First Love Pain – Chapter 2



  • Tittle    : First Love Pain
  • Author    : EnnyHtm
  • Genre    : Romance, Sad
  • Lenght    : Chaptered
  • Rating    : General
  • Cast    :
  1. Choi Minho
  2. Bae Sujie
  3. Lee Taemin
  4. Lee Jinki
  5. And others

  • Previous    : chapter 1

    Copyright © EnnyHutami Fanfiction 2012

[CHAPTER 2]

-Boleh aku berharap?-

 

“Ada orang yang kausukai?”

    Aku terdiam tak mampu untuk menjawab pertanyaan dingin darinya. Bagaimana bisa aku menjawabnya padahal orang yang kusukai adalah dirinya? Tidak, tidak. Bisa jadi kalau Taemin tahu kalau aku menolaknya karena aku menyukai Minho, Taemin akan bertengkar dengannya. Berlebihan tidak sih pemikiranku?

    “Itu… sebenarnya tidak ada,” maaf aku berbohong padamu. “Aku hanya tidak tahu harus menjawab apa. Dia terlalu cepat.”

    Kulihat Minho hanya menganggukkan kepala sembari mengalihkan pandangannya ke depan. Apa dia cemburu? Bolehkah aku berharap dia cemburu kalau aku memang menyukai seseorang?

    Angin malam pertengah musim semi berhembus sampai menusuk tulangku. Musim semi tahun ini terasa lebih dingin atau karena sekarang aku tengah berada di daerah pegunungan?

    Tak tahan dengan dinginnya angin yang berhembus dan juga karena Minho tak mengatakan apapun, akhirnya aku memilih untuk kembali ke tenda. Lagi pula mataku mulai terasa berat.

    “Minho-ya, aku duluan, ya?” tanpa menunggu jawabannya, aku melangkah pelan untuk kembali ke tenda. Hh. Andai saja dia mengatakan sesuatu… mungkin saat-saat kami berdua seperti tadi tidak akan terasa buruk. Bahkan tadi aku takut kalau-kalau dia mendengar detak jantungku yang berdegub lebih cepat.

    “Tunggu,” mendengar suara beratnya lagi, aku pun menghentikan langkahku dan kembali membalikkan tubuh menghadapnya. Aku hanya memiringkan kepala tanda bertanya ‘ada apa’ padanya. Tak lama, dia pun melanjutkan, “Setelah acara api unggun besok malam, aku ingin menunjukkan sesuatu padamu. Kau tidak ada rencana dengan teman-temanmu, bukan?”

    Apa aku baru saja bermimpi? Kalau ini benar mimpi, tolong jangan bangunkan aku sekarang. Aku benar-benar menginginkan ia mengatakan ini. Dan… bolehkah aku berharap dia akan menyatakan perasaannya padaku besok malam?

    Oh, Tuhan! Untung saja ini malam hari. Jadi aku tidak kesulitan untuk menyembunyikan wajahku yang memerah akibat memikirkan hal-hal tadi.

    Aku menggeleng membalas pertanyaannya. “Tidak. Aku tidak ada rencana apapun.” Aku membalas terlalu cepat. Yah… berharap saja dia tidak menyadarinya.

    “Kalau begitu, aku tunggu besok. Sekarang tidurlah. Selamat malam.” Aku tersenyum mendengar suara berat bernada rendahnya. Suaranya benar-benar membuat kenyamanan tersendiri bagiku. Seperti obat penenang. Bahkan aku tidak lagi merasa dingin setelah mendengar suara rendahnya.

    “Selamat malam.” Balasku sambil lalu sembari tersenyum semanis mungkin. Aku harap hari esok adalah hariku.

¯

Hari kedua dimulai setelah semua murid sarapan. Permainan kali ini adalah mengumpulkan kertas berlogo sekolah Kyunggi yang ditahur di sekitar hutan. Katanya ada lima puluh kertas yang sudah disebar. Kelompok yang mendapatkan kertas paling banyak akan mendapatkan hadiah saat malam api unggun dan bagi kelompok yang tak mendapatkan kertas, mereka harus membakar semua jangung yang telah disediakan pihak sekolah untuk malam api unggun.

