[Chapter 2] If I Stay



 

Tittle        : If I Stay [Sequel ‘I’ll Be There]

Author    : EnnyHutami

Cast        :

  • Jo Kwangmin
  • Jo Youngmin
  • Yang Ji Won
  • Lee Hyera

Other cast    :

  • Boyfriend’s member
  • Choi Minji
  • And other

Genre        : Romance

Length    : Chaptered

Rated        : PG-13

Note        : Fanfict ini sequel dari “I’ll Be There” buat yang belum baca fanfict sebelumnya, silahkan dibaca dulu biar nyambung sama cerita yang ini. Arti nama yang ditebalkan berarti dari sudut pandang orang tersebut. Cerita ini fiksi belaka, jangan ada yang nanya bener nggak nih, soalnya itu Cuma karangan Author loh haha dan cerita ini murni milik Author. Kalau ada kesamaan isi cerita dengan punya orang lain, tapikan gaya bahasa tiap orang beda-beda. Jangan lupa pada komen ya~

© EnnyHutami Fanfiction Story 2012

 

[Chapter 2]

 

Jo Kwangmin

 

Aku sebenarnya ingin menaruh gadis ini di sofa. Salah aku mengankatnya seperti ini. Seharusnya aku menggendongnya dipunggungku, tapi itu sulit kulakukan jika sedang turun salju seperti tadi.

    Aku melihat tatapan mata penuh selidik dari mereka berlima. Aku tahu apa yang mereka pikirkan. “Kau apakan gadis itu?” “Siapa gadis itu?” sebelum mereka bertanya seperti itu, aku langsung menjelaskan bagaimana aku bisa membawa gadis yang tidak sadarkan ini kemari.

    “Bawa dia kekamar.” Perintah HyunSeong Hyung. Dia, sih, enak hanya menyuruh sedangkan aku mengangkatnya dari taman sampai kemari dan itu lumayan berat melihat tubuh gadis ini yang kecil.

    Aku langsung membaringkan gadis ini dikasur di kamar yang bukan milikku. Aku ingin sendirian sekarang ini.

    “Kwangmin-ah, kau putus dengan Ji Won?” tanya Minwoo sebelum aku masuk kedalam kamar.

    Aku diam beberapa saat. Mendengar namanya seakan membuat lubang dihatiku semakin meluas. “Ne,” sahutku. “Jangan ganggu aku.” Lalu aku mengunci pintu kamar.

    Setelah mengunci pintu, aku mengambil I-pod pemberian Ji Won dulu sebelum kami menjadi sepasang kekasih. Lalu memutar musik dan mendengarkannya dengan menggunakan earphone dengan volume yang cukup keras dan mencoba memejamkan mata untuk tidur.

    Tapi bukannya tertidur, justru wajah Ji Won terus ada dibenakku. Aku membuka mata dan menghela nafas berat mencoba mengatur emosiku.

    Apakah selelah itu Ji Won sampai memutuskan untuk mengakhiri ini? Dan kenapa dia ragu kalau aku menyukainya? Aku tak tahu. Otakku terlalu lelah untuk berpikir. Ditambah lagi jadwal Boyfriend yang padat karena rekaman dan membuat musik video untuk mini album terbaru.

    Tak terasa akupun terlelap tidur dengan pertanyaan-pertanyaan yang masih menghantuiku.

 

Beberapa jam aku tertidur dan begitu bangun, perasaanku semakin kacau. Mimpi buruk yang sangat buruk datang. Aku bermimpi kalau Ji Won memutusku hanya karena laki-laki lain yang lebih perhatian dariku. Baik, aku tahu kalau aku salah membiarkannya seperti itu. tapi itu bagian dari rencana. Itu semua juga rencanaku.

    Dengan gusar aku bangun dan melepas earphoneku lalu kulempar I-pod pemberian Ji Won ke kaca melimbulkan suara yang cukup bising. Masih kesal, aku meninju kaca yang tak retak sedikitpun karena bantingan I-pod dengan kepalan tangan kananku. Lalu kudengar diluar kamarku, orang-orang menyerukan namaku.

    “Kwangmin, buka pintunya!” perintah suara Donghyun Hyung. Aku mengabaikannya.

    Kulihat darah segar mengalir dari kepalan tangaku dan entah kenapa saat itu juga aku ingin menangis. “Kau cengeng, Jo Kwangmin!”

 

Lee Hyera

Begitu suara seperti kaca yang dibanting itu terdengar lagi, aku mengikuti mereka berlima melihat apa yang terjadi.

    “Kwangmin, buka pintunya!” Dongyun mencoba membuka pintu kamar disebelah kamar yang tadi kutempati.

    Kulihat Youngmin dengan sigap membuka pintu menggunakan kunci cadangan. Begitu pintu terbuka, kulihat laki-laki yang tadi memberiku syal mengepalkan tangannya kedepan cermin yang sudah pecah berantakan. Kulihat darah segar mengalir dari kepalan tangannya.

