[Chapter 9] If I Stay


Tittle        : If I Stay

Author    : EnnyHutami

Cast        :

  • Jo Kwangmin
  • Jo Youngmin
  • Yang Ji Won
  • Lee Hyera

Other cast    :

  • Boyfriend’s member
  • Choi Minji
  • And other

Genre        : Romance

Length    : Chaptered

Rated        : PG-13

[Read, Like, Comment]

No Plagiat, No Siders

© EnnyHutami Fanfiction Story 2012

 

 

[Chapter 9]

 

Jo Kwangmin

Andai saat itu aku menolak keputusannya untuk mengakhiri hubungan kami, apakah sekarang kami masih bisa bersama-sama?

    Entah kenapa belakangan ini aku sering menangkap diriku sendiri mengandaikan sesuatu yang sudah terlewat. Aku ingin sekali kembali seperti dulu. Tapi apa dia sama sepertiku? Menginginkan semuanya kembali seperti dulu?

    “Kwangmin-ah, kau tahu kalau hari ini tepat delapan bulan kita bertemu ditaman?” aku menoleh seraya memperlambat langkahku. Aku sengaja mengajak Hyera ke taman rumah sakit karena kulihat dia sangat bosan disana. Jadi kuputuskan untuk mengajaknya jalan-jalan sebentar di awal musim gugur ini.

    Gadis ini… entah kenapa dia bisa membuatku tak memikirkan lainnya jika berada didekatnya. Tapi aku tak merasakan kenyamanan bila ada didekan Yang Ji Won. Kulihat ia menengadahkan kepalanya sehingga bisa melihat wajahku dan tersenyum polos. “Kau mengingatnya?” tanyaku berpura-pura terkejut. “Kukira daya ingatmu sangat buruk sampai kau lupa apa yang kau makan tadi pagi.” Lanjutku mengejeknya.

    Dan kulihat ia mengerucutkan bibir dan menggerutu. Dia benar-benar mirip sekali anak kecil yang harus dijaga dan dilindungi. Pantas saja Youngmin Hyung ingin menjaganya.

    Youngmin Hyung. Aku ingat kemarin dia bilang akan menjaganya dan tak membiarkan siapapun menyakitinya. Apa dia benar-benar menyukai Hyera? aku belum pernah melihatnya seperti ini sebelumnya.

    “Oh ya, aku belum berterima kasih padamu.” Ujarnya setelah menggerutu tak jelas.

    Aku tetap melangkahkan kakiku pelan menyamakan langkah kakinya yang lambat seraya memandang lurus kedepan dan melipat kedua tanganku didepan dada. “Untuk apa?” tanyaku heran.

    “Walaupun aku tahu ini sudah lama sekali, tapi aku belum berterima kasih padamu langsung karena menolongku waktu itu.”

    Oh, aku ingat. “Hanya itu?”

    Kulihat raut wajahnya berubah heran. “Apa maksudmu hanya itu?”

    “Hanya mengucapkan terima kasih padahal aku sudah menyelamatkan nyawamu?”

    Kudengar dia mendecakkan lidahnya dan memutar. “Ya! Lalu aku harus apa?”

    Aku memutar otakku mencari ide. Ah, aku tahu. “Traktir aku Seafood didepan apartemenku.” Kataku. “Sudah lama sekali aku tidak makan makanan laut.” Kulihat dia terdiam. Apa dia tak suka aku memintanya untuk mentarktirku?

    “Seafood?” dia bertanya seraya menatapku takut-takut. Kenapa dia? Apa karena makanan laut terlalu mahal? “Bagaimana kalau yang lain? Masakan Eropa atau Jepang.”

    Bukankah masakan Eropa jauh lebih mahal dari makanan laut? “Wae?” tanyaku heran. “Kau takut uangmu habis kalau mentraktirku makanan laut? Kalau begitu tak usa—”

    “Aniyo.” Potongnya. “Bukan itu.” Aku menatapnya heran. Ada apa dengan anak ini? Membuatku penasaran. “Sebenarnya aku alergi makanan laut.” Akunya sambil menggaruk kepalanya yang tak gatal seraya tersenyum malu. Apa yang membuatnya malu karena alergi? Banyak sekali orang lain yang sama dengannya, bukan? Alergi masakan laut.

