[Chapter 1] Still Alive



  • Tittle        : Still Alive
  • Author    : Ennyhutami
  • Lenght    : Twoshoot
  • Genre        : Fantasy, Romance, Family, Frendship, Tragedy, Sad, Angst
  • Rating        : General
  • Cast        :
  1. Han Hyera
  2. Choi Siwon
  3. Kang Sehee
  4. Lee Jinki
  5. And other
  • Disclaimer    : This plot is mine, Ennyhutami’s fanfiction 2012.
  • Note : disini lumayan ribet nih jalan ceritanya. Jadi, bagian yang kecetak miring itu masa lalunya. Maaf kalau gak ngerti. rada ribet sih emang. tapi Happy reading^^

    RCL like oxigen for author

Semua tidak akan sama lagi setelah ini. Semua berubah. Kini aku merasa asing, sendirian karena tak ada siapun yang menemaniku disini.

    Aku tahu ini memang kesalahanku sendiri. Kenapa aku begitu ceroboh? Kenapa aku melakukan itu? apa sebenarnya yang aku pikirkan saat itu sehingga aku melakukan itu? kenapa? Pertanyaan-pertanyaan itu terus saja memenuhi pikiranku.

    Aku menjerit sekuat yang bisa dilakukan suaraku tapi tetap saja tak bisa merubah apa yang terjadi sekarang. Ini semua karena perbuatanku. Kalau saja aku fokus pada kemudi dan tidak bergurau pasti ini semua tak akan terjadi padaku dan keluargaku.

    Aku benar-benar menangis sekarang. Air mata tak bisa kubendung lagi. Kututup mulutku dengan kedua telapak tanganku menahan jeritan disela-sela tangisku yang pecah.

    Kulihat didepanku tergeletak seorang wanita yang sangat kusayangi dengan sekujur tubuhnya berlumur darah. “Amma…” isakanku begitu menjadi begitu melihat Ayah dan Adik perempuanku juga tergelatak tak bernyawa yang jaraknya cukup jauh dari Ibuku. Mereka semua sudah pergi meninggalkan aku disini.

    “Siapapun, tolong keluargaku…” ucapku seraya berjongkok dengan sisa-sisa tenagaku. Kenapa hanya aku yang masih hidup dan bersih dari darah?

    Lalu aku melihat pemandangan yang sangat aneh. Didalam mobilku yang sudah terbalik, dapat kulihat dibalik kemudi ada seseorang namun wajahnya tak bisa kulihat. Aku mendekati mobilku yang sudah terbalik itu dengan perasaan yang tak bisa kugambarkan. Siapa dia? Bukankah tadi aku yang mengemudikan mobil?

    Aku menjerit begitu melihat sosok dibalik kemudi. Itu… bukankah itu aku.

Kenapa bisa seperti ini? Tuhan, kenapa kau buat aku seperti ini? Apa aku sudah mati? Kalau benar, kenapa aku tak melihat Ayah, Ibu dan adikku? Dimana mereka?

Lalu kulihat sebuah mobil berhenti cukup dekat dengan mobilku yang terbalik. Kulihat dibalik kaca mobil yang transparan itu seorang gadis menjerit histeris sedangkan lelaki disebelahnya—yang memegang kemudi segera mengambil ponselnya dan menelfon.

Dengan rasa panik yang masih menyelimutiku, aku berlari menghampiri mereka dan mengetuk kaca mobil tepat disamping gadis yang masih menutupi mulutnya dengan kedua tangannya dan menatap kedepan dengan pandangan terkejut, tak percaya dan takut menjadi satu.

“Nona, tolong keluargaku. Nona!” sekarang aku benar-benar putus asa. Ketukan dan panggilanku tak bisa didengar siapapun didalam mobil ini.

