[Chapter 6] Different


  • Tittle    : Different
  • Author    : Ennyhutami
  • Lenght    : Chaptered
  • Cast    :
  1. Lee Taemin
  2. Choi Minho
  3. Bae Su Jie
  • Other cast :
  1. Park Jiyeon
  2. other
  • Genre    : Fantasi, Romance

    Plagiat and silent riders go away!

    Read, Like, Comment


 

[Chapter 6]

Aku tahu dia sangat marah padaku karena aku tak menuruti perintahnya. Aku menyesal. Benar-benar menyesalinya.

    Minho-ssi, maafkan aku, kataku dalam hati. Aku tak peduli kalau semua yang ada disini bisa mendengar pikiranku. Yang kupikirkan sekarang hanya dia. Choi Minho, kenapa kau membuatku jatuh cinta terlalu cepat padamu?

    Bisakah dia mendengar yang tadi?

    “Argh!” jeritku ketika kurasakan laki-laki yang mencengkram tanganku menekannya lebih kuat. Dan terasa sangat panas.

    Aku tak bisa mendengar apa yang Minho katakan karena jaraknya terlalu jauh. Kenapa mereka bisa mendengar dengan jarak sejauh itu?

    Aku merasa pipiku basah karena aku menangis. Memalukan. Harusnya sekarang aku jadi gadis kuat. Bukan gadis yang cengeng seperti ini. Tapi jujur saja aku benar-benar takut sekarang.

     “Kau bilang manusia tak ada yang berguna, bukan?” aku tercekat mendengarnya. Minho pernah bilang begitu?

    “Siwon-ssi, lepaskan gadis itu. Dia tak ada sangkut pautnya.” Aku menoleh melihat Kakak Minho berkata dengan posisi yang sama seperti Minho.

    “Gurae?” Choi Siwon menyahuti dan lagi-lagi membuatku merinding. Caranya berbicara sangat berbeda dengan manusia. “Baiklah kalau itu yang kalian mau.”

    Lalu setelah mendengarnya melanjutkan kata-katanya, aku merasa kakiku terangkat dari tanah. Leherku, batinku. Aku merasa sesak dan sulit bernafas. Kemudian tubuhku terasa melayang.

    Kukira aku akan membentur pohon—tapi dugaanku salah—jadi aku menutup mataku. Mungkin saja aku akan mati sekarang. Kurasakan seseorang menangkap tubuhku seperti berat tubuhku hanya dua puluh kilogram.

    Aku membuka mata perlahan dengan takut-takut—bisa saja Satys bernama Choi Siwon itu mempermainkanku. Dia melemparku karena ingin membuat Minho khawatir dan tidak fokus pada musuhnya yang sekarang menghimpitnya. Dan dia itu sangat cepat.

    Segera aku membulatkan mata begitu melihat siapa yang menangkapku. Bukan salah satu dari Satys itu ataupun Minho—jelas-jelas dia sedang dihimpit. Dia… Lee Taemin. Bukan Taemin yang kukenal. Fisiknya berubah sangat drastis—tidak terlihat seperti Taemin si ketua klub fotografi yang terkenal ramah baik di sikap ataupun penampilan.

    Aku mengerjapkan mata tak percaya dengan apa yang kulihat. Rambutnya… terakhir kali aku melihatnya, rambutnya masih berwarna coklat, tapi kenapa sekarang jadi pirang seperti ini?

    Dan matanya… aku sangat takut dengan mata ini. Mengerikan. Itulah yang kupikir saat melihat mata merah menyala seperti yang Taemin punya saat ini. Pertama kali aku melihatnya memang didalam mimpi tapi kurasa aku memang melihat mata merah itu sesungguhnya dan mata itu milik Minho—anak baru yang aneh dan membuatku penasaran dengan sikapnya hingga membuatku jatuh dalam pesonanya begitu cepat.

Ah, aku lupa kalau semua yang ada disini bisa membaca pikiranku.

“Taemin…?” gumamku mengalihkan pikiranku—yah, sebenarnya aku juga ingin bertanya ada apa dengannya sekarang.