    “Kau cengeng, Jo Kwangmin!” aku mendengarnya berbicara pada dirinya sendiri sebelum ia terisak.

    Astaga, dia menangis? Aku benar-benar tak bisa melihat laki-laki menangis. Itu tandanya dia punya masalah yang berat bukan berarti dia cengeng seperti apa yang dikatakannya barusan.

    Mereka berlima langsung mengerubungi laki-laki yang bernama Kwangmin itu sedangkan aku terpaku ditempatku berdiri dengan tanganku menutupi mulut yang setengah terbuka melihat darah sekaligus laki-laki itu menangis.

    Kulihat Youngmin menghampiriku. “Kuharap kau tidak memberitahu siapa-siapa tentang ini.” Katanya. Suaranya terdengar dingin seperti mengancam.

    Aku mengangguk masih terpaku pada tetesan darah. “Aku harus pergi.” Kataku lalu berbalik untuk pergi.

    Seseorang menahan tanganku. Aku kembali berbalik dan melihat laki-laki tadi, Jo Youngmin, tengah menahan lenganku. Aku menatapnya heran. Lalu ia melepas genggaman tangannya dilenganku. Cepatlah, bau darah itu membuatku tak nyaman! Kataku tak sabar dalam hati. “Pakai ini, diluar sangat dingin.” Katanya seraya menyerahkan jaket berwarna hitam yang kelihatannya bisa membuatku hangat diluar sana.

aku mengambil jaket yang dia serahkan padaku. “Kamsahamnida. Nanti akan kukembalikan.” Sahutku lalu berbalik pergi keluar dari apartemen tersebut. Darah benar-benar membuat kepalaku berputar.

    Untung saja diluar aku melihat mobilku sedang mondar-mandir di dekat taman. Begitu sampai dirumah, Hyerin Onni, kakakku, memarahi habis-habisan si supir baru itu dan langsung menyuruhku mandi dan makan.

~oOo~

 

School of Performing Arts Seoul?”

    Aku menatap tak percaya pada Hyerin Onni ketika tiba-tiba ia masuk kedalam kamarku seraya membawa seragam sekolah yang akan menjadi sekolahku disini. Dia mengangguk. Aku mencari apakah dia hanya bercanda dalam matanya tapi tak ada. Dia tak bohong. “Kau serius? Sekolah seni?” tanyaku lagi memastikan.

    Hyerin Onni mengangguk lagi. Apa aku bermimpi? Dari dulu aku ingin masuk kesekolah seni namun ditentang hebat oleh Ayahku. “Appa membolehkan?” tanyaku lagi.

    Hyerin Onni mengangguk lagi. Sekarang senyumnya mengembang di wajahnya. “Ne, Appa baru tahu kalau kau berbakat dibidang seni. Melukis dan menyanyi.” Katanya.

    Aku mengerutkan kening. “Kapan dia mendengarku menyanyi?” tanyaku heran. Kalau lukisanku mungkin dia sudah melihat karena jika punya waktu luang aku menghabiskan waktu dengan melukin. Tapi bernyanyi, selama ini aku belum pernah menyanyi didepan keluargaku sendiri, hanya Hyerin Onni yang sering mendengarku menyanyi—oh! Aku tahu.

    Lalu ia mengeluarkan sebuah alat perekam dan menunjukkannya padaku dengan seringaian yang dilukis diwajahnya.

    Senyumku melebar lalu aku menghambur dipelukan Hyerin Onni. “Gomawo, Onni. Jeongmal gomawo.” Kataku tulus. Sangat beruntungnya aku mempunyai kakak seperti dia.

    “Ne, Hyera-ya.” Sahutnya lalu aku melepaskan pelukanku. “Kau mau lihat sekolahnya?” tawarnya.

    “Bukankah hari ini libur?” tanyaku heran. Kalau libur bukankah sekolah tutup?

    “Tidak. Hari ini hari mereka masuk sekolah.”

 

Jo Kwangmin

Hari ini terakhir masuk kesekolah. Rasanya aku ingin bolos saja agar tak bertemu Ji Won. Entah kenapa aku belum siap bertemu dengannya. Takut emosiku tak bisa kukontrol lagi seperti kemarin.

    “Hyung, gadis yang waktu itu mengembalikan syal merahku?” tanyaku pada Donghyun Hyung saat perjalan kesekolah. Kali ini kami—aku, Youngmin Hyung, dan Minwoo—berangkat sekolah diantar Donghyun Hyung yang saat ini sedang tak ada kuliah.

    “Kemarin Youngmin Hyung menyuruhnya untuk dipakai saja.” Minwoo menjawab pertanyaanku.

    Aku menoleh. “Eh? Syal itu mau dipakai minggu depan Hyung.” Sahutku.

    “Hyera pasti akan mengembalikannya.” Namanya Hyera, huh? “Aku juga meminjamkan jaketku padanya.” timpal Youngmin Hyung.

