Never Ending [Chapter 2]


  • Tittle : Never Ending
  • Author: Enny Hutami
  • Lenght : Chaptered
  • Genre : Romance
  • Rating : General
  • Cast :
  1. Jo Kwangmin
  2. Yang Jiwon
  • Note : Di chapter dua, semua sudut pandang dari sudut pandang Jo Kwangmin.

NO BASHING, PLAGIATOR AND SIDERS!

~ooOoo~


Masa bodo dengan warna rambut Youngmin Hyung sekarang dan Direktur yang tidak membolehkanku mengubah rambutku sama seperti Kakakku. Harusnya aku tahu kalau warna rambutku di ubah seperti milik Youngmin Hyung, itu tidak ada bedanya. Kenapa mengubah warna rambut kalau kedua warnanya sama? Toh tujuan Direktur mengubah warna rambut Youngmin Hyung agar member Boyfriend, Manager Hyung, para staff dan para penggemar bisa membedakan kami dengan mudah.

    Tapi kenapa aku merasa tidak terlalu suka ya dengan cara ini? Jujur saja aku ingin semua orang bisa membedakan kami tanpa mengubah warna rambut salah satu dari kami.

    “Daritadi gadis itu memperhatikanmu,”

    Aku menoleh mengikuti arah pandang Youngmin Hyung yang melihat lurus kedepan. Melihat seorang gadis duduk di kursi di dekat konter pustakawati. Aku mengerutkan kening. Gadis itu sedang bicara dengan teman di depannya, bukan sedang melihatku.

    “Tadi, ya. Sekarang sudah tidak lagi.” lanjutnya kemudian sibuk kembali mencari buku di rak. Kurasa dia baru saja melihat ekspresi bingung diwajahku.

    Kemudian suara derit kursi di geser terdengar oleh telingaku. Aku menoleh dan mendapati gadis tadi, tengah berdiri sedangkan temannya tetap duduk di kursinya. Wajah gadis itu—kebetulan di tidak membelakangiku—bersemu merah. Membuatku membeku ketika melihatnya.

    Aneh. Aku merasa sekujur tubuhku hangat namun hanya wajahku yang membeku. Benar-benar terpaku pada wajahnya.

¯

Ternyata aku ketahuan tengah melihat diam-diam ke arah gadis itu yang baru kuketahui bernama Yang Jiwon. Yah… mata Youngmin Hyung benar-benar tajam.

    “Ya! Dia model. Aku pernah lihat wajahnya di majalah.” Seru Minwoo semangat ketika aku bertanya padanya. Kali ini hanya ada aku dan Minwoo. Aku tidak mau Youngmin Hyung tahu. Entahlah, tapi aku memang tak ingin dia tahu. Tapi, aku sangsi dia tidak akan tahu. Semacam batin, ingat? Kami terlahir kembar.

    “Kau menyukainya?” tanya Minwoo dan membuatku terperanjat. Memangnya kentara sekali ya kalau aku menyukainya? “Kalau begitu dekati saja dia. Bagaimana?”

    Aku menghela nafas dengan berat. Ingin sekali rasanya dekat dengannya, tapi aku harus menyiapkan debut grupku dengan sematang-matangnya. Aku sudah lama memimpikan ini.

    “Ah, aku mengerti,” ucap Minwoo prihatin. Dia tahu. Sekarang aku memang harus fokus dalam debutku bulan depan. Lagi-lagi aku hanya menghela nafas dan merosotkan tubuhku di sofa.

“Tapi, apa salahnya berkenalan dengannya?”

Minwoo ada benarnya.

¯

Tak terasa sudah satu bulan aku dekat dengannya. Yang Jiwon. Gadis itu sangat menarik. Terlalu mempesonakan. Setiap member lain—lebih sering Minwoo dan Donghyun Hyung—menyuruhnya melihat kami latihan, dia selalu datang membawa makanan ringan. Dia sangat baik. Sepertinya aku mulai menyukainya.

