First Love Pain – Chapter 3



  • Tittle    : First love pain
  • Author    : EnnyHutami
  • Lenght    : Chaptered
  • Rating    : General
  • Genre    : Romance, Sad
  • Cast    :
  1. Bae Sujie
  2. Choi Minho
  3. Lee Taemin
  4. And others (Find them self)

    Previous : Chapter 2  

©Ennyhutami Fanfiction 2012

~ooOoo~

[CHAPTER 3]

-Ketika kelopak sakura mulai gugur-

Keadaan seperti ini membuatku hanya bisa diam mematung. Bahkan aku tidak tahu kapan Minho ikut berdiri di sampingku sembari menatap Taemin dengan heran.

“Apa maksudmu?”

Aku terdiam membeku, tak berani untuk menoleh menatap Minho bahkan bicara sedikitpun. Kenapa harus seperti ini pada akhirnya? Aku harus mengatakan apa? Tidak mungkin aku mengatakan “ya, aku menyukai Minho”, bukan? Akan timbul tiga masalah kalau aku mengatakannya.

Minho berdiri di sampingku dan ia pasti akan terkejut mendengar pengakuanku karena semalam aku bilang padanya bahwa aku tidak menyukai siapa-siapa.

Pertama, ku takut Minho tidak akan mempercayaiku lagi. Kedua, mungkin Minho akan menghindariku karena aku menyukainya—hei, banyak bukan laki-laki yang menghindari seseorang yang menyukainya? Dan, apa yang akan Taemin lakukan kalau tahu yang sebenarnya? aku takut persahabatan antara Minho dan Taemin rusak hanya karena aku.

“Kenapa terus diam?” tatapan Taemin saat melihatku sangat menakutkan. Seolah wajah ramah yang diperlihatkannya sejak hari pertama kemah adalah topeng yang terus dipakai olehnya. Aku yang terdiam justru menunduk karena tak berani membalas tatapan tajamnya. Kepalaku semakin tertunduk saat ia kembali melanjutkan, “Kau menolakku karena menyukai Minho kan?”

“Oh,” aku masih tak berani mengangkat kepala ketika mendengar suara Minho di sampingku. “Bukan karena itu. Dia menolakmu karena kau terlalu cepat.”

Mendengarnya, aku langsung mendongak dan menatap Minho dengan pandangan… entahlah. Aku tidak tahu bagaimana ekpresiku saat ini. Tapi kurasa ia benar-benar mempercayai ucapanku kemarin malam. Berarti dia tidak mendengar kenapa aku menolak Taemin, ya?

“Kau hanya salah paham,” lanjut Minho sembari melangkah maju kini aku hanya bisa melihat punggunya.

Di tempatku berdiri, aku hanya bisa diam sembari terus menatap punggung Minho yang semakin menjauh. Tak berani melirik ke arah Taemin karena aku merasa ia masih tetap menatapku.

Kemudian kulihat langkah Minho terhenti dan ia membalikkan badannya. Aku yang terkesiap akibat gerakan tiba-tibanya mengerjapkan mata dengan sedikit melangkah mundur.

“Kenapa diam saja?” dia bicara padaku? “Kau mau ikut atau tidak?” aku yakin sekali dia bertanya padaku karena matanya hanya melihatku, bukan ke Taemin.

Pasti wajahku sangat terlihat idiot saat aku mengangguk kemudian mulai melangkah maju untuk mengikuti Minho yang akan kembali ke perkemahan. Namun, Taemin menahan lenganku. Membuat langkahku berhenti dan menoleh dengan pandangan takut-takut.

“Kau duluan saja. Aku butuh bicara dengannya.” Taemin mengatakannya untuk Minho, bukan untukku. Jadi aku diam saja, tak berkomentar apapun ataupun memberontak dan melepaskan tangannya yang menahan lenganku.

Tanpa menyahuti perkataan Taemin, kulihat Minho hanya melangkah pergi meninggalkan aku dan Taemin di sini. Hanya berdua.

