First Love Pain – Chapter 1



  • Tittle    : First Love Pain
  • Author    : EnnyHtm
  • Genre    : Romance, Sad
  • Lenght    : Chaptered
  • Rating    : General
  • Cast    :
  1. Choi Minho
  2. Bae Sujie
  3. Lee Taemin
  4. Lee Jinki
  5. And others
  • Note    : Halo, aku bawain fanfict baru lagi^^ teaser nya udah keluar lama banget dan banyak yang suka. Makasih yaa:D maaf banget ini baru di publish sekarang. Rencana awal aku mau publish ini kalo Never Endingnya selesai. Tapi ternyata masih ada satu chapter lagi dan aku belum lanjut gara-gara kegiatan padet rangka ukk dan pengambilan nilai akhir. Jadi, biar gak nunggu lama, ini aku publish sekarang. Semoga suka yaa^^

    Previous    : Teaser

    No Silent Readers and Plagiator!

[CHAPTER 1]

-Cinta pertamaku kembali-

 

Aku kira cinta pertamaku sudah berakhir setelah dia pindah ke Busan saat kami duduk di kelas tiga sekolah menengah pertama. Tapi, aku tidak menyangka akan bertemu lagi dengannya di sini. Di Seoul.

    Aku melihatnya duduk di barisan tengah saat upacara penerimaan murid baru di sekolah Kyunggi. Sekolah baruku.

    Sama sekali tidak pernah membayangkan melihatnya lagi di sini. Dia banyak berubah sejak satu tahun yang lalu. Semakin tampan.

    “Choi Minho?” tanyaku memastikan begitu ia berdiri di hadapanku setelah upacara penerimaan murid baru selesai.

    Dia menoleh. Bisa kulihat ekpresi kaget di wajahnya begitu melihatku. “Bae Sujie? Kau juga sekolah di sini?” tanyanya.

    Aku mengangguk menjawab pertanyaannya. Entah kenapa hatiku kembali merasa berdebar melihatnya berdiri di hadapanku. “Kau juga?” kau bodoh, Bae Sujie, rutukku dalam hati. Kenapa menayakan hal yang sudah sangat jelas jawabannya? “Kukira kau akan melanjutkan sekolah di Busan.” Lanjutku agar dia tidak berpikir aku begitu bodoh sampai menanyakan hal yang sangat jelas jawabannya.

    “Sebelumnya memang begitu. Tapi, nenekku meninggal dan membuat adikku sangat sedih. Jadi Ayahku memutuskan untuk kembali ke Seoul.” Jawabnya. Bukan hanya fisiknya saja yang berubah. Suaranya pun juga berubah menjadi berat khas anak laki-laki yang mulai menginjak dewasa. Tapi aku harap sikapnya sama sekali tidak berubah seperti dulu.

    “Oh? Aku turut berduka. Pasti adikmu sedih sekali, ya?” hanya kalimat itu yang bisa keluar dari mulutku. Kenapa lidahku jadi kelu begini, ya?

    Tiba-tiba segerombolan gadis—yang asumsiku sama denganku, murid baru—mulai mengerubungi kami—tidak. Lebih tepatnya mereka mengerubungi Minho, bukan aku.

    “Minho-ya, boleh aku minta nomor ponselmu?”

    “Kau dapat kelas berapa?”

    “Kenapa kau tampan sekali?”

    Sayup-sayup aku mendengar pertanyaan-pertanyaan yang di lontarkan gadis-gadis itu pada Minho. Tapi yang membuatku tercengang adalah pertanyaan ketiga. “Kenapa kau tampan sekali?” ulangku dan melihat gadis-gadis yang masih mengerubungi Minho dengan takjub. “Mereka berani sekali.”

    Tapi, kini aku merasa jauh darinya. Saat mengobrol singkat dengannya tadi, aku sama sekali tidak melihatnya tersenyum. Bahkan sekarang kulihat dia tengah berusaha keluar dari kerumunan gadis-gadis itu.

