[Chapter 14] Teenager Love Story



Tittle:

Teenager Love Story

Author:

EnnyHtm

Rating:

PG-13

Lenght:

Chaptered

Genre:

Romance, Friendship

Cast:

Lee Jieun, Bae Sujie, Choi Jinri, Lee Taemin, Choi Minho, Jo Kwangmin, No Minwoo, Jung Soo Jung

Copyright © EnnyHtm fanfiction 2012

~ooOoo~

“Siapa yang memberitahumu? Apakah Jinki?” Tanya Kwangmin datar setelah seperkian menit terdiam, sama sekali tak menunjukkan ekpresi terkejut, marah, atau apapun. Dia terasa seperti patung yang tak memiliki ekpresi.

Tapi siapa sangka kalau sebenarnya dia tengah merasa gugup? Dia gugup karena takut kalau Jieun mengetahui perasaannya, gadis itu justru akan menjauhinya atau justru gadis itu akan marah terhadapnya. Tapi marah untuk apa? Menghindarinya untuk apa? Bukankah ia tahu bahwa gadis itu juga perlahan mulai menyukainya? Entahlah. Dia pun tak tahu pemikiran itu muncul dari mana

Kwangmin menatap Jieun hati-hati ketika gadis itu membuka ulutnya hendak berbicara. “Bukan dia, bahkan hari ini aku tidak bertemu dengan Jinki Sunbaenim,” Kwangmin tak berkomentar dan terus menatap mata gadis itu, membiarkan gadis itu untuk melanjutkan. “Aku tahu dari Sujie, dan dia tahu dari… Taemin Sunbae.”

Kwangmin mendesah. Cepat atau lambat laki-laki itu pasti akan menjelaskan sesuatu pada Sujie, dan ia tahu benar tentang itu. Yah, dia sudah tidak heran. Taemin yang ia kenal sudah kembali. Menjelaskan sesuatu pada orang yang disayanginya bahkan suatu rahasia pun akan ia ceritakan pada orang tersebut. Benar-benar orang yang harus diwaspadai jika menceritakan sesuatu padanya.

Karena beberapa menit terlewat namun tak ada satupun dari mereka yang bicara, maka Jieun pun memulai. “Maaf,” katanya sembari menundukkan kepalanya.

“Untuk apa?” tanya Kwangmin heran.

“Kau menghindariku karena aku buat kesalahan. Walaupun aku tidak tahu apa kesalahanku, tapi, aku minta maaf, Sunbae.” Jieun bersikeras.

Astaga, batin Kwangmin jengkel melihat kekeraskepalaan Jieun. Tanpa sadar ia memutar bola matanya sakartis pada Jieun namun gadis itu tak melihat karena masih menundukkan kepalanya. “Aku memang menghindarimu,” akunya kemudian. “Tapi bukan karena kesalahanmu. Itu…”

Mendengar Kwangmin yang tak juga melanjutkan kalimatnya, Jieun pun mengangkat kepalanya dan mendapati Kwangmin tengah memikirkan kalimat selanjutnya.

“Tidak, ini hanya kesalahanku. Maafkan aku.”

Jieun menatap tak percaya pada Kwangmin. Kenapa laki-laki itu bilang ini kesalahannya? Kesalahan laki-laki itu karena menyukai Jieun makanya dia menghindari Jieun? Jieun yang tersinggung hanya menelan ludah bulat-bulat kemudian berdiri, membuat Kwangmin mendongak menatapnya heran namun tak ikut berdiri.

“Kupikir, aku harus pulang. Annyeong, Sunbaenim.” Pamit Jieun lalu beranjak pergi. Ia merasa hatinya mencelos begitu berpikir bahwa Kwangmin menyalahi diri sendiri karena menyukainya. Hatinya terasa… entahlah. Ia tak bisa menggambarkan perasaannya saat ini. yang jelas ia merasa tersinggung atas ucapan Kwangmin. Salahkah kalau menyukai dirinya?

“Kenapa marah?”

Jieun menghentikan langkahnya begitu merasa tangan kanannya ditahan oleh Kwangmin dari belakang. “Aku tidak marah.” Jawabnya singkat tanpa membalikkan badan ataupun mencoba melepaskan genggaman tangan Kwangmin pada pergelangan tangannya.

“Aku tanya sekali lagi, kenapa marah?” ulang Kwangmin dengan sedikit menekan tiap katanya. Ia tidak langsung percaya pada jawaban Jieun. Jelas-jelas ia melihat perubahan ekpresi wajah gadis itu.

Jieun menghela nafas. Di saat seperti ini pun nada suara Kwangmin berubah menjadi dingin. Lagi. Apa dia benar-benar tidak tahu apa yang dipikirkan Jieun? Oh, mana mungkin dia tahu. Kwangmin terlalu cuek dengan orang-orang sekitarnya.

