[Chapter 11] Teenager Love Story



  • Tittle    : Teenager Love Story
  • Author: EnnyHutami
  • Genre    : Romance, Friendship
  • Rating    : General
  • Lenght    : Chaptered
  • Cast    :
  1. Lee Jieun
  2. Bae Sujie
  3. Choi Jinri
  4. Lee Taemin
  5. Jo Kwangmin
  6. Choi Minho
  7. No Minwoo
  8. And others

Don’t Be Plagiator and Silent Readers

~ooOoo~


“Ada apa memanggilku kemari pagi-pagi sekali?”

Minho melangkahkan kakinya dengan angkuh di atas rumput taman sekolah yang masih basah. Ia melihat seseorang berambut kemerahan yang berdiri membelakanginya dengan tatapan yang tak bersahabat.

“Kenapa kau masih bersama dengannya?”

“Bukankah taruhan ini idemu?” balas Minho balik bertanya sembari tertawa meremehkan. “Aku benar-benar berharap kau menepati janjimu, Lee Taemin.”

Rahang Taemin mengeras mendengar kalimat terakhir yang Minho ucapkan. Minho memang mengucapkan kalimat itu dengan intonasi yang datar, namun di telinga Taemin tidak begitu. Ia mendengar setiap kata dalam kalimat itu penuh penekanan.

“Kau menyukai Sujie,” itu bukan pertanyaan, Taemin tahu benar itu. Melihat tangan Taemin yang mengepal, Minho menyilangkan kedua tangannya di depan dada dan menyeringai. “Kau salah memilih gadis untuk dipertaruhkan, Lee Taemin. Batalkan pertunanganmu dengan Soo Jung dan aku akan melepas Sujie.”

“Kau…” Taemin tidak tahu harus membalas apa. Bahunya bergetar menahan marah.

“Kalau kau mau, nanti aku akan tinggalkan Sujie dan mengatakan yang sebenarnya padanya.”

“Tidak!” sergah Taemin. Kepalan tangannya semakin mengeras, membuat buku-buku jarinya memutih. “Itu hanya akan mempermainkan perasaannya!”

“Kau yang memulainya!” Minho balas membentak. Ia tidak tahan menaggapi sikap kekanakan Taemin. Laki-laki itu sudah di tingkat tiga dan sebentar lagi lulus, bukan? “Kau tidak sadar kalau kau juga mempermainkan perasaan Soo Jung, huh? Kalau kau membenciku, jangan sangkut pautkan Soo Jung!”

Kalimat demi kalimat yang Minho ucapkan tepat mengenai sasaran. Taemin terdiam. Dia terpaku di tempatnya sembari menatap Minho dengan pandangan yang bercampur-campur. Marah, kesal, tak percaya, sekaligus sedikit meremehkan.

“Kau masih menyukai Soo Jung?” tanya Minho lagi. Melihat reaksi Taemin yang terdiam tak sanggup menjawab, lalu ia melanjutkan. “Aku merasa kasihan padamu. Gadis yang kau sukai justru menyukaiku.”

Tak tahan lagi dengan kemarahannya, Taemin melayangkan tinjunya tepat di rahang tirus Minho. Tubuh Minho terhuyung sedikit ke belakang dan ujung bibirnya sobek. Belum sempat Minho mengelap bibirnya yang terasa perih, Taemin langsung menarik kerah kemeja Minho dengan kasar. Walaupun badan Taemin kurus dan sedikit lebih pendek dari Minho, ia bisa membuat Minho kewalahan menahan rasa darahnya yang menyusup ke dalam mulutnya.

“Aku tidak butuh rasa kasihanmu, Choi Minho,” ucap Taemin geram. “Awal mengetahui kalau Soo Jung yang akan jadi tunanganku, aku memang merasa senang karena aku menyukainya. Tapi, itu hanya rasa sementara, dan ternyata asik membuatmu bertengkar dengannya.” Taemin menyeringai menampakkan giginya namun tangannya masih menarik kerah kemeja Minho dan bahunya masih bergetar menahan emosi.

Kini giliran Minho yang terdiam dan menatap tajam ke arah Taemin. Seandainya tatapan bisa membunuh, mungkin sekarang Taemin sudah terkapar tak bernyawa mendapat tatapan seperti itu dari Minho. Namun, pikiran itu tak membuat Taemin takut. Ia justru tersenyum puas melihat Minho yang mulai tersulut amarah.

Kemudian Minho melepaskan tangan Taemin yang masih mencengkram kerah kemejanya dan mendorong bahu Taemin hingga ia hampir tersungkur jatuh. “Apa maumu, huh?” tanyanya setelah mendorong bahu Taemin, lalu ia mengelap sudut bibirnya yang robek.

“Jangan permainkan Sujie!”

