[Chapter 8] If I Stay


Tittle        : If I Stay

Author    : EnnyHutami

Cast        :

  • Jo Kwangmin
  • Jo Youngmin
  • Yang Ji Won
  • Lee Hyera

Other cast    :

  • Boyfriend’s member
  • Choi Minji
  • And other

Genre        : Romance

Length    : Chaptered

Rated        : PG-13

© EnnyHutami Fanfiction Story 2012

 

[Chapter 8]

 

Jo Youngmin

Melihat ia menangis dipelukan Kwangmin membuatku merasa miris. Andai saja itu aku dan bukannya adikku sendiri, Kwangmin.

    “Ne. Setelah dilarikan kemari, nona itu tak mau pergi dari sini. Dia terus terdiam dan akhirnya menelfon seseorang.” Perawat itu menjelaskan kenapa Hyera tak dibawa kamar rumah sakit untuk diperiksa.

    “Lalu kau tahu bagaimana kecelakaannya?” tanya Jeongmin Hyung.

    Perawat itu menggeleng. Mana mungkin perawat itu tahu? “Setahuku, saksi mata kejadian sedang ada di kantor polisi untuk diperiksa.” Kata perawat itu lagi.

    Aku mendengarkan perawat itu berbicara seraya melihat Kwangmin yang masih saja mengusap punggung dan rambut Hyera. perasaan aneh meyelimuti diriku lagi melihat mereka berdua. Apa aku cemburu?

Aku lihat tangan Hyera terjatuh lemas tak memeluk Kwangmin lagi. “Hyera-ya,” kata Kwangmin seraya mengangkat wajah Hyera yang terkulai lemas.

Aku berdiri dan mengambil alih posisi Kwangmin. “Hyera! Lee Hyera!” seruku sambil mengguncang pundaknya pelan. Tapi tak ada reaksi darinya dan matanya terpejam lalu akupun menggendongnya. Aku menatap perawat itu yang juga terlihat panik. “Dimana kamar untuknya?” tanyaku padanya.

Lalu perawat itu berjalan mendahuluiku dan aku mengikutinya. Tak kuhiraukan siapapun lagi yang mengajakku bicara. Dipikiranku hanya ada Hyera yang tak sadarkan diri dalam gendonganku.

“Ra-ya, bangunlah. Kumohon.” Bisikku seraya menaruhnya dibangsal.

Seorang laki-laki paruh baya dengan jas putihnya masuk dan langsung memeriksa keadaan Hyera. Beberapa menit dokter itupun langsung memberi tahu kami kalau Hyera baik-baik saja. Tak ada luka yang serius dan dia hanya terkejut.

Aku bernafas lega. Untunglah dia baik-baik saja walaupun matanya masih tertutup dan belum sadarkan diri.

Hyung, bisa aku bicara denganmu sebentar?” Kwangmin mendekatiku dan berbisik lalu keluar dari ruangan itu.

Aku menatapnya heran. Ada apa dengan anak itu? tidak biasanya ia begitu. Setelah keluar, akupun menutup pintu ruangan itu. “Ada apa?” tanyaku heran.

Dia terdiam cukup lama sampai akhirnya membuka mulut. “Hyung, aku tahu ini tidak terlalu penting. Tapi aku hanya penasaran saja. Kurasakan sikapmu berubah sejak ada Hyera, menjadi lebih peduli. Jangan salah paham, tapi aku hanya penasaran saja.” Ah, aku tahu. Apa sangat terlihat perubahan sikapku ini?

Aku memutar bola mataku. “Langsung saja ke inti.” Ujarku.

Dia terdiam lagi. “Hyung, apa kau menyukai Hyera?” tanyanya dengan raut wajah yang tak bisa kugambarkan. Aneh, menurutku. Seperti bukan Jo Kwangmin yang kukenal.

Sebelumnya aku memang pernah menyukai seseorang dan dia tahu. Tapi kenapa kali ini dia bertanya langsung padaku? Biasanya dia tidak terlalu memperdulikannya. “Kalau iya kenapa?” tanyaku dengan tenang. “Apa kau juga menyukainya?”

Lagi-lagi dia diam cukup lama. Raut wajahnya berubah. Mungkin dia sedang berdebat dengan perasaannya sendiri. Apa dia menyadari kalau dia mulai menyukai Hyera?

