[Chapter 7] Teenager Love Story



  • Tittle    : Teenager Love Story
  • Author    : Ennyhutami
  • Lenght    : Chaptered
  • Genre    : Romance
  • Rating    : General
  • Cast    :
  1. Lee Ji Eun
  2. Bae Sujie
  3. Choi Jinri
  4. Lee Taemin
  5. Jo Kwangmin
  6. No Minwoo
  7. Choi Minho
  8. And others
  • Note    : semua cast disini bener-bener aku rombak. Gaada protes tentang sifat-sifatnya atau umurnya yang aku ubah. Ini cuma fanfiction, jadi apa yang author bayangin yah begini. Maaf bangetbengetan kalo ngepublish ini lamaaaaaa banget. Cerita ini sempet berenti dijalan dan gatau mau diapain lagi. Jadi jeongmal jeongmal jeongmal mianhae *bow*

Plagiat and Sider Go Away!

~ooOoo~


 

TINGGALKAN CHOI MINHO SEKARANG ATAU KAU AKAN MENYESAL

    Alis mata Sujie terangkat setelah membaca kalimat singkat di secarik kertas dengan tinta berwarna biru di laci mejanya. Kalimatnya memang singkat tapi seseorang yang mengirim tulisan ini pasti sedang mengancamnya.

    Sinting, umpatnya dalam hati. Sujie berasumsi pengirim surat ancaman ini adalah perempuan. Dan pengirim surat ini adalah penggemar Choi Minho.

    “Ada apa?” tiba-tiba suara Jinri terdengar.

    Sujie terkesiap lalu mendongakkan kepalanya. Dilihatnya Jinri memutar bangkunya hingga menghadap ke Sujie yang duduk dibelakangnya. “Ini,” kemudian Sujie menyerahkan secarik kertas yang ia temukan di laci mejanya kepada Jinri.

    Setelah membaca tulisan yang tertera di secarik kertas yang di berikan Sujie, mata Jinri membulat. “Siapa yang menulis ini?” tanyanya sembari mengembalikan secarik kertas tersebut.

    Sujie menggeleng. “Kalau aku tahu, aku tidak akan diam saja seperti ini,” jawabnya. “Kurasa penggemar Minho Oppa.”

    Jinri mendesah kemudian matanya mendapati Jieun yang menelungkupkan wajahnya di atas meja. Tidur? Tidak biasanya dia tertidur di kelas.

    “Jieun kenapa?” tanya Jinri heran dengan kening berkerut melihat Jieun.

    Mendengar pertanyaan Jinri mengenai Jieun, sontak Sujie menoleh ke belakang—tempat duduk Jieun. Kemudian membalikkan badannya kembali dan mengangkat bahunya. “Tidak tahu. Saat aku datang dia sudah tidur seperti itu.”

    Kemudian tubuh Jieun bergerak sedikit mendengar namanya disebut-sebut. Dia mengerang kemudian mendapati Sujie dan Jinri tengah memandangnya dengan tatapan aneh.

    “Wae?” Tanya Jieun heran.

    Keduanya—Sujie dan Jinri—menggelengkan kepala bersamaan. Kemudian mata Jieun mendapati secarik kertas dengan tinta berwarna biru di atas meja Sujie.

    “Apa itu?” Tanya Jieun lagi sembari menunjuk secarik kertas tersebut dengan jari telunjuknya.

    Sujie mengikuti arah jari telunjuk Jieun kemudian mengambil secarik kertas itu dan memberikannya pada Jieun agar dia membacanya. Mungkin saja Jieun tahu tulisan siapa itu.

    “Aku tidak tahu siapa yang menulis.” Jawab Jieun seakan tahu isi pikiran Sujie dan membuat Jinri terheran-heran. Seingat Jinri, Sujie belum bertanya atau mengatakan sesuatu.

    Melihat wajah Jinri yang terheran-heran seperti itu, Jieun menggaruk belakang lehernya yang tidak gatal sembari berkata lagi. “Tadi samar-samar aku mendengar pembicaraan kalian.”