Dia menurunkanku dengan pelan seakan aku bayi yang baru saja dilahirkan. Dan aku lebih terkejut begitu melihat sayap yang mengembang dipunggungnya. Warnanya berbeda dengan Satys-Satys itu dan ini terlihat… cantik tapi juga mengerikan—bayangkan saja jika kalian berada diposisiku sekarang.

“Kelihatannya kau tidak takut sama sekali.” Kudengar Taemin berucap seraya menyeringai. Menyeramkan. Aku mundur melihat seringaiannya yang terlihat sangat mengerikan seakan dia ingin menghabisiku. Apa dia berubah jadi liar seperti penampilannya saat ini?

    Sedetik kemudian kurasakan seseorang menyentuh pundakku. Aku tak berani untuk menoleh untuk melihat karena kulihat Taemin mendesis dari sela-sela bibirnya. “Menjauh darinya.” Taemin mendesis seraya melempar tatapan sengitnya kebelakang kepalaku.

    Aku tahu ini bukan Minho. Walaupun aku tahu hubungan mereka berdua tidak terlalu baik—sangat buruk kurasa—tapi Taemin tak akan mendesis seperti itu pada Minho apalagi didepanku. Aku yakin mereka pasti bekerja sama melawan Satys-Satys ini.

    “Bekerja sama katamu?”

    Sial, sepertinya aku salah berpikir.

    Aku tidak tahu bagaimana caranya hingga mereka—Taemin dan Siwon—sudah bergelut dalam jarak yang lumayan jauh dariku. Namun aku melihat mereka semua mulai berkelahi lagi.

    Aku berdoa dalam hati. Biarkan mereka bertiga selamat…

    Entah berapa lama kemudian, kulihat kepulan-kepulan asap mulai menyerbu ke udara. Anehnya kepulan asap itu sedikit berwarna merah dan berbau manis tidak seperti kepulan asap biasa. Apa ini?

    Walaupun kepulan asap itu berjarak lumayan jauh, tapi aku merasa sesak mencium baunya yang terbawa angin. Lama kelamaan baunya memuakkan. Walaupun berbau manis namun bau lain yang tak bisa kujelaskan mengisi paru-paruku dan membuat dadaku sesak.

    Aku menutup hidungku dengan kedua telapak tanganku. Walaupun bukan di ruangan kedap udara yang bisa menyebarkan asap seperti ini dan walaupun aku berada diruangan terbuka, bau asap tak bisa kuhindari. Aku terbatuk-batuk dan kepalaku terasa pening.

    Untuk kedua kalinya aku berpikir akan mati lagi. Tapi tidakkah terlalu konyol jika mati seperti ini? Mati karena asap yang tidak jelas seperti ini. Tidak. Aku harus bertahan. Kalau aku mati, siapa yang akan menemani Jiyeon Onni nanti?

    Tapi aku benar-benar tidak tahan. Asap ini semakin tebal seperti asap-asap ini berada tepat didepanku padahal kulihat—walaupun samar-samar karena mataku yang mulai berair—ada tiga titik asal asap itu dan ketiganya saling berjauhan. Air… kerongkonganku terasa kering dan aku sangat membutuhkan air sekarang.

›››

 

“Ah, kau sudah bangun.”

    Aku mengerjapkan mataku begitu cahaya asing terpantul kebola mataku. Aku merenggangkan tubuhku yang terasa kaku dan mengerang begitu kurasakan beberapa bagian tubuhku terasa sakit dan kepalaku terasa berat.

    Aku melirik kesamping dan melihat samar-samar seorang laki-laki tengah menatapku cemas. Kuusap mataku dengan punggung tanganku agar bisa melihat lebih jelas dan kulihat Minho yang tengah menatapku. “Kau baik-baik saja?” tanyanya begitu aku mencoba untuk bangun dan dia langsung memapah tubuhku untuk duduk.

    “Gwenchana.” Sahutku seraya tersenyum. Aku mengedarkan pandanganku ke sekeliling ruangan. Ini kamarku. Pantas aja tidak terasa asing. “Bagaimana denganmu?” giliran aku yang bertanya.

    Dia menggelengkan kepala. “Tidak lecet sedikitpun.” Jawabnya santai. “Ternyata melawan mereka dengan bantuan Nephilim tidak terlalu sulit.” Aku merasa dia sangat berbeda—maksudku, ingat tidak sikapnya sebelum perkelahian itu? sangat kaku, dingin, menyebalkan dan tidak punya emosi menurutku.