Setelah Minho pergi, Taemin memegang kedua bahuku. Menatapku tepat di mata namun aku langsung menunduk. Aku tidak berani membalas tatapannya. “Tolong jujur padaku,” aku masih menunduk saat ia berucap, menunggunya untuk melanjutkan. “‘Terlalu cepat’ hanya alasanmu, bukan? Jelas-jelas kemarin kau bilang kalau kau menyukai orang lain.”

Apa yang harus kukatakan?

“Ya, aku menyukainya. Maafkan aku.” Akhirnya aku memutuskan untuk mengatakan yang sebenarnya sembari menundukkan kepala semakin dalam. Aku tidak ingin membohongi siapapun lagi. Membohongi orang lain seperti aku telah membodohi diriku sendiri. Membuatku tidak nyaman.

“Untuk apa meminta maaf?” aku memang tidak bisa melihat bagaimana reaksinya ketika ia melepaskan tangannya dari bahuku, tapi aku bisa mendengar suaranya melembut. Membuatku tanpa sadar menghela nafas lega dengan pelan dan menyadari bahwa sedari tadi bahuku menegang.

“Karena sudah membohongimu,” jawabku pelan. Apa terlalu pelan? Aku bahkan merasa suaraku hanya seperti hembusan angin.

Aku mendongak dan menatapnya heran ketika ia menjawab. “Kau justru membohongi Minho. Bukan aku.” Katanya. Setelah dipikir-pikir, ia memang benar. Aku tidak membohonginya. Toh aku menolaknya karena aku menyukai seseorang.

Bodoh. Bagaimana bisa aku seperti ini? Oh, ayolah. Aku kan tidak ingin membohongi siapapun. Tapi kenapa aku justru membohongi orang yang kusukai?

“Kau tidak marah padaku?” tanyaku karena setelah itu ia tak bicara lagi. Aku heran dengannya. Tadi ia terlihat sangat marah saat tahu aku menolaknya karena menyukai Minho. Tapi kini, wajahnya melembut—yah, walaupun tak ada senyum di wajahnya.

“Untuk apa aku marah?” aku hanya bisa menatapnya heran ketika ia justru menjawab pertanyaanku dengan pertanyaan.

“Karena aku menolakmu?” sahutku ragu. Bisa saja bukan kalau ia marah karena aku menolaknya?

Kudengar ia tertawa kecil. Aku tidak tahu alasannya tertawa. Memangnya ada yang lucu? Apa karena wajahku terlihat sangat bodoh hingga ia tertawa?

“Memangnya apa hakku untuk marah padamu hanya karena kau menolakku?” kenapa dia senang sekali menjawab dengan pertanyaan sih? “Aku tidak marah.” Kemudian ia melanjutkan sembari mengusap puncak kepalaku, membuat rambutku sedikit berantakan.

Aku sedikit tercengang ketika mendapatinya tersenyum lembut ke arahku dengan tangannya yang menyentuh puncak kepalaku. Dia terlihat berbeda dari dua hari yang lalu, cerewet dan sedikit kekanakan. Kini ia terlihat seperti… laki-laki—aku tak tahu perumpamaan yang tepat untuknya saat ini. Tapi walaupun begitu, detak jantungku tak berdegup liar seperti saat Minho berada di sampingku.

“Kalau begitu ayo kembali ke tenda. Di sini dingin,” ajaknya sembari menggenggam pergelangan tanganku, bukan telapak tanganku. Aku pun menurut ketika ia membawaku pergi.

Aku mendongak untuk menatapnya, namun tetap melangkahkan kakiku, ketika mendengarnya menghela nafas berat. “Ada apa?” tanyaku.

Sebelum menjawab, ia melepaskan genggamannya pada pergelangan tanganku namun tetap melangkah, membuatku menaikkan sebelah alis karena heran. “Sebelumnya aku memang sudah menduga kalau kau menyukai Minho,” jawabannya membuatku berpikir. Apa terlalu terlihat kalau aku menyukai Minho? Aku tidak mengomentari—lagi pula apa yang harus aku komentari?—dan memilih untuk mendengarkan lanjutan kalimatnya.