“Sudah kubilang, aku tidak marah!” seru Jieun sembari melepaskan genggaman tangan Kwangmin pada pergelangan tangannya dengan satu hentakan. Kemudian ia melanjutkan berjalan.

“Maaf,”

Jieun membeku di tempatnya begitu merasakan punggungnya bersentuhan dengan dada bidang Kwangmin. Bisikan suara Kwangmin yang diucapkan tepat di depan telinga Jieun, membuat perut gadis itu seolah dikelitik. Ia tak berani bergerak ataupun menolehkan kepalanya ketika dirasakannya pundaknya bersentuhan dengan dagu Kwangmin.

Tahu kalau tubuh Jieun menegang karena terkejut, Kwangmin justru membenamkan kepalanya di pundak dan melingkarkan tangannya pada pinggang Jieun. “Maaf karena aku menghindarimu. Aku hanya merasa… cemburu saat mendengar kau dan Taemin pernah berciuman,” ucap Kwangmin tanpa menggerakkan posisi tubuhnya barang sedikitpun. Ia merasa nyaman seperti ini. Menimbulkan suatu keberanian tersendiri untuknya.

Mata Jieun membulat mendengarnya. Kwangmin tahu? Apa Taemin memberitahunya? Batin Jieun geram. “Aku tidak berciuman dengannya…” bantahan Jieun terhenti ketika Kwangmin semakin mengeratkan pelukannya, membuat jantung Jieun seakan ingin keluar dari rongganya dan seperti ada ribuan kupu-kupu terbang di perutnya.

“Itu bukan ciuman,” lanjut Jieun mencoba untuk menjelaskan dengan suara yang lebih pelan. Pandangannya lurus ke depan, tak berani menoleh. “Dia menciumku untuk membungkamku.”

“Benarkah?” tanya Kwangmin sembari melonggarkan pelukannya sedikit. Diam-diam ia menghembuskan nafas lega dan tersenyum begitu Jieun menganggukan kepalanya. “Tapi tetap saja itu ciuman pertamamu, bukan?”

Jieun hanya menunduk malu menatap tangan Kwangmin yang masih melingkar di pinggangnya setelah mendengar pertanyaan Kwangmin tentang ciuman pertamanya. “Sebenarnya aku tidak menganggap itu ciuman pertamaku,” aku Jieun malu-malu. Bagaimana mungkin dia membicarakan ciuman pertamanya dengan Kwangmin? Benar-benar sudah gila! Rutuknya dalam hati.

Dengan gerakan tiba-tiba, Jieun merasa Kwangmin melepaskan pelukannya kemudian memegang kedua bahunya lalu memutar tubuhnya sehingga mereka saling berhadapan.

“Aku menyukaimu,” kata Kwangmin dengan suara rendah dan lembut. Kedua tangannya memegang bahu Jieun dan matanya menatap bola mata gadis itu dengan tatapan mengurung, membuat seakan Jieun tak bisa melarikan diri dari tatapan itu. “Aku sangat menyukaimu semenjak mengenalmu.”

Sunbae…” Jieun mengedipkan matanya berkali-kali begitu menyadari Kwangmin memiringkan dan perlahan memajukan kepalanya, membuat jarak diantara wajah mereka semakin tipis.

Jieun tak berani menggerakan kepalanya barang sedikitpun. Mata Kwangmin yang terus menatap bola matanya membuatnya terjerat oleh tatapan itu, seperti sihir. Ia tahu apa yang akan terjadi selanjutnya. Karena Kwangmin tak juga menutup matanya, akhirnya Jieun yang menutup matanya rapat-rapat. Kedua tangannya yang dibiarkan menggantung bebas di sisi tubuhnya meremas kaus panjangnya karena gugup.

“Aku pul—OMO!”

Mendengar suara dari arah belakang punggung Jieun, keduanya—Kwangmin dan Jieun—segera menjauhkan diri. Jieun yang sekarang wajahnya merah padam tak berani mendongak dan tetap menunduk sembari menggigit bibir bawahnya. Sedangkan Kwangmin hanya menggaruk tengkuknya yang sebenarnya tidak gatal sembari menatap adiknya dengan salah tingkah.

“Oh, kau sudah pulang,” ucap Kwangmin salah tingkah.

Adik perempuan Kwangmin, Gyuwon, menyipitkan matanya namun setengah tertawa. “Oppa, Onni, kalian baru…?” tanya Gyuwon sembari menunjukkan orang yang tengah berciuman dengan gerakan tangannya.

Aniyo,” bantah Kwangmin dan Jieun bersamaan.

Mendengar bantahan yang kompak dari Kwangmin dan Jieun, Gyuwon tertawa puas dan membuat Jieun kembali menunduk karena malu. “Onni, wajahmu merah sekali!” serunya sembari tertawa mengejek.

