Beautiful Smile



  • Tittle    : Beautiful Smile
  • Author    : Ennyhutami
  • Lenght    : Oneshoot
  • Rating    : General
  • Genre    : Romance
  • Cast    :
  1. Lee Taemin
  2. Shin Hyora

 

Plagiat and siders go away!

©Ennyhutami 2012

~ooOoo~

 

Dia begitu manis. Bahkan bisa dibilang secara keseluruhan dia mendekati sempurna.

    Lekuk wajahnya sempurna dengan senyum yang selalu menghiasi wajahnya membuat matanya menekuk membuntuk bulan dan helai-helai rambut ikalnya yang selalu dibiarkan tergerai jatuh begitu saja di punggungnya.

    Beruntungnya laki-laki yang tengah bersamanya saat ini. Mengamit lengan gadis itu dengan mesra dan tertawa bersama. Bukan hanya dirinya yang iri melainkan hampir semua laki-laki di sekolah ini—baik junior maupun senior. Gadis itu begitu ramah pada siapapun dan tidak menyombongkan diri karena dirinya begitu populer.

    “Lee Taemin, sampai kapan kau akan melihat keluar?”

    Laki-laki bernama Taemin terkesiap begitu mendengar suara berat gurunya yang tengah mengajar pelajaran tambahan untuk kelasnya. Dengan cepat ia mengalihkan pandangannya dari taman sekolah yang terlihat dari kelasnya dan mendapati gurunya berdiri sekitar lima meter dari mejanya dengan pandangan mengerikan khas guru.

    “Oh, cheosonghamnida Songsaniem,” sesalnya kemudian kembali berkonsentrasi dengan pelajaran yang sedang di ajarkan gurunya.

¯

 

“Kau sudah di tingkat akhir, masih mau mengurusi klub tari?”

    Taemin terus saja memasukkan bukunya yang berantakan di atas meja ketika teman sebangkunya, Kang Minhyuk, bertanya padanya setelah guru yang mengajar pelajaran tambahan keluar.

    “Tentu,” sahut Taemin santai sembari memakai tas dipunggungnya. “Aku masih belum begitu percaya dengan ketua klub tari yang baru. Memangnya kau percaya begitu saja dengan ketua klub musik yang baru?”

    Minhyuk terdiam. Dia memang belum sepernuhnya percaya tapi tetap saja kepercayaan itu harus ada.

    Masih sama-sama terdiam saat mereka melangkah melewati lorong-lorong panjang, Taemin masih memikirkan gadis itu. Shin Hyora. Adik kelasnya di sekolah ini yang cukup populer baik di kalangan murid laki-laki, perempuan, guru-guru, bahkan paa staff sekolah karena keramahannya, wajahnya yang cantik dan selalu mengulas senyum yang menambah nilai plus pada dirinya serta kepintarannya.

    Sayangnya gadis itu sudah memiliki kekasih yaitu adik kelas Taemin juga yang sebaya dengan gadis itu sendiri tapi Taemin tidak tahu siapa namanya.

    Jika saja Taemin mau, dia bisa mendekati Hyora karena Taemin juga tak kalah populeh dengan gadis itu. Hanya saja ia masih tahu diri untuk tidak mendekati gadis yang sudah memiliki kekasih.

    Baru saja Taemin dan Minhyuk hendak menuruni anak tangga, langkah Taemin berhenti melihat Shin Hyora bersama kekasihnya. Hyora mengamit lengan kekasihnya dengan senyuman cantiknya seperti biasa mengembang di wajahnya sedangkan rahang kekasihnya mengeras. Tak ada senyuman di wajah laki-laki itu tetapi Hyora tak melihatnya.

Minhyuk akhirnya ikut berhenti begitu tak mendengar suara sepatu Taemin. “Ada apa?” tanya Minhyuk heran.

Taemin menggeleng tanpa mengalihkan pandangannya dari pasangan tersebut. “Tidak da apa-apa,” jawabnya bohong. Tapi kalau ia bilang ada yang aneh dari pasangan yang mencuri perhatiannya, yang ada Minhyuk malah menguliahinya panjang lebar karena masih saja ingin mencampuri urusan Hyora.

Akhirnya Taemin membalikkan badannya menghadap Minhyuk yang sedang menatapnya bingung. “Kau duluan saja, ada yang harus aku urus sebentar,” katanya sembari kembali menaiki anak tangga dan memegang tali tasnya. Sebenarnya ia tidak ada urusan yang harus di urus. Hanya saja ia ingin menguping. Menguping mereka sekali tidak apa-apa bukan?

Kemudian Taemin melangkah santai mengikuti Hyora dan kekasihnya yang di asumsi Taemin mereka menuju taman belakang sekolah. Sesekali Taemin membalas sapaan orang-orang yang menyapanya di lorong panjang menuju taman belakang.

Itu dia. Hyora duduk di salah satu kursi taman yang membelakangi Taemin sedangkan kekasihnya berdiri di depannya tapi jari mereka saling bertautan. Rasanya seperti apa kepulan asap di kepala Taemin melihat wajah kekasih Hyora yang mengeras.

