan kembali melangkah.

Aish,” decakku sebelum aku berlari kecil untuk mengejarnya dan menyamakan langkah besarnya. Dia benar-benar dingin. Tatapan matanya, caranya bicara dan sikapnya dingin dan tajam. Aku sedikit terkejut mendengar bahwa Soojung bilang laki-laki ini populer di sekolahnya. Laki-laki seperti ini populer? Aku bahkan sangsi dia tahu bahwa dirinya populer di sekolah melihat sikapnya yang cuek dan dingin begini.

“Kau tak ingin datang tapi menyutujui usulnya? Mana boleh begitu?” tanyaku cukup terengah ketika harus mengejarnya dan menyamakan langkahnya yang lebar dan cepat. Apa semua laki-laki melangkah seperti ini atau hanya dia yang melangkah seperti ini?

Ketika tiba-tiba dia berhenti, otomatis aku juga ikut menghentikan langkahku yang setengah berlari itu sembari mengernyitkan alis karena bingung dengan sikap tiba-tibanya. Laki-laki ini benar-benar aneh, aku serius.

“Jadi kau ingin datang atau tidak?”

Mwo?” kenapa ia menanyakan itu padaku?

“Kalau kau ingin datang, aku akan menjemputmu di rumahmu. Dan jika tidak, aku akan pergi sekarang,” ah, sungguh. Aku tidak mengerti jalan pikirannya. Dia aneh. Kukira dia orang yang baik dibalik lidah tajamnya saat dia memberiku sapu tangannya kemarin, menyanggahku ketika aku hampir jatuh, dan menyuruhku duduk karena tahu aku kelelahan. Tapi… dia berubah-ubah. Rasanya aku tak ingin berada di dekat-dekat dengan orang yang sering berubah-ubah seperti ini.

Alisku semakin mengernyit ketika ia menjulurkan tangan dengan menengadahkan telapak tangannya dan berkata, “Ponselmu,”

“Untuk apa?” tanyaku heran. Namun dia sama sekali tak berniat untuk menjelaskan apa maksudnya dan justru mengendikkan dagunya ke arah telapak tangannya sembari melayangkan pandangan menyuruh padaku.

Aku mendecak namun tetap merogoh tas tangaku untuk mengambil ponselku dan menaruh ponselku di telapak tangannya.

Setelah dia mengambil ponselku dan melakukan sesuatu pada ponselku, tiba-tiba dering ponsel—yang ternyata miliknya—terdengar dan membuatku memutar bola mata. Kalau ingin meminta nomor ponselku kenapa tidak bilang langsung saja?

“Aku punya nomormu, dan kau punya nomormu. Kalau kau tak ingin datang, kau tinggal menghubungiku,” jelasnya yang hanya membuatku menganggukkan kepalaku mengerti. “Jangan anggap nanti kita akan berkencan kalau kau tidak mau, anggap saja kalau aku akan mengajakmu bersenang-senang,”

Oh, aku mengerti tentang dirinya sekarang. Dia orang yang memang terlihat cuek dan selalu bosan, tapi dia tidak pelit mengeluarkan suaranya untuk bicara.

“Siapa namamu tadi?” jadi selama ini dia tak tahu namaku sedangkan aku tahu namanya? Ya Tuhan…

“Bae Sujie,” jawabku singkat karena kesal. Ya, aku kesal karena baru beberapa menit yang lalu Minho menyebutkan namaku dan dia sudah lupa? Oh, dia benar-benar lupa atau dia tidak memedulikan siapa namaku?

Tapi, kenapa aku harus merasa kesal? Karena aku tahu namanya namun tidak dengan sebaliknya? Kurasa aku harus memang harus menyegarkan otakku.

“Baiklah, Bae Sujie, ayo kuantar kau sampai ke rumahmu.”

 

 

Sudut pandang penulis

Seseorang yang memegang kendali atas bola basket di tengah lapangan indoor itu terus mendribel bola di tangannya sampai ke tempat lawan. Karena di depannya ada yang dua orang berseragamkan kostum basket berwarna merah mencegatnya, ia pun mengoper bola tersebut pada Minho yang berdiri dengan posisi siap untuk menangkap bola.