“Kau yang memulai semuanya, bodoh!” balas Minho sembari melayangkan tinjunya di wajah Taemin dan mendarat di pipi dan hidung Taemin, membuat laki-laki berambut kemerahan itu terhuyung ke belakang dan tersungkur ke tanah karena tubuhnya tidak begitu kuat menahan tinju Minho.

“Kalau kau menolak pertunanganmu dengan Soo Jung dan tidak membuat taruhan bodoh ini, semua tidak akan jadi rumit!” suara Minho mulai meninggi akibat emosi yang meluap di dadanya. Ia menghampiri Taemin dengan nafas yang tersenggal menahan emosi kemudian ganti mencengkram kerah kemeja Taemin. “Kukira orang-orang kelas atas sepertimu akan mempuanyai pikiran yang lebih luas. Tapi, tidak. Bahkan aku tidak mengerti kenapa orang-orang kelas atas seperti orangtuamu dan Soo Jung masih memberlakukan pertunangan pada anaknya karena bisnis.” Minho berhenti bicara untuk mengambil nafas, lalu melanjutkan. “Dan, berhenti mempersulit keadaan, Lee Taemin!” baru saja Minho hendak kembali memukul wajah Taemin lagi, namun tangannya ditahan di atas kepalanya. Ia menolehkan kepalanya dan mendengus sebal, kemudian menarik tangannya dan melepaskan cengkraman tangannya pada kerah kemeja Taemin dengan kasar sehingga Taemin kembali tersungkur ke rumput yang masih basah.

Dengan wajah yang tak menunjukkan ekpresi, Kwangmin menghampiri Taemin dan membantunya untuk berdiri. Lalu, “Choi Minho, berhentilah mencari masalah.” Ucap Kwangmin dingin.

“Tak perlu ikut campur,” balas Minho tak kalah dingin. Nada suara terdengar sangat dingin. “Ini urusanku dengannya.”

“Ini juga urusanku.” Sergah Kwangmin cepat.

“Ah, benar,” ucap Minho dan membuat Kwangmin menaikkan alisnya heran. “Ini juga urusanmu karena kau menyukai Jieun, bukan?” tidak heran kalau Minho tahu. Mata dan telinganya berfungsi sangat baik sampai-sampai ia mengetahui hampir segala melalui hal-hal kecil yang dilakukan orang lain. Dia orang yang benar-benar teliti dan peka.

Keduanya—Taemin dan Kwangmin sama-sama menatap Minho dengan pandangan tak bersahabat dan juga heran. “Apa maksudmu?” tanya Kwangmin. Kali ini ia melangkahkan kakinya ke depan satu langkah.

“Sepertinya kau tidak tahu kalau Jieun justru menyukai Taemin dibanding kau, bukan?” Minho memulai. Sebenarnya ia juga tak yakin dengan perkataannya, tapi ia tetep melanjutkan. “Dan, kau keduluan oleh orang di sampingmu itu,”

Kwangmin menatap Minho dengan tatapan yang sama seperti tadi, datar dan dingin. Ia tak tahu arah pembicaraan Minho. “Tak usah berbelit-belit.” Sela Kwangmin.

Mata Minho melirik ke belakang punggung Kwangmin dan Taemin. Jauh di sana, terlihat para koloni Taemin. Siapa lagi kalau bukan Kibum, Jonghyun, Hyunseong dan Jeongmin? Mereka berempat tengah melangkah menuju kemari, tempat berdirinya Minho, Taemin dan Kwangmin.

“Ciuman pertama Jieun sudah direbut orang di sebelahmu,” Minho berhenti bicara sejenak, ingin tahu reaksi Kwangmin.

Jelas saja reaksi yang ditampilkan di wajah Kwangmin adalah terkejut. Walaupun begitu, raut wajah Kwangmin berubah dari terkejut menjadi marah dalam persekian detik. Taemin justru sama sekali tidak terusik dengan omongan Minho barusan. Ia hanya diam menatap ke arah Minho dengan tatapan tanpa maksud apapun. Kali ini ia tengah memikirkan cara yang tepat untuk membuat Minho—atau Sujie—berpisah tanpa Sujie mengetahui taruhan ini.

“Kalau sudah selesai, aku bisa pergi kan? Kolonimu sudah datang.” Minho melanjutkan begitu melihat keempat laki-laki di belakang punggung Kwangmin dan Taemin semakin dekat. Kemudian ia melangkah pergi dengan puas. Setidaknya ia bisa membalas perbuatan Taemin padanya dan gadisnya, Jung Soo Jung.

Setelah Minho sudah membelok dan masuk ke dalam gedung sekolah, tak ada yang bicara lagi di antara Taemin maupun Kwangmin. Keduanya tengah sibuk dengan pikiran masing-masing sampai suara Jeongmin memanggil nama Kwangmin terdengar di belakang mereka.

“Kulihat tadi ada Choi Minho,” ucap Kim Kibum heran sembari menatap tempat Minho terakhir terlihat.

