[Chapter 4] Different


 


  • Tittle    : Different
  • Author    : Ennyhutami
  • Lenght    : Chaptered
  • Cast    :
  1. Lee Taemin
  2. Choi Minho
  3. Bae Su Jie
  • Other cast :
  1. Cho Kyuhyun
  2. Park Jiyeon
  3. other
  • Genre    : Fantasi, Romance
  • Note    : part empat keluaaaar, annyeong. Yang baca mulai berkurang yah, pada mulai bosen sama ceritanya ya? Yah, author usahain biar gak ngebosenin deh. Happy reading~

 

Setelah kejadian itu, Taemin selalu berada disampingku ketika disekolah. Dan mulai tersebar gosip bahwa aku dan Taemin menjadi sepasang kekasih. Tentu saja banyak yang tidak senang mendengarnya karena banyak murid perempuan yang menyukai Taemin.

Begitu juga dirumah, ia juga sering main sampai hari hampir gelap. Katanya dia tak mau mengambil resiko keluar malam karena para Satys dengan mudah mencium baunya. Aku tidak mengerti kenapa.

    “Memangnya kau tidak merasa lelah setiap hari datang kerumahku? Paman pasti sudah melarangmu, bukan?” tanyaku padanya ketika wajahnya mulai terlihat pucat. Hari ini dia ingin kembali kerumahku untuk berjaga-jaga andai saja Minho berniat untuk menyelinap kerumahku seperti yang dia lakukan malam itu.

    Aku tahu kenapa dia, Choi Mnho, bertanya padaku dengan kasar seperti itu. Mungkin saja ia tak mau aku memberitahu kepada orang-orang wujud aslinya. Yah, memang tidak berbeda jauh dengannya sekarang—mata merah menyalanya yang membuatnya mengerikan—sisanya seperti normal-normal saja. Itulah wujudnya yang kulihat malam itu, dimimpi tentu saja. Tapi dia tak mau mengambil resiko kalau orang-orang tahu wujud aslinya, bukan?

    “Tidak apa-apa. Aku sudah berjanji akan melindungimu dari iblis keparat itu, bukan?”

    Bisa kulihat dari ekspresinya kalau dia sangat membenci Minho. Toh, mereka sama-sama mengalir darah iblis.

    “Jangan samakan aku dengannya.” Ucapnya dengan nada menunjukkan ketidaksukaan. Ups, aku lupa kalau dia bisa membaca pikiranku. Lalu kulihat ia tersenyum seraya mengacak-acak rambutku. “Ayo pulang.”

    Aku menahannya sebelum ia mengantarku. “Tidak usah.” Kataku terlalu cepat karena ia sekarang menyipitkan matanya. “Lebih baik kau istirahat. Aku bisa pulang sendiri.” Lanjutku buru-buru.

    “Kau yakin?” aku mengangguk mantap meyakinkannya. “Baiklah, ayo pergi.” Ajaknya seraya menarik tanganku lembut.

    Kurasakan jantungku berdetak lebih cepat. Entahlah, aku merasa nyaman diperlakukan seperti ini dengannya. Rasanya seperti Ayah yang menggenggam tanganku. Tiba-tiba dadaku terasa sesak mengingat Ayahku dan tentu saja Ibuku. Kira-kira, mereka sedang apa disurga sana?

    Taemin menggengam tanganku lebih erat. Aku tahu ia pasti mendengar apa yang kupikirkan saat ini. Aku menoleh menatap punggungnya karena aku berjalan dibelakangnya. Ia menggenggam tanganku lebih erat lagi menyemangatiku. Terimakasih, kataku dalam hati dengan tulus.

    Ia menghentikan langkahnya dan aku mengikutinya menghentikan langkahku. Lalu ia berbalik dan memelukku dengan satu tangannya masih menggenggam tanganku. Lagi. Jantungku berdetak tak karuan. Ada apa denganku? “Jaga dirimu.” Katanya setelah ia melepas pelukannya. “Aku pulang. Annyeong, Su Jie-ah.” Iapun berlalu pergi.