    “Masing-masing kelompok sudah siap?” tanya guru olah raga yang sampai saat ini aku tak tahu namanya menggunakan pengeras suara.

    “Bagaimana kalau kita bagi tiga kelompok?” aku menoleh begitu mendengar usulan Jinki saat murid-murid lain menyerukan sesuatu serempak. “Aku dengan Jinri, Taemin dengan Eunji, dan Minho dengan Sujie.” Kemudian ia melanjutkan setelah melihat tatapan heran dari aku dan yang lainnya.

    “Aku dengan Sujie saja!” seru Taemin sembari melingkarkan tangannya pada lenganku. Oh? Taemin serius ya dengan ucapannya yang akan menungguku kemarin?

    Sekilas aku melirik ke arah Minho yang sempat memutar bola matanya. Dia cemburukah? Dalam hati, aku terkekeh kecil melihatnya. Aku harap nanti malam dia akan benar-benar menyatakannya. Oh, Tuhan… kalau ini mimpi, jangan bangunkan aku.

    Tiba-tiba saja, kulihat Eunji menghampiriku kemudian melepaskan tangan Taemin yang melingkar di lenganku. “Kalau begitu, bagi dua kelompok saja. Perempuan ke sana—” telunjuknya di arahkan ke arah selatan, kalau tidak salah sih arah yang ditunjuk Eunji adalah selatan—”dan laki-laki ke sana,” tanpa menurunkan tangannya, ia menunjuk ke arah barat.

    “Tidakkah terlalu berbahaya tak ada laki-laki yang menemani kalian?” tanya Jinki setelah Jinri melangkahkan kakinya ke arahku dan Eunji.

    “Kau berlebihan,” ucap Minho sembari menepuk punggung Jinki dan berbalik. “Kita membuang waktu, cepatlah cari.” Lanjutnya sembari memunggungi kami. Lalu ia melangkah ke arah yang ditunjuk oleh Eunji tadi dan Taemin mengikut di belakangnya kemudian Jinki.

    “Eunji-ya, kenapa kau menyuruh kami pisah seperti ini? bukannya akan lebih cepat kalau kelompok dibagi seperti tadi?” aku menoleh ketika Jinri bertanya pada Eunji saat kami mulai melangkah perlahan memasuki hutan. Aku juga sebenarnya penasaran dengan alasannya.

    Sambil terus berjalan, mata Eunji terus saja bergerak-gerak mencoba mencari kertas berlogo yang dimaksud guru olah raga tadi. Sedangkan mataku dan Jinri terus menatap Eunji, menunggu jawabannya. Secepat kilat aku mencoba melirik ke arah Jinri. Ia terlihat penasaran dengan jawaban Eunji. Oh, apa dia juga menyukai Minho?

    Jangan bilang ia memang menyukai Minho. Tidakkah ini akan jadi rumit sementara kurasa aku dan Jinri akan menjadi teman baik seperti aku dan Eunji?

    “Kalian tidak lihat?” lanjut Eunji memotong pikiranku sembari melompat-lompat melewati semak dan menyingkap tangkai pohon rendah. “Dapat!” ucapnya sembari mengibaskan kertas berukuran HVS di depan dadanya dengan senyum sumringah tak luput dari wajahnya. Sementara Eunji kembali meloncat-loncat untuk menghampiri aku dan Jinri yang berdiri berdampingan tanpa tak berniat membantu Eunji. Sepertinya Eunji semangat sekali mencari logo itu.

Begitu sudah berdiri di hadapan aku dan Jinri, dia pun melanjutkan ucapannya yang sempat terpotong. “Minho terlihat tidak suka saat Taemin menggandeng lengan Sujie,”

“Minho menyukaimu, Sujie-ya?” sela Jinri cepat, membuatku menoleh dengan wajah bodoh karena tak tahu harus menjawab apa.

Aku memang berharap Minho menyukaiku, tapi itu sama sekali belum terbukti. Jadi, aku justru membalikkan pertanyaan padanya. “Kau menyukai Minho?” pertanyaanku membuat Jinri menggeleng dengan wajah kebingunggan dan juga membuat Eunji terkekeh geli sekali karena pertanyaanku. Ingin sekali aku menutup mulutnya rapat-rapat.

