[Chapter 3] Never Ending



Tittle:

Never Ending

Author:

EnnyHtm

Lenght:

Chaptered

Genre:

Romance

Rating:

PG-13

Cast:

Jo Kwangmin, Yang Jiwon

Note:

Di chapter ini, semua sudut pandang dari Yang Jiwon.

~ooOoo~


 

“Bagaimana? Dia bilang apa?” tanya Sooyoung begitu aku kembali ke kelas sebelum bel masuk terdengar.

    Aku mendengus sembari menurunkan bahu—yang baru kusadari kaku karena tegang—ketika aku duduk di kursiku dengan sedikit kasar hingga menimbulkan bunyi berderit. “Baru pertama kalinya aku menyatakan perasaanku pada laki-laki,”

    “Menanyakan perasaannya,” koreksinya. “Kau tidak benar-benar menyatakanmu padanya, bukan?”

    “Oke, oke,” sahutku cepat. Baiklah aku mengoreksi perkataanku sendiri. Menanyakan perasaannya padaku, bukan menyatakan perasaanku padanya. Tapi, bukankah itu sama saja kalau aku mengakui perasaanku? Kuakui aku bodoh karena mengikuti usulnya.

    “Dia bilang apa?” aku hanya menghela nafas ketika ia mendesakku untuk menceritakan kejadiannya, saat aku menanyakan perasaan Kwangmin padaku beberapa menit yang lalu.

    Mengingat raut wajah penuh penyesalannya membuatku ingin menangis. “Dia bilang, dia memang menyukaiku—tunggu jangan menyela dulu,” itu benar. Kwangmin bilang dia memang menyukaiku, bahkan sejak kali pertama ia melihatku—bukankah sama denganku? “Benar dia menyukaiku, tapi dia ingin fokus pada karirnya dulu.”

    “Ah, benar dugaanku,” gumamnya pelan tapi aku bisa mendengarnya. Jadi aku menoleh padanya dan menatapnya dengan tajam. Kalau dia tahu akan begini jadinya, kenapa dia mengusulkan hal yang membuatku malu setengah mati di hadapan Kwangmin dan yah… sedikit menyakitkan memang mendengar kata maaf keluar dari bibirnya. “Apa?” tanyanya sembari menatapku risih.

    Aku hanya menggeleng pelan kemudian menaruh kepalaku di atas tanganku yang kulipat di atas meja. Jelas saja aku baru ditolaknya.

¯

Aku bukanlah artis yang sibuk dengan dunia keartisanku, yah… sebenarnya aku model, bukan artis. Hanya membintangi beberapa iklan, pemotretan majalah, menjadi bintang tamu di variety show dan yang baru saja aku lakukan adalah syuting film layar lebar.

Walaupun bukan tokoh utama, aku cukup senang. Proses syuting cukup mengasikkan, apalagi ada artis lainnya dan kru yang ramah.

Jadi intinya, waktuku untuk hari ini lenggang. Tak ada pemotetan, syuting iklan ataupun film. Dan, mungkin Sora Onni yang kena imbasnya dengan sibuk mengatur jadwalku di kantor managemen. Aku yang minta agar jadwalku tidak terlalu banyak. Aku gampang sakit belakangan ini.

Untuk pulang, aku sudah terbiasa pulang sendiri tanpa ditemani Sooyoung. Hari ini dia ada les tari, itulah alasannya setelah suara bel memenuhi sekolah dia buru-buru keluar. Bahkan saat masih ada guru di dalam kelas.

“Tidak apa-apa Onni, aku mengerti,” kataku saat Sora Onni menelpon dan mengatakan kalau ia tak bisa menjemputku. “Atur saja dengan tenang jadwalku. Oh ya, Onni, kalau ada tawaran untuk memerankan tokoh di drama, aku mau.”

Di seberang sana Sora Onni tertawa renyah. “Ketagihan untuk berakting di depan kamera, ya?” guraunya, dan aku ikut tertawa pelan sembari melangkah menyusuri koridor.

“Bukankah saat syuting iklan dan pemotretan aku juga berakting? Di sekolah juga saat pelajarannya.” Balasku.

