[Chapter 5] Teenager Love Story



  • Tittle    : Teenager Love Story
  • Author    : Ennyhutami
  • Lenght    : Chaptered
  • Genre    : Romance
  • Rating    : General
  • Cast    :
  1. Lee Ji Eun
  2. Bae Sujie
  3. Choi Jinri
  4. Lee Taemin
  5. Jo Kwangmin
  6. No Minwoo
  7. Choi Minho
  8. And others
  • Note    : semua cast disini bener-bener aku rombak. Gaada protes tentang sifat-sifatnya atau umurnya yang aku ubah. Ini cuma fanfiction, jadi apa yang author bayangin yah begini. Maaf bangetbengetan kalo ngepublish ini lamaaaaaa banget. Cerita ini sempet berenti dijalan dan gatau mau diapain lagi. Jadi jeongmal jeongmal jeongmal mianhae *bow*

Plagiat and Sider Go Away!

~ooOoo~

Mati. Rasanya seakan mati lebih menyenangkan daripada menghadapi laki-laki seperti ini.

    “Ap-apa maksudmu, Sunbae?” tanyaku gemetar. Aku benar-benar takut dengannya kali ini. Tatapan matanya yang membunuh dengan senyum misterius yang disunggingkan dibibirnya. Mengerikan. Benar-benar mengerikan orang ini. “Sungguh, aku tidak mencoba untuk kabur. Guru Shin menyuruhku membantunya diperpustakaan.” Aku mencoba menjelaskan padanya. Dan aku juga lupa untuk menemuimu, tambahku dalam hati.

    Dia semakin mendekat hingga jarak diantara kami hanya beberapa sentimeter. Harusnya aku ketakutan dengan sikapnya ini, tapi kenapa jantungku berdegup tak jelas seperti ini?

    “Alasan.” Katanya keras kepala.

    Aku menggeleng kuat-kuat. “Itu bukan alasan. Kalau Sunbae tidak percaya tanya saja—”

    Kata-kataku terpotong ketika suara berat seseorang berbicara. “Dia tidak bohong. Tadi aku melihatnya diperpustakaan bersama Guru Shin.” Aku menoleh. Kulihat Minho Sunbae berdiri dengan tenang dengan jarak yang lumayan jauh dari kami.

    Taemin langsung menarik dirinya dan menatap Kwangmin Sunbae dengan tatapan membunuhnya lalu menatapku dengan pandangan mengejek. “Baiklah, kali ini kumaafkan.” Katanya seraya berlalu pergi.

    Aku menghela nafas lega seraya memegang dadaku yang meloncat-loncat ketakutan dengan sikap Taemin. “Hh, dia sangat menakutkan.” Gumamku lalu menoleh ke tempat Minho Sunbae berdiri tadi untuk berterima kasih. “Sunbae…

    Aku menggantungkan ucapan terima kasihku begitu tak mendapati senior itu di tempatnya. Aku mendecak kesal. “Kenapa menghilang begitu saja? Tumben sekali,” gumamku kesal lalu tersentak mendengar suara klakson mobil. Aku menoleh ke luar pagar sekolah dan tersenyum melihat siapa yang berada di balik kemudi mobil hitam yang jendelanya terbuka penuh.

    “Ppali!” kudengar dia berseru seraya mengangkat tangannya tanda menyuruhku untuk cepat menghampirinya.

    Aku mengangguk. “Oe,” lalu berlari kecil menghampirinya dan langsung duduk di jok penumpang di samping jok kemudi. “Tumben sekali menjemputku.” Kataku berniat untuk menyindirnya. Tapi sebenarnya itu kenyataan. Donghae Oppa paling malas untuk memjeputku. Selalu saja alasannya sibuk, padahal dirumah ia hanya bersantai sambil menonton televisi.

    “Kalau begitu lain kali aku tidak mau menjemputmu,”

    “Ya!” protesku. Masa hanya karena itu dia ngambek begini? Sebenarnya yang Kakaknya itu aku atau dia?

