[Chapter 2] Different



  • Tittle    : Different
  • Author    : Ennyhutami
  • Lenght    : Chapter
  • Cast    : Lee Taemin, Choi Minho, Bae Su Jie (Suzy Miss A)
  • Genre    : Fantasi, Romance
  • Note    : Annyeong, aku kembali dengan chapter pertama different. Semoga semua suka ff aku yang ini ngehehe cerita ini fiktif belaka (yaiyalah*ditempong shawol*) dan murni dari pikiran sendiri walaupun hampir meleset kayak cerita Twillight saga, tapitapitapi beda kok. Diharap nggak ada yang copas ff aku dan no silent reader. Mungkin kebanyakan ditiap ff ada larangan no silent reader, tapi yang baca suka Cuma numpang baca doang sih tanpa ninggalin jejak. Jadi diharapkan untuk komen atau kritik yaa. Selamat membaca~

 

 

“Naneun Choi Minho imnida.” Ia memperkenalkan diri dengan wajah dinginnya. Tanpa senyum ataupun ekspresi apapun.

    “Baiklah, kau bisa duduk disana.” Guru Kang menunjuk tempat duduk yang kosong disamping namja bernama Lee Jeongmin dengan tangan kanannya sedangkan tangan kirinya sudah memegang buku. “Bisa kita mulai pelajaran sekarang?” tanyanya begitu murid baru bernama Choi Minho itu sudah duduk dibelakangku.

    Lalu Guru Kang mulai menulis beberapa rumus untuk matematika. Ia terhenti ketika pengumuman di speaker yang dipasang ditiap kelas menyuruhnya untuk datang rapat sekarang juga. “Aish!” kudengar ia menggerutu. “Kalian kerjakan soal di buku halaman seratur enam belas.” Katanya lalu pergi meninggalkan kelas.

    Setelah Guru Kang pergi, kelas mulai bising. Beberapa murid menghampiri tempat duduk anak baru itu termasuk Jin Ri yang duduk disampingku. Dia hanya memutar balikkan bangkunya. Akupun mengikutinya. “Kau pindahan dari mana, Minho-ssi?” tanya Jin Ri pada anak baru itu.

Kulihat anak baru itu, Choi Minho, menatap Jin Ri dengan tatapan tak suka. Lalu ia berdiri dan keluar dari kelas begitu saja. Aku menatap kepergiannya dengan bingung. Ada apa dengannya? Lalu aku menoleh pada Jin Ri yang sekarang menatap ke pintu kelas dengan pandangan terkejut. “Aish! Sombong sekali dia.” Kudengar Jeongmin menggerutu dan disetujui oleh beberapa anak. “Jin Ri-ah, jangan pedulikan dia.” Kini giliran Ji Eun yang berbicara dan diikuti anggukan juga dengan beberapa anak.

Kulihat Jin Ri mengangguk dan tersenyum masam. “Ne, dia memang tampan. Tapi apa gunanya tampan kalau sikapnya buruk?” ujar Jin Ri. “Tetapi tetap saja Taemin yang paling tampan.” Taemin yang merasa terpanggil menoleh kearah Jin Ri lalu tersenyum sebelum ia kembali mengerjakan tugas yang diberika Guru Kang. “Aigo, Su Jie-ah. Kau lihat senyumnya tadi? Aku benar-benar ingin terbang melihatnya tersenyum.” Ia mulai tersenyum sendiri seperti orang gila.

Kerumunan mulai berkurang. Semua kembali ketempat duduknya masing-masing untuk mengerjakan tugas yang diberikan Guru Kang. Mereka tahu kalau mereka tak mengerjakan tugas maka akan ada hukuman yang berat menanti. Walaupun Guru Kang adalah guru yang sangat baik, namun dia tipe orang yang sangat disiplin.

“Kerjakan saja tugasmu, Jin Ri-ah, daripada kau tersenyum seperti orang gila.” Kataku seraya mulai menulis soal-soal.

Kudengar Jeongmin yang duduk dibelakangku tertawa mendengar perkataanku. “Ya! Jangan menertawaiku!” ucap Jin Ri. Kulihat wajahnya memerah karena malu. Aku melihatnya hanya mengeleng-geleng.

