[Final Chapter] Teenager Love Story



Tittle :
Teenager Love Story [Final Chapter]

Author :
EnnyHutami

Rating :
General

Lenght :
Chaptered

Genre :
Romance, Friendship

Cast :
Lee Jieun, Bae Sujie, Choi Jinri, Lee Taemin, Choi Minho, Jo Kwangmin, No Minwoo, Jung Soo Jung

Disclaimer : Plot cerita seutuhnya milik author, EnnyHutami. Kalau ada kesamaan dengan milik yang lain, author minta maaf karena author benar-benar nggak tahu. Semua cast bukan milik author melainkan milik Tuhan dan orang tuanya (pengennya sih Taemin dan Kwangmin jadi milikku kekekeke).

Note : Dilarang keras untuk memplagiat. Tidak diperbolehkan memposting ulang ff ini tanpa seizin author. Hargai kerja keras author buat bikin fanfict ini.

Previous : Chapter 1 | Chapter 2 | Chapter 3 | Chapter 4 | Chapter 5 | Chapter 6 | Chapter 7 | Chapter 8 | Chapter 9 | Chapter 10 | Chapter 11 | Chapter 12 | Chapter 13 | Chapter 14

Copyright © EnnyHtm fanfiction 2012

~ooOoo~

“Maaf membuatmu menunggu lama,” ucap seorang gadis yang baru saja memasuki kafe serba putih dan langsung duduk di hadapan Soo Jung.

Mendengar suara seseorang, Soo Jung mendongak dan tersenyum tipis. “Tidak, aku juga baru datang.” Sahutnya. Hening, tak ada yang biacara antara mereka berdua. Keduanya saling sibuk dengan pikiran masing-masing dan terlalu enggan untuk memulai. “Kau mau pesan minum?” tanya Soo Jung memulai pembicaraan.

Sujie menggeleng sembari mengibaskan sebelah tangannya di depan kepalanya. “Tidak perlu, habis ini aku harus pergi lagi.” tolaknya halus.

“Oh,” sahut Soo Jung. “Dengan Taemin?”

Sujie menatap ragu Soo Jung sebelum akhirnya ia menganggukkan kepalanya. Ia merasa aneh duduk berdua di sini dengan Soo Jung, kekasih Minho, setelah melihat mereka berdua berciuman. Jelas saja mengingat itu, kembali membuka sedikit lubang di dadanya yang sudah mulai tertutup karena satu bulan belakangan ini Taemin selalu mengisi hari-harinya dengan kekonyolan laki-laki itu. Ia bahkan sangat terkejut Taemin bisa bersikap seperti itu.

Melihat Sujie yang tersenyum sendiri, yang asumsinya tengah memikirkan Taemin, Soo Jung tersenyum mengerti. Sepertinya Sujie benar-benar sudah melupakan Minho. Diam-diam ia menghembuskan nafas lega.

Sadar ia terus saja dilihat Soo Jung, Sujie menggelengkan kepalanya kuat-kuat melenyapkan pikirannya tentang Taemin. Ah, kenapa laki-laki itu terus ada di kepalanya belakangan ini? “Jadi, kenapa kau mengajakku bertemu?” tanya Sujie memulai langsung ke inti.

Sebelum menjawab, Soo Jung berdeham terlebih dahulu untuk menghilangkan sesuatu di tenggorokannya yang terasa menggangjal. “Memang sudah sangat terlambat, tapi aku mau minta maaf.”

“Atas kebohonganmu menjadi adik Minho Sunbae?” tanya Sujie, ia sendiri tidak yakin alasan apa yang membuat Soo Jung meminta maaf.

Soo Jung terkekek pelan, membuat Sujie mengerutkan keningnya heran. “Kau bahkan masih memanggilnya Sunbae,” gumam Soo Jung. “Sopan sekali.”

“Ah, itu,” ucap Sujie menggantung. Ia tidak tahu harus mengomentari apa, jadi ia hanya ikut terkekeh walaupun dipaksakan.

“Tidak,” lanjut Soo Jung, meneruskan pembicaraannya yang tadi. “Bukan hanya karena itu. Aku minta maaf atas semuanya yang sudah terjadi. Aku yakin kau sudah tahu dari Taemin sendiri.”

“Minho Sunbae tahu kau datang menemuiku?” tanya Sujie jauh dari inti pembicaraan.

Kini giliran Soo Jung yang mengerutkan keningnya bingung. Dalam hati ia bertanya-tanya apakah Sujie masih menyukai Minho atau tidak. Kalau tidak, kenapa ia harus menanyakan ini? “Tidak, aku tidak memberitahunya.” Akhirnya ia menjawab. “Kau memberitahu Taemin?”

“Tidak,” jawab Sujie cepat. “Aku tidak memberitahu siapapun.”

“Kalau begitu, Sujie, aku dan Minho benar-benar minta maaf atas semuanya—taruhan, kebohongan, dan… membuatmu… sakit hati,” Soo Jung berhenti bicara sejenak, ingin melihat reaksi apa yang ditunjukkan gadis itu. Sujie pasti tahu benar dengan maksud ‘sakit hati’ seperti apa yang barusan ia bilang. Kemudian ia melanjutkan, “Sekaligus aku ingin berterima kasih. Berkatmu Taemin membatalkan pertunangannya denganku,”

“Jadi dia tidak bohong?” tanya Sujie menyela kalimat demi kalimat yang Soo Jung katakan. Padahal ia kira pertunangan antar Taemin dan Soo Jung tidak pernah terjadi. Berpikir logis, zaman semodern ini masih ada perjodohan? Ya Tuhan…

“Kau mengharapkan itu hanya bualannya?” tanya Soo Jung balik, membuat Sujie kalah telak tak tahu harus menjawab apa.

