[Chapter 1] Never Ending



  • Tittle        : Never Ending
  • Author    : Ennyhutami
  • Lenght    : Chaptered
  • Genre        : Romance
  • Rating        : General
  • Cast        :
  1. Yang Jiwon
  2. Jo Kwangmin
  3. Park Sooyoung
  4. Boyfriend’s member
  • Disclaimer    : This plot is mine, Ennyhutami’s fanfiction 2012.
  • Note        : Karena banyak yang suka pairnya Kwangmin dan Jiwon dan ada yang request buat dibikin ff yang painya ini, jadi aku buat ff ini. Berhubung ideku cuma sejauh itu, aku buat cerita sebelum Kwangminnya jadi member Boyfriend alias masih trainee. Cerita ini masih ada sangkut pautnya sama I’ll Be There dan If I Stay tapi kalo gak baca dua ff itu gapapa kok. Ini bukan sequel ataupun lainnya cuma mau buat gimana ceritanya Jiwon sama Kwangmin ketemu. Selamat membaca~

Plagiator and Silent Readers go away!

~ooOoo~

CHAPTER 1

 

Tahu tidak kalau akhir dari kisah cinta tidak akan berakhir sampai kita mati?

    Seiring berjalannya kehidupan, perasaan manusia selalu berubah-ubah. Walaupun ada yang berpegang teguh pada pendiriannya pun, pasti suatu hari akan berubah. Itulah kenapa kehidupan tidak pernah dikatakan abadi. Semua pasti berubah dan tak ada yang akan selamanya tetap seperti itu.

    Yang Jiwon, murid kelas satu di Seoul Performing Art High School, tahu kalau hidup tidak akan ada akhirnya sampai dia meninggalkan dunia untuk selamanya. Karena tahu itu, dia memilih untuk mewujudkan mimpinya menjadi model di dunia hiburan Seoul untuk masa depannya dan tidak terlalu memusingkan urusan cinta yang di rasakan kebanyakan temannya.

    Pernah sekali dia merasakan jantungnya berdebar tak karuan ketika melihat teman sebayanya di sekolah menengah pertama. Tapi sayangnya laki-laki yang disukainya termasuk laki-laki brengsek walaupun saat itu umurnya masih empat belas tahun. Laki-laki itu tahu Jiwon menyukainya namun dengan sengaja laki-laki itu mengumbar kemesraan dengan gadis lain di depan mata Jiwon sendiri.

    Karena masih terlalu kecil untuk merasakan itu, Jiwon tak tahu harus berbuat apa dan akhirnya ia hanya uring-uringan dan justru merusak jadwal pemotretannya. Akhirnya dia tak mau memusingkan tentang perasaan seperti dulu dan mencoba fokus pada karirnya menjadi publik figur. Biar saja semuanya berjalan seperti biasa, toh tentang urusan seperti itu bisa dilakukan kalau dia sudah dewasa. Seperti itulah yang selalu ia katakan pada Sooyoung ketika temannya itu bertanya kenapa dia tak pernah melirik laki-laki disekolahnya. Padahal menurut Sooyoung, banyak sekali laki-laki yang menyukai Jiwon.

    “Annyeonghaseyeo,”

    Seketika Jiwon mengangkat wajahnya dari buku bacaan dan menoleh kesamping lalu mendapati dua orang laki-laki berdiri di depan meja pustakawati yang berjaga di perpustakaan sekolah. Sepertinya mereka kembar karena wajah mereka sangat mirip hanya saja warna rambut mereka berbeda. Yang satu hitam yang satunya pirang.

     “Kudengar ujian minggu depan semuanya praktek,” suara Sooyoung yang duduk di depan Jiwon membuat Jiwon menoleh pada Sooyoung.

    “Sooyoung-ah, kau tahu dia?” tanpa berniat sedikitpun membalas perkataan Sooyoung, Jiwon bertanya sembari mengalihkan pandangannya kembali pada dua lelaki kembar yang sekarang sedang memilah-milah buku di rak.