    Dan, tak terasa pula kalau hari ini aku akan debut. Hh. Aku khawatir kalau aku akan membuat kesalahan. Aku harap itu tidak terjadi.

    “Kwangmin, Jiwon akan datang?”

    Aku menoleh dan mendapati Donghyun Hyung tengah menatapku. Aku hanya mengendikkan bahu tanda tak tahu. “Dia bilang akan datang setelah syutingnya selesai,”

    “Wah, belakangan ini dia sibuk, ya?” katanya lagi.

    Aku mengangguk. Ya, beberapa hari yang lalu dia menandatangani kontrak untuk memerankan salah satu tokoh di film. Untung saja film dan bukan drama. Mungkin kalau dia mendapat peran di drama, kesibukannya akan lebih dari satu bulan.

    Aku bergidik. Sama sekali tidak bisa membayangkannya.

    Donghyun Hyung tertawa melihatku bergidik tadi. Pasti dia memikirkan yang macam-macam. Sambil tertawa, ia merangkul pundakku. “Baiklah, baiklah. Sekarang ayo bersiap. Sebentar lagi giliran kita.” Katanya dan membuat jantungku berdegup tak karuan.

    “Hyung, aku gugup.” Ucapku.

    “Bukan hanya kau saja yang gugup, Kwangmin. Aku juga gugup sepertimu,” aku menoleh dan melihat Jeongmin Hyung melangkah di belakangku.

    “Aku juga,” timpal Minwoo dan Hyunseong Hyung. Ternyata bukan hanya aku yang gugup, mereka juga. Bahkan, Youngmin Hyung yang biasanya santai, kini ia bolak-balik kamar mandi untuk membasuh tangan—kebiasaannya ketika gugup.

    “Ayo, sekarang giliran kalian tampil,” seorang laki-laki—entah itu siapa—masuk ke dalam ruang rias grupku dan membuat kami semua yang ada di dalam terlonjak berdiri.

    Sekarang aku merasa lebih gugup di bandingkan saat syuting musik video saat aku terpeleset ketika menari di atas air. Tiba-tiba kakiku merasa lemas begitu aku sudah berada di atas panggung.

    Tapi, begitu mendengar teriakan para penggemar yang mengelu-elukan nama grupku dan melihat sosok Jiwon yang duduk di tengah lautan orang yang menonton, kurasakan semangatku kembali. Kulihat Jiwon melambaikan tangannya sembari menatapku dan tersenyum. Aku balas tersenyum padanya dan memulai mementaskan lagu kami. Boyfriend.

¯

Selesai! Debutku baru saja selesai. Mulai ke depannya, aku dan grupku pasti sibuk sekali. Hh. Aku merasa seperti melayang begitu turun dari panggung. Seperti semua beban di pundakku terangkat tanpa sisa.

    “Kalian sudah kerja keras,” ucap beberapa kru begitu kami turun dari panggung. Ketika masuk ke dalam ruang rias, Manager Hyung memberikan kembali ponsel kami yang sempat ia pegang agar kami fokus latihan untuk debut kami.

    “Chukkae!” ucap Jiwon begitu masuk ke dalam ruang rias grupku sembari mengulurkan tangannya yang menggenggam sebuket bunga beraneka ragam. Di belakangnya ada Managernya yang selalu mengantarnya kemana saja—bahkan tak jarang Managernya melihat kami latihan dulu kalau Jiwon datang.

    “Jiwon-ah, kau hanya memberi itu untuk Kwangmin?” goda Jeongmin Hyung dan membuat Jiwon menunduk malu, namun tangannya tetap terulur.

    “Ya, dia beli ini untukku,” kataku kemudian
cepat-cepat mengambil sebuket bunga di tangannya. Mungkin terlalu cepat sampai-sampai semua yang melihat tertawa. Aish, pasti ekpresiku benar-benar memalukan. “Terima kasih.” Ucapku pada Jiwon dan mencoba mengalihkan pikiranku.

    Dia mendongak kemudian tersenyum. “Sama-sama,” sahutnya kemudian Managernya menyuruhnya keluar ruangan. Dengan patuh ia menuruti Managernya.