    Jinri mengangguk mengerti kemudian membalikkan tubuhnya kedepan ketika suara sapaan Guru memasuki kelas. Perasaannya saja atau memang benar kalau sikap Jieun tadi aneh? Seperti ada yang di sembunyikan.

¯

 

Ya! Kau gila? Kenapa menarikku seperti itu, hah?” pekik Jieun sembari mengelus lengannya yang terasa sakit karena di tarik paksa oleh Taemin.

    Sebenarnya sedari tadi mendengarkan umpatan yang di lontarkan Jieun, tapi Taemin penasaran dengan reaksi Sujie ketika melihat surat yang di tulis Taemin. Dia ingin tahu apakah Sujie ketakutan kemudian mengikuti perintah yang tertera di kertas tersebut atau sama sekali tidak peduli.

    “Bagaimana reaksinya?” Tanya Taemin kemudian.

    Jieun berhenti mengomel dan menggerutu. Gerakan tangan kirinya yang mengusap pergelangan tangan kanan yang tadi ditarik oleh Taemin juga berhenti. Dia menatap Taemin heran. “Reaksi apa?” Tanya Jieun polos.

    Melihat raut wajah pongah Jieun, Taemin hanya bisa menghela nafas dengan kasar dan meniupkan rambut cokelat kemerahannya yang menutupi kening tanpa memperjelas pertanyaan Jieun. Biar saja gadis itu mengingat-ingat kembali. Sekilas Taemin bertanya-tanya apakah dengan menggunakan Jieun untuk memisahkan Sujie dan Minho akan berhasil melihat sikap pongah Jieun.

    “Oh,” ucap Jieun masam begitu menyadari apa maksud Taemin. Sejak kemarin sebenarnya Jieun tidak bisa mengalihkan pikirannya dari rencana licik—begitu Jieun mengatakannya—Taemin yang ingin memisahkan Sujie dan Minho. Bahkan sampai saat ini Jieun tidak tahu alasan Taemin karena ia tak pernah menjawabnya dengan jelas. Alasannya selalu berubah-ubah setiap Jieun bertanya. Jadi, Jieun berasumsi sendiri. Pertama, Taemin menyukai Sujie dan Taemin orang yang egois—harus memiliki apa yang dia mau tanpa memperdulikan perasaan orang lain. Kedua, Taemin memang benar-benar membenci Minho dan ingin membuat Minho menderita dengan memisahkan Minho dengan Sujie. Dari dua asumsi Jieun itu, bisa dipastikan kalau Taemin memang bukan orang baik-baik. Apalagi dia terkenal dengan ‘kejahatannya’ dalam mengerjai adik kelasnya atau orang lain.

    “Dia tidak peduli dan berpikir kalau yang menulis surat itu adalah penggemar Minho Sunbae.” Katanya sambil menatap mata Taemin dengan tatapan menantang. “Aku hampir gila takut ketahuan. Padahal baru rencana pertama, bukan?”

    Taemin memutar bola matanya dan berkacak pinggang sambil menyandarkan punggungnya pada tembok begitu mendengar jawaban Jieun dan ketika ia melihat tatapan menantang Jieun. Baru kali ini ada adik kelasnya yang berani menatapnya seperti itu.

    “Lebih baik sudahi saja,” kata Jieun lagi yang membuat Taemin menoleh. “Kalau memang menyukai Sujie, lebih baik bersaing secara sehat.” Lanjutnya kemudian menepuk pundak Taemin dan melangkah pergi.

    Taemin tetap pada posisinya menyandar pada tembok sambil melihat punggung Jieun yang tertutup rambut hitam panjangnya semakin menjauh. “Sudahi saja katanya?” Tanya Taemin sembari mendecak. Untung saja lorong sekolah di lantai tiga sepi dan jarang di lewati murid, guru atau petugas kebersihan. Kalau ada orang lain yang melihatnya berbicara sendiri pasti mereka menganggap Taemin sudah gila atau semacamnya. Dia sendiri saja sudah merasa gila dengan perasaannya sendiri bagitu memikirkan Sujie.