    “Meminjamkan jaketmu?” kini Donghyun Hyung bertanya pada Youngmin.

Kini Minwoo ikut menimpali. “Kemarin aku melihat kau meminjamkan jaket kesayanganmu, Hyung. Tumben sekali.” Katanya. Ah, aku lupa kalau Youngmin Hyung bukanlah tipe orang yang dengan senang hati meminjamkan barangnya pada orang yang baru ia kenal.

    Kulihat Youngmin Hyung menoleh pada Minwoo dan menatapnya heran. “Membiarkan gadis itu keluar dengan kaus tipis di cuaca sedingin ini?” tanya Youngmin Hyung sakartis. “Aku tidak setega itu.” lanjutnya.

    Donghyun Hyung dan Minwoo terkekeh. “Kau benar.” Sahut Donghyun Hyung tanpa mengalihkan pandangannya dari jalan.

    Mendengar mereka aku tak tertarik untuk tertawa. Itu seperti aku telah lupa bagaimana caranya tertawa tanpa gadis itu… Yang Ji Won.

    “Hyung jadwal minggu ini bagaimana?” tanya Minwoo ketika Donghyun Hyung memarkirkan mobil didepan sekolah.

    Donghyun Hyung mematikan mesin mobil. “Seingatku hanya dua acara musik minggu ini.” Jawabnya.

    “Ah, akhirnya istirahat.” Timpal Minwoo senang.

    Biasanya itu akan membuatku terlonjak kesenangan. Tapi entahlah, kali ini menurutku itu hal buruk karena aku tak ada kesibukkan yang membuatku melupakan Ji Won mekipun hanya sementara.

~oOo~

 

Aku selalu berharap kalau keputusan Ji Won untuk mengakhiri hubungan kami itu hanya gurauan saja. Tapi nyatanya tidak. Ketika aku bertemu dengannya di sekolah, kulihat ia sedang keluar dari perpustakaan dengan Minwoo dan temannya.

    Baru saja aku ingin menghampirinya untuk menanyakan kembali keputusannya. Mungkin saja ia ragu dan akan memintaku untuk kembali. Tapi kuurungkan niatku begitu tatapan mata kami bertemu. Dengan hitungan detik ia langsung mengalihkan pandangannya dan pergi begitu saja.

    Apa sebenci itukah dia padaku sampai hanya menatap mataku tak mau?

    Aku menatap Minwoo tajam. Kenapa kulihat belakangan ini dia selalu bersamanya? Apa itu alasan Ji Won memutusku? Karena laki-laki lain, No Minwoo, member grupku sendiri?

 

Ketika sepulang sekolah, Minwoo mengajakku bicara tentang Ji Won sebelum mobil yang menjemput kami datang dan menunggu Youngmin Hyung.

    “Kenapa kau bersikap dingin padanya, Kwangmin?” ia memulai.

    Bersikap dingin padanya? aku diam tak menjawabnya.

    “Hey, jawab aku, Hyung.” Pintanya dengan suara pelan agar orang yang berlalu lalang tak mendengar pembicaraan kami. “Kau tahu dia sangat menyesal…”

    “Tidakkah kau pikir disinilah aku yang menderita, Minwoo-ssi?” tanyaku geram tapi masih menjaga suaraku. Kalau dia menyesal, kenapa melihatku saja tidak mau?

    “Kwangmin-ah…” kata-katanya terhenti begitu melihat Youngmin Hyung datang. Aku langsung memalingkan wajah.

    Beberapa menit kemudian, Mobil yang menjemput kami datang. Aku langsung masuk dan membuka kaca mobil. Walaupun ini dilarang, tapi aku sedang ingin merasakan angin kota Seoul yang dingin dari dalam mobil. “Aku ingin begini. Sebentar saja.” Kataku pada Youngmin Hyung ketika dia mulai menyuruhku untuk menutup kembali kaca mobil.

    Dia diam tak meresponku. Aku tahu kalau dia sangat tahu apa yang kurasakan kali ini. Hanya saja ia tak seperti Minwoo yang justru menceramahiku. Justru Youngmin Hyung membiarkanku sendiri dulu untuk membuatku tenang.

    “Kwangmin!” aku menoleh begitu kudengar suara gadis meneriaki namaku. Aku menoleh begitu melihat gadis berperawakan kecil tidak memakai seragam sekolahku itu dan melemparkan senyum padanya. Lalu kulihat ia berlari menghampiri mobil yang kunaiki.

    Tapi mobil justru mulai melaju pelan. Aku masih menatap gadis itu lagi heran. “Ya! Kau! Jo Kwangmin!” Dia meneriaki namaku lagi, tapi itu terdengar bukan jeritan seorang penggemar pada idolanya. Kulihat lagi sekilas orang itu, wajahnya terasa tak asing. Siapa dia?

 

To Be Continue

4 thoughts on “[Chapter 2] If I Stay

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s