“Tidak,” jawab Jinri yang diam-diam membuatku menghembuskan nafas lega. “Dia bukan tipeku.”

“Duh, Sujie-ya, segitu leganya ya kalau Jinri tidak menyukai Minho?” benar-benar… dengan seenaknya, Eunji merangkulku dan berkata seperti itu sembari tertawa? Puas sekali dia menggodaku.

“Sujie menyukai Minho?” tanya Jinri polos. Polos sekali sampai-sampai membuat tawa Eunji semakin meledak, membuatku ingin menggembok mulutnya dan membuang kuncinya jauh-jauh.

“Jinri-ya, kau tidak lihat wajah Sujie yang sudah merah begitu?”

Aku tahu wajahku semakin memerah ketika Jinri menoleh padaku. Sontak, aku pun membekap mulut Eunji yang masih terbuka karena tertawa melihat wajahku yang semakin memerah kemudian menariknya sehingga kami pun melanjutkan langkah yang sempat terhenti.

Kenapa dengan Eunji hari ini? dia senang sekali menggodaku. Yah, kuharap dia tidak lagi menggodaku saat ada para anak lelaki, bisa-bisa aku mati karena menahan malu. Berlebihan ya? yah, memang tidak mati sih, tapi… siapa yang tidak malu kalau digoda habis-habisan seperti tadi kalau ada anak lelaki, terutama Minho? Jadi untuk mengalihkan pikiranku yang mulai kalang kabut entah memikirkan apa sehingga wajahku semakin memerah, aku pun mengedarkan pandangan ke sekeliling untuk menemukan kertas berlogo itu.

Baru saja keadaan sunyi menyelimuti kami bertiga yang sibuk menyibakkan tangkai pohon rendah guna mencari logo, Jinri pun membuka mulutnya, “Sujie-ya, semalam aku melihatmu di luar bersama Minho.”

Itu sama sekali bukan pertanyaan. Tapi pernyataan. Pernyataan yang membuat aku ataupun Eunji menoleh ke arah Jinri dengan cepat, walaupun ekpresi kami berbeda. Eunji dengan ekpresi yang siap menerkamku dengan berbagai macam pertanyaan dan ledekan, sementara aku hanya menoleh menatap Jinri dengan mata disipitkan dan kening berkerut karena ingin ia menarik kata-katanya kembali.

“Eh?” hanya kata itu yang bisa keluar dari mulutku. Antara bingung dan gugup. Aku bahkan tak tahu gugup karena apa. Karena ketahuan? Untuk apa? Toh aku bukan pencuri yang tertangkap basah.

“Minho menyatakan perasaannya?” tanya Eunji menggebu-gebu ketika ia sudah mendekat. Aduh, anak ini… kenapa bisa berpikir begitu? Yah, walaupun sebersit harapan di benakku kalau Minho akan menyatakan perasaannya padaku. Tentu saja menyatakan rasa sukanya, itupun kalau ia memang menyukaiku. Yah, berharap sedikit tidak menjadi masalah, bukan?

Dengan sedikit—aku yakin mereka berdua melihat dengan jelas keningku yang berkerut-kerut karena—ragu, aku pun membuka mulut. “Tidak. Hanya saja… dia… mengajakku ke suatu tempat nanti malam,” setelah mengatakannya, aku menggigit bibir bawahku sembari menunggu reaksi mereka berdua. Aduh, kenapa jantungku berdegup tak normal begini memikirkan apa yang akan terjadi nanti malam ya?

“Dia akan menyatakannya padamu,”

“Uwah, kalian akan berkencan?”

Kedua kalimat itulah yang aku dengar begitu mereka membuka mulutnya. Serius. Saat menunggu jawaban mereka, aku merasa waktu di sekitarku diperlambat seperti adegan di film.

Karena bingung tak tahu harus mengomentari apa, jadi aku hanya mengedipkan mataku berkali-kali sembari menatap mereka berdua dengan pandangan pongah bergantian.

