[Chapter 10] Teenager Love Story



  • Tittle    : Teenager Love Story
  • Author    : Ennyhutami
  • Lenght    : Chaptered
  • Genre    : Romance
  • Rating    : General
  • Cast    :
  1. Lee Ji Eun
  2. Bae Sujie
  3. Choi Jinri
  4. Lee Taemin
  5. Jo Kwangmin
  6. No Minwoo
  7. Choi Minho
  8. And others
  • Note    : semua cast disini bener-bener aku rombak. Gaada protes tentang sifat-sifatnya atau umurnya yang aku ubah. Ini cuma fanfiction, jadi apa yang author bayangin yah begini. Maaf bangetbengetan kalo ngepublish ini lamaaaaaa banget. Cerita ini sempet berenti dijalan dan gatau mau diapain lagi. Jadi jeongmal jeongmal jeongmal mianhae *bow*

Plagiat and Sider Go Away!

~ooOoo~

 

Sudah sekitar tiga puluh menit No Minwoo melangkah di tengah kerumunan orang-orang yang berlalu lalang. Matanya menjelajah ke setiap sudut tempat untuk mencari Choi Jinri.

Tiga puluh menit yang lalu, saat ia ingin mengembalikan buku catatan milik Jinri sekaligus ingin menjenguk gadis itu yang kata Jieun sedang sakit. Tapi, begitu pintu rumah terbuka, yang Minwoo dapatkan bukan wajah Jinri melainkan wajah seorang wanita tengah baya yang terlihat sedikit mirip dengan Jinri. Ibu Jinri? Begitu pikirnya begitu melihat wanita tengah baya itu.

“Teman Jinri?” tanya Ibu Jinri setelah melihat Minwoo yang masih mengenakan seragam sekolahnya.

Minwoo mengangguk dengan sopan. “Ne, Jinri ada? Saya dengar dia sakit,”

Wanita itu mengernyitkan alisnya begitu mendengar ucapan Minwoo. Alisnya bertautan seperti menyatu. “Sakit? Dia baik-baik saja. Hanya saja, dia belum pulang dari sekolah,”

“Hari ini Jinri tidak masuk sekolah,” sahut Minwoo heran. Tidak mungkin Jinri bolos sekolah. Dia bukan gadis yang suka membolos. “Saya dengar dari teman sekelasnya kalau hari ini ia tidak masuk sekolah.”

Setelah mendengar perkataan Minwoo, wajah wanita itu memucat kemudia ia mengeluarkan ponsel dari saku pakaiannya lalu menekan beberapa angka. “Cari Jinri sekarang juga! Dia tidak ada di rumah ataupun di sekolah. Cepat!”

Entah pada siapa wanita itu berkata, tapi Minwoo yakin ada yang tidak beres. Dan, pemikirannya memang benar. Ada masalah. Jinri menghilang. “Nak, bisa kau membantuku mencari Jinri?”

Dari sanalah awal mengapa sekarang Minwoo masih berkeliaran di tempat umum. Untuk mencari Jinri. Ini keinginannya, bukan karena ia mendapat perintah untuk mencari Jinri dari wanita tengah baya tadi. Murni keinginan dalam hatinya.

“Choi Jinri!” teriaknya begitu selesai menelfon Jieun—meminta bantuan Jieun untuk mencari Jinri walaupun hujan deras di luar sini. Teriakkannya terdengar seperti orang yang sedang putus asa dan tenggelam dalam suara hujan. Dan pada kenyataannya dia memang putus asa mencari Jinri. Dia ingat kalau ia hanya tahu sedikit tentang gadis itu.

Minwoo pun bergegas menuju halte di dekatnya yang sudah ramai oleh orang-orang yang ingin melindungi diri dari hujan yang tiba-tiba deras.

Di sanalah ia melihatnya. Gadis yang ia cari-cari tengah berdiri di depan toko roti di seberang jalan, juga berlindung dari hujan yang sangat deras. Choi Jinri. Tangan kanannya memegang payung sedangkan tangan kirinya memegang tas belanjaan. Tanpa sadar, Minwoo tersenyum.

Bus Hijau berhenti di depan halte tempat Minwoo meneduh. Cukup lama bus itu berhenti, dan ketika bus itu melaju pergi, ia melihat punggung Jinri yang mulai pergi menjauh di bawah payung besar berwarna putih.

“Choi Jinri!” teriak Minwoo sembari keluar dari tempat meneduhnya. Tak ia hiraukan hujan yang mulai deras dan tatapan orang-orang di halte tadi yang menganggapnya tidak waras. Ia tetap berteriak memanggil nama Jinri meskipun di depan sana Jinri tak mendengar karena teriakan Minwoo teredam oleh suara hujan.