“Kurasa…” ia membuka suara. “Aku—tidak. Aku belum bisa melupakan Ji Won.” katanya.

Sekali lagi aku memutar bola mata. Kenapa dia tak mengaku saja? “Oh ya?” gumamku. “Kalau begitu aku tak akan melepasnya. Aku tak akan membiarkan seseorang menyakitinya walaupun itu kembaranku sendiri.” Sahutku dingin lalu kembali masuk kedalam ruangan tempat Hyera terbaring.

“…menelfon Ayah atau Ibunya? Atau siapapun keluarganya?” kudengar HyunSeong Hyung bertanya pada Minji. Kulihat gadis itu mengotak-atik ponsel milik Hyera.

Lalu Minji menyahut tanpa menolehkan pandangannya dari ponsel. “Ibunya sudah meninggal sedangkan Ayahnya diluar kota dan aku tak tahu dia punya kerabat lain atau tidak.” Lalu dia menengadahkan kepalanya menatap HyungSeong Hyung yang jauh lebih tinggi darinya. “Ah! Bibi Ahn!” serunya lalu menatap layar ponsel lagi sedangkan jari-jarinya dengan cepat menekan angka-angka.

Aku dan HyungSeong Hyung saling berpandangan heran.

Yoboseo, Bibi.” Katanya memulai setelah menunggu beberapa saat. “Ani, ini aku Minji. Park Minji. Teman Hyera.” aku tak tahu orang disebrang telfon itu berkata apa, namun kulihat Minji meringis. “Tentu saja bukan, Bi.” Katanya sambil terkekeh.

Kenapa dia tekekeh padahal tak ada yang lucu disini, dengan keadaan Hyera dan kakaknya yang belum sadarkan diri.

Ne, aku mengerti tapi bisakah Bibi segera kemari?” lanjut Minji dengan raut wajah yang berubah serius lalu ia memberi alamat rumah sakit ini dan menyuruhnya segera kemari.

Sedangkan kulihat Donghyun Hyung juga sedang menelfon. Pasti Manager, batinku.

“Apa katanya Hyung?” tanya Jeongmin Hyung setelah Donghyun Hyung menaruh ponselnya dalam saku celananya.

Dia menggeleng. “Aku yang menelfonnya. Dan kubilang kami dirumah sakit menemani teman.” Jawabnya. “Dan dia bilang jangan pulang larut malam walaupun besok kita belum ada kegiatan—kecuali kau, Minwoo.”

Kulihat Minwoo menganggukan kepala mengerti.

“Boleh aku menemani Hyera malam ini?” tanyaku langsung begitu saja tanpa memikirkannya terlebih dahulu.

 

Lee Hyera

Kecelakaan itu terulang lagi dalam mimpiku. Bagaimana mobil yang kutumpangi keluar dari jalurnya dan menabrak tiang dan jerit kesakitan yang terdengar ditelingaku. Padahal seingatku tak ada yang berteriak saat kejadian itu. Bahkan Hyerin Onni tak sadarkan diri begitu mobil menabrak tiang. Aku melihat darah segar mengalir turun dari kepalanya yang menempel dengan setir.

    Aku bangun dengan keringat mengalir dipelipisku. Aku melihat sekeliling dan mendapati ruangan serba putih dengan dua tempat tidur—termasuk tempat tidur yang kutempati ini. Namun tempat tidur itu kosong. Kutolehkan kepalaku kesebelah kiriku melihat jendela yang dibawahnya ditaruh sofa panjang. Kulihat laki-laki berambut pirang sedang duduk disana dengan mata terpejam.

    “Youngmin?” gumamku begitu menyadari siapa orang tersebut.

Aku merubah posisiku menjadi duduk dan seketika itu seperti ribuang jarum menusuk kepalaku. Sakit. Aku mengaduh seraya memegangi kepalaku dan menghampiri Youngmin yang tengah tetidur disofa. Kenapa hanya dia? “Youngmin-ah,” bisikku pelan mencoba membangunkannya.

    Tapi bukannya bangun dia hanya menggeliat dan merubah posisinya tidurnya.

    “Sejak kapan dia disini dan kenapa hanya ada dia?” gumamku sambil melihat wajahnya yang sangat lucu jika tertidur seperti ini. “Apa tidak dingin?” tanyaku lagi entah pada siapa dan aku mencoba berdiri untuk mengambilkan selimut untuknya. Namun dia menahan pergelangan tanganku.

