[Chapter 11] If I Stay


Tittle        : If I Stay

Author    : EnnyHutami

Cast        :

  • Jo Kwangmin
  • Jo Youngmin
  • Yang Ji Won
  • Lee Hyera

Other cast    :

  • Boyfriend’s member
  • Choi Minji
  • And other

Genre        : Romance

Length    : Chaptered

Rated        : PG-13

Note        : halooo, ini chapter 11nya‼! Akhirnya sampe juga disini. Chapter 12 endingnya loh, jangan ada yang iri liat adegan demi adegan yaaa. Selamat membaca~

[Read, Like, Comment]

© EnnyHutami Fanfiction Story 2012

[Chapter 11]

Lee Hyera

Apa yang dia pikirkan? Kenapa selalu bertanya seolah-olah dia tahu apa yang kurasakan padahal dia tak tahu apa yang kupikirkan sekarang?

    “Apa kau bertengkar dengan Kwangmin?” tidak. Ini sama sekali bukan karena Kwangmin. Aku juga tidak begitu mengerti apa yang kurasakan saat ini. Yang kutahu hanya aku harus sendirian sekarang ini.

    Kenapa ini terjadi padaku? Kenapa perasaanku aneh sekali sejak tadi? Kenapa jantungku tak henti-hentinya berdegub dengan cepat seperti ini?

    Aku harus pergi sekarang. Bersamanya membuat pikiranku semakin aneh.

    Kuhentakkan genggaman tangannya pada pergelangan tanganku yang mulai melonggar dan mencoba kabur.

    Berhasil. Tanganku berhasil terlepas dari genggamannya. Pergelangan tanganku terasa cukup sakit setelah digenggamnya lumayan kuat. Aku harap ini tidak memar.

    Namun, tiba-tiba kurasakan tanganku ditarik. Sontak tubuhku ikut tertarik dan kejadian begitu cepat sampai aku menyadari kini aku berada dipelukan Youngmin.

    Diam. Hanya itu yang bisa kulakukan saat ini. Jantungku terasa tak berdetak. Aku menahan nafas. Apa ini? Perasaan apa ini? Sebelumnya aku tak merasakan ini ketika aku menyukai Kwangmin. Kenapa aku merasa aneh berada dalam pelukannya?

    Lama-lama aku merasa nyaman. Tanpa sadar, kusandarkan keningku pada dadanya—yah, kepalaku hanya setinggi dadanya saja. Terasa sangat nyaman. Seperti… saat aku berada dalam pelukan Ayahku. Nyaman dan aman.

    Aku pernah merasakan pelukan Kwangmin saat dirumah sakit. Saat itu aku memang sedang kacau. Tapi aku pernah mendengar kalau kau akan merasa aman jika berada dalam pelukan seseorang yang kaucintai walaupun dalam keadaan tak sadar. Kenapa seper—

    “Tentang Kwangmin…” aku mendengarnya mulai membuka suara. “Kau sudah tahu kalau mereka sudah berbaikan?” tanyanya dengan suara lembut.

    Aku jadi teringat Kwangmin dan Ji Won. Aku melihat mereka berdua dikedai kopi. Aku mengangguk. Aku tak merasakan apapun terhadap mereka saat ini. Semua terasa… aneh dalam pelukan Youngmin. Sangat berbeda perasaanku saat Kwangmin memelukku tempo lalu.

    “Bisakah kau merubah hatimu?” tiba-tiba dia bertanya. Apa maksudnya? “Bisakah kini kau hanya melihatku disini? Tanpa ada yang lain?”

    Aku terpengarah dan menarik diri dari pelukannya. Aku melihatnya dengan heran. “Apa yang kau maksud?” tanyaku heran. Kenapa tiba-tiba dia menanyakan itu?

    “Aku menyukaimu.”

Yang Ji Won

Aku menghela nafas lagi. Mungkin ini sudah keberapa kalinya begitu menyadari kami melewati tempat yang sama.

    Sebenarnya aku lelah karena sudah hampir satu jam berjalan kesana kemari mencari Hyera. Tapi mau bagaimana lagi? aku sungguh khawatir pada anak itu.

    Aku mendengar Kwangmin mendengus disebelahku. “Dimana dia sebenarnya?” tanyanya yang terdengar seperti bertanya pada dirinya sendiri. “Ah, Ji Won-ah, lebih baik kita pulang. Sudah mulai gelap.” Lanjutnya.