Bibir laki-laki itu bergerak tanda laki-laki itu mulai bicara. Tidak tahu apa yang mereka bicarakan dan bagaimana reaksi Hyora saat itu, Taemin mencoba merangsek maju dengan perlahan dan santai. Ia memasukkan tangannya kedalam saku celananya.

“Maafkan aku, Hyora-ya,” Taemin mendengar suara laki-laki itu. Kenapa dia meminta maaf pada Hyora?

Dilihatnya kepala Hyora menggeleng. Suara Hyora sangat pelan saat ia berbicara sehingga Taemin tidak bisa mendengarnya.

Kemudian laki-laki itu melepas pengangan tangan Hyora di tangannya dengan lembut. Seakan tangan kecil Hyora akan hancur berkeping-keping kalau dia melepaskannya dengan paksa. Dan laki-laki itu pergi meninggalkan Hyora yang pundaknya mulai naik turun.

Memang sedari tadi Taemin tidak bersembunyi-sembunyi menguping mereka. Dia justru dengan santainya berjalan seakan mendekati mereka. Laki-laki itu melihat Taemin lalu laki-laki itu membungkuk sopan. Benar kan dia adik kelasnya.

Taemin tersenyum membalasnya kemudian berbalik ingin melihat apakah laki-laki itu akan membalikkan badannya. Tapi tidak. Laki-laki itu tetap berjalan lurus.

Melihat pundak Hyora yang bergetar, Taemin tahu kalau gadis itu tengah menangis. Apa laki-laki itu baru saja memintanya putus? Aigoo, laki-laki tak tahu diri. Padahal banyak laki-laki lainnya yang menunggu Hyora seperti Taemin.

“Sayang kan kalau di hari secerah ini mengeluarkan air mata,”

Sontak Hyora menghapus air mata yang mengalir di pipinya dengan punggung tangannya kemudian menoleh ke sebelahnya. Taemin sudah duduk di samping Hyora dengan santainya. “Sunbaenim?” suaranya bergetar menahan tangis.

Taemin tersenyum sembari menghembuskan nafas kemudian menatap Hyora yang masih sesenggukan. Lalu ia merogoh tasnya yang sedari tadi di pakai di punggungnya mencari sesuatu sambil berkata, “Walaupun menangis, kau masih terlihat cantik. Tapi aku lebih suka saat kau tersenyum.” Dan ia menyerahkan sapu tangan putih pada Hyora.

Dengan wajah yang mulai merona namun masih sesenggukan, Hyora mengambil sapu tangan yang di berikan Taemin dan mulai menghapus wajahnya yang mulai terasa lengket.

“Putus hubungan kan bukan putus kehidupan. Kenapa menangisi laki-laki yang memutus dirimu?”

Inginnya Taemin langsung memeluk dan merengkuh pipi Hyora saat melihat air mata gadis itu mengalir di wajahnya. Ia ingin menghapus air mata gadis itu dengan tangannya sendiri. Tapi ia takut Hyora mengira ia mesum atau yang lainnya karena mereka baru bicara berdua saja kali ini. Jadi ia mengurungkan niat untuk memeluk dan merengkuh pipi Hyora.

    Taemin melirik Hyora yang belum bersuara karena lehernya terasa ada yang mengganjal karena tidak ingin menagis lagi di depan Taemin.

    “Mau meminjam pundak atau dadaku untuk menangis?” tawar Taemin.

    Hyora menatap Taemin bingung. Mana mungkin ia meminjam pundak atau dada Taemin? Mereka kan baru bertemu kali ini. Sebenarnya kali ini bukan pertemuan pertama mereka. Mereka kan sudah sering bertemu di lorong, kantin, aula dan tempat lainnya di sekolah. Tapi baru kali ini mereka berbicara langsung berdua walaupun sebelumnya sudah saling mengenal. Taemin, laki-laki populer di sekolah karena wajahnya dan kemampuan tarinya sedangkan Hyora, gadis populer di sekolah karena wajahnya yang mempunyai lekuk wajah sempurna dengan senyum polos yang menawan serta kepintaran dan keramahannya. Mana mungkin tidak ada yang tidak mengenal mereka berdua di sekolah?

    “Tak apa,” kemudian Taemin menarik tubuh Hyora kedalam pelukannya. Ia melihat tatapan ragu dari Hyora saat ia menawarinya. Dan dia tahu kalau sebenarnya Hyora mau dengan tawaran Taemin tapi terlalu malu dan memikirkan harga dirinya. ‘mana mungkin langsung berpelukan pada orang lain padahal aku baru putus?’ begitulah arti tatapan mata Hyora yang di lihat Taemin.

    Hyora pun tidak menolak pelukan Taemin walaupun ia tidak membalas pelukannya. Ia hanya membenamkan wajahnya yang mulai terasa hangat kedalam dada Taemin.

    “Kalau mau cerita-cerita saja,” kata Taemin lagi dengan lembut. Ia sangat senang akhirnya bisa memeluk gadis yang selalu muncul di pikirannya. “Melanjutkan tangisanmu juga tidak apa-apa.”