    Donghae Oppa hanya terkekeh mendengar protesanku lalu wajahnya kembali serius. Aku terenyak mengingat kejadian tadi. Kenapa Taemin begitu marah karena aku tak datang menemuinya? Jangan-jangan dia salah makan obat tadi.

    “Ji Eun-ah,”

    Aku menoleh begitu mendengar suara Donghae Oppa, “Mm?” sahutku tanpa menoleh dan justru sibuk dengan kegiatan mengaduk tasku mencari ponselku yang bergetar.

    “Laki-laki tadi itu siapa? Pacarmu?”

    Aku tersentak mendengar pertanyaannya dan membuatku terbatuk kecil serta membuatku berhenti mencari ponselku di dalam tas. “Nugu? Pacar apa?” kataku tak mengerti. kenapa tiba-tiba ia membicarakan ini?

    “Mana kutahu,” balasnya. “Sebaiknya jangan berdekatan dengannya. Dia terlihat buruk,”

    Aku memutar otakku. Ah, kenapa tidak terpikir dari tadi? Pasti yang dia maksud Taemin. Berarti memang wajah Taemin terlihat buruk di pengelihatan oang lain, bukan hanya aku saja. Ani, wajahnya kuakui tampan tapi kelakuannya yang buruk.

¯

 

Baiklah. Mungkin kali ini adalah hal terburuk yang Taemin lakukan untukku.

    Tidak. Dia memang belum menjahiliku tapi aku tidak suka melihatnya menatapku seperti itu; seperti aku adalah orang yang akan menyebarkan virus mematikan padanya. Dia memang tidak menghindar namun… entahlah. Aku cukup merasa was-was melihatnya yang menatapku dengan tatapan itu ketika kami bertemu di lorong sekolah.

    “Kau kenapa lagi?” tanya Sujie ketika aku baru saja menghela nafas entah sudah yang keberapa kalinya hari ini. Perasaanku sangat tidak enak. “Harusnya kau senang Taemin Sunbae tidak mengganggumu lagi,”

    Aku mendengus. Apanya yang tidak menganggu? Justru tatapannya yang seperti itu sangat menggangguku. “Aku rasa dia sedang menyusun rencana untuk menjahiliku,” itulah yang kupikirkan. Idiot kan pemikiranku? Terlalu dangkal. Kenapa aku terlalu percaya diri kalau Taemin sedang menyusun rencana untuk mengerjaiku? Harusnya aku tidak berpikir seperti itu dan harusnya aku merasa senang karena tidak lagi mengangguku.

    “Kurasa tidak seperti itu,” ia menimpali lalu mendesah. “Ini semua karena aku. Andai saja aku—”

    “Sudahlah, itu sudah terlewat,” potongku. Aku tahu dia ingin mengatakan apa. Sudah beribu kali dia selalu bilang seperti itu dan sekarang aku benar-benar bosan mendengar kalimat itu keluar dari mulutnya. “Jangan berandai-andai. Itu bukan dirimu yang kukenal,”

    Kulihat ia mengernyitkan keningnya lalu pandangannya menatap lurus kebelakang punggungku dengan mulutnya membentuk huruf O. “Oh, Minwoo,”

    Aku menoleh mengikuti arah pandangannya. Kulihat Minwoo berjalan dengan santai sambil tersenyum kearahku setelah aku menoleh melihatnya.

    Melihat senyumannya yang terlihat sangat ringan membuatku merasa bersalah. Kenapa dia tersenyum seperti itu seolah-olah kejadian kemarin tak pernah terjadi.

    “Ji Eun, aku duluan, ya?”

    Aku menoleh dengan cepat pada Sujie yang hendak berdiri sebelum aku menahan lengannya. “Andwae!” ucapku lalu menatapnya tajam seolah-olah kalau dia tak menuruti perintahku, aku akan membunuhnya.

    “Kau mau kemana?” aku melepas pegangan tanganku pada lengan Sujie ketika suara Minwoo terdengar di belakangku.

    Sujie berdeham lalu duduk kembali dan menggelengkan kepalanya. “Hanya ingin membenarkan rokku,” aku terkekeh. Dia tidak punya alasan yang bagus selain ‘membenarkan rok’?