“Dan saat di hutan, Jinki menanyakan pendapat kami bertiga tentang kau, Jinri dan Eunji,” benarkah mereka bertiga membicarakan hal seperti itu? ternyata laki-laki sama saja dengan perempuan.

“Aku bilang kalau kau gadis yang menarik,” baiklah, kini aku merasa wajahku memerah. Ini kali pertamanya ada yang mengatakan aku menarik secara langsung. “Dan Minho bilang kau… istimewa.”

¯

Dua minggu telah berlalu dengan cepat setelah kami pulang dari perkemahan. Dan lututku mulai membaik walaupun bekas lukanya belum hilang sepenuhnya. Tapi tidak apa-apa jika dibandingkan aku harus jalan pincang selama beberapa hari.

Selama dua minggu itu tak ada yang spesial. Belajar di sekolah, mengerjakan tugas di rumah, mengikuti klub tari di sekolah bersama Taemin, Eunji dan Taemin yang terus saja mendesakku agar aku menyatakan perasaanku pada Minho. Oh, mereka benar-benar semangat sekali membuatku dekat-dekat dengan Minho—yah walaupun aku tidak keberatan sama sekali, justru malah senang. Tapi, yang menyukai Minho kan aku, kenapa mereka yang nafsu sekali ingin aku cepat-cepat bersama Minho?

“Sekarang bukan jamannya lagi perempuan hanya menunggu,” begitu kata Taemin ketika aku baru saja mendudukkan diriku di lantai kayu di ruang tari. “Di tempatku dulu, perempuan duluanlah yang menyatakan cinta pada lelaki jika dia menyukai seseorang.”

Aku hanya memutar bola mataku sembari menyambar botol minumku. “Ini Korea, Lee Taemin. Bukan Amerika.” Sudah berkali-kali aku menyahuti perkataannya seperti ini. Di kelas, di tempat latihan, di kantin, ia dan Eunji selalu bilang seperti ini—di tempat latihan Eunji perkecualian. Aku heran kenapa mereka berdua senang sekali bicara walaupun tidak tahu aku mendengarkan atau tidak.

“Oh, ayolah. Memangnya ada perbedaan antara Korea dengan Amerika?” katanya bersikeras.

“Taemin-ah,” desahku melihat kekukuhan di wajahnya. Sepertinya hari sepanjang perjalanan pulang ia akan terus mengoceh tentang tak ada perbedaan antara Korea dan Amerika walaupun aku bilang bahwa kebudayaan di sini dan di sana sangatlah berbeda.

“Oke, oke,” sahutnya sembari mendengus mendengarku. “Kutunggu di depan sekolah.” Lanjutnya lalu keluar dari ruang tari bersama teman laki-lakinya yang lain.

Sebenarnya aku sedikit iri dengan Taemin. Baru lima kali latihan, ia sudah akrab dengan semua anggota klub. Sedangkan aku baru akrab dengannya dan tiga senior lainnya. Aku bahkan belum mengenal anggota klub yang satu angkatan denganku. Yah, aku memang baru mengikuti kegiatan klub dua hari karena lututku yang cedera, jadi pantas saja bukan kalau belum akrab dengan anggota yang lain?

Setelah mengganti pakaianku yang penuh keringat dengan seragam, aku yang hendak keluar dari bilik toilet mencuri dengar pembicaraan orang yang menyebut-nyebut nama Minho.

“Benarkah ia bergabung dengan klub basket?” tanya seseorang dari luar bilik setelah aku mempertajam pendengaranku. “Jangan berbohong. Setahuku Choi Minho tidak berminat masuk klub apapun.”

Bagaimana dia tahu kalau Minho tidak berminat mengikuti klub apapun di sekolah? Aku yang sekelas dengannya bahkan tidak tahu.

“Untuk apa aku bohong? Kalau tidak percaya lihat saja sendiri.”

“Benarkah? Ayo ke sana.”

Begitu mendengar suara pintu terbuka dan tertutup, aku pun keluar dari tempat persembunyianku. Kenapa orang-orang itu tahu apa yang sedang dilakukan Minho? Aku mengela nafas kemudian membasuh wajahku di wastafel.