    Setelah menangkap bola yang dioper untuknya dengan baik, Minho langsung berlari mendekati ring lawang dan langsung menshoot bola tersebut dari garis three point. Tak perlu memantulkan bolanya ke dalam kotak bergaris putih, bola pun masuk ke dalam ring dengan sempurna. Seperkian detik selanjutnya, pelatih yang menjadi wasit dalam permainan latihan kali ini meniup pluitnya tanda waktu permainan habis.

Nice shoot,” puji Jinki pada Minho ketika mereka berdua menyingkir ke tepi lapangan untuk beristirahat.

“Terima kasih,” balas Minho singkat sembari mengelap wajahnya dengan handuk kecil miliknya.

Beberapa menit kemudian, setelah latihan hari ini usai, Minho dan Jinki melangkah bersama di koridor panjang sekolah sembari berbincang mengenai pertandingan persahabatan antar sekolah yang akan dilaksanakan dua bulan lagi.

Seperti biasanya, Minho hanya menjawab atau menyahut dengan singkat sedangkan Jinki berbicara panjang lebar. Namun karena Jinki sudah sering bersama Minho, jadi iya tidak merasa aneh dan terus saja mengoceh.

Kemudian Jinki teringat sesuatu, mungkin dia memang harus menanyakan ini langsung pada Minho agar ia tahu kebenarannya selagi kini hanya ada mereka berdua.

“Hei, kau serius tidak memiliki perasaan pada Sujie?” tanyanya sembari menoleh pada Minho tetapi tetap tidak mengurangi kecepatan langkahnya.

“Tidak,”

Sebenarnya ia sedikit kecewa mendengar jawaban Minho. Ia yakin sekali bahwa Minho menyukai Sujie, tapi kenapa laki-laki itu bersikap seperti ini? atau… memang dirinya sendiri yang salah menganggap bahwa Minho menyukai Sujie?

Baiklah. Sebenarnya apa yang sebenarnya ia inginkan? Minho menyukai Sujie? Lalu kalau sudah begitu kenapa? Kenapa rasanya ia ingin sekali ikut campur ke dalam urusan orang lain yang sama sekali tak bersangkutan dengan dirinya?

Semua pertanyaan bertubi-tubi itu sama sekali tak memiliki jawabannya jikalau ada seseorang yang menanyakannya. Ia bahkan tak mengerti dengan apa yang dilakukannya sekarang. Terlalu ikut campur bukanlah gayanya.

“Bagaimana jika aku menyukainya?” tanyanya lagi tanpa memikirkannya terlebih dahulu. Pertanyaan itu terucap begitu saja, membuatnya mengutuk dirinya sendiri walaupun sebentar karena setelah itu ia melihat Minho menghentikan langkahnya.

“Sama sekali bukan urusanku,” sahut Minho dingin kemudian kembali melangkah dan tak menghiraukan Jinki yang menatap punggungnya sembari tersenyum.

Kemudian Jinki kembali melangkah dengan langkah yang besar-besar hingga ia berjalan beriringan dengan Minho. “Ya, kau sama sekali tidak keberatan kalau aku menyukainya?” tanya Jinki lagi.

Kali ini Minho tidak memberhentikan langkahnya dan bahkan ia sama sekali tidak berniat untuk menjawab pertanyaan Jinki yang menurutnya tidak perlu untuk dijawab.

“Kau lupa kalau kau pernah bilang bahwa Sujie istimewa bagimu?” lanjut Jinki sembari merangkul pundak Minho bersahabat. Walaupun Jinki menanyakan pertanyaannya yang satu ini dengan kekehan kecil yang menandakan ia sedikit bergurau, namun di telinga Minho tidak terdengar begitu. Terdengar seperti Jinki tengah menyindirnya atau yah… semacam itu.