    Dengan kesal, Taemin menegakkan badannya kembali dan mengacak rambut belakang kepalanya dengan kesal kemudian beranjak ke kelasnya.

    Bukannya kembali ke kelas, langkah Taemin justru menuju ke ruang musik. Ruang kesukaannya. Biasanya kalau dia sedang ada pikiran seperti sekarang—entah itu urusan keluarga, pelajaran atau lainnya—dia lebih memilih duduk di depan piano yang terdapat di ruang musik sekolahnya. Tempat itu kedap suara sehingga suara bising orang-orang yang bercanda, tertawa atau marah-marah tak bisa di dengarnya. Begitu juga orang di luar ruang musik. Mereka tak akan bisa mendengar suara-suara yang di timbulkan alat musik yang di mainkan Taemin. Walaupun banyak alat musik di dalam ruangan ini, tapi ia lebih tertarik dengan nada yang dibuat oleh tuts piano. Lebih bisa menenangkannya.

    Suara derak khas pintu terbuka terdengar. Jari-jari Taemin yang tadi menari-nari di atas tuts piano terhenti karena tak ingin siapapun mendengar permainannya—kecuali beberapa orang.

    “Sedang banyak pikiran?”

    Tanpa perlu menolehpun Taemin tahu siapa orang yang baru saja masuk dan berbicara. “Tutup pintunya.” Ucap Taemin datar tanpa berniat menjawab pertanyaan Kwangmin yang berdiri di ambang pintu.

    Tanpa banyak protes, Kwangmin menutup pintu ruang musik dan menghampiri jendela dengan kaca besar-besar di samping piano yang tengah di mainkan kembali oleh Taemin.

Beberapa mereka saling diam. Taemin kembali memainkan piano sedangkan Kwangmin menatap keluar jendela ruang musik yang mengarah bangku-bangku berderet di samping gedung sekolah.

“Kau menyukainya?” Tiba-tiba Kwangmin bertanya.

Taemin mendengarnya namun alih-alih menjawab, dia tetap bergeming dengan tuts piano di depannya. Tapi, setelah Kwangmin menyebutkan nama Lee Jieun, jari-jari Taemin berhenti.

“Benar kau menyukai Jieun?” ulang Kwangmin masih dengan nada dinginnya seperti biasa.

Taemin mendelik pada Kwangmin. “Kenapa berpikir seperti itu?” Tanyanya balik. Dia tidak habis pikir kenapa Kwangmin menyatakan bahwa dirinya menyukai Jieun. Yah, walaupun Jieun terlihat cantik dan manis, gadis itu terlalu bawel dan polos. Dia tidak tertari dengan gadis seperti itu.

Kwangmin berbalik menghadap ke arah Taemin yang tengah memperhatikannya dengan pandangan bingung. “Belakangan ini aku melihatmu selalu bersamanya,” katanya kemudian melangkah mendekati pintu dan memunggungi Taemin yang sudah mengerti kenapa Kwangmin menganggap Taemin menyukai Jieun.

Sebelum membuka pintu, Kwangmin berhenti dan berbalik. “Tapi baguslah kau tidak menyukainya,” ucapnya sembari menganggukkan kepala sedangkan Taemin mendecak namun tertawa. Pemikiran gila kalau dia menyangka Taemin menyukai Jieun.

Tawa Taemin terhenti dan menatap Kwangmin dengan tak percaya begitu Kwangmin melanjutkan, “karena aku menyukainya.” Kemudian Kwangmin keluar dari ruang musik.

¯

 

Jieun memasukkan bukunya yang berserakan di atas mejanya dengan semangat. Bel yang menandakan pelajaran hari ini telah usai sudah terdengar. Rumah. Hanya itu yang dia inginkan sekarang. Tidur dan bermalas-malasan di atas ranjangnya tanpa ada yang mengganggunya.

    “Oh ya, Jieun, kemarin aku melihatmu sedang bersama Taemin Sunbae.”