“Penggemarmu banyak sekali, ya?” kataku pada pantulan bayangan diriku di cermin yang menampakkan wajahku yang basah karena air. “Bagaimana mungkin aku bisa menyatakan perasaanku padamu?”

Sebelum beranjak dari tempatku, aku menghela nafas kemudian mengeringkan wajahku dengan tisu toilet.

“Kau lama sekali,” aku terkesiap ketika aku baru keluar dari toilet dan mendapati Taemin berdiri di depanku. Tanpa memedulikanku yang terkejut, ia melanjutkan. “Ayo pulang.” Ajaknya sembari memutar tubuh dan memulai langkahnya.

“Kau duluan saja,” ucapanku membuat langkah Taemin terhenti dan kembali memutar tubuhnya. “Aku… mau lihat sesuatu sebentar.” Lanjutku.

Dia mendengus. “Hari ini aku pulang sendirian,” gumamnya sembari memutar bola matanya. Aku hanya bisa membalas menyengir meminta maaf. “Baiklah, aku mengerti. Sampaikan salamku padanya, ya?”

Eh? Aku terdiam dan terus menatap punggungnya yang menjauh. Dia tahu aku ingin melihat apa atau dia bisa membaca pikiranku? Aku menggeleng untuk menyadarkan pikiranku. Mana mungkin dia bisa membaca pikiranku. Ah, berita kalau Minho bergabung di klub basket cepat sekali menyebar, ya? atau Minho memang memberitahu Taemin kalau ia akan bergabung di klub basket? Oh! Jinki kan lebih dulu bergabung di klub basket. Tentu saja Jinki yang memberitahu Taemin.

Tapi kenapa aku mempermasalahkan kenapa Taemin tahu Minho bergabung di klub basket?

Ah, kalau begini terus pikiranku kacau sekali. Daripada memikirkan hal-hal yang seharusnya tidak dipermasalahkan, kenapa aku tidak langsung ke gymnasium, tempat latihat anggota klub basket?

Jadi, aku pun melangkahkan kaki menuju gymnasium di lantai satu gedung utara.

Begitu masuk ke dalam gymnasium, aku tidak langsung duduk di kursi penonton karena yang kursi-kursi tersebut yang berada di dekat pintu masuk lumayan penuh. Jadi aku berjalan memutar dan duduk di tempat yang sedikit sepi.

Di bawah sana, bisa kulihat Minho dan Jinki bermain dalam satu tim. Sama-sama mengenakan pakaian basket tanpa lengan berwarna merah. Namun baru beberapa menit aku duduk, permainan sudah berakhir.

Ketika mataku dan mata Minho bertemu, aku tersenyum dan mengankat tangan kananku. Belum mengangkat tangan tinggi-tinggi, tanganku terhenti di udara begitu menyadari banyak mata yang menatapku. Aku langsung menurunkan tanganku dan menunduk karena malu.

Kenapa mereka melihatku begitu? Batinku. Aku kan hanya melambaikan tangan.

“Kau di sini?” aku menoleh begitu mendengar suara berat Minho di sampingku.

Ne,” sahutku linglung. Oke. Aku yang tadi melambaikan tangan ke arahnya saja sudah mendapat beberapa tatapan tajam, bagaimana sekarang? Merasa diperhatikan oleh orang-orang di sini dan harus mengendalikan detak jantungku yang berdegup liar cukup membuatku kewalahan. “Oh, kau mau minum?” tawarku sembari merogoh isi tasku. Setelah menemukan botol air mineral yang tertumpuk baju dan buku, aku pun menyerahkan botol itu padanya.

“Terima kasih,” ucapnya sembari menyambar botol itu dari tanganku.

Setelah itu tak ada yag berbicara lagi. Aku tahu sih kalau dia tak mungkin memulai pembicaraan. Harusnya aku yang memulainya, tapi apa yang harus aku katakan?

“Kudengar kau ikut klub basket,” ah, kenapa justru kalimat ini yang kuucapkan? Untuk apa aku bertanya padahal jelas-jelas tadi kulihat dia bermain di bawah sana?