    Aku tak ingin merasa jauh darinya. Aku ingin seperti dulu. Ketika aku dan dia duduk bersebelahan.

¯

“Aku senang kita satu kelas lagi, Sujie-ya,”

    Aku tersenyum mendengar perkataan Jung Eunji yang duduk di sebelahku. “Aku juga,” sahutku. Untunglah Eunji masuk di sekolah yang sama lagi denganku. Dia sahabatku sejak aku kelas tiga sekolah menengah pertama. Dan, mungkin juga keberuntungan sedang berpihak padaku saat ini, Minho juga berada di kelas yang sama denganku! Aku melihatnya masuk ke dalam ruang kelas ini, namun aku tidak berani melihatnya. Takut kalau aku terlihat bodoh di depannya.

    Ah, aku benar-benar senang. Apa bisa hubunganku dengannya seakrab dulu?

    “Wah, anak baru itu benar-benar populer, ya?”

    Segera aku mendongak menatap Eunji yang melihat ke belakang punggungku. Kemudian aku menoleh mengikuti pandangannya. Lagi-lagi Minho di kerubungi gadis-gadis di mejanya.

    “Oh ya, Sujie,” aku kembali menoleh pada Eunji begitu mendengarnya berbicara. “Bukankah kau mengenalnya? Tadi aku melihatmu berbicara dengannya.” katanya.

    Aku mengangguk. “Ya, dia pernah satu kelas denganku.” Jawabku. Mengingat dulu, aku jadi tersenyum sendiri. Dia orang pertama yang membuatku jatuh cinta.

    “Kau menyukainya.”

    Aku mengerjap bingung padanya. Yang barusan di katakannya itu pertanyaan atau pernyataan? Semudah itu Eunji melihatnya?

    “Benar, bukan? Jujur saja padaku.” Ia mengerling nakal kemudian berdiri dan menempati kursi kosong di sebelahku.

    “Aniyo. Itu tidak benar.” Bantahku. Aduh, kenapa Eunji itu peka sekali, sih?

    Dia tertawa mendengarku menyangkal sedangkan aku hanya menunduk malu. “Wajahmu merah!”

    “Ya, cukup,” ucapku sembari menunduk. Aku takut Minho bisa mendengarnya. Jangan sampai dia tahu kalau aku menyukainya—maksudku, tidak sekarang. Aku tidak mau hubunganku dengannya akan terasa canggung jika dia tahu aku menyukainya, atau yang paling parah, dia akan menjauhiku.

    Aku bergidik memikirkannya. Jangan sampai ia menjauhiku.

    “Hei, apa yang kau suka darinya?”

    Mataku mengerjap begitu mendengar Eunji bertanya. Pertanyaan yang membuatku berpikir keras. ‘Apa yang kau suka darinya?’

    “Apa karena dia tampan?” lanjutnya sembari melihat Minho yang masih di kerubungi murid perempuan di kursinya. Kemudian ia memiringkan kepalanya dan bibirnya mengerucut lucu. “Kulihat, ia sama sekali tidak ramah.”

    Diam-diam aku tersenyum. Setidaknya hanya aku yang tahu kalau dia sangat baik.

    “Tanganmu terluka?”

    Setelah mendengar suara berat yang tidak asing bagi telingaku, aku menoleh ke belakang dengan cepat, memastikan apa benar suara itu milik Choi Minho.

    Kulihat, seorang gadis yang rambutnya di biarkan tergerai segera menarik tangannya begitu Minho ingin meraih tangan gadis itu.

    “Ah, ini terkena cipratan minyak,” jawab gadis itu sembari tersipu.

    “Mau kuobati?” tawar Minho dan membuatku mematung kemudian tersenyum. Sekarang aku tahu alasanku menyukainya. Bukan karena ia tampan atau karena ia baik sekali padaku namun pada orang lain tidak, melainkan karena ia baik pada semua orang.