Minwoo pun berlari dan menerobos hujan. Untung saja saat ia ingin menyebrang jalan lampu lalu lintas sedang hijau untuk pejalan kaki.

Ya! Choi Jinri!”

Jinri yang merasa dipanggil segera membalikkan badannya. Matanya membulat melihat Minwoo berdiri di belakangnya dengan masih mengenakan seragam sekolah yang sudah basah kuyup. “Kau? Kenapa hujan-hujanan begini?” tanya Jinri sembari melangkah mendekati Minwoo dan membuat Minwoo berada di bawah payung yang sama yang digunakan oleh Jinri.

“Aku mencarimu, bodoh! Kau kabur dari rumah?”

Bukannya menjawab, Jinri justru menarik tangan Minwoo dan membawa mereka berdua untuk berteduh di depan etalase toko alat musik. Setelah merasa mereka tak akan kehujanan, Jinri menaruh payungnya kemudian mengambil jaket yang ia taruh di dalam tas kardusnya.

“Pakai ini sebelum kau kena flu,” kata Jinri sembari menyodorkan jaket berwarna hijau tua milik sepupunya. “Ayo ke tempatku dulu. Kudengar nanti akan ada badai.” Lanjutnya kemudian mengambil payungnya lagi.

Minwoo menuruti perintah Jinri untuk memakai jaket dan pergi bersamanya. Kali ini Minwoo yang memegang payung karena jika Jinri yang memegang payung, kepala Minwoo terus saja terantuk dengan ujung payung.

Begitu sampai di depan gedung apartemen, Jinri mengambil payung dari tangan Minwoo dan menutupnya. Kali ini terlihat jelas kalau bibir Minwoo membiru akibat kedinginan dan tubuhnya juga gemetar.

“Minwoo, kau terlihat sangat kacau! Cepat ke dalam, kajja!” seru Jinri begitu melihat wajah Minwoo yang sangat pucat. Kemudian ia menarik tangan Minwoo sampai ia sampai di depan kamar apartemen milik sepupu Jinri.

“Masuk saja,” ucap Jinri setelah membuka pintu yang di password kemudian ia menyalakan mesin penghangat udara dan mengambil handuk yang tersampir di dekat kamar mandi lalu melemparnya pada Minwoo. “Ini apartemen sepupuku, Cho Kyuhyun. Kebetulan ia ada di rumah temannya untuk mengerjakan tugas kuliah,”

Setelah membuka salah satu kamar, kamar Cho Kyuhyun, Jinri masuk kemudian membuka lemari milik Kyuhyun dan mengambil satu setel pakaian milik Kyuhyun.

“Ini,” ujar Jinri sembari menyodorkan pakaian milik Kyuhyun. “Mungkin agak kebesaran untukmu. Tapi, pakai saja sebelum kau kena flu. Kamar mandi di sebelah sana.” Lanjutnya sembari menunjuk salah satu pintu yang tertutup rapat.

Minwoo hanya mengangguk kemudian mengikuti ucapan Jinri. Ia juga tidak mau terserang flu. “Terima kasih, ya,” ucap Minwoo sebelum masuk ke dalam kamar mandi.

Jinri hanya tersenyum membalas ucapan terima kasih Minwoo. Sebenarnya tengah merasa gugup. Pasalnya, sekarang ia dan Minwoo hanya berdua di sini. Ia tak tahu harus melakukan apa, tapi ia tak ingin merasa canggung.

Segera mungkin ia melesat ke dapur dan membuat minuman hangat untuknya dan untuk Minwoo.

Ketika Minwoo selesai, Jinri tengah menonton acara di televisi. Kelihatannya acara yang ditontonnya sangat lucu karena ia terus tertawa dan tidak sadar kalau Minwoo telah selesai.

“Jinri-ya…” panggil Minwoo mencari perhatian Jinri.

Jinri terkesiap dan segera bangkit berdiri. “Oh, sudah selesai?” tanyanya. Minwoo hanya mengangguk. “Ini… aku buatkan coklat panas untukmu. Mudah-mudahan bisa membuat tubuhmu hangat kembali.”

“Terima kasih,” sahut Minwoo kemudian duduk di seberang Jinri. Sedari tadi Jinri hanya melihat Minwoo sembari menahan tawanya. Minwoo tampak lucu dengan pakaian Kyuhyun yang kebesaran di badannya. “Apa?” tanya Minwoo risih begitu menyadari Jinri yang menutup mulutnya.