    Tanpa sadar aku menyunggingkan senyum sembari menatap punggungnya yang semakin menjauh. Istirahat yang cukup, Taemin-ah, ucapku dalam hati karena aku tahu ia bisa mendengarku. Lalu kulihat ia mengangkat tangan kanannya dan melambaikannya tanpa menoleh kebelakang. Aku terkekeh melihatnya lalu berbalik dan melangkahkan kakiku menuju rumah.


 

“Maaf, Su Jie-ya, aku ada keperluan mendadak untuk ke Seoul hari ini juga. Kau tahu Mrs. Kim? Pemilik butik tempat kerjaku di Seoul waktu itu? dia menyuruhku datang agar aku membantunya untuk mengurus acara musik yang akan dilaksanakan dua hari. Jadi kau tak keberatan aku tinggal dua hari?”

    Aku mengangguk menjawab pertanyaan Jiyeon Onni lewat ponselku. Jadi aku menambahkan kata, “Ne, aku tak keberatan.” Karena aku tahu Jiyeon Onni tak bisa melihatku menganggukkan kepala.

    “Ne, Mrs. Kim! Aku segera kesana!” kudengar ia berteriak dan menggerutu tak jelas dari sebrang telfon. “Su Jie-ya, aku harus pergi sekarang. Jaga dirimu baik-baik selama aku pergi.”

    Aku terkekeh mendengarnya. “Tenang saja, aku ini sudah dewasa.” Ujarku tertawa. “Yah, mendekati.” Tambahku membenarkan.

    Kudengar ia tertawa. “Aku harus pergi sekarang. Mrs. Kim cerewet sekali kalau kau tahu. Aku menyanyangimu.” Lalu ia memutus telfon.

    Aku tahu ia sudah menutup telfonnya tapi aku belum merubah posisi ponsel dari telingaku. “Aku juga menyanyangimu, Onni.” bisikku.

    Kuakui belakangan ini Jiyeon Onni cukup sibuk dengan urusan kuliah dan pekerjaannya. Yah, aku tahu itu untuk membiayai hidup kami juga. Tapi aku merasa kesepian karenanya.

    Karena tak tahu harus kemana, jadi aku berjalan menuju danau didepan rumahku. Tempat itu yang kudatangi saat aku kesepian seperti sekarang. Andai saja Taemin kerumahku mungkin tidak akan sesepi ini. Aku menggelengkan kepala. Tidak, seharusnya ia beristirahat dirumahnya. Bisa saja suatu waktu para Satys menemukannya disaat dia terlalu lelah karena menjagaku dari ancamana Minho.

    Sebenarnya aku tak tahu apa bahaya yang akan ditimbulkan oleh Minho. Dia bersikap biasa saja disekolah seolah tak ada peristiwa apapun yang membuatku ketakutan setengah mati melihat mata merahnya dan ketika ia menghilang secepat kilat.

    Lalu kurasakan seseorang duduk disampingku ditepi danau. Aku menoleh dan terlonjak kaget serta bangkit berdiri setelah melihat siapa yang duduk disampingku. “Kau!” pekikku. Rasa takut langsung menyerbu diriku.

    Melihatku memasang kuda-kuda dan siap untuk berlari secepat mungkin, dia tersenyum sinis seraya memandang kedanau. “Tak perlu takut seperti itu.” Ucapnya lalu melempar batu kedalam danau.

    Aku masih terpaku ditempatku sambil menatapnya waspada. Hey, dia ini bukan manusia. Wajar, bukan, jika aku waspada?

    “Tenang saja, aku tidak akan menyakitimu, Su Jie-ssi.”

    Dia juga bisa membaca pikiranku? Entah kenapa aku merasa iri pada mereka karena bisa membaca pikiran orang lain. “Mau apa kau kemari?” tanyaku hati-hati.

