[Chapter 10] If I Stay


Tittle        : If I Stay

Author    : EnnyHutami

Cast        :

  • Jo Kwangmin
  • Jo Youngmin
  • Yang Ji Won
  • Lee Hyera

Other cast    :

  • Boyfriend’s member
  • Choi Minji
  • And other

Genre        : Romance

Length    : Chaptered

Rated        : PG-13

[Read, Like, Comment]

© EnnyHutami Fanfiction Story 2012

 

 

[Chapter 10]

 

Yang Ji Won

Aku menarik nafas dalam-dalam mengumpulkan keberanian untuk berbicara padanya.

    Aku tidak tahu apa yang dikatakan Youngmin dirumah sakit itu benar atau tidak. Tapi sudah tak bisa lagi melihat reaksi diam dan dingin dari Kwangmin padaku. Walaupun kami sudah tak punya hubungan apapun lagi denganku, tapi bisakah dia tak bersikap dingin lagi? atau mungkin bisa saja dia menganggap kami tak pernah mengenal. Tatapan yang dia berikan padaku setelah aku memutusnya semakin membuatku merasa bersalah dan ingin menarik kata-kataku yang lalu. Apa memang itu rencananya mengingat apa yang dikatakan kembarannya, Youngmin, padaku?

    “Aku sudah dengar dari Youngmin.” Aku memulai. “Sebenarnya aku juga merasa tersiksa dengan keputusannku sediri…” aku tak tahu harus bicara apalagi. Kata maaf sudah benar-benar basi.

    Kulihat dia membelalakan matanya. “Youngmin bilang apa padamu?” tanyanya. Kudengar ada nada marah didalam suaranya. Apa da marah padaku?

    Aku menundukkan kepala dalam-dalam. “Apa kau… masih menyukaiku?” aku balik bertanya. Ya, saat bertemu dirumah sakit, Youngmin memang memberitahuku kalau Kwangmin belum bisa melupakanku makanya dia bersikap begitu padaku. “Atau kau menyukai Hyera?” lanjutku lagi. Youngmin juga mengatakan kalau Kwangmin mulai menyukai Hyera namun dia menyangkalnya. Hatiku terasa tercabik mendengar itu.

    Karena tak ada reaksi darinya, akupun memberanikan diri untuk melihat reaksinya. Terlihat jelas diwajahnya dia terheran-heran seraya menatapku tajam. “Aku tidak meminta Youngmin mengatakan apapun. Tiba-tiba saja dia menghampiriku dan ingin bicara padaku berdua saja.” Sergahku sebelum dia berpikir kalau aku yang merengek-rengek untuk mengetahui perasaannya padaku.

    Kulihat dia menghela nafas. Aku menatapnya was-was menunggu kata yang akan dia ucapkan. “Aku tahu.”

    “Kau tahu?” ulangku. Apa Youngmin memberitahunya?

    “Ya aku tahu.” Dia mengulang lagi. “Untuk pertanyaanmu..” dia menggantukkan kalimatnya. Waktu terasa sangat lama sekarang. Kenapa dia membuatku gugup begini? “Aku memang masih menyukaimu.”

    Tap. Kurasakan jantungku berhenti. Aku melihat Kwangmin menatapku dengan tatapan yang sudah lama aku nantikan. Tatapan mata teduhnya yang selalu aku sukai. “Aku ingin kau kembali jadi milikku.”

    Lagi. Kurasakan jantungku berhenti lagi. apa dia bilang barusan? “Kau… Aku…” kata-kataku tak jelas karena terlalu senang mendengar kalimat yang baru ia ucapkan tadi. Apa aku mimpi? Kalau ini mimpi, aku tak mau bangun lagi. “Kwangmin,” hanya namanya yang bisa kuucapkan sekarang. Aku ingin menangis. Air mata dipelupuk mataku mendesak ingin keluar. Uljima, Ji Won-ah, uljima. Aku menguatkan diriku.