Ani,
Melihatnya, Jinri hanya menggeleng namun tetap tertawa. “Kau lucu pakai kaus kebesaran.”

Minwoo memutar matanya sakartis kemudian menyambar gelas berisi coklat panas buatan Jinri yang di taruh di atas meja di ruang tengah. “Kau yang buat?” tanya Minwoo dengan wajah yang dibuat serius. “Kau tidak meracuniku, kan?”

“Untuk apa aku meracunimu?” Jinri bertanya balik sembari mendengus. Walaupun ia mendengus, tapi bibirnya tertarik ke belakangan membentuk senyum simpul karena tahu Minwoo tengah membuat atmosfir tidak secanggung mereka datang tadi. Kemudian ia mengambil gelas satunya lagi di atas meja.

Setelah menyeruput coklat panasnya, Minwoo menurunkan gelasnya namun tetap berada di depan kepalanya. “Karena kau menyukaiku?” ia menunggu reaksi Jinri. Walaupun suaranya terdengar ragu, namun ketetapan hatinya untuk berkata seperti itu sangat diyakininya. Ia ingin tahu reaksi Jinri.

Beruntungnya, coklat panas itu tidak sedang berada di dalam mulut Jinri melainkan masih utuh di gelasnya. Beberapa detik ia sudah meminum coklat panasnya, mungkin ia akan menyemburkannya keluar sangking terkejutnya. Baiklah, dia memang tidak terkejut mengetahui bahwa Minwoo tahu ia menyukainya. Hanya saja, ia tidak menyangka kalau laki-laki itu akan bicara terang-terangan saat berdua di rumah sepupunya. Untung saja si evil itu tidak di sini, batin Jinri.

Kemudian Jinri menyeruput coklat panas di gelasnya yang tadi sempat tertahan di udara. “Jangan bahas itu,” sergahnya setelah menaruh gelasnya kembali di atas meja.

Minwoo mendesah kecewa namun Jinri tidak mendengarnya. Ia kembali menyeruput coklat panasnya dengan perasaan kecewa. Sejujunya, ia sedang ingin membahas ini dengan Jinri. Tapi gadis itu menolak mentah-mentah. “Terserah,” ucap Minwoo sembari menaruh gelasnya di atas meja. “Tapi, kau harus jelaskan kenapa kau kabur dari rumah.”

“Aku juga ti—”

“Kau pilih bahas tentang perasaanmu padaku atau jelaskan alasan kau kabur dari rumah.” Potong Minwoo sebelum Jinri sempat menyelesaikan perkataannya. Ia menatap Jinri tajam. Membuat Jinri semakin terpojok.

Bibir Jinri hanya bergerak-gerak tak jelas. Matanya terpaku menatap Minwoo dengan pandangan memohon, memohon agar tidak memaksanya mengatakan keduanya. “A-aku…” katanya ragu. Ia tahu ia tidak akan bisa menahan air matanya keluar jika ia membahas keduanya. “Aku memang menyukaimu.”

Minwoo hanya berdeham sedikit menanggapi ucapan Jinri. Entah kenapa ia merasa sedikit tegang. Tangannya yang tadi mulai menghangat, kini kembali mendingin. “Sejak kapan?”

“Satu tahun yang lalu,” jawab Jinri cepat. Entah kenapa setelah menjawab pertanyaan itu, lehernya terasa tercekat. Ia tidak tahu apa penyebabnya, ia hanya… hanya merasa… aneh? Membicarakan langsung pada orangnya. Walaupun begitu, ia tetap melanjutkan jawabannya. “Sejak pertama melihatmu bersama Jieun.”

Minwoo terpengarah memandang Jieun yang menatapnya sungguh-sungguh. Ia tidak tahu kalau Jinri sudah menyukainya selama itu. “Itu lama sekali,” gumam Minwoo. Ia menatap wajah Jinri, namun pandangannya kosong. Ia sama sekali tidak bisa berpikir.

Balasan Jinri dari tanggapan Minwoo hanyalah tertawa. Tawa yang terdengar menyedihkan. Hatinya dan perasaannya mulai menyita pikirannya.

“Aku ingin menyerah saja,” ucap Jinri kemudian. Benar ia ingin menyerah pada perasaan tak terbalasnya pada Minwoo. Menyerah pada hidupnya yang tak tahu depannya begitu mendengar perpisahan kedua orangtuanya tepat di depannya. Ia ingin menyerah pada hidupnya.

Minwoo hanya diam melihat Jinri yang matanya mulai memerah. Ia tahu Jinri belum selesai bicara. Bagaimanapun gadis itu butuh teman bicara.