“Dan, kurasa tak ada masa—” Jonghyun menimpali.

“Ada apa dengan wajahmu?” Hyunseong yang merangsek maju dan melihat wajah Taemin yang memar langsung memotong perkataan Jonghyun. Kemudian matanya berpaling menatap Kwangmin yang masih terdiam di tempatnya. “Astaga, Kwangmin! Minho yang melakukan ini, bukan?”

Alih-alih menjawab, Kwangmin justru membalikkan badannya dan melangkah pergi. Namun sebelum berbalik, ia sekilas menatap Taemin dengan tatapan dingin dan menusuk. Ia sama sekali tidak menyangka Taemin akan melakukan itu—baiklah, mungkin kalau orang lain yang mencuri ciuman pertama Jieun, ia tidak akan semarah ini. Tetapi, Taemin sudah tahu kalau Kwangmin menyukai Jieun, bukan? Untung saja Kwangmin bisa mengendalikan emosinya. Kalau tidak, mungkin memar di wajah Taemin akan bertambah banyak.

Ya! Jo Kwangmin!” seru Kibum gusar melihat sikap Kwangmin yang pergi begitu saja dengan wajah sangat tidak bersahabat ketika Hyunseong sedang meminta menjelasan.

Taemin yang tadi mendapati tatapan dingin Kwangmin hanya mengerang karena ia tahu akan ada masalah baru yang akan muncul dan karena sudut bibirnya yang robek mulai terasa perih.

“Ada apa dengannya?” gerutu Kibum kesal. Matanya masih tetap menatap punggung Kwangmin yang semakin menjauh dari pengelihatannya. “Ya, Taemin, aku yakin sekali kau menyembunyikan rahasia dari kami.” Lanjutnya sembari menatap Taemin dengan penuh curiga.

Rahang Taemin mengeras mendengar perkataan Kibum. Melihat perubahan ekspresi Taemin, Jonghyun cepat-cepat merangkul pundak Kibum untuk mengubah atmosfer tak enak di sini. “Kenapa tidak membawa Taemin ke ruang kesehatan saja, Key?”

Kibum—atau yang biasa dipanggil Key oleh orang-orang terdekatnya—mendengus kesal namun tidak berkomentar, lalu melangkahkan kakinya masuk ke dalam gedung sekolah.

“Taemin, kau harus ke ruang kesehatan sebelum bel berbunyi,” ucap Hyunseong kemudian. “Key bisa mengobatimu. Ayo.” Lanjutnya sembari berlalu pergi mengikuti Kibum.

¯

“Jinri-ya, saat badai kemarin, kau menginap di mana?” tanya Sujie ketika mereka bertiga—Jinri, Sujie dan Jieun—tengah berjalan di lorong panjang sekolah menuju kafetaria sekolah.

“Di rumah sepupuku,” jawabnya tanpa menoleh kepada Sujie. Ia memandang lurus ke depan.

“Di sana juga ada Minwoo?” tambah Jieun.

Setelah Jinri mengangguk mengiyakan pertanyaan Jieun, kemudian Jieun maju selangkah dan berdiri tepat di hadapan Jinri, membuat langkah Jinri dan Sujie terhenti. Ia hanya tersenyum penuh arti pada Jinri yang menatapnya bingung, lalu ia menoleh pada Sujie yang juga tengah menatapnya dengan heran.

“Oh,” gumam Sujie setelah Jieun mengendikkan bahunya, seolah mengingatinya.

“Apa?” tanya Jinri gusar begitu melihat Sujie yang sekarang juga tengah menatapnya dengan senyum penuh arti. Matanya bergantian menatap heran Sujie dan Jieun.

Beberapa menit Jieun dan Sujie tidak bicara dan justru menatap Jinri dengan tatapan aneh, Jinri pun sekarang mengerti apa yang mereka maksud. “Ah, kalian tidak berpikir yang macam-macam kan?” erang Jinri kemudian.

“Siapa yang tahu?” Jieun balas bertanya sembari mengendikkan bahunya acuh. Sedangkan Sujie hanya tertawa kecil melihat wajah Jinri yang memberenggut. “Ceritakan apa yang terjadi saat itu,” lanjutnya penuh desakan.

“Tidak ter—”

“Bantahan tanda adanya sesuatu.” Potong Sujie sebelum Jinri menyelesaikan kalimatnya.

“Astaga!” keluh Jinri. Ia tak tahu harus bicara apalagi untuk menyakinkan Jieun dan Sujie. Lalu, “Saat itu memang hanya ada aku dan Minwoo, tapi…” Ia tidak menyelesaikan kalimatnya begitu tersadar barusan ia salah bicara. “Y-ya! Maksudku… ya! Berhentilah menatapku seperti itu.”

“Kau baru saja mengaku,” komentar Jieun.

Jinri hendak membuka mulut untuk membantah, namun ia mengurungkan niatnya. Dia tak tahu harus bicara apa. Kalau salah bicara lagi, Jieun dan Sujie pasti akan menggodanya habis-habisan.