Ya, ya. Gyuwon-ah, kenapa kau tidak diam saja dan masuk ke kamarmu?” Kwangmin menyela tawa adiknya karena tak tega melihat wajah Jieun yang semakin memerah. “Jieun-ah, ayo kuantar pulang.” Tawar Kwangmin.

Ne, Sunbae,” sahut Jieun kemudian melangkahkan kakinya untuk pergi.

Melihat Gyuwon menggerakkan tangannya seperti orang berciuman, Kwangmin menatap tajam adiknya dan mengendikkan dagunya, menyuruh adikknya untuk diam dan masuk ke kamar.

Gyuwon tertawa melihat tingkah kakaknya namun ia tetap menuruti perintah kakaknya. Ia senang akhirnya ada gadis yang membuat kakaknya berekpresi seperti itu, tidak seperti patung hitup yang tak bisa berekpresi. Jieun Onni juga sangat cantik, batinnya.

¯

“Maafkan adikku tadi, ya?” ucap Kwangmin begitu Jieun turun dari motornya. Tak ada setengah jam, mereka sudah sampai di depan rumah Jieun. “Dia memang berisik.”

Setelah melepas helm milik Kwangmin yang dipakainya, Jieun mengangguk sembari tersenyum maklum. “Tidak apa-apa, Sunbae. Saat aku seusianya juga berisik seperti itu.” sahutnya sembari memberikan helm pada Kwangmin

“Berhentilah memanggilku Sunbae,” titah Kwangmin saat ia menerima helm miliknya dari tangan Jieun. “Panggil aku—” ia berdeham terlebih dahulu sebelum menyebutkan kata, “—Oppa.”

Ne?” ucap Jieun terkejut dengan nada yang meninggi. Sebelum melanjutkan, Jieun berdeham terlebih dahulu. “Oh, baiklah Sun—maksudku Oppa.”

Kini mereka berdua merasa canggung. Apalagi jika mengingat kejadian beberapa menit yang lalu di rumah Kwangmin, sebelum Gyuwon menginterupsi kegiatan mereka. “Kau mau masuk dulu… Oppa?” tawar Jieun. “Tapi tak ada orang di dalam.”

“Sebaiknya aku pulang saja,” tolak Kwangmin. “Besok mau berangkat bersama?” tanya Kwangmin ketika ia hendak memakai kembali helmnya.

“Aku takut merepotkanmu.” Sahut Jieun.

Kwangmin tersenyum, tipe senyum yang belum pernah dlihat Jieun sebelumnya. Senyum yang bisa melelehkan hatinya saat itu juga. “Sama sekali tidak merepotkan.” Melihat Jieun menganggukkan kepalanya sembari tersenyum membuat Kwangmin menelan ludahnya susah payah. Melihat bibir tipis gadis itu tertarik kebelakang membuatnya ingin merasakan hangatnya ketika bibirnya dan bibir gadis itu bersentuhan. Astaga! Kenapa ia mengingat itu lagi?

“Aku pulang,” pamit Kwangmin sembari mengalihkan pandangan matanya dari bibir tipis Jieun.

“Hati-hati,” balas Jieun sembari tersenyum dan melambaikan tangannya.

Kwangmin pun menyalakan mesin motornya dan melajukan motornya dengan kecepatan sedang. Ia menghembuskan nafas setelah melirik ke spion motornya dan melihat Jieun sudah masuk ke dalam rumah. “Untung saja Gyuwon cepat datang,” gumamnya muram pada diri sendiri. “Kalau tidak, aku tidak tahu bisa menahannya atau tidak.”

¯

Sepasang kaki yang menggunakan sepatu flat berwarna hitam keabu-abuan itu melangkah dengan hati-hati, menghindari rumput hijau yang terlalu basah yang terhampar luas di halaman sekolahnya. Pemilik sepasang kaki itu merapatkan matelnya begitu angin pagi hari di awal musim dingin berhembus menggelitik tubuh mungilnya.

Laki-laki yang sedari tadi berjalan di belakang gadis itu kemudian mempercepat langkahnya dan meraih telapak tangan gadis itu begitu melihatnya bergidik kedinginan. “Pagi ini sangat dingin,” kata laki-laki itu begitu merasa gadis itu terlonjak terkejut dan menoleh menatapnya. “Ayo cepat masuk ke dalam.” Lanjutnya sembari menarik tangan gadis itu dengan lembut, sama sekali tidak ingin tangan gadis itu tersakiti.

“Kwangmin Sunbae, tidak apa-apa kalau terus begini?” tanya gadis itu sembari menatap pergelangan tangannya yang masih digenggam Kwangmin ketika mereka memasuki gedung sekolah. Gadis itu, Lee Jieun, merasa tidak nyaman memanggil Kwangmin dengan sebutan Oppa seperti apa yang diinginkan laki-laki itu. Menurutnya hubungan mereka akan terasa canggung apabila Jieun memanggil Kwangmin dengan sebutan Oppa. “Lebih baik aku memanggilmu Sunbae,” katanya setelah turun dari motor Kwangmin.