    Aku mengedarkan pandanganku. “Tapi Hyera—ah, bukankah itu Hyera?” tanyaku seraya menunjuk seorang gadis masih memakai seragam sekolahnya dengan seorang laki-laki berambut pirang. Dia bersama Jo Youngmin?

    Kwangmin terdiam seraya menatap mereka. Apa Kwangmin merasa cemburu? “Sudah kuduga.” Kalimat yang keluar dari mulutnya membuatku terheran-heran. Kulihat di menoleh menatapku. “Maksudku, aku sudah menduga Youngmin Hyung pasti akan menemukannya.”

    “Kenapa begitu yakin?” tanyaku masih tak mengerti.

    Dia menggenggam tanganku lagi dan mulai berjalan. “Kau tahu kalau Youngmin Hyung menyukai Hyera?” tanyanya. Youngmin… menyukai Hyera? aku menggeleng. Ah, pantas saja dia mengajakku bicara waktu dirumah sakit tentang perasaan Kwangmin dan menyuruhku berkata jujur pada Kwangmin. Ternyata dia takut kalau Kwangmin juga menyukai Hyera?

    “Kau tahu Hyera menyukaimu?” tanyaku balik tanpa mengalihkan mataku pada wajahnya. Aku ingin lihat reaksinya.

    Kulihat dia langsung menatapku dengan tatapan heran. “Aniyo. Aku tak tahu.” Sahutnya. Benarkah dia tak tahu? “Bagaimana kau tahu?”

    Aku berpikir. Waktu itu aku hanya menebak dari tingkah lakunya. Tapi… entahlah. Mungkin saja aku salah. “Aku hanya menebaknya.” Akuku malu. Aish, harusnya aku tak mengatakan kalau Hyera menyukainya.

    Tiba-tiba kurasakan sudut bibirku disentuh bibirnya. Aku terdiam tak mampu bergerak dan mataku membelalak kaget. Aku menahan nafas dan rasanya jantungku berdetak tak karuan. Ciuman pertamaku…

    “Tapi aku hanya menyukaimu.” Bisiknya dan sukses membuat jantungku ingin melompat keluar dari rongganya.

    Kakiku sangat berat untuk digerakkan. Rasanya seperti seluruh tubuhku tertempel perekat dan membuatku enggan untuk bergerak. Jantungku berdebar tak karuan. Hari ini benar-benar hari keberuntunganku. Mengetahui isi hatinya sebenarnya, kembali padanya, dan mendapat ciuman pertama darinya.

    “Waeyo?” lamunanku buyar ketika dia bertanya. Kulihat posisinya sudah didepanku sekitar satu meter.

    Aku menggelengkan kepala agar kembali kedunia nyata dan berhenti memikirkan itu. aku yakin sekarang wajahku sangat merah seperti tomat. “Ani,” sahutku seraya menggeleng lalu berlari kecil menghampirinya dan memeluk lengannya. Aku menengadahkan kepalaku hingga melihat wajahnya. Kulihat ia tersenyum dan aku langsung menunduk malu. Aigoo, pasti reaksiku sangat memalukan.

    “Wonie-ya,” panggilnya. Hatiku terasa hangat kembali ketika ia memanggilku dengan panggilan itu.

    “Hm?” sahutku.

    “Boleh aku bertanya kenapa dulu kau memutusku?”

Aku terdiam. Pikiranku melayang pada hari aku memutusnya. Saat itu aku benar-benar bodoh. “Alasannya tak masuk akal.” Kataku memulai. Aku mengangkat kepalaku lagi ingin melihat reaksinya. Tapi dia hanya diam dan rahangnya mengeras, jadi aku melanjutkan. “Kupikir kau tidak menyukaiku dan kau terlalu sibuk dengan pekerjaanmu. Beberapa murid disekolah memanasiku dengan mengatakan kalau kau tidak terlihat menyukaiku. Dan kupikir itu benar karena kau hanya satu kali mengatakan kau menyukaiku saat kau memintaku untuk jadi kekasihmu dan itupun kau membisikkannya ditelingaku seakan kau tak mau ada yang tahu kalau kau menyukaiku.” Jelasku panjang lebar.

Aku diam memberinya kesempatan untuk mencerna apa yang baru saja kukatakan. Tidak masuk akal, bukan, alasanku? Sangat. Aku tahu kalau aku sangat bodoh.