“Ya, Jinki yang memaksaku ikut,” sahutnya. Sudah kuduga Jinki campur tangan. “Kau belum pulang?” tanyanya.

Aku menggeleng. “Baru saja selesai latihan di klub tari. Aku mendengarmu bergabung klub basket tadi, jadinya aku kemari dulu sebelum pulang.” Duh, aku merasa canggung sekali.

“Oh,” gumamnya. Aku sedikit kecewa karena hanya mendapat balasan darinya berupa gumaman singkat seperti itu. “Kalau begitu pulang bersama saja,”

Dia serius kan? Aku mengerjapkan mataku namun tetap menatap ke depan, tak berani menoleh ketika sedang mengerjapkan mata terkejut seperti ini. “Kau tidak pulang dengan Jinki?” tanyaku untuk sekedar memastikan.

“Rumahnya berlainan arah denganku.” Jawabnya. “Rumahmu tetap di kawasan Cheongdam, bukan?” aku mengangguk namun keningku berkerut heran. Aku bahkan tidak tahu bahwa ia tahu rumahku.

Belum sempat aku mengatakan sesuatu atau bertanya kenapa dia tahu rumahku, ia sudah kembali melanjutkan. “Tunggu di sini sebentar. Aku ganti pakaian dulu.” Katanya sambil berdiri kemudian beranjak pergi.

Setelah dia pergi, aku menepuk-nepuk pipiku sendiri dengan—yang kuyakin—dengan pandangan aneh ke arah lapangan di bawah sana. Ini kali pertamanya dia mengajakku pulang bersama. Bukankah ini tandanya harapanku semakin dekat? Kuharap saja begitu.

“Minho-ya, aku baru sadar kalau rambutmu lebih panjang,” kataku memulai obrolan ketika kami sudah berjalan beriringan di luar gedung halaman sekolah. Kalau tidak mau saling diam, harusnya aku memulai percakapan, bukan? “Kau juga terlihat berbeda tanpa kacamatamu.” Lanjutku.

Ketika aku menolehkan kepalaku, kulihat ia tengah menggaruk belakang kepalanya yang aku yakin sama sekali tidak gatal sembari menatapku dengan pandangan lucu. “Benarkah?” ucapnya. “Adik perempuanku yang menyuruhku untuk melepas kacamata dan memanjangkan rambut.”

“Kau punya adik perempuan?” tanyaku. Aku sama sekali tidak tahu ia mempunyai adik ataupun kakak. Walaupun dulu kami berdua duduk bersama, namun dia tertutup sekali. Tidak pernah menceritakan tentang dirinya sendiri namun dia bersikap sangat baik padaku.

“Ya, bukankah pernah aku katakan?”

“Eh?” gumamku. Memangnya dia pernah bilang kalau dia memunyai adik perempuan?

Dan seperti bisa membaca pikiranku, ia pun menyahut, “Di upacara penerimaan murid baru aku pernah bilang.”

Memangnya pernah?—oh, oh. Aku ingat sekarang. Saat aku bertanya kepindahannya dari Busan ke Seoul, ia menjawab karena adiknya sedih sekali akibat dari kematian neneknya. “Oh, ya. Aku lupa,” ucapku sembari nyengir aneh. Aduh, aku malu sekali ia tahu kalau aku pelupa.

“Kau juga kelihatan berbeda. Sekarang kau selalu menggerai rambut, ya?”

“Eh?” gumamku. Dia juga memperhatikannya, ya?

“Dulu selalu dikuncir dua seperti ini kan?” aku menoleh ketika ia melanjutkan dan mendapatinya tengah mempraktekan kunciranku saat masih duduk di bangku SMP. Melihatnya menaruh kedua genggaman tangannya di belakang kepalanya sontak membuatku tertawa. Lihatlah ekpresinya saat ia mempraktekannya. Ya Tuhan, dia lucu sekali. Jarang sekali—atau bahkan tidak pernah—aku melihatnya seperti ini.

Mungkin dia merasa aneh karena aku tertawa seperti ini, dia pun langsung menurunkan kedua tangannya dan menegapkan tubuhnya.