“Menyerah dari semuanya. Menyerah menyukaimu. Menyerah pada hidupku, pada masa depanku tanpa orangtuan yang sesungguhnya,” Jinri mulai meracau dengan air mata yang tertahan di pelupuk matanya. Suaranya tercekat karena menahan air mata itu agar tidak jatuh.

Ia mendongak sekilas, ingin melihat reaksi Minwoo. Bisa dilihat Minwoo terkejut bercampur bingung dengan ucapannya, jadi ia pun melanjutkan. “Orangtuaku bercerai dan mereka menyuruhku memilih untuk tinggal bersama siapa, salah satu diantara mereka,”

Ia semakin menundukkan kepalanya, berusaha agar Minwoo tak melihat air matanya yang jatuh. Ia terisak tertahan. Bahkan di saat seperti, ia tak ingin siapapun melihat sisi lemahnya. Dihitung, sudah lebih dariempat orang tahu sisi lemahnya. Orangtuanya, Kyuhyun, Jieun, Sujie—dia tahu kelemahan Jinri lewat cerita-cerita Jinri sendiri ataupun Jieun, sedangkan Jieun melihat Jinri menangis di depan matanya langsung—dan saat ini… Minwoo.

Ia kesal pada dirinya sendiri. Beberapa minggu yang lalu, saat ia tahu orangtuanya berencana untuk bercerai, ia yang mulai menutup diri dan tidak mau percaya pada siapapun lagi kecuali Kyuhyun. Dan, ia juga berjanji agar tak memerlihatkan sisi lemahnya pada orang lain termasuk orangtuanya. Tapi, ia telah melanggar janjinya sendiri.

Minwoo yang melihat Jinri terisak sembari menunduk, entah kenapa ikut merasakan perih di hatinya. Seperti ada parit yang menyiletnya secara perlahan namun pasti. Ia juga merasa sesak melihat sisi rapuh Jinri. Pasti berat untuk gadis itu. Ia sendirian dan menutup diri. Jadilah Minwoo bangkit dan menghampiri Jinri. Ia berlutut di depan Jinri yang terduduk di sofa kecil dan menangkupkan wajah Jinri dengan kedua tangannya. Ia mengusap pipi Jinri yang basah dengan ibu jarinya.

“Menangislah sepuasmu,” alih-alih menyuruh Jinri berhenti menagis, Minwoo justru senyuruh Jinri menangis sepuasnya sembari menarik tubuh Jinri ke pelukankannya sehingga tubuh Jinri seperti menunduk karena Minwoo yang berlutut di depan kakinya.

Tak lama Jinri menangis di pelukan Minwoo, ia menarik dirinya menjauh kemudian menghapus air matanya yang masih membasahi pipinya dengan kasar menggunakan telapak tangannya. “Maaf,” ucapnya begitu tenggorokkannya sedikit lega.

Minwoo tidak menjawab. Ia masih menatap wajah Jinri yang sembab dan masih berlutut di tempatnya. Ia mengamati tiap garis wajah Jinri yang masih terlihat basah akibat air mata.

“Apa?” tanya Jinri karena tidak tahan mendapati Minwoo terus menatapnya seperti itu. wajah Jinri kembali terlihat polos.

Minwoo tetap terpaku menatap wajah Jinri ketika ia bicara, “jangan pernah menyerah menyukaiku.”

¯

Sunbae, maaf aku merepotkanmu,” Jieun kembali membungkuk dalam-dalam setelah turun dari motor besar Kwangmin.

Sekarang ia tengah berada di depan rumahnya dengan memakai pakaian Gyuwon—anak itu dengan sukarela meminjamkan pakaiannya untuk Jieun. Seragam, sepatu, tas, dan buku-bukunya belum sepenuhnya kering. Jadi, semuanya itu masih disimpan di rumah Kwangmin—kecuali pakaian dalamnya. Untung saja sekolah menelfon kalau hari ini sekolah di liburkan akibat badai yang berlangsung lama kemarin.

Jieun melepaskan helmnya dan mengembalikannya kembali pada Kwangmin kemudian membungkuk lagi. “Terima kasih banyak,”

Kwangmin tersenyum. “Tidak masalah. Itu juga salahku karena mengajakmu pergi,” katanya sembari melepaskan helmnya sendiri. “Kalau barang-barangmu sudah kering, akan ku kembalikan kemari,”

“Tidak, biar aku saja yang kesana,” sela Jieun cepat. Terlalu cepat sehingga membuat Kwangmin menaikkan satu alisnya. “Maksudku, akan membuatmu repot kalau kau yang mengantar barang-barangku kemari.” Lanjutnya.

“Kau mau digoda habis-habisan lagi oleh Gyuwon?”