    Aku berhenti terkekeh begitu mendapati Sujie menatapku tajam seraya kembali duduk. Kemudian aku berdeham begitu mendengar suara deritan kursi di tarik dan melihat Minwoo duduk di sebelah kursiku. Seperti biasa saja, Lee Ji Eun.

    “Minwoo, kau lihat Jinri?” tanyaku untuk mencairkan suasana yang agak canggung.

    Minwoo menggeleng. “Tidak,” jawabnya. Uh, sepertinya dia masih mengabaikan Jinri makanya dia tidak berusaha mencari gadis itu. “Bukankah kalian sekelas?”

    “Mm, tapi dia tidak mau kemari,”

    Bodoh, bodoh, bodoh. Dengan polosnya Sujie bilang seperti itu pada Minwoo. Aku yakin sekali sekarang Minwoo tengah menatapku sambil mengernyitkan keningnya dan berpikir kalau aku mencoba mendekatkan Jinri dengannya. Jadi aku hanya menunduk dan menginjak kaki Sujie.

    Tapi kenapa injakan kakiku hanya terasa datar dan tak ada pekikkan Sujie? Aku mendongak dan memutar bola mataku begitu melihat Sujie sudah sedang melangkah keluar kafetaria sekolah.

    “Kau menghindariku, eh?”

    Aku menghela nafas dan menurunkan pundakku mendengar Minwoo bertanya. “Menghindar apa?” aku bertanya balik. Siapa yang menghindarinya?

    “Kau kan tahu aku menyukaimu,” aku mendengus. Oh, baiklah. Kenapa dia harus mengungkit ini lagi? “Dan aku tahu kalau Jinri menyukaiku. Tapi… aku kurang tepat untuknya,”

    “Bukan kurang tepat. Tapi kau hanya memikirkan dirimu sendiri,” selaku. Aku tahu ini tidak bagus. Hanya karena masalah perasaan sendiri, hubunganku dengan Minwoo yang semula cukup akrab dan membuatku nyaman di dekatnya kini entah kenapa membuatku muak. Kenapa dia egois dan hanya memikirkan perasaannya sendiri tanpa memikirkan perasaan Jinri?

    “Aku seperti ini karena kau,” Aku menatapnya tak percaya. Kenapa dia jadi menyalahkanku?

    “Kalau kau juga memikirkanku, aku tidak akan begini.”

    Aku sangat yakin kerutan di keningku bertambah seiring kalimat yang terlontar dari mulutnya. Aku tidak mengerti. “Aku selalu memikirkanmu, No Minwoo,” balasku dengan menekan kata di setiap kalimat. “Tentu saja sebagai sahabat.” Lanjutku sebelum ia berpikiran yang lain-lain. Aku tidak mau kalau hanya memberinya harapan.

    Kudengar di mendesah kecewa. Apa, sih, yang dia harapkan? “Bisakah kau pikirkan baik-baik? Aku akan menunggu,”

    Aku diam sambil menatapnya terkejut. Aku harus jawab apa?

    Aku mengerjapkan mata berkali-kali berusaha untuk setenang mungkin. “Kau…” aku membuka mulut tapi masih tak tahu harus menjawab apa. “Aku… aku…” kenapa mulutku susah sekali untuk bilang ‘jangan menungguku?’

    “Ji Eun,” aku menoleh dengan cepat begitu mendengar seseorang memanggilku. Dalam hati aku merasa bersyukur karena ada yang menginterupsi pembicaraan ini. “Kau sibuk?”

    Aku melihat Kwangmin Sunbae berdiri sekitar satu meter di belakangku. Ia melihatku tanpa memperdulikan Minwoo yang sedang bicara. Lalu aku pun berdiri. Masih tetap duduk sedangkan ada senior yang menghampiriku tidak bisa dibilang sopan. Apalagi sekolah disini sangat-sangat mengutamakan senioritas.

    Aku menggeleng lalu melirik Minwoo sekilas. Minwoo, mianhae. “Tidak. Aku tidak sedang sibuk,” jawabku bohong. Tapi itu ada benarnya. Aku sedang tidak sibuk hanya saja Minwoo sedang bicara denganku. Itu tidak termasuk kesibukkan, bukan?