Sepanjang pelajaran hari ini ia, Choi Minho, tidak masuk kelas kecuali jam terakhir setelah jam istirahat kedua berakhir.

“Aku heran dengan anak baru itu. Sebenarnya dia berniat masuk sekolah atau bagaimana?” Choi Jin Ri menggerutu sepanjang perjalana pulang. Rumah kami kebetulan satu arah. Jadi aku tidak perlu pulang sendiri kerumah.

“Mungkin kalian berjodoh.” Sahutku bergurau dan langsung diprotes keras-keras dengannya. “Dengar dulu.” Kataku lalu ia diam menurutiku. “Mungkin saja seperti di drama-drama. Kau tokoh utama perempuan sedangkan anak baru itu tokoh utama laki-laki. Pertama kalian saling bertengkar lalu kalian saling cinta. Dan kau ingat kalau marga kalian sama? Choi.” Ucapku seraya tertawa mendenga leluconku sendiri.

Jin Ri ikut tertawa. “Kurasa kau terlalu sering menonton drama, Su Jie-ah.”

“Mungkin saja.” Sahutku terkekeh lalu kami berpisah di jalan yang berbeda.

›››

 

Setelah menyelesaikan tugas yang diberikan hari ini, aku bersantai dibalkon kamarku. Udara sore ini tidak terlalu dingin tetapi juga tidak terlalu panas.

Kullihat seorang namja sedang duduk dipinggiran danau seraya melempar batu ke danau. Mungkin ia merasa sedang diawasi, ia menoleh padaku. Mata kami bertemu lalu dengan cepat ia mengalihkan pandangannya. Dia… Choi Minho? Jadi tetangga baruku itu adalah murid baru dikelasku? Oh. Tapi kenapa dia bersikap seperti itu? Apa dia sedang ada masalah? Jadi itulah alasannya pindah kemari? Karena masalah ditempat tinggal sebelumnya, Tebakku. Aku menggeleng-gelengkan kepala meyadari aku sudah terlalu jauh memikirkan orang yang bahkan belum aku kenal. Oh, ayolah Su Jie, jangan mencampuri urusan orang lain.

Akupun masuk kembali kedalam kamarku ketika kurasakan angin membuat tubuhku menggigil kedinginan. Tiba-tiba dentingan bel rumahku terdengar. Baru saja aku duduk sekarang harus berdiri lagi untuk membuka pintu.

Sesampainya didepan pintu, aku mengintip terlebih dahulu dari balik tirai siapa yang memencet bel. Seorang laki-laki yang tidak kukenal berdiri didepan pagar rumahku. Siapa dia? Pikirku dalam hati. Apa teman Jiyeon Onni? Kulihat ia menatapku dari luar dan tersenyum. Akhirnya aku membuka pintu rumah dan menghampirinya. “Mencari siapa?” tanyaku tanpa membuka pagar. Aku takut dia macam-macam. Mungkin saja dibalik tampangnya yang bisa dibilang sempurna itu ada maksud jahat.

Senyumnya masih terpampang diwajahnya ketika ia menjawab. “Aku mencari pemilik rumah ini. Kau kah itu?” lalu ia bertanya padaku. Aku mengerutkan kening. “Oh, aku tetangga baru kalian. Itu rumahku.” Diapun menunjuk rumah disebrang danau ketika melihat raut wajahku yang bertanya-tanya. “Aku hanya ingin mengajak kalian makan malam dirumahku. Karena kelihatanya hanya ada rumahmu dan rumahku, jadi aku hanya mengajak kalian berdua.” Dia menjelaskan panjang lebar.

Jadi dia tahu kalau yang tinggal dirumahku hanya ada aku dan Jiyeon Onni? Ah, mungkin Paman Shin sudah memberitahu. Aku mengangguk mengerti. “Baiklah,” kataku. “Nanti akan kusampaikan pada Onni-ku.”