Melihat mulut Jinri yang bergerak namun tak juga mengeluarkan suaranya, Sujie pun merangkul pundak Jieun sehingga membuat Jieun membalikan badannya sehingga ia memunggungi Jinri. “Tanyakan langsung saja pada Minwoo,” usul Sujie sembari melangkahkan kakinya dan merangkul pundak Jieun.

Seperti mendapatkan bola lampu yang nyala terang di atas kepalanya, Jieun pun langsung membalikkan badannya menghadap Jinri lagi sedangkan Sujie menurunkan tangannya dari pundak Jieun dengan bingung.

“Sebelum kami bertanya langsung pada Minwoo, bagaimana kalau kau menceritakan semuanya?” tawar Jieun kemudian.

Jinri mengerang, namun—dengan berat hati—ia mengiyakan tawaran Jieun. Oh, itu sama sekali tidak terdengar seperti tawaran melainkan paksaan, walaupun cara Jieun mengatakannya lebih menjurus ke tawaran. Toh pada akhirnya dia harus menceritakan semua yang terjadi malam itu, dan dia juga mau tak mau harus mengatakan bahwa orangtuanya telah bercerai. “Aku ceritakan di kantin,” katanya sembari melangkah pelan di samping Sujie. Sedangkan Jieun melangkah mundur karena menghadap tepat di depan Jinri.

“Ayo, aku lap—”

Kalimat Sujie terpotong oleh pekikkan maaf Jieun. Saat Jieun ingin membalikkan badan untuk melangkah menuruni anak tangga, namun ia justru menginjak sepatu orang lain. “Maaf! Maaf!” pekikknya sembari menundukkan kepalanya dalam-dalam.

Sama sekali tak ada jawaban dari orang yang Jieun injak kakinya. Dilihat dari ukuran dan jenis sepatu yang dipakai orang yang ditabrak Jieun, ia yakin orang ini pasti laki-laki. Kemudian ia pun mengangkat kepalanya dan bernafas lega. Setidaknya orang yang ditabraknya bukan senior yang sinis pada juniornnya, bahkan orang ini cukup dekat dengannya. “Kwangmin Sunbae, maafkan aku. Kakimu tak apa-apa kan?” katanya kemudian begitu tahu siapa yang berdiri di hadapannya.

Balasan yang ditunjukkan Kwangmin sama sekali di luar dugaan Jieun. Kwangmin hanya menatap datar Jieun kemudian beranjak pergi menuruni tangga tanpa mengatakan sepatah katapun. Dan, Jinki yang tadi berada di samping Kwangmin mengangkat bahunya tanda tak tahu begitu Jieun menatapnya dengan pandangan bertanya, kemudian ia pergi mengikuti Kwangmin.

Jieun melongo sesaat, menatap tak percaya tempat Kwangmin berdiri tadi. Kemudian ia mengangkat kepalanya dan mendapati Taemin juga sedang menatapnya dengan pandangan… menyesal? Itu aneh.

Pasti Jieun bertanya-tanya tentang sikap Kwangmin tadi. Taemin sangat tahu itu. Kemudian Taemin membuat gerakan dengan tangan kanannya yang menandakan ia menyuruh Jieun menghampirinya.

Jieun menautkan alisnya heran melihatnya, namun ia tetap menuruti perintah Taemin. “Kalian pergi dulu saja ke kantin, aku ada urusan.” Ucap Jieun pada Jinri dan Sujie sebelum ia menghampiri Taemin.

Tentu saja Jinri dan Sujie tahu apa yang dimaksud Jieun dengan ‘urusan’. Sayangnya, mereka salah mengartikan hubungan Taemin dan Jieun yang sebenarnya. Pasangan kekasih yang masih hangat-hangatnya. Begitulah pikiran mereka mengenai hubungan Jieun dan Taemin, tidak seperti apa yang dipikirkan oleh Jieun. Taemin tuannya dan Jieun pesuruh yang harus menuruti perkataan atau perintah tuannya.

“Kami tahu,” sahut Jinri dan Sujie bersamaan sembari terkekeh. “Selamat bersenang-senang ya.” Lanjut Sujie kemudian melangkah pergi menuruni anak tangga setelah Jinri merangkul pundaknya.

Sebelum beranjak menghampiri Taemin yang menunggu di tengah anak tangga yang menuju lantai tiga sembari menyandarkan punggungnya pada tembok dengan pandangan bosan, Jieun meniup poni yang menutupi dahinya.

“Apa lagi yang harus aku lakukan?” tanya Jieun tak sabaran. Entahlah, saat ia berada di dekat Taemin perasaannya berubah-ubah. Kadang ia merasa nyaman dan ingin terus berada di dekat Taemin, namun kadang ia merasa tak ingin berdekatan dan bahkan tak ingin mempunyai urusan dengan Taemin sehingga ia bersikap sinis—seperti sekarang. Perasaannya itu berubah setelah ia bersama Kwangmin. Ia juga tak tahu ada apa dengan dirinya sendiri.