    Tangan Jieun berhenti dari kegiatannya. Ah, apa rencana jahat Taemin yang menyuruh Jieun ini dan itu akan selesai sampai disini? Bagaimana reaksi Sujie kalau memang dia sudah tahu? Persahabatannya pasati hancur.

Ne?” ucap Jieun berusaha menutupi ke gugupannya. Sekarang dia lebih gugup daripada menaruh kertas ancaman itu di laci meja Sujie tadi pagi.

“Kau pergi berdua dengan Taemin Sunbae?” kini Jinri menimpali dengan menekankan kata berdua begitu mendengar pertanyaan Sujie.

“Ah?” gumam Jieun bingung. Dia kira Sujie sudah tahu. Dengan sembunyi-sembunyi, Jieun menghela nafas lega. Mungkin persahabatannya sedang di uji melalui senior jahat seperti Taemin.

“Kau berkencan dengannya?” pertanyaan Sujie sukses membuat Jieun tercengang. Bagaimana dia harus menjawab?

N-ne,” jawab Jieun bohong dengan kikuk dan di sambut teriakkan heboh oleh Sujie dan Jinri yang mendengarnya.

Tidak masalah bukan kalau dia menjawab seperti itu? dia kehabisan akal—tidak. Bukan kehabisan akal. Jieun memang bukan orang yang pintar mengarang atau semacamnya.

Jinri berhenti bersikap heboh seperti tadi begitu melihat Minwoo di ambang pintu kelasnya.

Annyeong,” sapa Minwoo ramah seperti biasa begitu menghampiri Jieun, Sujie dan Jinri. Senyum kikuk Jieun lenyap begitu juga Jinri. Namun, Jinri mencoba untuk tersenyum dan membalas sapaan Minwoo.

“Oh, annyeong, Minwoo-ya,” balas Sujie ceria mencoba mencairkan suasana yang berubah canggung tiba-tiba. “Ada apa?” tanyanya.

Minwoo melirik sekilas pada Jieun yang membalas tersenyum dan Jinri yang pura-pura tak melihat karena mengambil sesuatu di dalam tasnya. Kemudian Minwoo menoleh pada Sujie. “Aku mencari Jinri,” katanya. “Jinri-ya, aku boleh pinjam buku catatanmu, kan?”

Diam-diam Jieun menghela nafas lega untuk kedua kalinya dalam waktu kurang dari satu jam.

Jinri mengangkat kepalanya dan mengulurkan tangannya yang menggenggam buku catatan yang baru saja di ambil dari dalam tasnya. “Ini,” katanya. “Maaf kalau tulisanku berantakan.”

Lagi-lagi Minwoo tersenyum ketika mengambil buku catatan Jinri dari genggaman tangan Jinri dan membuat pipi Jinri memanas. “Gwenchana,” ucapnya. “Terima kasih, ya. Besok kukembalikan.”

Sebelum berbalik, Minwoo menatap ragu Jieun. “Jieun-ah, tadi kudengar kemarin kau berkencan dengan Taemin Sunbae?” tanya Minwoo dan membuat Jieun gelagapan.

Jieun tahu bahwa Minwoo menyukainya. Dan Jieun tidak ingin Minwoo mengira dia menolak karena menyukai laki-laki lain. Karena kebenarannya, Jieun menolak karena Jinri juga menyukai Minwoo—bahkan sejak tahun pertama di sekolah. Jadi, Jieun tak berani membuat Jieun sakit hati walaupun dengan keputusannya sekarang telah melukai Minwoo.

Ne,” jawab Jieun dengan suara pelan namun Minwoo dapat mendengarnya.

Kentara sekali perubahan raut wajah Minwoo saat mendengar jawaban Jieun. Sekilas namun Jinri dapan melihat kekecewaan di mata Minwoo.

Chukkae,” kata Minwoo pelan—sama sekali tidak ada semangat. “Kalau begitu aku duluan. Annyeong.” Lanjutnya kemudian bergegas pergi.