    Beberapa menit setelah Jiwon keluar, Manager Hyung menyuruh grupku bersiap-siap untuk pemotretan.

    Tiba-tiba aku merasa ponselku bergetar. Kurogoh saku jaketku—aku sudah mengganti pakaianku—dan mengambil ponselku. Aku tersenyum melihat layar ponselku. Pesan singkat dari Yang Jiwon.

From    : Yang Jiwon

Nanti malam kau sibuk?? Aku tunggu di kedai kopi di Chungmuro, ya^^

Kalau tidak sibuk tapi tidak datang, aku marah padamu, loh‼

Aku terkekeh melihat pesan singkat darinya. Benar-benar gadis yang lucu.

To    :Yang Jiwon

Untuk apa? Aku lelaaaah sekali hari ini. Kau mengganggu saja, tahu‼

Beberapa menit aku membalas pesan seperti itu, ia tak kunjung membalas pesanku. Bahkan, sampai mobil yang di kendarai Manager Hyung hampir sampai di tujuan, aku tak kunjung mendapatkan balasannya. Dia marah?

To    : Yang Jiwon

Hei, kau marah? Maaf, aku hanya bercanda. Baiklah nanti malam aku akan datang, oke. Jadi jangan marah ya? Kau jelek kalau marah begitu

Kali ini hanya selang beberapa menit dia membalas setelah aku mengirimkannya pesan lagi. Aku mendecak namun sambil tertawa. Gadis ini benar-benar… kalau bertemu nanti, aku ingin sekali mencubit pipinya.

Ya, Kwangmin, dari tadi kau senyum-senyum sendiri. Jiwon, huh?” aku menoleh begitu mendengar suara Minwoo di belakangku.

“Aduh, irinya lihat Kwangmin bersama Jiwon,” kali ini Hyunseong Hyung ikut menggodaku. Baiklah, aku tidak tahan. Mereka benar-benar membuatku salah tingkah.

¯

Malam ini aku mendapat izin keluar oleh Manager Hyung, untung saja dia mengerti dan untung saja pesta perayaan debut grup kami dirayakan setelah pulang dari pemotretan. Jadi, malam ini aku bisa keluar menemui Jiwon.

Kali ini aku mensyukuri kalau rambut Youngmin Hyung yang di warnai, bukan rambutku. Karena mungkin saja kalau rambutku yang di warnai seperti dia, itu bisa menyulitkanku untuk keluar asrama. Kali ini aku harus menyamar agar tidak ada yang mengenaliku, jadilah aku mengenakan topi berwarna senada dengan pakaianku dan kacamata baca berframe hitam.

“Di sini!” aku mendengar suara Jiwon begitu aku membuka pintu kaca.

Dengan mudah Jiwon mengenaliku. Apa yang lainnya tahu kalau aku ini Jo Kwangmin?

Pikiran penyamaranku tidak berhasil hanya sebentar saja singgah karena mataku terpaku melihat Jiwon duduk di dengan manis di kursi paling pojok ruangan. Dia sama sekali tidak mengenakan topi atau kacamata untuk menyamar. Dia hanya mengenakan dress sepanjang lutut berwarna coklat pudar tanpa motif. Sederhana namun terlihat manis di pakainya.

Sebelum menghampirinya, aku menelan ludah yang terasa mengganjal di tenggorokanku. Kenapa jantungku berdegup tak karuan begini ya begitu melihatnya?

“Sebenarnya ada apa menyuruhku kema—”

Chukkae atas debutmu!” ia menyela pertanyaanku sembari menaruh kue berukuran sedang di atas meja. Ia menyembunyikan kue di kursi di sebelahnya. Aku menatapnya heran. Dia memberiku kue?

“Seharusnya kau merayakan ini bersama grupmu, tapi aku ingin memberi kejutan untukmu,” lanjutnya sembari tersenyum manis. “Aku mau malam ini kau mentraktirku.”

Aku mengerutkan kening. “Oh, kau menyuruhku kemari karena ingin aku mentraktirmu?” tanyaku.

