[Chapter 2] Still Alive



 

 

  • Tittle        : Still Alive
  • Author    : Ennyhutami
  • Lenght    : Twoshoot
  • Genre        : Fantasy, Romance, Family, Frendship, Tragedy, Sad, Angst
  • Rating        : PG-13
  • Cast        :
  1. Han Hyera
  2. Choi Siwon
  3. Kang Sehee
  4. Lee Jinki
  5. Jung Soo Jung
  6. And other
  • Disclaimer    : This plot is mine, Ennyhutami’s fanfiction 2012.

     

    RCL like oxigen for author

     

    Kenapa dia pergi? Kenapa hanya aku yang masih bertahan? Kini aku sendirian disini. Untuk apa aku hidup?

    ~ooOoo~

 

Entah kenapa aku merasa sepi saat ini. Aku memang selalu sendirian sebelumnya, namun ini terlalu… asing. Pertanyaan-pertanyaan yang sama terus saja berputar di otakku. Apa yang terjadi denganku? Kenapa aku disini? Kenapa tak ada yang bisa melihatku atau mendengarku? Kenapa aku terpisah dengan tubuhku? Kenapa hanya aku yang masih hidup?

    Sekarang tubuhku sudah dipindahkan ke ruang perawatan setelah berada di ruang operasi selama hampir dua jam lamanya. Paman dan Bibiku sudah datang begitu juga dengan sepupuku.

    “Sampai kapan dia akan begini?” aku mendengar adik sepupuku yang selalu menatapku dengan kebencian yang tak kumengerti alasannya, Jung Soo Jung, bertanya pada Dokter yang menanganiku ketika saat diruangan itu hanya ada dia, Bibi Han—dia Kakak Ayahku, Dokter dan Sehee. Aku mengenal orang ini—maksudku Dokter yang menanganiku. Dia seniorku saat disekolah dulu. Tapi aku tidak tahu siapa namanya.

    Kudengar Dokter itu menghela nafas. “Saya tidak bisa menebaknya. Banyak tulangnya yang patah dan geger otak yang di alaminya memperparah kondisinya saat ini.” jelasnya. Aku menatap nanar ke tubuhku yang tertidur di atas bangsal dengan tubuh seperti mumi yang beberapa di bagian tubuhku di pasang perban. Tubuhku saat ini benar-benar menyedihkan. Seperti mayat, pucat, namun bagian dada turun naik tanda masih bernafas walaupun tidak begitu terlihat.

    Aku mengalihkan pandanganku pada Sehee yang berdiri tepat dibelakang Dokter itu dan kulihat tangannya meremas jas putih Dokter itu. “Kau harus menyelamatkannya, Jinki-ya,”

    Dokter itu menoleh kebelakang dan tangannya melepas cengkraman tangan Sehee pada jasnya lalu menggenggam tangan Sehee. “Aku akan berusaha semampuku. Lebih baik kau pulang dan istirahat.”

    Kulihat Sehee menggeleng. “Andwae. Aku mau disini.” Aku menatap Sehee. Kenapa dia masih memperdulikan aku setelah mendapatkan perlakuan buruk dariku?

    “Bibi dan Nona juga lebih baik istirahat. Kalian belum makan apa-apa sejak dia di pindahkan kemari.” Aku mendengar Dokter—yang bernama Jinki—itu kembali menasehati Soo Jung dan Bibi Han. Ah, aku ingat. Lee Jinki. Dokter Lee.

    Keduanya menggeleng. Bibi Han masih menatapku dengan mata lelahnya sedangkan Soo Jung langsung mengalihkan pandangan dari Dokter Lee ke Bibi Han. “Amma, kau pulanglah. Biar aku yang menjaga Hyera.” ujar Soo Jung lembut. Aku baru pertama kali mendengar suara yang seperti ini. Aku mendengar ada ketulusan yang terucap dari bibirnya.

    “Kenapa tidak kau saja yang pulang? Bukankah kau membencinya?” bahkan Bibi Han juga tahu kalau Soo Jung membenciku?

    Soo Jung terdiam. “Amma,” hanya gumaman kecil yang terdengar dari bibirnya. “Jebal, jangan seperti ini. Kau sedang sakit.”

    Bibi Han tidak bergeming. Dia masih saja terus menatapku dengan pandangan lelahnya. “Jangan membencinya. Dia sudah sangat menderita kehilangan keluarganya.”