“Tidak ada.” Jawab Taemin singkat.

Jieun mendongak dan melayangkan tatapan kesal pada Taemin yang jauh lebih tinggi darinya. “Lalu kenapa menyuruhku kemari?”

“Kenapa kau sinis sekali?” Taemin balas bertanya sambil menaikkan alisnya. “Kau sedang datang bulan?”

Mendengar pertanyaan Taemin, Jieun menggigit bibir bawahnya menahan kesal. Entah kenapa setelah mendapat perlakuan dari Kwangmin tadi, emosinya jadi jelek sekali. Ia jadi ingin memarahi siapa saja. Ini memang bukan pertama kalinya Kwangmin bersikap dingin padanya atau orang lain. Tapi, melihat kedekatan mereka belakangan ini, bisa dibilang baru kali ini Jieun mendapat perlakuan dingin dari Kwangmin. Dan… Jieun tidak sengaja menatap bola mata hitam milik Kwangmin. Jelas sekali di sana tersirat kemarahan. Jadi, apa yang membuat Kwangmin marah padanya? ia tak merasa membuat Kwangmin marah, dan kemarin pun Kwangmin masih bersikap seperti biasa, bahkan mencium pipinya!

“Kau tahu ada apa dengan Kwangmin Sunbae?” akhirnya Jieun melontarkan pertanyaan yang membuatnya penasaran.

“Kenapa kau memanggilnya ‘Sunbae‘ sedangkan kau hanya memanggil namaku tanpa embel-embel?”

Hari ini dia senang sekali bergurau, ya? Batin Jieun sakartis. Lalu ia menghembuskan nafas dengan berlebihan. “Baiklah,” katanya. “Sunbaenim, kau tahu ada apa dengan Kwangmin Sunbae?” ia mengulang pertanyaan dengan suara yang dibuat-buat dan menekankan kata Sunbaenim. Sebelum Taemin menjawab, Jieun melanjutkan, “jangan coba-coba mengalihkan pembicaraan lagi.”

“Hei, hei, aku tidak mengalihkan pembicaraan.” Sahut Taemin. Merasa Jieun tak berniat untuk mengomentari, Taemin pun melanjutnya dan wajahnya berubah serius. “Aku tidak tahu ini benar atau tidak, tapi kurasa Kwangmin marah karena dia tahu aku pernah menciummu.”

Mata Jieun membulat. Marah karena tahu Taemin menciumnya? Kenapa Kwangmin marah karena itu? batin Jieun bingung.

“Aku tahu apa yang ada di pikiranmu,” ucap Taemin karena Jieun tak kunjung bicara dan justru menutup mulutnya. “Dan, ya. Dia menyukaimu.”

Astaga! Pekik Jieun dalam hati. Dia tidak pernah berpikir—bahkan membayangkan—kalau Kwangmin akan menyukainya. Dan, jelas saja pernyataan Taemin tentang apa yang ia pikirkan bukan tentang Kwangmin yang menyukainya.

“Sepertinya dia cemburu.” Lanjut Taemin. Dan, inilah yang tadi sempat Jieun pikirkan. Cemburu. Apa Kwangmin cemburu padanya?

“Dan, oh ya! Aku yakin sekali Kwangmin sangat marah karena aku mencuri ciuman pertamamu.”

Sial. Jieun merutuki dirinya sendiri karena merasa wajahnya memerah mendengar kalimat yang dilontarkan Taemin barusan. Dia pun menundukkan kepala agar Taemin tak melihat wajahnya yang memerah. Dia memikirkan dua alasan kenapa wajahnya memerah. Pertama, karena mengingat ciumannya—yang tidak ingin dihitungnya sebagai ciuman pertamanya—dengan Taemin. Dan yang kedua, karena Taemin bilang bahwa Kwangmin marah saat tahu Taemin sudah merebut ciuman pertamanya. Ia tak tahu yang mana dari dua alasan itu yang menjadi alasan wajahnya memerah.

Tapi sayangnya Taemin sempat melihat wajah Jieun yang memerah. Taemin tersenyum mengejek pada Jieun kemudian melanjutkan, “Tapi, seharusnya Kwangmin marah padaku. Kenapa dia justru marah padamu, ya?”

Baiklah, kali ini Taemin benar-benar menyebalkan. Menyebalkan, ingat. Bukan mengerikan seperti yang lalu-lalu. Rona merah di wajahnya pun langsung hilang mendengar kalimat yang dilontarkan lagi oleh Taemin. Benar juga, kenapa Kwangmin justru marah terhadapnya?