“Tentu saja tidak,” jawab Sujie. “Aku tidak berpikir begitu—oh, tunggu sebentar.” Ucapnya sembari menrogoh mantel musim dinginnya, mencari ponselnya yang terus berdering.

Soo Jung diam dan terus memperhatikan gerak-gerik Sujie. Gadis itu terlalu… baik? Bisakah ia berpikir bahwa Sujie gadis yang baik jika dilihat dari tingkah lakunya? Sama sekali berbeda dengan dirinya yang kurang bertingkah baik terhadap siapa pun. Ia bahkan heran Taemin bisa menyukai Sujie melihat orang yang disukai laki-laki itu sebelumnya adalah dirinya.

“Taemin?” tanya Soo Jung setelah Sujie mengantongi ponselnya kembali.

Sujie menganggukkan kepalanya kemudian menatap Soo Jung dengan ragu, membuat Soo Jung balik menatapnya heran. “Apa kau… sudah selesai?”

“Oh,” gumam Soo Jung mengerti. Ia yakin yang barusan menelfon Sujie adalah Taemin. Karena pasalnya beberapa puluh menit sebelumnya Sujie berkata ia akan pergi dengan laki-laki itu. “Aku sudah selesai. Maaf mengganggu waktumu.”

“Sama sekali tidak,” sahut Sujie sembari mengibaskan tangannya di depan dadanya. Kemudian ia berdiri dan mengambil tas tangan kecilnya yang ia taruh di kursi dei sebelahnya. Sebelum beranjak pergi, ia membalikkan badannya. “Mau keluar bersama?” tawarnya.

Soo Jung mendongak begitu mendengar tawaran Sujie. Walaupun ia sempat menaikkan alisnya, namun ia tetap mengangguk menerima tawaran tersebut.

“Eng… Soo Jung-ah, boleh aku tanya sesuatu?” tanya Sujie mencoba memulai obrolan ketika mereka berdua tengah berjalan beriringan di tepi jalan.

Soo Jung menoleh sembari mengantongi tangannya ke dalam mantelnya, mencoba menghangatkan telapak tangannya yang telanjang dari hembusan angin yang menggelitik. “Tentu,” sahutnya ramah.

Sujie diam tak langsung bertanya. Ia ragu harus menanyakan ini atau tidak, tapi dalam hati ia sangat penasaran. Kilasan wajah Taemin dan Minho terus saja muncul di benaknya. “Kau tahu kenapa… Taemin Sunbae sangat membenci Minho Sunbae?” akhirnya ia memberanikan diri. Harusnya ia tak menanyakan hal yang bukan urusannya, tapi ia terlalu penasaran dan Taemin tak pernah mau menjawabnya.

Well, sebenarnya mereka tidak saling membenci. Hanya Taemin yang membenci Minho. Tapi seiring perlakuan Taemin, Minho—tidak sampai membenci—sangat kesal dengannya karena sikap kekanakannya,” Soo Jung berhenti bicara sejenak untuk mengambil nafas sekaligus memberi jeda pada Sujie. Namun sayangnya Sujie tak membutuhkan jeda dan terus menolehkan kepalanya pada Soo Jung, memintanya untuk kembali meneruskan ceritanya.

“Saat itu aku belum mengenal mereka berdua. Aku tahu ini karena Minho menceritakannya padaku,” lanjutnya. “Sekitar lima atau enam tahu yang lalu Taemin yang memang sudah tak suka pada Minho sejak pertama kali melihatnya, melihat kakak perempuannya—”

“Kakak perempuan Taemin Sunbae? dia punya kakak perempuan?” potong Sujie.

Soo Jung mengangguk dan kembali melanjutkan ceritanya. “Hanya sedikit orang yang tahu kalau Taemin memiliki kakak perempuan, itupun tahu bukan dari mulut Taemin sendiri,”

“Kenapa begitu?” sela Sujie lagi, membuat Soo Jung menghela nafas menahan emosinya.

“Jangan menyela lagi.” Ucap Soo Jung dingin sehingga membuat Sujie mengatupkan mulutnya rapat-rapat. Baru kali ini Sujie menemui gadis sedingin Soo Jung, biasanya ia hanya menemukan laki-laki yang bersifat dingin—bukan seorang gadis.

Setelah yakin bahwa Sujie tak akan menyela lagi, Soo Jung pun kembali melanjutkan ceritanya. “Sampai di mana aku tadi?—oh, aku ingat,” ucapnya saat Sujie hendak membuka mulutnya untuk menjawab. “Saat Taemin melihat kakak perempuan tergeletak tak sadarkan diri dengan banyak darah di kamarnya sendiri, waktu itu sangat kebetulan Minho sedang bermain di sana, melihat Minho yang tengah berjongkok di samping tubuh kakak perempuan Taemin.”

Tenggorokan Sujie terasa tercekat ketika mendengar cerita Soo Jung. Matanya membelalak tapi mulutnya tidak terbuka lebar, ia justru mengatupkan mulutnya rapat-rapat. “Jadi… Minho Sunbae…”

“Tentu saja bukan!” sergah Soo Jung dengan nada yang meninggi, membuat Sujie sempat tersentak kecil. “Saat itu Minho masih kecil, tak mungkin ia yang melakukannya. Kakak perempuan Taemin mencoba bunuh diri, bukan karena dibunuh.” Lanjutnya mencoba menjelaskan.

“Bunuh diri karena apa?” tanya Sujie lagi karena merasa belum juga mengerti. “Kenapa sangat kebetulan Minho ada di sana?”

“Saat itu ada pertemuan bisnis antara keluarga Lee dan Choi. Ketika Minho ingin ke toilet, ia mencium baru darah dari kamar tersebut dan saat membuka pintu, ia melihat kakak Taemin tergeletak sembari meringis menahan sakit karena darah yang terus keluar dari pembuluh darah di tangannya.