    Tiba-tiba, kulihat seorang laki-laki berambut cokelat terang meraih tangan gadis itu sebelum Minho hendak meraih tangan gadis itu untuk menempelkan plester.

    “Begini lebih baik, bukan?” tanya laki-laki itu dengan senyum ramah yang terhias di wajahnya, membuat gadis-gadis di kelas yang melihatnya berteriak kagum. “Aku Lee Jinki,” lanjutnya sembari mengulurkan tangannya hendak berjabat tangan.

    Gadis itu hanya diam terpaku melihat senyum ramah milik Jinki yang masih menghiasi wajahnya dan membuat matanya menyipit membentuk bulan sabit terbalik, kemudian tangannya kanannya terangkat hendak membalas uluran tangan Jinki yang masih menggantung di udara kosong. “Aku Jinri. Choi Jinri.”

    Setelah gadis itu memberitahu namanya sendiri, laki-laki bernama Jinki itu berpaling pada Minho yang masih duduk di kursinya dengan wajah datar. “Kenapa tidak beritahuku kalau kau kembali ke Seoul?” tanyanya.

    Minho hanya mengendikkan bahu cuek. “Kenapa tidak tanya?”

    “Mereka berteman?” bisik Eunji tanpa mengalihkan pandangannya dari dua orang di depannya. “Wah, kelas kita sungguh beruntung mendapat dua laki-laki tampan dan populer seperti mereka!” lanjutnya berapi-api.

    Aku hanya terkekeh melihat reaksi Eunji yang benar-benar bersemangat.

    Sekitar satu menit kemudian, laki-laki tengah baya yang berparas ramah masuk ke kelas baruku. Membuat murid-murid yang masih bercengkrama dengan teman barunya berhenti dan kembali ke kursinya.

    “Annyeonghaseyeo,” sapanya ramah setelah berdiri di belakang meja Guru. “Saya Chan Il-Doo, kalian bisa panggil saya Chan Saem. Ah, kalian sudah saling mengenal satu sama lain?” tanyanya kemudian disahuti oleh seluruh murid di kelas, termasuk aku.

    “Untuk perkenalan dan masa ospek, besok kalian akan berkemah tiga hari dua malam sesuai jadwal. Kalian sudah tahu, bukan?”

    “Ne!” seru murid di dalam kelas serempak.

    “Untuk kelompok, bebas. Tiga anggota laki-laki dan tiga anggota perempuan,” langsung saja Eunji membalikkan badannya. Jari telunjuknya menunjuk dirinya sendiri kemudian menunjukku, mengisyaratkan aku-dengan-mu.

    Aku mengangguk-angguk setuju. “Tentu saja!” sahutku. Kemudian dia berbalik lagi menghadap Chan Songsaniem yang masih berbicara.

    “Baiklah. Kalau begitu, buatlah kelompoknya dan selamat bergabung di Kyunggi High School! Sampai jumpa,” ucap Chan Songsaniem sebelum ia melangkah pergi.

    Setelah Chan Songsaniem keluar dari kelas, suasana kembali ribut dengan suara-suara orang mengobrol. Eunji pun kembali membalikkan bangkunya sehingga ia duduk di hadapan.

    “Kita masih butuh empat anggota lagi,” katanya memulai. “Kau mau mengajaknya?” tanyanya sembari melirik ke belakang punggungku. Siapa lagi kalau bukan Minho yang ia lirik?

    Bagaimana caranya aku mengajak Minho?

    “Palli,” kenapa Eunji bersemangat sekali mendesakku untuk mengajaknya?

    Aku pun berdiri dari kursiku dan menatap Minho yang sedang berbicara dengan Jinki—mungkin lebih tepatnya Minho hanya mendengarkan Jinki bicara.

    “…Tidak tahu. Dia tidak kirim kabar apapun semenjak pindah ke Inggris,” sayup-sayup aku mendengar Jinki bicara sebelum aku mengintrupsi perkataannya dengan memanggil nama Minho.