Kulihat senyumnya semakin lebar. Dia pun pamit pulang. Aku menunggunya sampai lumayan jauh dari rumahku. Kualihkan pandanganku pada danau lagi. Kulihat anak baru itu, Choi Minho, berdiri dengan tangan dimasukkan kedalam saku celananya sambil menatapku tajam. Ada apa dengannya? Kenapa dia selalu menatap orang lain seperti itu?

    Ah, untuk apa aku memperdulikannya? Aku bahkan baru mengenalnya tadi. Oke, sebenarnya hanya aku yang mengenalnya—maksudku hanya tahu namanya saja, tidak lebih—dan tidak dengannya. Mungkin bahkan dia tak tahu aku teman sekelasnya sekarang. Jadi untuk apa aku terlalu memusingkan itu?

    Sepanjang sisa hari itu aku menghabiskan malamku dengan mengerjakan tugas yang diberikan oleh guru-guru disekolah baruku. Hah. Kenapa mereka tega sekali memberikan tugas sebanyak ini?

    Aku benar-benar lelah dengan tugas yang sisa hari ini kukerjakan demi mengisi kebosananku. Harusnya tadi aku menonton film atau bermain di tepi danau itu sendirian. Tapi kalau aku bermain sendirian di tepi danau, mungkin orang yang kebetulan lewat menyangka aku sinting. Ah, apa peduliku?

    Kualihkan mataku pada jam dinding. Benarkah sudah selarut ini? Kenapa Jiyeon Onni belum juga pulang? Ah, aku lupa. Dia bilang dia akan pulang malam, bukan tadi pagi? Jadi segera aku mengunci pintu rumah dan membiarkan lampu menyala. Jujur saja, walaupun aku tidur dilantai atas, tapi aku benar-benar takut kalau mengetahui aku sendirian dan dibawah gelap.

    Walaupun tak suka gelap, tapi tetap saja aku tak akan bisa tidur jika masih ada cahaya yang merengsek masuk kedalam penglihatanku. Aneh bukan? Jangan tanya padaku kenapa, karena aku tak akan bisa menjawabnya. Jadi aku memadamkan lampu utama dikamarku dan menyalakan lampu tidur dengan penerangan yang minim.

    Tiba-tiba aku merasa ada sesuatu yang aneh. Apa yang terjadi? “Onni, itu kau?” aku bangkit dan menyalakan lampu kamar. “Onni?” tanyaku lagi karena tak ada sahutan dari mulut siapapun. Sebelum membuka pintu kamarku, aku merasakan ada seseorang dibelakangku. Aku menoleh cepat. Nihil. Tak ada siapapun disini, jadi aku membuka pintu kamarku dan berlari kecil menuruni tangga.

    Kenapa gelap? Bukankah semua lampu dilantai bawah kunyalakan? “Onni?” panggilku lagi. Tak ada sahutan. Akupun bergegas untuk menemukan saklar yang tempatnya sudah kuhafal. Tapi sungguh sulit untuk menemukannya ditempat segelap ini. Pencahayaan hanya ada dari lantai atas dan itupun hanya sedikit. Tiba-tiba semua terlihat—maksudku lampu sudah menyala. Sesaat aku senang melihat lampu hidup kembali, namun aku sadar kalau bukan aku yang menyalakan lampunya. Aku memangdang berkeliling dengan takut. Apa itu hantu? Pikirku. Ah, kau bodoh Su Jie. Mana ada hal semacam itu?

    “Onni?” suaraku parau begitu melihat wanita yang tak lain adalah kakakku, Jiyeon Onni, tergeletak lemah dilantai dengan bercak-bercah darah disekitarnya. “Jiyeon Onni!” pekikku mendekatinya lalu mengguncang tubuhnya keras agar dia bangun. “Jiyeon Onni.” kini suaraku seperti bisikan. Lemah dan parau. “Onni, jangan tinggalkan aku.” Dan air mataku sudah mengalir dari pelupuk mataku. “Apa yang terjadi padamu?” bisikku seakan bisa membuat jantungnya berdetak lagi. Kulihat beberapa kulit dilengannya membiru dan wajahnya pucat pasi. Siapa yang tega berbuat ini padanya? Aku mengedarkan pandangan seseorang berdiri disudut dengan mata merahnya yang menyala sangat terang. Kontras sekali dengan kulitnya yang putih sempurna itu. “Kau…” ucapku masih terisak. “Apa yang kau lakukan pada kakakku?!”