Senyum di bibirku hilang begitu empat orang gadis yang tak kenal berdiri di hadapanku, menatapku tajam dan menyelidik. Ada apa dengan mereka? Saat aku melangkah ke kanan, salah satu di antara mereka menghalangiku, begitu juga saat aku mencoba melangkah ke kiri. Jadi aku mundur beberapa langkah dan berbicara pada Sora Onni di seberang telpon.

Onni, aku tutup, ya? Kau sibuk, bukan?” tanpa menunggu jawaban Sora Onni, aku memutus sambungan telpon dan menatap empat orang yang menghalangi jalanku sambil menatapku dengan pandangan tak suka. “Kalian… ada urusan denganku?” tanyaku hati-hati.

Bukannya menjawab, salah satu di antara mereka—yang berdiri paling depan dan yang paling jangkung—mengalihkan matanya dari wajahku ke name tagku yang terjepit rapih di seragam sekolahku. “Yang Jiwon?” aku tak tahu dia bertanya atau bagaimana. Nada suaranya terdengar cukup berat dibandingkan suara-suara gadis yang masih remaja.

“Ya, itu aku,” sahutku, masih dengan waspada. Aku sama sekali tidak mengerti apa yang diinginkan mereka berempat.

“Kau tidak secantik saat ada di televisi atau majalah,” Ujar gadis yang tadi menghalangi jalanku saat aku ingin melangkah ke kiri. Aku bisa melihat dengan jelas gadis yang baru bicara itu memiliki hidung palsu, ketara sekali. “Tapi kenapa berani sekali kau mendekati, bahkan menanyakan perasaan Kwangmin Oppa terhadapmu?”

Aku melongo mendengarnya. Jadi, karena pembicaraanku dengan Kwangmin, ya? Kukira tak ada orang lain yang mendengarnya.

“Diamlah.”

Sontak aku mundur perlahan begitu melihat gadis jangkung—yang asumsiku adalah ketua dari mereka berempat—menyeringai mengerikan. Aku tidak tahu apa yang mereka inginkan, hanya saja perasaanku tidak enak. Karena tadi salah satu di antara mereka membawa-bawa nama Kwangmin, itu berarti mereka penggemarnya dan itu buruk buatku kalau mereka memang benar-benar mendengar percakapanku dengan Kwangmin siang tadi.

Ketika gadis jangkung itu mengendikkan dagunya ke arahku, dua orang lain yang berdiri di sampingnya dan yang ukuran tubuhnya lebih besar dariku, berjalan menghampiriku. Yang bisa kulakukan saat ini hanya mundur perlahan sembari menatap was-was pada mereka berdua.

Mau melawan? Bagaimana caranya aku melawan? Jelas-jelas aku sudah kalah telak. Empat lawan satu dan melihat tubuhku yang bisa dibilang kecil dan kurus, belum lagi aku tak mengerti tentang bela diri. Jadi aku hanya berharap mereka tak bermaksud jahat padaku.

Dua gadis yang tadi melangkah maju kini berhenti tepat di hadapanku. Wajah mereka yang menyiratkan ketidaksukaan membuatku bungkam. Aku tidak berani mengatakan apapun untuk sekedar bertanya.

“Jalan,” titah gadis yang rambutnya dikuncir satu tanpa menyisakan sehelai rambut bahkan di keningnya.

Saat dia memerintahkanku untuk jalan, aku pun menghembuskan nafas yang ternyata kutahan sedari tadi dan melangkah maju. Namun lagi-lagi salah satu di antara mereka menghalangi jalanku. Aku mengangkat wajahku dan menatap gadis berambut cokelat terang yang menghalangiku dengan pandangan bertanya.

“Ke toilet,” ujarnya.

“Apa?” pekikku terkejut. Ya Tuhan! Baiklah, kini aku merasa akan ada sesuatu yang buruk terjadi. “Aku harus pulang. Maaf,” kataku sembari mencoba menerobos pertahanan mereka.