Mianhae,” kenapa justru dia yang meminta maaf? “Aku tak tahu kau berpikir seperti itu. Aku membisikkannya karena aku hanya ingin kau yang mengetahuinya. Karena kau orang spesial yang singgah dihatiku—ah, aku terlalu puitis sekarang.” Aku menatapnya tak percaya. Dia menggaruk tengkuknya yang kuyakin tidak gatal.

“Itu… benarkah seperti itu?” tanyaku tak percaya. Aku mengerjapkan mataku. Perasaan bersalah kembali menyelimuti diriku untuk kejadian beberapa bulan yang lalu. “Lalu kenapa saat aku memutusmu kau sangat tenang?”

Sembari berjalan, dia memiringkan kepalanya dan mengerucutkan bibirnya tanda ia sedang berpikir. Aigoo, anak ini bahkan lebih imut dari perempuan kalau seperti itu. “Aku harus apa? Aku tak mau egois. Mungkin saja itu yang terbaik untukmu.” Katanya. Aku mendesah kecewa. Sebenarnya dia menyukaiku atau tidak? Kenapa reaksinya hanya seperti itu, batinku. “Tapi…”

Aku cepat-cepat mendongak. Kulihat ia mengatupkan bibirnya rapat-rapat.

“Ah, aku tak tahu apa reaksiku berlebihan atau tidak. Namun, saat dirumah aku memecahkan cermin karena terbesit pikiran kau menyukai orang lain.”

Aku tertegun. “Menyukai orang lain?” ulangku. “Aku bukan tipe orang seperti itu.” lanjutku seraya menarik tanganku dan menyilangkan didepan dada.

Kurasa dia merangkulku karena kurasakan tangannya melingkar dileherku. “Araseo,” sahutnya. Aku menahan nafas. Sewaktu aku berpacaran dengannya tempo lalu aku tak pernah sedekat ini. Hanya sekali dia memelukku saat aku dikerjai murid lain karena ketahuan berpacaran dengannya. “Ayo pulang, aku mulai kedinginan.” Lanjutnya.

Ne,” sahutku seraya tersenyum. Kwangmin, aku janji tak akan membuatmu kecewa lagi. Janjiku pada diri sendiri dalam hati.

Lee Hyera

Aku turun dari taksi yang kutumpangi dari taman Chungmuro bersama Youngmin masih dengan perasaan yang aneh. Setelah Youngmin mengatakan kalau dia menyukaiku, aku langsung beranjak pergi namun dia menahanku untuk mengantarku pulang.

    Kenapa jantungku berdetak seolah-olah akan keluar dari rongganya? Ada perasaan meletup-letup ketika dia mengatakan dia menyukaiku. Tapi aku tidak yakin dengan ini. Apa yang kurasakan saat ini sangatlah asing.

    “Hati-hati.” Ucap Youngmin sebelum aku membanting pintu mobil.

    Aku mengabaikannya—bukan karena marah atau lainnya. Tapi… ah, aku tak tahu! Baru pertama kalinya aku merasa sangat bingung seperti ini.

    Bukankah aku menyukai Kwangmin? Tapi saat melihatnya tadi bersama Ji Won, kenapa justru aku membayangkan Youngmin yang sedang bersamanya dan itu terasa sakit? Kenapa aku merasa nyaman dalam pelukannya? Argh! Kurasa aku mulai gila!

    “Aku pulang.” Ucapku malas seraya melepas sepatuku.

Ya! Darimana saja kau? Kau tahu tidak kalau kami semua menghwatirkanmu? Bahkan teman-teman artismu ikut mencarimu—ani. Hanya Minji dan rambut pirang saja yang langsung turun kejalan mencarimu—”

“Aku lelah.” Aku memotong perkataanya. Aku terlalu lelah untuk mendapat ceramahan dari kakakku saat ini. Mungkin lebih tepatnya aku terlalu lelah berdebat dengan perasaanku sendiri.

Dengan langkah gontai, aku menyeret kakiku menaiki satu persatu anak tangga menuju kamarku. Aku menghela nafas berat. Aku butuh tidur sekarang.

Baru saja aku hendak mendi, deritan pintu terbuka terdengar. “Hyera-ya,”

Aku menoleh. Kulihat Hyerin Onni hanya memasukkan kepalanya kedalam kamar. “Mm?” jawabku. Setelah pulang kerumah, aku benar-benar malas untuk berbicara.