Jieun mengangkat wajahnya dan menatap tajam wajah Taemin. “Kau harus bertanggung jawab!” seru Jieun sembari menatap lurus-lurus wajah Taemin. Jika diperhatikan dengan seksama, Jieun melihat memar-memar di wajah Taemin. Dia habis bertarung atau apa? Pikir Jieun, tapi ia tidak berani menyuarakan pikirannya. Dia merasa ini bukan urusannya.

Sadar Taemin mendapati Jieun tengah menatap memar di wajahnya, Jieun segera mengerjapkan mata dan melanjutkan dengan kikuk. “Jelaskan pada Kwangmin Sunbae ini bukan salahku.”

Mendengar Jieun yang panik karena Kwangmin tahu Taemin mencuri ciuman pertama Jieun dan marah pada Jieun, Taemin bisa memastikan bahwa Jieun juga menyukai Kwangmin. Hanya saja gadis itu belum mengetahui perasaannya, atau gadis itu belum mengakui perasaannya.

“Baiklah,” jawab Taemin dengan suara rendah dan pelan. Jieun tidak pernah mendengar Taemin berbicara dengan suara seperti ini. “Nanti aku akan bicara pada Kwangmin.”

Dan sekarang Jieun hanya ingin Kwangmin tidak marah padanya. Jieun pun menganggukkan kepalanya kemudian berbalik, hendak melangkah menuju kafetaria sekolah menghampiri kedua temannya.

“Oh ya, Jieun,” panggil Taemin sebelum Jieun menuruni tangga lebih jauh. Jieun pun membalikkan badannya, sebelah alisnya terangkat heran menunggu Taemin melanjutkan. “Kau tidak perlu melakukan sesuatu untuk memisahkan Sujie dan Minho.”

¯

“Orang tua Jinri benar-benar bercerai?” tanya Jieun tak percaya setelah Sujie selesai menceritakan cerita Jinri saat di kafetaria sekolah tadi siang.

Saat ini Jieun dan Sujie tengah berada di pusat kota untuk mencari hadiah untuk Minho, kekasih Sujie. Tentu saja bukan karena Minho berulang tahun. Sujie ingin membelikan sebuah mantel yang dapat dipakai oleh Minho saat tes kelulusan beberapa hari lagi.

“Kau mengira aku berbohong?” Sujie balas bertanya dengan nada tersinggung.

Jieun terkekeh sembari mengibaskan tangannya di depan dadanya. “Bukan itu maksudku. Hanya saja… yah, aku tidak tahu. Aku bahkan hanya sekali melihat wajah ibu Jinri dan tidak pernah melihat wajah ayahnya.”

“Lalu?” tanya Sujie tak mengerti.

“Tidak. Lupakan saja,” sahut Jieun sembari mendengus. “Ucapanku melantur hari ini.”

Sebelum menyadari Jieun yang berubah murung karena mengingat Kwangmin, Sujie melihat mantel besar berwarna cokelat pudar yang terlihat bagus di matanya. Minho pasti menyukainya, pikirnya.

Setelah menunjukkan mantel itu pada Jieun dan Jieun mengangguk menyetujui, Sujie pun membawa mantel itu ke kasir dan membayarnya.

“Kau mau ikut aku ke rumah Minho Oppa atau tidak?” tanya Sujie ketika mereka berdua sampai di halte bus.

Kedua tangan Jieun memegang tali tasnya sembari menggelengkan kepalanya. “Tidak,” tolaknya. “Aku lelah. Kau sendiri saja tidak apa-apa kan?”

“Tentu saja. Sampai nanti,” kata Sujie sembari mengangguk mengerti. Sebelum membalikkan badannya hendak melangkah ke arah yang berlawanan dengan Jieun, ia melambaikan tangannya pada Jieun.

Untung saja rumah Minho tidak terlalu jauh dari toko pakaian yang tadi dikunjungi Sujie dan Jieun. Tidak sampai dua puluh menit berjalan kaki, Sujie sudah menapakkan kakinya di depan pagar rumah Minho.

Seulas senyum tampak di wajah Sujie begitu mendapati Minho dan adiknya, Soo Jung, tengah mengobrol santai di pekarangan rumah yang bisa dilihat dari luar pagar seperti yang dilakukan Sujie saat ini. Ia melirik ke tangan kanannya yang menenteng tas plastik yang digunakan untuk menaruh mantel yang baru dibelinya tadi, kemudian kembali mengangkat kepalanya.

Sujie hendak memanggil nama Minho kalau saja tak melihat kejadian itu. Minho mendekatkan wajahnya ke wajah Soo Jung dan akhirnya tak ada jarak di antara mereka. Astaga! Mereka kakak beradik, bukan?

TBC

52 thoughts on “[Chapter 11] Teenager Love Story

  1. waaaah.. Udh next yah cingu . Hmm.. makin seru nih . Tapi kok feelingku si taemin ntar bakal sama suzy yak? Kirain ntar taemin bakal suka sama jieun. Hmm.. Tau ah.. Tapi tetep moment fav aku IU-kwangmin, IU-taemin & Jinri-minwoo dah. Abisnya dapet bgt feel mereka .
    Next part ditunggu cingu . Keep writing ^^
    Fighting !