    Sesaat Hyora ragu. Bisa-bisanya ia tidak menolak dipeluk oleh Taemin. Bisa saja orang yang melihatnya—atau Taemin sendiri—bisa mengira dia gadis murahan. Tapi bukannya menarik dirinya dari pelukan Taemin, Hyora tetap terdiam merasakan kehangatan yang mulai menyelubungi dirinya. Ada sesuatu yang nyaman dan juga hangat.

    Akhirnya Hyora mulai bercerita sambil sesekali sesenggukan karena menagis lagi. Jadi—mantan—kekasihnya, Lee Jeongmin, memutusnya karena dari awal ia tidak mencintai Hyora. Dia hanya menjadikan Hyora pelampiasan sehabis di putuskan oleh kekasih sebelumnya. Kemudian, mantan kekasih Jeongmin yang memutusnya, memintanya kembali. Jadi Jeongmin yang masih merasa belum nyaman dengan Hyora memutusnya dan kembali pada kekasih lamanya.

    “Laki-laki tak tahu diri,” umpat Taemin kesal sembari mengelus pelas puncak kepala Hyora. “Kenapa dia sangat jujur seperti itu?”

    Masih dengan sesenggukan, Hyora menjawab. “Pada dasarnya dia orang baik. Menurutnya lebih baik ia jujur di awal daripada membuatku lebih sakit,”

    Hyora benar-benar gadis yang polos, batin Taemin. “Ah, tapi sekarang sudah ada aku disini,”

    Kali ini Hyora menarik dirinya. Sekilas ia melirik seragam Taemin yang basah akibat air matanya kemudian ia menatap mata Taemin bingung.

    Taemin menaruh kedua tangannya di kedua sisi tubuhnya kemudian menatap ke langit biru yang cerah. “Aku tahu ini bukan waktu yang tepat, tapi sudah lama aku memperhatikanmu.”

    “Apa?” Tiba-tiba seperti air liur di kerongkongan Hyora mengering. Ia menelan ludah mencoba membuat kerongkongannya yang kering basah kembali.

    Taemin tidak memperdulikan reaksi Hyora saat ini. Ia mengalihkan pandangannya dengan menatap Hyora yang sedari tadi tengah menatapnya. Ia mendekatkan wajahnya ke wajah Hyora. Gadis itu hanya bisa mengerjapkan matanya dan memundurkan kepalanya perlahan.

“Sebenarnya aku menyukaimu sudah lama sekali. Sejak kau masuk ke sekolah ini,” bisik Taemin ketika bibirnya sudah berada tepat di samping telinga Hyora.

Hyora menahan nafas mendengar bisikan Taemin dan merasakan desahan nafas Taemin pada kulitnya serta mencium aroma tubuh khas milik Taemin.

Akhirnya Taemin menjauhkan wajahnya sambil tersenyum puas melihat Hyora yang masih mematung.

“A-apa yang membuat sunbaenim menyukaiku?” setelah sadar kembali, Hyora memberanikan diri bertanya.

Taemin terlihat tengah memikirkan sesuatu. “Memangnya menyukai seseorang harus mempunyai alasan?” tanya Taemin.

Hyora menggeleng kikuk.

“Tak ada alasan khusus saat aku menyukaimu. Hanya saja aku merasa sangat nyaman melihat senyummu. Sangat cantik.”

Lagi-lagi perkataan Taemin membuat pipi Hyora merona merah. Kenapa laki-laki ini pintar sekali membuatku salah tingkah? Batin Hyora. Padahal baru beberapa menit dia diputus oleh Jeongmin. Laki-laki ini sukses membuat Hyora lupa.

“Aku memang orang tak tahu waktu yang tepat,”

Hyora mengerutkan kening bingung mendengar perkataan Taemin. Laki-laki ini[enuh kejutan.

“Tapi aku mau bertanya padamu,” lanjut Taemindan berhenti menunggu respon Hyora. Gadis itu mengangguk. “Mau jadi kekasihku?”

Mata Hyora membulat terkejut.

Terlihat sekali Hyora tidak akan menjawab, jadi Taemin kembali melanjutkan. “Aku tidak mengharapkan jawaban langsung darimu. Pikirkan saja dulu, oke?” kemudian Taemin bangkit berdiri dan memakai tasnya kembali lalu beranjak pergi membiarkan Hyora sendirian untuk berpikir.

Belum jauh Taemin melangkah, Hyora memanggilnya. Taemin pun membalikkan badannya.

Senyum Hyora kembali seperti semula walaupun matanya terlihat sedikit merah—tapi tidak mengurangi kecantikannya. Taemin ikut tersenyum melihat gadis itu tersenyum.

“Mau tunggu jawabanku sampai kapanpun, kan?” tanya Hyora penuh harap.

Senyum Taemin semakin lebar yang biasanya membuat gadis-gadis yang melihatnya akan meleleh. “Tentu saja,” jawab Taemin lalu membalikkan badan dan kembali melangkah menjauh.

END

10 thoughts on “Beautiful Smile

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s