    “Ada apa?” tapi sayangnya panggilanku bukan Minho yang membalas melainkan Jinki. Minho hanya menoleh ke arahku dengan alis berkerut bingung.

    Karena bingung harus mengatakan apa, aku hanya bergumam tidak jelas dan sekilas menoleh ke belakang melihat Eunji untuk meminta bantuan. Tapi sialnya, ia hanya mengibaskan kedua tangannya seperti ia hendak mendorong seseorang. “Itu…” ucapku akhirnya. Aku harus bicara apa, ‘Minho, kau mau satu kelompok denganku?’ begitu?

    Ah, aku rasa nyaliku kurang untuk mengatakan itu. Jadi, “Tidak apa-apa. Lanjutkan saja obrolan kalian. Maaf aku mengganggu.” Kataku sembari tersenyum—yang menurutku senyumku kali ini memalukan, tidak tahu dengan pandangan Minho—kemudian membalikkan badanku hendak kembali ke kursiku.

    “Sujie,” kurasakan seseorang menahan lenganku ketika aku mendengar namaku dipanggil. Aku berbalik dan mendapati Minho tengah menatapku dengan sebelah tangannya menahan lenganku. Namun, begitu aku membalikkan badan, ia menarik tangannya kembali. “Kau sudah dapat kelompok?”

    Pertanyaannya hampir saja membuatku melompat kegirangan sangking senangnya. Tapi tidak mungkin aku melompat senang di hadapannya seperti ini. Pasti akan sangat memalukan. Jadi, aku mencoba mengendalikan ekpresiku. “Belum,” jawabku singkat. Sebenarnya aku ingin menambahkan ‘kau mau satu kelompok denganku?’, tapi itu akan terdengar angkuh. Dan aku tak ingin ia menganggapku gadis yang angkuh.

    “Sama!” seru Jinki sembari menepuk tangannya. “Bagaimana kalau aku dan Minho masuk ke kelompokmu? Kau sudah ada satu atau dua orang, bukan?”

    Aku mengangguk mengiyakan. Tadi saat Jinki bertanya, aku sempat mendesah kecewa karena bukan Minho yang mengajukan diri. Tapi, kenapa aku harus kecewa? Toh, aku dan Minho akan satu kelompok. Bukankah itu lebih baik?

    “Oh ya, aku Jinki. Lee Jinki,” katanya mengenalkan diri sembari mengulurkan sebelah tangannya, berniat untuk berjabat tangan. Sebenarnya aku sudah tahu namamu, sahutku dalam hati.

Aku pun membalas uluran tangannnya. “Aku Sujie. Bae Sujie,”

“Dan, ini Choi Minho. Kau sudah tahu namanya, kan?” ia melanjutkan bertanya.

    Bagaimana aku tidak tahu seorang Choi Minho? “Tentu,” sahutku. Kali ini menyuarakan pikiranku.

    “Nah, Sujie, kau tidak keberatan untuk tidak mencari anggota laki-laki lainnya, bukan? Aku ada teman lagi di kelas ini, tapi sayangnya hari ini dia memilih tidak masuk sekolah,” ia berhenti bicara untuk mengambil nafas kemudian melanjutkan, “Untuk urusan anggota perempuan, kau bisa mengurusnya sendiri, bukan?” Sepertinya Lee Jinki ini suka sekali bicara, ya?

    “Ya, aku ada satu,” jawabku sembari menolehkan kepala, berniat untuk menunjukkan Eunji pada Jinki. Namun aku segera meralat perkataanku ketika melihat Eunji tengah berbicara dengan seorang gadis yang kuingat bernama Choi Jinri. “Yah… mungkin anggota perempuan sudah cukup.”

    “Kalau begitu, kami tunggu di perkemahan.” Ucap Jinki lagi sembari tersenyum ramah. Aku pun membalas senyumnya sebelum membalikkan badan kembali ke kursiku.