    “Kalau begitu bantu aku,”

    Aku mengerutkan kening. “Bantu apa?” jangan bilang Kwangmin Sunbae ingin mengerjaiku atas perintah Taemin. Ah, laki-laki itu sungguh mengerikan.

    “Sunbae, maaf, tapi aku sedang bicara dengannya,” aku menoleh dan mandapati Minwoo ikut berdiri. Kelihatan sekali dari raut wajahnya kali Minwoo tidak suka obrolan ini dihentikan.

    Rupanya Kwangmin Sunbae sama sekali tidak peduli dengan perkataan Minwoo. bahkan bisa kulihat kalau Kwangmin Sunbae sama sekali tidak menganggap Minwoo ada disana. Dia justru menarik pergelangan tanganku dan menjauh.

    “Mianhae,” ucapku pada Minwoo sebelum aku keluar dari kafetaria. “Sunbae, kau ingin aku membantu apa?”

    Kwangmin Sunbae terus saja menarikku entah kemana. Walaupun genggamannya tidak terlalu erat, namun aku risih dengan tatapan beberapa orang ketika melewati lorong sekolah. Kenapa Kwangmin Sunbae masih saja menggenggam tanganku? Memangnya dia pikir aku akan kabur? “Karena minggu depan akan ada ujian praktek kimia di kelasku, aku mau kau membantuku sebentar saja,”

    Aku melengos. Kimia? Membantunya praktek? “Sunbae… sepertinya kau salah orang,” ucapku. “Aku tidak pintar di bidang itu,” aku mengaku kalau aku tidak pintar. Bahkan nilaiku selalu tujuh—walaupun jarang ada nilai dibawah enam kecuali matematika yang selalu mendapat nilai merah—atau paling tinggi delapan. Aku benar-benar tidak menguasai pelajaran dengan baik.

    “Aku tahu,” sahutnya.

    Aku memiringkan kepala heran. “Lalu?” tanyaku. Kalau dia tahu nilai akademisku yang… yah, lumayan buruk, kenapa dia masih meminta bantuanku?

    “Aku tidak sebodoh itu untuk memintamu membantuku soal teori kimia,” aku mengerucutkan bibir mendengar jawabannya. Barusan dia mengejekku atau apa? “Aku hanya memintamu untuk memegangi alat-alatnya.”

    Mulutku makin mengerucut sebal. Jadi hanya untuk memegangi alat-alat praktek?

    “Ah, kalau saja aku tidak bolos pelajaran minggu lalu,”

    Aku berdecak. “Salahmu, Subae. Kenapa sampai bolos segala?”

    Sesampainya di depan laboraturium, Kwangmin Sunbae melepas genggamannya pada pergelangan tanganku dan membuka pintu laboratorium. Ketika sudah berada di dalam, ternyata tempat ini sama tidak sepi. Ada beberapa senior dan junior—yang ternyata juga sedang membantu seniornya sama sepertiku. Bedanya, aku hanya akan membantu Kwangmin Sunbae memegangi alat-alat yang dibutuhkan sedangkan junior yang lainnya—yang sama denganku—ikut membantu dengan mengingatkan beberapa nama senyawa dan rumus.

    Bisa kurasakan ketika aku masuk, semua mata langsung melihatku kemuadian berbisik pada teman disebelahnya. Sepertinya akan ada gosip tentang aku dan Kwangmin Sunbae.

    “Tolong pegang ini,” aku menoleh linglung pada Kwangmin Sunbae yang mengulurkan tangannya yang memegang gelas kaca tanpa menoleh padaku. Dia serius sekali dengan larutan-larutan didepannya. “Isikan air bersih,” lanjutnya.

    Aku mengerucutkan bibir sembar menggerutu. Aku tidak merasa sedang membantunya melainkan menjadi pesuruhnya. “Ne,” tapi tetap saja aku menuruti perintahnya dan beranjak menuju keran di pinggir laboratorium.