“Ah, maaf,” ucapku begitu melihat perubahan ekpresinya. Aku merasa menyesal karena menertawakannya. Harusnya aku tidak menertawainya, tapi… ekpresinya benar-benar lucu.

“Tidak masalah,” sahutnya singkat. Setelah itu kami berdiam diri lagi sampai kami menaiki bus dan turun di halte yang sama dan melangkah di jalur yang sama. Aku bertanya-tanya apakah ia memang sengaja untuk mengantarku pulang atau memang rumahnya satu arah denganku?

Akhir bulan April adalah dimana saatnya bunga sakura berguguran. Dan saat kami melangkah di jalur pejalan kaki yang di sepanjang tepi jalannya dipenuhi oleh pohon sakura, kelopak-kelopak sakura yang berwarna putih jatuh dari bunganya dan terbang dibawa angin sehingga mungkin kepalaku penuh dengan kelopak bunga sakura.

Kami masih sama-sama diam. Aku hanya mengedarkan pandanganku sembari membalikkan telapak tanganku di depan dada, mencoba menadah kelopak sakura yang berguguran dibawa oleh angin. Sedangkan Minho tetap berjalan di sebelahku, aku tidak tahu apa yang sedang ia lakukan saat ini.

Aku tersenyum senang ketika beberapa kelopak sakura berjatuhan di telapak tanganku. Jarang sekali aku seperti ini. Biasanya aku merasa sedih jika sakura mulai berguguran, tapi kali ini berbeda. Kali ini aku merasa senang karena berjalan berdampingan dengannya.

Aku menghentikan langkah dan membiarkannya berjalan lebih dulu. Haruskah aku menyatakannya sekarang?

Mungkin karena ia merasa langkah kakiku, kulihat ia berbalik dan menatapku dengan alis bertautan heran. “Ada apa?” tanyanya.

Alih-alih menjawab, aku justru menunduk sembari menggigit bibir bawahku. Kalau aku duluan yang menyatakannya, apakah ia akan menghindariku? Tak lama berdebat dengan pikiranku sendiri, diam-diam aku menghela nafas kemudian melangkah untuk menghampirinya.

“Ada apa?” tanyanya lagi.

“Aku… ada yang ingin aku katakan,” jawabku dengan ragu. Apa keputusan yang kubuat tidak akan membuatku menyesal? Bagaimana kalau setelah ini ia menghindariku? Tapi, kalau tidak sekarang, aku tidak tahu apakah aku punya kesempatan seperti ini lagi atau tidak.

Ia tidak menjawab dan tidak mengeluarkan suara apapun, dan aku juga tak tahu bagaimana reaksinya karena aku menunduk menatap sepatu. Terlalu takut untuk menatap matanya. Takut kalau nanti aku merubah keputusanku lagi.

“Kalau boleh jujur, sebenarnya aku sudah lama… menyukaimu,” ucapku akhirnya. Setelah mengucapkan itu, tanpa sadar aku menahan nafasku menunggu balasan darinya. Ayolah, Bae Sujie, jangan pesimis seperti ini. Dia menganggapmu istimewa, bukan?

Karena tak kunjung mendengar balasan darinya, aku pun mendongak dan mendapatinya tengan menatapku dalam. Aku tidak tahu apa yang harus kukatakan lagi. Lidahku terlalu kelu untuk bicara dan aku juga tak bisa mengalihkan pandanganku dari matanya, seolah matanya menarikku agar aku terus menatapnya.

“Sujie-ya, kau memang gadis yang istimewa. Tapi maafkan aku,” mataku mengerjap tak percaya dengan ucapannya barusan. Maaf? Aku tidak ingin mendengar kata maaf di saat seperti ini.

“Aku… sudah memiliki kekasih,” lanjutnya, membuatku mengalihkan pandangan dari wajahnya. Membuat hatiku remuk seperti dicabik-cabik. “Maafkan aku.” Kemudian ia pergi. Pergi meninggalkanku sendiri di sini dengan luka yang baru ia goreskan.