Memang tak ada yang menghalangiku lagi, namun kaki gadis yang kubilang memiliki hidung palsu itu terjulur ke depan saat aku tengah melangkah dan membuatku terjatuh ke depan.

Aku mengerang karena kedua sikuku beradu dengan lantai keramik yang dingin karena menahan beratku. Kalau saja aku melihat jalan dengan benar dan tidak tergesa-gesa, mungkin aku tidak terjatuh seperti ini.

Dengan mulai ketakutan, aku berdiri perlahan sambil masih memegangi sikuku. “Tolong biarkan aku pulang.” Akhirnya aku memohon dengan suara pelan. Kurasa tak ada yang bisa kulakukan selain memohon pada mereka. Sempat terpikir olehku untuk menelpon Sora Onni, Sooyoung, Kwangmin atau siapa saja yang mungkin bisa menolongku dari keempat gadis ini.

“Tidak, tidak. Tolonglah,” aku mulai meracau tak jelas sambil menahan diri agar tetap di tempat ketika mereka mulai menyeret tubuhku dengan paksa. “Argh!” bukannya berhenti meyeretku, sala satu dari mereka justru menarik rambutku dengan kasar sehingga membuatku mendongak menatap langit-langit gedung sekolah.

“Diam dan ikuti saja. Kalau berontak, aku tarik rambutku sampai rontok.” Suara cempreng yang dibuat-buat terdengar tepat di belakangku, mengancamku.

Air mataku perlahan menetes karena menahan rasa sakit di kepalaku ketika mereka menarik rambutku lagi dengan kasar.

Gadis yang jangkung melangkah lebih dulu dan membuka pintu toilet, membiarkan pintu toilet terbuka sampai aku masuk ke dalam. Sebelum mendorongku, seseorang kembali menarik rambutku dengan kuat, sampai-sampai kulihat ketika aku berbalik memandang mereka, banyak kulihat helai rambutku tertinggal di tangan gadis hidung palsu.

“Kyungjin, kau bawa gunting kan?”

Mataku membelalak begitu mendengar si jangkung bertanya pada si hidung palsu.

Saat si hidung palsu yang bernama Kyungjin tengah mencari sesuatu dalam tasnya, tiba-tiba ponselku berdering. Oh, Tuhan, bantuan, pikirku. Dan tanpa sadar menghembuskan nafas lega.

Baru saja tanganku terangkat ingin mengambil ponsel yang kutaruh di saku blazer kuning seragam sekolahku, tangan gadis berambut pendek rata dan tubuhnya sedikit gempal menahan tanganku dan mengambil paksa ponsel dari saku blazerku.

“Yeonjin! Kwangmin Oppa menelponnya!” seru gadis berambut pendek itu dan membuat si jangkung itu segera menoleh.

Buat apa Kwangmin menelponku? Bukankah dia sibuk mengurus beberapa stage
broadcast atau live?

“Matikan, matikan, matikan!” balas si hidung palsu yang aku lupa namanya sembari berteriak dan menggenggam gunting. Guntingnya benar-benar mengerikan berada dalam genggamannya.

Si jangkung yang bernama Yeonjin segera merebut ponselku dari tangan si gempal berambut pendek. “Jangan dimatikan!” geramnya. Seperkian detik berikutnya, ia menatapku dengan seringaian seramnya. Ya Tuhan, tidak adakah yang bisa menolongku dari empas gadis mengerikan ini? “Ayo dengar apa yang akan dikatakan Kwangmin Oppa pada Yang Jiwon.”

Setelah bicara begitu, ia pergi menjauh sembari menekan layar ponselku dan si rambut pendek itu mengikutinya.

“Tidak! Jangan diangkat!” seruku dengan suara tercekat sembari berusaha mengejarnya, namun si hidung palsu melompat ke hadapanku dengan memainkan guntingnya di depan wajahnya.

Aku menggigit bibir bawahku sembari mundur teratur dan menatap was-was pada gunting itu dan wajah di hidung palsu. “Kumohon, jangan,” pintaku saat tahu apa yang akan dilakukannya dengan gunting itu. Tentu saja dia akan menggunting rambutku. Untuk apa lagi? mengukir kulitku menggunakan gunting itu?