“Saat Minho menghampirinya, kakaknya membelalakan matanya karena melihat Minho di sana dan menyuruh Minho agar tak memberitahu siapapun atau berteriak ketika Minho hendak berlari keluar. Minho pun menurut, ia berjongkok di samping kakak perempuan Taemin yang sudah sangat pucat kehabisan darah. Sebelum ia tak sadarkan diri, ia sempat memberi pesan pada Minho untuk adiknya, Taemin. ‘Suruh Taemin tidak berhenti bermain piano,’ begitulah katanya. Sampai sekarang, Minho belum juga memberitahu pesan itu. Kau mau kan menyampaikan padanya?”

Soo Jung berhenti bicara. Ia menghentikkan langkahnya dan memutar tubuhnya hingga menghadap Sujie. Tatapan matanya memancarkan permohonan. Ia juga tidak tahu kenapa dirinya seperti ini, ia hanya ingin Taemin berhenti membenci Minho.

Melihat tatapan Soo Jung yang sepertinya serius, akhirnya Sujie menganggukan kepalanya. “Baiklah, akan kusampaikan.” Janjinya.

“Terima kasih,” ucap Soo Jung lembut, seperti seorang teman dekat. Kemudian mereka melanjutkan langkah masing-masing. “Oh, Sujie-ya, aku kemari.” Katanya ketika Sujie masih melangkah lurus ke depan dan menunggu lampu merah untuk menyebrang jalan sedangkan dirinya harus berbelok ke kanan.

Soo Jung pun berbelok. Ia mengeluarkan dua cincin yang sama persis, bedanya hanya bentuk ukiran di dalam cincin tersebut. Yang satu terukir huruf T yang menandakan Taemin, cincin tersebut adalah cincin pertunangannya dengan Taemin satu tahun yang lalu. Dan satunya lagi terukir huruf M yang menandakan Minho. Laki-laki itu sengaja membelikan cincin ini saat ulang tahunnya sekitar satu bulan yang lalu. ‘Kalau kau tidak suka cincin pertunganmu, lebih baik pakai yang ini,’ begitu katanya ketika ia memberika cincin ini. Ia sangat senang karena akhirnya bisa melepas cincin pertunangannya tanpa dimarahi oleh kedua orang tuanya. Dari luar, kedua cincin ini benar-benar mirip.

“Oh!” gumamnya ketika seseorang menabrak bahunya dan membuat cincin dengan M itu mencelos dari genggamannya sehingga cincin itu menggelinding ke jalanan yang bisa dibilang lumayan sepi.

Cincin itu menggelinding hingga ke tengah jalan, untung saja jalanan tidak seramai biasanya karena hari ini terlalu dingin untung berjalan-jalan di luar rumah.

“Ah, dapat!” katanya setelah cincin kecil itu sudah berhenti menggelinding.

YA! Soo Jung, pergi!”

Soo Jung menoleh ke arah datangnya suara setelah ia mengambil cincin itu dan melihat Sujie tengah berlari ke arahnya. Begitu mendengar suara decitan yang memekakkan telinganya, ia berdiri tegak dan menoleh ke arah lain.

Kejadian itu terlalu cepat. Kakinya terasa ngeri luar bisa dan punggungnya terasa seakan membentur aspal ketika merasa seseorang menarik paksa tubuhnya. Ketika ia membuka mata, ia melihat mobil berwarna putih kehijauan itu berhenti tepat di depannya dengan asap yang mengepul dari ban mobil yang beraduk dengan aspal.

“Nona, kau baik-baik saja?” tanya seseorang yang tidak di kenalnya.

Ia tak menjawab, hanya berdiri dengan susah payah dan memasukkan dirinya ke dalam kerumunan orang. “Sujie!” pekiknya sembari menjatuhkan diri dan mengangkat kepala Sujie yang tergeletak di aspal. “Ya, ya! bangunlah!” lanjutnya sembari mengguncangkan tubuh Sujie yang tidak sadarkan diri.

“Panggilkan ambulan!” teriaknya entah pada siapa ketika ia merasakan darah menyentuk telapak tangannya. Orang-orang yang melihatnya hanya berbisik-bisik dan menutup mulutnya. “TELFON 911!” jeritnya lagi karena merasa tak ada yang merespon. “Kumohon,” jeritannya kini berubah menjadi isakan putus asa. Ia tak tahu harus bagaimana lagi. Ini semua salahnya, begitulah yang ia pikirkan.

Dengan tiba-tiba, seseorang mendorongnya hingga ia hampir terjengkang. Kemudian seseorang itu, yang ia tahu adalah Lee Taemin menatapnya dengan sangat murka sembari memeluk kepala Sujie. “Apa yang telah kau lakukan padanya, Jung Soo Jung?!” teriak Taemin pada Soo Jung. Laki-laki itu sama sekali tak memikirkan keadaan di sekelilingnya, yang ia pikirkan hanya Sujie saat ini. Bagaimana caranya agar gadis itu tetap hidup. “CEPAT PANGGIL AMBULAN!”

Soo Jung tersentak dengan teriakan murka Taemin, namun tetap mengambil ponselnya dan mencoba menghubungi rumah sakit dengan tangan dan suara yang bergetar.

Tidak sampai seperempat jam, ambulan yang barusan Soo Jung telfon sudah datang dengan suara sirene yang memekakkan telinga Soo Jung. Dengan sigap, para tim medis pun keluar dari ambulan dan langsung membawa Sujie masuk ke dalam. Taemin dan Soo Jung pun ikut masuk.

Sepanjang perjalanan ke rumah sakit, Taemin tak pernah menghiraukan Soo Jung yang duduk di sebelah salah seorang tim medis yang terus memperhatikan alat-alat medis dan terus menggenggam tangan kecil Sujie.

Semua orang yang berada di mobil ambulan tersebut mendongak ketika suara nyaring dari alat medis yang melihat detak jantung Sujie berbunyi. Dengan gerakan cepat, Taemin menyingkir agar tim medis mencoba untuk melakukan sesuatu yang ia tak ketahui.