¯

Begitu bus memasuki daerah pegunungan yang dipenuhi hutan dengan pohon yang tidak begitu lebat, aku melepas earphone dari telingaku dan memandang keluar. Melihat pohon-pohon besar di luar sana membuat kelegaan merayapi dadaku. Akhirnya bisa bisa melepas penat dari kota selama tiga hari.

    Bus berhenti tanda kami sudah sampai di perkemahan. Begitu menginjakkan kakiku di tanah, aku mengirup nafas dalam-dalam. Mencoba memenuhi paru-paruku dengan udara segar.

    Setelah murid-murid kelasku dikumpulkan dan Chan Songsaniem sudah menjelaskan acara selama tiga hari di sini, Chan Songsaniem menyuruh anak laki-laki untuk mendirikan tenda, dua tenda untuk satu kelompok. Sedangkan untuk perempuan, kami disuruh untuk memasak di dapur kecil yang sudah disediakan.

    “Kita benar-benar beruntung bisa satu kelompok dengan Minho dan Jinki!” seru Eunji semangat ketika tengah merebus sayuran dalam pancinya.

    Kelihatannya Jinri tertarik dengan arah obrolan yang Eunji mulai karena kini ia beringsut mendekati Eunji sembari memotong beberapa sayuran. “Ya!” balas Jinri tak kalah semangat. “Sepertinya aku juga beruntung karena bisa satu kelompok dengan kalian.”

Aku yang tengah memasak nasi menoleh pada Jinri sembari tersenyum. “Kita sama-sama beruntung, Jinri-ya,” sahutku, lalu menoleh ke tempat Minho dan Jinki yang tengah mendirikan tenda dan ke tempat bus diparkirkan. “Tapi, aku tidak melihat teman yang dimaksud Jinki kemarin. Apa dia benar-benar akan datang?” tanyaku heran.

Sepertinya Eunji dan Jinri menyutujui pertanyaanku karena ia juga menggerakkan kepalanya ke kanan dan kiri seperti sedang mencari seseorang.

“Mungkin dia telat.” Sahut Eunji sembari mengankat bahunya cuek.

Beberapa menit kemudian, setelah kami selesai memasak, kami membawa makanan kami ke karpet kecil di depan tenda kami—tenda perempuan dan laki-laki bersebelahan selama kami satu kelompok.

“Makanan siap,” ujarku sembari menaruh piring-piringan yang kubawa di atas karpet.

“Wah, kelihatannya enak,”

Aku terkesiap begitu mendengar suara seseorang yang terdengar sangat dekat denganku, terdengar persis di depan telingaku. Begitu aku menoleh, kulihat seorang laki-laki—yang memiliki rambut lebat dan berponi depan, menggunakan anting pipih dan bulat kecil berwarna hitam di kedua telinganya—berada tepat di belakangku. Ia seperti hendak menaruh dagunya di pundakku kalau saja aku tidak cepat-cepat menjauh.

“Lee Taemin, kau mengagetkannya,” aku menoleh cepat pada Jinki cepat, dia menegur laki-laki yang baru saja membuatku kaget sebelum aku membuka mulut hendak memprotes.

Laki-laki yang tadi mengagetkanku kemudian menegapkan badanya lalu tersenyum lebar padaku. “Maaf,” ucapnya sembari menggaruk belakang kepalanya.

Dia terlalu imut untuk ukuran laki-laki, jadi aku tidak bisa marah melihat ekpresinya. Yah… rasanya sulit melihat ekpresi laki-laki ini. Jadi, aku hanya balas tersenyum padanya sambil berkata, “Tidak apa-apa.”

“Dia orang yang kalian maksud, ya?” aku menolehkan kepala pada Eunji ketika mendengarnya bertanya.