    Kulihat dia tersenyum. Senyum yang sangat aku rindukan. Senyum yang mampu membuatku jatuh pada pesonanya. Lalu suara ponselnya berdering. “Yeoboseyo?” katanya setelah menaruh ponselnya tepat ditelinga. “Ne? Aku di kedai kopi dekat bioskop Chungmuro.” Aku melihat Kwangmin melihatku dengan pandangan menyuruhku untuk menunggu sedangkan dia menjauh.

    Kenapa harus menjauh seperti itu? apa itu Hyera?

    Setelah selesai dengan telfonnya dia kembali kemeja dan menatapku lekat-lekat. “Ada apa?” tanyaku padanya melihat ada kekhawatiran dimatanya.

    Dia menggeleng. “Hyera hilang lagi. Dan kata Donghyun Hyung dia baru saja dari sini sendirian.” Jelasnya. “Mungkin supirnya sedang frustasi karena takut dipecat.”

    Aku terkekeh mendengar gurauannya—bisa dibilang aku menertawakannya yang mencoba bergurau. Aku terenyak. Sudah lama aku tidak tertawa seperti ini setelah putus dari Kwangmin. “Kenapa bisa hilang?” tanyaku kembali ke topik.

    Di mengangkat bahu tanda tak mengerti. “Molla. Dia sering sekali hilang. Aku rasa hobinya menghilang.” Aku terkekeh lagi mendengar gurauannya yang menurutku tidak lucu. Aku menertawakannya, bukan gurauannya.

    “Aku senang melihatmu tertawa lagi.” aku langsung diam seribu bahasa mendengar ucapannya. Kurasakan wajahku memerah melihatnya sedang menatapku lembut dengan senyum miringnya. Aku juga senang kita bisa tertawa bersama lagi, batinku.

“Wonnie-ya,” aku menoleh mendengarnya memanggilku dengan sebutan itu. “Mau bantu aku mencari Hyera? aku takut anak kecil itu tersesat lebih jauh dari sini.” Jadi bukan hanya aku yang menganggapnya seperti anak kecil?

Jujur saja aku mulai merasa cemas dengan Hyera. Walaupun juga dia baru pindah beberapa bula yang lalu. Aku yakin dia pasti belum begitu hafal seluruh Seoul—aku saja yang menetap disini sejak kecil belum tentu hafal jalan di Seoul—dan aku ingat bagaimana cerobohnya dia dengan daya ingatnya yang buruk. “Mm,” aku mengangguk menyetujui untuk membantunya mencarinya.

Dia memakai kembali topi dan kacamata bacanya lalu berdiri. Aku juga kembali memakai topi untuk penyamaranku. Aku tak mau ada wartawan yang melihat aku berkeliaran dijalan—mungkin lebih tepatnya aku sedang berdua saja dengan Kwangmin diluar.

Dia membiarkanku keluar dari kafe lebih dulu. Setelah berjalan beberapa langkah menjauhi kafe, kurasakan dia menyamakan langkahnya sehingga kini kami berjalan beriringan.

Aku tersenyum. Akhirnya kesempatan ini kembali lagi untukku. Kesempatan untuk bisa bersama lagi dengannya tanpa ada rasa canggung seperti yang belakangan ini terjadi pada kami. Lalu kurasakan tanganku disentuh. Kulihat ia menautkan jari-jari tangannya pada jari-jari tanganku. Aku menatapnya seraya tersenyum. Perasaan hangat seperti dulu datang menyelimutiku. Aku sangat merindukannya seperti ini.

Aku kembali menunduk seraya berjalan dalam genggaman tangannya. Kami saling diam—tapi aku merasa nyaman dalam keheningan ini. Begitu hangat dan nyaman.

“Kwangmin,” panggilku tanpa mengangkat kepalaku.

“Mm?” sahutnya.

Mianhae.” Aku menggigit bibirku. “Maafkan aku karena memutusmu dengan alasan yang tak jelas. Saat itu aku tak berfikir, aku hanya mengikuti emosiku. Mianhae.” Aku mengangkat wajah mencoba melihat reaksinya. Apa dia memaafkanku?