Kuharap dia tidak senekat itu untuk melukai tubuhku.

“Argh!” lagi-lagi rambutku ditarik kuat-kuat kebawah dengan kasar. “Tidak, tidak! Kumohon!” aku teriak tertahan begitu si hidung palsu itu mulai menggenggam rambut bagian depan kepalaku yang sudah panjang sewajah.

“Aku pernah melihat fotomu di majalah,” katanya memulai sembari memiringkan wajahnya dan menatapku dengan tatapan puas. “Sepertinya kau sangat membanggakan rambut hitammu ini, ya?”

Aku menutup mataku rapat-rapat dan menggigit bibirku ketika tangannya yang memegang gunting mulai beraksi sedangkan satu gadis yang bertubuh sedikit gempal namun berambut panjang dan menggunakan lensa kotak yang berdiri di belakangku menarik rambut lagi dengan kasar dan tak berperasaan.

Suara khas gunting yang memotong rambut terdengar tepat di depan wajahku. Aku masih menutup mata karena tak mau melihat rambutku diguntingnya asal dan juga menahan sakit di kulit kepalaku.

“Kyungjin, guntingnya,” kudengar suara seseorang tepat di belakangku.

Aku masih menutup mataku rapat-rapat begitu merasa rambutku digunting oleh mereka berdua. Aku menyerah. Tidak tahu lagi apa yang harus kulakukan untuk menghentikan mereka. Dalam hati, aku berharap mereka tidak memotong rambutku habis. Itu akan membuat kesulitan untukku, Sora Onni dan pihak agensiku.

Byar

Masih dengan mata tertutup rapat-rapat, aku memeluk diriku sendiri begitu merasakan air membasahi tubuhku. Tanpa sadar, air mata menyusup keluar dari pelupuk mataku dan ikut bercampur dengan air yang kini membuat sekujur tubuhku basah kuyup.

“Jangan dekati Kwangmin Oppa lagi,” aku memberanikan diri membuka mata dan mengangkat wajahku. Kini ganti Yeonjin yang menyiramku, bukan hanya menggunakan air bersih, ia menyiramku menggunakan… sirup berwarna merah pudar? Entahlah. Dia yang lebih tinggi dariku menuangkan air sirup itu tepat di depan wajahku. Sontak aku menunduk dan berjongkok untuk melindungi diri.

“Jiwon, aku minta nomor Kwangmin Oppa, ya?”

Aku mengerjapkan mata agar cairan lengket yang tadi disirami di kepalaku tidak menyakiti mata, kemudian mendapati Yeonji juga berjongkok di depanku sembari tersenyum dan memegang ponselku di depan wajahnya.

Kukira mereka sudah selesai, namun kusadari belum ketika si rambut pendek datang membawa beberapa telur mentah di tangannya. Ini belum berakhir.

Satu kali lemparan dari si hidung palsu setelah Yeonjin menyingkir. Lemparannya tepat mengenai kepalaku, membuatku meringis menahan sakit di kepalaku yang sudah terasa perih dan menahan bau amisnya yang menusuk hidungku.

Aku memejamkan mata lagi ketika satu lemparan lagi—entah dari siapa—mengenai bahuku.

“Sial. Meleset!”

“Kau benar-benar parah dalam melempar, Jinhae,” aku tak tahu siapa yang dimaksudkan dengan Jinhae. Tapi aku tahu siapa yang bicara, suara cempreng yang dibuat-buat. Siapa lagi kalau bukan si hidung palsu?

“Nona Yang Jiwon bersenang-senang kan hari ini?”

Aku membuka mata ketika mendengar seseorang menyebut namaku. Kulihat Yeonjin menatapku dengan pandangan tak bersahabat dengan tangan kanannya menggenggam telur sedangkan tangan satunya menggenggam ponselku.

“Aku jauh lebih lama mengenalnya, lebih dulu menyukainya,” katanya dengan nada yang berubah dingin dan tajam. “Tapi kenapa justru kau yang dia sukai?!”

