[Chapter 6] Teenager Love Story



  • Tittle    : Teenager Love Story
  • Author    : Ennyhutami
  • Lenght    : Chapter
  • Rating    : PG-13
  • Genre    : Romance, Friendship, AU
  • Cast    :
  1. Lee Ji Eun
  2. Bae Sujie
  3. Choi Jinri
  4. Lee Taemin
  5. Choi Minho
  6. Jo Kwangmin
  7. No Minwoo
  8. And others
  • Note    : Semua castnya aku rombak. Mau member SHINee ataupun Boyfriend. Jadi jangan kaget ya. Semua cast cowoknya senior di sekolah kecuali Minwoo. Ceweknya junior—seumur sama Minwoo.

    Plagiat and Siders Go Away!

    ©Ennyhutami

“Kau lama sekali!” Kwangmin berbalik dan mendapati bukannya seorang gadis yang berdiri sembari menenteng tasnya justru temannya yang berdiri disana.

    Kwangmin mengerutkan kening. “Gadis itu kabur?” tanyanya sembari mengambil tasnya dari genggaman Jinki.

    Jinki menggeleng dan melangkah mendekat. “Tidak. Tadi dia bersama Taemin,” jawabnya.

    Tanpa menoleh pada Jinki dan masih terus berkutat pada alat-alat percobaan di depannya Kwangmin mendengus. “Mau apa lagi dia?” tanyanya.

    “Temannya kau bukan aku,” jawab Jinki enteng sembari duduk di kursi di sebelah meja. “Kadang aku merasa Taemin seperti itu karena kesepian, benarkan?” tanya Jinki dengan suara yang pelan hingga ia yakin hanya Kwangmin saja yang bisa mendengar pertanyaannya sembari merebut buku tebal yang sedari tadi menjadi paduan percobaan Kwangmin.

    Kwangmin membalikkan lembaran kertas pada buku catatan milik Jinki yang tadi sengaja ia pinjam mencari catatan minggu kemarin. Dia mendengar pertanyaan Jinki namun dia tak berniat menoleh. “Kami semua juga berpikir seperti itu,” sahutnya sembari membaca tiap kalimat dan rumus di buku catatan Jinki. Yang dimaksud ‘kami semua’ oleh Kwangmin adalah dia, Jonghyun, Jeongmin, dan Hyunseong. “Tapi dia terlalu menutup diri.”

¯

“Kau gila, Sunbae!” jerit Ji Eun begitu sadar dari keterkejutannya atas ucapan Taemin barusan. “Mana mungkin aku melakukan itu?”

    Taemin menatap tajam gadis di depannya yang meneriakinya dan mengatainya gila. “Kau mau menuruti perintahku atau kau mau aku terus mengerjaimu?”

    Ji Eun menelan ludah dengan bersusah payah. Apa tidak ada pilihan lain untuknya? Jika dia memilih untuk membuat Sujie dan Minho berpisah, berarti dia egois karena lebih mementingkan dirinya sendiri karena tak mau menjadi korban kejahilan seniornya itu. tapi disisi lain Ji Eun sangat ingin terbebas dari senior-senior gilanya itu.

“Kenapa harus aku?” akhirnya Ji Eun membuka mulutnya setelah lama diam mematung. “Kau bisa menyuruh orang lain yang dengan senang hati menuruti perintahmu.”

Taemin mendekat sembari memasukkan kedua tangannya kedalam jas sekolahnya kemudian dia mensejajarkan kepalanya dengan kepala Ji Eun yang membuat Ji Eun mundur beberapa langkah. “Aku hanya mau kau yang melakukannya,”

Ji Eun mendengus mendengar alasan seniornya yang menurutnya tak masuk akal. Kenapa mesti dirinya? Bahkan Taemin tahu kalau Ji Eun dan Sujie bersahabat. Apa karena Taemin masih mau mengerjai Ji Eun? “Tidak,” ujar Ji Eun tegas seraya menggelengkan kepalanya kuat-kuat. “Aku tidak akan mau menuruti perintahmu!”

“Benarkah?” tanya Taemin sakartis lalu kembali menegakkan tubuhnya. “Wae?”

Taemin ini bodoh atau apa? Kenapa Ji Eun harus mau menuruti perintah gila Taemin? Ji Eun masih cukup waras untuk mempertahankan persahabatannya dengan Sujie. Ji Eun yakin sekali kalau dia menuruti perintah Taemin, hubungannya dengan Sujie bakal hancur. “Aku tidak mau Sujie sedih karena dia sangat menyayangi Minho Sunbae begitu juga sebaliknya. Orang macam kau ini?”