Taemin menatap tubuh Sujie yang terbaring tak sadarkan diri dengan pandangan… takut, marah, sedih, dan putus asa yang menjadi satu, sedangkan Soo Jung mencengkram tangan satunya lagi dengan terisak.

“Sujie… bangunlah,” Gumam Soo Jung pelan dengan suara yang gemetar. Suaranya yang pelan bahkan tidak terdengar oleh Taemin karena tenggelam oleh suara sirene. “Kau belum menepati janjimu.”

Setelah itu, garis lurus terus saja terlihat dari monitor alat jantung. Soo Jung menoleh dengan air matanya yang mengalir deras. Sedangkan Taemin, ini kedua kalinya ia melihat seseorang yang ia sayang meninggalkannya untuk selamanya. Kakak perempuannya dan Sujie. Untuk pertama kalinya dalam beberapa tahun terakhir, akhirnya air mata Taemin menyusup keluar dari pelupuk matanya sehingga membasahi pipinya. Ia mengacak rambut belakang kepalanya frustasi sembari menggumamkan nama Sujie.

¯

Seluruh orang yang tengah sibuk menyerukan nama panggung seorang gadis yang berdiri di tengah panggung sembari tersenyum ramah, tiba-tiba terdiam ketika gadis itu mulai berbicara melalui microphone yang ia pegang.

Sebenarnya gadis itu merasa gugup karena ini pertama kalinya ia melakukan konser solo semenjak debutnya empat tahun yang lalu. Namun karena melihat banyak cinta yang diberikan oleh para penggemarnya yang mengelu-elukan namanya dari awal konser dimulai sampai penutupan konser seperti sekarang dan semangat yang diberikan oleh Ayah, kakak laki-lakinya, kekasihnya, teman-temannya dan bahkan para staff konser, perasaan gugup itu seakan lenyap dan hanya menyisakan sedikit di kakinya yang terasa sedikit gemetar.

“Sebenarnya…” katanya memulai. “Alasanku untuk melakukan konser tunggalku di hari ini karena beberapa alasan,” beberapa orang yang tadi sempat meneriakkan nama panggungnya kini terdiam, ingin gadis yang berdiri di atas panggung tersebut kembali melanjutkan ucapannya.

Merasa suasana cukup hening untuk kembali berbicara, ia pun melanjutkan. “Alasan pertama karena aku ingin berterima kasih pada kalian, karena kalian telah memberikan banyak cinta untukku. Tanpa kalian, aku tak mungkin berdiri di sini dan melakukan konser. Terima kasih banyak.” Setelah mengucapkan terima kasih, ia membungkukan tubuhnya dalam dan cukup lama, membuat orang-orang yang menontonnya bertepuk tangan.

“Alasan yang kedua, aku ingin berterima kasih kepada beberapa orang. Tuan Park yang melatihku dan membimbingku sejak aku audisi, seniorku juga yang sudah banyak membantuku. Terima kasih. Tak lupa ayahku, kakak laki-lakiku, dan teman-temanku yang sedang melihatku dari tempatnya. Terima kasih atas dukungan dan semangat kalian.”

“Dan alasan terakhir,” ia berhenti sejenak dan matanya mencari-cari seseorang di ribuan orang yang menontonnya, berharap orang itu tengah duduk dan melihatnya berdiri di atas. Tapi sayangnya itu tak akan pernah terjadi. Seseorang itu tak akan pernah menontonnya dari tempat ini. “Untuk salah satu sahabatku yang mungkin sedang menontonku dari tempatnya berada sekarang. Hari ini delapan tahun peringatan kematiannya.”

Di tempat lain, tepat di bawah panggung itu, seorang laki-laki berambut merah gelap yang duduk di depan grand piano putih mengeluarkan kalung dengan bandul kecil dengan dua huruf. T dan S. Taemin dan Sujie. Ia ingat hari ini hari apa, ia tak akan pernah melupakan hari ini pada delapan tahun yang lalu.

Laki-laki itu, Lee Taemin tak lagi mendengarkan saat Jieun—yang sekarang mempunyai nama panggung IU semenjak debutnya—melanjutkan kalimatnya. Yang ia tahu, tiba-tiba saja pijakan yang ia ijak sekarang terasa naik ke atas yang menandakan sudah waktunya ia mengiringi Jieun bernyanyi.

Sebelum ia benar-benar berada di atas panggung, ia mengantongi kembali kalungnya dan menghela nafas berlebihan.

“Taemin‼!” ia menoleh ke arah para penonton ketika namanya dielukan dan kemudian tersenyum manis, membuat orang-orang yang tadi meneriaki namanya menambah volume suaranya.

Saat melihat Jieun melirik ke arahnya dan menganggukan kepalanya kecil, Taemin pun mulai menarikan jari-jari kurusnya di atas tuts piano. Sedangkan Jieun menatap Kwangmin yang duduk di salah satu kursi penonton sembari tersenyum. Begitu intro lagu selesai, Jieun pun mulai menyanyi dengan lembut.

¯

“Taemin-ah, kau akan pergi ke pemakaman Sujie?” tanya Jieun setelah berlari kecil untuk menghampiri laki-laki yang tengah berjalan santai di lorong panjang menuju ruang gantinya.

Laki-laki berambut merah gelap itu, Lee Taemin, tidak menghentikan langkah lebarnya atau sedikit mengurangi kecepatan langkahnya. Ia hanya menoleh dan mendapati Jieun tengah mencoba menyamakan langkah lebar Taemin.

“Tentu saja aku akan ke sana. Wae?” sahut Taemin.

Taemin menghentikan langkahnya ketika ia mendapati Jieun sudah berada tepat di hadapannya dengan sekali lompatan. “Aku ikut di mobilmu, ya?” pintanya dengan wajah yang dibuat-buat imut, tapi wajahnya yang sudah pada dasarnya imut membuat kesan bahwa Jieun terlihat seperti remaja belasan tahun lagi.