    Aku langsung terbangun dari tidurku. Apa tadi mimpi? Kenapa begitu sangat nyata? Aku segera berlari keluar kamar dan menuruni tangga dengan perasaan takut kalau mimpiku itu terwujud.

    Aku langsung menoleh ke pintu begitu deritan pintu terbuka terdengar. Aku menggigit bibir bawahku dan memeluk erat bantal menunggu orang dibalik pintu itu muncul. “Aku tahu kau sudah bangun.” Ujar seseorang dan langsung menampakkan dirinya. Aku menghela nafas lega. Ternyata Jiyeon Onni yang membuka pintu kamar. Itu hanya mimpi, tak akan terjadi apa-apa padamu. Aku menyadarkan pikiranku sendiri. “Ada apa?”

    Aku melihatnya menghampiriku dan kini duduk di pinggiran ranjang milikku. Aku menggeleng tak tahu harus menjawab apa. Nafasku belum juga normal.

    “Kau sakit? Wajahmu pucat sekali.” Kini Jiyeon Onni menyentuh keningku. Lalu ia melepaskan tangannya dari keningku dan menatapku. “Mimpi buruk?” tebaknya.

    Aku mengangguk tanpa menatapnya. Mataku menerawang kedepan entah melihat apa. Aku benar-benar takut pada apa yang terjadi di mimpiku. Membayangkan kembali saja sudah membuatku berkeringat dingin apalagi jika benar-benar terjadi? Aku menggigil memikirkannya.

    Kulihat Jiyeon Onni bangkit berdiri. “Cepatlah mandi, nanti kau terlambat.”

    Akupun mengangguk menurutinya sambil menelan ludahku dengan berat. Aku mengedarkan pandanganku ke kamarku. Seingatku kamarku tidak seperti ini. Posisinya berubah. Apa tadi malam Jiyeon Onni membersihkan kamarku? Sekilas minpi itu kembali terlintas. Aku menggelengkan kepala membuyarkan pikiranku. Jangan pikirkan itu lagi, kataku dalam hati. Tapi tetap saja tak bisa. Mimpi itu sangat nyata. Terlebih lagi ketika laki-laki itu menyeringai padaku dan menatapku dengan mata merahnya.


 

“Kau kenapa? Hari ini kau terlihat sangat pucat. Ada apa?”

    Aku yang sedari tadi membenamkan wajahku di kedua tanganku yang terlipat di atas meja kini menoleh kearah suara. Kulihat Jin Ri sedang menatapku khawatir. Aku menggeleng. “Aku tidak apa-apa.” Jawabku lalu kembali membenamkan wajahku lagi.

    Sudah lebih dari satu minggu sejak mimpi menyeramkan itu. Dan sampai sekarangpun aku belum bisa mengenyahkan mimpi-mimpi itu dari kepalaku. Dua hari setelah itu, aku memimpikannya lagi tapi tidak dengan mata merah dan seringaiannya melainkan matanya yang hitam pekat itu seperti sedang menatapku tajam didalam kamarku. Entah kenapa aku selalu memikirkan mimpi yang oertama. Tatapan dari mata merah laki-laki itu benar-benar membuatku takut setengah mati. Tapi kini aku sedikit tersadar kalau laki-laki yang kulihat dimimpi terlihat seperti Choi Minho, si anak baru yang super dingin itu. Kenapa harus dia yang muncul kedalam mimpiku? Dan kenapa juga dia muncul dimimpiku seperti itu—kau tahu benar maksudku, bukan? Mata merah menyala yang menakutkan—?

    “Aku taku melihatmu seperti ini, Su Jie.” Kata Jin Ri lagi. Aku tahu. Harusnya aku pulang sekarang. Kelas sudah sepi dan hanya ada aku dan Jin Ri disini. “Kau bisa ceritakan padaku apa yang mengganggu pikiranmu sekarang.”