“Oh, ayolah, Sujie-ya. Ceritakan pada kami semuanya tentang kemarin, ya?” pinta Eunjie dengan pandangan sok imut yang justru membuatku iba. Sedangkan Jinri hanya menganggukkan kepala tanda menyutujui ucapan Eunji.

Harus bagaimana lagi? mau tak mau aku menceritakan semuanya—yah, tidak semuanya aku ceritakan. Ceritanya sedikit aku rubah karena aku tak menceritakan bahwa Taemin menyatakan perasaanku.

¯

Pluit pertama terdengar di penjuru hutan setelah sekitar satu jam setelah aku menceritakan kejadian tadi malam pada Eunji dan Jinri, yang menandakan kami harus kembali ke perkemahan pada pluit kedua terdengar.

Setelah ceritaku, dilanjut Jinri yang menceritakan bahwa sebenarnya dia mulai menyukai Jinki—yah, aku mengakui Jinki memang orang yang menarik, dia baik sekaligus lucu. Sedangkan Eunji, dia bilang bahwa dia belum tertarik dengan perasaan terhadap lawan jenis dan ingin memfokuskan dirinya pada pelajaran. Kalau itu aku sudah tahu sejak lama.

Sejauh ini, kami bertiga sudah mendapatkan tujuh kertas berlogo—wow, bukankah itu banyak?—Eunji yang sepertinya semangat sekali mendapatkan empat kertas, Jinri dua sedangkan aku hanya satu. Yah, mataku memang tidak bagus untuk mencari benda-benda yang disembunyikan.

Tak jarang kami—well, sebenarnya hanya Eunji—ikut memperebutkan kertas berlogo yang tengah digapai-gapai oleh beberapa kelompok. Dan woah, padahal diantara kami bertiga, Eunji lah yang paling—ekhem—pendek, tapi dia dengan suksenya berhasil mendapatkan kertas berlogo itu dengan mudah dengan caranya sendiri.

“Jinki-ya!” aku menoleh cepat begitu mendengar suara Jinri meneriaki nama Jinki. Dan saat itulah aku melihat kertas berlogo itu lagi. Tidak berada di tangkai pohon tinggi melainkan di tumpukkan daun kering yang berjatuhan.

“Oh! Aku menemukannya!” seruku tak kalah keras sembari menunjuk tumpukan daun kering itu dan berlari kecil menghampirinya.

Tempat tumpukan daun kering itu tidak berada di jalan setapak, melainkan berada di tengah-tengah rumput liar berwarna cokelat. Tangkai pohon yang rapuh kemudian jatuh dari pohonya pun membuatku harus melompat-lompat kecil agar tak tersandung kemudian jatuh.

Hampir saja aku sampai menuju tumpukan daun kering tersebut, aku merasa keseimbangan tubuhku goyah karena sesuatu—lebih tepatnya seseorang—mendorong bahuku hingga aku tersungkur dan—”Omo!” pekikku begitu merasa sesuatu menusuk-nusuk di lututku, membuat seperti ada ribuan jarum yang ditusukkan ke lututku dalam waktu yang sama.

Aku benar-benar merasa kalau posisiku ini sangat tidak bagus dengan kedua telapak tanganku mulus menapaki dedaunan kering dan ranting-ranting pohon sedangkan kakiku mencium tanah yang kasar, membuat lecet-lecet di sepanjang tulang keringku. Yang lebih parah, lututku kini mengalirkan darah segar akibat terantung ranting dan batu.

“Maaf, maaf. Maafkan aku,” seseorang gadis mencoba membantuku berdiri dengan wajah paniknya, membuatku tersenyum kecil untuk meredakan kepanikannya dan kerena maklum. Aku maklum bisa sampai tersungkur jatuh karena sentuhan punggung gadis ini karena, ya… tubuh gadis ini cukup berisi. “Aku tidak sengaja. Sungguh. Kau bisa bangun?”

Ya! Sujie, lututmu berdarah!” seru Eunji yang sudah berjongkok di sampingku ketika aku membalikkan tubuh dan duduk di atas tanah kasar.