    Sooyoung menoleh pada Jiwon dengan heran. “Nugu?” tanyanya kemudian mengikutinya arah pandangan Jiwon. “Oh, mereka?”

    Sontak Jiwon menoleh pada Sooyoung dengan tatapan ingin tahu. “Mm, kau kenal mereka?”

    Sooyoung menggelengkan kepalanya. “Aku tidak mengenal mereka, tapi aku tahu siapa mereka.” Katanya lalu mengernyitkan dahi. “Kau benar-benar tidak tahu mereka?”

    Jiwon menggeleng tanpa beban dengan ekpresi polosnya. Sedangkan Sooyoung yang melihat tanggapan Jiwon hanya mendecak kesal. Temannya memang seorang bintang di dunia hiburan Korea tapi sedikit sekali bintang-bintang lainnya yang ia kenal. Hanya beberapa yang pernah bekerja sama dengannya.

    “Yang rambut hitam itu, kau tahu namanya?” tanya Jiwon lagi sembari menatap laki-laki kembar yang berambut hitam. Bibir laki-laki itu bergerak yang menandakan ia sedang bicara. Sesekali ia tertawa tertahan mengingat sekarang ia sedang berada di perpustakaan.

    Sooyoung tersenyum aneh melihat Jiwon yang terus saja memandangi laki-laki berambut hitam itu.

    “Kenapa melihatku seperti itu?” tanya Jiwon bingung. Dia tidak nyaman mendapati Sooyoung tengah tersenyum aneh padanya.

    Sooyoung menggeleng sambil terkekeh. “Namanya Kwangmin. Jo Kwangmin. Sedangkan yang pirang itu Jo Youngmin,” kata Sooyoung sembari menunjuk kedua laki-laki itu dengan dagunya. “Kau menyukainya?”

    Ada sesuatu yang aneh terasa di dada Jiwon. Ia bisa merasakannya jadi ia hanya menatap ujung pintu perpustakaan dengan pandangan kosong. Waktu melihat laki-laki berambut hitam itu, Jo Kwangmin, menahan tawanya seperti ada atmosfir tersendiri yang menyelebungi dirinya.

“Entahlah, aku tidak mengerti,” jawab Jiwon setelah beberapa detik terdiamtak tahu harus menjawab apa. Kemudian ia menopangkan dagunya pada tangannya yang bersimpuh dengan meja dan mencoba kembali fokus untuk membaca buku di hadapannya.

Tapi entah kenapa sepertinya Kwangmin mempunyai sisi kutub yang berlawan dengan milik Jiwon sehingga Jiwon terus saja ingin melihatnya. Seketika, mata mereka bertemu. Kwangmin hanya tersenyum sekilas sedangkan Jiwon tidak membalas senyum Kwangmin dan langsung mengalihkan pandangannya kearah lain.

Ini gila. Jiwon memang pernah mendengar cinta pada pandangan pertama. Tapi dia tidak pernah berpikir kalau dia akan merasakannya. Inikah yang dirasakan orang-orang? Tentang jatuh cinta pada pandangan pertama. Apalagi saat ia melihat mata Kwangmin. Walaupun sebenarnya ia tetap ingin melihat mata besar itu, tapi perasaan lainnya menyuruhnya untuk segera memalingkan tatapannya.

Tatapan mata Kwangmin terasa hangat ditambah dengan senyumnya. Matanya seakan menjadi pusat gaya gravitasi yang ada di bumi. Membuat Jiwon selalu ingin menatapnya.

ยฏ

 

Onni, pernah dengar jatuh cinta pada pandangan pertama?”

Jiwon segera memalingkan wajahnya yang mulai terasa memanas mendengar pertanyaan dari Sooyoung yang di tunjukan untuk Sora, manager Jiwon. Kebiasaan Jiwon dan Sooyoung ketika Jiwon tidak memiliki jadwal adalah bermain di apartemen Sora yang tidak lain di tempati Jiwon juga.