Laki-laki yang tadi sibuk dengan ponselnya kemudian membuka pintu mobilnya dan menatap kasihan pada tubuh-tubuh yang tak berdaya didepannya lalu dia melangkah menuju mobilku yang terbalik. “Tuan, tolonglah keluargaku dulu.” Kataku sia-sia karena laki-laki tak mungkin bisa mendengarku. Aku berjongkok putus asa didekat laki-laki yang sedang menyentuh leherku entah untuk apa. Aku yang sudah putus asa karena hanya aku yang disini padahal aku juga sudah mati sama seperti mereka, menyembunyikan wajahku dikedua tanganku yang memeluk lutut dan menangis sejadinya. Kenapa hanya ada aku? Kenapa?

“Dia masih hidup.” Aku menoleh begitu mendengar laki-laki itu bergumam. Apa artinya ini? Kalau aku masih hidup kenapa aku terpisah dengan tubuhku? “Sehee-ya, bantu aku! Gadis ini masih hidup!”

Aku berdiri dan melihat gadis yang tadi berada di dalam mobil dengan sigap keluar dan menghampiriku. Dan kulihat beberapa mobil sudah berhenti dibelakang mobil laki-laki yang sedang berusaha mengeluarkanku dari mobilku yang terbalik dan beberapa mobil polisi dan ambulan datang bersamaan.

Kenapa hanya aku yang masih hidup? Apa artinya aku hidup tanpa keluargaku?

“Hyera-ya, bertahanlah,” aku mendengar gadis yang membantu laki-laki ini menyelamatkanku bergumam saat ia mengantarku menuju rumah sakit terdekat.

~ooOoo~

“Hyera-ya, kau mau kemana?” aku terus saja berjalan tak memperdulikannya yang mengejarku.

    “Ya! Hyera-ya, mau kemana? Tunggu aku.”

    Aku merasa lengan sebelah kananku digenggam seseorang. Aku berhenti dan berbalik untuk menatapnya dengan tajam. Kenapa dia terus saja mengikutiku? “Jangan ikuti aku.” Ancamku seraya menghentakkan tangannya yang sedari tadi bergelayut dilenganku. Aku benci keadaan seperti ini. Saat aku menolong orang yang sedang dalam masalah dan orang yang kutolong terus saja berbicara denganku seolah dia mengenalku.

    “Hyera-ya…”

    Walaupun aku mendengar nada kecewa di suara, tapi aku tak peduli. Benar-benar tak peduli. Untuk apa dia terus mengejarku? Untuk berterima kasih? Lupakan. Aku tak menganggap pernah menolongnya saat itu.

~ooOoo~

Aku masuk kedalam mobil ambulan. Walaupun tempatnya lumayan sempit karena diisi oleh alat-alat kedokteran, tapi tentu saja itu tidak mempengaruhiku.

    Kulihat seseorang memakaikan alat pernafas padaku dan menempelkan kabel-kabel untuk menyambungkan detak jantungku entah pada alat apa namanya dan membuatku setengah telanjang—tapi disaat seperti ini aku benar-benar tak peduli. Aku menggenggam tanganku yang pada kenyataannya tidak berhasil apa-apa karena aku tak bisa menyentuh tubuhku sendiri.

    Sepanjang perjalanan ke rumah sakit aku berpikir kenapa aku tidak mati saja seperti keluargaku yang lain? Kalau aku tetap hidup, siapa lagi yang akan peduli denganku? Bahkan aku tak punya teman. Sampai aku berada di tingkat dua di universitas Seoul aku masih menutup diri dari siapapun. Aku pikir kalau sendiri itu lebih baik karena tidak perlu repot untuk berdebat dengan orang lain karena perbedaan pendapat.

    Aku tidak ikut masuk ke ruang darurat karena terlalu takut. Aku menunggu diluar seraya berharap-harap cemas. Aku sudah tidak tahan, kenapa aku tidak ikut saja dengan keluargaku?

    “Jantung adik perempuannya masih berdetak walaupun sangat lemah.”