    Ia terkekeh. Kenapa ia tertawa? Ada yang lucu? “Kau lucu. Memangnya aku tidak boleh kemari? Rumahku disana ingat?” ia melemparkan tatapan matanya menuju rumah disebrang danau.

    Tapi setidaknya ia tak berjalan jauh kemari—maksudku lihat saja jarak rumahnya menuju rumahku memutari danau. Dan aku juga tak melihatnya berjalan kemari. Tahu-tahu saja dia sudah duduk disampingku.

    Dia merebahkan tubuhnya diatas rumput dan menjadikan tangannya bantal. “Aku mau meminta maaf tentang kejadian beberapa hari yang lalu.” Ia mengabaikan pikiranku tentang berjalan kemari. Mungkin menurutnya tak penting bagaimana ia bisa sampai kemari tanpa aku melihatnya.

    “Mm,” sahutku. “Boleh aku tanya padamu?” giliranku bertanya padanya masih berdiri ditempatku semula. Kulihat ia mengangguk jadi aku meneruskan. “Kemarin… apa yang kau maksud tentang malam itu?” tanyaku sambil menekankan kata malam itu.

    Kulihat ia memejamkan matanya. Aku terpaku menatap wajahnya. Dia… begitu tampan tanpa goresan disekitar wajahnya. Sempurna—hampir maksudku. Karena tak ada yang sempurna didunia ini kecuali Tuhan.

    “Malam itu entah kenapa, aku masuk kekamarmu dalam wujud asliku.” Aku merinding membayangkan dia dalam wujud aslinya yang entah bagaimana wujudnya masuk kedalam kamarku. Jadi ini bukan wujud aslinya? Aku kira inilah wujud aslinya—dan dengan mata merah menyala yang membuatku takut—sempurna seperti Edward Cullen, si Vampir yang sangat tampan.

    Apa wujud aslinya seperti monster? Dia ini ‘kan iblis. Bisa saja wujud aslinya itu dengan tanduk merah di kepalanya dan seluruh tubuhnya yang bewarna merah sama seperti warna matanya.

    “Tidak.” ia meralat pikiranku. “Wujudku tidak seperti yang kau bayangkan—tidak sejelek yang kau pikirkan barusan.” Ia membenarkan dengan sedikit terkekeh.

    Oh. Walaupun dia iblis, dia masih memikirkan penampilan fisik? Aku terkekeh pelan. Aku belum pernah melihatnya tertawa sebelumnya. Disekolah dia sangat dingin, ingat?

    “Duduklah.” Pintanya. Aku menatapnya ragu. Kalau aku duduk, akan sulit aku berlari jika ia mulai macam-macam. “Sudah kukatakan sebelumnya, aku tidak akan menyakitimu.” Ujarnya lembut masih tetap memejamkan matanya.

    Entahlah, tapi perasaan takut yang menyelimuti diriku tadi perlahan menghilang. Dia aku duduk diatas rumput beberapa meter darinya. “Jadi…” aku menyusun kalimat untuk kutanyakan lagi. “Bagaimana bisa kau masuk kedalam kamarku dan buat apa kau… eung… masuk kekamarku?” tanyaku heran. Dan bagaimana ia masuk kedalam rumahku? Jiyeon Onni bukanlah orang yang ceroboh membiarkan pintu rumah tak terkunci. Lagipula kalau dia lewat pintu yang menghubungkan kamarku dengan balkon, itu terlalu tinggi untuk dipanjat.

    “Aku tidak seperti kalian, ingat?” bahkan dia menyebut manusia dengan kata ganti kalian. “Lagipula pintu yang menghubung ke balkon kamarmu tidak terkunci.” Ah, aku memang begitu ceroboh. “Dan entah iblis apa yang merasuki—”

    “Hey, kau ini iblis ingat?” aku memotongnya.

    Ia menatapku seraya menahan tawa. “Aku tahu. Tapi selama seratus tahun aku hidup dibumi,”

    “Tunggu.” Lagi-lagi aku menyelanya. “Apa kau bilang? Seratus tahun?” setua itukah dia? Kenapa fisiknya seperti remaja-remaja kebanyakan? Bahkan lebih tampan.