Ketika keluar dari kelas tersebut, Minwoo berpas-pasan dengan Taemin yang menghampiri kelas yang baru saja di kunjunginya. Pasti menjemput Jieun, batinnya kesal. Tidak seperti biasa jika bertemu seniornya, kini Minwoo hanya menatap datar Taemin tanpa membungkuk sopan kemudian bergegas pergi.

Taemin tidak menyadari tatapan Minwoo tadi dan dia juga tidak tahu siapa Minwoo, jadi dia mengira itu hanya murid di kelas ini. Setelah di ambang pintu, Taemin memanggil Jieun. Seketika, Jinri dan Sujie menoleh pada Jieun dengan tatapan penuh maksud.

Jieun hanya menghela nafas kemudian berdiri menghampiri Taemin di ambang pintu dengan malas. “Ada apa?” tanya Jieun setelah keluar kelas menutup pintu kelas.

Taemin yang melihat Sujie dan Jinri yang mengintip dari balik jendela kemudian mengambil amplop coklat dari tasnya dan memberikannya pada Jieun dan menatapnya dengan pandangan bingung namun tetap menerima amplop tersebut.

Takut Sujie dan Jinri mendengar percakapannya dengan Jieun, Taemin mencondongkan badannya dan membuat Jieun mundur perlahan ketika wajah Taemin semakin mendekat. “Diam!” ucap Taemin dan membuat Jieun terdiam. “Aku beritahu kau nanti apa yang harus kau lakukan. Jangan buka amlopnya disini atau temanmu akan tahu nanti.” Kata Taemin tepat di samping telinga Jieun.

Sujie dan Jinri yang mengintip di balik jendela, menutup mulut mereka dan saling berpandangan penuh arti karena mengira Taemin baru saja mencium pipi Jieun. Sedangkan Jieun menahan nafasnya. Tiba-tiba pipinya memanas namun dia menutupi dengan menggembungkan pipinya.

“Kali ini harus berhasil, ya.” Kata Taemin setelah menenggakkan dan melangkah pergi meninggalkan Jieun yang masih mematung dan menggenggam amplop coklat yang diberikan Taemin.

Kenapa jantungnya berdetak tak karuan begini?

Begitu punggung Taemin semakin menjauh, Sujie dan Jinri menghambur mendekati Jieun yang sudah pulih dari ‘keterkejutannya’.

“Dia menciummu tadi!” teriak Sujie tak percaya dan langsung di bungkam oleh tangan Jieun.

“Pelan-pelan!” balas Jieun setengah berteriak lalu melepaskan tangannya dari mulut Sujie dan berjalan meninggalkan Sujie dan Jinri. Dia ingin cepat-cepat melihat isi amplop ini.

Tiba-tiba dari belakang Sujie dan Jinri merangkulnya. “Ceritakan kencanmu kemarin.” Tuntut Jinri.

Ya!” protes Jieun. Dia harus bilang apa sekarang? “Aku lelah. Pulang saja, yuk.” Katanya sambil melepas rangkulan Sujie dan Jinri kemudian jalan lebih dulu dengan buru-buru.

Didepan sekolah, Kwangmin menunggu Jieun keluar. Dia masih bertengger di motornya dan mengenakan helm ketika Jieun menuruni undakan tangga. “Lee Jieun!” panggil Kwangmin sambil melambaikan tangannya ketika melihat Jieun di apit oleh Sujie dan Jinri.

Dengan cepat, Jieun membebaskan diri dari Sujie dan Jinri kemudian menghampiri Kwangmin dengan setengah berlari. “Ada apa, Sunbae?” tanya Jieun.

Alih-alih menjawab, Kwangmin justru memberikan Jieun helm lainnya. “Aku antar pulang.” Ucap Kwangmin ketika melihat Jieun tak kunjung mengambil helm di tangannya.

“Ah,” gumam Jieun kemudian mengambil helm di tangan Kwangmin dan memakainya lalu naik di kursi belakang motor Kwangmin. “Aku pulang duluan, ya.” Ucap Jieun sambil melambaikan tangan pada Sujie dan Jinri yang masih berdiri tidak jauh dari motor Kwangmin.