    Aku mendengar dua orang perawat berbincang. Aku menajamkan pendengaranku. Apa yang di bicarakan dua perawat itu Hyemi? Adikku?

    “Entahlah. Harapan hidup mereka berdua sangat tipis.” Aku yakin sekali yang mereka maksud aku dan adikku. “Tapi aku kasihan mereka akan jadi yatim piatu nantinya.”

    Seketika tubuhku melemas. Benar bukan yang kuduga? Mereka sudah pergi meninggalkanku dan Hyemi—tunggu dulu, kalau keadaan Hyemi sama sepertiku, itu berarti dia sama sepertiku, bukan?

    Aku berdiri dengan semangat yang tiba-tiba muncul begitu terpikirkan bahwa Hyemi juga mengalami keadaan yang sama sepertiku. “Hyemi-ya!” panggilku seraya melangkah dan mengedarkan pandangan ke sekeliling.

    “Hyemi-ya! Han Hyemi!” panggilku lagi setengah berteriak karena tak ada yang menjawab.

    Aku memanggilnya lagi dan sekarang benar-benar berteriak juga berlari. Toh, seluruh orang di rumah sakit ini tak akan ada yang mendengarku. “Hyemi-ya, jangan main-main. Dimana kau? Keluar sekarang!” aku ingin menyuarakan dengan nada mengancam namun terdengar seperti jeritan putus asa bahkan ditelingaku sendiri.

    Aku menangis lagi. Dimana adikku? Kenapa aku tak bisa menemukannya? Padahal sekarang dia juga sama sepertiku. Kakiku terasa sangat lemas seperti tulang-tulang di kakiku tidak kuat menahan bebannya dan memilih untuk keluar. Aku terduduk ditengah lorong yang bisa dibilang cukup sepi dan menangis sejadinya.

    Isakanku mereda begitu melihat laki-laki tinggi datang sendirian dan berhenti tepat diruangan tempat tubuhku diperiksa. Aku menghampirinya dan berdiri disampingnya yang tengah mengintip kedalam ruangan.

    “Hyera-ya, bangunlah.”

~ooOoo~

“Kau tidak tahu? Dialah yang menolong Sehee saat Hyeyoung Sunbae memperingati Sehee untuk menjauh dari Jinki Sunbae.”

    Aku tahu aku sedang dibicarakan seluruh sekolah saat ini. Tapi siapa peduli? Aku hanya tidak suka melihat seseorang berbuat seperti itu pada gadis yang terlihat lemah. Dan aku juga sudah biasa dilihat dengan tatapan aneh oleh mereka.

    Aku menoleh begitu merasakan seseorang menyumbat kedua telingaku dengan sesuatu. Kulihat disebelahku duduk laki-laki yang cuek saja makan disampingku. Aku melepas earphone yang kutebak pasti miliknya dan pergi begitu saja tanpa menghabiskan makan siangku.

    Kenapa mereka semua? Apa tak ada pekerjaan lain selain mengurusiku? Apa mereka berpikir aku seperti gadis-gadis lain disekolah ini—atau sekolah lainnya—yang lemah dan mempermasalahkan kenyataan bahwa aku menjadi bahan omongan seluruh murid di sekolah ini?

    Aku membasuh wajahku yang terasa lengket di wastafel kamar mandi sekolah dan masuk ke bilik untuk membenarkan pakaianku. Dan tiba-tiba kurasakan siraman air dari atas membasahi seragam sekolahku. Lalu kudengar suara langkah kaki dan suara ember yang bergesekan dengan lantai.

    Aku menghela nafas kasar mencoba untuk menahan emosiku dan keluar dari bilik kamar mandi. Benar saja, didepan bilik yang kupakai tergeletak ember kosong. Aku menatap geram pintu kamar mandi yang bergoyang tanda baru saja ada yang keluar dari kamar mandi. Lalu menghembuskan nafas kesal.