    Mau tak mau aku mengangkat kepalaku lagi dan menatapnya ragu. “Entahlah.” Aku membuka suara untuk menceritakan apa yang mengganggu pikiranku saat ini. “Aku selalu teringat mimpi itu.” Lanjutku dengan suara yang pelan. Seperti bisikan tapi aku yakin dia bisa mendengarnya.

    “Mimpi apa?” tanyanya antusias.

    Aku membenarkan dudukku dan mulai menceritakan apa yang terjadi di mimpiku dengan rinci karena aku tahu kalau Jin Ri tak akan puas jika aku bercerita hanya setengahnya.

    Begitu selesai bercerita, kulihat ia terdiam mencerna kalimat demi kalimat yang kulontarkan. “Itu hanya mimpi. Mungkin kau terlalu berpikiran negatif tentang anak baru itu.” Kata Jin Ri.

    “Aku?” tanyaku. Sejak kapan aku memikirkan Choi Minho? Seingatku aku hanya berasumsi kalau dia itu mempunyai masalah di tempat asalnya karena tatapannya yang selalu dingin kepada siapapun. “Harusnya kau yang memimpikan itu.” Ujarku. Jin Ri langsung menatapku heran. “Kelihatan sekali kalau kau membencinya.” Aku melanjutkan sambil tersenyum menggodanya. Lalu ia terlihat salah tingkah dan meninju lenganku pelan. “Aduh!” eluhku seraya mengelus lenganku yang ditinjunya.

    “Ya! Jangan pernah menggodaku lagi.” Serunya sambil melompat berdiri. Aku tertawa melihat reaksinya. Lucu sekali.

    “Jin Ri-ah!” panggilku ketika ia berjalan keluar kelas. Aku menyampirkan tas pada punggungku dan mengejarnya. “Jin Ri-ah! Choi Jin Ri!” panggilku sekali lagi. Ia berhenti dan berbalik. “Tunggu aku.” Lanjutku dan berlari mengejarnya. “Hey, kau cepat sekali marah.” Kataku setelah menyamakan langkahku dengannya.

    Kudengar ia mencibir. “Kau tahu, bukan, kalau aku tak suka digoda seperti itu?” tanyanya skeptis.

    Aku terkekeh. “Aku tahu.” Dan kamipun berjalan di koridor yang sudah sepi, hanya ada beberapa orang yang masih disekolah karena kegiatan di klub mereka. “Ah!” aku menghentikan langkahku seraya menepuk keningku sendiri. “Ponselku kutinggalkan dilaci meja.” Ujarku lalu berlari kembali kekelas. “Kau duluan saja, Jin Ri-ah!” lanjutku menoleh kebelakang sekilas sambil berlari dan melambaikan tanganku padanya.

    Aku tahu tanpa disuruhpun dia akan pulang lebih dulu. Dia benci menunggu. Benar-benar Jin Ri yang sudah sangat kukenal. Aku tertawa kecil mengingat sifatnya yang terbilang unik itu.

    Disekitar kelasku sudah sepi dan tidak ada orang. Aku masuk dan langsung menghampiri meja tempatku duduk seperti biasa. Aku menundukkan badanku agar bisa melihat kedalam laci meja dan nihil. Laci kosong. Tak ada apapun disana.

    Astaga! Dimana ponselku? Aku cepat-cepat mengedarkan pandanganku keseluruh ruangan kelas sampai keluar jendela kelas. Tak ada siapa-siapa. Siapa yang mengambil ponselku? Ya Tuhan, bagaimana ini?

    “Mencari ponselmu?” aku mengangkat kepalaku ingin tahu siapa yang bertanya. Mungkin saja dia melihat ponselku. Aku terpaku menatapnya. Orang yang kuhindari belakangan ini. “Apa kau mencari ponselmu?” lalu dia mengulang pertanyaannya.

    “Eh? Ne.” Jawabku sedikit salah tingkah. Kukkira dia sudah pulang dari tadi. “Kau melihat ponselku?” tanyaku penuh harap kalau dia melihat ponselku.