Aku tidak tahu kenapa aku merasa sesedih ini. Bahkan air mataku sudah menyusup keluar dari pelupuk mataku, mengalir ke pipiku dan membuatnya basah. Beberapa detik selanjutnya aku tetap berdiri di tempatku sebelumnya dengan air mata yang terus saja membasahi pipiku. Aku menangis tanpa mengeluarkan suara.

“Kekasih?” gumamku dengan pandangan menerawang kedepan dan sembari berdecak kecil. “Alasan macam apa itu?” setelah itu, aku mundur perlahan dengan masih menatap menerawang ke depan kemudian duduk di salah satu kursi kayu di samping pohon sakura yang tengah berguguran. Sekarang aku sadar bahwa aku mulai terisak.

Rasanya sakit. Aku memegang bagian dadaku yang terasa berkedut-kedut dan meramas seragamku, seolah aku ingin menghentikan rasa sakit yang berkedut di sana. Aku tak pernah sesedih ini ketika sakura mulai berguguran. Tak pernah merasakan sesakit ini di dalam dadaku.

Ternyata aku salah tentang kesedihanku ketika sakura mulai mengugurkan bunganya. Beberapa menit yang lalu aku berpikir bahwa tahun ini terasa berbeda ketika melihat sakura berguguran karena Minho berada di sampingku. Tapi kurasa justru tahun inilah yang paling menyakitkan ketika aku melihat sakura berguguran karena cinta pertamaku juga gugur seperti mereka di akhir bulan April.

~TBC~

~Wait another story~

Maaaaaaaf. Maaf bangeeeeet karena lama banget ngepublish ini *bungkuk sedalem sumur* Sebenernya ff ini udah selesai sekitar seminggu yg lalu, tapi modemku gak bisa koneksi berapa hari. Jadi… maafkan author dablek ini._.v

Buat chapter 4nya, aku belom nyelesaiin. Mungkin bakal selesai kalo aku ada kesempatan buka laptop buat ngelanjut karena tugas banyaaak banget T_T

Nah, balik ketopik ff ini. Ada yang ngira bakal gini jadinya? Atau gaada? Sebenernya dari awal buat ini konfliknya sama sekali gaada di Taemin, jadi dia hanya penyelir pemulusan konflik(?)._. *digoreng bang tetem* nah, bakal ada dua orang lagi yang masuk ke dalam konflik—konflik nyatanya. Seseorang itu dari cast yang udah dimunculin loh… jadi tungguin cerita ini yaa^^v

58 thoughts on “First Love Pain – Chapter 3

  1. aku ganyangka ternyata Mino udah punya kekasih >_<
    sebenarnya , aku udah nebak pasti ntar Suzy patah hati gitu , ditolak sama Mino dari awal . .
    aah , ternyata tebakanku bener😀
    woaaaa , keren ffnya chingu😀
    kasian Suzy yaa , broken heart..
    taemin baik hati yaa ? mau menerima kenyataan dengan senyuman..
    seharusnya Suzy juga kaya taemin . .
    meskipun di tolak , tapi tetep bisa move on dan tersenyum ^_^
    kasian sekali , Suzy harus menghadapi kenyataan pahit pas bunga sakura berguguran . .
    tapi , menurutku bunga sakura yang berjatuhan , indaaaah sekali loh #GaAdaYangNanya..
    for all , bagus kok ffnya chingu..
    hmm.. Chapter 4 nya kayanya lama yaa ?
    yaudah deh , gpp. im stay to waiting😉
    oke deh , sekian komen dari saya , membuat penuh kotek komen..

    • aaih, chukkae chigu beneeer:D (sok gimanaa gitu ini bahasa author kekeke) ehehe gomawo chgu:3
      taemin emang baik hati:33 yah… kan tiap orang berbedabeda chigu, gimana sih rasanya kalo digituin. first love gitukan… (merangkap ke curhat)
      chigu udah pernah liat?._. waaaah, aku mau banget liat bunga sakura neplok dipohon T_T
      ah, makasih udah mau nungguin chigu:$ aku usahain secepatnya kok^^

  2. Kasian ya Suzy.,setelah ditolak lngsung ditinggaln gtu aja ma Minho.

    Dingin bnget ya Minho tu.,

    chap 4nya jgn lma2 ya dipublish, aq gx sbar ni nggu kelnjutnnya….