    • udah dong~ maaf ya kalo lama hehe
      hem… itukan hanya feeling~ *ketawa misterius* seriusan feelnya dapet? sujud syukur dah nih hahaha #berletingkatakut
      okeee, tunggu aja ya chigu^^ makasiiih:D

    • ah ne.. Pasti aku tunggu cingu . Tapi jangan lama” yak . Kekeke
      Kadang aku suka IU-kwangmin tapi juga kadang suka IU-taemin.. Aish.. Bener” kaya drama ini FF . Keren dah pokoknya . hahaha
      Fighting ^^

      • aku usahain gak bakal lama kok^^ kalo udah selesai pasti aku publish
        aku suka semua pairnya muahaha
        andai ada drama yang castnya taemin, iu, kwangmin, minho, sulli, suzy, minwoo (menghayal) aku bakal tungguin bangeeet hahaha
        makasih chiguuuu:D

    • cinguuu.. aku mau usul nih. Si IU sama taemin aja . Ntar kwangmin dikasi pair baru aja (misal : aku ^^ ). Kekeke
      Tapi bikin si taemin cemburu dulu tuh sama IU . Kayanya lebih seru . Kekeke🙂
      Hwaiting . Smoga minggu ini bakal di post dah . Amin …

      • gimana kalo nanti aku buat ff yg pairnya iu-taemin? soalnya aku udah buat endingnya tinggal dikembangin ke cerita. mian ya chigu *bow*
        buat post… kayaknya bulan juni awal aku post, soalnya hari senin aku udah ujian kenaikan kelasT.T mian chiguuuu

    • oh gitu yah? Wah brarti bener dong dsini ntar IU nggak sama taemin? Yaaaah.. Masak taemin nggak ada rasa sedikitpun ke IU.. Huhuhu #ngapa aku yg sedih yah? Ckckck# okedeh cingu terserah author aja. Fighting buat semua kegiatannya ^^

  2. akhirnya keluar chapter 11nyaa!!
    kwangmin-IU, kwangmin-IU!! *teriak kyk orang demo😄
    Eonni, taemin sma suzy ajaa, ntar kwangmin sma IU.. jebaaall *ngeluarin puppy eye*
    si taemin tuh udh tunangan sama cewe yg disukain minho??
    terus terus aku penasaran sma taruhan minho taemin.__.

    aki tunggu chapter 12nyaa!🙂 Hwaitinggg!!

    • lama ya saeng nunggunya? miaan *bow*
      IU dipasangin sama siapa aja cocok kok;3 jadi… tunggu aja yaaaa^^
      ituu si soo jung (krystal fx) entah kenapa aku gak rela kalo krystal gak ikutan main di sini haha
      nah, nanti di chap 12 di ceritain kok tentang taruhannya^^ tunggu ya saeng^^

      • hehe iya agak lama nunggunya.. tapi gwenchana eonni🙂
        oke aku tunggu😉 semoga semuanya berakhir bahagia..
        oke aku tunggu chapter selanjutnya hihihi.
        oiya itu gravatar eonni kwangmin-kah??

      • mian ya saeng._.v
        endingnya udah nempel di otak kok, jadi tinggal nyelesaiin konfliknya aja^^
        siiip, mungkin minggu depan aku post kok (kalo gak keundur lagi) hihi
        iya doong~ kece kan dia di gravatarku? muahaha

      • kalo gak di chapter 13, yah 14 saeng.
        nah, halangannya ada saeng:( hari senin aku ujian kenaikan kelasT.T tega emang sekolah#curhat
        eonni kece? uwaaa, gomawo saeng-ah~

  3. akhir.na d’post juga,,,,!!
    suzy sama taemin aj, truz iu sma kwangmin,,,,,!! wkwkwk :))
    di tNgu part slNjut.na

    • hehe maaf ya kelamaan._.v
      hem… itu… liat nanti aja yaa, aku mau buat pada penasaran aja walaupun udah ketebak ceritanya^^ hoho
      okeee, tungguin aja yaa, makasih komennya^^

    • tergantung sempet lanjutin sih
      ff ini kan gak fokus di taemin-iu-kwangmin doang chigu, masih ada minho, minwoo, sulli, sama suzy. jadi yah… disini per couple.
      oke, makasih yaa^^

  4. annyeong, wah baru update yaa??
    aigoo, aku bingung, muncul konflik lagi😮 apa hubungan taemin dan minho, and who’s soojung??
    konfliknya rumit, pairing-nya jadi berubah2 gini, ah eottokhae, aku ingin pairing tetap IU-Taemin yaaa..
    update soon yaaa😀