    Merasa terus saja ditatap, aku mematikan keran air dan menoleh. Kulihat beberapa orang tengah menatapku dengan pandangan macam-macam; menyelidik, heran dan tidak suka. Yang bisa kulakukan hanya membungkuk sedikit sambil tersenyum lalu menghampiri Kwangmin Sunbae di sudut ruangan. Dia masih saja berkutat dengan gelas-gelas berisi larutan kimia di depannya dengan buku besar di pinggir meja.

    “Apa hubungan mereka?”

    “Kwangmin menyukai gadis itu?”

    “Bukankah gadis itu yang dikerjai Taemin Sunbaenim?”

    “Dia memanfaatkan keadaan,”

    Bisikan-bisikan bisa terdengar oleh telingaku ketika aku melewati orang-orang yang berhenti dari penelitiannya dan tengah menatapku. Aku menghela nafas ketika mendengar pernyataan terakhir. Memanfaatkan apa?

    “Sunbae,” panggilku. “Ini.” Aku menyerahkan gelas berisi air bersih yang baru saja aku isi pada Kwangmin Sunbae. Dia menoleh sebentar untuk mengambil gelas itu dan kembali berkutat dengan benda-benda di atas meja di depannya.

    Beberapa menit berlalu. Aku menghela nafas. Aku bosan. Sedari tadi dia terus mengabaikanku dan terus mencampurkan larutan didepannya sesekali membuka lembaran buku tebal di sampingnya.

    Kulihat ia menggaruk lehernya yang aku yakin sama sekali tidak gatal melainkan ia pusing dengan percobaannya. “Ambilkan buku catatan milik Jinki di tasku,” titahnya lagi.

    Aku menegakkan badan mendengarnya berbicara lagi kemudian menoleh ke kanan dan kiri mencari tas yang dimaksud Kwangmin Sunbae tapi sama sekali tidak ada tas di sini. “Dimana?” pertanyaanku membuat Kwangmin Sunbae menoleh.

    Seketika dia menepuk keningnya. “Kenapa aku pikun sekali?” gumamnya. Aku hanya mengerutkan kening karena tak mengerti. “Tasku masih dikelas. Bisa tolong ambilkan?”

    Mataku membulat mendengarnya. Memintaku mengambil tasnya di kelasnya? Bukankah dia satu kelas dengan Taemin dan lain-lain? Jujur saja aku takut untuk bertemu dengan Taemin.

    “Ppali! Aku tak punya banyak waktu,”

    Aku mendengus sebal. Sudah menyuruhku menjadi pesuruhnya, sekarang dia menyuruhku cepat ke kelasnya untuk mengambil tasnya. “Ne,” sahutku lalu melangkah dengan menghentak-hentakkan kaki.

    Semoga saja tidak bertemu anak-anak brandal itu terlebih lagi Taemin.

    Mungkin aku sedang beruntung. Kelas Kwangmin Sunbae sedang sepi, tak ada seorang pun di dalam.

    Baru saja aku hendak membuka pintu kelas tapi tangannku berhenti di udara kosong. Bagaimana aku tahu tas milik Kwangmin Sunbae yang mana? Bodoh. Kenapa tadi aku tidak bertanya dulu?

    Aku mundur selangkah begitu mendengar langkah seseorang. Kini orang itu berdiri di depanku seraya memegang kenop pintu kelas. Aku memberanikan diri melihat orang itu dan mendapati seorang laki-laki tengah menatapku dari bawah sampai atas dengan pandangan bertanya.

    Aku menunduk lagi lalu melihat pintu terbuka dan diikuti langkah kaki laki-laki itu memasuki kelas. Kenapa aku tidak bertanya padanya?

    “Chogiyo…” aku membuka mulut dan kulihat laki-laki itu berhenti dan berbalik.

    “Ada apa?” tanyanya.

    “Boleh aku tanya yang mana tas Kwangmin Sunbae?”

    Kulihat ia menyipitkan matanya. Terang saja dia pasti curiga tiba-tiba juniornya menanyakan tas seniornya. Apalagi aku menanyakan tas Kwangmin Sunbae yang populer disekolah ini. “Kau… penggemarnya?”