Jieun mendelik begitu mendengar pertanyaan Kwangmin. Gyuwon, adik perempuan Kwangmin. Gadis itu benar-benar berbeda dari kakaknya yang dingin dan sakartis. Adiknya justru terlihat aktif, banyak bicara dan yah… jahil.

“Bisa kulihat jawabanmu. Sampai jumpa nanti,” ucap Kwangmin sembari mendekatkan wajahnya ke wajah Jieun kemudian mengecup pipi Jieun. Lalu Kwangmin memasang kembali helmnya di kepalanya. “Cepat masuk. Pagi ini cukup dingin,” tanpa menunggu jawaban, Kwangmin pun melajukan motornya pergi.

Jieun masih terpaku namun melambaikan tangannya pada Kwangmin. Begitu motor Kwangmin tak lagi berada di depannya, Jieun meraba pipinya sendiri yang tadi dicium oleh Kwangmin. Kenapa jantungnya berdetak seperti ini?

Kwangmin yang melihat reaksi Jieun dari spion motornya hanya tersenyum simpul. Ia juga melihat Sujie di kejauhan. Rupanya Sujie melihatnya mencium Jieun. Tapi siapa peduli? Toh, Sujie juga teman dekat Jieun. Kwangmin pun menaikkan kecepatan motornya.

Begitu melihat motor Kwangmin membelok di pertigaan di ujung jalan, Sujie segera berlari kecil menghampiri Jieun yang masih terpaku. “Ya, Lee Jieun!” panggilnya.

Mendengar suara yang tak asing lagi, Jieun terlonjak kaget dan segera menoleh ke arah sumber suara. Dilihatnya Sujie tengah berlari kecil menghampirinya. “Oh, Sujie-ya, tidak biasanya kau kemari pagi-pagi,” ucap Jieun, mencoba mengalihkan pikiran dan detak jantungnya yang berdetak cepat.

“Kau dengan Kwangmin Sunbae?” tanya Sujie tidak percaya pada Jieun. Ia sama sekali tidak menghiraukan ucapan basa-basi dari Jieun. “Bukankah kau ini pacar Taemin Sunbae? Jangan pergi dengan laki-laki lain terlebih lagi diam saja saat dia menciummu, aku ingatkan padamu. Kalau Taemin Sunbae tahu, dia pasti marah besar. Apalagi Kwangmin Sunbae temannya,” jelas Sujie panjang lebar.

“Itu tidak sengaja,” sergah Jieun cepat-cepat. “Dan, dia disuruh Taemin untuk mengantarku pulang.” Ya Tuhan, kapan ia bisa berhenti berbohong?

“Ah,” ucap Sujie paham. “Kalau begitu, ayo masuk ke dalam. Di sini dingin.”

Jieun pun segera mendekap tubuhnya sendiri dan berjalan di depan untuk masuk ke rumahnya. “Kau sudah bertemu adiknya?” tanya Jieun sembari membuka pintu rumah. “Kau bilang Minho Sunbae akan membawamu ke rumahnya, bukan?”

Bisa dilihat kalau wajah Sujie berubah menjadi berseri-seri begitu mengingat saat Minho mengajaknya ke rumah dan menemui adiknya. Sayangnya, ibunya sedang tidak ada di rumah. Jadi, ia hanya bisa berkenalan dengan adiknya.

“Namanya Soo Jung. Kuakui dia cantik sekali dan di foto ia tak terlalu jauh berbeda, tapi sikapnya cukup dingin,” ucap Sujie semangat. “Tapi, aku sama tak melihat keakraban mereka berdua. Padahal kulihat di foto, mereka akrab sekali,”

“Begitu?” ucap Jieun pura-pura tertarik. Sebenarnya pikirannya sedang terbang entah kemana. Perkataan Sujie pun hanya masuk ke telinganya hanya beberapa kalimat.

Melihat Jieun yang hanya menatapnya tanpa menunjukkan ketertarikan, Sujie mendengus pelan kemudian mengganti topik pembicaraan. “Jieun-ah, sebenarnya aku ingin mengajakku ke rumah Jinri. Menjenguknya. Sampai sekarang dia belum menjawab telfonku. Aku takut ia sakit parah,”

Barulah Jieun menegakkan badannya. “Dia baik-baik saja. Saat ini dia sedang bersama Minwoo di rumah sepupu Jinri. Minwoo menelfonku kemarin,”

“Jieun-ah,” panggil Sujie sembari mencondongkan tubuhnya mendekat pada Jieun ketika mereka saling diam beberapa menit.