    Aku melihatnya tersenyum kecut. Aku yakin baru saja dia mendengar pikiranku tentang dirinya. Aku nyengir lebar membalas senyum kecutnya. Mataku menangkap jam kecil yang tergantung di dinding dekat lemariku. Jam delapan. Akupun melirik jendela yang mengarah ke balkon kamarku. Diluar terlihat sangat cerah. Jam sebelas pagi? “Berapa lama aku tidur?!” pekikku begitu sadar kalau kemarin akhir minggu dan itu sudah hampir gelap.

    “Semalaman.” Jawabnya tenang.

MWO?!” pekikku. Pantas saja kepalaku sangat berat. Aish, berarti hari ini aku bolos sekolah?

“Tenanglah, Kakakmu sudah mengizinkan ke sekolah.”

Aku menoleh heran. Jiyeon Onni? ah, pasti dia baru pulang. “Dimana dia?” tak perlu kujelaskan siapa yang kumaksudpun Minho sudah tahu siapa yang kutanyakan.

“Dia sedang membuatkanmu bubur.” Jawabnya tanpa mengalihkan pandangannya dari wajahku. Kenapa dia melihatku seperti itu? apa ada yang salah denganku?

Wae? Tanyaku tanpa menyuarakan suaraku. Dia menggeleng lalu membalikkan badannya dan melangkah keluar kamarku. “Eodiga?” tanyaku sebelum dia menutup pintu kamarku.

Aku melompat dari tempat tidur untuk berdiri namun seketika itu juga kepalaku terasa berputar. Untung saja dengan gesit Minho menahan tubuhku yang limbung kebelakang, kalau tidak mungkin aku sudah menimpa laci. “Gomawo,” ucapku begitu ia melepaskan tangannya dari pinggangku.

Kulihat dia mengangguk. Uh, kembali lagi seperti semula, batinku.

Mianhae,” bisiknya yang terdengar tepat di samping telingaku. Nafasku berhenti begitu merasakan desah nafasnya di telingaku dan merasakan kalau dia memegang tengkukku.

Aku menutup mataku karena tahu apa yang akan dia lakukan selanjutnya. Jantungku benar-benar meloncat sangking gugupnya. Beberapa detik kemudian aku tak merasakan apa-apa hingga dia membisikiku lagi. “Kakakmu datang.”

Aku membuka mataku dan langsung menoleh ke arah pintu. Tidak ada siapa-siapa. Di kamar ini hanya ada aku dan dia. Lalu beberapa detik kemudian suara langkah kaki di depan pintu terdengar. Aku menatap Minho heran. “Bagaimana kau tahu…” aku menggantungkan pertanyaanku begitu teringat sesuatu. Dia hanya mengedipkan matanya seraya tersenyum. “Ah, maaf. Aku lupa kalau kau bukan manusia.” Lanjutku seraya menepuk dahi.

“Su Jie-ya?”

Aku menoleh begitu mendengar deritan pintu yang khas serta mendengar ada yang memanggilku. Segera aku melukiskan senyum riang di wajahku setelah Minho pergi lewat balkon kamarku di lantai dua. “Ne Onni,” sahutku seraya membuka pintu kamar selebar-lebarnya karena kulihat dia sulit membuka pintu.

Dia masuk ke kamarku dengan membawa nampan berisi semangkuk bubur dan satu gelas air mineral lalu menaruhnya di atas meja belajarku. “Merasa baikan?” tanyanya.

Aku mengangguk. “Ne,” sahutku. “Kau pulang jam berapa?”

“Sebelas malam dan kulihat pintu rumah terbuka. Aku kira ada pencuri atau ada sesuatu yang terjadi padamu.” Aku duduk di depan meja belajarku dan mulai menyendok bubur yang di buatkan Jiyeon Onni seraya mendengarkannya bercerita. “Dan ketika aku masuk dan memeriksa seluruh ruangan, aku melihat Minho di dapur. Kau tahu betapa kagetnya aku?”

Aku menyuapkan bubur ke dalam mulutku seraya mengangguk. Untung saja dia tidak melihat Minho yang sebenarnya. Mungkin saat itu juga dia akan pingsan.