Yah, Kwangmin memakluminya. Ia sendiri juga merasa canggung saat Jieun memanggilnya Oppa. Jadi memanggilnya Sunbae akan terasa lebih benar.

Kwangmin menghentikan langkahnya namun tetap menggenggam tangan Jieun begitu mendengar suara gadis itu. “Memangnya ada masalah?” tanyanya heran sembari menatap Jieun yang tengah melirik ke balik punggunya.

Melihat di balik punggung Kwangmin banyak orang lain yang tengah menatapnya sembari berbisik dengan teman di sebelahnya, Jieun pun menundukkan kepalanya. “Banyak yang melihatnya.” Sahutnya pelan.

Mendengar itu, Kwangmin langsung membalikkan badannya dan mendapati beberapa pasang mata tengah menatapnya dengan tatapan menyelidik atau bertanya dan ada juga sembari berbisik dengan teman sebelahnya. “Oh,” gumamnya sembari menegakkan badannya. “Tidak apa-apa.” Katanya sembari kembali melangkah. Posisi mereka tidak lagi Kwangmin berjalan duluan sedangkan Jieun di belakangnya, namun kini mereka berjalan berdampingan dan masih Kwangmin masih menggenggam tangan Jieun.

“Jieun-ah!”

Jieun membalikkan badannya begitu mendengar seseorang memanggil namanya. Dilihatnya Jinri setengah berlari menghampirinya dan Kwangmin.

“Mungkin sebaiknya aku ke kelas lebih dulu.” Ujar Kwangmin sembari melepaskan genggaman tangannya dengan berat hati.

Ne, Sunbae,” sahut Jieun.

Sebelum menghampiri Jieun, Jinri yang berhadapan dengan Kwangmin membungkuk sedikit dan dibalasa dengan senyuman kecil Kwangmin yang membuat Jinri menatap punggunya heran. “Woah, barusan dia tersenyum?” gumamnya begitu ia sudah berada di depan Jieun. “Jieun-ah, kalian sudah berpacaran?”

Jieun hanya mengangkat bahunya acuh tak acuh, membuat Jinri menatapnya heran. “Dia tidak bilang ingin jadi kekasihku atau tidak,” jawab Jieun sembari kembali melangkahkan kakinya menuju kelasnya. “Dia hanya bilang, dia menyukaiku.”

“Kau serius?” tanya Jinri dengan suara yang sedikit meninggi.

Jieun hanya mengangguk sembari menggembungkan pipinya menanggapi ketidakpercayaan Jinri. “Kau sendiri bagaimana?” tanya Jieun mencoba mengalihkan pembicaraan. “Ceritakan padaku kejadian kemarin.”

Malamnya Jinri memang menelfon Jieun dan Sujie untuk memberitahu bahwa dirinya dan Minwoo sudah resmi menjadi sepasang kekasih. Namun, sayangnya malam itu sudah terlalu larut dan Jieun tak mendengar banyak karena ia sudah mengantuk.

Dengan semangat, Jinri menceritakan dengan detail saat Minwoo menyatakan cintanya kemarin sore pada Jieun. Mendengar itu, Jieun merasa sedikit iri. Ia bahkan tidak tahu kalau Minwoo akan seromantis itu.

Ah, andaikan Kwangmin Sunbae bisa seperti itu. Jieun yang mulai mengandai-andai segera menggelengkan kepala sembari melangkahkan kakinya masuk ke dalam kelasnya.

“Ah, irinya,” ucap Jieun sembari menyenggol tubuh Jinri pelan. “Tapi bagaimanapun, selamat untuk kalian berdua! Akhirnya kalian bersatu juga,”

Ya, Sunbae! Kenapa masih mengikuti?”

Jieun dan Jinri yang hendak duduk di tempatnya masing-masing langsung berdiri lagi begitu mendengar suara yang sudah tidak asing lagi di telinga mereka.

“Aku kan hanya ingin melihat kau selamat sampai kelasmu atau tidak,” jawab Taemin polos yang berdiri beberapa meter dari Sujie. Entah kenapa, Taemin tak bisa bersikap keren atau semacamnya. Ia justru menunjukkan sisi kekanakannya. Ia merasa nyaman bersikap seperti itu pada Sujie.

Di belakang Sujie, Jinri dan Jieun hanya terkekeh melihat Sujie yang sepertinya hampir meledak menanggapi perlakuan Taemin yang kekanakan.

“Dia kelihatan berbeda, ya?” tanya Jinri dengan berbisik pada Jieun.