Dia menggeleng namun senyumnya tak memudar sedikitpun, bahkan senyumnya semakin lebar. “Itu karena tadi kau membuatku marah.” Katanya kemudian mengerucutkan bibirnya.

Menggemaskan. Aku tak tahan untuk tidak mencubit pipinya.

Ya, Kwangmin-ah!” pekiknya dengan suara yang tak jelas ketika aku mencubit kedua pipinya dengan gemas. Mataku bertemu dengan matanya. Aduh, kenapa jantungku berdegup lagi?

“Ah, maaf,” kataku dan segera melepas cubitanku kemudian menggaruk tengkukku yang sama sekali tidak gatal. Kenapa aku jadi salah tingkah begini?

Kulihat ia juga salah tingkah sama sepertiku. Wajahnya merona merah sembari menunduk. Aku yakin ia tak ingin aku melihat wajahnya yang memerah.

“Yang Jiwon?”

Aku dan Jiwon sama-sama mendongak begitu mendengar seseorang memanggil Jiwon. Aku membalikkan badan—tanpa memutar kursi—dan melihat seorang laki-laki berdiri di hadapanku.

“Jae Jin Oppa,” mendengar Jiwon menyebut nama laki-laki di depanku, aku membalikkan badan dan menatap Jiwon dengan heran. Namun, pandangan mata Jiwon hanya menatap laki-laki bernama Jae Jin. Kakak laki-lakinya? Temannya? Atau…

Oppa sendirian?” tanya Jiwon pada laki-laki itu. Sama sekali tidak melihat ke arahku. Apa laki-laki ini mantan kekasihnya?

Aku kembali menoleh, menatap laki-laki bernama Jae Jin itu, ia juga tengah menatap Jiwon dengan senyum yang menghiasi wajahnya. “Tidak. Aku menunggu seseorang,” sahutnya lalu mengalihkan pandangannya padaku. “Kau pacarnya?” tanyanya padaku.

Aku sedikit tersentak begitu mendengar pertanyaannya. Pacar Jiwon katanya. “Bukan. Aku temannya.” Jawabku tanpa melayangkan pandangan heran pada Jae Jin.

Setelah mendengar jawabanku, bisa kutangkap ia melirik sekilas pada Jiwon yang sekarang tengah menundukkan wajahnya.

Menunggunya berkata lagi namun ia tak kunjung bicara, kini giliranku bertanya. “Kau siapanya?”

Dengan hati-hati, aku melirik ke arah Jiwon yang langsung mendongakkan wajahnya mendengar pertanyaanku. Terlihat jelas di wajahnya ia menghawatirkan sesuatu. Kemudian aku kembali menatap Jae Jin.

“Aku cinta pertama Yang Jiwon.”

Hatiku mencelos mendengarnya. Cinta pertama Jiwon? Benarkah? Kenapa aku merasa atmosfer canggung mulai mengerubungi kami?

¯

Setelah orang yang Jae Jin tunggu datang, aku dan Jiwon saling diam. Suasana begitu canggung sampai-sampai hanya terdengar suara orang lain mengobrol dengan teman atau kekasihnya.

Jiwon juga tak mengeluarkan suara. Ia hanya menunduk sembari memakan kue yang ia bawa untukku. Ia hanya menjawab singkat-singkat ketika aku bertanya. Matanya juga tak henti melirik ke arah Jae Jin dan kekasihnya. Asumsiku, dia cemburu. Kenapa kau harus cemburu sedangkan aku ada disini?! Ingin sekali aku melontarkan kata-kata itu pada Jiwon. Tapi, aku sadar aku bukan siapa-siapanya. Hanya teman—seperti yang aku katakan padanya ketika Jae Jin menayakan apakah aku pacar Jiwon atau bukan.

Bodoh. Harusnya aku jawab saja kalau aku memang pacar Jiwon, tapi aku takut kalau-kalau Jiwon marah terhadap pengakuanku.