Dengan bodohnya, Jieun ikut mencondongkan tubuhnya ke depan sembari mengangkat dagunya, memberi tanda bertanya ‘apa’ pada Sujie.

Sujie tersenyum misterius sebelum berkata lagi, membuat Jieun semakin mencondongkan tubuhnya. “Kurasa… mereka sedang bermesraan sekarang,”

Setelah mendengarnya, Jieun kembali mendongakkan badannya dan melempar Sujie dengan bantal sofa yang tergeletak di sampingnya.

Ya, wae?!” protes Sujie karena mendapat lemparan bantal oleh Jieun. “Kau cemburu, ya?”

Jieun menatap sinis pada Sujie. “Kau bodoh atau apa? Mana mungkin mereka bermesraan sedangkan sepupunya ada di sana?” tanya Jieun sakartis. “Tapi, ya… kuharap hubungan mereka maju beberapa langkah. Aku benar-benar merasa tak enak pada Minwoo ataupun Jinri,”

“Aku mengerti. Aku harap juga begitu,” sahut Sujie simpatik. “Tapi, bagaimana kalau sekarang kita bahas tentang hubunganmu dengan Taemin Sunbae?”

Jieun hanya terdiam, tak mampu untuk menjawab apapun. Ia tak mau berbohong lagi, tapi… Sujie pasti marah kalau ia mengatakan yang sebenarnya. Tunggu sampai semuanya jelas—tentang alasan Taemin ingin Minho dan Sujie mengakhiri hubungannya—dulu, baru ia akan menjelaskan semuanya pada Sujie.

“Oh, ada Sujie di sini,”

Ia selamat. Karena sebelum Sujie hendak membuka mulut ingin mendesaknya menjawab, Donghae terlihat masih memakai pakaian tidurnya tengah menuruni tangga.

Annyeong, Donghae Oppa,” balas Sujie ramah.

Diam-diam Jieun menghela nafas sebelum ia bangkit berdiri. “Kau sudah sarapan?” tanyanya pada Sujie. Sujie hanya menggeleng pelan. “Ayo sarapan bersama,”

¯

Satu hari berlalu setelah hujan. Kwangmin berjalan melewati koridor gelap sekolahnya karena ia terlalu pagi datang ke sekolah. Entahlah, tapi ia tak ingin berlama-lama di rumah. Adiknya, Gyuwon, selalu saja memaksanya menyatakan perasaannya pada Jieun. Anak itu sangat menyukai Jieun, bahkan saat pertama melihat wajah Jieun di ponsel Kwangmin.

Karena ia tahu kelasnya masih di kunci pada jam sepagi ini, akhirnya ia memutuskan untuk melangkah ke atap gedung sekolah bagian selatan di lantai tiga. Ia sering kemari jika suasana hatinya sedang tidak baik.

Begitu ia menyandarkan perutnya pada pemisah besi yang dingin dan melihat ke arah taman belakang sekolah, ia melihat dua orang yang kelihatannya sedang bersiteru.

Rambut yang sedikit kemerahan itu terlihat jelas di mata Kwangmin walaupun taman tersebut hanya di sinari beberapa lampu taman yang hampir redup dimakan usia. Lee Taemin.

Ia pun segera berbalik dan berlari. Sembari berlari, ia mengeluarkan ponsel dari saku celananya dan mencari kontak nama seseorang. Ia butuh teman-temannya sekarang untuk menghentikan Taemin.

Yobose—” belum sempat orang yang di telfon Kwangmin memberi salam, Kwangmin menyelanya dengan cepat tanpa menghentikan atau mengurangi larinya.

“Jonghyun-ah, cepat datang ke sekolah. Suruh yang lainnya juga datang. Cepat!”

TBC

Halooo, disini chap 10~ maaf ya lama nunggunya. Tapi ada yang nungguin kan?._. hohoho oke ini gak aku protect kok^^ lanjutannya bakal aku post tergantung respon kalian^^

54 thoughts on “[Chapter 10] Teenager Love Story

    • okee:D hem, siapa lagi kalo bukan dia? hehe
      karena kebanyakan drama korea jarang ada pihak antagonisnya, jadi enggak^^
      makasih udah baca+komen yaaa:D

  1. yeee.. Akhirnya di post . Lah.. Keenakan baca nih sampek sampek gak nyadar kalo udh TBC.. Cingu next-nya segera di post yah yah yah? ^^
    ”wah itu jieun deg”an dicium kwangmin, jadi bingung ntar jadinya jieuntaemin/jieunkwangmin yak” hehee
    Saya mohon dengan sangat cepatlah dipost part 11-nya . #cerewet
    Gomawo.. :*