“Aku tidak apa-apa. Tenanglah,” kataku menenangkan semua yang menanyakan apa aku baik-baik saja sembari tersenyum dan meremas ujung jaketku. Apa aku terlihat baik-baik saja dengan lutut yang terus menge—Argh, aku memekik dalam hati, menyela pikiranku sendiri. Kaki sebelah kananku, yang lututnya berlumuran darah segar milikku sendiri, terasa sangat perih dan tentu saja sakit. Tapi aku harus tetap tersenyum untuk menenangkan gadis di depanku yang masih menanyakan keadaan kakiku, membuatku menggigit bibir menahan rasa sakit.

Bunyi suara robekan membuatku menoleh. Yang membuatku tak percaya, kulihat kini Minho berjongkok di depanku dan mengikatkan kain—yang kurasa ujung kausnya—pada lututku agar darah tidak terus menerus keluar.

Tanpa mengatakan sepatah katapun, Minho membimbingku agar aku naik dipunggungnya dan ia pun berdiri kemudian melangkah perlahan yang kutebak menuju perkemahan.

Sementara Minho melangkah sambil menggendongku, aku berusaha mengatur detak jantungku. Astaga, kalian pasti tahu bagaimana gugupnya aku saat ini. Kali pertama aku digendongnya dan jujur saja aku senang. Rasa sakit di lututku bahkan tidak terasa lagi.

“Kenapa hanya diam saja tadi?” Suaranya yang terdengar tiba-tiba di tengah kesunyian karena kami yang saling diam membuatku sedikit tersentak, terlebih lagi mendengar pertanyaannya. Apa dia ingin aku mengatakan sesuatu?

“Aku tidak tahu aku harus mengatakan apa,” akuku. Apa yang bisa aku katakan saat aku tengah mengatur detak jantungku agar tidak berdegup kencang kecuali diam? Mengajaknya mengobrol? Oh, yang benar saja! Aku tahu sekali kalau Minho bukan tipe orang yang banyak bicara. Aku sangsi sekali dia bakal mengomentari setiap perkataanku dengan pendek dan singkat, atau bahkan dia sama sekali tidak akan mengomentari perkataanku.

“Maksudku, kenapa tadi kau membiarkan lututmu terus mengeluarkan darah?” oh, jadi itu maksudnya… bukan menanyakan kenapa aku tak mengatakan sesuatu. Ini benar-benar memalukan. “Kau tahu kalau terus dibiarkan seperti tadi kau akan kehilangan banyak darah, bukan?”

Baiklah. Ini kali pertamanya aku mendengarnya berbicara panjang dan lebar. Dia benar-benar… perhatian—bisakah aku bicara seperti ini?

Karena tak tahu harus menjawab apa, aku hanya mengerjapkan mataku sekali dan bergumam tidak jelas.

Selanjutnya, tak ada yang berbicara lagi sampai kami sampai ke perkemahan. Aku sedikit penasaran apa yang tengah ia pikirkan saat ini. Mengeluh aku berat atau apapun karena ia menggendongku tanpa berhenti untuk menurunkanku, padahal jarak dari tempat aku jatuh ke perkemahan cukup jauh.

“Ada apa dengannya?” kulihat guru perempuan berambut sebahu yang menggunakan kacamata berlari kecil ke arah kami setelah melihat Minho datang sembari menggendongku. “Ayo cepat kemari.” Guru berkacamata itu segera mengarahkan jalan pada kami—mungkin lebih tepatnya pada Minho—setelah menyadari bahwa salah satu kami tak menjawab pertanyaannya.

Setelah Minho menurunkanku dari gendongannya di bangku kayu yang diletakkan di samping tenda guru, guru berkacamata itu—yang kurasa bernama guru Nam ketika guru Chan bertanya padanya—sibuk membongkar kotak kesehatan yang guru Chan berikan.

“Kenapa bisa sampai terluka begini?” tanya guru Nam sembari melepaskan robekan kaus milik Minho yang diikat di lututku. Belum sempat aku menjawab, guru Nam berbicara lagi yang membuatku rapat-rapat menutup mulut. “Kau pasti ceroboh saat berjalan di dalam hutan sana—aigoo, darahnya banyak sekali.”