Jieun menoleh. “Siapa?” tanyanya balik. Melihat Jinri mengendikkan dagunya ke arah Taemin yang tengah tersenyum menatap Sujie, Jieun mengerti. Ia juga merasa kalau Taemin yang sekarang berada di depan Sujie bukanlah Lee Taemin yang ia kenal beberapa minggu yang lalu. Bahkan ini pertama kalinya bagi Jieun melihat senyumnya yang terlihat sangat ringan dan lembut. Tatapan mata itu juga… berbeda. Seakan hanya ada Sujie di mata Taemin, itu yang Jieun lihat dari Taemin yang kini berdiri di depan Sujie. “Oh, aku juga tak tahu. Belum pernah aku melihatnya tersenyum seperti itu. Kurasa ia benar-benar menyukai Sujie.”

“Itu kabar bagus! Yah, mudah-mudahan saja Taemin Sunbae tidak seperti Minho Sunbae.” Tidak heran kalau Jinri bicara seperti itu. Sujie sudah menceritakan semuanya tentang Minho dan Soo Jung. Jelas saja Jinri marah besar pada Minho, begitupun Jieun. Saat mendengar itu, selain ia marah terhadap Minho, ia juga merasa bersala pada Taemin karena menganggapnya orang jahat. Padahal kenyataannya Minho lah yang kejam pada Sujie.

“Sujie-ya! Biarkan saja dia, ayo masuk kelas.” Seru Jieun kemudian sembari terkekeh, membuat Sujie dan Taemin menoleh padanya.

“Kalau begitu, jam istirahat aku kembali kemari. Jangan kabur, oke?” ujar Taemin dan membuat Jieun menghela nafasnya berlebihan.

Ne, Sunbae. Kemarilah sesukamu,” sahut Sujie pelan. “Aku masuk dulu.”

¯

Sepanjang pelajaran berlangsung, Jieun tak bisa mengalihkan pikirannya dari Kwangmin. Dalam hati ia bertanya-tanya tentang statusnya saat ini. Kwangmin memang sudah menyatakan perasaannya, tapi laki-laki itu tak juga mengajaknya berkencan.

Hubungan mereka berdua memang belum jelas, tapi Kwangmin sudah memperlakukan Jieun seperti kekasih. Jelas saja ia tak bisa berhenti memikirkan statusnya dengan Kwangmin saat ini.

Saat pergantian mata pelajaran, Sujie yang melihat Jieun lesu seperti itu jelas penasaran dan memutuskan untuk bertanya apa yang terjadi padanya. Sayangnya Jieun terus menutup mulutnya seperti tidak ingin diganggu.

Namun akhirnya Jinri menceritakan pada Sujie apa yang telah terjadi antara Hubungan Jieun dan Kwangmin yang belum jelas. “Sabarlah, mungkin Kwangmin Sunbae belum siap.” Ujarnya setelah ia memutar kursinya hingga ia menghadap Jieun.

Mendengar itu, Jieun langsung membenamkan wajahnya di atas tangannya yang dilipat di atas meja. “Tapi, aku bingung harus jawab apa kalau orang lain bertanya.” Sahutnya tanpa menunjukkan wajahnya. “Kau tidak lihat tadi, saat yang lainnya menyerbuku dengan pertanyaan-pertanyaan itu?”

Sujie terdiam, tak tahu harus membalas apalagi. Jieun benar. Hubungan tanpa status seperti ini memang sangat membuat frustasi walaupun ia sendiri tak pernah merasakannya.

“Sujie-ya,” walaupun Jinri memanggil Sujie dengan suara yang amat pelan, namun Sujie tetap mendengar kemudian menoleh. Sujie hanya menatap Jinri dengan pandangan heran saat ia menoleh dan melihat Jinri hanya mengendikkan dagunya.

“Apa?” tanyanya bingung.

“Oh, ayolah. Kau tahu apa yang kumaksud.” Balas Jinri sembari melirik kilat Jieun yang masih membenamkan wajahnya di kedua tangannya yang terlipat.

“Oh,” gumam Sujie begitu menangkap maksud Jinri. “Jam istirahat, ya?”

¯

“Yeoni-ya, kau lihat Jinri dan Sujie?” tanya Jieun sekembalinya ia dari ruang guru untuk menyerahkan tugas setelah bel pulang terdengar.

Seorang gadis berambut bergelombang sebahu menoleh begitu mendengar seseorang menyebut namanya kemudian menggeleng. “Setelah kau keluar kelas, mereka berdua langsung pergi.” Jawab gadis bernama Yeoni itu apa adanya.

Jieun mengangguk mengerti. Dalam hati ia merasa sedikit kesal karena ditinggal begitu saja oleh kedua temannya. “Oh, terima kasih.” Ujarnya kemudian melangkahkan kakinya keluar dari kelas. Begitu ia berada di luar kelas, ia merasa kalau ponselnya bergetar dan dengan segera ia merogoh saku mantelnya.

“Oh, Oppa?” setelah melihat nama yang tertera di layar ponselnya, ia segera menyentuh tombol hijau di layar ponselnya dan menempatkan ponselnya tepat di sebelah kanan telinganya. “Kau di depan? Tumben sekali menjemputku.”