Kulihat dia masih menatap lurus kedepan. “Arraseo.” Dia diam lagi. Tapi aku bisa melihat sudut bibirnya tertarik kebelakang.

Sejak kapan dia tahu? Apa Sooyoung atau Minwoo yang menceritakan padanya? Molla. Kalau benar, aku harus berterima kasih pada mereka. “Kwangmin,” panggilku lagi.

Ne?” tanyanya. “Ada yang ingin kau tanyakan?”

Dia benar. Aku memang ingin bertanya satu hal padanya. “Kalau aku tetap disini, tetap disisimu seperti sekarang ini, kau keberatan?” tanyaku. Terlalu rumitkah bahasaku?

Dia menghentikan langkahnya. Sontak langkahku juga berhenti. Bila tidak aku akan menabraknya. “Kenapa tak bilang saja kau ingin kembali padaku?”

 

Jo Youngmin

Lagi-lagi aku harus mengulum kesal pada Minji. Kenapa dia selalu memberitahu Hyunseong Hyung terlebih dahulu daripada aku jika Hyera ada masalah?

    “Ya! Minji-ssi, bisakah kau memberitahuku lebih dulu jika Hyera ada masalah?” tanyaku geram setelah merebut ponsel yang sedang dipakai Hyunseong Hyung. Tak kupedulikan teriakkan protes Hyungseong Hyung. “Akan kuberi nomor ponselku setelah ini.” Lanjutku sebelum ia beralasan kalau dia tak punya nomor ponselku untuk menghubungiku.

    “Arraseo. Aku mengerti.” kudengar suaranya berubah takut.

    Aku tak peduli apakah dia takut denganku atau tidak. Yang jelas saat ini aku hanya mengkhawatirkan Hyera. “Dia dimana tadi?” tanyaku. Tak perlu kujelaskan lagi apa maksud pertanyaannyapun dia sudah mengerti.

    “Kata Bibi Ahn, tadi dia dari kedai kopi di Chungmuro. Dekat bioskop Chungmuro.”

Bioskop Chungmuro? Hyera, kau sangat membuatku gila. Kenapa pergi sejauh itu? kau ingin membuatku frustasi karena menghwatirkanmu, huh?

Akupun mengembalikan ponsel pada Hyunseong Hyung. “Jangan beritahu Manager kalau aku keluar.” Seruku lalu mengambil jaket serta topi dan pergi keluar.

Untunglah saat keluar dari apartemen asramaku, ada taksi yang menurunkan penumpang. Langsung saja aku masuk dan mengatakan tujuanku pada supir taksi. Disepanjang jalan menuju Chungmuro aku menelfonnya tapi nihil. Ponselnya di nonaktifkan.

Jalanan di Chungmuro tidak terlalu sepi ataupun ramai. Kemana dia pergi? Kenapa selalu saja menghilang dan tersesat? Hari sudah mulai gelap tapi aku belum melihat batang hidungnya. Sebenarnya apa yang dia pikirkan sehingga tidak menunggu supirnya datang? Aish, anak ini benar-benar membuatku gila.

Sudah beberapa menit aku memutari jalanan disekitar Chungmuro, tapi belum juga aku melihatnya. Kuedarkan mata kesetiap sudut jalan dan melihat seorang gadis yang masih mengenakan seragam sekolah sama seperti sekolahku.

Tunggu sebentar. Aku berhenti dan menoleh lagi pada gadis yang duduk membelakangiku dibangku umum disebrang jalan yang mengarah ke taman kota. Aku menghela nafas lega. Akhirnya aku menemukannya.

Ya.” Ujarku tanpa menoleh padanya setelah duduk disebelahnya.

Cukup lama dia terdiam, akhirnya dia menyahut. “Youngmin?” tanyanya. “Bagaimana kau tahu aku disini?”

Aku mendecak. “Bagaimana orang lain tak mencemaskanmu kalau kau hilang?” aku balik bertanya. Tidakkah dia berpikir kalau banyak yang menghwatirkannya?