Minho terpekur dalam sikap tenangnya namun tetap melangkah dengan kecepatan yang sama dengan sebelumnya. Hatinya merasa gelisah mengingat bagaimana ia pernah mengatakan bahwa Sujie istimewa baginya saat Jinki menanyakan tentang Sujie di perkemahan. Ia bahkan tak benar-benar yakin darimana asalnya ia berkata seperti itu, hanya… terlintas begitu saja di otaknya saat Jinki menanyakannya.

Tapi ia masih bingung. Sebenarnya kata ‘istimewa’ yang dilotarkannya saat itu memang hanya terlintas di otaknya atau memang hatinya berkata begitu?

¯

 

Sunbae, aku dengar kau sudah punya kekasih,”

Kim Myungsoo yang tengah melangkahkah kakinya di koridor panjang sekolahnya menuju gerbang depan terus saja melangkah dan mengabaikan gadis yang tengah mengikutinya sembari mengoceh.

“Aku tahu dari Soojung—kau mengenalnya, bukan? Krystal?” lanjut gadis itu sembari berlari kecil untuk menyamai langkah lebar milik Myungsoo. “Benarkah kau punya kekasih?”

Pertanyaan yang barusan di dengar oleh Myungsoo membuatnya berhenti dan membalikkan badan dengan gerakan cepat dan langsung menatap gadis bertubuh kecil yang dari tadi mengikutinya dengan pandangan dingin seperti biasa.

“Berhenti bicara,” ucapnya dengan suara sedingin tatapan matanya, membuat gadis bertubuh kecil itu membeku sampai tak berani untuk bernafas di depannya.

Walaupun gadis itu membeku di tempatnya sembari menahan nafas, namun mata gadis itu masih berani untuk balik menatap tatapan dingin Myungsoo. Ia pun bersikeras untuk mendapat jawaban dari pertanyaannya. “Tapi…”

“Jangan mengikutiku lagi,” kalimat singkat yang Myungsoo loncarkan lagi-lagi diucapkan dengan tajam dan dingin, membuat gadis itu terdiam dengan wajah yang memerah hampir menangis.

Kemudian Myungsoo pergi berlalu. Sama sekali tidak menghiraukan gadis yang kini hampir menangis karenanya.

Sebenarnya ia tak ingin memperlakukan siapapun dengan kasar dan dingin seperti ini apalagi terhadap perempuan. Namun ia merasa harus bersikap seperti ini agar gadis-gadis yang terus mengikutinya takut sampai akhirnya berhenti mengikutinya. Dari pada harus bersikap manis dan membuat harapan-harapan pada gadis yang menyukainya padahal ia sendiri tidak menyukai gadis itu, jadilah ia bersikap dingin. Tapi terkadang ia juga bersikap dingin pada orang lain tanpa ia sadari. Jadi, mungkin sikapnya yang seperti ini memang ‘ciri khas’ dari Kim Myungsoo.

Sadar bahwa tak ada lagi yang mengikutinya sampai ke halte bus di dekat sekolahnya, ia pun menghela nafas berat kemudian menaiki bus yang berhenti di depannya. Setelah mendudukkan dirinya pada kursi di bagian tengah bus, ia segera mengambil I-pod kemudian memasang earphone di telinganya untuk membunuh rasa bosan selama berada di dalam bus menuju halte di dekat rumahnya.

Entah sudah berapa kali bus berhenti untuk menurunkan atau mengangkut penumpang yang menunggu di halte, namun Myungsoo belum juga bangkit dari tempatnya dan turun dari bus. Ia mendesah pelan ketika ia merasa salah memilih sekolah. Terlalu jauh dari tempat tinggalnya membuatnya harus bangun lebih pagi agar tidak terlambat ke sekolah, terlebih lagi jika terjadi macet. Sepagi apa ia harus bangun?

Lagi-lagi ia mendesah dengan suara yang pelan sembari memalingkan wajahnya ke luar kaca bus untuk sekedar melihat keadaan jalan di Seoul.

“Jinri-ya, sebenarnya apa yang terjadi antara kalian?”