“Baiklah, aku segera keluar… ne, Oppa.” Lanjutnya kemudian mengantongi ponselnya kembali.

“Ikut aku!” ucap suara berat seseorang dari belakang Jieun dengan tiba-tiba dan langsung menarik pergelangan tangan Jieun tanpa membiarkan gadis itu menoleh.

¯

Donghae mendecakkan lidahnya sekali lagi sembari melirik jam tangannya dengan kesal. Sudah lebih dari sepuluh menit setelah ia menelfon Lee Jieun, adiknya, namun adiknya itu tak juga menampakkan batang hidungnya.

“Astaga… anak ini kenapa lama sekali?” gerutunya sembari membuka pintu mobilnya. Kemudian ia menutup pintu mobil sehingga menimbulkan suara bantingan kecil lalu mencoba menelfon kembali adiknya.

Sambungan telfonnya memang tersambung, tapi telfonnya tidak diangkat. Sebenarnya anak ini kemana? Tanyanya dalam hati.

Akhirnya ia memutuskan untuk bertanya pada murid-murid yang lewat di depannya. Tiga kali bertanya, tapi sayangnya tak ada yang mengenal adiknya. Jieun benar-benar tidak populer, batinnya.

Jogiyo… apa kau lihat Lee Jieun?” Kemudian ia bertanya pada dua orang murid perempuan yang lewat di depannya. Mungkin saja dua gadis itu mengenali adiknya.

Kedua gadis itu menoleh dan menatap heran Donghae. “Lee Jieun?” tanya gadis yang satu. “Sepertinya dia di Gymnasium.”

“Oh, terima kasih.” Ujarnya sambil lalu sembari tersenyum kecil.

Selama ia melangkahkan kakinya menuju ruang Gymnasium—kebetulan ia tahu tempat itu karena saat penerimaan murid baru, ruangan itulah yang dipakai oleh sekolah ini—yang letaknya di sebelah barat gedung, beberapa pasang mata terus melihatnya, terutama para gadis.

Banyak yang menatapnya heran karena ia tidak memakai seragam sekolah itu dan karena postur tubuhnya tidak terlihat seperti siswa sekolah kebanyakan.

Sejenak, Donghae melongokkan kepalanya sedikit dan mengintip kegiatan apa yang berlangsung di dalam sana. Begitu masuk dan menutup kembali pintu ruangan, Donghae memasukkan kedua tangannya ke dalam saku celananya sembari mengedarkan pandangan ke seantero ruang Gymnasium.

Walaupun ia tahu bahwa dirinya—ekhem—pendek, tapi ia tahu kalau kumpulan siswa yang berdiri membelakanginya itu seperti membentuk lingkaran dan menyisakan ruang di tengah-tengah lingkaran itu.

“Permisi,” ucapnya sembari mencoba menyelip di antara kerumunan tersebut karena ia sempat mendengar nama Lee Jieun disebut-sebut. Apa adiknya itu tengah bertengkar? Tapi kenapa orang-orang yang menontoninya hanya diam saja?

“Maaf membuatmu menunggu,” dari tempatnya berdiri, Donghae bisa melihat dua orang yang berdiri di tengah-tengah lingkaran. Satu laki-laki berpostur tinggi dan kurus dan berambut hitam berdiri menghadapnya, dan satunya seorang gadis dengan rambut hitam panjang yang ia yakin itu adalah adiknya, Jieun, berdiri membelakanginya.

“Aku sudah menyatakan perasaanku kemarin,” saat laki-laki di hadapan Jieun itu melanjutkan kalimatnya, terdengar suara sorakan—bukan sorakan mengejek—yang sangat keras sampai-sampai membuat telinga Donghae sakit.

“Sekarang aku hanya ingin menanyakan padamu,” seketika ruangan itu berubah hening kembali, membuat Donghae menoleh ke kanan dan ke kiri dengan heran. “Lee Jieun, apa kau mau menjadi kekasihku?”

Kalimat yang di ucapkan laki-laki itu jelas membuat Donghae menoleh cepat. Dalam hati ia tertawa kecil melihat kejadian ini. Ah, aku rindu sekolah, batinnya mengenang.

“Kwangmin Sunbae…” Donghae mendengar suara Jieun yang membuat keributan dan bisik-bisik dari para penonton lenyap. “Kau… serius?”

Laki-laki yang bernama Kwangmin itu mengangguk mantap. Bisa Donghae lihat laki-laki itu sangat serius. Pandangannya terus terarah pada Jieun, dan bisa ia lihat tak ada keraguan di mata Kwangmin. Akhirnya adik kecilnya mendapatkan penggantinya sebagai penjaga, batinnya lagi ketika sorakan-sorakan senang karena Jieun mengiyakan permintaan Kwangmin.