Mendengar dan melihat tingkah Jieun, Taemin hanya mendecak sembari mengalihkan tatapannya dari Jieun. “Ya, kau mau rumor tentang kau dan aku semakin banyak? ‘Lee Taemin dan IU pulang bersama setelah konser’, kau mau tulisan itu dimuat di artikel?” tanyanya.

“Tuan Park sudah memberitahu media tentang kedekatan kita, bukan? Untuk apa dipermasalahkan lagi?” Jieun balik bertanya dengan wajah polosnya, membuat Taemin ingin menguburnya hidup-hidup karena diumur kedua puluh enam tahunnya ini Jieun masih bersikap layaknya remaja belasan tahun. “Ayolah, Sunbaenimku di sekolah ataupun di agensi, Kwangmin Oppa dan yang lainnya sudah menunggu di sana.” Rajuk Jieun sembari menarik-narik lengan Taemin.

“Ah, baiklah, baiklah. Jangan merajuk padaku!” ucapnya sembai mangangkat kedua tangannya tinggi-tinggi, seakan-akan ia menyerahkan dirinya pada polisi. “Cepat ganti baju, kutunggu di mobil.”

Dengan semangat, Jieun berdiri tegap dan menaruh keluma jadinya di depan keningnya (seperti orang-orang yang tengah hormat ketika bendera dinaikkan atau diturunkan). “Aye, kapten!” sahutnya kemudian terkekeh kecil lalu berbalik untuk kembali ke ruangannya.

Tidak sampai dua puluh menit—yah, itu bukan waktu yang cepat untuknya berganti pakaian karena ia juga harus meladeni para staff yang mengucapkan selamat untuk konser pertamanya dan ia juga harus membungkuk dan mengatakan ‘kau sudah kerja keras’ pada staff yang ia temui serta, tentu saja ia harus bilang pada managernya—ia sudah berada di depan mobil hitam milik Taemin.

“Kenapa lama sekali? Hampir saja aku akan meninggalkanmu.” Tanya Taemin dengan sedikit ketus begitu Jieun masuk ke dalam mobil.

Jieun hanya memutar bola matanya sedangkan Jinyoung, manager Taemin, hanya terkekeh kecil di balik kemudi. “Ya, kalian bukan anak kecil lagi,” tegur Jinki pada Taemin dan Jieun sembari tertawa kemudian ia menyalakan mesin mobil.

Setelah berhasil melaju melewati kerumunan orang yang bergerombol di depan gedung—mungkin tengah menunggu keluarnya mobil Jieun atau Taemin—tak ada yang berbicara, mereka bertiga saling diam dengan pikiran masing-masing. Sesekali Jinyoung melirik Taemin yang duduk di sebelahnya, laki-laki itu tengah menatap kalungnya yang ada di genggamannya dengan pandangan menerawang.

Tentu saja Jinyoung tahu semuanya. Ia pernah mendapati anak asuhnya itu mengigau memanggil nama seorang gadis disaat ia sedang demam tinggi, dan Jieun—yang notabenenya adik kelas Taemin di sekolah ataupun di agensinya kini—juga sudah menceritakan semuanya pada Jinyoung walaupun gadis itu sempat ragu saat Jinyoung bertanya.

Lalu dia melirik Jieun yang tengah tertidur lelap di kursi belakang Taemin melewati kaca spion di atasnya. “Taemin-ah,” panggilnya kemudian sembari memfokuskan matanya ke jalan di depannya.

“Apa?” tanya Taemin datar tanpa mengalihkan pandangannya dari kalung tersebut.

“Sudah delapan tahun, bukan?” tanya Jinyoung memancing sembari tersenyum lembut.

Taemin yang tidak tahu kemana arah pembicaraan Jinyoung, menoleh dengan cepat dengan pandangan heran. “Katakan yang jelas, Hyung, aku tidak mengerti.” sahutnya.

“Oh,” gumam Taemin begitu Jinyoung melirik sekilas sembari mengendikkan dagunya pada kalung yang sedari tadi ia genggam.

“Tidakkah kau ingin mencari pengganti—oh, maksudku bukan pengganti, tapi… ya, kau tahu apa maksudku.” Ketika Taemin melayangkan tatapan dinginnya yang bisa membuat seseorang yang melihatnya mati seketika pada Jinyoung, dengan cepat Jinyoung mengganti kata ‘pengganti’.

Taemin mendesah namun tidak berkomentar. Andai bisa semudah itu, mungkin kini Taemin sudah menggandeng gadis lain. Tapi sayang itu terlalu sulit untuknya. Ia belum melirik satu gadis pun semenjak kematian Sujie delapan tahun yang lalu. Ia benar-benar sudah mencintai gadis itu…

¯

Sebuah tangan melingkar pada pinggang kecil Jieun dengan pas ketika mereka—Kwangmin, Jieun dan Taemin—tengah melangkah menuju makam Sujie di puncak bukit. Sedangkan Jinyoung memilih untuk tetap berada di dalam mobil karena tahu akan ada beberapa teman Taemin dan Jieun di sana, ia tak mau mengganggu acara reuni Taemin.

Laki-laki yang tengah melangkah pelan di samping Jieun, Kwangmin, menatap mata Jieun dalam ketika gadisnya itu mendongak untuk menatapnya. “Maaf aku kemari lebih dulu,” ucapnya menyesal.

“Aku mengerti,” sahut Jieun penuh arti sembari merapatkan tubuhnya pada Kwangmin ketika angin berhembus, membuat Kwangmin merangkul pundaknya untuk menghangatkan Jieun yang mulai kedinginan. “Sulit sekali untuk keluar.” Lanjutnya.

