[Chapter 1] If I Stay


 
 

Tittle        : If I Stay [Sequel ‘I’ll Be There]

Author    : EnnyHutami

Cast        :

  • Jo Kwangmin
  • Jo Youngmin
  • Yang Ji Won
  • Lee Hyera

Other cast    :

  • Boyfriend’s member
  • Choi Minji
  • And other

Genre        : Romance

Length    : Chaptered

Rated        : PG-13

Note        : Fanfict ini sequel dari “I’ll Be There” buat yang belum baca fanfict sebelumnya, silahkan dibaca dulu biar nyambung sama cerita yang ini. Arti nama yang ditebalkan berarti dari sudut pandang orang tersebut. Cerita ini fiksi belaka, jangan ada yang nanya bener nggak nih, soalnya itu Cuma karangan Author loh haha dan cerita ini murni milik Author. Kalau ada kesamaan isi cerita dengan punya orang lain, tapikan gaya bahasa tiap orang beda-beda. Jangan lupa pada komen ya~

© EnnyHutami Fanfiction Story 2012

 

 
 

[Chapter 1]

Jo Kwangmin

Dia bukanlah gadis yang pandai berbohong. Aku tahu itu dan aku sangat senang karena ia tak akan bisa membohongiku. Namun kali ini aku mohon perkataannya barusan hanya gurauannya saja.

    “Kau…” aku membuka mulut hendak bertanya padanya apakah ia sedang bergurau. Tapi kuhilangkan pikiran itu begitu melihat raut wajahnya yang terlampau serius. “Apa alasanmu?” tanyaku parau. Aku mengedipkan mataku tak percaya hatiku akan terasa sakit seperti ini.

    Kulihat dia menatapku dengan tatapan menyesal. Apa dia menyesal telah menjadi kekasihku? “Aku tahu resiko menjadi kekasihmu.” Ia memulai. “Dan aku bisa menerimanya. Tapi belakangan ini kau tak ada kabar. Aku hanya melihatmu disekolah tapi kau hanya tersenyum padaku tiap kita berpas-pasan di koridor dan tidak menyapaku.” Benarkah aku seperti itu? “Aku sangat lelah dengan itu. Bahkan aku ragu kalau kau menyukaiku, Kwangmin-ssi.”

    Bahkan dia sudah memanggilku dengan formal seperti itu. Seharusnya dia juga tahu bagaimana keadaanku yang sibuk dengan grupku. Dan ini semua karena ponsel sialan yang terjatuh di toilet. Aku tak sanggup untuk berkata-kata. Aku hanya terus menatap matanya. Begitu tatapan mata kami bertemu ia segera memarlingkan wajahnya.

    Tanpa berkata apapun, ia pergi meninggalkanku disini sendirian dengan luka yang dia buat untukku.

    Salju pun mulai turun. Aku mengabaikan tetesan salju yang mengenai kepalaku. Lalu kucengkram pagar besi yang seharusnya terasa dingin ditanganku yang telanjang tanpa mengenakan sarung tangan sampai buku-buku jariku memutih. Harusnya besok aku akan memberi kejutan padanya untuk merayakan hari jadi kami menjadi sepasang kekasih yang ke enam bulan. Tapi nyatanya justru menjadi seperti ini. Bahkan semua member grupku sudah membantuku menyiapkan kejutan untuknya. Aku mengacak rambutku frustasi lalu pergi meninggalkan tempat kesukaanku namun menjadi tempat tersialku.

    Sesampainya ditaman dekat dengan dorm, aku melihat seorang gadis duduk dibangku taman dengan kepalanya dibenamkan ke lutut yang dipeluknya sedangkan rambutnya terurai menutupi punggung dan lengannya. Kulihat ia hanya mengenakan kaus tipis dan celana panjang tanpa jaket. Apa dia tidak merasa dingin?

    Baru saja aku ingin meninggalkan gadis itu, namun kulihat tubuhnya gemetar. Karena khawatir, aku menghampirinya. “Hey,” ucapku seraya duduk didepan gadis yang masih memeluk lututnya.

    Ia mengangkat kepalanya tapi tetap pada posisi memeluk lututnya. Ia menatapku heran Lalu membenamkan kepalanya kedalam lututnya lagi.

    “Kau baik-baik saja?” tanyaku.

    Kulihat kepalanya menggeleng tapi tetap tak mengangkat wajahnya. “D-d-dingin se-e-kal-i-i.” Katanya sambil merapatkan pelukannya pada kedua lututnya. Bisa kudengar ia giginya bergelutukan karena menggigil. Dengan segera aku melepas syalku lalu memakaikan padanya. Dia mendongak lalu tersenyum kecil. Ya Tuhan, wajah gadis ini pucat sekali. “Terima kasih.” Ucapnya. Suaranya bahkan terdengar seperti bisikan.