“Aku kira dia berniat jahat padamu tetapi aku salah, dia sedang mengambil beberapa es batu dan memasukkannya ke baskom. Aku tidak tahu itu untuk apa tapi dengan sangat sabar dia menjelaskan padaku kalau dia melihatmu jatuh pingsan di balkon kamarmu sendiri.” Aku terkejut mendengarnya. Aku? Pingsan di balkon kamarku sendiri? “Kenapa bisa sampai pingsan? Kau pasti kurang makan.” Lanjutnya seraya menyipitkan mata.

Aku menatapnya linglung. Aku tak tahu harus mengatakan apa karena seingatku aku tidak berada dirumah saat aku tak sadarkan diri. Itu karena bau asap. “Oh, mungkin,” jawabku seraya kembali menyendokkan bubur kemulut.

“Kau tahu?” aku menoleh dengan sendok yang masih berada di mulutku dan mendapati Jiyeon Onni berdiri menghampiriku. “Ternyata tetangga kita itu baik sekali, ya. Kalau tak ada dia mungkin saja kau membeku di luar.”

“Minho?” tanyaku memastikan.

Dia mengangguk lalu menyuruhku bergeser di kursi yang kududuki saat ini. Aku menatapnya bingung. Kenapa dia? “Kau punya hubungan khusus dengannya?”

Ne?” Aku membelalakan mata terkejut mendengar pertanyaannya.

Dia menatapku dengan pandangan sudah-jujur-saja-padaku dan membuatku serba salah. Apa yang harus kukatakan? “A-a-ani,” jawabku gelagapan. “Ya! Kau ingin aku jatuh?” kataku mengalihan pembicaraan begitu dia menggeser tubuhnya lagi.

Dia tak menghiraukan perkataanku dan terus saja menggeser badannya yang membuatku berdiri sebelum aku terjatuh ke lantai. “Ceritakan saja pekerjaanmu kemarin,”

›››

 

“Ceritakan semuanya.”

    Aku mendesah. Kali ini aku berangkat sekolah bersama Minho. Aku tahu—sangat tahu—kalau semua orang menatap aku dan Minho begitu kami melangkah ke kelas. Pasalnya, banyak siswi di sekolah ini—bahkan setengah sekolah—menyukai Minho dan berusaha mendekatinya tapi… ya, tahu sendiri bagaimana sikap Minho. Tak ada satupun yang berhasil menarik perhatian Minho kecuali aku. Walaupun kami tak resmi berpacaran, tapi dia sudah mengatakan kalau dia menyukaiku dan aku juga sudah tahu siapa dia sebenarnya.

    Kini Jin Ri menatapku dengan tatapan menyelidik dan langsung menyerangku dengan perkataannya begitu aku duduk di kursiku. Aku melirik Minho yang duduk di pojok paling belakang. Dia hanya tersenyum geli seraya mengangkat bahu. Aku tahu dia bisa mendengar apa yang di pikirkan Jin Ri sekarang makanya dia tertawa seperti itu melihatku. “Aku harus cerita apa? Tidak ada yang terjadi.” Sahutku bohong. Aku takut kelepasan bicara tentang identitas Minho dan juga Taemin.

    “Ayolah, kau mau menyembunyikannya dariku? Sahabatmu sendiri.” Katanya lagi. Maaf Jin Ri-ya, tapi aku benar-benar tidak bisa bilang apa-apa tentang apa yang sudah kulalui kemarin lusa. “Kau berpacaran dengan Minho?” tanyanya lalu membalikkan badan hingga sekarang mengarah ke Minho. “Choi Minho yang itu?”

    Aku menggeleng. Itu benar. Aku belum berpacaran dengannya. “Tidak. Aku harap belum…” bukan tidak. Sekarang aku benar-benar menyukainya. “Sudahlah, tidak penting.” Kataku lalu menatap kursi Taemin yang masih kosong.

    Kenapa masih kosong padahal bel sudah berbunyi? “Taemin tidak masuk?” tanyaku pada Jin Ri yang masih menggerutu yang asumsiku masih kesal karena belum mendapatkan penjelasan yang jelas dariku.