Sayup-sayup Myungsoo mendengar ucapan seseorang yang duduk tepat di depannya. Dia bukan tipe orang yang suka mencuri dengar obrolan orang lain, tapi sepertinya suara yang barusan ia dengar terasa familiar di telinganya walaupun terdengar sayup-sayup.

Penasaran, ia pun merogoh saku jas sekolahnya dan mematikan musik yang masih menyala dari I-pod miliknya namun tetap memakai earphone seperti sebelumnya.

“Kau dan Taemin,” lanjutan kalimat gadis itu membuat bibir Myungsoo tertarik ke belakang sedikit karena ia bisa menebak orang yang pembicaraannya dicuri oleh Myungsoo. Siapa lagi kalau Bae Sujie? Gadis yang belakangan ini ia temui—yah, sebenarnya baru dua kali. “Kalian terlihat sedikit aneh belakangan ini.” Jelas Sujie kemudian.

Myungsoo terdiam dengan pandangan lurus ke depan, melihatke arah dua kepala dengan rambut yang satu hitam dan yang di sebelahnya pirang kemerahan yang duduk membelakanginya, dan tetap menajamkan telinga untuk mencuri dengar pembicaraan Sujie dengan temannya. Sejujurnya ia penasaran dengan Sujie sejak pertama kali melihat gadis itu menangis sendirian di taman dekat sungai Han. Membuatnya ingin terus berada di dekat gadis itu.

“Aku dan Taemin? Aneh bagaimana?” teman bicara Sujie membalas pertanyaan Sujie dengan pertanyaan lagi yang terdengar—menurut Myungsoo—polos.

Mendengar pertanyaan balik seperti itu, Myungsoo memutar bola matanya sembari berguman pelan, “Babo,” kemudian mengalihkan pandangannya dan meraih I-podnya lagi untuk kembali mendengar musik.

Namun gerakan tangannya terhenti begitu mendengar teman Sujie kembali berbicara dengan menanyakan pertanyaan yang membuat Myungsoo kembali memasang telinga baik-baik.

“Bagaimana denganmu? Minho sudah menyatakan perasaannya?”

Jadi Sujie belum cerita ke temannya? Tanya Myungsoo dalam hati mendengar pertanyaan yang ditunjukkan untuk Sujie dari seseorang yang duduk di depannya.

“Tidak, aku yang menyatakannya,” jawaban Sujie membuat Myungsoo mengerjapkan matanya dengan tak percaya.

Itukah sebabnya gadis itu menangis di saat pertemuan pertama mereka? Pertanyaan itu otomatis melayang-layang di pikirannya. Sebelumnya ia memang merasa ada yang aneh dengan Sujie ketika gadis itu melihat Minho bersama Soojung. Karena itukah?

“Lalu bagaimana reaksinya?” begitu pertanyaan itu terlontar, keadaan di dalam bus sekejap hening seperti semua orang tengah menunggu jawaban Sujie. Namun seperkian detika kemudian, suara-suara dari orang yang berbincang-bincang kembali terdengar lagi. Tetapi Sujie belum juga membuka mulutnya untuk menjawab.

Waktu baginya untuk menghentikan pembicaraan mereka? Merasa Sujie tak akan menjawab dan juga tak mau Sujie merasa sedih lagi, akhirnya Myungsoo membuka suaranya namun tetap bersandar santai di tempatnya. “Bae Sujie,” ucapnya dengan volume suara sedang yang terdengar datar dan—seperti biasa—bosan.

Seperti dugaan Myungsoo, dua orang di depannya langsung menolehkan kepala mereka ke belakang dan langsung menunjukkan dua reaksi yang berbeda. Jinri memasang wajah herannyan, sedangkan Sujie memasang wajah terkejutnya.

“Kau… kau mengikutiku?!” seru Sujie dengan volume suara yang tinggi sembari menunjuk Myungsoo dengan telunjuk kanannya, membuat orang-orang yang berada di bus—kecuali sang supir—menoleh kepadanya.