Ani.” Kulihat dia berdiri. Wajahnya sedikit mengeras. Ada apa dengan anak ini? “Aku tidak hilang.” Lalu dia beranjak pergi.

Aku ikut berdiri dan menahan tangannya. “Mau kemana?” tanyaku heran. “Kau tidak tahu jalan pulang.” Lanjutku.

Aku mendengarnya mendecakkan lidah tapi tidak membalikkan badannya. “Aku bukan anak kecil. Tentu saja aku tahu jalan pulang.” Sergahnya seraya mencoba melepaskan genggamanku.

Gurae?” sahutku.

Dia menghentakkan tangannya lagi mencoba melepaskan genggaman tanganku. Aku justru mempererat genggamanku agar ia tak bisa melepaskannya.

Ya! Lepaskan aku! Aku mau pulang!” dia mulai berteriak dan menghentakkan tangannya lagi.

Aku diam melihat reaksinya. Ada yang aneh dengannya. Dia tidak akan seperti ini jika ada masalah. Dia akan lunak jika sedang bersamaku. Apa aku punya salah padanya? “Ceritakan masalahmu padaku.” Ujarku tanpa memperdulikan hentakan dari tangannya yang berusaha melepaskan genggaman tanganku. “Apa kau bertengkar dengan Kwangmin?”

Dia langsung diam dan kulihat dia menunduk melihat sepatunya. Pasti tentang Kwangmin lagi, batinku yakin. Kenapa dia begitu lemah? Kenapa selalu melarikan diri?

Kurasakan pergelangan tangannya melemas. Kulonggarkan genggaman tanganku dan mendekatinya perlahan. Lalu dia mengentakan tangan lagi mencoba melepas dan kini berhasil.

Aku mendecakkan lidah kesal lalu menahan tangannya lagi dan langsung menariknya dalam pelukanku. Dia tidak melawan ataupun membalas pelukanku. Dia hanya diam.

Jauh didepanku, kulihat Kwangmin—walaupun dia mengenakan pakaian samarannya, tapi tetap saja aku tak bisa dibohongi. Toh dia kembaranku. Mana mungkin aku bisa ditipu semudah itu dengan samarannya?—sedang menggandeng tangan seorang gadis yang kuyakin gadis itu adalah Yang Ji Won. Aku mendecak dalam hati. Kwangmin itu… haruskah seorang gadis yang memulai lebih dulu? Mungkin kalau aku tak memberitahu Ji Won yang sesungguhnya, mereka tak akan seperti sekarang ini. Dia masih menyukai Ji Won tetapi kenapa tak membicarakan langsung pada gadis itu? benar-benar dia itu.

Aku merasa kalau Hyera menenggelamkan kepalanya pada dadaku. Tapi aku tidak merasakan airmatanya ataupun isakannya. Kalau dia tidak menangis, lalu apa yang dia pikirkan saat ini?

“Tentang Kwangmin…” aku memulai tanpa melepas pelukanku. “Kau sudah tahu kalau mereka sudah berbaikan?” tanyaku dengan menyebut Kwangmin dan Ji Won menjadi satu kelompok.

Kurasa dia mengangguk. Ah, jadi ini yang membuatnya seperti ini?

“Bisakah kau merubah hatimu?” tanyaku lagi. Dia mulai mencoba melepas pelukanku tapi aku menahannya dan terus melanjutkan. “Bisakah kini kau hanya melihatku disini? Tanpa ada yang lain?”

To Be Continue

12 thoughts on “[Chapter 10] If I Stay

  1. wah senengnya.. kwang sama jiwon kembali..
    lanju terus chingu.. masih penasaran sama youngmin + hyera. aku makin suka😀😀
    part 11 panjangin lagi ya.. pyong!!

  2. AAhhh >< melting ga jelas aku baca scene Youngmin, pliss hera accept Young aja…jadi kebawa suasana aku baca ff ini ^_^

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s