“Boleh aku masuk?” ya, sepertinya dia sangat tahu aku. Kebiasaan ketika aku sedang ada masalah walaupun itu jarang terjadi, akku tak mau diganggu siapapun.

Aku kembali duduk ditepi ranjang kamarku. “Tentu saja.” Apa sebaliknya aku tanya pada Hyerin Onni tentang perasaanku saja? Dia pasti lebih berpengalaman dibanding aku.

Wae? Kenapa sedari tadi terus menghela nafas?” tanya Hyerin Onni begitu ikut duduk disebelahku. Mau tak mau aku menghela nafas lagi. “Mau bercerita?” tawarnya.

Aku mengangguk lemah. “Onni, bagaimana kau tahu orang yang kausukai? Maksudku, orang yang membuatmu jatuh cinta?”

Jo Youngmin

Apa aku salah? Apa waktuku tidak tepat untuk mengatakan perasaanku sebenarnya padanya? jelas sekali kau salah, Jo Youngmin. Suara-suara dalam diriku sendiri berdebat tidak karuan. Aku jadi bertanya-tanya sendiri tentangnya.

    Apa dia marah? Kenapa semenjak aku mengatakan perasaanku dia jadi mengabaikanku begini? Aku mengirimnya pesan singkat tidak dibalas. Dan saat aku menelfonya, dia menolak panggilan telfonku. Saat bel istirahat makan siang pertamapun dia juga menghindariku ketika bertemu di lorong sekolah. Kenapa gadis ini terus membuatku frustasi?!

    “Minji-ssi,” panggilku begitu melihat gadis berkaca mata itu melewati kelasku.

    Dia berhenti dan membalikkan badannya menghadapku. “Ne?”

    Aku menghampirinya. “Kau lihat Hyera?” tanyaku langsung.

    Kulihat dia berpikir sebentar. Bukankah biasanya mereka berdua selalu bersama seperti ponsel dengan baterainya? “Molla.” Akhirnya dia menjawab. “Sedari tadi dia terus melamun. Wae?”

    Aku menggeleng. “Aku juga tak mengerti. Dia terus mengabaikanku.” Kataku karena ini diluar rencana. Seharusnya aku mengabaikannya sampai kejutan ulang tahunnya. Tapi kenapa justru sebaliknya? Apakah dia tahu rencana kami dan balik mengerjai kami? Andwae. Tidak mungkin.

    “Benarkah?” tanyanya terkejut. “Sebenarnya apa yang terjadi padanya?” sepertinya dia tidak bertanya padaku, jadi aku tidak menjawabnya. “Bukankah biasanya dia lunak jika denganmu?”

    Lunak? Seperti itukah Minji melihat hubunganku dengan Hyera? “Lalu bagaimana rencana untuk besok?” tanyaku mengalihkan topik pembicaraan. Ya, besok memang ulang tahun Hyera. aku bingung ingin membelikan hadiah apa. Sebelumnya aku tidak pernah memberikan hadiah untuk seorang gadis.

    “Tentu saja! Aku dan HyunSeong Oppa sudah memesan kue.” Mataku menyipit menatapnya. Oppa? Dia dan HyungSeong Hyung? Kulihat dia cepat-cepat menutup mulutnya dengan kedua telapak tangannya. “Itu… aku… dia menyuruhku memanggilnya seperti itu.”

    “Kenapa sepanik itu?” tanyaku heran. Toh, aku tak terlalu memperdulikan hubungan mereka saat ini. Yang kupikirkan hanyalah kenapa Hyera mengabaikanku? Akupun berlalu meninggalkan Minji untuk mencari Hyera. Mungkin saja dia di taman sekolah? Aku tahu dia senang sekali berada ditaman kalau ingin sendirian.

    Dugaanku tidak salah. Kulihat dia berjalan sembari menundukkan kepalanya hendak kembali kekelas. Aku berhenti tepat didepannya, menghalangi jalannya.

    Dia mengangkat kepalanya dengan raut wajah kesal. Namun, begitu melihat wajahku dia langsung berbalik untuk pergi. Raut wajahnya begitu melihatku seperti habis bertemu dengan hantu.

    Ya! Anak ini… benar-benar membuatku sakit kepala.

To Be Continue

20 thoughts on “[Chapter 11] If I Stay

  1. chingu aku udh baca dr part 1 nya loh tp mian bru sempet komen skrg.sumpah deh disini kwangmin nya unyu banget tapi pas lagi asik2 baca tb2 tbc.part selanjutnya cepet ya chinguu

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s