Taemin yang berjalan di belakang mereka hanya mendengus kecil, membuat uap putih mengepul keluar dari mulut dan hidungnya akibat cuaca di awal musim dingin. Namun Kwangmin atau Jieun sama sekali tidak menghiraukan Taemin, bahkan mungkin saja mereka tidak mendengarkan dengusan Taemin yang melangkah cukup jauh di belakang mereka. Kwangmin dan Jieun justru saling merapat ketika angin berhembus, membuat rambut panjang Jieun menari-nari mengikuti arah angin.

Sesampainya di puncak, di dekat makam Sujie, Taemin mendapati beberapa orang tengah menunggu di atas sembari berbincang-bincang. Adik kelasnya, yang juga teman Sujie, Minwoo dan Jinri. Serta Minho dan Soo Jung. Mereka tengah asik bercengkrama.

“Taemin, ada apa dengan rambutmu?” tanya Minho tanpa basa basi setelah mereka cukup dekat untuk berbicara tanpa berteriak agar orang yang ditanyanya mendengar.

Sembari memasukkan kedua tangannya ke dalam saku mantelnya, Taemin mengendikkan bahu acuh tak acuh namun bibirnya tertarik ke belakang membentuk senyum simpul. “Bukankah lebih tampan seperti ini,” sahutnya penuh percaya diri dan langsung mendapat koor dari Soo jung, Jinri dan Jieun.

Mungkin saja Soo Jung akan mengomentari kalimat penuh percaya diri Taemin tadi kalau laki-laki itu tidak melangkah menghampiri gundukan tanah yang tertutup rumput hijau dengan beberapa bunga terletak di atasnya.

Pasti banyak yang bertanya-tanya kenapa kini Taemin sudah tak membenci Minho dan Soo Jung, benar bukan? Saat mereka turun dari ambulan dengan wajah kacau, salah satu petugas dari kepolisian menghampiri mereka untuk meminta penjelasan. Dengan suara serak, Soo Jung menceritakan semuanya kepada petugas kepolisian tersebut dengan memastikan Taemin tetep mendengarnya. Ia tak ingin laki-laki itu salah paham padanya. Walaupun Taemin menundukkan wajahnya dan seakan tak peduli dengan kalimat demi kalimat yang Soo Jung ucapkan pada petugas kepolisian tersebut, tapi Soo Jung yakin sekali kalau laki-laki itu mendengarnya.

Dan beberapa minggu kemudian setelah keadaan Taemin sudah cukup ‘baik’—astaga, Taemin sepertinya sangat-sangat depresi karena kehilangan Sujie sampai-sampai ia bersikap dingin, kasar, dan sakartis pada siapa pun yang mengganggunya—dan sedikit bisa menerima kepergian Sujie, Minho datang seorang diri ke rumah Taemin yang saat itu hanya ada ibu Taemin untuk menyampaikan pesan terakhir kakak perempuannya sekaligus menjelaskan bahwa kematian kakak perempuan karena bunuh diri, walaupun orangtua Taemin tahu itu.

Respon Taemin saat itu? mengecewakan. Taemin hanya menatap Minho dengan wajah datar tanpa ekpresi kemudian berdiri dan menyuruh Minho untuk pulang dengan suara yang juga tak menunjukkan ekpresi. Terlalu tenang, pikir Minho saat itu. Ia juga ikut khawatir pada Taemin seperti orangtua Taemin, Kwangmin, Jieun dan teman-temannya yang lain.

Tak membutuhkan waktu sampai berbulan-bulan untuk menyadarkan Taemin dari ketenangannya yang terlalu tenang. Hati laki-laki itu lagi begitu melihat seseorang bermain piano dari kaca besar di toko alat musik ketika ia tengah berjalan pulang dari kampusnya.

Begitu sampai di rumahnya, ia pun mulai memikirkan semuanya—memikirkan ulang penjelasan Soo Jung tentang kecelakaan Sujie dan penjelasan Minho. Ia tahu kini ia sudah dewasa, dan ia tak ingin menjadi kekanakkan karena sikapnya sekarang. Jadilah ia pindah jurusan dari bisnis—ayahnya mengusulkan agar ia masuk jurusan bisnis agar bisa meneruskan perusahaan—menjadi musik, karena mengingat pesan terakhir kakak perempuannya dan juga ia menyadari bahwa ia menyukai musik.

“Taemin-ah,” Taemin yang mendengar namanya dipanggil oleh suara Jieun yang sudah tidak asing di telinganya tersentak dari lamunannya. Ketika ia menoleh, ia mendapati semua orang yang berada di sini—yang membawa pasangannya kecuali dirinya—tengah memandangnya dengan rambut yang berkibar diterbangkang angin. “Kau mau tetap di sini?”

Memangnya sudah berapa lama ia duduk berjongkok di sini?

Ia menganggukkan kepalanya menjawab pertanyaan Jieun sembari menyingkirkan rambutnya yang mengganggu matanya karena angin. “Kalian duluan saja.” Sahutnya.

“Oh, baiklah,” Sahut Soo Jung. “Kami duluan, sampai nanti.” Katanya kemudian berbalik untuk pergi diikuti Minho di belakangnya.

Melihat semuanya sudah pergi, ia pun menghela nafas. Walaupun Sujie meninggalkannya sendiri sudah delapan tahun, tapi rasa cintanya pada gadis itu belum juga pudar. Wajahnya, senyumnya, caranya berbicara, sentuhan tangannya pada pergelangan tangan Taemin, bahkan wangi tubuhnya masih teringat jelas di benaknya dan akan ia simpan dalam sudut memorinya untuk selamanya.

Dan saat itulah ia melihatnya. Sujie, pikirnya. Ia tahu ini hanya imajinasi belaka, namun ia senang bisa melihat gadis itu tersenyum di samping pohon rindang yang letaknya lumayan jauh. Matanya sama sekali tidak berkedip, takut gadis itu akan hilang ketika ia menutup matanya barang setengah detik pun karena ia tahu gadis itu hanya hanya imajinasinya.