    Sehee dan Dokter Lee terdiam tanpa bergerak diposisinya menatap mereka berdua. Sedangkan aku melihat mata Soo Jung mulai memerah dan air mata menetes dari pelupuk matanya. Aku menutup mulutku tak percaya. “Dia… menangis?” gumamku tak percaya. Karena apa? Karena mengasihaniku atau apa?

    “Bibi, lebih baik Anda istirahat.” Kata Dokter Lee seraya menghampiri Bibi Han. “Biar saya antarkan ke rumah.”

    Kulihat Bibi Han menoleh pada Dokter Lee. “Tidak usah. Aku bawa mobil.” Tolaknya seraya tersenyum pada Dokter Lee. “Hyera-ya, cepatlah bangun. Kami semua menunggumu.” Aku tertegun. Siapa yang menungguku? Aku sudah tidak punya orang tua. Bahkan Adikku juga sudah pergi ikut dengan Ayah dan Ibu. Untuk apa aku kembali untuk hidup?

    Setelah Bibi Han keluar dari ruangan ini dan diantar oleh Dokter Lee, Soo jung duduk di samping bangsal yang tadi di duduki oleh Bibi Han. Lalu dia menangkupkan wajahnya di kedua tangannya.

    “Kenapa kau bersikeras untuk tetap disini?” aku melihat Sehee sedang menatap Soo jung tajam. “Dan kenapa kau membencinya? Dia sepupumu.” Lanjutnya dengan menekan kata di akhir kalimat.

    Soo Jung mengangkat kepalanya dan menatapku dengan pandangan yang tak bisa kumengerti. “Aku tahu.” Ujarnya lalu mengedarkan pandangan ke sekitar ruangan. “Aku hanya ingin meminta maaf padanya.”

    “Kenapa kau membencinya?” ulang Sehee tak menghiraukan jawaban Soo Jung.

    Soo Jung menundukkan kepalanya dalam-dalam. Jari-jarinya saling bertautan di atas kakinya. “Siwon Sunbae menyukainya—aku tahu ini terdengar tidak masuk akal. Sangat kekanakan.”

    Hanya itu? batinku. Dia membenciku karena Siwon menyukaiku? Aku benar-benar tidak habis pikir. Memang dugaanku selama ini benar. Urusan laki-laki maupun urusan cinta itu rumit. Aku lebih suka kalau aku tidak terlibat di dalamnya.

    “Aku tahu dia di sini sedang menatapku dan menatap kau juga mendengarkanku bicara. Jadi aku ingin memberinya semangat untuk tetap bertahan.” Aku membelalakan mataku terkejut begitu juga Sehee. Bibir Sehee bergerak-gerak namun tak juga mengeluarkan suara. Jadi Soo Jung kembali bicara. “Aku hanya ingin memberitahunya kalau aku menyayanginya seperti aku menyayangi Kakakku.”

    Sehee menutup mulutnya dengan kedua telapak tangannya sedangkan matanya mengedar ke segala sudut di ruangan ini. Aku tahu Sehee pasti berpikir ini tidak masuk akan. Jelas-jelas di ruangan ini hanya ada dia, Soo Jung dan tubuhku yang terbaring di bangsal.

    “Apa maksudmu?” suara Sehee bergetar.

    Soo Jung tak menghiaraukan pertanyaan Sehee. Dia justru kembali bergumam lagi dengan menatap tubuhku. “Tetaplah hidup. Banyak yang menyayangimu termasuk Ibu dan Ayahku. Aku ingin kau tetap hidup.”

~ooOoo~

 

Aku benar-benar tidak mengerti dengan orang ini, kenapa dia terus mengikutiku dan mencampuri urusanku?

    “Hyera-ya, kau benar-benar tidak mengerti ini, ya?”

    Aku mendengus. Sejak kapan dia duduk disebelahku? Siapa yang mengizinkannya?

    “Ini mudah. Kau hanya perlu memakai rumus yang ini dan yang ini. Kalau kau terus latihan mengerjakan soal seperti ini, pasti—”

    Dentingan bel tanda pelajaran usai terdengar. Aku langsung menutup buku dan membereskannya lalu beranjak pergi untuk pulang tanpa menghiraukan ucapan Sehee yang terpotong akibat dentingan bel. “Hyera-ya, ayo pulang bersama.” Ajaknya.

    Aku mengenakan tasku di punggung dan beranjak keluar tanpa membalas ajakannya. Aku ingin segera pulang kerumah.

    “Pulang bersama?” aku menoleh kesamping dan mendapati Siwon melangkah disampingku dengan memandang lurus kedepan.