Kemudian Donghae berdeham keras setelah melihat Kwangmin mendekati Jieun untuk memeluknya, namun Jieun justru mengecup pipi Kwangmin sekilas, bahkan tak ada sedetik bibir Jieun menempel pada pipi putih Kwangmin.

Dengan cepat, orang-orang—termasuk Jieun dan Kwangmin menoleh pada Donghae. Beberapa pasang mata menatapnya heran, bingung, dan juga kagum pada ketampanan Donghae.

Oppa?!” pekik Jieun keras membuat bisik-bisik penasaran semakin terdengar. “Kenapa kemari?

Tanpa mengomentari pekikan terkejut Jieun, Donghae menghampiri Kwangmin sambil tersenyum. Kemudian ia menepuk pelan pundak Kwangmin. “Jaga adikku baik-baik. Sampai kau menyakitinya, akan kupastikan kau tidak selamat.

Oppa!”

Ne, Hyungnim.” Rengekan Jieun terucap bersamaan dengan sahutan Kwangmin yang sembari membungkukkan tubuhnya dalam-dalam.

Melihat itu, Donghae hanya tersenyum sembari mengacak-acak rambut Jieun. “Kalau begitu aku pulang duluan.” Katanya sambil lalu.

¯

Taemin melangkahkan kakinya di pinggiran jalan kota Seoul pada musim dingin. Ia merapatkan mantelnya ketika angin dingin berhembus sampai ia merasa tulangnya membeku. Dengan gerakan lambat, ia merogoh saku mantelnya dan mengambil ponselnya kemudian menekan beberapa angka yang sudah ia hafal di luar kepala.

“Kau sudah selesai?” tanyanya begitu sambungan telfonnya terhubung. “Sebentar lagi aku sampai… Ya, tunggulah di dalam. Di luar dingin sekali.”

Setibanya di dekat kafe yang ia janjikan dengan Sujie, Taemin tak langsung masuk ke dalam. Ia mencari sosok Sujie terlebih dahulu dari luar kaca besar dan tidak menemukan gadis itu duduk di sana.

“Belum sampai, ya?” gumamnya pada diri sendiri.

Sebelum masuk ke dalam, ia mengeluarkan kalung putih dengan bandul kecil berbentuk alfabet S yang menginisialkan nama Sujie. Ia juga meminta satu bandul kecil berbentuk alfabet T yang menginisialkan namanya untuk menjadi hiasan pada kalung tersebut. Walaupun ada dua bandul dalam satu kalung, namun kalung itu tetap terlihat sederhana dan tidak terlalu mencolok. Rencananya hari ini ia akan menyatakan perasaannya secara resmi pada Sujie, setelah sekitar satu bulan mereka dekat.

Bunyi decitan khas mobil yang mengerem tiba-tiba terdengar, membuat banyak pasang mata termasuk Taemin menoleh dengan cepat karena penasaran.

Beberapa meter dari tempatnya berdiri, Taemin melihat satu mobil berhenti dengan bagian depan sedikit ringsek dan di belakang mobil tersebut dikerubungi banyak orang. Dengan penasaran, Taemin memasukkan kembali kalung itu ke dalam sakunya kemudian berlari kecil menghampiri tempat kecelakaan. Ada yang tertabrak?

Begitu sampai, ia menyelip di antara kerumunan orang dan membelalak begitu melihat hal yang sangat tidak ingin dia inginkan.

“Panggil ambulan!” teriak gadis yang memeluk kepala Sujie yang tidak sadarkan diri sembari menangis. “Telfon 911! Kumohon!”

Dengan sigap, Taemin mendorong bahu gadis yang terisak itu dan menggantikan posisinya. Ia menatap tajam gadis itu, seakan ingin melenyapkan gadis itu dari dunia ini. “Apa yang telah kaulakukan padanya, Jung Soo Jung?!” teriak Taemin murka melihat Sujie yang tak sadarkankan diri dan terus mengelurkan darah dari telinganya.

TBC

 

ah, endingnya tinggal satu chapter lagi. rasanya tuh kayak terbang ke langit ke tujuh naik paus raksasa(?) pokoknya lega rasanya bisa nyelesain ff ini!!! *elap keringet* dari sekian banyak konflik selama pembuatan ff ini… mau nangis rasanya(?) oke baikan._.