Perlahan Sujie menurunkan tangannya begitu ia merasa semua yang berada di dalam bus tengah menatap ke arahnya dengan pandangan aneh. Kemudian ia langsung kembali duduk di tempatnya sembari memejamkan mata dan mengigit bibir bawahnya menahan malu.

Myungsoo yang tadi terkejut dengan reaksi Sujie hanya mendelik ke arah gadis itu, lalu mendengus sembari tertawa dengan pandangan mengejek ketika gadis itu kembali duduk karena malu.

¯

 

“Kau mendengarnya?” tanya Sujie pada Myungsoo ketika tengah melangkah beriringan setelah turun di halte yang sama.

“Hm?” gumam Myungsoo dengan nada bertanya, menyuruh Sujie untuk memperjelas pertanyaannya.

“Kau mendengar pembicaraanku dengan Jinri?” jelas Sujie sembari menatap sepatunya yang sedikit terhentak karena ia menghentakkan sedikit langkahnya.

“Memang kau bicara apa dengannya?” tanya Myungsoo balik dengan berbohong. Sujie yang tak percaya langsung mendongak dan menatap Myungsoo dengan pandangan curiga.

Melihat itu, Myungsoo langsung menggerakkan tangannya dan menyentuh earphone yang dibiarkan mengalung di sekitar lehernya. “Aku memakai ini, ingat?”

Sujie mendesah berlebihan sembari mendongak menatap langit-langit, entah untuk apa. Ia sendiri melakukan itu tanpa sadar, bukan karena ia belum percaya pada ucapan Myungsoo tadi.

“Kau kenapa?” tanya Myungsoo sembari menoleh pada Sujie dengan pandangan heran dan penasaran.

Sujie hanya menggelengkan kepalanya untuk menjawab pertanyaan Myungsoo, membuat laki-laki itu merasa penasaran dengan apa yang ada di pikiran Sujie.

Beberapa menit berlalu dan mereka sama sekali tak mengucapkan sepatah kata pun, justru sibuk dengan pikirannya masing-masing. Namun tiba-tiba rasa penasaran membuat Sujie langsung melompat sedikit hingga ia menghadap ke arah Myungsoo dan memiringkan kepalanya, membuat Myungsoo sedikit terlonjak dan bahkan sedikit terhuyung—atau juga melompat?—ke belakang satu langkah.

“Dimana rumahmu?” pertanyaan Sujie yang tiba-tiba membuat kening Myungsoo berkerut karena bingung. Kenapa tiba-tiba menanyakan rumahnya?

Mwo?”

“Aku tanya dimana rumahmu,” Ulang Sujie. Namun begitu melihat wajah curiga Myungsoo, ia pun menambahkan, “Jangan salah paham. Aku bertanya seperti itu karena kau turun di halte yang sama denganku. Jadi kurasa rumahmu berada di sekitar sini.”

Mendengar penjelasan Sujie, Myungsoo hanya bergumam kecil dan kembali melanjutkan jalannya. Namun dalam hati ia bertanya-tanya apakah yang baru Sujie jelaskan adalah kenyataannya atau hanya alasan semata?

“Aku tidak punya rumah,” jawab Myungsoo kemudian, membuat Sujie memutar bola mata dan mendecak atas jawaban yang menurutnya konyol dan tidak masuk akal. Melihat reaksi Sujie, Myungsoo pun melanjutkan dengan wajah seriusnya, “Aku tidak bercanda,”

“Benarkah?” tanya Sujie dengan raut wajah yang menandakan bahwa ia percaya pada ucapan Myungsoo.

“Bohong,”

“Eh?” gumam Sujie dengan heran sembari menolehkan kepalanya pada Myungsoo dengan pandangan yang sama dengan suara gumamannya.

Myungsoo tetap berjalan dan sama sekali tidak berniat menjelaskan apa yang ia maksud pada Sujie, justru kembali berbicara tentang hal lain. “Kau tahu kedai ramen yang berada di sebelah supermarket?” tanyanya kemudian. Setelah melihat anggukan kepala Sujie tanda bahwa gadis itu tahu, ia pun melanjutkan. “Aku tinggal di lantai dua kedai itu,”

“Ah,” desah Sujie dengan suara prihatin untuk mengomentari kalimat Myungsoo barusan.