    Aku mendengus lalu mempercepat langkahku tanpa menghiaraukan dia yang berteriak memanggilku. Memang siapa dia berani mengajakku pulang bersama?

    “Siwon Sunbae,” entah karena apa aku berhenti dan berbalik begitu mendengar suara yang kukenal memanggil laki-laki-yang-tiba-tiba-mengajakku-pulang-bersama. Kulihat Siwon juga berbalik untuk melihat gadis yang memanggilnya sedangkan gadis itu tersenyum pada Siwon seraya berlari kecil. “Sunbae, ayo pulang bersamaku.”

    “Soo Jung-ah, Mianhae. Aku ingin pulang bersamanya.” Kulihat Siwon menunjukku dan Soo Jung mengikuti arah telunjuk Siwon.

Aku mengerutkan kening. “Kau pulanglah dengan Soo Jung.” Kataku lalu berbalik untuk kembali melangkah pulang. Lalu teringat sesuatu, akupun berbalik lagi. “Soo Jung-ah, Amma menyuruhmu ke rumah,” tambahku berbicara dengan Soo Jung.

Kulihat Soo Jung mengangguk. “Oe, nanti aku menyusul.”

Aku melihat Siwon tersenyum padaku dan Soo Jung bergantian dengan mata yang berbinar. “Kalau begitu, ayo ke rumah Hyera bersama.”

Baru saja aku hendak memprotes perkataannya tapi Soo Jung menyela lebih dulu. Ck, kenapa Siwon mirip sekali dengan Ayah? Selalu memutuskan sendiri.

“Untuk apa Sunbae ke rumah Hyera Onni?” tanya Soo Jung. Aku menoleh pada Siwon tanda setuju. Untuk apa dia ke rumahku?

Siwon menatap Soo Jung dengan senyuman misterius. “Aku dijodohkan dengannya,”

Apa?! Aku membelalakan mataku mendengar pengakuan Siwon lalu menyikutnya untuk menegurnya. Untuk apa dia berkata seperti itu pada Soo Jung? Jelas-jelas aku belum bilang kalau aku setuju dengan perjodohan ini. Dengan kesal aku berbalik dan meninggalkan mereka berdua. Bodoh. Laki-laki itu bodoh atau idiot?

Ya! Han Hyera! Tunggu aku!” aku mendengar Siwon berteriak memanggilku. Aku bergeming sambil terus melangkah. Lalu kurasakan ia merangkulku.

Tanpa banyak bicara, aku melepaskan rangkulannya dan berjalan lebih cepat. “Jalanlah dengan benar!” ucapku sakartis.

~ooOoo~

 

Sudah berjam-jam aku berjongkok di sudut ruangan. Tadi aku melihat Dokter Lee kembali dan menyelimuti Sehee yang tertidur di sofa yang di sediakan di ruangan. Dia juga sempat menatap Soo Jung dan tubuhku di atas bangsal dengan tatapan nanar.

    Aku berdiri begitu pintu terbuka lagi. Kulihat Siwon masuk dan langsung terkejut begitu melihat Soo Jung tertidur di kursi di samping bangsal lalu mengedarkan pandangannya ke saentero ruangan. “Walaupun sikapmu dingin pada orang lain, tapi tetap saja mereka menyayangimu,” Aku mendengarnya bergumam. “Kau gadis yang beruntung.”

    Lalu dia membalikkan badannya hendak keluar ruangan. Dan kulihat Sehee terbangun lalu ketika menyadari Siwon baru saja keluar, dia menyingkirkan selimut dan mengejar Siwon.

    Karena penasaran, aku juga mengikuti kemana mereka pergi dan membiarkan Soo Jung tidur.

    “Siwon!” kudengar Sehee memanggil namanya dengan volum suara yang tidak begitu keras.

    Siwon berhenti dan berbalik lalu melempar pandangan heran pada Sehee. “Wae?” tanyanya. Konyol. Aku benci wajah polosnya seperti itu.

    “Ceritakan padaku.” Kata Sehee yang membuat alisku terangkat. Kenapa dia selalu ingin tahu urusan orang lain? “Semuannya. Tentang perjodohanmu, kenapa sampai sekarang kalian belum bertunangan, dan rasa sukamu pada Hyera. Bukankah kau berpacaran dengan Yoona selama dua tahun?”

    Kulihat Siwon menghela nafas. “Ayo cari restoran. Aku yakin kau lapar.”