    • aku suka sibil tuh kalo lagi asik2 baca trus tbc, tapi itukan yg buat penasaran~ *ketawa jahat* oke, kalo udah selesai aku post kok^^
      untung dicium pipinya, gak disitu tuh (taulah maksudnya haha). aku juga bingung mau pasangin sama siapa, tapi yaaa *sensor* *rahasia*
      okeee doain cepet selesai aja yaa^^

  2. aku mau nambah coment nih ada yg kelupaan ^^

    ‘Hmm.. Akhirnya hubungan jinri & minwoo ada sedikit kemajuan . Dan aku makin penasaran ama hub taem-IU-kwang . itu kenapa lagi si taemin, waaah kwangmin langsung telp jonghyun, bener” bergerak cepat.’
    Nah buat author juga harus bergerak cepat nih buat lanjutin part ini. Hahaha #skak author.
    Hwaiting cingu ╮(^▽^)╭

    • monggo~
      iya dong, masa ngestuck disitu2 aja keke oke, banyak yg penasaran makin buat aku semangat lanjut, yeah~(?) dia… biasalah, kumat *ditimpuk sama taemin*
      *kepojok* *ngumpetin raja dari papan catur* (eh bukan) okeee, makasih semangatnya!! hwating!!

      • hahaha… Itu sih pasti aku doain biar cpt selesai & di post. oh iya aku doain juga smoga UB-nya nggak ada yg remidi . #amin ^^
        Aish.. yah berarti masih untung si taemin dong soalnya dapet cibinya IU, kwangmin cuma dpt cipi, tapi romantis sih bagian kwangmin. Hahaha
        Sumpah aku jadi bingung mau dukung yg mana, abis aku suka semua karakter-nya, aaaargh.. ”author, You make me confused” #mencakmencak
        Hwaiting for next part cingu . ^^

      • wahaha amiiin, tapi remednya pernomer jadi gakmungkin gaada yg di remedT_T yah kecuali 1 deng hihi~
        kan Taeminnya cuma mau buat jieun diem tapi kalo kwangmin kan…. rarw(?)
        aku juga chigu, semua cast disini bias akuuu *ngacak2 rambut*
        okeee, makasih yaaa^^

  3. .yeyeye lalala
    .akhirnya chap 10 dipost jga
    .IU jdi galau pilih yg mana *dipilih dipilih sayang anak* #nahloh plakk😀
    .akhirnya minwoo ama jinri
    .lanjutin thor🙂

  4. annyeong, akhirnya sampe chapter 10 hahahaaa, tetap semangat lanjutin ceritanya, thor😀
    oya, aku lupa awal mulanya ada kwangmin tu gmana –a
    so far, udah kayak drama beneran nih🙂

    • tetep semangat dong:D
      jagankan kamu, aku aja yg nulis lupa-_- *author pikun* *di buang kwangmin*
      haha malah niatnya mau aku jadiin 16 chapter loh, drama bgt kan? keke

      • muahahahaa asal jangan dilempar taemin aja ;p
        nanti ending-nya IU sama Taemin dong ya :DD
        fighting, thor!! ^^

      • kalo dikasih taemin mau gak chigu? #eeeh? andwae andwae>.<
        aku udah pikirin endingnya kok^^ jadi tunggu aja yaa. dan… itu gak akan aku bocorin *ketawa jahat* muahaha
        makasih chigu^^

  5. aaaa sampai chapter 10, cepet banget ya?
    ceritain dong suji sama minho, jangan jieun terus😀
    sampai chapter 16 gak ini? kalo iya, kaya drama jadinya haha

    ditunggu chapter 11 yaa

    • aku publishnya kecepetan atau cepet udah sampe chap 10?._. *gak mudeng*
      nanti aku ceritain kok^^ tenang aja~ tunggu yaa
      hem… tergantung sih, tapi emang niatnya begitu chigu biar jadi kayak drama:D
      okee, tunggu chap 11nya yaa^^

  6. ada apaa dengan taeminn??
    assikk part kwangmin di sini banyak huehehe
    ayo, jinri jgn menyerah!

    selalu, FF eonni tuh gk bikin bosen hehe
    Fighting eonni nulisnya ҉~(^.^҉)(҉^.^)~҉

  7. akhirnyaa dipost!!taemin mencari masalah lagi._. aku suka banget part ini,cuma taemin-nya dikit banget hehehe😀 lanjut terus ya author yg baik sekali!! #agakmerayu
    FF ini super DAEBAK🙂

    • tenang chigu, taemin pasti nanti dapet giliran paling banyak kok~ keke
      pasti aku lanjut kok chigu yang baik sekali *balik merayu*
      jinjja? uwa~ jeongmal gomapta *bow90*^^