Sementara aku mengaduh kesakitan dan guru Nam mencoba mengobati lukaku, kulihat Minho berjongkok di sebelah guru Nam—walaupun tidak tepat di sebelahnya—dan tengah memperhatikan tangan guru Nam yang terampil membalut lututku dengan kain kasa dengan ekpresi lucu. Alisnya ikut mengernyit ngeri ketika aku mengaduh.

“Aduh!” pekikku ketika guru Nam menepuk lututku setelah membalut lukaku dengan perban. Guru ini… kenapa kejam sekali pada muridnya? Walaupun ia menepuk lututku dengan pelan, tapi tetap saja itu membuat nyeri di lututku bertambah.

“Nah, nak, bisa kau berdiri?” tanya setelah berdiri dan berkacak pinggang dengan senyum puas terulas di wajahnya, seakan ia baru memenangkan pertempuran hebat.

Untuk mencoba, aku pun bangkit berdiri dengan pelan-pelan. Minho yang tadinya berjongkok pun ikut berdiri sembari memegang—atau lebih tepatnya menyentuh—lenganku kalau-kalau lututku terasa terlalu sakit untuk menopang berat tubuhku sendiri.

Ya, memang terasa sakit ketika aku menapakkan kaki kananku hingga benar-benar menaruh beban berat tubuhku di sana. Begitu sadar aku baru saja memekik kesakitan, aku segera mengatupkan bibirku rapat-rapat.

“Sakit sekali?” tanya Minho sembari menahan lenganku ketika ia membantuku berjalan menuju tenda.

“Tidak,” elakku. Yah, sebenarnya ini terasa sakit sekali. Tapi aku tidak ingin membuat siapa-siapa khawatir terlebih lagi dia. “Tidak terlalu sakit.”

Aku tidak tahu apakah dia memercayai jawabanku atau tidak karena ia diam sehabis itu. Sama sekali tidak mengeluarkan sepatah katapun. Jelas saja bukan kalau aku benar-benar penasaran dengan apa yang tengah dipikirkannya.

“Minho-ya,” panggilku ragu ketika ia hendak berdiri setelah memastikan aku duduk dengan posisi yang tidak membuat lututku terasa sakit kembali. Dia menoleh tapi aku tahu ia tidak akan menyahut, jadi aku pun melanjutkan. “Itu… nanti malam, setelah acara api unggun, kau ingin menunjukkan apa padaku?” baru saja aku menanyakannya, bukan? Oke, baiklah. Kini aku menahan nafas karena penasaran dengan jawaban yang akan dilontarkan olehnya. Apa jawabannya akan sama dengan apa yang kupikirkan saat ini? aku tahu ini terlalu berharap, tapi setahuku semua yang terjadi itu dimulai dari harapan.

“Kalau kakimu sudah lebih baik, nanti malam kau akan melihatnya sendiri.” Jawabnya lalu berlalu pergi meninggalkan aku sendiri di sini.

Memang agak mengecewakan sih. Kukira ia akan menemaniku sampai yang lainnya kembali kemari. Yah, tapi apa boleh buat. Dia toh sepertinya ingin kembali ke dalam hutan untuk membantu yang lain.

¯

Malamnya, setelah acara api unggun selesai dan kami dibebaskan untuk berkenalan dengan murid-murid dari kelas lain, Minho benar-benar mengajakku pergi berdua.

Tentang kakiku? Tentu saja aku terus mencoba menggerakkannya ketika aku sendirian di dalam tenda, walaupun sekarang jalanku masih terpicang-pincang. Aku kan tidak mau kehilangan kesempatan untuk pergi berdua dengan Minho seperti saat ini.

Selama kami berjalan, tidak ada yang berbicara, hanya terdengar suara jangkrik. Hening. Tapi entah kenapa aku merasa nyaman dengan keheningan ini. Seakan keheningan ini familiar di telingaku.

“Apa masih jauh?” tanyaku tanpa menolehkan kepalaku ke belakang dan terus melihat ke kanan dan kiri. Aku jadi heran sendiri. Dia yang tahu jalannya tapi dia yang menyuruhku jalan di depan, harusnya aku di belakangnya, mengikutinya.