 

Lee Hyera

“Hanya mengucapkan terima kasih padahal aku sudah menyelamatkan nyawamu?” Aish! Orang ini benar-benar…

    Aku tak tahu harus berkata apalagi. Tapi dia benar-benar berlebihan. Apa kalau waktu itu ia tak menolongku aku akan mati? Aku tidak selemah itu. “Ya! Lalu aku harus apa?” pekikku frustasi. Kalau tahu akan seperti ini, aku tak akan mengunkit-ungkit ini lagi. Dasar!

    Kulihat dia berpikir sejenak lalu menunjukan seringaian kecilnya. “Traktir aku Seafood didepan apartemenku.” Mwo? Seafood? Kenapa harus makanan laut? Aku tak bisa makan makanan laut. Aku tak mau gatal-gatal lagi seperti yang pernah terjadi beberapa kali tempo dulu sebelum Ibuku meninggal. “Sudah lama sekali aku tidak makan makanan laut.” Lanjutnya.

    Kalau dia ingin kutraktir makanan laut, berarti aku hanya melihatnya makan dan membayar makanan yang ia makan? “Seafood?” ulangku untuk memastikan. Mungkin saja dia berubah pikiran. “Ah, bagaimana kalau masakan Eropa atau Jepang?” usulku. Yah, setidaknya aku bisa ikut makan bersamanya.

    “Wae?” dia bertanya padaku seraya mensejajarkan kepalanya dengan kepalaku. “Kau takut uangmu habis kalau mentraktirku makanan laut?” Aish! Aku tak memikirkan itu, Jo Kwangmin! “Kalau begitu tak usah.”

    “Aniyo! Bukan itu.” sergahku. Aku tak mau membuang kesempatan untuk pergi berdua bersamanya walaupun aku yang mentraktirnya. Toh itu juga rasa berterimakasihku padanya. Apa aku mengaku saja kalau aku alergi pada makanan laut? Aish! Kalau begitu dia akan tahu kelemahanku yang satu ini. Tapi daripada tidak jadi pergi makan bersamanya, lebih baik aku mengaku saja. Semoga dia mengerti. “Sebenarnya aku alergi makanan laut.” Akuku sambil menahan malu. Tuhan, ini benar-benar memalukan. Membocorkan rahasia yang sudah lama kupendam dari orang-orang. Aku menghela nafas berat.

    Kulihat dia menatapku geli bercampur heran. Lalu ia mengangkat kepalanya keatas melihat langit. Aku mengikutinya menatap langit. “Ji Won suka sekali masakan laut.” Kudengar dia bergumam. Ji Won? Yang Ji Won? Kwangmin masih menyukainya? Tiba-tiba dadaku terasa sedikit sesak dan terasa tidak nyaman. Kenapa dia masih menyebut nama Ji Won dihadapanku? “Ah, kalau begitu traktir aku ramen.”

    Aku menoleh padanya dan mendapatinya menjentikkan jarinya dan sedang menatapku seperti habis mendapat ide yang bisa membuatnya bahagia. “Ramen?” ulangku. “Kau tahu dimana toko ramen?” tanyaku begitu ingat aku belum tahu banyak tentang Seoul atau daerah rumahku sendiri.

    “Tentu saja aku tahu. Dulu aku juga sering kesana bersama Ji Won.” Aku mendesah. Ji Won lagi? Kwangmin-ah, kapan kau bisa melihatku?

    Walaupun aku duduk dengan Ji Won dikelas, namun kami tak begitu dekat terlebih lagi setelah tahu hubungannya dengan Kwangmin dulu dan bagaimana dia memutuskan Kwangmin karena—yang menurut Minji—dia menyukai laki-laki lain. Apa, sih, yang membuatnya seperti itu? dan aku baru menyadari saat Kwangmin mengamuk di asramanya dulu itu karena Ji Won memutusnya. “Begitu?” tanyaku malas.

    “Ne. Ayo kembali kekamar. Udara semakin dingin.” Diapun berjalan lebih dulu didepanku.