Sebelum potongan kecil kue di hadapannya habis, ia segera mengajak pulang. Alasannya karena sudah terlalu larut, tapi aku yakin dia tak mau terlalu lama lagi melihat kemesraan yang di umbar oleh Jae Jin dan pacarnya.

Dan, sudah seminggu dari debutku, aktifitasku padat sekali. Bahkan aku belum sempat membalas pesan singkat darinya karena saat ada waktu, aku mencuri-curi untuk tidur.

“Ah, akhirnya hari ini bebas!” seru Jeongmin Hyung sembari merentangkan tangannya begitu keluar dari kamar. Aku melihatnya dari ujung rambut sampai ujung kaki, terheran-heran kenapa dia masih mengenakan piyama.

Hyung, hari ini kau tidak sekolah?” tanya Minwoo terlebih dahulu.

Aku dan yang lainnya—kecuali Jeongmin Hyung dan Donghyun Hyung sudah bersiap dengan seragam sekolah kami—namun dengan santainya Jeongmin Hyung menguap mendengar pertanyaan Minwoo.

“Libur.” Jawabnya singkat.

“Libur dalam rangka apa?” Hyunseong Hyung menyahuti jawaban Jeongmin Hyung dengan kekehan.

“Meliburkan diri,” ucapnya kemudian kembali masuk ke dalam kamar dan menutup pintunya. Aku dan Minwoo hanya berpandangan heran. Namun, tak ada tiga puluh detik berlalu, Jeongmin Hyung membuka pintu kamar. “Jangan beritahu Manager Hyung, ya?” pintanya dengan cengiran.

Setelah mendapat anggukan dariku dan yang lainnya, Jeongmin Hyung kembali masuk ke dalam kamar.

Ya, orang itu benar-benar,” cibir Youngmin Hyung ketika melangkah menuju mobil van yang sudah menunggu di depan apartemen asrama. “Oh ya, Kwangmin, bagaimana dengan Yang Jiwon?”

Aku mendelik kemudian menatap Youngmin Hyung dengan tatapan tak percaya. Sangat tidak biasa ia menanyakan tentang orang lain seperti Jiwon. Youngmin Hyung yang merasa aku lihat dengan tatapan tak percaya hanya mengendikkan dagu dengan tatapan bertanya, bermaksud untuk bertanya balik kenapa aku melihatnya seperti itu.

Aku menggeleng dan tiba-tiba seseorang merangkul pundakku. Aku menoleh dan mendapati Hyunseong Hyung menyelip di antara aku dan Youngmin Hyung sembari merangkulku dan Youngmin Hyung.

“Membuat gadis menunggu itu tidak baik,” katanya tanpa melepaskan rangkulannya. Kemudian ia melepaskan rangkulannya pada Youngmin Hyung dan terus merangkulku sembari melangkah. “Kau menyukainya, bukan? Jangan sampai ia berpaling pada orang lain,” Lanjutnya kemudian melepas rangkulannya padaku lalu menepuk pundakku pelan. “Good luck!”

Aku berhenti dan menatap pundak Hyunseong Hyung yang berlari kecil menghampiri Minwoo yang berjalan jauh di depan. Aku melirik Youngmin Hyung yang juga kebingungan di sampingku. Hyunseong Hyung bukanlah orang yang bisa berkata bijak seperti itu tentang… ehem, cinta. Mungkin kalau Donghyun Hyung yang mengatakannya, aku tidak akan kebingungan seperti ini.

Sesampainya di sekolah, aku melirik ke dalam kelas Jiwon melalui kaca yang mengarah ke dalam kelas Jiwon. Ketika tengah melihatnya, mataku dan mata Jiwon bertemu. Dengan cepat ia mengalihkan pandangan matanya. Dia masih marah?

Kemudian kulihat temannya—entah siapa namanya—setelah melihatku, ia mendorong Jiwon dengan bersemangat. Dengan malas akhirnya Jiwon berdiri dan melangkah keluar dari kelas, kemudian ia menghampiriku.