Nada suaranya yang meninggi membuatku tertegun—tidak. Bukan hanya nada suaranya yang meninggi dan menyiratkan kemarahan yang membuatku tertegun, melainkan kalimatnya juga.

Dia sudah lama menyukai Kwangmin.

Aku tahu bagaimana perasaan menunggu seseorang, perasaan yang tak terbalaskan. Perasaan yang aku rasakan pada Jae Jin Oppa beberapa tahun silam. Kemudian aku teringat wajahnya yang tersenyum manis padaku ketika kami bertemu di kedai kopi di kawasan Chungmuro. Saat itu senyumnya bagaikan malaikan, tapi tetap senyum Kwangmin pada saat itu lebih bersinar terang di mataku.

Lagi. Kini aku merasakan sesuatu mengenai keningku yang tertutupi rambut basah dan tepat pada saat itu juga, bau telur amis memenuhi hidungku. Aku mengernyit menahan rasa sakit akibat lemparan telur yang mengenai keningku dan juga menahan bau amis menguasai penciumanku.

“Yeonjin-ah,” aku mendengar suara lembut seseorang, mencoba untuk menenangkan emosi Yeonjin mungkin.

“Jangan coba-coba menceramahiku, Kyungjin,” aku memang tak mendongak, tapi bisa kudengar desisan marah dari suara Yeonjin barusan. Dan, apa suara lembut tadi milik Kyungjin, gadis dengan suara cempreng dibuat-buat dan hidungnya terlihat bekas operasian?

Kini aku memberanikan diri untuk mendongak dan melihat—pengelihatanku buruk sekarang karena tertutup rambut yang basah—hanya tinggal tiga gadis lain di sini. Pertama Yeonjin yang tengah menggenggam erat gunting yang tadi dipakai untuk menggunting rambutku, Kyungjin yang menahan tangan Yeonjin dan satu gadis gempal—yang aku tak tahu namanya—tengah menatap ngeri. Dan yang satu lagi, yang bertubuh gempal dan berambut panjang… aku tidak tahu dia di mana. Yang jelas ia tidak ada di sini.

“Kau bilang tidak sampai membuat siapapun terluka. Tidak kalau dia atau bahkan kau sendiri yang terluka.” Kata Kyungjin dengan raut wajah khawatir sembari menatap tangan Yeonjin yang tengah menggenggam gunting.

Aku terperanjat—tentu saja. Telapak tangannya mengalirkan darah segar. Begitu aku ingin melihat wajah Yeonjin, ternyata ia tengah menyeringai menatapku. Bisa kulihat ia menggigit bibir bawahnya, yang kutebak ia tengah menahan rasa sakit, namun sekejap kemudian ia menatapku tanpa ekpresi.

Lagi-lagi aku harus mengeryitkan hidung menahan bau tidak enak dari amis telur dan bau darah segar yang Yeonjin tunjukkan di depan wajahku ketika ia berjongkok di hadapanku.

Aku tidak tahu apa yang kumimpikan semalam sampai saat ini aku mendapat kesialan yang benar-benar parah. Aku sama sekali tidak mengerti di mana kesalahanku. Yah… menyukai Kwangmin bukan termasuk kesalahan kan?

“Kumohon… berhenti…” ucapku pelan sembari menatapnya dengan pandangan memohon. Suaraku sangat pelan sampai-sampai aku tidak yakin Yeonjin mendengarnya.

Tapi sayangnya Yeonjin belum puas. Bisa kulihat Kyungjin dan gadis gempal berambut pendek itu menatap Yeonjin ngeri ketika Yeonjin menjulurkan tangannya yang memegang gunting.

Tak sanggup, aku memejamkan mataku. Tak mau melihat apa yang akan ia lakukan selanjutnya. Menusukku perutku? Tanganku? Aku sama sekali tidak ingin melihatnya. Bahkan air mataku kembali menyusup keluar dari pelupuk mataku.

Namun bukan rasa sakit yang kurasakan, aku merasa tangan seseorang menyentuh pundakku. Dengan takut-takut aku membuka mataku dan melihat Yeonjin menunduk dengan kedua tangannya memegang bahuku.