Jinki tersenyum lucu sebelum ia menjawab pertanyaan Eunji. “Ya, tapi… mungkin dia akan sangat merepotkan kalian.”

Ya, ya, Lee Jinki. Apa yang kau maksud dengan merepotkan?” tanya Taemin tersinggung sembari memutar bola matanya. Kurasa Jinri yang duduk di sebelah Eunji terkekeh kecil melihat tingkah Taemin.

“Sujie imnida,” kataku memperkenalkan sembari menjulurkan tangan pada Taemin sebelum Jinki dan Taemin beradu mulut. Yah… mungkin kedatangan Taemin akan membuat kelompok kami ramai dan tidak membosankan. Mungkin kalau Eunji dan Taemin digabungkan akan sangat berisik.

“Itu perkenalan cara lama,” sahut Taemin sembari memberikan smirknya. Aku hanya melongo karena tak mengerti. Memangnya ada perkenalan cara baru? Belum sempat ada yang menjawab pertanyaan di dalam kepalaku, tiba-tiba aku merasa tubuhku di tarik kedepan dan seperkian detik aku sudah berada dalam pelukan Taemin. “Senang berkenalan denganmu, Sujie-ya,”

Seperkian detik kemudian, begitu aku sadar dari kekagetanku, aku langsung mendorong bahu laki-laki itu sampai ia hampir terjungkal jatuh ke belakang. Bagaimana bisa dia langsung memelukku seperti tadi padahal aku baru melihatnya hari ini? jelas saja aku kaget. Pasalnya, ini pertama kalinya seorang laki-laki memelukku tanpa basa-basi.

Aku bisa melihat ekpresi kaget Taemin ketika tubuhnya terjungkal ke belakang. “M-maaf!” ucapku sembari menunduk menyesal. “Aku hanya terkejut. Maafkan aku!” baiklah. Ini memalukan, kau tahu? Tadi itu ada Minho di depanku. Dia pasti melihatnya. Ah, pasti dia mengira aku gadis yang kasar.

“Ini di Korea bukan di Amerika, bodoh!” aku mengangkat kepalaku begitu mendengar suara khas milik Lee Jinki. Kini kulihat Taemin tengah mengusap puncak kepalanya dengan posisi yang belum berubah sebelum aku menunduk meminta maaf. Oh, jadi Taemin pindahan dari Amerika, ya? jauh sekali.

Ya! Lee Jinki, kebiasaanmu menjitak kepalaku belum hilang juga, huh?”

Bisa kutebak, setelah ini mereka akan terus bertengkar. Dan benar saja, Jinki membalas perkataan Taemin sembari berkacak pinggang dan Taemin yang juga tak mau kalah akhirnya berdiri kemudian ikut berkacak pinggang.

Aku mendengar suara kekehan Eunji dan Jinri yang duduk di sampingku, kemudian aku ikut terkekeh melihat tingkah Jinki dan Taemin yang terus saja beradu mulut. Penasaran, ekor mataku melirik ke arah Minho. Dia terlihat tidak memedulikan Jinki dan Taemin yang tengah beradu mulut. Dia justru masih terlihat serius dengan makanannya.

Diam-diam aku tersenyum. Aku yakin sifatnya tidak berubah walaupun fisiknya benar-benar berubah. Dan aku senang karena aku pernah mengenalnya.

¯

Hari pertama diisi dengan memancing di sungai. Para laki-laki yang memancing sedangkan para perempuan hanya membantu dan menyemangati. Aku senang karena kelompokku mendapatkan banyak ikan. Yah… walaupun tak ada hadiah untuk kelompok yang mendapat banyak ikan, tapi aku benar-benar merasa senang.

Kini malam telah tiba, langit berubah gelap dengan pencahayaan minim dari pantulan sinar bintang dan bulan. Eunji dan Jinri sudah terlelap di kantung tidurnya sedangkan aku masih terjaga. Mataku benar-benar tak mau berkompromi untuk tidur padahal tubuhku terasa lelah.