  8. hahahah iya yah baru inget, si taem kan cuma sebel ama jieun yg cerewetnya kagak ketulungan,makanya *tiiiit* #sensor
    Kalo si kwang pake hati tuh. Hahahaha
    Okelah, gimanapun alurnya bakal aku pantengin dah ini WP . ^^

    • hahaha… Lagi hobi nyensor nih cingu.. Hah -,-” #plak&abaikan . nee.. Pasti aku pantengin tiap hari, tapi boleh kasi bocoran nggak kapan di post next partnya? Hehehe #nyengirkuda (^,^”)9

      • aku mau kasih bocoran, tapi ceritanya belom selesai jadi gatau kapan mau dipublish-_- akhir bulan udah ujian kenaikan kelas+penjurusan nih, jadi rada sibuk gituT_T blm lagi ngurusin pagelaran seni-_- *curhat dikit~* aku usahain secepatnya kok^^ tapi mungkin gabisa minggu ini chigu:( miaaan

    • jinja? >,< #mataberkacakaca..
      Yaudah deh cingu trima apa adanya aja . Mau d publish kapanpun. Huhuhu
      Oh iya semangat yah buat UAS-nya . Keep fighting & Good Luck ^^

      • iya huhu gurunya curang ujiannya jadi dimajuinT_T okeee, kalo mau, pantengin twitter aku aja biar lebih gampang. disana ada pemberitahuannya kok kalo udah di post. makasih semangatnya chiguuuu:D

  9. hahahah iya yah baru inget, si taem kan cuma sebel ama jieun yg cerewetnya kagak ketulungan,makanya *tiiiit* #sensor
    Kalo si kwang pake hati tuh. Hahahaha
    Okelah, gimanapun alurnya bakal aku pantengin dah ini WP . ^^
    Yo ayo.. Ayo author, kuingin ini FF cpt lanjut hahahaha

  10. Kok aku merasa kali ini lebih pendek ya? Haha #plak
    udah kebawa suasana eh tiba-tiba ada TBC menghiasi. Kkk
    kasian si Taem, muncul d bagian akhir.
    Ayo ayo, siapa yg berantem sama Taem? Pasti Minho deh. Pasti! *sok tau*

    • pendekan ya? hehe part 11 aku buat panjangan kok^^
      kan malah bikin penasaran chigu~ *ketawa*
      hem… kalo itu pasti ketauan tapi kan cerita berantemnya gak ketauan~ hehe
      makasih udah baca+komen yaaa^^

  11. eonni, pendek bgt sih cerita.a ? lg asik nih baca.a hehehe #nyegir kyak kuda. Lanjut dong, penasaran nih, d.tunggu bgt loh eonni. gomawo

  12. Wah chingu mianhe baru komen skrg🙂
    cerita.a tambah seru!!
    Daebak chingu, chingu aku penasaran ntr ji eun sama siapa? Habis taemin.a keliatan cuek dan lbh perhatian kwangmin.a #maaf komen.a panjang habis reader histeris sendiri#

    • gapapa kok:D
      kalo pair-pairnya baru ketauan satu kan? hihi yg lainnya still secret yaaxD gapapa kok chigu~ aku lebih suka liat komenan panjang dan histeris haha kalo begitu kan berarti aku sukses menghibur chigu^^

  13. Kayak.a hub jinri ama minwoo dah pesat nie…
    Aduh itow Taemin ngapain lagi seh…
    Berantem atw apa’an ya…
    Penasaran thor…

    • Endingnya udah mampir ke note aku kok^^ tinggal lanjutin aja, blm sempet lanjutin nihT_T gak koook, taeminnya gak jahat dia hanya semacem selfish gitu. okee, aku lanjut yaa^^

  14. Thor..
    Aq comment lge ya « (*) »‎​​​​”̮♡hϱ♡hϱ♡hϱ♡”̮« (*) » jg….
    Lanjutan nya d protect lgi yaa..
    Huahuahua…
    Minta donk password nya..
    Klu author berkemurahan hati#plakk utk memberikan kpd q password nya kirim k e-mail q ya..e-mail nya misspurple03@gmail.com

  15. FFNYA SERU DAEBAAKK😄
    Sori kl aku komennya pendek chingu u,u aku gk tau mau blg apa selain DAEBAK😄 kkk -..-

  16. mian y chingu lgsg baca dr part ini..abis aku penasaran..hehehe..
    Aku kira minho-suzy bakal putus..g twny g..tp kwangmin ternyata serius sama jieun..aku kira cuma sementara aja..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s