    Angin dingin berhembus. Kulihat ia semakin merapatkan pelukan pada lututnya. “Kau tidak pulang saja?” tanyaku. Aku khawatir jika meninggalkannya disini sendirian. Kalau dia pingsan dan yang menemukannya bukan orang baik-baik? “Mau kuantar kau kerumahmu?” aku menawarkan.

    “Aku tak tahu jalan pulang.” Sahutnya. Ah, apa harus kubawa dia ke dorm? “Aku…” tiba-tiba perkataannya terhenti. Kulihat punggungnya melemas dan kedua tangannya terjatuh kesamping.

    Sontak aku langsung memegangi tubuhnya agar ia tak terjatuh dari kursi taman. “Hey, bangun!” kuguncang-guncang tubuhnya namun tak ada jawaban. Karena tak tega meninggalkannya disini—hanya orang tak punya hati yang meninggalkan seorang gadis yang tak sadarkan diri sendirian disini dalam cuaca yang dingin—aku mengangkatnya dan membawanya ke dorm. Untung saja dorm tak jauh dari taman ini.

    “Hyung! Tolong aku!” teriakku begitu membuka pintu.

 
 

Lee Hyera

Suara-suara berisik terdengar di telingaku. Kukerjapkan mataku agar terbiasa dengan penerangan lampu diruangan ini lalu kuedarkan pandanganku keseantero ruangan ini.

    Ruangan yang asing bagiku. Dan mataku mendapati sebuah bingkai foto berisi enam laki-laki dengan pose seperti dipemotretan dan pakaian yang seragam.

    Hey, tunggu, enam orang laki-laki? Laki-laki dirumah hanya ada satu, Ayah. Jadi ini dimana?

    Segera aku mengintip pakaianku dibalik selimut. Utuh. Semua masih lengkap ditubuhku dengan syal merah yang masih melilit dileherku. Lalu aku bangkit mengubah posisiku menjadi duduk—ugh. Kepalaku terasa sakit. Apa yang terjadi padaku? Seingatku, aku tersesat karena tertinggal supir baru yang bodoh itu dan duduk diam berharap supir itu tahu bahwa aku tertinggal namun dia tak kunjung datang. Dan bodohnya aku, dimusim dingin seperti ini aku hanya mengenakan kaus tipis tanpa jaket atau sweater. Lalu seorang laki-laki datang seperti malaikat penolong untukku memakaikan syalnya ketubuhku. Apa ini kamarnya?

    Lalu aku bangun dan berdiri. Kulihat ada beberapa foto terjejer di atas laci. Semua foto disini laki-laki dan mereka tampan. Kalau ini kamarnya, kenapa yang dipajang bukan ada foto orang lain?

    Suara-suara berisik masih terdengar dari luar kamar ini. Kubuka pintunya dan suara berisik itu lenyap. Semua tatapan mata menuju padaku. Aku terdiam tak berani membuka mulutku. Aku disini hanya sendiri sedangkan ada empat laki-laki yang tak kukenal. Kau berpikir seperti pikiranku saat ini?

    Baru saja aku hendak kabur, tetapi seseorang yang berperawakan tinggi dan tegap dengan rambut berwarna cokelat kehitaman datang sambil membawa cangkir. “Kau sudah bangun?” tanyanya. “Minum ini. Tadi tubuhmu hampir membeku.” Lanjutnya.

    Aku tersenyum kikuk. “Ne-e. Kamsahamnida.” Aku menerima cangkir dengan ragu lalu meminumnya sambil mengintip mengawasi mereka berlima. Aku tak menemukan sosok orang yang memberikan syalnya padaku. Bahkan syalnya masih kukenakan saat ini.

    “Siapa namamu?” tanya seseorang yang berambut hitam dengan senyumnya terpapar diwajahnya. “Aku Donghyun. Kim Donghyun.” Dia mengangkat tangan kanannya bermaksud untuk bersalaman.

    “Lee Hyera.” Aku mengabaikan uluran tangannya dan jusru membungkuk kecil.

    Kulihat mereka saling memandang dengan pandangan heran. “Kau tidak tahu kami?” orang yang bernama Donghyun itu bertanya padaku lagi.

    Memangnya mereka siapa? Aku menggeleng.

    Lalu mereka tertawa serempak. Kenapa mereka tertawa? Ada yang lucu? Aku melihat pakaianku. Mungkin saja mereka menertawakanku karena pakaianku.

    “Pantas saja dia tak menjerit histeris begitu melihat kita.” Sahut laki-laki berambut pirang. Disini ada dua laki-laki berambut pirang. Yang satu lebih tinggi dan kurus serta matanya yang bulat dan hidungnya yang mancung. Kukira dia perempuan—benar-benar cantik jika dibandingkan denganku. Sedangkan satunya lagi—yang berbicara—dengan mata sipit dan badanya yang berisi dan lebih pendek dibandingkan laki-laki berambut pirang yang satunya. “Aku Jeongmin. Lee Jeongmin.” Lalu ia memperkenalkan diri. Setelah itu masing-masing mulai memperkenalkan diri.