“Maafkan aku,” bisiknya lirih.

Belum sempat aku mencerna apa yang ia maksud, dia sudah berdiri dan bergegas pergi. Kyungjin dan gadis gempal itu membungkuk padaku dan menggumamkan kata maaf sebelum mereka mengikuti Yeonjin pergi.

Dan, di sinilah aku. Sendirian di toilet saat sekolah sudah sepi dan dengan keadaan yang benar-benar kacau. Aku tidak tahu harus melakukan apa. Air mataku mendesak ingin keluar. Ini baru pertama kali kualami. Dibully.

Aku merasa lebih baik aku mati sekalian daripada harus ditinggalkan sendiri di sini. Kenapa Yeonjin tak sekalian menusuk perutku? Bukankah kalau begitu ia bisa dekat dengan Kwangmin? Tanpa ada aku yang akan mengganggu.

“Astaga! Apa yang terjadi padamu?” aku mengenal suara berat ini. Jo Kwangmin. “Jiwon, siapa yang membuatmu begini?”

Tangisku semakin keras dan aku semakin menundukkan kepala begitu mendengar suara paniknya.

“Kumohon jawab,” ucapnya lagi sembari memegang kedua bahuku. Begitu ia memiringkan kepalanya hendak melihat wajahku, aku menunduk semakin dalam. Aku tak ingin ia melihat keadaanku yang benar-benar kacau. “Jangan membuatku khawatir.”

“Kau bisa lihat dari keadaanku sekarang.” Sahutku dengan suara serak.

“Ulah siapa ini?” tanyanya lagi.

Aku terdiam beberapa saat. Apa aku harus bilang yang sebenarnya? kalau aku bilang, aku takut Kwangmin akan membenci Yeonjin. Dan itu bisa membuat Yeonjin semakin sedih. Aku…

“Jiwon?” panggilnya lembut. Suaranya mampu menghipnotisku untuk segera menatapnya. Sementara aku terpaku menatap matanya, ia mengusap pipiku dengan ibu jarinya. “Mau cerita padaku?”

Aku mengigit bibirku ragu. “Tidak sekarang.” Sahutku singkat tanpa mengalihkan mataku dari matanya.

Aku melihatnya menghela nafas gusar. “Baiklah,” katanya akhirnya. “Tapi kau harus mengatakan padaku siapa yang melakukan ini padamu.”

Aku menunduk, mengalihkan mataku dari tatapan menyelidiknya. “Yeonjin,” jawabku akhirnya.

“Kim Yeonjin?”

“Aku tidak tahu nama panjangnya.” Sahutku jujur. “Tapi… dia melakukan ini karena kau,” tambahku cepat sebelum ia mengatakan sesuatu. “Dia… sudah lama menyukaimu.”

Dengan gerakan cepat dan tiba-tiba, Kwangmin menarik tubuhku ke dalam pelukannya. Dia bahkan tak menghiraukan tubuhku yang bau amis dan basah. Dan… ini pertama kalinya aku dipeluk olehnya. Terasa hangat dan nyaman.

“Ya, aku tahu.”

“Apa?” tanyaku heran tapi tidak mencoba untuk melepaskan diri dari pelukannya dan dia juga tak melepaskan pelukannya.

“Tidak. Bukan apa-apa,” sahutnya, dan membuatku semakin heran ketika ia melepaskan pelukannya tapi tetap memegang kedua bahuku dengan senyum kecil mengembang di bibirnya. “Sepertinya kau harus pulang dan membersihkan diri.”

Dia mencoba bergurau di saat seperti ini? “Tidak lucu,” sunggutku.

Dia terkekeh namun tetap membantuku untuk berdiri dan membersihkan kepalaku dari telur-telur mentah. Setelah itu, ia memakaikan blazernya di pundakku dan juga memberikan topinya padaku. “Van grupku ada di depan. Kuantar kau pulang, ya?”

Mau tidak mau aku harus mengiyakan. Ponselku mati dan Kwangmin tidak punya nomor telepon Sora Onni, sehingga aku tidak bisa menghubunginya dan menyuruhnya menjemputku di sini.