    “Gwenchana?” aku menoleh dan melihat gadis yang kemarin kutolong berdiri dengan ragu di depan bilik di sebelah bilik yang kumasuki untuk merapihkan pakaianku.

    Aku berbalik berniat untuk pergi. Untuk apa meladeninya? Paling-paling dia ingin meminta maaf karena dia merasa aku begini karena menolongnya kemarin.

    “Tunggu.” Aku mengabaikannya dan terus saja melangkah pergi lalu memegang kenop pintu. “Hyera-ssi, pakai jasku dulu. Biar aku keringkan jasmu.”

    Aku menepis tangannya yang kuyakin ingin meraih lenganku. “Tidak usah.” Ujarku dan lekas keluar dari kamar mandi.

    Aku sama sekali tidak terusik dengan orang-orang yang berbisik-bisik dan memandangku dengan pandangan mengejek dengan teman disampingnya begitu aku melangkah melewati mereka. Kulangkahkan kakiku menuju atap sekolah untuk mengeringkan jasku dan memutuskan untuk membolos jam pelajaran bahasa Korea kali ini. Sekali ini saja, toh pelajaran bahasa Korea sangat membosankan karena itu bahasaku sehari-hari. Untuk apa aku mempelajarinya lagi?

    Aku memeluk tubuhku sendiri begitu kurasakan angin di akhir musim panas berhembus menerbangkan helai-helai rambutku yang kubiarkan tergerai karena basah. Kenapa terasa dingin? Walaupun kini akhir musim panas tapi harusnya angin yang berhebus tidak sedingin ini. Apa karena pakaianku yang basah?

    Aku menghela nafas dan duduk bersandar pada tembok. Kenapa hari ini aku begitu sial?

    “Kau bolos.” Aku menoleh kaget mendengar pertanyaan seseorang—bukan. Itu bukan pertanyaan melainkan pernyataan. “Tak kusangka gadis teladan sepertimu bolos. Kukira kau gadis yang patuh pada peraturan.”

    Aku berdiri dan mendecak. “Mau apa kau kesini? Pergi.” Ujarku seraya mengambil jasku yang kugantung di pinggir tiang besi dan berniat untuk pergi. Masih basah. Kenapa orang ini mengganggu sekali?

    “Kau yang menyuruhku pergi kenapa kau yang pergi?”

    Aku mengepalkan tanganku menahan emosi mendengar ucapannya. Jangan hiraukan dia, batinku lalu bergegas pergi sembari memakai kembali jasku yang belum sepenuhnya kering.

    Lalu kurasakan sesuatu menempel dipundakku. Aku berhenti tanpa menoleh kebelakang dan menyadari apa yang menempel di pundakku.

    “Pakai saja sampai jasmu kering.” Aku mendengarnya sedikit berteriak dari balik punggungku karena suara angin yang lumayan kencang.

    Aku melepaskan jasnya dan menjatuhkannya begitu saja dibawah. “Jangan pedulikan aku.” Ucapku tanpa ekspresi mencoba mengendalikan emosiku. Aku benci orang seperti dia.

    “Namaku Siwon jika kau mencariku. Choi Siwon.”

~ooOoo~

Mau apa orang ini kemari?

    Aku mengusap pipiku yang basah akibat air mata dengan kedua punggung tanganku. Kulihat disampingku berdiri seorang laki-laki sedang mengintip kedalam ruangan dengan kedua tangannya dikepal kuat-kuat disamping tubuhnya.

    “Bodoh. Kenapa kau bisa seperti ini?”

    Kenapa dia mengataiku bodoh? Apa orang ini tidak punya kaca?

    “Siwon-ssi,” aku ikut membalikkan badan seperti yang dilakukan laki-laki di sampingku begitu mendengar seseorang memanggilnya.

    Kulihat gadis yang tadi menolongku—baru kuingat dia adalah Kang Sehee teman sekelasku saat aku masih sekolah—berdiri dengan wajah yang sangat kacau. “Hyera sendirian saat ini,” ucapnya seraya mengalihkan pandangannya kebelakang punggung Siwon.