    Sejak kapan ia memegang lenganku? Akupun mencoba melepaskan genggamannya dengan pelan agar dia tak terbangun. Pasti dia lelah sekali. Namun tangan satunya lagi yang bebas ikut menahan lenganku. “Disini saja.” Katanya tanpa membuka matanya lalu menarikku untuk duduk.

    “Kau tidak dingin?” tanyaku seraya menatapnya yang masih menutup matanya. Diapun menggeleng. “Sejak kapan disini?” tanyaku lagi.

    “Semalaman aku disini.” Jawabnya. Lalu dia membuka mata tapi tangannya masih menggenggam pergelangan tanganku. “Boleh aku bertanya padamu?”

    Aku mengangguk. “Tentang apa?”

    “Kemarin, apa aku orang pertama yang kau hubungi?” tanyanya dan membuatku terkejut. Seingatku memang dia orang yang pertama kuhubungi kemarin. Aku mengangguk. “Wae?” tanyanya lagi.

    Kini aku menatap kedepan dan menyenderkan punggungku dengan sofa. “Molla.” Jawabku jujur. “Waktu perawat itu menyuruhku menghubungi seseorang dan namamu lah yang terlintas begitu saja.”

    Aku menoleh dan mendapatinya tengah menatapku. “Bukan Kwangmin?” tanyannya lagi.

    Aku menggeleng. Aku juga heran kenapa bukan Kwangmin yang kuhubungi lebih dulu atau Ayah, Bibi Ahn dan Minji justru dia. “Mungkin karena janji itu.” ucapku kemudian begitu teringat ketika ia menelfonku pertama kalinya dan dia mendengarku menangis karena habis dari makam Ibuku.

    “Kalau kau tak ingat janji itu, apa aku masih orang yang kau hubungi pertama kali ketika kau dalam masalah?”

    Pertanyaannya membuatku menoleh dan kulihat ia tak sedang menatapku. “Kenapa menanyakan itu?” aku bertanya balik.

    Dia menggeleng. “Aniyo. Aku hanya ingin tahu.”

    Aku diam dan memikirkan kembali kemungkinannya. “Mungkin saja. Karena kemarin aku tak ingat janjiku itu sama sekali.”

    Kulihat sudut bibir Youngmin tertarik kebelakang membentuk senyum miring yang entah kenapa senyumnya kali ini berbeda dan membuat degub jantungku berdetak tak normal.

    “Annyeong!” seru seseorang dengan deritan khas pintu terbuka. Sontak aku berdiri dan Youngmin melepas genggamannya pada pergelangan tanganku. “Apa aku mengganggu?” tanyanya seraya melempar pandangan menggoda untukku.

    Ternyata Hyerin Onni yang masuk dan dia masih mengenakan pakaian rumah sakit sama sepertiku. Namun tangan kirinya dibebat perban. “Onni, tanganmu…” aku tak memperdulikan godaannya dan kini mataku turun melihat tangannya yang dibebat.

    “Oh, ini,” sahutnya. “Patah, tapi kata dokter hanya butuh waktu satu bulan untuk membuatnya seperti semula.”

    Baru saja aku hendak membuka mulut untuk meminta maaf namun kulihat seorang laki-laki masuk. Dia laki-laki yang sama yang mengantar Hyerin Onni pulang. “Annyeong.” Sapanya ramah.

    “Oh, Hyera. Ini temanku, Jung Yonghwa.” Hyerin Onni memperkenalkanku. “Yonghwa ini adikku, Lee Hyera.”

    Setelah berkenalan, orang-orang mulai datang. Minji, Bibi Ahn, Kwangmin, Jeongmin Oppa—belakangan ini orang-orang itu menyuruhku memanggilnya Oppa—dan teman-teman dari Hyerin Onni.

    Youngmin pun menjadi pendiam lagi. Kulihat pandangannya kosong entah apa yang dia pikirkan.

    “Hyera, kau mau keluar?” tanya Kwangmin tiba-tiba.

    Aku menoleh lalu mengangguk. “Aku juga bosan disini seharian.”

 

Yang Ji Won

Aku menyerah. Kukira kesempatan kedua terbuka lagi bagiku, namun itu hanya harapanku saja.