Tempat ini asing, tentu saja aku belum pernah kemari sebelumnya. Kurasa ini tidak masuk ke dalam hutan karena penerangannya memadai dari cahaya beberapa lampu ditambah sinar bulan.

“Tidak. Di sini tempatnya.” Sahutnya. Aku memberhentikan langkah kakiku dan membalikkan badan untuk melihatnya apakah ia sedang main-main.

Apa dia akan mengatakannya di sini? Yah, ini tidak terlalu mengecewakan. Tapi tempat ini juga tidak terlihat istimewa dengan rerumputan yang terlihat terawat di sebelah kiri. Tempatnya sedikit curam, walaupun kalau aku berdiri di atasnya aku tak akan terjatuh berguling-guling.

Seperti biasa, Minho tak banyak bicara. Ia hanya melangkah melaluiku yang sedang menatapnya bagai orang bodoh tersesat kemudian duduk d atas rerumputan yang kubilang tadi sedikit curam.

Dengan jantung yang berpacu cukup cepat karena membayangkan apa yang akan terjadi, aku pun mengikutinya dan duduk di sebelahnya dengan hati-hati agar lututku tak menyentuh apapun.

Aku mengikuti arah pandang Minho yang terus menatap lurus ke depan. Tidak ada apa-apa kecuali rumah-rumah penduduk yang diterangi dengan lampu minyak. Aku heran, kenapa rumah penduduk dekat dengan tempat perkemahan? Apa karena agar para peserta kemah yang tersesat saat berada di hutan dengan mudah menemukan pertolongan?

Aku merasa jantungku berdegub dengan cepat sekali ketika kedua tangan hangat Minho memegang rahangku dari belakang kepala. Lengannya yang menyentuh pundakku juga membuatku lagi-lagi menahan nafas. Ya Tuhan…

“Lihat ke atas juga,” katanya ketika membuat wajahku menengadah ke atas. Dan—wow! Bintang di atas sana banyak sekali, tidak seperti di langit Seoul yang tidak ada bintang. Di sini jauh lebih banyak. Bintang-bintang itu mengelilingi bulan, memantulkan cahayanya agar bulan dapat menerangi bumi pada malam hari.

Sebenarnya aku sangat berharap bisa melihat bintang seperti ini dari atap rumahku setiap hari. Memandanginya tanpa pernah merasa bosan. Ah, aku seperti mendapatkan kenyamanan dengan caraku sendiri.

“Aku tahu kau suka sekali dengan bintang. Makanya aku ingin menunjukkan tempat ini.”

Oh, jadi untuk itu ya? jujur saja aku sedikit kecewa. Hanya sedikit. Melihat banyak bintang dengan dia ada di sebelahku itu sudah membuatku sangat senang. Yah, memangnya aku mau mengharapkan apalagi?

Entahlah, rasanya aku tak bisa mengalihkan pandanganku dari langit penuh bintang padahal Minho ada di sebelahku. Aku ingin melihatnya sebentar, memastikan apakah ia juga tengah terpana dengan langit di sini. Tapi aku terlalu takut. Bagaimana kalau ketahuan aku mencuri-curi pandang? Bagaimana reaksinya setelah itu?

“Sujie-ya…” baru saja aku ingin bertanya bagaimana Minho tahu aku menyukai bintang, suara lembut yang khas yang kuyakin milik Lee Taemin terdengar memanggil namaku.

Dengan sekali sentakan, aku memutar bahuku hingga aku melihat Taemin berdiri tak jauh di belakang punggungku.

“Itukah alasannya kau menolakku?”

Mulutku yang terbuka hendak menyapanya kembali tertutup dengan tangan kananku yang terhenti di udara dan perlahan-lahan turun kembali begitu mendengar pertanyaannya. Aku tahu maksud pertanyaannya. Dengan sedikit rasa panik yang menjalar di tubuhku, aku menatapnya dan hendak menyangkal. Namun ia menyelaku lagi.

“Kau menyukai seseorang, dan orang itu adalah temanku sendiri, Choi Minho?”