    Sehee hanya mengangguk. Aku tidak mengerti dengan mereka. Siwon dengan Im Yonna? Brengsek! Kalau seperti itu kenapa bilang menyukaiku dan bertahan pada perjodohan ini selama bertahun-tahun? Benar-benar laki-laki keparat! Bahkan aku mulai membuka hatiku padanya!

    Akhirnya aku memutuskan untuk mengikuti mereka yang melangkah menuju restoran di dekat rumah sakit.

    “Jadi?” Sehee membuka percakapan ketika makanan yang sudah dipesankan datang dan pelayan itu pergi.

    Kenapa melihat makan yang terhidang dimeja aku sama sekali tidak merasa lapar? Padahal aku belum makan apa-apa. Aku terasa hampa tapi emosi masih berkecambuk di hatiku. Apa ini yang orang rasakan ketika dia berada di antara hidup dan mati?

“Sebenarnya aku yang meminta perjodohan ini,”

Mwo?” aku dan Sehee sama-sama memekik kaget dengan pengakuan Siwon barusan. Bedanya, suaranya terdengar sedangkan suaraku tidak.

Bisa-bisanya Siwon meminta perjodohan ini? untuk apa? Dan kenapa Ayah menurutinya? Tak tahukah kalau akku tidak suka dengan perjodohan ini? sinting. Dia benar-benar sinting.

“Kau tahu kalau dia tidak suka dengan perjodohan ini?” aku mengalihkan pandangan geramku yang semula menatap Siwon kini menoleh pada Sehee. “Waktu itu kau masih bersama Yoona! Kenapa kau sangat egois?” kulihat Sehee memutar bola matanya guna menyindir Siwon.

“Tenanglah,” ucap Siwon dengan santai begitu Sehee menjerit tertahan. Untung saja restoran ini cukup sepi, jadi tak banyak yang melihat. Aku rasa bagi orang yang melihat mereka akan beramsumsi kalau mereka berdua adalah sepasang kekasih yang sedang bertengkar. Bahkan aku juga melihat mereka seperti begitu. Kenapa Sehee tak bersama Siwon saja? Aku rasa Sehee juga menyukainya.

Kulihat Siwon hendak membuka mulutnya namun tak jadi lalu dia mengusap wajahnya dengan kasar menggunakan telapak tangannya. “Kau tidak mengerti,” ucap Siwon di balik telapak tangannya. Suaranya terdengar putus… asa? Ada apa dengannya?

“Aku tidak akan pernah mengerti kalau kau tidak menceritakannya padaku!” balas Sehee dengan sedikit berteriak. Hey, apa-apaan dia? “Kau tahu aku sudah menganggap Hyera sahabatku sendiri walaupun dia tidak begitu. Kau juga tahu karena dia sampai sekarang aku bisa bersama Jinki. Dan aku sangat ingin berterimakasih padanya namun dia selalu menghindar. Sebenarnya aku sudah tak ingin mendekatinya karena sikap dinginnya, tapi entah kenapa dia seperti magnet sampai-sampai aku ingin sekali dekat dengannya.”

Aku tersentak mendengar penjelasan panjang lebar Sehee. Benarkah? “Kalau begitu kenapa kau masih terus mendekatiku bahkan mengurusi urusanku?!” balasku menjerit tapi seberapapun aku berteriak, mereka berdua juga tak akan mendengarkanku.

Heran. Kenapa saat ini emosi tak bisa kukendalikan seperti dulu? Menangis, marah, kesal, sedih. Apa ini rasanya berada di antara hidup dan mati? Entahlah. Aku hanya sekali merasakan ini dan aku tak ingin merasakannya kembali.

Bisa kulihat sehabis aku menjerit Sehee langsung terkesiap dengan wajah heran, takut, dan kaget. Apa dia bisa mendengarku?

Wae?” dari ekor mataku, kulihat Siwon menatap Sehee dengan heran.

Sehee hanya menggeleng pelan menanggapi pertanyaan Siwon sambil memengang tengkuknya dan melihat ke sekeliling. Aku mendengus. Kenapa dia tak jujur saja pada Siwon kalau dia mendengarku menjerit?

“Kalau begitu kenapa kau meninggalkan Yoona dan memilih Hyera?” aku yakin sekali Sehee sedang mengalihkan pikirannya. Tidakkah dia takut sekarang?

Bisa kudengar Siwon menghela nafas. “Kau sendiri tadi bilang kalau Hyera seperti magnet.” Katanya. “Aku juga merasa seperti itu. Dia… terlihat terlalu rapuh dibalik sikap dinginnya.”