    Dengan cepat aku mengibaskan tangan dan tertawa kikuk. “Aniyo, Sunbaenim. Aku disuruh oleh Kwangmin Sunbae sendiri untuk mengambil tasnya disini,”

    Sepertinya dia tidak percaya padaku.

    “Dimana Kwangmin?” tanyanya. Asumsiku dia menanyakan keberadaan Kwangmin Sunbae untuk membuktikan kebenaran ucapanku.

    Tentu saja itu pertanyaan mudah. Lagipula aku tidak sedang berbohong saat ini. “Dia di laboratorium,” jawabku. Kemudian dia menunjukkan meja di baris kedua dari depan dengan telunjuknya. Meja itu satu-satunya yang terdapat tas diatasnya. Dan aku yakin sekali kalau itu tas milik Kwangmin Sunbae.

    Aku menghampiri meja yang dimaksudnya dan mengambil tas itu. Kemudian aku membungkuk sebelum keluar dari kelas. “Gamsahamnida, Sunbaenim,” ucapku lalu beranjak pergi.

    Pintu terbuka lagi dan kulihat Lee Taemin masuk.

    Aduh, kenapa harus bertemu dengannya?

    Kulihat Taemin menyeringai dan melangkah semakin dekat. Aku hanya bisa diam mematung di tempatku. “Kebetulan kau disini,” katanya. “Kemarin aku belum selesai bicara.” Lalu ia menarik tanganku dan mencoba membawaku keluar.

    Aku menahannya. “Sunbae, tapi aku harus mengantarkan tas Kwangmin Sunbae ke laboratorium,”

    Dia berhenti dan berbalik sebelum membawaku keluar kelas. Ia mengambil tas yang kupegang dan melemparnya pada laki-laki yang tadi memberitahuku tas milik Kwangmin Sunbae. “Jinki, bisa kau berikan padanya?”

    Oh, jadi itu yang namanya Jinki? Yang meminjami buku catatan miliknya pada Kwangmin Sunbae?

    Laki-laki bernama Jinki mengangguk masih dengan pandangan bingung. “Tentu,” sahutnya dan membuat Taemin kembali menyeretku.

    Dia membawaku ke tempat sepi yang jarang sekali di lewati atau dikunjungi murid ataupun guru. “Ya! Sunbae, sebenarnya kau mau apa, huh?” tanyaku. Entah kenapa aku mendapat keberanian untuk bicara seperti ini didepanya. Bukankah harusnya aku bersikap berani dibelakangnya bukan didepannya?

    Dia berhenti dan melepas pergelangan tanganku kemudian membalikkan badannya. “Hanya kau satu-satunya junior yang berani bicara seperti itu padaku,”

    Aku diam. Bodoh. Harusnya aku tidak bicara begitu.

    Aku menghela nafas sebelum berbicara lagi. “Baiklah. Maafkan aku,” ucapku sembari menunduk. “Jadi?” tanyaku langsung ke inti.

    Kulihat dia menyeringai mengerikan kepadaku ketika aku tengah melihatnya lalu. “Buat Su Jie dan Minho berpisah,”

TBC

16 thoughts on “[Chapter 5] Teenager Love Story

  1. yeaaay keluar juga part ini *loncat-loncat breng kwang*

    asikk ada kwangmin nongol hoho🙂
    eonni-ya, taeminnya suka sama su jie ya?? hehe #sok tahu

    jangan2 kwangmin suka sama ji eun ya?? #sok tahu lagi.
    smoga ji eun juga suka sama kwangmin hehe

    lanjutannya jangan lama2 ya eon😉

  2. ommooo.. Akhirnya nongol juga ini story .. aku nungguin sampek lumutan cingu. Ehehehe ^^”
    Cepet next yah..? Makin penasaran ntar jieun sama sapa yah akhirnya?

  3. Annyeong…
    Thor itow kwangmin.a cuka ma IU yak…
    Ckckck…
    N Taemin cuka’ ama Suzy ya kira’in ama IU.a…
    Aduh dah deh aq mw lanjut…
    Keep writing yak thor…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s