Sora hanya tersenyum tanpa mengalihkan pandangannya dari jalanan di depannya ketika mendengar pertanyaannya Sooyoung dan melihat reaksi Jiwon yang pipinya mulai merona. Sesekali ia menatap kedua gadis yang berada di mobilnya lewat spion mobil yang berada di dalam. “Tentu saja aku pernah mendengarnya,” sahutnya ramah. “Siapa yang begitu?” tanya Sora berniat untuk menggoda.

Tanpa ada yang menjawab pun sebenarnya Sora tahu siapa yang sedang jatuh cinta. Rupanya anak asuhnya, Jiwon, yang sedang jatuh cinta. Terlihat sekali dari wajahnya.

Ya! Terus saja menggodaku,” kata Jiwon merenggut namun wajahnya masih terlihat merona.

Onni, kau tahu si kembar Jo itu tidak?” Sora mengangguk menanggapi pertanyaan Sooyoung di kursi belakang. “Jiwon menyukai salah satu dari mereka.”

Jinjja?” tanya Sora tak percaya mendengarnya sedangkan wajah Jiwon semakin merah bak kepiting rebus. “Kudengar si kembar itu mau mau debut,”

“Debut apa? Bukankah mereka sudah debut sejak kecil?” tanya Sooyoung. Ternyata Sooyoung tahu banyak tentang si kembar Jo itu.

Jiwon kembali mengendalikan pipinya yang memerah dan ia sepertinya tertarik dengan obrolan tentang si kembar Jo.

“Aku tidak tahu ini benar atau tidak. Tapi gosipnya, agensi Starhip akan membuat boygrup dengan member si kembar Jo itu. Dan kalau tidak salah, mereka akan debut bulan depan,” jelas Sora sambil memutar stir kemudinya memasuki gedung apartemen.

Mata Sooyoung membulat. Jelas-jelas ia senang sekali mendengar kabar tersebut. Dasar. Kalau sudah mulai bergosip tentang seputar laki-laki muda yang tampan dan akan membentuk suatu grup, Sooyoung sangat bersemangat. “Ah, aku tidak sabar. Onni tahu siapa yang akan jadi anggotanya?”

Setelah memarkirkan mobilnya di basement, Sora mematikan mesin mobil dan mencabut kuncinya. “Kalian masuk duluan saja, aku mau beli ramyun dulu,” kata Sora.

Sooyoung mendengus karena pertanyaannya tidak di jawab sedangkan Jiwon terkekeh kemudian membuka pintu mobil.

Jiwon dan Sooyoung menaiki lift berdua menuju lantai dimana apartemennya berada. Sesekali Sooyoung masih menggoda Jiwon.

“Tapi akhirnya seorang Yang Jiwon mau membuka hatinya kembali,”

Jiwon mendelik mendengar perkataan Sooyoung yang mengungkit-ngungkit tentangnya lagi. “Sudahlah, jangan bahas itu lagi,” keluh Jiwon.

Lift berhenti saat berada di lantai enam. Ketika Jiwon mengangkat kepalanya, seorang laki-laki yang masih mengunakan seragam sekolahnya berdiri.

Mata mereka bertemu dan jantung Jiwon terasa berdetak tak karuan. Rasanya ingin cepat-cepat menutup pintu lift agar laki-laki yang berdiri di depannya tidak masuk ke dalam lift.

“Oh, Jiwon-ah, annyeong,” sapa laki-laki itu setelah masuk kedalam lift.

Annyeong,” Jiwon balas menyapa dengan sopan sebmari memaksakan seulas senyun kemudian kembali menunduk.

Sooyoung hanya menatap Jiwon dari samping dengan pandangan heran melihat sikap Jiwon yang berubah tiba-tiba.