Mwo? Rapuh katanya? Aku mendengus tak percaya. “Siapa bilang aku seperti itu, Choi Siwon?” desisku geram. Kenapa dia selalu saja berpikiran aneh-aneh tentangku?

“Aku ingin melindunginya. Membuatnya tersenyum.” Aku menganga mendengar ia melanjutkan bicara. Apa yang barusan dia bilang itu… benar? Kupeganga dadaku yang terasa berdetak lebih cepat. Bahkan sekarang aku yang sedang berada di antara hidup dan mati masih bisa merasakan degub jantungku yang berpacu lebih cepat. Kenapa hanya karena mendengarnya bicara seperti itu membuat jantungku berdegub tak karuan? “Tapi seperti yang kau lihat, dia menentang perjodohan. Kalau saja dia menerimanya, pasti sekarang kami sudah bertunangan.”

Aku terenyak. Bahkan pertunangan sudah di siapkan kalau saja aku tak menentangnya.

“Kenapa kau tetap bertahan? Sudah empat tahun berlalu semenjak kalian dijodohkan,”

Ternyata pemikiranku dan Sehee sama. Aku juga menanyakan itu dalam hati. Kenapa ia tetap bertahan.

“Karena perlahan aku makin mencintainya.”

¯

 

Kembali ke kamar rawatku tidak akan membuatku tenang. Jadilah aku menaiki tangga menuju atap rumah sakit yang penuh dengan kain-kain putih tergantung dan bertebaran diterbangkan oleh angin yang berhembus di akhir musim gugur.

Angin dingin yang seharusnya membuatku kedingin sampai menembus tulang tak terasa di tubuhku sekarang. Seperti mati rasa namun hatiku merasakan semuanya. Emosiku tak bisa kukendalikan seperti dulu, sewaktu aku masih hidup.

Apa ini sudah direncanakan untuk hidupku? Hanya aku sendirian disini tanpa Ayah, Ibu dan Hyemi dengan keadaan di antara hidup dan mati. Apa ini untuk mengujiku karena sikap dinginku selama ini?

Tapi aku benar-benar tak percaya dengan perkataan Sehee yang ingin tetap menjadi sahabatku walaupun… yah, sikapku yang tidak ramah padanya. Siwon yang ternyata mencintaiku. Dan Soo Jung yang ternyata ingin aku tetap hidup. Ada apa dengan mereka semua?

AmmaAppa… Hyemi-ya… aku butuh kalian. Kenapa kalian cepat sekali pergi meninggalkan aku sendirian disini?

 

Sudut pandang Author

 

Suara monitor yang berbunyi dengat cepat membangunkan Jung Soo Jung yang tertidur di samping bangsal tempat tubuh Han Hyera terbaring dengan banyak alat kedokteran di pasang di sekujur tubuhnya.

Soo Jung menggeliat meregangkan otot-ototnya lalu menatap layar monitor yang membangunkannya. Seketika matanya membulat begitu menyadari layar monitor yang menunjukkan detak jantung Hyera yang melemah. Ia memencet tombol merah dengan tidak sabar di sisi bangsal lalu berlari keluar ruang rawat kelas atas itu dengan panik. “Jinki! Dimana Dokter Lee?!” tanyanya sambil berteriak dan berlari menyusuri lorong rumah sakit seperti orang gila.

Seorang perawat datang menghampiri Soo Jung dan langsung menenangkan gadis itu. “Nona, tolong tenanglah. Dokter Lee sedang berjalan kemari.”

Bukannya tenang, Soo Jung justru memaki perawat itu. “Bagaimana aku bisa tenang? Sepupuku sekarat sekarang, bodoh!”

Perawat itu mengulum semyumnya. “Baiklah, nona, dimana ruang rawat sepupumu?” tanyanya sesopan mungkin lalu mengajak Soo Jung untuk kembali ke ruang rawat Hyera.

Di dalam ruang yang di maksud Soo Jung, sudah terdapat Dokter Lee dan tiga perawat lainnya sedang mencoba membuat jantung Hyera berdetak kembali. Soo Jung terpaku di tempatnya sambil menutup mulutnya dengan telapak tangannya. Air matanya jatuh dengan bebas.

Dua orang lainnya yang baru saja kembali restoran saling bertatapan dengan pandangan bingung begitu melihat ruang rawat Hyera terbuka.

“Hanya perasaanku saja atau apa?” tanya gadis itu pada lelaki di sampingnya. Dan di tanggapi dengan mengangkat bahu oleh lelaki itu tanda tak tahu lalu lelaki itu melangkah lebih dulu.