    Dia menggeleng masih dengan menggertu.

    Tak kuhiraukan Jin Ri yang masih menggerutu. Di pikiranku kini hanya ada pertanyaan kenapa Taemin belum masuk juga. Apa dia terluka parah? Kalau begitu aku harus menjenguknya.

 

“Kau tahu dimana rumah Taemin?” tanyaku pada Minho ketika pulang bersama Minho.

    Aku harus mendongak melihat tanggapannya. Kenapa dia tak pernah menjawab dengan suara agar aku tak perlu mendongak seperti ini melihat tanggapannya. Tidakkah dia berpikir kalau dia sangat tinggi dariku?

    Dia mengangguk. “Jangan kesana. Dia belum bangun sampai sekarang. Setahuku dia akan pulih setelah tiga hari tertidur.” katanya. “Jangan khawatir. Dia hanya lelah karena habis bertransformasi menjadi Nephilim.”

    Aku menatapnya heran masih terus melangkah. “Maksudmu dia akan berubah seperti kemarin? Dengan sayap di punggungnya?” tanyaku penasaran. Kalau seperti itu bukankah ia tidak akan bisa keluar rumah?

    Minho menggeleng. “Tentu saja tidak. Hanya saja warna rambut dan matanya akan seperti kemarin sedangkan kulitnya memucat.”

    Aku bergidik ngeri. “Matanya… akan terus merah?” bisikku.

    “Mm,”

    Aku benar-benar tak bisa membayangkannya. Tapi pasti itu mengerikan. Aku membayangkan Taemin berada di kelas dengan rambut pirangnya, bola mata berwarna merah menyala dan kulitnya yang pucat…

›››

 

Aku menggeliat begitu mendengar suara ponselku yang terus saja berdering. Entah kenapa hari ini aku begitu lelah. Leher dan punggungku masih terasa perih sampai sekarang.

    Diluar aku melihat hari sudah mulai gelap. Tumben sekali aku tidur setelah pulang sekolah.

    Dengan malas aku menyingkirkan selimut yang melilit ditubuhku dan bangkit dari kasurku dan menyambar ponselku yang masih bertahan dengan deringannya. “Yoboseyo?” kataku begitu menempelkan ponsel di telinga.

    “Su Jie-ah, aku pulang telat. Makan malam duluan saja.” Oh, aku tahu ini siapa. Jiyeon Onni. “Aku benar-benar sibuk. Kau mengerti, kan?”

    Aku mengangguk lalu menambahkan karena aku tahu jika aku hanya menganggukkan kepala, dia tidak akan tahu apa jawabanku. “Ne, Onni. Aku sangat tahu. Jagalah kesehatanmu.” Beginikah sibuknya mahasiswa yang akan lulus?

    “Baiklah, aku tutup ya?”

    “Ne,” sahutku lalu telepon pun di tutup olehnya. Aku menghempaskan tubuhku ke kasur lagi dan merengangkan otot-ototku. Mandi lalu makan, batinku seraya bangkit lagi untuk berdiri.

    Lalu mataku melihat secarik kertas di atas meja belajarku. Aku tidak ingat kapan aku menaruh kertas disini.

    Aku mengambil secarik kertas tersebut dan mulai menbacanya dalam hati.

 

Baek Su Jie, kau tahu kalau kau adalah manusia pertama yang membuatku berpikir ulang tentang manusia?

    Oh—aku tahu siapa yang mengirim surat ini.

Kau adalah satu-satunya gadis—baik di duniaku maupun duniamu—yang bisa membuatku tak berhenti untuk menatapmu. Aku mencintaimu, Baek Su Jie.

    Baiklah, aku yakin wajahku sangat merah saat membaca surat ini. apa tadi dia mendengar pikiranku dan tersadar apa yang aku inginkan darinya? Aku hanya ingin menjadi miliknya.

Tapi maaf, aku tahu kau akan kecewa setelah membaca surat ini. Tapi aku benar-benar tak bisa membiarkan egoku sendiri. Aku ingin sekali memilikimu dan aku tahu kau juga sama sepertiku. Tapi kita berbeda. Kau manusia sedangkan aku bukan. Lagipula, memangnya kau mau berkencan dengan orang tua sepertiku? Aku sudah hidup berabad-abad yang lalu dan tidak bisa menua sedangkan kau masih bisa tumbuh dan merasakan cinta dari yang lain.