“Bagaimana kau tahu aku di sini?” tanyaku ketika kami tengah melewati koridor sekolah.

Dia pun menceritakan kenapa ia bisa menemukanku di toilet tadi. Ternyata Yeonjin tidak menjawab telfon dari Kwangmin, ia menyentuh ikon merah di layar ponselku dan mengirimi Kwangmin pesan singkat lewat ponselku. Yeonjin menyuruh Kwangmin datang ke koridor yang dekat dengan toilet sekitar tiga puluh menit setelah ia mengirimi pesan singkat untuk Kwangmin.

Kwangmin pun menurutinya dan datang ke tempat yang dimaksud Yeonjin. Tapi ia tak juga melihatku datang dan akhirnya ia melangkahkan kakinya untuk mencariku karena ponselku tidak bisa dihubungi lagi. Di depan toilet, ia mendengar suara tangisan. Tadinya ia pikir hantu namun ia memberanikan diri untuk melihat. Dan, dari sanalah ia melihatku menangis dengan keadaan yang sangat kacau.

“Tangisanmu sangat mengerikan, kau tahu?” katanya lagi mencoba bergurau ketika Van memasuki halaman gedung apartemen Sora Onni.

Aku memutar bola mata namun tak berkomentar. Hari ini sudah cukup. Aku ingin bergegas membersihkan diri dan tidur, namun sepertinya tidak akan secepat itu kalau saja aku tak melihat Sora Onni berdiri menyandarkan tubuhnya di depan mobilnya.

Begitu Van berhenti tepat di samping mobil Sora Onni, Sora Onni membukakan pintu mobil untukku. Setelah turun dari Van, aku bergegas berlari masuk ke dalam mobil tanpa mengucapkan terima kasih pada Kwangmin.

Sora Onni masuk dan menutup pintu mobil dengan lumayan keras. Wajahnya sangat tidak bersahabat.

“Aku tidak tahu apa yang terjadi padamu. Tapi aku rasa ini semua karena kedekatanmu dengan Kwangmin,” katanya memulai. Perasaanku mulai terasa tidak enak. “Aku harap kau tidak lagi berdekatan dengannya—walaupun kau menyukainya.”

To Be Continue

Masih adakah yang nungguin ff ini?._. maaf ya kalo lama bgt. Ini baru aku lanjutin soalnya gaada ide. Sebenernya ff ini mau dipublish setelah author selesai ujian, tapi… gak tenang rasanya kalo gak dipublish.

Buat yang nunggu First Love Pain dan Teenager Love Story, mohon sabar yaaa. Setelah selesai ujian author bakal mantengin laptop terus buat lanjutin kok^^

Maafkan segala typo ya, aithor gak sempet buat cek ulang *bow*

Terima kasih~


 

16 thoughts on “[Chapter 3] Never Ending

  1. akuu datang lagi eonni :)) ada kok yg nungguin nih FF yaitu aku haha *ketawa bangga(?)

    feelnya dpet deh pas jiwon di bully di toilet apalagi aku bacanya pas lagi di toilet #eh #abaikan haha

    kiraain aku jiwon sama kwangmin bakalan jadian di part ini, taunyaaa sora eonni ngelarang jiwon -__-

    oke dehh di lanjut yaa eon😉

  2. yee akhirnya part 3 dipublish. aku nunggu banget ff ini.
    aku juga nunggu ff yang first love pain eonni.
    sumpah bener bener kesel sama yang namanya yeonjin. ngajak ribut banget tuh anak.
    ok deh lanjut part selanjutnya ya eon^^

    • ne hehe maaf postnya lama ya._.v
      oke tapi aku post chap1nya setelah ff tls sama ff ini selesai ya^^
      emang. minta dibully tuh anak. *digaplok yeonjin*.-.
      okeee saeng^^

  3. annyeong chingu🙂
    wahh mian baru komen
    ak nunggu FF ini jg😀
    bagus chingu tapi di part ini aku kurang dpt feelnya hehehe kecuali waktu kwangmin sama jiwon pelukan ^^

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s