Taemin terkekeh mendengar perkataaan Ji Eun. “Minho menyayangi Sujie?” tanyanya meremehkan membuat Ji Eun mengertukan kening heran. “Sejak kapan dia begitu?”

“Kau hanya cemburu pada hubungan mereka,” sela Ji Eun cepat. “Atau kau tidak ingin Minho Sunbae bahagia bersama Sujie?”

Taemin terdiam. Dia juga sebenarnya tidak tahu apa yang dia rasakan. Dia sudah mengenal Minho sejak lama namun dia tak pernah mencampuri urusan orang itu. Tapi kali ini ada yang lain. Saat Sujie dengan beraninya menghampirinya dan menyuruhnya untuk berhenti mengerjai Minho. Gadis yang berani mengingat status Taemin sekarang.

“Kau bercanda,” ucap Taemin setelah terdiam beberapa saat kemudian berlalu pergi. “Lakukan atau kau menyesal.” Bisik Taemin ketika dia berada tepat di samping Ji Eun.

Ji Eun bergidik lalu membalikkan badan. Punggung Taemin belum terlalu jauh dari tempatnya tadi. “Shireo! Bagaimana kalau aku tidak mau?” teriaknya setelah mendecak sebal. “Lakukan sendiri saja. Tapi ingat aku akan beritahu Sujie dan Minho Sunbae tentang rencanamu,”

Taemin berhenti mendengar teriak Ji Eun. Gadis itu mencoba mengancamnya? “Aish,” gerutunya sembari mengacak rambut bagian belakang kepalanya.

“Atau kau bisa suruh siapapun kecuali aku untuk memisahkannya. Aku teman baik Sujie dan aku senang kalau mereka terus—”

Ji Eun tak habis pikir dengan apa yang dilakukan Taemin. Sekarang jarak di antara mereka berdua sudah tidak ada sesentipun. Ji Eun membelalakan matanya karena terkejut begitu merasakan bibirnya bersentuhan dengan bibir Taemin.

Begitu kesadaran dari terkejut pulih, Ji Eun langsung mendorong Taemin tanpa memperdulikan kalau Taemin akan tersungkur saat dia mendorongnya. “YA!” teriak Ji Eun murka. “APA YANG KAU LAKUKAN, LEE TAEMIN?!”

Taemin justru terkekeh melihat reaksi marah Ji Eun. Lalu dia mengelap bibirnya dengan kasar. “Kau sangat payah,” ujar Taemin dengan tenang tanpa menanggapi pertanyaan Ji Eun.

Wajah Ji Eun semakin merah mendengar perkataan Taemin. Marah bercampur malu. Namun dia menghela nafas dalam hati mencoba mengendalikan kegugupannya karena Taemin yang tiba-tiba menciumnya. “Kau…” Ji Eun tak tahu harus bicara apa. Harusnya dia marah bukannya gugup seperti ini. Dan kenapa Taemin terlihat sangat tenang setelah menciumnya?

“Mesum,” gerutu Ji Eun kemudian mengigit bibir bawahnya dengan kesal kemudian berlari kecil meninggalkan Taemin yang masih terkekeh melihat reaksi terkejut Ji Eun barusan.

“Bodoh,” gumam Taemin melihat punggung Ji Eun yang semakin menjauh lalu dia berbalik dan melangkah berlawanan arah dengan jalan yang dilewati Ji Eun.

¯

Tidak tahu apa yang harus Jinri lakukan ketika berpas-pasan dengan Minwoo saat ini. Minwoo memang tetap tersenyum dan menyapanya, tapi entah kenapa itu membuat dada Jinri terasa sesak kembali.

Melihat Jinri yang tak membalas senyum dan sapaannya, Minwoo mengerutkan kening. Tidak biasanya Jinri seperti ini didepannya. Biasanya kalau bertemu dengan Minwoo, Jinri akan tersenyum ceria seperti tanpa beban di pundaknya. Namun kali ini tidak.

Gadis itu tak memperlihatkan senyum cerianya.

“Jinri-ya,” panggil Minwoo setengah membalikkan badannya karena Jinri sudah melewatinya.

Jinri berhenti mendengar Minwoo yang memanggilnya. Sebelum berbalik, di menghirup nafas dalam-dalam lalu dihembuskan mencoba menguatkan diri kemudian berbalik. “Ada apa?” tanyanya mencoba bersikap biasa saja padahal hatinya tidak tenang. Ia ingin sekali menghambur ke pelukan laki-laki di depannya itu dan menangis sejadi-jadinya memberitahu perasaannya saat ini.

Minwoo melangkah mendekati Jinri yang terus saja menarik nafas. “Kau marah padaku?” tanyanya begitu jarak mereka kurang lebih setengah meter.