Jadi kuputuskan untuk keluar tenda untuk mencari angin malam yang dingin sekaligus melihat bintang yang bertaburan di langit. Aku suka sekali melihat bintang. Begitu menyenangkan saat melihatnya dan membayangkan bentuk dari kumpulan bintang. Tapi sayangnya di Seoul tak ada bintang, hanya langit gelap dengan bulan.

“Kau belum tidur?”

Sontak aku membalikkan badan begitu mendengar suara lembut seseorang di belakangku. “Oh, kau,” ucapku. “Tidak bisa tidur.” Kemudian aku memasukkan kedua telapak tanganku ke dalam saku jaket ketika melihatnya berjalan melewatiku dan duduk di bangku kayu panjang yang mungkin sengaja dibuat oleh pengurus tempat ini.

Aku berdeham kecil sebelum ikut duduk di sebelahnya. “Taemin-ssi, maaf yang tadi, ya? aku tidak sengaja. Hanya… terkejut.” Kataku memulai sembari menatap lurus ke depan.

Dia tidak berkomentar namun begitu aku menoleh, aku mendapatinya menatapku dengan pandangan menilai. Begitu melihatku tengah menatapnya heran, sudut bibirnya tertarik ke belakang membentuk senyuman yang… bagaimana aku menjelaskannya, ya? senyumnya ramah dan dapat menghipnotisku untuk balas tersenyum.

Cukup lama ia menatapku dengan memiringkan kepalanya yang membuatku menautkan alis heran. Tidak ada yang bicara antara aku dan Taemin, yang bisa kudengar saat ini hanyalah suara jangkrik dan angin yang berhembus cukup dingin.

“Sujie-ya, sebenarnya sejak melihatmu tadi siang, kurasa… aku menyukaimu,”

“Apa?” sahutku tak percaya dan setengah menutup mulutku, menutupi mulutku yang terbuka lebar. Laki-laki ini… aku tak tahu jalan pikirannya. Dia terlalu banyak membuatku terkejut dari perlakuannya ataupun perkataannya. Padahal baru beberapa jam yang lalu ia mengenalku, kenapa cepat sekali mengatakan ‘suka’?

“Setelah kemping ini, kau mau berkencan denganku?”

Aku benar-benar tak tahu harus mengatakan apa lagi. Jadi aku hanya menatapnya dengan mata yang berkedip berkali-kali dan raut wajah kebingungan. “Aku…”

“Aku tahu ini terlalu cepat, tapi… aku ingin mengatakan ini padamu,” selanya cepat. “Kalau tidak mau setelah kemping, aku akan tetap menunggumu mengiyakan,”

“Tapi aku…”

“Tidak ada tapi-tapian. Kapanpun kau mengiyakan, aku akan menung—”

“Taemin maaf, tapi aku menyukai orang lain.” Potongku sebelum ia meneruskan kalimatnya. Lagi-lagi aku merasa menyesal. Tadi siang dan malam ini. Aku tidak bermaksud menyakitinya atau apapun itu yang bermaksud sama dengan menyakiti.

Kulihat ia terdiam. Walaupun hanya sekilas, namun aku bisa melihat raut wajah kecewanya. Oh, aku tidak tega melihat wajahnya seperti tadi walaupun hanya sekilas. Benar-benar terasa bahwa aku sangat jahat padanya, seperti orang dewasa yang merebut paksa permen milik balita.

“Oh, begitu?” dia memang menyahuti dengan senyuman, tapi itu bukan senyuman yang kulihat tadi siang. Senyumannya terlihat sedih walaupun aku melihatnya di tempat gelap. “Kalau begitu, aku akan tetap menunggumu,” lanjutnya sembari menepuk pundakku ringan. “Sudah malam, aku tidur duluan, ya? selamat malam Sujie-ya!” katanya sambil lalu sembari melambaikan tangannya.