    • Kan minho emang aku buat dingin karakternya *tunjuk2 teaser* yah, kalo menurut aku kalo justru ditemenin sama minho malah mkn sakit loh._.
      Mungkin aku lanjutnya pas libur puasa chigu._. Tugas numpuk bgt

  3. Yahh ternyata minho nolak suzy dan chapter 3 yang ini gak sesuai sama tebakanku. Aku ngira malahan minho jadian sama suzy trus akhirnya minho selingkuh haha~ ternyata salah.
    Minho dingin banget ya, udah nolak eh langsung ditinggalin gitu aja suzy nya. Kasian suzy, udah ngumpulin keberanian buat nembak minho lah akhirnya ditolak juga.

    Tapi taemin hebat😀 dia bisa nerima biar suzy nolak cintanya. Aturannya suzy nerima taemin aja, minho dibuang ke laut #plak

    Kira-kira dua character itu siapa ya? Pasti cewe sama cowo *soktau

    Yaudahlah tor, daripada menuh-menuhin kotak comment. Mending sampe sini *haha.
    Ditunggu ya chapter 4nya😉 biar lama aku bakalan tetap setia nunggu author kok *eh maksudnya story nya*

    Chapter 3 keren tor😀

    • Minhonya jahat bgt kalo selingkuh–” yah… Nanti taemin dapet yg terbaik juga kok selain suzy:3
      Kalo karakter barunya pasti udah ketebak dong cewe apa cowo~ cluenya udah keliatan kok^^
      Eeeh._. Author gak lagi taken kok(?) *apa ini?*promosi status*
      Makasiiiih yaaaa:D

  4. Yaampun itu si Minho matanya kemana coba.. Cewek secakep & sebaik Suzy ditolak! Hadeh -_- *kebawa cerita*
    Ada cast baru? Cowo aja castnya yah yah *maksa* kekekee😄
    Lanjut chingu, semangkaaa~

  5. Yah..mtanya Minho Katarak yah..cwe kya SuZy d tolak…pngen tw dEh paCarnya siapa..,cAkepan mana sm suZy..kekekekeke
    kalo gni mah..aq dkung suZy sm Taemin aja..Abiez aq gx tega bgt liad suZy seDiH gtU.,hikz hikz hikz

    • Coba tebak aja chigu:D kalo cakepan author gimana? *eh?*kabur*
      Kan judulnya udah ‘flpain’ chigu… Jadi… Yah liat genre aja itu kan sedih._.
      Tapi, makasih udah baca+komen yaa:D

  6. cast baru yg udh tampil NAEUN kah??? kya taemin thukan end zy sakit hati TT Tpi lega jga udh bilang TT
    AISs biasanya klo sakura turun itu berbau romens2 kok ini zy mlh sakit hati TT
    Bener gag sih minho pnya pacar??? Q kira dia juga suka zy😦
    lnjut chingu jangan lama2 ya hehehehe ^^v

    • Naeun a-pink kah?._. Enggg.. Gimana ya*mikir* liat nanti aja ya:D
      Itu semacam minho adlh seorang phpT_T
      Nee, aku usahain kok chiguu, tp sekarang blm aku selesaiin. GasempetT_T

  7. akhirnya di publish juga aku udah pernah berpikir kalo suzy bkl dikecewain ama minho gt kan genrenya sad. ayo suzy move on aja kamu pasti bisa. next chap jan lama ya

  8. Addow.addow .. T_T
    hati q iktan brkedut2 pas tw minho udah pux kkasih .,
    suzy kasian.
    Eonni~
    d tgg next chap.a🙂
    #pnsaran tingkat dewa !

  9. uuhh..nyesek bgt pas minho bilan ‘kau memang istimewa..tp aku sudah memiliki kekasih..’ kalo gt seharusny minho g usah nunjukin kaya orang yg suka sama su jie..emosi aku..huhuhu..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s