    Kwangmin-ah, bisakah kau lupakan Ji Won? Maksudku melupakannya dari hatimu. Bukan dari ingatanmu. Menghapusnya dari hatimu…

~ooOoo~

 

Untung saja setelah kembali ke kamar rumah sakit aku diizinkan pulang oleh dokter yang merawatku dan Hyerin Onni dan aku bisa masuk sekolah tanpa izin seharipun karena kecelakaan itu terjadi sehari sebelum libur akhir minggu. Tapi Hyerin Onni belum diizinkan pulang karena lukanya yang masih belum kering ditambah lagi tangan kirinya yang patah. Aku benar-benar merasa bersalah. Karena aku dia jadi begitu.

    Onni, maafkan aku…

    “Bisakah kau buat gambar seperti ini?” tanya Guru Seo seraya menyerahkan kertas setelah bel pulang terdengar .

    Aku mengambil dan melihat kertas yang ditunjukkan Guru Seo padaku. “Oh, ne
Songsaniem.” Jawabku seraya melihat kembali gambar yang ditunjukan Guru Seo. Ini sketsa pasangan kekasih yang terlihat sangat bahagia namun tidak berwarna. “Ini untuk apa Songsaniem?” tanyaku penasaran.

    Kulihat dia tersenyum malu-malu. “Untuk suamiku. Tiga hari lagi dia akan ulang tahun.” Aku terpengarah. Guru Seo benar-benar luar biasa. Dia pasti sangat menyayangi suaminya. “Bisakah lusa kau selesaikan ini?” tanyanya ragu.

    Aku mengangguk bersemangat. “Tentu saja.” Sahutku. “Apa aku akan dapat nilai tambahan di kelasmu?” aku terkekeh mendengar pertanyaanku sendiri. Bisa saja dia akan berpikir ulang dan memberiku nilai tambahan dikelasnya.

    “Ya!” wajah Guru Seo berubah seram seperti ketika aku melakukan kesalahan berkali-kali dalam kelasnya.

    Aku menggeleng kuat-kuat dan menunduk. Ternyata seram juga melihatnya seperti ini diluar jam pelajaran. “Ani. Aku hanya bercanda.” Aku meralat. “Akan kuselesaikan lusa, Songsaniem. Aku duluan.” Lalu aku beranjak pergi dari kelas dengan langkah yang besar-besar. Aku menghembuskan nafas dan memajukan bibirku begitu keluar dari pagar sekolah. “Kenapa masih kejam seperti itu?” gerutuku. Padahal aku hanya bercanda. Kenapa dia anggap serius? Dasar orang dewasa. Aku tak mengerti jalan pikiran mereka.

    Seperti biasa, supirku sudah menungguku didepan. Untung saja dia sudah kembali dari cutinya. Kalau tidak mungkin aku harus pulang sendiri tanpa Minji. Belakangan ini Minji sibuk sekali. Dia selalu bilang kalau dia harus merawat adik perempuannya yang sakit. Aku bahkan tak tahu dia punya adik. Yang kutahu dia hanya punya kakak laki-laki.

    Aku bosan dirumah. Sepulang dari rumah sakit, aku hanya terus dirumah tanpa ada yang menemaniku. Hyerin Onni kembali disibukkan dengan tugas kuliahnya padahal dokter bilang dia harus banyak istirahat karena tangannya. Sedangkan Kwangmin, grupnya sedang sibuk setelah mengeluarkan album baru. Dirumah nanti aku harus apa? Apa aku jalan-jalan sendirian saja?

    Ah, aku takut tersesat lagi. Tapi bukankah aku sudah hafal beberapa jalan? Kenapa tidak?

    “Ajeossi, aku mau ke Chungmuro.” Aku teringat ajakan Minji sebelum kecelakaan untuk menonton di daerah kawasan Chungmuro. Aku dengar disana juga ada kedai kopi yang bagus. “Aku ingin ke kedai kopi.” Lanjutku.

    “Kedai kopi di Chungmuro?” ulang supirku. “Kenapa jauh sekali?” tanyanya.