Buat endingnya, aku punya bocoran sedikit nih *senyum misterius* disana bakal dibongkar alasan Taemin benci banget sama Minho dan tentang Taeminnya sendiri. *rangkulan sama Taemin sambil ketawa jahat*

jadi, penasaran sama endingnya? tunggu dan tetep komen yaaa. cepet/lamanya ending dipublish tergantung sama komen kalian^^

47 thoughts on “[Chapter 14] Teenager Love Story

  1. omo! itu suzy kenapa?? gak mati kan eon??
    yeah akhirnya kwangmin nembak jieun ^^ aaa eonni itu hae-nya keliatan banget pendeknya -__-
    satu chapter lagi eon?? gk kerasa udh mau ending lagi :’)
    semangat eonni (^o^)9

  2. tuing-tuing~
    beberapa gak mudeng..kkeke~
    udahh mau ending yaaa ?? *hebohh sendiri* ==> -_____-” salahh sendiri gakk baca dari awal..kke~

    ijinn ngubekk” blog buat baca ff ini yyaa..^^

  3. aish udah mo end part 13 aj lo baca chingu TT
    AKHIRNYA TAEmin nembak jien juga😀
    KYA KRISTAL knap mesti nabrak zy sih, diakn udah ma minho >< moga aja zy selamat
    lanjut chingu !

    • loh? blm baca? waktu di chap12 chigu udah cantumin email chigu apa belum?._. kalo udah, coba chigu cek email chigu^^
      waaah, soal nabrak apa enggaknya, aku gak tau.-.
      neee, dilanjut koook^^

  4. apa2an itu kwangmin & jieun masa’ ngomongnya harus berdehem dulu. Hahaha
    Pas ini“Untung saja Gyuwon cepat datang,” gumamnya muram pada diri sendiri. “Kalau tidak, aku tidak tahu bisa menahannya atau tidak.”bikin ngakak bacanya.. Emg bertahan dr apa? #putarbolamata . Sudah selesaikah part mereka berdua cingu? Msh ada d part selanjutnya nggak?

  5. Wuaaa itu adikku kenapa? Kenapa?? Kenapa??!!! :O *histeris*
    Itu kenapa kata ‘TBC’ ditaruh disitu chingu? Bikin penasaran tingkat nasional (?) -___- next next.. Update soon please~~ I’m so curious yeah *nyanyi* #apasih

  6. waaahh awal suzy ketabrak knp yaa ? blm bisa di tebak chingu endingnya penasaraaaannn
    last chapter ditunggu chingu🙂

  7. Aah suji kenapa itu? Suji jangan dibikin mati dong, kasian Taemin gak punya couple.
    Soo Jung itu Krystal kan?
    Wahh makin rumit trus endingnya di chapter 15 ya? Gak kerasa udah 15 chapter kk~
    Ok, ditunggu ya next chapternya🙂

  8. hwa senang.a akhir.a kwangmin sama jieun jadian juga🙂 loncat2 sendiri baca ff.a daebak chingu
    soo jung itu kristalkan aduh kenapa lagi suji gara2 kristal?? ck..ck >,< ditunggu next part.a y chingu itu part terakhir.a T.T y sedih deh ditunggu ff lain.a juga fighting🙂

  9. tuh kwangmin jieun udah milik lo,untung authornya baik tidak menyerahkan jieun pada orang tidak di sangka“Kalau tidak, aku tidak tahu bisa menahannya atau tidak.”menahan apa sih thor?kan cuma buka baju #EH.soojung-minho evil banget sih,kan taemin udah hidup bahagia dengan suji,masih aja nyari masalah.

    • Wahaha iya, padahal tadinya kwangminnya mau dijadiin bareng author aja *eh? #plak-_- yaampun._. Sebenernya pas bkn itu aku ngakak stg mampus loh(?) Tau tuh si minstal minta digorok(?)
      Btw, makasih udah baca+komen ya chigu^^

  10. wah ada konflik lagi mueheheee.. krystal ada urusan apalagi itu sama suzy😮
    uhuk uhuk ji eun ditembak kwangmin, tp imajinasiku kok kurang romantis ya nembak kayak gtu, hehehee..
    update soon ya saeng😀

    • Itu…. Masih rahasia negara eonni(?) *dibabat jadi sop*
      Abis aku bingung mau nembak gimana.-. Itu juga sebenernya rencananya suzy sama sulli yg nyamperin kwangmin pas jam istirahat._.
      Ne eonni:D tungguin aja ya^^

  11. Main cast yn sbnernya bukan taemin sama jieun ya eon ?
    Padahal kan ceritanya nampilin sisi jieun sama taemin 😦
    tapi gapapa deh hehe ditunggu kelanjutanya ya eon . Annyeong ^^

    • Disini main castnya ada enam loh saen, ditambah minho dan soojung jadi delapan._.
      Di final chapnya full taemin juga IU kok saeng, tunggu aja ya^^

  12. setelah sekian lama nungguin ff ini di publish di School of fanfiction and gak di publish”, untungnya setelah beRkeliling cari ff yg ttg IU nemuin nih blog yg isinya ttg ff ini… Seneng banget😀
    tapi kenapa part 13nya di protect >.>>lanjut baca

    • Hehe maaaf aku blm sempet buka laptop buat ngepublish chapter selanjutnya di soff._.v
      Chapter 13 disini itu isinya chapter 12 di soff kok^^
      Ehehe endingnya udah ada kook^^ makasih udah baca+komen yaa:D

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s