    Proses pengambilan video hanya sekitar dua jam dan tak memerlukan kontak fisik. Bahkan berpegangan tanganpun tidak. Dan Kwangmin hanya berbicara padaku sedikit saja. Selebihnya dia mendiamiku. Rasanya sakit diperlakukan seperti itu oleh orang yang kusayangi—tidak. Mungkin lebih dari itu. Yah, aku tahu aku sangat bodoh karena memintanya untuk mengakhiri hubungan kami. Namun waktu itu akalku tidak sepenuhnya bekerja. Aku justru terbawa omongan orang lain.

    “Onni, aku tidak apa-apa. Haruskah kita kerumah sakit?” tanyaku pada Managerku, Park Sora.

    Dia tak menoleh dan tetap memfokuskan matanya pada jalan didepannya. “Kau tak lihat betapa pucatnya wajahmu? Bahkan tubuhmu dingin sekali. Apa menurutmu itu baik-baik saja?” dia menekankan kata diakhi kalimatnya.

    Aku mendesah. Sulit sekali berbicara dengannya. Benar-benar keras kepala. Meskipun aku bilang ‘aku tak apa-apa’ tapi tetap saja dia membantah omonganku. Aku heran. Sebenarnya yang merasa tak enak badan dia atau aku?

    Sesampainya dirumah sakit, Sora Onni pun memarkirkan mobilnya lalu langsung menuju resepsionis menanyakan apakah dokter Kim—dokter yang biasanya merawatku—ada atau tidak karena kami kemari secara mendadak dan belum memberitahunya.

    “Ada. Namun beliau sedang menangani korban kecelakaan. Tunggu saja didepan ruangannya.” Kata resepsionis itu ramah.

    “Ne, kamsahamnida.” Sahut Sora Onni dan akupun mengikutinya lalu kamipun berjalan menuju ruangan dokter Kim di lantai tiga.

    Didalam lift, Sora Onni tak henti-hentinya menceramahiku tentang bagaimana harusnya aku menjaga kesehatanku. Kadang aku kesal kalau dia mulai dengan ocehannya namun disatu sisi aku bersyukur karena mempunyai manager yang sangat peduli padaku sepertinya dan diapun sudah kuanggap kakakku sendiri.

    Lift berhenti dilantai dua. Ketika pintu lift terbuka, kulihat Kwangmin sedang berjalan dengan seorang gadis yang memakai pakaian rumah sakit ini. Mataku menyipit untuk melihat lebih jelas. Hyera? Kulihat sepertinya Kwangmin tersenyum dan mengacak rambut Hyera. Seperti itu hubungan mereka? Pantas saja selama proses pembuatan musik video Kwangmin sangat cuek padaku. Itukah sebabnya? Tiba-tiba dadaku terasa sesak. Seperti oksigen tak mau mengisi paru-paruku lagi. Begitu sesak.

    Pintu lift tertutup dan naik lagi kelantai tiga. Begitu pintu lift terbuka lagi, aku keluar dari lift dan menyeret kakiku aga terus melangkah dan menunduk. Kakiku pun terasa sangat berat.

    Aku tahu Sora Onni menyadari perubahan sikapku namun untunglah dia diam saja dan tak lagi mengajakku bicara.

    “Ji Won-ssi,” aku mengangkat kepalaku begitu seseorang memanggi namaku dengan suaranya yang berat. “Bisa aku bicara denganmu?”

 

To Be Continue

9 thoughts on “[Chapter 8] If I Stay

  1. eonni-ya~ kependekan T.T
    lagi asik baca, eh udah tbc aja..

    oh ya, ini tamatnya smpe chapter brp eon? hehe #penasaran

    lannnnjuuuutt yaaaa ^^ agak panjangin lagi ya?? #pemaksaan
    Hwaaiiitinnggg!!

  2. Authornya pinter bgt bwt penasaran hehe >_<
    akhirnya ji wonnya muncul ^^ kwangmin makin dilema hahaha tp yg part ini krg pnjang chingu ._.v piss

    • kan aku misterius^^ *sigh* *kabur*
      hehe itu Kwangminnya gak nyadar loh ada jiwon disitu._. *kasih bocoran*
      yah, kayaknya aku gak jago buat yang panjang nih-_- aku usahain next chap lebih panjang deh.
      makasih udah baca^^

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s