    Laki-laki yang kubilang cantik tadi bernama Jo Youngmin, yang memberiku coklat panas bernama Shim Hyun Seoung dan yang berambut cokelat kemerahan yang kuyakin dialah yang paling muda karena wajah imutnya bernama No Minwoo.

    “Kau tak tahu Boyfriend, Hyera-ssi?” tanya laki-laki yang mengaku bernama Minwoo dengan heran.

    Aku mengangguk. “Kekasih pria, bukan?” tanyaku memastikan.

    Mereka tertawa lagi. Apa, sih, yang mereka tertawakan? Mereka pikir aku badut? “Bukan itu maksudnya.” Sahut Donghyun. “Kau pendatang baru di Korea?” tanyanya. Suaranya terdengar ramah. Jadi aku tidak harus terlalu waspada seperti tadi.

    Aku mengangguk menjawab pertanyaannya. “Baru kemarin aku datang.”

    “Dari mana asalmu, Hyera-ssi?” yang beramabut pirang—entah namanya Hyun Seong atau Jeongmin aku lupa—bertanya padaku.

    Sebelum aku menjawab, laki-laki yang memberiku coklat panas menyuruh kami duduk di sebuah ruangan, yang sepertinya ruang untuk mereka berkumpul. Lalu setelah duduk mereka menyuruhku bercerita tentangku agar mereka bisa membawaku kembali kerumah.

    “Sebelumnya aku tinggal di Florida selama dua tahun.” Aku memulai. Entahlah, biasanya aku tak nyaman dengan orang asing. Tapi dengan mereka—dengan sikap mereka yang ramah dan bersahabat—aku merasa mereka bukan orang asing.

    “Pantas saja kau tak tahu kami.” Sela Minwoo dan diikuti anggukan oleh mereka.

    “Kalau kau tinggal di Florida, kenapa kulitmu pucat?” kini Jo Youngmin membuka suara. “Seharusnya cokelat, bukan?”

    Aku mengangkat bahu tak mengerti. “Aku sendiri juga tak tahu.” Akuku. “Mungkin karena itu mereka mengusirku keluar.” Gumamku. Aku juga sudah tak tahan tinggal disana. Cahaya mataharinya terlalu panas.

    Mereka tertawa mendengar gumamanku. Tidak masuk akal memang. Tapi terik matahari di Florida yang membuatku keluar dari daerah tersebut.

    “Kau lucu, Hyera-ssi.” Salah satu dari mereka menimpali—aku tak begitu memperhatikan siapa yang bicara. Baiklah. Sekarang aku dianggap badut oleh mereka? “Lalu bagaimana kau pulang?” tanya laki-laki berambut pirang yang mempunyai mata sipit. “Kau tahu nomor rumahmu?”

    Astaga, aku benar-benar buruk dalam masalah daya ingat. Jangankan nomor ponsel, namamu saja aku tak ingat! Pekikku dalam hati, padahal mereka baru memperkenalkan diri beberapa menit yang lalu. Aku menggeleng menjawab pertanyaannya. Aku menggigit bibir tak tahu apa yang harus kulakukan sekarang. Apa aku menginap disini? Ah, tidak. Tidak bisa. Mereka ini semua laki-laki. Aku harus keluar sekarang. Mungkin saja supir sialan itu mencariku ke taman tadi.

    Kuintip dari jendela yang tirainya terbuka, salju berhenti turun. Saatnya aku pergi dari sini. “Donghyun-ssi.” Aku memanggilnya karena kelihatannya ia yang bertanggung jawab atas laki-laki yang berada disini.

    Donghyun menoleh. “Ne?”

    “Aku pamit pulang. Salju sudah berhenti dan mungkin saja supir bre—” hampir saja aku keceplosan memanggil supir baru itu supir brengsek. “Maksudku, supirku sedang mencariku ditaman.”

    “Kau yakin?” tanyanya.

    Aku mengangguk mantap. Lalu melepaskan syal yang entah milik siapa ini. “Kalian tahu ini milik siapa?” aku menunjukan syal merah yang tadi melilit di leherku.

    “Itu milik Kwangmin.” Sahut Youngmin. Jadi nama orang itu Kwangmin? Tapi dimana dia? “Pakai saja lain kali kau kembalikan.” Lanjutnya.

    “Ne, kamsahamnida.” Aku membungkuk. “Nanti akan kukembalikan. Annyeong.” Sebelum aku membuka pintu hendak ingin pergi, tiba-tiba suara seperti pecahan kaca terdengar disusul dengan teriakan seseorang.

    Aku membalikkan badan terkejut dan melihat mereka berlima juga menoleh pada sumber suara. “Kwangmin!” seru mereka berlima.

 
 

To Be Continue

Gimana gimana gimana? Ini selirnya dari ff yang belum aku lanjutin nih haha buat yang lainnya masih belum ada ide jadi sabar aja yaaa *bow*

 
 

Leave your comment

5 thoughts on “[Chapter 1] If I Stay

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s