Destiny


Tittle : Destiny

Author : EnnyHutami

Lenght : Ficlet

Rating : General

Genre : Romance, Angst, fantasy

Cast :

Lee Taemin, Song Yeonhwa

Disclaimer : Jalan cerita murni dari imajinasi author. Kalaupun ada kesamaan, author minta maaf. Lee Taemin milik SMEnt, orangtuanya, dan milik author. Song Yeonhwa adalah karakter imajinasi author:3 tidak ada toleransi untuk plagiatisme. Kalau ada yang ingin re-blog, tolong minta izin dulu dari sang author, EnnyHutami.

Copyright © EnnyHutami fanfiction 2012.

~ooOoo~


Tidak sedikit orang yang mempercayai takdir. Namun tidak sedikit pula orang yang tidak mempercayai takdir. Bagi mereka yang tidak mempercayai takdir, mungkin telah disakiti oleh takdir itu sendiri di masa lalunya. Membuatnya seolah hidup ini mereka yang menguasai, mereka yang mengendalikan. Bukan takdir.

    Tapi bagi laki-laki itu, inilah takdirnya. Berdiri sendirian sembari terus memperhatikan seorang gadis yang duduk sendirian di dalam kafe sembari menyesap minumannya dengan perlahan. Bisa dilihat dari kejauhan bahwa gadis itu tengah menunggu seseorang, terlihat dari gerak-geriknya yang menatap arlojinya satu menit sekali dan kepalanya yang menoleh ke luar kafe tersebut melewati kaca besar yang berada di sampingnya.

    Sudah berhari-hari ia terus mendapati gadis itu berada sendirian di dalam kafe dan seperti menunggu seseorang, tapi sampai sekarang ia tak berani menghampiri gadis itu. Sangat menyakitkan untuknya melihat Song Yeonhwa, gadis yang dicintainya, bersikap seolah tak ada yang terjadi dengannya. Gadis itu tetap menunggunya walaupun tahu ia tak akan menampakkan dirinya.

    Dengan menghembuskan nafas yang menurutnya menyakitkan, ia pun menetapkan hati untuk menghampiri Yeonhwa dan mencoba menyuruhnya agar tak datang ke kafe itu dan menunggu lagi. Bukankah kedengarannya kalau dia kejam sekali? Ya, kejam. Takdir yang membuatnya seperti ini. Takdir yang membuatnya ataupun Yeonhwa sama-sama tersakiti.

    Walaupun takdir sudah menyakitinya, ia tidak menyalahkan takdir tersebut dan tetap percaya pada takdir.

    Perlahan tapi pasti, ia pun mulai melangkahkan kakinya—tidak, bukan melangkah. Mungkin menyeret lebih tepat karena kakinya terasa sangat berat saat ini.

    Harusnya ia tak boleh bersikap seperti ini, ia tahu kalau Yeonhwa lebih menderita darinya. Bukan fisiknya yang menderita melainkan hatinya. Beban berat untuk menanggung ini semua sendirian. Ia tak bisa lagi bersama gadisnya, menemani gadisnya sepanjang hari, mengisi hari-hari gadisnya dengan canda dan tawa seperti yang lalu-lalu. Kini semua tidak sama lagi.

    Sudah tak terhitung sudah berapa kali ia menghela nafas, bahkan setelah ia sudah duduk di hadapan Yeonhwa.

    “Yeonhwa-ya,” gumamnya dengan suara serak dan volume yang sangat pelan, seakan ia tak mampu untuk mengucapkan nama gadis yang tengah duduk di depannya tanpa menoleh padanya.

    Karena tak ada tanggapan dari gadis di depannya, ia pun langsung bersandar pada punggung kursi yang didudukinya dengan lemas sembari menatap Yeonhwa dengan pandangan nanar. Kini ia merasa tak lagi memiliki tenaga.

    “Lee Taemin, kau tahu hukuman dariku kalau membuatku menunggu seperti ini.” Laki-laki itu tetap menatap gadisnya dengan pandangan nanar dan tetap pada posisinya.

Yeonhwa baru saja bergumam pada dirinya sendiri—bukan mengatakan untuk Lee Taemin yang tengah terduduk di depannya—sembari memutar ponselnya yang diletakkan di atas meja.