Diperjalanan, Jieun terus menunjukkan arah rumahnya pada Kwangmin yang mengikuti arah yang di tunjukkan Jieun. Setelah sampai, Jieun tidak tahu cara membuka kunci yang di pasang di helm ini.

Wae?” tanya Kwangmin ketika Jieun terus mencob membuka helm.

Jieun tersenyum malu pada Kwangmin. “Aku tidak bisa membukanya.” Akunya.

Kwangmin terkekeh pelan kemudian mencoba membuka kaitan helm di kepala Jieun. Harusnya sekali membukannya bisa, tapi kenapa sekarang, saat Kwangmin mencoba melepaskan kaitannya, tidak mau membuka?

Kemudian Kwangmin menstandarkan motornya dan mendekatkan wajahnya ke wajah Jieun. Untuk orang yang melihat dari belakang Jieun atau belakang Kwangmin pasti mengira mereka sedang berciuman karena jarak mereka dekat sekali. Jieun hanya bisa menggigit bibirnya sambil melihat jari Kwangmin yang tengah mencoba melepaskan kaitan helm.

“Sudah lama sekali aku tidak pakai helm ini,” ucap Kwangmin begitu kaitannya terlepas. “Pantas saja kaitannya macet.”

Jieun hanya tersenyum kikuk kemudian melepas helm dan menyerahkan helm tersebut pada Kwangmin. “Terima kasih sudah mengantarku, Sunbae,” kata Jieun.

Kwangmin mengangguk kemudian menyalakan mesin motornya. “Tidak masalah,” ucapnya. “Aku pergi.”

“Hati-hati,” ucap Jieun sebelum Kwangmin melaju pergi dengan motornya kemudian masuk ke dalam rumahnya.

Seperti biasa, rumahnya sepi. Ayahnya sedang berbisnis di luar kota sedangkan Donghae, Kakaknya, masih ada kelas di kampus. Setelah membuka pintu rumah, dia duduk di sofa empuk di ruang tengah dan melempar tasnya ke lantai. Lalu ia merogoh saku seragamnya dan menatap amplop coklat itu dengan bingung.

Setelah melihat isi di dalamnya yang berupa beberapa foto, matanya membelalak dan mulutnya terbuka lebar. Foto ini… dari mana Taemin mendapatkan foto ini?

TBC

20 thoughts on “[Chapter 7] Teenager Love Story

  1. waaah.. Ternyata storynya udh d lanjut . Makin seru nih kwangmin beneran suka ama jieun ya? Omo.. Ama pairing kwangmin-jieun tapi aku juga suka taemin-jieun. Hahaha
    kira” ntar taemin suka ama jieun/tetep suka sama suzy yak? Cpt next yah cingu.. Penasaran juga ama foto yg diamplop. Hahaha…
    Daebak & Hwaiting cingu..🙂

    • ne, aku bela-belain buat ini dan gak belajar loh haha *author sesat* jangan ditiru ya. Iu kalo dipairing sama siapa aja cocok kok chigu hehe
      hem… liat nanti yaa
      makasih yaa^^

      • ne.. bener bgt cingu . IU emang cocok ama siapapun.. Hahaha
        Waaah beneran penasaran nih. Kalo bisa cpt next yah cingu.. Tapi jangan gak blajar juga . Ntar dimarahin mama loh. Hehehe
        Hwaiting ^^

      • jinja? Waaah kalo lagi libur, berarti bisa cepet lanjut dong FF-nya? Waaaah.. Senangnya hatiku .. Turun panas demamku.. #lah malah jadi iklan contrexin -.-”
        hahha

    • hahaha.. Iklan jadul tapi tetep aja inget. kali sudah update kasi tau yah cingu? FB.ku ( chacha Vip’s ) #numpang promo

  2. aigoo knp jd ribet y..taemin suka su jie tp tmn2 jieun ngira taemin-jieun pacaran..kwangmin yg suka jieun n minwoo yg patah hati..tp makin bagus,.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s