    Sendirian? Apa maksudnya? Tidak. Aku tidak sendirian. Aku masih punya Hyemi.

    Aku mengalihkan pandangan bergantian pada Sehee lalu Siwon. “Adiknya?” kudengar Siwon yang berdiri disebelahku bertanya.

    Sehee menundukkan kepalanya dan menggeleng lemah. Aku membelalakkan mataku tak percaya. Aku yakin dia bohong. Aku yakin sekali. Hyemi pasti masih bertahan untuk hidup. Dia belum merasakan sekolah tinggi yang katanya awal bagi para remaja. Kenapa dia pergi? Kenapa hanya aku yang masih bertahan? Kini aku sendirian disini. Untuk apa aku hidup?

~ooOoo~

Onni, pacarmu tampan sekali.”

    Aku melepaskan earphone dari telingaku begitu mendengar suara adikku, Hyemi. “Apa?” tanyaku heran. Pacar? Teman pun aku tidak punya. “Aku tidak punya pacar, Hyemi-ya.” Lanjutku seraya memakai kembali earphone ke telingaku dan kembali berpatut pada bukuku.

    “Bohong. Di bawah ada laki-laki yang mencarimu.” Aku mendongak menatap adikku heran. Laki-laki? Mencariku? “Itu pacarmu, kan?”

    Aku menggeleng lalu melepas earphone dan beranjak keluar kamar tanpa memperdulikan adikku yang tersenyum mencoba menggodaku.

    Aku melihat laki-laki itu duduk di sofa di ruang tamu seraya mengutak-atik ponselnya. Laki-laki tadi yang menggangguku saat aku sedang mengeringkan jasku yang basah. Dari mana dia tahu rumahku? Aku mendekatinya dan berdeham. “Mau apa kau kemari?” tanyaku langsung tanpa basa-basi.

    Kulihat dia terlonjak kaget dan mendongak. Lalu tersenyum padaku. “Aku disuruh kemari, kau tidak tahu?”

    “Apa?” ulangku. “Siapa yang menyuruhmu kemari?” tanyaku. Siapa yang menyuruhnya, untuk apa dan kenapa aku tak tahu?

    “Ayahmu.” Jawabnya. Aku memekik. Untuk apa Ayah menyuruhnya kemari? Darimana Ayah mengenalnya? “Kau tidak tahu kalau dia menjodohkan kita?”

    Aku membelalakan mataku tak percaya. “Aku? Dijodohkan? Denganmu?” tanyaku tak percaya seraya menatapnya dengan mengerutkan kening dan menunjuknya dengan jari telunjukku lalu bergegas menghampiri telfon rumah.

    Kutekan beberapa angka yang sudah kuhafal lalu kuletakkan gagang telfon tepat di telingaku. “Appa,” kataku dengan nada protes yang sangat terdengar di suaraku begitu panggilan telfon di angkat.

    “Oh, Hyera-ya, ada apa?” tanya Ayahku dari sebrang telfon dengan santai.

    Aku memutar bola mata mendengar suaranya yang tenang seperti tidak terjadi apa-apa. “Apa benar kau menjodohkanku dengan…” aku menatap laki-laki itu—yang ternyata mengikutiku sampai ke ruang keluarga—untuk menanyakan namanya.

    “Choi Siwon.” Sahutnya lalu aku mengalihkan pandanganku darinya dan kembali fokus pada Ayahku di sebrang telfon.

    “Laki-laki bernama Choi Siwon?”lanjutku sambil bersin. Sial. Ini pasti karena tadi seragamku basah dan aku harus tetap mengenakannya sampai sekolah usai yaitu delapan malam.

    Sayangnya dewa keberuntungan tidak bersamaku hari ini. Dengan semua yang terjadi tadi disekolah dan sekarang, aku benar-benar tidak tahu harus apa.