“Mau di sini sampai gelap?”

Taemin mengutuk dalam hati ketika mau tak mau ia menoleh dan mendapati Jinyoung berdiri sambil melipat tangannya di depan dadanya. Ketika ia menolehkan kepalanya ke tepat di mana bayangan gadis itu berada, ia harus menelan kekecewaannya karena gadis itu tak lagi ada di sana. Ia menghela nafas berlebihan sebelum akhirnya ia beranjak dari tempatnya.

Hyung, mungkin aku memang harus mencari pasangan.” Ucap Taemin tiba-tiba setelah mereka masuk ke dalam mobil.

Jinyoung yang tengah memasak sabuk pegaman langsung menoleh dengan cepat. “Kenapa cepat sekali berubah pikiran?” tanyanya heran. Senyumnya merekah begitu memikirkan kemungkinan jawaban Taemin—yang omong-omong sama sekali tidak berniat untuk menjawab. “Kau iri pada teman-temanmu?”

“Yah… sedikit,” akunya dengan suara pelan yang nyaris seperti bisikan, membuat Jinyoung yang tengah menyalakan mesin mobil tertawa mengejek.

Taemin memilih diam dan tidak mengomentari ejekan Jinyoung, ia hanya bersandar sembari menutup matanya karena lelah. Namun tentu saja ia tidak terlelap. Pikirannya terus melayang pada wajah sempurna Sujie. Walaupun gadis itu sudah tidak ada di dunia itu, bukan berarti gadis itu menghilang. Tenang saja, pikir Taemin dengan mata terpejam. Kalaupun nanti aku mulai menyukai gadis lain, kau tak akan kusingkirkan dari hatiku. Kau akan selalu menjadi yang pertama di hatiku, Bae Sujie.

Seiring dengan matanya yang terpejam hingga membuatnya terlelap ke dalam mimpi indahnya, mobil yang dikendarai Jinyoung pun melaju kembali menuju Seoul.

END

Huaaaah, akhirnya ending‼! Gimana endingnya? Mengecewakan? Atau puas? Atau gimana?._. *gigit jari* ah, rasanya nyelesain ff ini tuh kayak di hempasin gitu aja dari helikopter yang lagi terbang tanpa parasut (mati dong gue?). oke, biarkan saja aku berimajinasi kayak tadi *lirik kalimat sebelah* yang penting imajinasiku bisa menghibur, yeaaah(?)

Ohya, bagaimanapun, aku sebagai author mau minta maaf karena selama TLS dipublish yang namanya typo gak pernah lepas. Jadi ini aku minta maaf karena typo yang ada dan jalan cerita yang tak benar. Hufft.

Buat ff baruku, FLP, wah aku terharu banget karena banyak yang nungguin *elap ingus* aku cuma mau kasih tau kalau ide pembuatan FLP itu dari komik jepang namida usagi. Buat yang doyan komik, coba baca deh. Gambarnya bagus ceritanya oke cowoknya ganteeeng *mata berbinar* muehehe. Pengennya sih aku mau kasih cuplikan dialog buat FLP chapter dua, tapi berhubung karena blm selesai (Akibat mau fokus sama ending TLS) jadi aku ksh bocoran paragraf pertamanya. Oke, cekidot~

[CHAPTER 2]

-Bolehkah aku berharap?-

“Ada orang yang kausukai?”

    Aku terdiam tak mampu untuk menjawab pertanyaan dingin darinya. Bagaimana bisa aku menjawabnya padahal orang yang kusukai adalah dirinya? Tidak, tidak. Bisa jadi kalau Taemin tahu kalau aku menolaknya karena aku menyukai Minho, Taemin akan bertengkar dengannya. Berlebihan tidak sih pemikiranku?

~ooOoo~

Lalalala~ ada yang penasaran? Coba tungguin cerita yang satu ini ya:D

Regards,

EnnyHutami^^

49 thoughts on “[Final Chapter] Teenager Love Story

    • seriusan saeng??? uwaaa, gomawooo:D
      IU? aku pasti nanti bakal buat, idenya udah muncul tapi masih bingung buat nulisnya hehe
      castnya Suzy sama Minho saeng

  1. Knpa sUzy haruz mati thor…..seDiH bgt bAcAnya..tak kira hapPy ending….gx bz byangin kalu itU bner2 trjadi….
    Ff slanjuTnya hruz happy ending ya thor…gx tega kalau suzy eoNni gtU…Dia hruz tetep bhagIa..hehehe

  2. Author gtU dEh..aqkhan fans berat suZy…jd seDiH bgt niH…msa’ suzy eOnni mati siH….hiks hiks hiks

  3. huaa aku telat ya bacanya? pas nge-check udah ada & sepertinya sudah lama…

    Suzy mati?? ini beneran mati eon?? *masihshock* huaaa T.T kirain aku bakalan selamat T.T
    kasian Taemin gk ada pasangan hiks😦

    taaapii, aku suka sama ending-nyaa😀 antara sedih sama bahagia a.ka terharu :”’)
    selama baca dari part 1sampe akhir gk pernah bosen nungguin ceritanya!! pokoknya FF TLS DAEBAK! /caps jebol/
    sedih ini udah part akhir, bakalan kangen nih sama FF TLS..