Langkahnya terhenti melihat suasana di dalam ruangan tersebut. Gadis yang tadi penasaran dengan apa yang terjadi didalam. Kenapa perasaannya tidak enak begini? Ia menyembulkan kepala dari belakang tubuh lelaki yang mematung di ambang pintu dan melihat kekasihnya, Lee Jinki atau yang biasa dipanggil Lee Jinki, bersama beberapa perawat mengelilingi bangsal tempat Hyera terbaring. Ia juga melihat disisi lain ruangan itu Soo Jung yang menangis dengan tangan yang menutupi mulutnya.

“Hyera…” gumam gadis itu pelan. Seperti berbisik sangking kelu lidahnya untuk berbicara.

Soo Jung berbalik begitu mendengar suara di belakangnya. Sedangkan perawat yang tadi mencoba menenangkan Soo Jung justru mendapat cacian darinya menyuruh Soo Jung dan dua orang lainnya untuk keluar demi memudahkan pekerjaan Dokter Lee dan beberapa perawat lainnya.

Kali ini Soo Jung menurut dan mengikuti perawat itu keluar. Setelah mereka berada diluar, gadis yang baru saja datang tadi menatap tajam pada Soo Jung. “Kau gila? Apa yang kalu lakukan pada Hyera?!” bentaknya. Emosi sudah mengendalikan kerja otaknya sampai-sampai ia sudah tak lagi memikirkan sekitarnya.

Soo Jung tak bergeming. Ia hanya menunduk sedangkan tangannya menekan beberapa angka di ponselnya. “Halo, Amma, kemarilah… ne… aku tak tahu! Kenapa kau selalu menyalahiku?!” ia menghela nafas berat lalu menutup ponselnya. Saat ia mendongak, pipinya mendapati tamparan dari tangan gadis yang berbicara padanya namun tak dihiraukan. Sekarang emosinya sudah memuncak. “Apa maumu, Sehee-ssi?” tanyanya geram dan menekankan tiap kata di kalimat pertanyaannya.

Laki-laki yang memang hanya sendiri itu menahan lengan Sehee untuk menenangkan wanita ini namun di tepis dengan kasar. “Jangan ikut campur!” bentaknya pada laki-laki itu.

“Sehee-ssi, ingat ini di rumah sakit,”

Sehee menghela nafas mencoba mengatur emosinya yang memuncak. “Terima kasih mengingatkanku, Siwon-ssi,” ucapnya lalu duduk di kursi tunggu. “Maaf Soo Jung-ssi, aku kehilangan kendali,”

Soo Jung dan Siwon kembali duduk sambil menunggu. Beberapa detik kemudian Dokter Lee keluar dari ruangan dengan senyum yang entah kenapa selalu menghiasi wajah dan membuat matanya membentuk bulan sabit. “Otthe?” tanya mereka bertiga serentak tak sabar dengan jawaban Dokter Lee.

“Masa kritisnya sudah lewat namun dia masih koma,”

“Syukurlah,” ucap Sehee sambil menghela nafas lega. Ia kira akan terjadi hal buruk pada Hyera.

“Kami boleh masuk?” tanya Soo Jung dan ditanggapi oleh Dokter Lee dengan anggukan dan senyum ramah. Lalu ia masuk kedalam ruang rawat dan diikuti oleh Siwon, Sehee, dan Dokter Lee sedangkan para perawat yang tadi membantu Dokter Lee keluar begitu selesai membereskan alat-alat kedokteran.

Gomawo,” bisik Sehee pada Lee Jinki disebelahnya. Menyadari kening Jinki mengerut, Sehee segera melanjutkan. “Karena sudah menolong Hyera.”

Jinki tersenyum. “Jangan berterima kasih padaku. Berterimakasih pada Hyera karena mau tetap hidup.” Sehee mengerutkan kening tak mengerti dengan apa yang dikatakan Jiki. Jinkipun membungkukkan badannya hingga bibirnya tepat disamping telinga Sehee. Membuat gadis itu merasakan desahan nafas Jinki. “Tubuh Hyera memang terbaring namun jiwanya tidak,”

Sekarang Sehee mengerti. Apa suara jeritan yang di dengarnya di restoran itu Hyera?