“Kau ada waktu?” tanyanya sembari menunduk. Bisa kutangkap keraguan dari gerakan tangan yang ia buat. “Aku… ada yang ingin aku katakan,” lanjutnya.

Aku mengangguk mengerti sembari melirik sekilas teman Jiwon yang tadi mendorongnya. Ketika aku mengikuti Jiwon yang berjalan lebih dulu, aku melihat beberapa orang melihat Jiwon dengan pandangan tak mengenakkan.

“Jadi?” aku memulai begitu tiga menit berada di tangga di gedung timur sekolah yang jarang di lewati murid-murid, namun ia tak kunjung membuka percakapan.

“Anu…” ucapnya membuka mulut. Dengan sabar aku menunggunya berbicara. “Boleh aku menayakan sesuatu?”

Aku menatapnya heran namun tetap mengangguk. Kenapa dia selalu membuat jantungku berdegup tak karuan seperti ini? selalu membuatku penasaran.

“Apa kau menyukaiku—maksudku, kau tahu bukan kalau aku menyukaimu?” aku mengerjapkan mata. Aku belum siap membahas ini dengannya. “Aku hanya ingin tahu…”

Apa yang harus kukatakan? Aku belum siap—belum sepenuhnya. Tapi aku juga tak ingin menyakitinya dengan menjawab tidak.

Akhirnya aku bertekat untuk bicara yang sejujurnya padanya. Bisa kulihat ia menatapku menunggu jawaban. Kuharap dia mengerti.

“Maaf…”

To Be Continue

A/n : Ah… sedih deh ada yang ngerequest ini tapi gak di komen. Entah kenapa aku jadi pengen nge protectin beberapa ff. Hem… siders, tau gak kenapa ff ini lama banget di buat? Soalnya gaada yang nyemangatin *nangis di pojokkan* mau aku gak lanjut tapi nanti aku jadi author gak bertanggung jawab lagi. ada yang mau aku begitu? Iih, amit-amit. Cuma tinggalin jejak kalian disini dan buatlah author bersemangat! Yeay (y) #gajelas *dilempar granat*

Ayo dong ayo ramein blog ini. begini, begini kan juga bisa nambah temen^^

Tadinya aku mau buat empat chapter buat ini, tapi ide dan gaada semangat, jadi aku Cuma buat 3 chapter. Tunggu Chap 4 yaa^^ aku buat lebiiiiih panjang kok. Makasih^^

11 thoughts on “Never Ending [Chapter 2]

  1. huuaaaaa eonnie, sumpah aku suka banget sama ff nya. jangan pantang menyerah ya eon, aku selalu jadi reader setia ko *amin
    sumpah aku suka banget sama ff nya. chap 3 nya lebih seru ya eonnie. semangat eonn!! ^^
    jangan di protect ya..😦 aku yakin banyak yang baca tapi ga sempet komen atau gatau caranya.😀 semangat eonnie. pyoong!!

    • kamu yg ditwttr yaaa? haha makasih yo mau jadi reader setia disini hehe
      oke! nanti aku buat yg seru, tapi lama gapapa kan biar feelnya dapet?
      soal protect… liat nanti aja ya saeng, kalo di protect udah tau caranya kan?
      nee, makasih ya saeng^^

  2. eoonnii! di lanjut yaa😦
    jangan gk di lanjut…

    heuum eonni, aku masih bingung nih jiwon di part ini udah suka sama kwang? hehe
    eonni klo di FF ini di protect juga aku minta passwordnya ya?

    lanjut eonni! yang semangat buatnya!! Hwaiting!~ ntar aku lempar kwangmin ke eonni biar semangat😀

    • kan ceritanya jiwon itu love at first sight gitu saeng (halah bahasanya) siip, pasti aku lanjut kok^^ aku juga penasaran sama endingnya gimana #lah? huahaha
      oke, makasih semangatnya saeng-ah~ wah mentang2 kwangmin kurus main lempar2 aja nih haha

  3. I’m back hehe
    wahh udh lama ga mampir ternyata ff nya makin keren😀
    semangat chingu buat ff nya baaguus bgt kok ^^

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s