~TBC~

~Wait another story~

Annyeong readers~ mian kalau ini lama bangeeet di publish. Ini karena kesibukan orang rumah yang negbuat aku juga ikutan sibuk dan ide yang susah dikembangin._.v

Nah, gimana sama chapter 2nya? Yah, kan karena masih chapter 2, jadi konflik sesungguhnya belom keliatan ya, baru yah… cinta segitiganya Taemin-Suzy-Minho hehe. Ohya, pengumuman juga. Bukan pengumuman sih-_- tapi semacem info. Buat yang nunggu ff-ku yang ini dan never ending, mungkin bakalan rada lama. Sekolah sibuuuuk. Ternyata kelas 11 itu ribet coy, materinya banyak-_- *oke author mulai curhat* jadi, mungkin aku bakal jarang banget ngelanjut ff karena emang sekolah yang pulang jam stg4 dan ditambah les dimana-mana~ *brb tenggelem di sungai Han bareng Taemin*

Huft, segini aja. Buat chapter 3 aku udah ada banyangan kayak gimana, tapi blm sempet aku lanjut. Makasih buat yang udah baca+komen^^ makasih juga buat siders yang gak saling menghargai^^v (sedikit keluarin smirk)

Dan, oh, ya. hari jum’at udah puasa kan? Aku sebagai author satu-satunya disini (emang ada siapa lagi?) mau minta maaf kalo ada salah selama buat ff atau bales-balesin komen^^ selamat berpuasa bagi yang menjalankannya~~~

68 thoughts on “First Love Pain – Chapter 2

  1. Huaaaaaaa akHirnya keluar juga….PENASARAN BANGET sm next partnya thor…..kekekekeke
    DAEBAK BUAT AUTHOR…

  2. Yaahh thor kenapa diberentiin pas mau keliatan konfliknya? Ahh bikin penasaran authornya
    FLP chapter 2 yg ini keren, padahal aku berharap minho nyatain cinta ke suji tapi ada taemin yg ngeganggu -_-
    Oke ditunggu ya chapter 3nya😀 jangan lama-lama tor!

  3. Ehmm.. Ituuu endingnya nanggung banget loh bener deh -__-
    Sukses bikin penasaran dan menurut aku ceritanya seru, feelnya dapet.. Tapi gendre nya kok ada Sad nya yah? Apa…. *negative thinking*
    Andwae andwae!! Jangan sad ending yah please ~(ending nya aja kapan tau)
    Lanjutannya di update soon yah.. Ditungguuuuu ^^

  4. kya minho Qkra bkl nembak zy, ternyata???
    omo taemin ternyata ngikutin minzy, tpi gmn jwaban zy nani
    klo dijwab bukn ada minho, klo bilng iya gmna taemin ma minho nantiny???
    lnjut chingu, oke ditunggu tpi jgn lma bget hehehe
    met buln romadhon and puasa jjuga ^^

  5. akhir’y d publish juga captr 2’y..🙂
    woah~ cerita’y makin keren + bikin penasaran thor..
    hmm gimana tuh reaksi minho? taem salah paham? apa 2min bakal ribut?
    ahhh… ga sabar nunggu captr 3..😀
    jgn lama2 ea thor..🙂

  6. Itu si Taem tiba-tiba muncul :3 tapi langsung ngamuk (?) kamu sama aku aj sini taeminnie pasti gak akan patah hati aku terima deh gapake usaha memperjuangkan cinta *plak

  7. Bakaln tmbh seru no.,konflik cnta segitiga antara Suzy, minho, dan taemin.

    Bagaimana reaksi minho ya stlh mndengar prkataan taemin.???
    Next chapnya jgn lma bnget ya thor….

  8. Bakaln tmbh seru no.,konflik cnta segitiga antara Suzy, minho, dan taemin.

    Bagaimana reaksi minho ya stlh mndengar prkataan taemin.???
    Next chapnya jgn lma bnget ya thor….
    Ditunggu…..

  9. chingu mian baru komen d chap 2.
    q reader bru d sini tp q dah lama reader ff mu d ffindo, brhubung d sini dah pd end jd q k sni tng q bkn siders.
    thor q suka ma ff ni wlw konflik n sad.a blm muncul tp ky.a seru . .

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s