“Bohong lagi,”

YA!” seru Sujie kesal begitu mendengar pengakuan Myungsoo bahwa ia berbohong lagi.

Myungsoo hanya terkekeh kecil melihat reaksi Sujie yang menurutnya lucu dan menggemaskan, membuatnya ingin mencubit pipi putih dan halus milik gadis itu namun belum ada keberanian untuk melakukannya.

“Lupakan kalau aku pernah menanyakan rumahmu,” gerutu Sujie sembari mengerucutkan lucu, membuat Myungsoo diam-diam terkekeh dan ingin mengacak gemas rambu gadis itu. Namun sayangnya ia belum berani melakukannya karena takut Sujie justru akan menjauhinya.

¯

 

Dengan lincahnya tangan itu menggoreskan pensil di atas buku kosong, menuliskan macam-macam angka berserta huruf matematika seperti kali, bagi, tambah, kurang, kuadrat dan lainnya.

Sesekali tangan itu berhenti dan sang pemilik tangan itu menatap dengan fokus ke buku di depannya sembari memutar otaknya mengingat apa saja rumus yang diperlukan untuk memecahkan soal matematika kelas dua tersebut.

Konsentrasinya pecah begitu mendengar suara ponselnya yang berdering dengan nyaring, membuatnya merutuk dan menggerutu tak jelas karena sebelum dering ponselnya terdengar, otaknya hampir bisa menyelesaikan soal tersebut.

Namun ia menarik kembali pikiran ingin memaki orang yang membuat ponselnya berdering dan justru menarik sudut bibirnya hingga membentuk senyuman begitu tahu siapa yang menelfonnya. Bae Sujie.

“Kau ingin datang?” tanya Myungsoo langsung pada intinya begitu ia menggeser tombol di layar ponselnya, tanpa basa-basi sapaan terlebih dahulu.

Sebelum menjawab pertanyaan Myungsoo, lawan bicara di seberang telfon, Bae Sujie, mendecak sebal mendengar pertanyaan Myungsoo yang sama sekali to the point. “Ya,” akunya dengan jujur dan suara yang terdengar malu. “Tapi jangan mangira bahwa aku ingin kencan denganmu.” Lanjutnya dengan nada suara yang sedikit meninggi, membuat Myungsoo justru meragukan kalimat Sujie barusan.

“Terserah,” ucap Myungsoo sembari mendecak sedikit. “Aku jemput jam sepuluh di rumahmu,” lanjutnya kemudian memutus hubungan telfonnya tanpa menunggu jawaban dari Sujie, sebenarnya ia tahu kalau Sujie tidak akan membantah ucapannya. Kemudian ia melempar ponselnya ke atas kasurnya dengan sembarangan dan melangkah keluar dari kamarnya untuk menemui ayahnya.

“Tidak biasanya kau kemari,” ucap ayah Myungsoo tanpa mengangkat wajahnya dari berkas-berkas yang terkait pekerjaannya begitu Myungsoo menutup pintu ruang kerja ayahnya. “Ada apa?”

“Bisa pindahkan aku ke sekolahmu?”

Mendengar permintaan (dari kalimatnya memang terdengar seperti permintaan, tapi jika didengar dari nada suara yang Myungsoo ucapkan, sama sekali tidak terdengar sebagai permintaan) dari Myungsoo, ayahnya segera mengangkat wajahnya dan menatap Myungsoo dengan kening berkerut. “Kyunggi High School? Kenapa tiba-tiba?”

Myungsoo hanya menatap ayahnya dengan tatapan serius dan sama sekali tidak berniat untuk menjawab.

Jadi ayahnya pun melanjutkan, “Bukankah dulu kau bersikeras agar tak masuk ke sekolah milikku? Kini kau mau masuk ke sana dengan syarat agar merahasiakan statusmu sebagai anak dari pemilik sekolah?”