Jinri tertawa hambar mendengar pertanyaan Minwoo. “Untuk apa aku marah padamu?” ia balik bertanya. “Lupakan saja. Aku harus cepat sebelum Guru Jang menghukumku, Annyeong,” lanjut Jinri mencoba ceria sembari menepuk pelan pundak Minwoo yang menatapnya bingung kemudian beranjak pergi.

Tangan kanannya menyentuh bagian dada yang terasa sesak begitu yakin Minwoo tak akan melihat sisi rapuhnya. Rasanya sakit mengingat orang yang disukainya tak mempunyai perasaan yang sama padanya dan justru menyukai sahabatnya sendiri. Belum lagi masalah orangtuanya yang akan bercerai bulan ini. Membuatnya harus menangis semalam suntuk melepas emosinya agar orang lain tak melihat emosinya yang kelewat berlebihan karena memendam rasa sakit sendirian. Yah, memang dia pernah kelepasan menangis di depan Ji Eun kemarin. Tapi untuk kedepannya, dia berjanji agar orang lain tak melihat airmatanya jatuh.

Dunia terlalu kejam untuknya.

¯

“Jinri-ya, aku benar-benar minta maaf,” ulang Sujie entah sudah keberapa kalinya.

Jinri mengangguk mengerti. Sepulang sekolah Jinri memang berencana untuk mampir ke toko buku di dekat perumahan rumah Sujie dan meminta Sujie menemaninya. Tapi sayangnya Sujie mendadak tidak bisa menemani karena Choi Minho, kekasih Sujie sekaligus senior Jinri, meminta Sujie menemaninya membeli hadiah dan memesan kue untuk adik perempuannya yang akan berulang tahun.

“Kau yakin tidak apa-apa kalau sendirian?” tanya Sujie lagi. Dia merasa menyesal karena tidak bisa menemani Jinri. Sebenarnya dia ingin menemani Jinri karena sudah lama sekali mereka berdua pergi ke toko buku. Tapi sudah hampir seminggu ini dia tidak bertemu pacarnya, Minho, karena kesibukkan Minho yang berada di tingkat akhir. Jadi begitu Minho mengajaknya pergi keluar, Sujie tidak menyia-nyiakan kesempatan itu. “Ah, bagaimana kalau Ji Eun yang menemani?”

Dengan cepat Jinri menahan lengan Sujie yang hendak mengambil ponsel dari dalam tasnya. Setelah jam pelajaran berakhir, Ji Eun tadi langsung keluar kelas membawa tasnya dengan buru-buru. Jadi Sujie tidak sempat bertanya ada apa.

“Tidak usah,” tolak Jinri sembari tersenyum. “Biar aku sendiri saja. Sekarang dia pasti sedang sibuk.”

Sujie mengerutkan kening mendengar tolakan Jinri. “Kau marah padanya?” Sujie memang tahu apa yang terjadi dengan Ji Eun-Minwoo-Jinri. Kisah klasik tapi memang rumit karena ini menyangkut persahabatan mereka bertiga.

Jinri menggeleng perlahan. “Aku tidak marah pada siapapun,” aku hanya marah pada diriku sendiri, tambahnya dalam hati.

“Oh, dia datang,” ucap Sujie begitu melihat Choi Minho melangkah melewati lorong sekolah sembari melambaikan tangannya pada Sujie. Sontak Sujie menyisir helai-helai rambut panjangnya dengan menggunakan jari tangannya dan merapikan sedikit seragamnya.

“Sudah cantik,” pujian Jinri terdengar tulus saat dia mengucapkannya. Kemudian ia menepuk pelan pundak Sujie. “Selamat bersenang-senang,” lalu ia berbalik dan membungkukkan kepalanya sopan pada Minho kemudian berlalu pergi.

“Pergi sekarang?” tanya Sujie pada Minho begitu punggung Jinri menghilang di ujung lorong sekolah. Senyum lebar dari bibir Sujie tak henti-hentinya ia perlihatkan. Ia senang karena seminggu belakangan ini ia hanya bisa berkomunikasi lewat ponsel dengan Minho.

“Tentu,” sahut Minho dengan senyum mautnya yang selalu bisa membuat Sujie meleleh melihatnya. Bahkan sampai sekarang Sujie belum terbiasa dengan senyum maut Minho padahal hubungan mereka sudah berjalan empat bulan. “Makan dulu, ya? Aku lapar,”

Sujie mengangguk setuju. “Mm, aku juga,”

Minho pun menggandeng tangan Sujie sepanjang perjalan menuju kafe. Mereka lebih memilih untuk berjalan kaki dibandingkan dengan naik bus. Kata Minho untuk memperpanjang waktu bersama dan sekaligus olahraga.