Tentu saja Yeonhwa tak bisa melihat Taemin. Jiwa Taemin memang masih tetap berada di dunia karena… entahlah—ia sendiri bahkan tidak tahu kenapa ia masih bisa bebas melangkahkan kakinya kemana pun ia mau. Tapi, tak ada yang bisa melihatnya. Beberapa hari yang lalu raganya sudah ditakdirkan untuk meninggalkan dunia, meninggalkan keluarganya, teman-temannya, dan gadisnya, Song Yeonhwa.

Kecelakaan beruntun yang menimpanya saat ia tengah mengendarai motornya menuju kafe inilah yang membuatnya berpisah dengan gadisnya. Harusnya ia sudah tak bisa memijakkan kakinya di sini, kini alamnya sudah berbeda. Namun kekhawatirannya pada gadisnya membuat jiwanya masih berkeliaran di dunia.

Yeonhwa sangat menderita. Ia sangat tahu itu walaupun gadis itu terlihat biasa-biasa saja. Tapi sebenarnya itu bukanlah ‘biasa-biasa saja’. Yeonhwa menganggapnya masih hidup dan terus menunggunya di sini, tempat terakhir yang dijanjikannya untuk pergi bersama.

“Song Yeonhwa?” ketika mendengar seseorang memanggilnya, Yeonhwa langsung menoleh dengan cepat walaupun ia tahu seseorang yang memanggilnya itu bukan Taemin karena suara itu milik perempuan.

“Oh, Hyejin-ah,” sahutnya ramah, seakan-akan ia tak memiliki beban berat yang tengah menimpanya. “Duduklah sebentar.”

Seseorang bernama Hyejin itu pun menurut dan menarik kursi di sebelah Yeonhwa, bukan kursi yang di duduki Taemin.

“Kenapa sendirian di sini?” tanya Hyejin dengan pandangan heran.

Taemin terus menatap Yeonhwa, tak mengalihkan pandangannya dari gadisnya walaupun Hyejin bertanya pada Yeonhwa. Ia terus mengawasi Yeonhwa, menantikan jawaban yang akan dilontarkan bibir tipis gadisnya.

“Aku tidak sendirian.” Jawaban Yeonhwa membuat Taemin menahan nafas—yah, walaupun ia memang tidak perlu bernafas lagi. Apa gadis itu tahu ia tengah berada di depannya, tengah memperhatikannya?

“Taemin dalam perjalanan kemari,” perkataan yang dilanjutkan oleh Yeonhwa membuat Taemin mendesah. Inilah yang membuatnya khawatir. Mungkin kalau Yeonhwa menanggapi kematiannya dengan terlarut dalam kesedihan dan menagis, ia akan lebih tenang. Toh, Yeonhwa tidak mungkin menangis selamanya. Tapi kalau begini, tentu saja pasti banyak yang mengira Yeonhwa gila karena depresi. Ia takut gadisnya tak bisa memulai hidup barunya lagi padahal usianya baru menginjak dua puluh tahun. “Kau sendiri sedang apa di sini?” Yeonhwa pun membalikkan pertanyaan yang tadi ditanyakan Hyejin dengan wajah polosnya.

Namun Hyejin tidak menjawab pertanyaan Yeonhwa, ia hanya menatap gadis itu dengan pandangan khawatir. “Yeonhwa-ya… Taemin sudah tidak ada,” Ucap Hyejin dengan nada menyesal.

“Dia memang tidak ada di sini—oh, lebih tepatnya belum datang.” Balas Yeonhwa dengan sedikit ketus.

Taemin hanya diam melihat sedikit perubahan sikap Yeonhwa yang sedikit ketus. Ia mengerti kenapa gadisnya bersikap seperti itu. Sangat mengerti. Song Yeonhwa tidak suka mendapati seseorang tengah menatapnya dengan pandangan kasihan seperti itu. “Ada lebih banyak hal menyenangkan yang telah kualami. Tidak seburuk itu. Jangan menatapku seperti itu lagi!” kira-kira begitulah yang akan Yeonhwa katakan ketika seseorang menatapnya dengan pandangan kasihan.