    Dia menggelengkan kepalanya. Melihatnya seperti itu, aku menurunkan bahuku pasrah. Aku tak bisa meminta pada Jiyeon Onni untuk membelikan ponsel baru. Dia sendiri sedang sibuk dengan kuliahnya disemester akhir ini dan pasti keperluannya lebih banyak dan tentu saja lebih penting. “Tapi sepertinya aku tahu siapa yang mengambil ponselmu.” Dia melanjutkan.

    Aku menatapnya heran. “Siapa? Kenapa kau tak mencegah orang itu?” tanyaku. Orang ini… idiot atau apa? Kalau dia tahu ponselku diambil orang lain, kenapa tidak mencegahnya?

    “Itu bukan urusanku.” Ujarnya dingin. Aku mencibir mendengar tanggapannya itu. Setidaknya dia bisa menolongku… tetangga barunya ini, batinku.

    Langsung saja aku melewatinya untuk pergi meninggalkannya sendirian karena dari tadi dia hanya berdiam diri seraya melihatku dengan tatapan seolah ingin memakanku padahal dia yang membuatku kesal padanya.

    “Tunggu.” Aku merasa kalau lenganku ditahan olehnya. Aku menolehkan kepala padanya. Kulihat ia masih dalam posisi seperti tadi yaitu membelakanginku dengan tangannya yang panjang menahan lenganku. “Kenapa belakangan ini kau melihatku seperti kau melihat kuman?”

    Aku diam tak menjawab pertanyaannya. Dia merasa seperti itu? Entahlah, hanya saja jika melihatnya aku merasa takut semenjak mimpi buruk itu. “Aku tidak seperti itu.” aku mengelaknya. Kini kurasakan genggaman tangannya dilenganku mengeras. “Minho-sii, sakit!” rengekku sambil mencoba untuk melepaskan genggamannya. Tapi dia tetap diam dan makin lama tangannya mencengkram lenganku. Kurasa ini akan meninggalkan bekas memar. Kenapa dia ini? Sinting atau apa? “Choi Minho, lepaskan!”

    “Kau mengetahuinya?” aku menatap punggungnya bingung. Dia masih tetap membelakangiku dan mencengkram tanganku. Tahu apa? Tanyaku dalam hati. Cengkramannya semakin kuat kurasakan di lenganku karena aku tak menjawab. “Kau melihatku malam itu? jawab aku!” kini kulihat ia mulai membalikkan badannya dan kulihat matanya… mata yang sama dalam mimpiku.

“Matamu…” ucapku pelan. Sangat pelan dan aku yakin dia tak mendengarnya. Aku tertegun. Mata merah itu lagi. Sejak kapan matanya berubah warna seperti itu? beberapa menit yang lalu kulihat matanya masih hitam. Apa mimpi itu nyata? Aku menelan ludah dengan berat mengingat mimpi itu. Tidak mungkin. Kalau mimpi itu nyata, mengapa tadi pagi Jiyeon Onni masih membangunkanku? “Aku tak tahu apa yang kau maksud.” Kataku menunduk masih mencoba melepaskan cengkramannya. Melihat mata merahnya membuatku ketakutan setengah mati.

“Kau bohong!” aku tersentak maju ketika ia menarik lenganku. “Jawab aku dengan jujur! Kau melihatku malam itu?” tanyanya sekali lagi.

“Malam apa? Melihat apa?” aku balik bertanya dengan suara tersedat menahan tangis. Aku menatapnya penuh dengan ketakutan. Matanya berubah hitam lagi. Makhluk apa sebenarnya dia? Aku bergidik ngeri memikirkan kalau dia bukan manusia.

“Kau tak melihatnya ketakutan? Lepaskan dia, iblis!”

Aku menoleh kearah sumber suara. Tepat di samping pintu, kulihat seseorang dengan rambut kecoklatan memandang garang kebelakangku, ke arah Choi Minho. Perasaan lega menyelimutiku begitu melihatnya. Akupun membuka suara, “Taemin,”

TBC

15 thoughts on “[Chapter 2] Different

  1. wah keren udah kaya twilight aja tapi minho itu siapa sih aduh jadi ngebayangin minho itu edward taem itu jacob suzy itu bela hehe

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s