Appa,” protes Myungsoo kemudian karena ayahnya membawa masa lalunya, yang menurutnya masih sangat kekanakan. “Terserah kau mau bilang aku ini siapa ke kepala sekolah, guru-guru dan para staff di sekolah itu, asal kau memindahkanku ke sana setelah liburan musim panas.”

~TBC~

~Wait another story~

 

Maafkan aku karena lama ngepublish ini dan maaf typo dimana-mana T-T aku gak sempet edit. Ini baru aku selesaikan dan baru mulai nulis buat chapter 7nya. Lagi, aku disibukkan sama urusan sekolah (maklum ya urusanku bukan Cuma buat nulis ff doang, mohon dingertiin) dan minggu depan aku udah ujian lagi… yaampun, perasaan baru masuk sekolah udah ujian lagi-_-

Kali ini aku gabisa banyak cuap-cuap. Pokoknya, udah fix, double datenya ada di chapter 7 (aku tadinya mau di chapter 6 tapi kepanjangan nanti). Jadi… tungguin aja ya chap7nya.

RCL like oxygen for me^^

54 thoughts on “First Love Pain – Chapter 6

  1. Akhirnya chapter 6nya keluar. Ah senangnya😀
    Myungsoo disini keren yah, tapi main castnya tuh masih Minho kan? Waah Sujie sama siapatuh jadinya. Agak susah sih kalo disuatu ff ada Minho-Myungsoo pasti bingung mau pihak mana ._.
    Tapi ini ceritanya makin seru, penasaran sama double date nya.. Chapter 7nya ditunggu yah… keep fighting~~~

  2. Aduhh~ myungsoo pindah ke sekolah appanya? Berarti satu sekolah bareng suzy dong kk~ nanti minho cemburu lagi
    Chapter 6nya lama banget ditunggu dan bikin penasaran. Tapi chapter 7nya jangan lama-lama publishnya yaa tor😀
    Ohya btw semangat ya buat ujiannya

  3. Weeehhh~
    DAEBAK deh author ..
    Waah, jadi makin seru dah kalao si MyungMyung bebi pindah sekolah🙂
    Kayaknyaa di Chap ini, isi hati Minho kurang diekspresikan menurutku, Lebih ke Myung Soo nya aja ..
    Mian kalao banyak protes Onnie🙂
    Aku tunggu lanjutannya selalu ..

  4. seruuuuu…..
    suka ma karakter myungsoo d ffne….
    bruntungny suzy..da 4 namja yg suka ma suzy….minho, taemin, jinki, myungsoo

  5. ehm kliytnnya myungsoo mulai suka sama suzy, dy jg mauk pindh k school na suzy, pzt crta na tmbh pnz+seru klok suzy+myungsoo+minho sring dtemuin..
    dtggu klnjutan nya ya chinguu,,,

  6. OWWWW, ternyt L ank pemilik sekolah….
    wah klo deket trus ma L suzy lama2 bkl suka nih, trus gmn ma minho?? chingu bhas minho dong cos minho disini masih misteius diblik skap dinginnya
    gmn ya klo L+Suuzy+ minho ketemu dlm 1 tempat kekekke minho tiap hri panah wkwkwk
    ditunggu kelnjutannya….

  7. ya ampun tambah byk bgt yg suka suzy, tp gpp bagus kok, acie myung mau pindah krn suzy, fighting ya buat author, jan merasa trlalu dibebani hehe, next chap aku tunggu🙂

  8. Annyeong.., aku readers baru di sni.., slam kenal🙂
    Ffnya bgus chingu.., pa lgi couplenya minzy, aku suka.., di tunggu next partnya 🙂

  9. karakter myungsoo disini dingin tp sbnrnya lucuuu…minho jg sbnrnya msh ragu sama perasaannya ya, pabo…..lanjut baca next part yah thor ((:

  10. myungsoo..sepertiny udah jatuh k pesona su jie..tp mereka terlihat cocok kalo jd pasangan..jd berharap su jie sama myungsoo aja..coz mereka lucu n serasi..hehehe..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s