“Kita tungggu saja keputusan Hyera. Sangat sulit untuk mengira keputusan orang yang berada di hidup dan mati sepertinya apalagi seluruh keluarganya meninggal.” Sehee mengerti. Mungkin kalau Sehee yang berada di posisi seperti itu, dia juga ingin mengakhiri hidupnya. Kemudian Jinki menenggakkan badanya. “Kau sudah makan?” tanya Jinki.

“Su—”

Perkataan Sehee terpotong dengan suara debaman pintu yang terbuka dengan kasar. Mereka semua terkesiap kecuali Hyera yang masih berbaring di bangsal. Sedangkan Soo jung langsung berdiri begitu melihat siapa yang berada di ambang pintu. “Hyera baik-baik saja?” tanya wanita yang berdiri di ambang pintu dengan nafas tersenggal.

Amma, dia baik-baik saja,” sahut Soo Jung sembari menghampiri wanita itu.

Ibu Soo Jung, Han Hae Jung, menatap anaknya kesal. “Harusnya aku tidak membiarkan kau disini.” Katanya lalu menampar anaknya. Seketika, Siwon berdiri sedangkan Jinki dan Sehee tersentak kaget melihatnya.

Untuk kedua kalinya Soo Jung mendapat tamparan dari dua orang berbeda dalam waktu kurang dari satu jam. Apa salahnya hingga dia di tampar seperti ini?! Soo Jung masih memegang pipinya yang memerah bekas tangan Ibunya tanpa mengubah posisinya dan tanpa menoleh pada siapapun. Saat ini di kepalanya hanya ada pertanyaan kenapa semua orang tak percaya pada dirinya.

“Bibi,” Jinki angkat bicara untuk mencairkan suasana yang tegang. Jinki tahu kalau wanita di hadapannya ini menuduh Soo Jung yang membuat keadaan Hyera memburuk. Pikiran konyol. Walaupun begitu, Soo Jung tak akan berani membuat sepupunya sendiri mati. “Ini bukan salah Soo Jung. Hanya saja detak jantung Hyera melemah,”

Han Hae Jung membelalakan matanya terkejut. Dia salah. Sangat salah sampai-sampai ia menampar anaknya sendiri. “Soo Jung-ah,” pangginya ketika Soo Jung mulai berlari keluar.

Apa yang dipikirkan Ibunya sampai-sampai ia tega menampar Soo Jung? Selama sembilan belas tahun ia hidup bersama Ibunya, Soo Jung tidak pernah mendapat perlakuan seperti ini. Ibunya memang sering memarahinya, namun untuk menampar tidak pernah sekalipun.

“Soo Jung,”

Soo Jung tak bergeming mendengar seseorang memanggilnya. Ia tahu siapa yang memanggilnya. Suara itu sudah sangat dihafal oleh Soo Jung.

“Jangan seperti itu. Kau tahu Ibumu menyanyangimu.”

Soo Jung tertawa hambar. “Sayang?” katanya meremehkan. “Apa menampar anaknya sendiri bisa disebut kasih sayang, Choi Siwon-ssi?”

Siwon menghela nafas lalu duduk disamping kursi yang di duduki Soo Jung. “Itu karena Ibumu tak mau kau menjadi orang jahat yang menyakiti sepupunya sendiri,” ujar Siwon lembut sembari mengelus puncak kepala Soo Jung.

Tadinya Soo Jung ingin menepis tangan Siwon namun tidak bisa. Bukan. Bukan karena tidak bisa melainkan tubuhnya menginginkan Siwon mengelus lembut puncak kepalanya seperti ini. Dia membutuhkan laki-laki ini untuk menenangkannya.

“Kalau kau sudah lebih tenang, kembalilah ke kamar rawat Hyera.” lalu Siwon berdiri hendak kembali ke ruang rawat Hyera namun dirasakan tangannya di genggam oleh Soo Jung. “Ada apa?” tanyanya heran. “Kau mau aku menemanimu disini?”

Soo Jung menggeleng tanpa mendongakkan kepalanya untuk melihat Siwon. “Mianhae,” kata itu mengalir begitu saja dari mulut Soo Jung yang membuat Siwon mengerutkan kening tak mengerti. “Maaf karena aku membencinya.” Lanjut Soo Jung menjelaskan maksudnya.

Siwon tersenyum senang melihat perubahan Soo Jung. Akhirnya gadis itu menyadari perbuatannya yang salah. “Tidak apa-apa.” Sahutnya lembut lalu memengang kedua bahu Soo Jung untuk menyuruhnya berdiri. “Ayo kembali ke kamar Hyera. Aku mau saat dia membuka mata, orang yang pertama kali dilihatnya adalah aku.”