“Ya, dia sudah dirumah? Tolong berikan telfon padanya. Ayah ingin bicara sebentar dengannya.” jawab Ayahku santai. Kenapa dia begitu santai? Bahkan dia tak membiarkan aku menyetujui atau tidak perjodohan ini.

Appa!” protesku. Harusnya dia bicara dulu denganku sebelum memutuskan. “Shireoyo. Aku tidak mau perjodohan ini.” aku mendecak. Kenapa di jaman modern seperti ini masih saja ada perjodohan?

Wae?” kudengar dia bertanya. Apa harus kujelaskan alasanku? Bukankah dia pasti sudah tahu? “Dia tampan, pintar, baik dan juga kaya.”

Lagi-lagi aku mendecak mendengar perkataan Ayahku. Aku tahu, ini pasti ada hubungan dengan pekerjaannya. Hal yang begitu biasa dilakukan para orangtua terhadap anaknya. “Terserah.” Kataku ketus. “Yang jelas aku menentangnya.”

“Hei, jangan marah, say—”

“Ayahku ingin bcara denganmu.” Aku memotong perkataan Ayahku dan menyerahkan gagang telfon pada laki-laki yang sedari tadi berdiri menatapku.

Dia mengambil gagang telfonnya dan aku langsung menyalakan televisi di ruang televisi dan mengenyakkan tubuhku pada sofa kecil di depan televisi menunggunya sampai dia selesai bicara dengan Ayahku di telfon. Tidak sopan bukan kalau aku kembali ke kamar jika ada tamu, lagipula Ibuku juga tak ada dirumah sedangkan Adikku… mungkinkah aku menyuruh Hyemi menemani dia disini?

Aku berdiri begitu ia menutup telfon. “Mau pulang sekarang?” tanyaku berharap agar dia mengerti dan akhirnya pulang.

Dia menggeleng. “Tidak.” Jawabnya dengan wajah polosnya yang membuatku sakit perut dan menghela nafas mendengar jawabanya. Kenapa dia tidak mau pulang? “Aku disuruh Ayahmu menemanimu dan Hyemi sampai Ibumu pulang.”

Aku menjatuhkan tubuhku kembali ke sofa. “Kenapa kau menuruti perintah Ayahku?” tanyaku tanpa mengalihkan pandanganku dari televisi padahal aku tidak benar-benar menontonnya.

“Karena beliau orang ketiga yang kuhormati setelah orangtuaku.” Aku menoleh dan mendapati Siwon sedang melihat-lihat foto yang terbingkai di meja dan dinding.

Aku berdiri berniat untuk kembali ke kamar dan meneruskan membaca. “Aku panggilkan Hyemi untuk menemanimu.” Kataku menyela ucapannya yang belum keluar dari bibirnya. Aku tahu dia mau bertanya apa.

Baru saja aku mau menyuruh Hyemi untuk menemani Siwon di ruang keluarga, anak itu sudah berdiri di hadapanku dengan cengiran konyolnya. Aku memutar bola mata. Aku tahu maksudnya apa. “Terserah. Aku mau kembali ke kamar. Kau temani saja dia.” Ujarku.

“Bolehkah?” aku mengangguk menjawabnya. “Asik,” lalu dia menghambur mendekati Siwon. Aku membalikkan badan dan melihat Siwon berjongkok didepan Hyemi seraya mengacak rambut Hyemi.

Oppa¸ kau pacar Hyera Onni?” aku mendengar Hyemi bertanya pada Siwon. Aku meringis mendengarnya. Kedengarannya sangat buruk kalau aku dan Siwon berpacaran.

Kulihat Siwon mengangguk seraya tersenyum lalu dia mendongakkan kepalanya melihat ke arahku. “Tentu saja. Kau mau jadi adikku?”

Aku memutar bola mata menatap Siwon lalu membalikkan badan untuk melangkah keembali ke kamarku di lantai dua. Dia terlalu berharap.

To Be Continue

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s