    *liat tulisan di atas* eh? ini kebanyakan commentnya ya? mianhe eonni, ini terlalu exited sama part akhir ^^
    pokoknya Keep Writing eonni! Hwaitingg! {♥}

    • Gak telat2 bgt kok saeng^^ baru di post tadi pagi
      Iyaa suzynya meninggal._. (Gaenak ngomong mati muehe) taeminnya sama aku ajaaa:3 *plak*diceburin jurang*
      Oh jeongmalyo?._. Yeaaaay akhirnya berhasil bikin ending yg gak gantung~~~
      Aaah, makasih udah setia nungguin saeng-ah{} aku kira bakal ada yg bosen sama tls soalnya terlalu lama dan kebanyakan konflik-_-
      Kekeke gpp saeng^^ aku suka baca komen yg panjang2 gini:D
      Ne:D makasih saeng-ah, kamu juga ya^^ keep writing~

      • ohh ne ^^ kirain aku udah lama banget post-nya hehe
        cheonma eonni ^^ ga aku gk bosen baca FF TLS malah nungguin terus tiap chapter hoho
        Ne, eonni ^^ aku belajar banyak dari FF ini.. Gomawo eonni~

  4. hya chingu sedih juga end nya sad, suzy mati TT tapi bagus kok
    chinguu yg ff FLP nya penasaran, apa suzy bakal jawab pertanyaan minho dgn jujur?
    ditunggu chingu pallia ah! ^^v

  5. Kyaaaa~ Sujie kenapa dibikin meninggal chingu? Kenapa? Aku pikir bakalan selamat & mereka hidup bahagia selamanya ._. aaa aku marah ah sama author.. Golok mana golok..!!
    *nyengir* ehehee becanda ding :p
    Aku puas bgt sama ff & endingnya, bagus deh feel nya dapet meskipun diluar dugaan.. Next project harus happy ending yah, harus pokoknya *todong pake golok* #dramaqueen -_-v
    Ini mau dibuat epilognya kah? Atau langsung next project? Yaudah apapun itu ditunggu yah, aku pulang dulu.. daaa~ *tlingg!!!*

    • Itu… Aaaampun chigu._.v *kabur*
      Jeongmalyo?._. Hihi makasih yaa:3 ne, next dibuat happyend kok^^
      Langsung kyknya chigu gaada epilog (efek otak ganangkep ide)
      Ne, titidj ya chigu:D

  6. huah daebak!!! sad ending umm nggak juga sih, tapi aku suka ending yg seperti itu, saeng, terkesan gak monoton😀
    wah gak ada cerita ttg jinri ya?? hehehee

    • Gomawo eonni hih:3
      Tadinya kalo sudut pandangnya ngarah di IU bakal aku buat eon, tp berhubung sudut pandangnya di taemin gak aku buat soalnya mereka kan cuma saling kenal hehe._.

  7. yaahh kenapa sujie harus mati sih tor?
    gak komentar banyak soalnya chapter ini udah bagus tapi akhirnya sad, ditunggu ya cerita yang satunya😀

  8. wah chingu cerita.a bikin terharu daebak chingu!!
    suji.a meninggal Y,Y T,T hiks..hiks kasian sama taemin
    yah udah ending.a padahal aku suka banget sama ff ini chingu >,< nangis #abaikan reader lebay#
    tapi aku suka banget sama ending.a walaupun taemin gak ada pasangan.a🙂
    chingu boleh minta ndk lain kali ada ff yang cast.a taemin,jieun,suji,kwangmin dll lagi ndk??
    cuman usul he..he😉 oh ya boleh manggil eonni gak sama chingu kalo chingu lebih gede dari pada aku?? aku lahir tahun 1998 yo v🙂
    chingu maaf kalo selama ini gk menjadi reader yang baik yah🙂 dan sering membuat chingu kesel atau marah ya dan ditunggu ff yang lain.a yah🙂 jeongmal mianhe chingu ya

  9. nih authornya suka nyebarin dosa ya?gua kira soojung yang bunuh,udah gua katain jahat lagi taunya di selametin.sequel dong*kayaknyacumasayayangminta*alasan?perjalanan hidup kan tidak cuma sampai di situ*wesssbahasanyaBADAIIIII*iu-kwangmin dunia serasa milik ber-2 yang lain numpang tinggaal ya?abis sampe gak sadar gitu sih.

    • Iya._. Sempet ngerasa nyebarin dosa gitu chigu baca komenkomennya.-.
      Engggg aku gak buat sequelnya._. Karena? Hidup gak selalu ada konflik dan cenderung membosankan (alamak bahasanya–“)
      Wkwk iya gitu emang. Kwangminkwangmin *gelenggeleng kepala*

  10. wah udh end yah cingu.. Keren keren ^^
    Itu taemin sama IU tetep aja kagak akur . Kwangmin sama IU so sweet deh,, sampek taemin dicuekin d belakang. Kekeke🙂
    Selamat cingu udh berhasil nyelesaiin FF sekeren ini . ditunggu FF iu selanjutnya . Hehehe (jiwa #shipper kluar nih)

    • akur kok chigu, buktinya taemin nebengin iu kekeke kan aku buat kwangmin cuma natap iu gak yg lainnya u,u
      uwahahaha makasih chiguuuuu:D ne, tungguin aja yaa^^

  11. huhu sad ending neh kirain suzy bakal selamat😦
    final chapternya daebak🙂
    chukae chinguuu akhirnya kelar juga hehe….

  12. iya sih.. tapi kan tetep aja itu karna iu yg maksa nebeng cingu . Hahaha
    justru nebayangin mereka tatapan gitu jadinya sweet . Kekeke
    Pokoknya author daebak deh (y)

  13. Yah kirain taemin sama suzy. Eh ternyata suzynya kecelakaaan duluan. Tapi ff-nya tetap keren deh thor, ngga nyesal bacanya dari part pertama. Author daebak! ^^

  14. Huaaaa sad ending… Aku netesin air mata masa *oke ini lebay* hehe abis kasian Taemin nyaaa apalagi pas baca yg dia lg liatin kalung T S.. Daebak lah eonni!!! Terus bikin ff yaa hwaiting!! ^^

  15. huwaaa..knp su jie meninggal..aku pengen nangis pas su jie dlm ambulan n taemin ngalamin kehilangan tuk kedua kali..sedih bgt..ff ini keren bgt..gomawo..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s