Soo Jung tersenyum simpul mendengar perkataan Siwon barusan sembari mengikuti Siwon yang menarik tangannya. Kali ini dia harus benar-benar melupakan Choi Siwon dan merelakan seniornya itu pada sepupunya.

“Jinki! Tangannya bergerak!” begitu Soo Jung dan Siwon masuk, suara Sehee membahana di seluruh ruangan membuat Jinki yang di panggil Sehee terkesiap dan langsung berdiri yang tadinya sedang berbincang dengan Han Hae Jung tentang masalah Hyera.

Siwon langsung melepas genggaman tangan Soo Jung dan menghampiri bangsal yang di tempati oleh Hyera. Dengan perlahan tapi pasti, Siwon melihat mata Hyera sedikit bergerak-gerak sedangkan Jinki sedang memeriksa alat kedokteran di nakas di samping bangsal.

Siwon menggenggam tangan Hyera yang bebas dari alat infus sambil berharap-harap cemas. Jantungnya melompat-lompat menunggu Hyera yang akan segera pulih. “Hyera-ya, buka matamu,” gumam Siwon.

Dengan perlahan Hyera membuka matanya dan mengerjap-ngerjapkan matanya. Air mata menyusup dari matanya dan keluar begitu saja. Ia kini membuka matanya namun badannya terlalu lemah untuk digerakkan. Saat ia membuka mata, wajah Soo Jung yang berdiri di ujung bangsal terlihat.

¯

 

Hyera berdiri di depan cermin dengan perasaan gugup. Ia memang terlihat sangat cantik saat ini dengan balutan gaun berwarna pastel lembut dan rambut yang di dibiarkan jatuh secara alami di punggungnya.

    Suara deritan khas pintu terbuka terdengar. Hyera menghela nafas lagi. bisa dihitung ia sudah empat kali menghela nafas dalam satu menit. Entah kenapa dia merasa sangat gugup kali ini.

    “Onni, kenapa lama sekali?” seorang gadis masuk dan melihat Hyera dengan terkagum-kagum. “Kau sudah cantik.” Katanya dan mau tak mau membuat pipi Hyera merona. “Ayo, Siwon Oppa sudah menunggumu dibawah.”

    “Soo Jung-ah,” panggil Hyera pelan dan membuat Soo Jung mendekat. Mereka membagi cermin saat ini. “Aku takut,” bisiknya sambil menggigit bibir bawahnya dan membuat Soo Jung tertawa.

    “Onni, kau kan hanya akan bertunangan bukan menikah,” kata Soo Jung sambi merapihkan rambutnya yang ia kuncir setegah. “Bagaimana jika kalian menikah nanti?”

    Hyera mengerucutkan bibirnya. “Ya! Jangan membuatku semakin gugup,” semenjak kecelakaan yang membuat Hyera koma, ia sudah menetapkan hati untuk merubah sifatnya menjadi lebih hangat dan memutuskan untuk menyetujui perjodohan. Setelah itu pikirannya jauh lebih tenang karena ia mulai membagi pikirannya dengan Soo Jung yang kamarnya berada di depan kamar Hyera dan Sehee yang hampir setiap hari bermain dirumah Soo Jung dan Hyera.

    “Kalian lama sekali,”

    Mereka berdua berbalik dan melihat Sehee yang menyembulkan kepalanya di balik pintu. “Onni, dia gugup,” kata Soo Jung sambil terkekeh berniat untuk menggoda Hyera. “Kajja!” lalu Soo Jung mulai menarik Hyera agar Hyera keluar dar kamar.

    Saat berada di anak tangga paling atas, Hyera menghela nafas sekali lagi lalu menginjak anak tangga yang menurun dengan perlahan. Ia melihat Siwon berdiri menunggunya di anak tangga paling bawah dengan senyumannya yang sangat menawan. Sesampainya ia di bawah, ia menaruh tangannya di atas tangan Siwon yang sudah siap untuk menggenggamnya. “Selamat datang kembali, nyonya Choi.”

End

4 thoughts on “[Chapter 2] Still Alive

  1. .awalnya aku bingung baca ff ini
    .trus lama kelamaan jdi tau
    .kalo itu sudut pandang hyera
    .ternyata banyak flashbacknya
    .yha keren deh
    .dapet bgd feelnya

    • ah, mian chigu ngebingungin. jeongmal mianata. iya, semua sudut pandang hyera dan yg tulisan miring itu flashback. gomawoyo, chigu:D baca lanjutannya yaa^^

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s