“Dasar pecinta olah raga,” gerutu Sujie sembari memutar bola matanya hingga membuat Minho mencubit pipi Sujie karena gemas.

Sujie merasa sangat beruntung memiliki kekasih seperti Minho. Tadi saat beberapa anak sekolah yang sama sepertinya melewatinya dan mereka menatap iri pada Sujie yang masih tersenyum lebar sedangkan Minho merangkul pundak Sujie santai solah ingin menunjukan pada siapa saja kalau Sujie hanya miliknya.

“Oh, bukankah ini lucu?” Sujie berhenti di depan toko boneka dan menunjuk boneka panda besar yang dipanjang di etalase toko.

Minho ikut berhenti dan melihat boneka panda yang ditunjuk Sujie sekilas. “Menurutmu adikku akan suka?” tanya Minho sembari memiringkan kepala melihat baik-baik boneka panda tersebut.

“Tentu saja!” seru Sujie semangat. Sebenarnya ia tidak yakin adik perempuan Minho akan suka atau tida karena sampai sekarang ia belum pernah bertemu adik perempuannya. Hanya saja Sujie tertarik dengan boneka panda ini. “Kalau kau tidak suka, kita makan dulu baru mencari kembali bagaimana?”

Minho tersenyum dan kembali mengamit tangan Sujie. “Kalau itu aku setuju,” katanya.

Sesampainya di kafe yang mereka tuju, Minho membawa Sujie duduk di kursi kosong di dekat jendela besar. “Kau mau pesan apa?” tanya Minho lembut.

“Seperti biasa saja,” jawab Sujie kemudian menolehkan pandangannya keluar. Ia menyipitkan matanya melihat sebuah motor besar berhenti di sebrang jalan dari kafe ini. “Bukankah itu… Ji Eun?” gumamnya ketika gadis yang duduk diboncengi turun dan melepas helm yang dipakainya. Laki-laki yang mengendarai motor besar itu juga ikut melepas helmnya dan membuat mata Sujie membelalak. “Bersama Taemin Sunbae?”

“Ada apa?” tanya Minho yang belum beranjak untuk memesan makanan.

Sujie menoleh pada Minho lalu kembali melihat keluar. “Itu…” katanya sembari menunjuk dua orang di sebrang jalan. “Ji Eun pergi bersama Taemin Sunbae?” Sujie masih saja tidak percaya dengan apa yang dilihatnya barusan. Setahunya hubungan Ji Eun dengan Taemin tidak cukup baik untuk pergi bersama. Bahkan sangat tidak memungkinan.

Sujie menoleh heran pada Minho saat laki-laki di depannya itu mendengus. “Jadi itu maksudnya,”

Sujie mengerutkan kening tanda tak mengerti maksud ucapan Minho. “Apa maksudnya?” tanyanya penasaran.

“Dia sengaja menjadikan Ji Eun korban kejahilannya karena dia menyukai Ji Eun,”

TBC

Ada yang tanya kenapa sekarang pake sudut pandang Author? Nah aku jawab. Soalnya, di chapter ini dan selanjutnya konfliknya bukan cuma kwangmin-iu-taemin. Tapi semua yang ada di poster, namanya juga ‘teenager love story’ jadi ini tentang masalah cinta-cintaannya remaja. Aku baru nyadar kalo disini aku masukin cast utama 2 member boyfriend dan 2 member SHINee muehehehe.

Ada Youngmin gak? Kalian maunya ada apa enggak? Kalo pada mau ada youngminnya, tapi dia Cuma jadi support cast dan gajadi kembarannya kwangmin.

Satu lagi. Ini aku publish lebih cepet sebagai permintaan maaf soalnya yang chapter 5nya beberapa bulan gak di publish. Tunggu chapter 7 yaa^^

26 thoughts on “[Chapter 6] Teenager Love Story

  1. hahaha nggak nunggu lama udh keluar chapter 6 nya😉

    ayoo eonni lanjut! spertinya bakalan rumit nih konfliknyaa🙂
    aish gak sabar nunggu lanjutannya >.<
    Fighting eonni! banyakin lagi part kwangmin sma minho nya ya eon #banyak maunya haha

  2. horeeee.. Akhirnya di publish juga lanjutannya . Nggak sabar pengen baca part 7nya . Makin penasaran nih.. nnti Jieun/IU sama sapa yah endingnya? Trus nasibnya jadi kaya gmn. Hahaha

    Good Job author .🙂

    • Ada dong, taemin kan punya banyak akal~ *eh?
      Hh. Itu gak janji ya, sampe sekarang blm dilanjut nih. Blm sempet buka laptop-_-
      Tungguin kelanjutannya ya tapi^^

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s