    • iya chigu hehe maaf ya lama._.v
      ini konflik-konflik terakhir koook:D nanti dijelasin kok di chap12nya^^ soo jung itu krystal f(x), tau kan? hehe yah… pokoknya siapa itu soo jung bakal dijelasin di chap12nya kok^^
      emang rumit serumitrumitnya benang kusut nih, sengaja bikinnya buat permulaan bikin ff bergenre detektif nih (apa hubungannya?). buat pairingnya, dari awal aku udah pairin semua kok, jadi emang sengaja biar endingnya gak kebaca muahaha
      okee, tunggu aja ya chigu~

    • iya chigu hehe maaf ya lama._.v
      ini konflik-konflik terakhir koook:D nanti dijelasin kok di chap12nya^^ soo jung itu krystal f(x), tau kan? hehe yah… pokoknya siapa itu soo jung bakal dijelasin di chap12nya kok^^
      emang rumit serumitrumitnya benang kusut nih, sengaja bikinnya buat permulaan bikin ff bergenre detektif nih (apa hubungannya?). buat pairingnya, dari awal aku udah pairin semua kok, jadi emang sengaja biar endingnya gak kebaca muahaha
      okee, tunggu aja ya chigu~

  5. wah cerita.a makin seru chingu banyak konflik.a🙂 jadi penasaran
    kwangmin cemburu🙂 sama taemin he…he..he
    wah ji eun suka siapa y penasaran🙂 ? kasian sama suzy
    ditunggu next part.a🙂

  6. galau galau galau ..
    Pengennya si IU ama Taem aja ..
    Ak ga suka pairnya MinStal *tariktarikauthor #ehh?
    Dapet bgd feelnya ..
    Pokoknya ditunggu deh lanjutannya yha saeng ^^

    • setujuuuu.. Aku juga pengen IU sama taemin . Kwangmin kasi pair lain aja deh (aku mau tuh jd kandidatnya). Kekeke ^^

    • dari sini taeminnya banyak dong~
      buat pairnya, karna aku udah dpt endingnya tinggal di kembangin, jadi yah… kalo dirubah pairnya takut jadi berantakan ffnya dan bakal ditelantarin lama._.
      jinjayo??? makasih yaaa^^v

  7. haiii aku pembaca baru…
    pas pertama baca ff ini langsung tertarik baca terus…
    makin kesini makin banyak konflik… hehhe…
    di tunggu ya part selanjutnya…
    aku si pengennya iu sama taemin tapi sama sapa aj boleh deh…
    hehehe..

  8. Kyaaa~ akhirnya setelah bertahun tahun lamanya ini ff ada lanjutannya juga (?) #berleb *disambitauthor*
    Beneran nggak nyangka pairingnya gini, tp aku lebih suka IU sama Kwangmin, abis kasian Kwangmin nya hehee, lagipula kayanya IU mulai ada rasa rasa gitu gaksih? #sotau
    Suzy sama Taemin aja, kasian bgt ade aku itu (?) atau enggak kystalnya dibuat meninggal biar Minho sama Suzy #loh
    Hadeh mianhe thor kalo kebanyakan komentar abisnya makin seru nih & bikin penasaran.. Heheee
    ditunggu next chapter yah, keep writing!! fighting!!^^

    • wuaaaa, aku kelamaan ya? miaaan>.<
      akhirnya berhasil ngebuat pairnya gak kebacaxD hoho hemm.. ya begitulah chigu mulai2 ada gitu…
      itu… masih menjadi rahasia umum #eh? salah salah. maksudnya masih rahasia pribadi (rahasia apasih yg bener?)
      gapapa chiguu^^ di chap12 komentarnya banyak2 juga gapapa:D *maunya author* *ditoyor*
      okeee, lanjutannya rada lama lagi gapapa kan chigu?._.

  9. waa… minho jahat–timpukin minho sama krystal pake batu–
    lanjut author.. oh iya, mudah2an ujiannya lancar^^

  10. Mianhe chingu commentnya aku gabung ya part 9,10,11 bingung soalnya mau komen hehehe disini baru jelas neh hubungan taemin sama minho waah makin penasaran apalagi cast yg dipake bias gw semua jd bisa bayangin😛 di chapter ini mulai jelas semuanyaaa
    ditunggu part selanjutnya chinguuu🙂

  11. ga diduga chingu, ternyata Soo Jung itu cew’a Minho, trus ternyata Taemin suka sm Suzy yaaa… semoga ending’a IU sm Kwangmin dah hahah….Daebak cerita’a^^

  12. Kan bener dugaanku, si minho cuma ngaku2 kalo soojung itu adiknya. Waah udah kayak nontom sineteon aja nih, thor. Kergetan sendiri wkwkwk

  13. aku kira jieun suka sama taemin..g twny suka sama kwangmin..cuma heranny knp kwangmin marah sama jieun..apa gara2 omongan minho..tp aku ttp dukung jieun-kwangmin..hehe..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s