“Sudah lama ya tidak bertemu. Sekitar dua tahun, ya?” kata laki-laki yang berdiri di samping Jiwon. Dengan tenangnya laki-laki itu berbicara sambil memasukkan tangannya ke dalam saku celananya sedangkan Jiwon berdiri dengan canggung karena bertemu orang yang pernah membuatnya uring-uringan.

“Oh ya, aku sudah lihat fotomu di majalah milik kakakku. Kau banyak berubah, ya? Semakin cantik.”

Mau tidak mau pipi Jiwon merona mendengar pujian dari laki-laki itu. Entah pujian itu tulus atau tidak. Jiwon juga tidak mau mengambil pusing. Laki-laki di sebelahnya tidak banyak berubah. Tetap tampan dan cerewet seperti dulu. Saat Jiwon masih menyukai laki-laki itu. Tapi laki-laki itu juga lah yang membuat Jiwon tidak mau merasakan rasanya jatuh cinta. Tapi toh, ia sedang merasakannya sekarang. Walaupun perasaannya sekarang dengan perasaan ketika jatuh cinta pada laki-laki di sampingnya itu sangat berbeda. Dia lebih suka merasakan rasa yang seperti dulu. Rasa berdebar-debar yang aneh tapi bisa membuatnya nyaman dan selalu merindukan debaran itu. Sedangkan sekarang, ia hanya merasa ada sesuatu yang menarik perhatiannya ketika melihat Kwangmin.

Dentingan lift tanda sampainya di lantai dua belas terdengar. Sooyoung keluar lebih dulu sedangkan Jiwon membungkuk sopan terlebih dulu pada laki-laki itu dan keluar.

“Aku duluan, Sunbae,” kata Jiwon kemudian melangkah keluar lift.

Sebelum lift tertutup, Jiwon bisa melihat laki-laki itu tersenyum lembut. Mata Jiwon memanas melihatnya. Kenapa laki-laki itu masih bisa tersenyum begitu lembut pada Jiwon setelah membuat hatinya berberkas membentuk lubang yang belum bisa tertutupi?

“Siapa dia?” tanya Sooyoung penasaran setelah mereka masuk ke dalam apartemen. Rupanya Sooyoung sedari tadi menahan lidahnya untuk bertanya.

Jiwon menghela nafas dan merebahkan dirinya di sofa empuk di tengah ruangan. “Kwon Jae Jin,” ucapnya menjawab pertanyaan Sooyoung. Lehernya terasa tercekat menyebut nama laki-laki itu.

“Yang itu?” tanya Sooyoung lagi dengan hati-hati. Dia memang tidak tahu rupa dari laki-laki bernama Kwon Jae Jin sebelumnya. Dia hanya mendengar namanya saja dari mulut Jiwon. Bahkan Sooyoung bersyukur waktu itu ketika Jiwon mulai membuka mulutnya untuk bercerita. Hal yang sangat jarang dilakukan Jiwon; menceritakan hal pribadi kepada orang lain.

Jiwon mengangguk lemas. Padahal sudah dua tahun dia mencoba melupakan dan mengubur memorinya bersama laki-laki itu. Tapi dengan seenaknya laki-laki itu muncul kembali dihadapannya. Membuat tanah yang sudah mulai mengubur benda di dalam hatinya kembali menguak.

Tidak lama Sora datang dengan plastik berisi ramyun. Tanpa sepengetahuan Jiwon, Sooyoung menceritakan pertemuan Jiwon dengan Jae Jin di lift tadi saat Jiwon sedang di dalam kamar mandi.

“Kalau begitu aku minta tolong padamu untuk mengalihkan perhatiannya,” kata Sora dengan memelankan suaranya agar tak terdengar oleh Jiwon di kamar mandi. “Aku yakin sekali besok dia akan sering diam. Kalau bisa kenalkan saja dia pada si kembar Jo itu.”

To Be Continue

5 thoughts on “[Chapter 1] Never Ending

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s