    Aku menyeringai malu. “Aku tak tahu kedai kopi selain disana.” Akuku malu-malu seraya menggaruk kepalaku yang tak terasa gatal. “Atau kau tahu kedai kopi disekitar sini?” lalu aku bertanya.

    Kulihat supirku menggeleng. “Aku juga tak tahu, nona.”

    Aku memutar bola mata. “Ya, jalankan saja mobilnya ke kedai kopi yang kubilang tadi.” Kataku sambil mengambil ponsel dari tasku. Apa Kwangmin sedang sibuk? Atau dia sedang bersantai diasramanya dengan member Boyfriend lainnya?

    Baru dua hari aku tak melihatnya karena hari ini dia tak masuk sekolah, dan kenapa rasanya seperti bertahun-tahun tidak melihatnya? Apa ini rasanya jatuh cinta? Tersiksa karena rasa rindu. Aku menggigit bibir bawahku. Tanya atau tidak?

    Akhirnya aku pun menulis pesan singkat untuk Kwangmin namun ragu untuk menekan tombol send. Aku takut mengganggunya kalau-kalau dia sedang istirahat.

    Kugenggelengkan kepalaku kuat-kuat lalu menghapus haruf-huruf diponselku. “Argh, kenapa seperti ini?” gumamku seraya mengacak rambutku sendiri frustasi. Kenapa jantungku berdegup tak normal seperti ini? Padahal aku hanya ingin mengirim pesan untuk Kwangmin.

    Kemudian aku menghela nafas menetapkan hati. Lalu kembali mengetik pesan singkat dari ponselku.

[Kau sedang dimana?]

    Send. Akupun menyandarkan pundakku pada punggung jok mobil bagian penumpang dibelakang seraya melihat keluar jendela. Apa dia akan membalas pesanku?

    Beberapa menit kemudian kurasakan ponselku bergetar. Akupun tersenyum sendiri melihat nama yang tertera dilayar ponselku. Jo Kwangmin.

[Aku didorm. Apa ada urusan penting?]

    Dengan cepat, aku menggetik diponselku lagi untuk membalas.

[Aniyo. Aku hanya ingin tahu.]

    Satu menit… dua menit… lima menit… sampai mobil berhenti didepan kedai kopi Kwangmin tak membalas pesanku lagi. Mungkin saja dia sibuk dan aku tahu aku mengiriminya pesan singkat yang tak penting, batinku.

    “Ajoessi, kalau kau mau pergi, pergi saja. Tapi sebelum jam lima sore jemput aku disini.” Ujarku sebelum turun dari mobil.

    Sebelum membanting pintu mobil, aku mendengar supirku menyahut sopan. Asumsiku dia masih takut atas kejadian beberapa bulan yang lalu.

    Setelah membuka pintu kedai, aku disambut dengan aroma kopi yang khas dan dekorasi kedai yang nyaman—dengan dekorasi campuran antara klasik dan modern yang didominasi warna cokelat pada dindingnya. Benar kata Minji, tempat ini benar-benar harus dikunjungi. Berikutnya, aku harus mencoba kopi dan kuenya.

    Lalu aku menempati tempat duduk didekat jendela yang masih kosong setelah mengantri dikasir—walaupun antriannya hanya aku seorang—dan membeli kopi yang kurasa cukup enak dengan cemilannya tentu saja. Walaupun kedai kopi ini terasa nyaman, namun hanya ada beberapa orang yang memilih tempat ini. Apa karena ini bukan akhir minggu?

    Kutaruh tasku dibangku kecil disampingku dan meminum kopinya dengan perlahan. Tempat ini benar-benar nyaman. Rasanya pikiran yang sedari tadi menyelubungi otakku seperti menghilang begitu saja. Aku harus sering-sering kemari dan mengajak Kwangmin untuk menyegarkan pikirannya setelah melewati aktivitasnya yang padat.

    Kurasakan ponselku bergetar lagi di saku jas seragam sekolahku. Kulihat nama yang tertera dilayarnya dan langsung menjawab panggilan masuk itu.

    “Yeoboseyo.” Kataku setelah menjawab telfon dari Hyerin Onni.