Tapi tidak kali ini. Apakah memang hal menyenangkan telah musnah dari hidupnya setelah Taemin pergi untuk selamanya? memikirkan kalimat itu membuat Taemin amat sangat merasa sedih. Padahal ia ingin melihat Yeonhwa tersenyum walaupun dirinya tak berada di samping gadis itu.

Belum sempat Hyejin menyampaikan kalimatnya yang sudah di ujung bibir, dering ponsel menyelanya. Membuatnya menutup kembali mulutnya dan segera merogoh tas tangannya.

Tak ada satu menit setelah Hyejin menerima telefon, ia kembali memasukkan ponselnya ke dalam tas tangannya kemudian menatap Yeonhwa yang tengah menyesap minumannya.

“Yeonhwa-ya, aku harus kembali ke kampus,” katanya pada Yeonhwa. “Aku turut berduka atas kematian Taemin. Kuharap kau tidak seperti ini.” lanjutnya. Kemudian ia bangkit berdiri, membuat kursinya terdorong sedikit ke belakang. “Aku pergi. Annyeong.”

Setelah Hyejin keluar dari kafe, Taemin mendapati Yeonhwa tengah menghela nafas berat. Taemin bisa mendengar kalau helaan nafas Yeonhwa menyakitkan. Wajahnya pun langsung berubah sedih namun tidak mengeluarkan air mata.

Ingin sekali Taemin menyentuh kulit halus Yeonhwa, menghiburnya agar ceria kembali. Wajah sedih Yeonhwa justru membuatnya sakit walaupun pada kenyataannya ia sudah meninggal. Seharusnya ia mati rasa, bukan merasakan sakit seperti ini.

“Ya, kau benar,” Taemin langsung mendongakkan wajahnya begitu mendengar suara serak Yeonhwa. “Taemin memang sudah meninggal dunia, tapi ia tetap berada di sini. Aku yakin sekali.” Gumam Yeonhwa pelan pada dirinya sendiri sembari mengaduk isi gelasnya dengan sedotan.

Sebelum melanjutkan gumamannya, Yeonhwa kembali menghela nafas dengan berat, seolah-olah wajah polosnya tadi langsung mendapat beban berat dalam sekejap mata. “Walaupun aku tidak akan pernah melihatnya, aku tidak akan pernah melupakannya.”

Gumaman Yeonhwa membuat Taemin melukiskan senyum lega di wajahnya. Ia merasa lega karena Yeonhwa tidak sedepresi yang ia kira, karena yakin Yeonhwa bisa memulai hidup barunya kembali. Tanpa Taemin yang biasanya selalu menemani hari-harinya. Yang ada hanya Lee Taemin yang tersimpan di dalam memori dan hati Yeonhwa.

~END~

HAPPY BIRTHDAY LEE TAEMIN‼! *tiup terompet*lempar balon*

Annyeong haseyeo~~~ aku kembali membawakan fanfict dengan cast Lee Taemin karena hari ini, 18 Juli adalah ulangtahunnya yang ke-19 (internasional) atau ke-20~~~ ah, uri magnae udah gede:3333

Sebenernya aku mau buat ff tentang ulangtahunnya Taemin, tapi… ide untuk buat ff ini terlintas begitu aja di otakku ketika lagi bantu-bantu di rumah. Gimana tentang ff yang ini?._.v kurang bagus ya?._. yah, maklum aja, namanya juga amatir hehe._.v

Oke, segini aja untuk persembahan ff di hari spesialnya bang tetem. Doaku buat dia… yang pasti panjang umur dan jadi milik author kekekek *dilempar kejurang* udah. Yang jelas, aku sebagai Shawol dan taemints mendoakan yang terbaik buat bang tetem dan SHINee.

Shawol~‼! Hag,hag,hag

 

4 thoughts on “Destiny

  1. TT.TT…. hiks
    eonni,, yeonhwa-nya kassiiiaaaann😦
    aku kira taeminnya bukan hantu (?) tpi ternyata udh meninggal.. huaaaa😥

    daebak deh eon ini ficlet!~
    hhh*tariknapas* *helanapas* yeonhwaa ayo semangat! sama Happy birthday buat Taeminnie😀 *tiup terompet*

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s