    Kulihat ia tertawa lagi. Demi Tuhan, jarang sekali aku melihatnya tertawa—bahkan tidak pernah, hanya kali ini. Saat dia tertawa dia terlihat sangat… tampan.

    “Aku tahu aku tampan. Tak perlu memikirkan hal seperti itu.” bodoh! Lagi-lagi aku lupa kalau dia bisa membaca pikiranku.

    Tiba-tiba Minho berdiri. Dengan gerakan yang tak bisa kulihat. Sangat cepat. “Aku harus pergi.” Katanya tanpa menatapku tapi tidak beranjak dari tempatnya.

    Aku ikut berdiri. Mengikuti arah pandangannya. Ia melihat kerumahnya. Didepan gerbang rumahnya kulihat seorang laki-laki yang kupikir itu adalah kakaknya—karena aku pernah melihatnya sekali entah kapan—berdiri sambil menatapku tajam.

    “Kemana?” tanyaku. Baru saja aku merasa tidak kesepian lagi, tiba-tiba harus ditinggal pergi lagi. Mungkin aku sudah gila membiarkan diriku bersama makhluk lain, tapi entah mengapa aku nyaman berada disampingnya.

    “Para Satys ada didaerah ini.” Orang pertama yang kuingat begitu ia menyebutkan nama Satys adalah Taemin. Berarti dia dalam bahaya jika para Satys ada disini. “Kakakku menyuruhku pergi. Kembali kerumahmu, tutup semua pintu dan jendela serta tirainya.” Lanjutnya.

    Aku menatapnya heran. Untuk apa itu?

“Kalau para Satys sudah menemukan Nephilem itu,”

“Taemin.” Sergahku. Telingaku tidak nyaman dia memanggil Taemin dengan sebutan lain.

“Baiklah,” sahutnya lalu melanjutkan. “Dia bisa mengendus bau tubuhmu dan mereka akan tahu bahwa kau mengetahui rahasia tentang Nephilem. Mereka itu sangat dirahasiakan. Hanya orang-orang tertentu yang mengetahuinya.” Wow, aku benar-benar merasa istimewa sekarang—tapi sayangnya hal-hal mengerikan yang aku tahu kebenarannya.

Lalu tiba-tiba, dengan gerakan cepat, aku sudah berada digendongannya. “Ya! Turunkan aku!” seruku sambil mencoba turun. Dia tak memperdulikanku ucapanku. Dia justru berlari—aku seperti dibawa terbang olehnya, karena dia sangat cepat. Tak ada satu detik, aku sudah berada di depan rumahku. “Wow,” gumamku takjub.

“Cepat masuk, aku pergi.” perintahnya lalu sosoknya sudah tak terlihat olehku.

TBC

26 thoughts on “[Chapter 4] Different

  1. Unnie,
    Ayo cepetan terusinnya , bener-bener nggak betah nunggu in nih !! *hehehe, maksa amat* …
    Ceritanyaa bagus banget , nyambung dan nggak berbelit-belit Onnie !!🙂
    Udah darii beberapa hari kemarin , nunggu !

  2. Ahahaha !!
    Ne , Gapapa kok Onnie ! Masih mending Onnie yg bisa bikin FF dan berimajinasi tinggi daripada Saya >,< *bikin cerpen aja belibetnya sampe pada muntah yg baca*
    Buat Onnie , Hwaiting terus !! Saya akan menunggu semua FF nya, *terlanjur Jatuh Cinta sama Minho Suzy dan pastinya Authornya*

  3. Bagus thor^^
    ayo donk lanjutin next chapter’a, jgn lama2 yaak, cz dah pnsran bgt nih#lebay
    kalo bisa next chapter’a lebih puuaaanjaaang yaak thor, kkk~#maksa
    Hwaiting thor^^

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s