Aku harus pergi. Aku takut akan ada yang mencariku dari dunia bawah dan kau akan terlibat lagi seperti kejadian kemarin lusa. Jangan khawatir. Aku tidak akan pernah muncul lagi dihadapanmu karena aku akan kembali ke dunia bawah. Dunia tempatku yang seharusnya.

Aku menitipkanmu pada Taemin karena dia masih bisa tumbuh dan mati seperti manusia sedangkan aku tidak. Aku bohong tentang dia yang harus tidur berhari-hari untuk menstabilkan kondisinya. Aku hanya takut dia mengatakan padamu kalau aku akan pergi.

Jaga baik-baik dirimu. Aku percaya kalau Taemin bisa menjagamu dan bukalah hatimu untuknya. Dia juga mencintaimu sama sepertiku.

 

Dari, Choi Minho.

 

    Aku tak bisa menghentikan air mataku yang terus saja keluar dari pelupuk mataku. Ini… surat ini… apa dia serius?

    Dengan berlari aku turun ke bawah dan berlari secepat yang kakiku bisa lakukan menuju rumah Minho di sebrang danau yang ada di depan rumahku.

    Aku mengetuk pintu rumah seraya memanggil namanya namun tak kunjung ada jawaban dari dalam. “YA! Choi Minho! Buka pintunya!” teriakku diselingi dengan isakan lalu merosot ke bawah masih dengan mencoba mengetuk pintu. “Minho…” isakku.

    Kenapa dia pergi begitu saja? Kenapa tidak memberitahuku sebelumnya? Aku meragukan kalimat dalam suratnya yang mengatakan dia mencintaiku. “Bohong!” jeritku tertahan. “Kau bohong…”

    Lalu kurasakan ada seseorang yang memelukku dari belakang. Tak kuhiraukan dia dan menangis sejadinya. Setelah kurasakan dia melepaskan pelukannya, dia menarik lenganku supaya aku berdiri. Aku menurutinya lalu dia memelukku setelah aku berdiri. Aku tak melihat wajahnya tapi aku tahu dia Taemin. Aku lumayan hafal dengan aroma tubuhnya.

    Aku merasakan dia memelukku semakin erat seraya mengelus punggungku. “Uljima,” aku mendengarnya berkata.

    Tentu saja ucapannya tak bisa membuatku berhenti menangis. Justru isakanku semakin menjadi-jadi. “D-dia… aku membencinya.” Kataku di sela-sela isakanku.

    Aku marah. Kenapa dia pergi begitu saja? Padahal beberapa jam yang lalu dia masih tersenyum di hadapanku. Dia pembohong ulung! Aku sangat membencinya!

    Dia melepaskan pelukannya lalu menatapku yang masih sesenggukan karena menangis. Lalu dia mencium keningku dan memelukku lagi. “Jangan membencinya.”

TBC

 

a/n    : haaah. Gimana? Gimana? Maaf banget lama ngepostnya. Ini last part! Tungguin epilognya ya,

RCL

38 thoughts on “[Chapter 6] Different

  1. Aaaaaaaa….. Keren bgt thor….. Keren buanget…. Bikin penasaran…😀 di tunggu…. Tolong jangan lma2 semangat buat authornya….😀

  2. wahh keren … minho kok pergi,,,hihihihihih
    ksihan suzy,,,, tapi kan ad taemin hehehehe ,lanjutkan thor,,,🙂

  3. Wae? Kenapa minho harus pergi😦
    Yaampun sedih banget pas partnya suzy yg terakhir..
    Tapi kalo minho sama suzy? Taemin sama siapa? *labil* -_-
    Ditunggu ya epilognya, semangka!! ^^

  4. Aduh , telat komen nyaa !!
    Maklum , hp saya masuk Rumah Sakit , Onnie , hehehe *ga ada yg nanya*🙂
    Ceritanya bener2 bikin aku nangis , Oniie !😦
    Hehehe , keren sekalii , Onnie kalo boleh aku maksa , Suzy wajib sama Minho ya ? yayaya < Onnie ?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s