“Dia… serius akan menunggu?” gumamku sembari menatap punggung Taemin yang menjauh. Ah, bagaimana untuk kegiatan besok? Kami satu kelompok dan aku takut ada kecanggungan. Jadi… haruskah aku bersikap biasa saja seperti tidak ada apa-apa atau kebalikannya? Kenapa dia harus mengatakannya sekarang?

“Kenapa tidak kau terima saja?”

Aku terkesiap dan langsung membalikkan tubuhku begitu mendengar suara berat bernada dingin yang terdengar sedikit sakartis. Mataku membulat begitu melihat sosoknya yang berdiri di samping pohon terdekat kursi sambil menatapku dengan pandangan mematikan.

“Minho-ya…” tubuhku terasa kaku saat itu juga. Jangan bilang padaku bahwa dia mendengar percakapanku dengan Taemin.

~TBC~

~Wait another story~

75 thoughts on “First Love Pain – Chapter 1

  1. yeaaahh ff baru \(^.^)/ *tebar konfeti* (?)
    Seru nih, tp kenapa TBC nya pas disitu huhuuu
    Aku suka karakternya minho, cuek gitu tp baik hati..lanjutannya jgn lamalama yah, author fighting!!!😀

  2. aihh taeminn… love at first sigh yaaa ??? *toel toel Taem ==’
    seru nihh.. gimna tanggapan Minho yaa ?????? wait next chapie ^^v

      • tentang TaeZy dongg..hhehe^^
        truss truss minho ada ‘rasa ma Suzy juga gak yha ??’ *ditendang authoe kebanyakan tanya..XD

      • hem… disini kan minzy couple chigu._. *tunjuk2 teaser* jadi taezy momentnya… gaada (mungkin)
        itu bisa diliat nantixD flp gabakal banyak chapter kok, insyaAllah 5chap kelar hehe

  3. Ternyata Taemin suka sama Suzy dari pandangan pertama haha~
    Tapi ini kayanya Minho-Suzy couple ya?
    Nice story🙂
    ditunggu ya chapter 2 nya, dipublish secepatnya ya tor😀

  4. wahhh yg ini ff nya juga seruu chingu tp kayaknya bakal ada cerita yg ga diduga deh hheeehe #maapsotoy😛
    lanjut yaa🙂

  5. yeyy.. nemu ff minzy lagi..\(^.^)/
    bagus thor ceita’y..
    uuuh kacian .. taemin’ya ditolak😦 gpp taem sama aku z yukk😉 *plakk
    nah lo.. kedengaran minho..😀
    hmm.. jd penasaran sma reaksi minho selanjutnya?!..
    next captr’y jgn lama2 ea thor..🙂

  6. yeyeyeyeye ini nemu ff minzy lahi senengnya ^^
    ada taemin jga, apa bener minho gag ada persaan ma suzy or msh ada???
    Q tunggu chapter selnjutny chinggu, ap tdi minho cemburu??😀

  7. Huft, akhir.na ff part 1 d’ postj jga stlh brthn” ngu,, *plaakk
    minho cuek tpi bik, wkwkwk ska.ska.ska,
    lanjut..

  8. Wah alurnya nggak ketebak thor, trus bahasanya jg rapi, mudah dipahami

    Tapi itu kenapa TBC-nya bikin geregetan
    ayo thor lanjut🙂 aku tunggu minzy couplenya🙂

  9. chingu , ayo lanjut donk😀
    uda ga sabar aku nunggunya , penasaran banget sumpah🙂
    aku suka sm jalan ceritanya , chingu bener2 hebat bikin cerita🙂
    Lanjutt yaa chingu ffnya , jgn lama2😉
    hehe😛

  10. kayanya dr 3 cast cowo..jinki paling seneng ngomong y..kayany dia semangat bgt kalo d ajak ngobrol..hehe..
    Itu minho knp kaya orang marah..emangny apa urusan dia kalo su jie nerima taemin atw g..fufufu..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s