    “Kau dimana? Kenapa belum pulang juga? Bibi Ahn menelfonku tadi. Katanya ponselmu tak bisa dihubungi.” Dia langsung menyerbuku dengan pertanyaannya. “Kenapa Bibi Ahn tak bisa menghubungimu?”

    “Bateraiku hampir habis jadi tadi ponsel kumatikan. Dia mencariku? Aigoo, aku lupa memberitahunya.” Sudah kuduga. Bibi Ahn pasti menghawatirkanku karena aku belum juga pulang.

    Kudengar dari sebrang telfon, Hyerin Onni mendecak. “Kau dimana sekarang? Jangan pulang larut malam.” Katanya.

    Aku terkekeh. Mana mungkin aku berani pulang larut malam? Aku masih dibawah umur. Lalu saat pandanganku melihat laki-laki dengan baju kasual biasa dengan kemeja polos dan menggunakan kacamata baca masuk kedalam kedai ini, aku langsung bisa mengenali orang itu. Jo Kwangmin. Kenapa dia disini? Apa dia tahu aku sedang disini makanya dia kemari?

    Dia tampak sangat berbeda dengan penyamarannya, walaupun aku tahu dengan cepat. Aku melihatnya sedang mengedarkan pandangannya berkeliling tapi tak melihatku. Diapun berjalan kearahku namun matanya tak melihatku. Aish, orang ini.

    Akupun melambaikan tangan untuk menyadarkannya kalau aku duduk disini. Tapi tetap saja dia tak melihatku dan justru melewatiku. Aku terheran-heran. “Ya…” umpatanku tertahan begitu melihat dia menghampiri gadis yang duduk sendirian membelakangiku di sudut ruangan.

    Gadis itu menoleh begitu meyadari kehadiran Kwangmin. “Yang Ji Won?” gumamku tak percaya. Jadi mereka sering bertemu diam-diam disini? Apa Minji tahu tentang ini makanya aku disuruh kemari?

    Akupun mengantongi ponselku disaku jas seragam dan mengambil tasku dengan kasar lalu beranjak pergi dari kedai kopi ini. Kenapa? Kenapa aku harus melihat mereka berdua bersama ditempat ini? Kenapa harus aku yang melihat mereka? Ada sesuatu rasa yang aneh menyelimutiku. Seperti rasa cemburu namun tak bisa kutebak. Hatiku tidak terasa perih. Hanya saja terasa tidak nyaman di dadaku. Apa karena aku sudah tahu akan seperti ini jadinya? Ani. Aku tak pernah membayangkan akan seperti ini sebelumnya. Lalu apa? Perasaan aneh apa ini? Wajah orang lain justru muncul. Kenapa jadi wajahnya yang muncul? Ada apa denganku sebenarnya?

 

To Be Continue

 

Siders dan plagiator jauh-jauuuuh

15 thoughts on “[Chapter 9] If I Stay

  1. yey yey yey~~ ^^ readers pertama ^^

    huh!!! aku kok jd agak geregetan ya ma hyera -_-|||\ sudah sudah kau ma youngmin aj~~ kwangmin ma aku #PLAK!dibakarJIWONnGIRLFRIEND~

    lanjut saeng~ #dilihat2kamu96’LINEkan????? ^^ hehehehehe

    cuman yang ini terlalu sedikit ~~ part besok banyakin ya~~ ^^

    hwaiting!!!!!

  2. ishh, gemes tingkat dewa sama hyera >.<

    eon, wktu yg di part 8 kan jiwonnya ketemu seseorang di rmh sakit, itu siapa orangnya?? ko gak di ceritain lagi?? hehe

    lanjuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuut eon! jangan lama2 hehe ^^

  3. jangan lama-lama ya ppublish nya.. banyak yang nungguin tuh diatas..
    hehhe
    chingu, kira-kira sampe chapter berapa nih?? bakal panjang gak?
    chapter 10 panjangin lagi ya..🙂

  4. tuh kn hyera jd sakit hati..aku berharap dia nerima perasaan youngmin aja..kasian..jd greget sendiri..tp knp aku sering bgt baca hyera pov y..ji won aja g terlalu bnyk..hehe..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s